Saturday, February 23, 2019

Etika-Arsip

Pendahuluan

Kenyataan yang paling murni ialah kenyataan yang sadar dan bebas, dalam arti ia dapat menyadari dan menyatakan dirinya sendiri serta menyebabkan dirinya sendiri. Akan tetapi pnegetahuan itu pun tidak cukup dalam perjalanan filsafat kita, dan sekarang muncul suatu pertanyaan, untuk apa segala ini? Baiklah kalau kenyataan adalah suatu roh yang dapat menyadari, berkata, dan berubah dan seterusnya. Namun tanpa mengetahui kegunaan atau tujuan dari pengetahuan dan juga kenyataan diri kita sendiri, hal ini tidak ada gunanya. Maka sebelum mempelajari lebih lanjut dalam filsafat, baiklah kita telusuri dulu yang dinamakan dengan etika.

Kehidupan

Etika yang sendirinya berasal dari kata ethics dalam bahasa Inggris yang juga berasal dari kata ethos dalam bahasa Yunani aslinya berarti serangkai ideal atau pedoman yang menjadi arahan suatu bangsa. Dalam konteks filsafat, etika merujuk pada tujuan hidup manusia dan apa yang harus dilakukan untuk hidup secara “baik” atau menjadi manusia yang sejati. Tentu saja dalam suatu perspektif logika yang mutlak, kita sebenarnya mendeskripsikan mekanika dan bukan tujuan. Hanya saja untuk kepentingan bahasa dan pemahaman, istilah tujuan akan tetap digunakan.

Pertanyaan etika kembali pada arti dari “baik” atau yang baik, dan ini merujuk pada tujuan kenyataan atau tujuan hidup manusia. Tentu saja yang baik adalah yang memenuhi tujuan kehidupan, dan yang buruk ialah yang menjauhkan dari tujuan itu. Masalahnya kalau tujuan itu tidak diketahui maka “baik” itu tidak ada maknanya pula, hanya semacam intuisi atau “perasaan” saja. Kabar baiknya, tujuan kenyataan bukan sesuatu yang tidak dapat diketahui melainkan sangat mudah ditemukan hanya dengan pengetahuan akan kenyataan yang sadar dan bebas.

Tujuan suatu objek berdasar pada apa yang menjadi esensi atau hakikat dari suatu objek, atau dapat dikatakan “desain” dari objek itu. Tujuan di sini sedikit berbeda dari tujuan manusiawi, melainkan sebagai mekanika kenyataan yang pasti (walaupun pada manusia juga pasti). Yaitu arah perubahan wujud yang terjadi. Suatu contoh adalah bintang, bintang pada hakikatnya adalah gumpalan gas yang menggumpal dan di intinya terjadi proses fusi nuklir yang menghasilkan energi dalam bentuk cahaya dan panas. Maka tujuan bintang adalah menjadi suatu bintang seperti yang dikatakan. Dalam hal ini tujuan bukan masalah pilihan melainkan masalah mekanika akhir.

Berdasarkan identitas kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan, tujuan kenyataan tidak jauh berbeda. Yaitu untuk menjadi sadar dan bebas atas dirinya sendiri, itulah tujuan kenyataan. Merupakan suatu kepastian bahwa kenyataan akan menjadi sadar dan bebas, tapi apa makna sadar dan bebas itu? Dalam hal ini kita harus berbicara sedikit dalam konteks manusiawi. Menyadari artinya untuk mengalami, memahami, dan mengetahui apa yang terjadi dan apa yang ada di dunia ini. Maka tujuan kenyataan secara konkrit adalah belajar, mengalami hidup, dan memahami dunia ini sebagai diri kita sendiri.

Tentu saja pengetahuan praktis atau keterampilan juga menjadi hal yang wajib dalam pemenuhan etika. Misalnya memasak, kita tidak hanya tahu cara memasak, tapi kita juga mampu memasak. Begitu juga dengan filsafat, kita tahu akan filsafat tapi kita juga tahu cara mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Namun kita melupakan satu unsur lain dari kenyataan yaitu kebebasan. Kebebasan memang sedikit berbeda dari kesadaran dan membutuhkan penjelasan lebih.

