Pendahuluan
Kenyataan
yang paling murni ialah kenyataan yang sadar dan bebas, dalam arti ia dapat
menyadari dan menyatakan dirinya sendiri serta menyebabkan dirinya sendiri.
Akan tetapi pnegetahuan itu pun tidak cukup dalam perjalanan filsafat kita, dan
sekarang muncul suatu pertanyaan, untuk apa segala ini? Baiklah kalau kenyataan
adalah suatu roh yang dapat menyadari, berkata, dan berubah dan seterusnya.
Namun tanpa mengetahui kegunaan atau tujuan dari pengetahuan dan juga kenyataan
diri kita sendiri, hal ini tidak ada gunanya. Maka sebelum mempelajari lebih
lanjut dalam filsafat, baiklah kita telusuri dulu yang dinamakan dengan etika.
Kehidupan
Etika
yang sendirinya berasal dari kata ethics
dalam bahasa Inggris yang juga berasal dari kata ethos dalam bahasa Yunani aslinya berarti serangkai ideal atau
pedoman yang menjadi arahan suatu bangsa. Dalam konteks filsafat, etika merujuk
pada tujuan hidup manusia dan apa yang harus dilakukan untuk hidup secara
“baik” atau menjadi manusia yang sejati. Tentu saja dalam suatu perspektif
logika yang mutlak, kita sebenarnya mendeskripsikan mekanika dan bukan tujuan.
Hanya saja untuk kepentingan bahasa dan pemahaman, istilah tujuan akan tetap
digunakan.
Pertanyaan
etika kembali pada arti dari “baik” atau yang baik, dan ini merujuk pada tujuan
kenyataan atau tujuan hidup manusia. Tentu saja yang baik adalah yang memenuhi
tujuan kehidupan, dan yang buruk ialah yang menjauhkan dari tujuan itu. Masalahnya
kalau tujuan itu tidak diketahui maka “baik” itu tidak ada maknanya pula, hanya
semacam intuisi atau “perasaan” saja. Kabar baiknya, tujuan kenyataan bukan
sesuatu yang tidak dapat diketahui melainkan sangat mudah ditemukan hanya
dengan pengetahuan akan kenyataan yang sadar dan bebas.
Tujuan
suatu objek berdasar pada apa yang menjadi esensi atau hakikat dari suatu
objek, atau dapat dikatakan “desain” dari objek itu. Tujuan di sini sedikit
berbeda dari tujuan manusiawi, melainkan sebagai mekanika kenyataan yang pasti
(walaupun pada manusia juga pasti). Yaitu arah perubahan wujud yang terjadi.
Suatu contoh adalah bintang, bintang pada hakikatnya adalah gumpalan gas yang
menggumpal dan di intinya terjadi proses fusi nuklir yang menghasilkan energi
dalam bentuk cahaya dan panas. Maka tujuan bintang adalah menjadi suatu bintang
seperti yang dikatakan. Dalam hal ini tujuan bukan masalah pilihan melainkan
masalah mekanika akhir.
Berdasarkan
identitas kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan, tujuan kenyataan tidak
jauh berbeda. Yaitu untuk menjadi sadar dan bebas atas dirinya sendiri, itulah
tujuan kenyataan. Merupakan suatu kepastian bahwa kenyataan akan menjadi sadar
dan bebas, tapi apa makna sadar dan bebas itu? Dalam hal ini kita harus
berbicara sedikit dalam konteks manusiawi. Menyadari artinya untuk mengalami,
memahami, dan mengetahui apa yang terjadi dan apa yang ada di dunia ini. Maka
tujuan kenyataan secara konkrit adalah belajar, mengalami hidup, dan memahami
dunia ini sebagai diri kita sendiri.
Tentu
saja pengetahuan praktis atau keterampilan juga menjadi hal yang wajib dalam
pemenuhan etika. Misalnya memasak, kita tidak hanya tahu cara memasak, tapi
kita juga mampu memasak. Begitu juga dengan filsafat, kita tahu akan filsafat
tapi kita juga tahu cara mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Namun kita
melupakan satu unsur lain dari kenyataan yaitu kebebasan. Kebebasan memang
sedikit berbeda dari kesadaran dan membutuhkan penjelasan lebih.
