Sunday, December 15, 2019

Esai

Pendahuluan

Dalam sejarah, ada benarnya bahwa buku lebih dikenal sebagai sumber pengetahuan yang utama, tapi dengan perkembangan zaman, ada suatu bentuk tulisan yang mulai populer, yaitu esai. Bahkan, esai juga menjadi bentuk tulisan paling umum dalam jurnal-jurnal ilmiah, sementara buku menjadi suatu rangkuman akhir dari serangkaian esai. Hal ini turut berlaku bagiku, dan dengan esai ini menandakan titik transisi antara gaya penulisan manuskrip yang panjang menjadi esai-esai yang lebih singkat.

Selama beberapa waktu, aku telah berupaya dalam menuangkan pikiranku dalam manuskrip-manuskrip yang panjang. Aku tidak menyebut mereka buku, karena tidak memiliki struktur dari sebuah buku dan rencananya akan menjadi bagian dari buku yang lebih besar. Isi dari manuskrip-manuskrip ini adalah filsafat, tapi pada akhirnya hanya dua yang berhasil kutulis yaitu metafisika dan etika.

Tentu saja kuantitas tidak mencerminkan kegagalan atau keberhasilan manuskrip, yang lebih mencerminkan adalah fakta bahwa setelah itu aku tidak mampu untuk melanjutkan penulisan manuskrip yang lebih panjang. Sebagai suatu latar belakang, baiknya aku menceritakan mengenai kejadian yang telah terjadi belakangan ini.

Penulisan manuskrip filsafat sebagai upaya pengembangan ilmu filsafat menurut perspektifku telah menjadi suatu rutinitas kehidupan untuk beberapa minggu ini. Pada minggu-minggu awal di mana ide-ide cukup berlimpah dan dapat dituliskan semuanya, menuliskan manuskrip yang panjang untuk menyatakan seluruh ide tersebut tidak begitu sulit. Tanpa perencanaan yang cukup matang atau panjang pun dapat dituliskan segera suatu bagian dari manuskrip.

Pada tanggal 2 Desember 2019, karena ide-ide yang berlimpah itu sudah mulai habis dan juga munculnya kesadaran baru, penulisan manuskrip akhirnya terhenti dan tidak dapat dilanjutkan, bahkan mengakibatkan krisis mental yang cukup melumpuhkan pikiran sehingga tidak dapat berpikir lagi. Kesadaran baru yang dimaksud adalah kesadaran bahwa sesungguhnya logika dari manuskrip yang telah ditulis itu sangat berantakan dan tidak beraturan.

Kesadaran itu menimbulkan pemahaman bahwa dalam dua manuskrip yang telah ditulis banyak sekali pernyataan-pernyataan atau argumen yang janggal dan dapat dengan mudah dibantah. Bagi suatu sistem filsafat yang saling terkait satu argumen dengan yang lainnya, kehilangan satu argumen saja sudah berakibat fatal pada keseluruhan sistem filsafat tersebut. Maka hasilnya adalah suatu keraguan yang mencekam terhadap pemikiran-pemikiranku sendiri dan rasa ketidakmampuan untuk bangkit.

Memangnya, mengapa dapat muncul keraguan besar tersebut? Mengapa dapat timbul kesadaran baru akan kekurangan-kekurangan yang fatal dalam manuskrip, atau tepatnya, apa yang salah dari gaya penulisan manuskrip? Kesalahannya tentu bukan pada manuskrip itu sendiri, tapi bagaimana aku menggunakan manuskrip untuk mencari pengetahuan yang baru dan mencapai kebenaran.

Pertama, dalam penulisan manuskrip, ide-ide yang ditulis seringkali terlalu luas dan hasilnya tidak fokus. Saat ide-ide yang dibahas terlalu banyak, maka fokusnya hanya pada keseluruhan rangkaian ide, dan tidak pada ide-ide individual itu, apakah sendirinya sudah layak atau belum? Karena itu, pembahasannya juga menjadi dangkal dan tidak memberikan suatu pembenaran yang benar-benar sepatutnya untuk setiap ide, pemikiran, atau pernyataan individual yang dibahas.