Kalau kesadaran merujuk pada kemampuan pernyataan dan pengamatan diri, maka kebebasan merujuk pada kemampuan mengubah diri. Kebebasan dalam konteks mekanis adalah kemampuan untuk menentukan arahan sendiri dalam mekanika hidup. Namun lebih akurat untuk mengatakan bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk mengubah diri sendiri, yang berarti bebas dan mandiri dari pihak eksternal. Baiklah kebebasan artinya kita dapat mengubah diri tanpa dipengaruhi hal eksternal, dan kita dapat menentukan arahan perubahan, tapi bagaimana yang seharusnya terjadi?

Kebebasan yang sesungguhnya artinya mengubah sesuatu menurut jati diri kita sebagai entitas kenyataan. Dan karena entitas kenyataan ialah kebebasan dan kesadaran itu sendiri, maka apa yang harusnya menjadi arahan perubahan adalah kebebasan dan kesadaran itu sendiri. Kita harus mengubah sesuatu demi kebebasan itu, atau meningkatkan kebebasan dan kesadaran. Misalnya mempelajari suatu keterampilan atau ilmu adalah suatu tindakan yang ditujukan mencapai kesadaran dan kebebasan yang lebih tinggi.

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kesadaran dan kebebasan adalah dua hal yang hampir sama. Perbedaannya adalah kalau kesadaran merupakan suatu kondisi, maka kebebasan adalah tindakan mencapai kondisi itu (proses), atau pula kemampuan melakukan tindakan tersebut. Secara kias, kondisi yang bebas ialah kondisi yang hidup, atau kehidupan. Sebab kehidupan merupakan salah satu perwujudan kebebasan tertinggi dalam kenyataan, misal kemampuan bergerak dan bagi manusia, kesadaran langsung.

Maka tujuan kenyataan secara lengkap ialah untuk mempelajari dan memahami kenyataan itu sendiri. Lalu mengubah kenyataan yang ada demi memajukan kesadaran itu sendiri dan meningkatkan kebebasan kenyataan. Secara konkrit, manusia hidup, mengalami hidup, memaknai hidup, dan memajukan hidupnya dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bebas menjadi bebas, demi kebebasan dan kesadaran itu sendiri sebagai pemenuhan jati diri manusia. Bagaimana dengan kondisi tidak bebas?

Maut

Kita selama ini membicarakan etika sebagai sekadar mekanika dunia, dan mengesampingkan kebebasan kehendak yang ada pada kenyataan. Bahwa kenyataan pun tidak mengandung yang benar atau yang baik saja tapi juga yang tidak baik, yang salah yang buruk. Hal-hal ini, yang merupakan lawan dari hidup dan etika, adalah maut dan ketidakbebasan. Maut, sebab benda yang tidak hidup ialah benda yang tidak bebas. Pergerakannya pun disebabkan oleh benda lain yang notabene hidup, dan kebebasannya disebabkan oleh mahkluk yang hidup. Singkat kata, maut dan dosa ialah segala yang bertentangan dengan kebebasan dan kesadaran.

Kondisi tidak sadar atau tidak tahu adalah bentuk maut yang paling ringan, karena merupakan kondisi awal. Namun ini juga bentuk maut yang paling dasar, karena tanpa pengetahuan tidak ada yang bisa dilakukan. Sama halnya saat kita tidak mengetahui tentang kenyataan apapun kita tidak bisa melakukan apa-apa, misal berkata, terhadap atau mengenai kenyataan. Tanpa kesadaran, kebebasan pun tidak ada dan ini adalah bentuk maut yang paling mencekam. Karena kita sendiri tidak bisa menyadari maut yang membelenggu kita.

Kondisi tidak bebas adalah bentuk maut yang sebenarnya skalanya sama dengan kondisi tidak sadar tapi pada kategori yang berbeda. Dalam hal ini, ketidakbebasan artinya kita bertindak tidak menurut jati diri kita sebagai entitas kenyataan. Maka kita bertindak bukan menurut kesadaran dan kebebasan, melainkan menurut hal yang lain. Dalam kenyataan ada banyak sekali unsur dan objek, tapi hanya satu yang hakikat. Suatu kondisi yang tidak bebas adalah saat kita hidup dan bertindak tidak sesuai hakikat, tapi sesuai unsur spesifik. Misal kaum yang hidup menurut nikmat jasmani, ataupun nikmat saja dan bukan atas dasar kebebasan.