Kalau
kesadaran merujuk pada kemampuan pernyataan dan pengamatan diri, maka kebebasan
merujuk pada kemampuan mengubah diri. Kebebasan dalam konteks mekanis adalah
kemampuan untuk menentukan arahan sendiri dalam mekanika hidup. Namun lebih
akurat untuk mengatakan bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk mengubah diri
sendiri, yang berarti bebas dan mandiri dari pihak eksternal. Baiklah kebebasan
artinya kita dapat mengubah diri tanpa dipengaruhi hal eksternal, dan kita
dapat menentukan arahan perubahan, tapi bagaimana yang seharusnya terjadi?
Kebebasan
yang sesungguhnya artinya mengubah sesuatu menurut jati diri kita sebagai
entitas kenyataan. Dan karena entitas kenyataan ialah kebebasan dan kesadaran
itu sendiri, maka apa yang harusnya menjadi arahan perubahan adalah kebebasan
dan kesadaran itu sendiri. Kita harus mengubah sesuatu demi kebebasan itu, atau
meningkatkan kebebasan dan kesadaran. Misalnya mempelajari suatu keterampilan
atau ilmu adalah suatu tindakan yang ditujukan mencapai kesadaran dan kebebasan
yang lebih tinggi.
Dalam
hal ini dapat disimpulkan bahwa kesadaran dan kebebasan adalah dua hal yang
hampir sama. Perbedaannya adalah kalau kesadaran merupakan suatu kondisi, maka
kebebasan adalah tindakan mencapai kondisi itu (proses), atau pula kemampuan
melakukan tindakan tersebut. Secara kias, kondisi yang bebas ialah kondisi yang
hidup, atau kehidupan. Sebab kehidupan merupakan salah satu perwujudan
kebebasan tertinggi dalam kenyataan, misal kemampuan bergerak dan bagi manusia,
kesadaran langsung.
Maka
tujuan kenyataan secara lengkap ialah untuk mempelajari dan memahami kenyataan
itu sendiri. Lalu mengubah kenyataan yang ada demi memajukan kesadaran itu
sendiri dan meningkatkan kebebasan kenyataan. Secara konkrit, manusia hidup,
mengalami hidup, memaknai hidup, dan memajukan hidupnya dari yang awalnya tidak
tahu menjadi tahu. Dari tidak bebas menjadi bebas, demi kebebasan dan kesadaran
itu sendiri sebagai pemenuhan jati diri manusia. Bagaimana dengan kondisi tidak
bebas?
Maut
Kita
selama ini membicarakan etika sebagai sekadar mekanika dunia, dan
mengesampingkan kebebasan kehendak yang ada pada kenyataan. Bahwa kenyataan pun
tidak mengandung yang benar atau yang baik saja tapi juga yang tidak baik, yang
salah yang buruk. Hal-hal ini, yang merupakan lawan dari hidup dan etika,
adalah maut dan ketidakbebasan. Maut, sebab benda yang tidak hidup ialah benda
yang tidak bebas. Pergerakannya pun disebabkan oleh benda lain yang notabene
hidup, dan kebebasannya disebabkan oleh mahkluk yang hidup. Singkat kata, maut
dan dosa ialah segala yang bertentangan dengan kebebasan dan kesadaran.
Kondisi
tidak sadar atau tidak tahu adalah bentuk maut yang paling ringan, karena
merupakan kondisi awal. Namun ini juga bentuk maut yang paling dasar, karena
tanpa pengetahuan tidak ada yang bisa dilakukan. Sama halnya saat kita tidak
mengetahui tentang kenyataan apapun kita tidak bisa melakukan apa-apa, misal
berkata, terhadap atau mengenai kenyataan. Tanpa kesadaran, kebebasan pun tidak
ada dan ini adalah bentuk maut yang paling mencekam. Karena kita sendiri tidak
bisa menyadari maut yang membelenggu kita.
Kondisi
tidak bebas adalah bentuk maut yang sebenarnya skalanya sama dengan kondisi
tidak sadar tapi pada kategori yang berbeda. Dalam hal ini, ketidakbebasan
artinya kita bertindak tidak menurut jati diri kita sebagai entitas kenyataan. Maka
kita bertindak bukan menurut kesadaran dan kebebasan, melainkan menurut hal
yang lain. Dalam kenyataan ada banyak sekali unsur dan objek, tapi hanya satu
yang hakikat. Suatu kondisi yang tidak bebas adalah saat kita hidup dan
bertindak tidak sesuai hakikat, tapi sesuai unsur spesifik. Misal kaum yang
hidup menurut nikmat jasmani, ataupun nikmat saja dan bukan atas dasar
kebebasan.