Masalah kedua yang menjadi masalah yang lebih penting sebenarnya adalah masalah psikologis. Pada masa aku menuliskan manuskrip, aku berada dalam tekanan untuk mencari kebenaran secepat-cepatnya dan selengkap-lengkapnya. Dalam kata lain aku terburu-buru untuk menuliskan manuskrip-manuskrip yang panjang karena aku ingin dengan cepat memperoleh suatu sistematika kebenaran yang utuh dapat menjadi suatu sandaran hidup.

Ketergesa-gesaan itu memiliki suatu alasan lain di baliknya, yaitu karena aku takut waktuku tidak cukup untuk mencari dan menemukan kebenaran. Namun kita semua tahu bahwa ketakutan justru menjadi penghambat saat terlalu menguasai, dan hasilnya bagiku adalah suatu bumerang. Karena ketakutan, fokusnya bukan pada kualitas, melainkan pada kuantitas, ini terlihat pada jumlah kata dan jumlah halaman yang terakumulasi, minimal 100 halaman.

Memang benar dalam 100 halaman lebih itu tetap mengandung ide-ide yang berharga, tapi karena dikerjakan dengan terburu-buru tetap saja tidak mencapai suatu kualitas bahasa atau standar logis yang maksimum. Jikalau tidak dikerjakan dengan terburu-buru, sebenarnya mungkin saja untuk mengerjakan manuskrip dengan sangat perlahan dan dengan sangat sempurna, tapi itu justru menjadi tidak efektif dan akan memakan jauh lebih banyak waktu.

Walaupun begitu, tetap saja untuk sekarang manuskrip tetap tidak ideal karena alasan berikut. Bahwa dengan kesadaran yang baru itu, jelaslah bahwa kebenaran yang penuh, sistematis, dan berkualitas dalam bahasa dan logika hilang lagi, maka kita harus memulai kembali dari awal. Fakta bahwa kita harus memulai kembali dari awal membuat manuskrip tidak ideal untuk melaksanakan tugas ini.

Untuk menyusun manuskrip yang baik, sekiranya sudah ada perencanaan terhadap keseluruhan isi manuskrip tersebut, tapi saat pengetahuan itu sudah lepas dari genggaman kita, apakah hal itu mungkin? Jika tetap dipaksakan, justru bisa mengarah pada manuskrip yang arahnya tak terbatas, tak teratur kembali, atau memakan sangat banyak waktu untuk menjaga keseimbangan bahasa dalam manuskrip.

Maka dengan latar belakang sebagai berikut, aku mengalihkan pandangan pada bentuk tulisan yang lebih rapi, dan tertata, tanpa sepenuhnya meninggalkan atau menghilangkan manuskrip, yaitu esai. Dari itu tujuan esai pertama ini adalah menerangkan masalah esai itu sendiri, menetapkan penulisan esai terlebih bagi diriku, dan juga alasan-alasanku memakai esai dalam pencarian kebenaran.

Esai

Pengertian esai yang paling sederhana adalah suatu tulisan singkat yang berisi pandangan atau tanggapan penulis terhadap suatu permasalahan. Tentu saja, “singkat” memang relatif bagi banyak orang, suatu hal yang singkat bagiku bisa saja panjang dan layaknya skripsi bagi orang lain. Sejarah juga telah membuktikan adanya esai-esai yang panjang, dan mungkin lebih tepat kalau dikatakan sebagai suatu buku, dan bukan esai.

Maksud dari “singkat” adalah singkat dibandingkan dengan banyak jenis tulisan lain. Selain itu esai dikatakan sebagai suatu tulisan yang ringkas bukan hanya panjangnya atau jumlah halaman, melainkan karena isi dan jumlah ide yang terkandung dalam esai. Dibandingkan dengan buku dan manuskrip yang dapat membahas berbagai ide yang saling terkait, suatu esai sangat terfokus pada satu ide saja, dan ini yang membuat esai “singkat”.

“Satu” ide dalam suatu esai cakupannya dapat seluas esai John Locke atau Robert Malthus, atau dapat seringkas esai-esai pertama milik Montaigne. Berhubungan esai ini lebih fokus pada esaiku, dan bukan esai orang lain, aku sendiri akan menetapkan batasannya. Bagiku, “satu” ide dapat dikatakan sebagai satu argumen yang dapat berdiri sendiri secara keseluruhan, dibandingkan dengan suatu rangkaian argumen yang harus saling mendukung dan didukung.