Saat seorang hidup atas pengaruh maut, ia akan berhenti pada tujuan spesifik itu dan tidak bergerak lagi. Mungkin saja hidupnya akan ditujukan demi satu unsur itu dan mengesampingkan segala unsur lainnya. Kalau tidak ada perubahan, misal oleh makhluk hidup lainnya, ia dapat kehilangan akan kesadaran akan yang lain. Sebab dia hanya fokus pada satu objek tertentu dari kenyataan, dan terbentuklah yang dinamakan dengan kelekatan. Dari kelekatan muncullah stagnasi dan akhirnya maut murni.

Apakah kelekatan pada hidup mungkin? Kelekatan pada hidup juga mungkin, tapi saat kita melekat dan menghamba pada kebebasan serta kesadaran secara otomatis kita tidak akan melekat. Sebab kesadaran dan kebebasan adalah tujuan yang melarang kelekatan, dan kita akan terus terpacu untuk berkembang menuju kesadaran dan kebebasan yang lebih tinggi. Kelekatan pada hidup akan menghidupkan dan kelekatan di luar hidup akan mematikan. Stagnasi sebagai konsekuensi dari kelekatan yang tidak sesuai asas kebebasan merupakan ciri khas maut.

Seseorang mungkin dapat bertanya tentang keberadaan maut, mengapa ada maut kalau dunia pada hakikatnya hidup? Kenyataan atau kehidupan diartikan tidak hanya suatu kondisi penyadaran tapi juga kemampuan mengubah penyadaran itu menjadi yang lebih tinggi. Sebab kenyataan dapat menentukan keberadaan dirinya sendiri, dan artinya dapat berubah. Kebebasan sebagai proses perubahan menandakan adanya kondisi yang lebih baik dan kondisi yang kurang baik. Perubahan yang bebas adalah perubahan kondisi dari yang kurang baik atau tidak bebas menjadi yang lebih baik atau yang bebas. Memang tidak ada maut murni, karena keberadaan kenyataan adalah sifat hidup paling dasar. Namun ada yang lebih hidup dari sekadar berada, dan maut lebih menandakan hal-hal yang lebih jauh dari kebebasan, sementara hidup hal-hal yang lebih dekat dengan kebebasan.

Keutuhan Hidup

Pertanyaan berikutnya adalah pernyataan yang sekilas dilematis. Kalau kebebasan menuntut kita untuk menyadari dan menguasai segala sesuatu, bukankah itu berarti kita harus menyadari hal-hal yang jahat pula? Seakan-akan kebebasan juga meminta kita mendekati hal-hal yang menjauhkan diri kita dari kebebasan itu. Kalau begitu, tidakkah segala hal di bumi ini baik apa adanya dan harus dimuliakan pula? Memang benar, bahkan dosa yang paling hina pun harus kita sadari sebagai pemenuhan kebebasan, ataupun penderitaan yang sangat. Untuk mencapai kehidupan, kematian harus kita pahami dan kita alami pula.

Akan tetapi harus diingat bahwa mengalami maut tidak sama dengan tunduk pada maut. Menyadari maut dan menguasainya sama sekali berbeda dengan berhenti pada maut. Karena maut yang sesungguhnya adalah saat kita melekat pada maut itu, dan tidak berubah dari pada maut. Sementara itu kebebasan tidak hanya menuntut penyadaran, tapi juga kuasa atas yang mati. Maka kita menyadari maut tidak berhenti di situ, tapi juga mengubah maut menjadi yang hidup. Sehingga memang yang lebih berharga ialah perubahan dan bukan hanya hasil perubahan.

Tentu saja dalam “dilema” hidup dan maut ini bukan berarti kita boleh mengejar maut dan memakai kebebasan sebagai pembelaan. Memang akan ada waktunya saat kita mengejar maut, tapi kalau maut sekarang belum diselesaikan bagaimana mungkin kita bisa mengejar maut lainnya? Maksud dari kebebasan bukan mengejar maut, tapi menerima dan menyadari maut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kenyataan dan artinya diri kita sendiri. Sebab banyak orang yang mencoba menghindari maut dan memperlakukannya sebagai suatu hal yang teramat buruk. Kelekatan pada hidup ini sebenarnya bukan bebas pula, karena kita lari dari kenyataan.