Saat
seorang hidup atas pengaruh maut, ia akan berhenti pada tujuan spesifik itu dan
tidak bergerak lagi. Mungkin saja hidupnya akan ditujukan demi satu unsur itu
dan mengesampingkan segala unsur lainnya. Kalau tidak ada perubahan, misal oleh
makhluk hidup lainnya, ia dapat kehilangan akan kesadaran akan yang lain. Sebab
dia hanya fokus pada satu objek tertentu dari kenyataan, dan terbentuklah yang
dinamakan dengan kelekatan. Dari kelekatan muncullah stagnasi dan akhirnya maut
murni.
Apakah
kelekatan pada hidup mungkin? Kelekatan pada hidup juga mungkin, tapi saat kita
melekat dan menghamba pada kebebasan serta kesadaran secara otomatis kita tidak
akan melekat. Sebab kesadaran dan kebebasan adalah tujuan yang melarang
kelekatan, dan kita akan terus terpacu untuk berkembang menuju kesadaran dan
kebebasan yang lebih tinggi. Kelekatan pada hidup akan menghidupkan dan
kelekatan di luar hidup akan mematikan. Stagnasi sebagai konsekuensi dari
kelekatan yang tidak sesuai asas kebebasan merupakan ciri khas maut.
Seseorang
mungkin dapat bertanya tentang keberadaan maut, mengapa ada maut kalau dunia
pada hakikatnya hidup? Kenyataan atau kehidupan diartikan tidak hanya suatu
kondisi penyadaran tapi juga kemampuan mengubah penyadaran itu menjadi yang
lebih tinggi. Sebab kenyataan dapat menentukan keberadaan dirinya sendiri, dan
artinya dapat berubah. Kebebasan sebagai proses perubahan menandakan adanya
kondisi yang lebih baik dan kondisi yang kurang baik. Perubahan yang bebas
adalah perubahan kondisi dari yang kurang baik atau tidak bebas menjadi yang
lebih baik atau yang bebas. Memang tidak ada maut murni, karena keberadaan
kenyataan adalah sifat hidup paling dasar. Namun ada yang lebih hidup dari
sekadar berada, dan maut lebih menandakan hal-hal yang lebih jauh dari
kebebasan, sementara hidup hal-hal yang lebih dekat dengan kebebasan.
Keutuhan Hidup
Pertanyaan
berikutnya adalah pernyataan yang sekilas dilematis. Kalau kebebasan menuntut
kita untuk menyadari dan menguasai segala sesuatu, bukankah itu berarti kita
harus menyadari hal-hal yang jahat pula? Seakan-akan kebebasan juga meminta
kita mendekati hal-hal yang menjauhkan diri kita dari kebebasan itu. Kalau
begitu, tidakkah segala hal di bumi ini baik apa adanya dan harus dimuliakan
pula? Memang benar, bahkan dosa yang paling hina pun harus kita sadari sebagai
pemenuhan kebebasan, ataupun penderitaan yang sangat. Untuk mencapai kehidupan,
kematian harus kita pahami dan kita alami pula.
Akan
tetapi harus diingat bahwa mengalami maut tidak sama dengan tunduk pada maut.
Menyadari maut dan menguasainya sama sekali berbeda dengan berhenti pada maut. Karena
maut yang sesungguhnya adalah saat kita melekat pada maut itu, dan tidak
berubah dari pada maut. Sementara itu kebebasan tidak hanya menuntut
penyadaran, tapi juga kuasa atas yang mati. Maka kita menyadari maut tidak
berhenti di situ, tapi juga mengubah maut menjadi yang hidup. Sehingga memang
yang lebih berharga ialah perubahan dan bukan hanya hasil perubahan.
Tentu
saja dalam “dilema” hidup dan maut ini bukan berarti kita boleh mengejar maut
dan memakai kebebasan sebagai pembelaan. Memang akan ada waktunya saat kita
mengejar maut, tapi kalau maut sekarang belum diselesaikan bagaimana mungkin
kita bisa mengejar maut lainnya? Maksud dari kebebasan bukan mengejar maut,
tapi menerima dan menyadari maut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
kenyataan dan artinya diri kita sendiri. Sebab banyak orang yang mencoba
menghindari maut dan memperlakukannya sebagai suatu hal yang teramat buruk.
Kelekatan pada hidup ini sebenarnya bukan bebas pula, karena kita lari dari
kenyataan.