Karena dalam esai hanya ada satu ide yang jelas, atau satu argumen yang jelas dan tegas, maka ada konsekuensi yang jelas pada esai itu. Bahwa esai itu akan fokus sepenuhnya dalam memperjelas suatu argumen yang ada dan membuat satu ide yang singkat itu menjadi ide yang sempurna. Maka esai sifatnya sangat spesialis dan spesifik, satu ide tapi ide itu dikupas sangat mendalam dan diperas sampai kepada intisarinya.

Supaya esai dapat mencapai tingkat kejernihan dan kebenaran yang tinggi, salah satu strategi utamanya adalah melalui struktur. Esai yang baik umumnya memiliki struktur yang jelas, bukan hanya untuk pembaca tapi juga penulisnya. Struktur mendiktekan pola, alur, dan keterkaitan antara setiap ide pendukung dengan ide keseluruhan esai tersebut. Struktur tidak hanya mempermasalahkan urutan paragraf dalam esai, melainkan juga struktur ide yang diwujudkan dalam struktur bahasa dalam esai.

Suatu struktur esai yang baik dapat diidentifikasi, dan lebih penting lagi adalah mengalir dari satu paragraf ke paragraf lainnya. Arus bahasa ini menunjukkan arus pemikiran, yang pada akhirnya menunjukkan perkembangan ide atau argumen dalam esai dari awal sampai akhir. Dengan adanya struktur seperti ini, aku dipaksa untuk menganalisis dan memikirkan dengan cermat suatu ide sampai benar-benar jelas dari awal dan akhir, dengan suatu kejernihan dan kebenaran yang sempurna.

Melalui penerapan struktur esai yang baik, fokus dan kesatuan ide dalam esai dapat dicapai dan hasil akhirnya adalah esai yang baik dan berkualitas. Pada esai ini pula akan ada bagian yang membahas lebih dalam struktur suatu esai, bukan hanya dari bahasanya melainkan juga isi atau ide dari esai. Sesungguhnya, kalau kita mencermati esai pertama ini, suatu struktur yang kasar juga sudah mulai tampak, sebagai hasil dari kesadaranku yang baru.

Topik apa saja yang dapat dibicarakan dalam esai? Jawabannya, tak terhitung jumlahnya. Esai berbeda dengan jenis tulisan singkat lainnya, karena di mana banyak genre yang didefinisikan oleh kontennya, esai didefinisikan oleh struktur dan formanya, atau bentuk teksnya. Karena itu esai sangatlah fleksibel dalam penulisannya dan dapat menjadi tulisan lintas genre saat esai mengambil tema dari genre lain.

Esai bisa saja formal atau informal, bisa serius atau santai, bisa personal atau impersonal. Seringkali suatu esai memiliki sifat personalitas yang meski sedikit, tetap ada, karena pada dasarnya esai adalah tanggapan atau pendapat penulis terhadap suatu permasalahan. Tergantung cara tanggapan ini diekspresikan dan bagaimana penulis memandang pendapatnya sendiri, suatu esai bisa sangat personal dan pribadi atau sangat objektif dan impersonal.

Salah satu ciri dari esai yang menunjukkan personalitasnya adalah penggunaan sudut pandang orang pertama, misalnya dalam esai ini sudah beberapa kali menunjukkan kata “aku”. Sebab esai seringkali berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri atau perasaan dan tanggapan penulisannya sendiri, maka pasti akan ada rujukan pada dirinya sendiri. Terlepas dari batasan minor itu, benar-benar tidak ada batasan yang pasti terhadap isi dari esai.

Fleksibilitas esai menjadi suatu kekuatan yang besar bagi esai, karena artinya esai dapat digunakan untuk mengupas beragam ide yang mungkin sulit dijangkau bentuk-bentuk tulisan lainnya. Bahkan suatu hal yang begitu sepele atau yang begitu pribadi dan sensitif, dengan pemikiran yang tepat dapat dikonversikan dan dituangkan menjadi suatu esai yang berkualitas. Pada bagian-bagian berikutnya pun akan ada pembagian jenis-jenis esai yang akan kutulis, dan itu hanya sebagian dari fleksibilitas esai yang tinggi.