Sebaliknya, hal yang harus kita lakukan bukan menolak maut atau tunduk pada maut. Maut sebagai objek dari kenyataan menerima perlakuan yang sama sesuai asas kebebasan, yaitu disadari dan dikuasai. Kita menyadari maut sebagai hal yang tidak benar, yang tidak seharusnya, dan menguasai maut itu supaya berubah menjadi hal yang benar dan sesuai dengan kebebasan itu sendiri. Maka jelas saja tunduk pada maut tidak sama dengan menyadari maut, di mana yang satu ialah maut dan yang satu ialah hidup.

Sebenarnya mengejar maut secara sengaja untuk diubah tidak sepenuhnya salah, karena kebebasan artinya kita menyadari dan menguasai secara sengaja (oleh kehendak kita sendiri). Hanya saja mengejar maut tidak berarti mengejarnya secara membabi buta, mengejar atas kehendak maut (kelekatan), atau mengejar secara sembarangan. Sebab dalam etika ada suatu strata atau hierarki kebebasan yang harus kita penuhi demi mencapai kebebasan yang sejati.

Strata etika di sini maksudnya urutan pengetahuan atau pengalaman menurut ontologinya, atau menurut esensinya. Ontologi maksudnya mengenai keberadaan, hal yang lebih tinggi secara hierarkis berarti lebih dulu ada dari yang lain. Esensi juga sama saja, tapi merujuk pada tingkat “kehakikatan” suatu pengetahuan sebagai bagian dari kebenaran kenyataan. Walaupun bersifat hierarkis, segala hal di dalam strata ini tetap setara dalam derajat, dalam arti setiap hal ini harus diperlakukan secara sama, yaitu disadari dan dikuasai.

Pada tingkat tertinggi tentu saja pengetahuan akan kenyataan yang paling murni. Atau penyadaran dan penguasaan atas hukum kesadaran dan kebebasan. Penempatan hukum ini adalah hal yang sangat logis dan harusnya tidak usah dipertanyakan. Untuk bisa mencapai kebebasan, tentu kita harus menyadari dulu apa itu kebebasan dan mengapa kita harus mencapai kebebasan. Tanpa penyadaran akan kebebasan, segala penyadaran lainnya tidak mungkin karena segalanya bergantung pada keberadaan kenyataan, kesadaraan, dan kebebasan. Dan baru setelah kebebasan disadari segala hal lain dapat disadari dan dikuasai pula.

Tingkat kedua ialah segala hal yang baik atau mendukung kebebasan. Sebenarnya tahap ini masih terkait pada tahap pertama yaitu kebebasan murni. Perbedaannya adalah pada tingkat kedua kita mengejar kebebasan secara praktis dan secara penuh. Kalau pertamanya hanya kebebasan yang teoritis dan esensial, maka sekarang kita mencari kebebasan yang praktis dan spesifik. Kebebasan praktis lebih merujuk pada masalah-masalah sosial dan hal-hal empiris lainnya. Maka dapat dikatakan pula bahwa ini adalah kebebasan empiris, di mana kita mengejar pengetahuan empiris demi kesadaran dan kebebasan dunia.

Memang dalam pengejaran kebebasan praktis kita akan menemui hal-hal yang maut, dan kita tetap akan menyadari dan memahami maut tersebut. Hanya saja maut itu tetap menjadi batu pijakan saja demi mencapai kebebasan itu dan bukan tujuan utama kita. Mungkin kita akan berbicara tentang maut, tapi hanya sebagai bagian dari perjalanan menggapai kebebasan praktis dan mutlak. Dan setelah kebebasan praktis dicapai, yaitu keselarasan kenyataan dengan kebebasan secara penuh, kita dapat memulai tahap ketiga sebagai pemenuhan kenyataan.

Tahap terakhir atau sebenarnya yang paling terakhir dari strata etika tapi juga setara dengan yang lainnya adalah pengejaran maut. Sebenarnya tetap tujuan utamanya tetap kebebasan, tapi kali ini kita menyadari maut dan memahami maut secara lebih utuh. Sebelumnya kita mengalami maut tapi kita belum sungguh menyadari maut, karena adanya pengetahuan yang kurang. Namun dengan pengetahuan yang lebih lengkap, kita dapat memahami kondisi maut dengan lebih lengkap pula. Memang benar bahwa kali ini kita menyadari maut demi penyadaran akan maut itu sendiri, tapi pada akhirnya tetap saja kita akan menguasai maut dan merubah maut kepada hidup secara utuh.