Sebaliknya,
hal yang harus kita lakukan bukan menolak maut atau tunduk pada maut. Maut
sebagai objek dari kenyataan menerima perlakuan yang sama sesuai asas
kebebasan, yaitu disadari dan dikuasai. Kita menyadari maut sebagai hal yang
tidak benar, yang tidak seharusnya, dan menguasai maut itu supaya berubah
menjadi hal yang benar dan sesuai dengan kebebasan itu sendiri. Maka jelas saja
tunduk pada maut tidak sama dengan menyadari maut, di mana yang satu ialah maut
dan yang satu ialah hidup.
Sebenarnya
mengejar maut secara sengaja untuk diubah tidak sepenuhnya salah, karena
kebebasan artinya kita menyadari dan menguasai secara sengaja (oleh kehendak
kita sendiri). Hanya saja mengejar maut tidak berarti mengejarnya secara
membabi buta, mengejar atas kehendak maut (kelekatan), atau mengejar secara
sembarangan. Sebab dalam etika ada suatu strata atau hierarki kebebasan yang
harus kita penuhi demi mencapai kebebasan yang sejati.
Strata
etika di sini maksudnya urutan pengetahuan atau pengalaman menurut ontologinya,
atau menurut esensinya. Ontologi maksudnya mengenai keberadaan, hal yang lebih
tinggi secara hierarkis berarti lebih dulu ada dari yang lain. Esensi juga sama
saja, tapi merujuk pada tingkat “kehakikatan” suatu pengetahuan sebagai bagian dari
kebenaran kenyataan. Walaupun bersifat hierarkis, segala hal di dalam strata
ini tetap setara dalam derajat, dalam arti setiap hal ini harus diperlakukan
secara sama, yaitu disadari dan dikuasai.
Pada
tingkat tertinggi tentu saja pengetahuan akan kenyataan yang paling murni. Atau
penyadaran dan penguasaan atas hukum kesadaran dan kebebasan. Penempatan hukum
ini adalah hal yang sangat logis dan harusnya tidak usah dipertanyakan. Untuk
bisa mencapai kebebasan, tentu kita harus menyadari dulu apa itu kebebasan dan
mengapa kita harus mencapai kebebasan. Tanpa penyadaran akan kebebasan, segala
penyadaran lainnya tidak mungkin karena segalanya bergantung pada keberadaan
kenyataan, kesadaraan, dan kebebasan. Dan baru setelah kebebasan disadari
segala hal lain dapat disadari dan dikuasai pula.
Tingkat
kedua ialah segala hal yang baik atau mendukung kebebasan. Sebenarnya tahap ini
masih terkait pada tahap pertama yaitu kebebasan murni. Perbedaannya adalah
pada tingkat kedua kita mengejar kebebasan secara praktis dan secara penuh. Kalau
pertamanya hanya kebebasan yang teoritis dan esensial, maka sekarang kita
mencari kebebasan yang praktis dan spesifik. Kebebasan praktis lebih merujuk
pada masalah-masalah sosial dan hal-hal empiris lainnya. Maka dapat dikatakan pula
bahwa ini adalah kebebasan empiris, di mana kita mengejar pengetahuan empiris
demi kesadaran dan kebebasan dunia.
Memang
dalam pengejaran kebebasan praktis kita akan menemui hal-hal yang maut, dan
kita tetap akan menyadari dan memahami maut tersebut. Hanya saja maut itu tetap
menjadi batu pijakan saja demi mencapai kebebasan itu dan bukan tujuan utama
kita. Mungkin kita akan berbicara tentang maut, tapi hanya sebagai bagian dari
perjalanan menggapai kebebasan praktis dan mutlak. Dan setelah kebebasan praktis
dicapai, yaitu keselarasan kenyataan dengan kebebasan secara penuh, kita dapat
memulai tahap ketiga sebagai pemenuhan kenyataan.
Tahap
terakhir atau sebenarnya yang paling terakhir dari strata etika tapi juga
setara dengan yang lainnya adalah pengejaran maut. Sebenarnya tetap tujuan
utamanya tetap kebebasan, tapi kali ini kita menyadari maut dan memahami maut
secara lebih utuh. Sebelumnya kita mengalami maut tapi kita belum sungguh
menyadari maut, karena adanya pengetahuan yang kurang. Namun dengan pengetahuan
yang lebih lengkap, kita dapat memahami kondisi maut dengan lebih lengkap pula.
Memang benar bahwa kali ini kita menyadari maut demi penyadaran akan maut itu
sendiri, tapi pada akhirnya tetap saja kita akan menguasai maut dan merubah
maut kepada hidup secara utuh.
Selain
strata etika, adapula siklus etika yang menjadi semacam pola umum dalam
kenyataan. Hal ini dinamakan dengan siklus karena tidak pernah berhenti dan
tidak terbatas sifatnya. Namun kalau kita melihat secara keseluruhan ada siklus
etika yang sifatnya berhenti dan tidak terulang lagi, tapi itu bukan topik
pembicaraan kita. Tahapan pertama dalam siklus ini tentu saja maut, tapi bukan
sekadar maut melainkan maut paling murni. Artinya kondisi di mana kita dikuasai
maut dan kita tidak menyadari sama sekali bahwa kita dikuasai oleh maut. Ini
adalah maut yang paling mencekam dan berbahaya, tapi tidak selamanya dan
setelah maut awal mulailah proses awal menuju kebebasan.
Berikutnya
adalah penyadaran terhadap maut itu sendiri, yaitu kita masih dikuasai maut
tapi kita mulai menyadari akan maut itu, bahwa yang terjadi bukanlah yang
seharusnya. Penyadaran dapat terjadi tanpa penguasaan, karena beberapa hal
penting yang akan dibahas pada waktu lain. Namun bersamaan atau tidak,
penyadaran akan maut adalah hal yang penting, karena inilah yang membuat kita
mungkin untuk menguasai dan mengubah maut itu sendiri. Setelah penyadaran maut
barulah perubahan maut atau penguasaan maut dapat dilakukan.
Perubahan
maut dapat dikatakan sebagai perwujudan utama dari kebebasan, yaitu mengubah
dari yang mati menjadi yang hidup. Bagaimana teknisnya bukan masalah kita saat
ini, hal yang pasti adalah sesuai definisi maut dan hidup, kita menanggalkan
belenggu yang mencekik kita dan menjadi bebas. Dari awalnya kita dikuasai oleh
suatu hal, sekarang kita yang menguasai hal tersebut dan ia pun kita bebaskan
dari belenggunya. Begitu seterusnya sampai kita benar-benar mengalami
kehidupan.
Kehidupan,
bukanlah kondisi paling akhir dari siklus ini, sebab kehidupan artinya hanya
suatu kondisi yang lebih bebas. Mungkin ada kehidupan mutlak, seperti adanya
maut yang hampir mutlak, tapi maksudnya adalah sebagai kondisi yang lebih
bebas. Kehidupan yang dasarnya adalah penyadaran dan penguasaan diri artinya
dari awal kita sudah menyadari kehidupan, dan tahap berikut yaitu penyadaran
kehidupan dapat dikatakan terjadi bersamaan. Tentu saja setelah itu adalah
perubahan hidup atau pengembangan hidup menjadi kondisi yang lebih bebas. Setelah
itu siklus ini terulang kembali terus menerus tanpa henti dan tanpa batas.
Maka
memang benar bahwa untuk mencapai kebebasan yang sejati, maut pun harus kita
selami. Namun maut bukanlah tujuan akhir kita, melainkan suatu cara untuk
mencapai hidup itu sendiri. Dan hidup juga bukan perhentian, melainkan suatu
awal baru dalam perkembangan etis kenyataan. Sesuai yang telah dikatakan, tetap
saja yang harus dicari adalah hukum kebebasan itu dan segala hal dilakukan demi
hukum kebebasan. Baru segala hal berikutnya kita cari, sebab hukum kebebasan
ialah jati diri kita.
Penutup
Dengan
pembahasan ini dapat disimpulkan beberapa hal penting, bahwa etika sebagai
tujuan kenyataan merupakan perumusan jati diri dan juga tujuan kenyataan dari
segala makhluk yang ada. Tujuan ini tentu saja sesuai dengan hakikat kenyataan
sebagai kesadaran dan kebebasan yang berdaulat, maka tujuan kenyataan ialah
menjadi sadar dan bebas atas segala hal di dunia ini. Untuk mencapai kenyataan
itu adalah menjadi bebas, berkuasa dan berdaulat atas diri kita sendiri. Namun
lari dari kenyataan itu dan kita akan mati, dikuasai dan diperbudak oleh
kenyataan. Walau begitu pengalaman perbudakan tetap penting, sebagai pijakan
untuk bebas dari perbudakan itu. Dan dengan kebebasan awal, segala hal dapat
kita capai. Tuhan memberkati.
Diarsipkan dalam persiapan untuk karya yang lebih lengkap.
No comments:
Post a Comment