Selain strata etika, adapula siklus etika yang menjadi semacam pola umum dalam kenyataan. Hal ini dinamakan dengan siklus karena tidak pernah berhenti dan tidak terbatas sifatnya. Namun kalau kita melihat secara keseluruhan ada siklus etika yang sifatnya berhenti dan tidak terulang lagi, tapi itu bukan topik pembicaraan kita. Tahapan pertama dalam siklus ini tentu saja maut, tapi bukan sekadar maut melainkan maut paling murni. Artinya kondisi di mana kita dikuasai maut dan kita tidak menyadari sama sekali bahwa kita dikuasai oleh maut. Ini adalah maut yang paling mencekam dan berbahaya, tapi tidak selamanya dan setelah maut awal mulailah proses awal menuju kebebasan.

Berikutnya adalah penyadaran terhadap maut itu sendiri, yaitu kita masih dikuasai maut tapi kita mulai menyadari akan maut itu, bahwa yang terjadi bukanlah yang seharusnya. Penyadaran dapat terjadi tanpa penguasaan, karena beberapa hal penting yang akan dibahas pada waktu lain. Namun bersamaan atau tidak, penyadaran akan maut adalah hal yang penting, karena inilah yang membuat kita mungkin untuk menguasai dan mengubah maut itu sendiri. Setelah penyadaran maut barulah perubahan maut atau penguasaan maut dapat dilakukan.

Perubahan maut dapat dikatakan sebagai perwujudan utama dari kebebasan, yaitu mengubah dari yang mati menjadi yang hidup. Bagaimana teknisnya bukan masalah kita saat ini, hal yang pasti adalah sesuai definisi maut dan hidup, kita menanggalkan belenggu yang mencekik kita dan menjadi bebas. Dari awalnya kita dikuasai oleh suatu hal, sekarang kita yang menguasai hal tersebut dan ia pun kita bebaskan dari belenggunya. Begitu seterusnya sampai kita benar-benar mengalami kehidupan.

Kehidupan, bukanlah kondisi paling akhir dari siklus ini, sebab kehidupan artinya hanya suatu kondisi yang lebih bebas. Mungkin ada kehidupan mutlak, seperti adanya maut yang hampir mutlak, tapi maksudnya adalah sebagai kondisi yang lebih bebas. Kehidupan yang dasarnya adalah penyadaran dan penguasaan diri artinya dari awal kita sudah menyadari kehidupan, dan tahap berikut yaitu penyadaran kehidupan dapat dikatakan terjadi bersamaan. Tentu saja setelah itu adalah perubahan hidup atau pengembangan hidup menjadi kondisi yang lebih bebas. Setelah itu siklus ini terulang kembali terus menerus tanpa henti dan tanpa batas.

Maka memang benar bahwa untuk mencapai kebebasan yang sejati, maut pun harus kita selami. Namun maut bukanlah tujuan akhir kita, melainkan suatu cara untuk mencapai hidup itu sendiri. Dan hidup juga bukan perhentian, melainkan suatu awal baru dalam perkembangan etis kenyataan. Sesuai yang telah dikatakan, tetap saja yang harus dicari adalah hukum kebebasan itu dan segala hal dilakukan demi hukum kebebasan. Baru segala hal berikutnya kita cari, sebab hukum kebebasan ialah jati diri kita.

Penutup


Dengan pembahasan ini dapat disimpulkan beberapa hal penting, bahwa etika sebagai tujuan kenyataan merupakan perumusan jati diri dan juga tujuan kenyataan dari segala makhluk yang ada. Tujuan ini tentu saja sesuai dengan hakikat kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan yang berdaulat, maka tujuan kenyataan ialah menjadi sadar dan bebas atas segala hal di dunia ini. Untuk mencapai kenyataan itu adalah menjadi bebas, berkuasa dan berdaulat atas diri kita sendiri. Namun lari dari kenyataan itu dan kita akan mati, dikuasai dan diperbudak oleh kenyataan. Walau begitu pengalaman perbudakan tetap penting, sebagai pijakan untuk bebas dari perbudakan itu. Dan dengan kebebasan awal, segala hal dapat kita capai. Tuhan memberkati. 

Diarsipkan dalam persiapan untuk karya yang lebih lengkap.

No comments:

Post a Comment