Setiap ciri khas dari esai yang telah disebutkan berkontribusi pada alasan mengapa esai lebih baik dalam ekspresi pendapat dan pemikiran daripada manuskrip yang panjang. Pertama, panjang esai yang umumnya tidak terlalu panjang artinya beban untuk menulis dan juga waktu yang dihabiskan tidak terlalu banyak, sehingga lebih banyak energi dapat difokuskan ke isi dari esai dan bukan panjangnya, serta dalam penulisan esai-esai berikutnya.

Hal yang lebih penting dari panjang esai adalah kekuatan logika esai sebagai konsekuensi dari fokus esai yang kuat pada satu ide saja. Ini akan sangat bermanfaat saat merangkai suatu sistem argumen atau filsafat, karena setiap esai ini sudah sangat kuat maka akhirnya keseluruhan sistem dapat menjadi sangat kuat. Maka esai menjadi daya utama dalam upaya pencarian kebenaran, di mana setiap esai menjadi satu langkah, yang sekalipun hanya satu tapi langkah yang pasti dan yakin.

Fleksibilitas esai juga berkontribusi pada kebaikan esai, karena segala topik yang dapat dipermasalahkan dapat dituangkan dalam esai, apapun itu. Sehingga tidak hanya filsafat yang dapat dituangkan dalam esai, permasalahan yang pribadi bagiku, entah berbagai pengalaman hidup atau ingatan atau penderitaan pun dapat ditulis dalam esai yang rapi dan terstruktur. Karena memang esai didefinisikan dari struktur dan bukan isinya, maka dalam penulisan dapat semakin difokuskan pada kualitas isi dan ide yang dituangkan, bukan pada syarat-syarat isi.

Sebelumnya dikatakan bahwa manuskrip tidak sepenuhnya dihilangkan, itu memang benar. Setelah semua esai diselesaikan dengan baik, maka barulah dibuat suatu manuskrip yang menjadi rangkuman dari berbagai esai yang ada. Di mana manuskrip berisi banyak sekali ide, diwakili esai-esai yang ada, tapi semua ide itu disatukan satu topik atau pernyataan umum, dan setiap ide itu mengalir, seperti pada satu esai. Maka manuskrip menjadi karya paling akhir, dan esai adalah batu batanya.

Struktur Esai

Esai yang baik harus memiliki struktur yang baik pula, dan struktur yang baik adalah yang jelas, dapat diidentifikasi, dan mengikuti peraturan-peraturan logika yang umum. Seperti yang telah dikatakan bahwa struktur esai adalah metode untuk mencapai fokus pada ide dalam esai dengan mengembangkan ide tersebut sedalam-dalamnya. Seperti yang telah dikatakan pula bahwa struktur esai bukan hanya struktur bahasa melainkan juga struktur ide, maka pembahasan mengenai struktur esai akan menggabungkan keduanya.

Esai pastinya diawali dengan suatu titik pertama, yang menunjukkan ide paling pertama yang kita miliki. Dalam konteks esaiku, titik pertama ini adalah suatu pertanyaan atau pengamatan yang menarik, yang merangsang pikiran dan membuatku merasa bahwa aku harus menuliskan hal tersebut atau menjawab pertanyaan tersebut. Bagian awal sangat penting karena menjadi pembatas dan penunjuk jalan untuk keseluruhan esai tersebut.

Selain latar belakang atau sebab-sebab dari penulisan esai, yang dituliskan pula adalah tujuan dari esai tersebut. Dengan pengamatan atau pertanyaan tersebut, lalu apa yang ingin kita capai dari esai ini? Mungkin kita ingin menjawab suatu pertanyaan, mungkin kita ingin mengeksplorasi dan mencari tahu lebih mengenai suatu masalah, atau kita ingin membuktikan suatu pendapat melalui suatu argumentasi yang logis.

Jika kita sudah membuat bagian awal dengan baik dan jelas, tahap berikutnya adalah memulai argumentasi kita atau analisis kita. Tergantung dari topik esai kita, argumen dapat langsung mengarah pada argumen inti atau dapat pula membahas argumen pendukung dahulu. Argumen pendukung dapat dibandingkan dengan landasan teori pada suatu penelitian ilmiah, dan fungsinya kurang lebih sama.

Menurutku, argumen pendukung memiliki fungsi-fungsi berikut. Pertama, sebagai penjelas masalah atau ide yang ada. Argumen pendukung menjadi penjelas dari pertanyaan atau pengamatan yang tertulis di bagian awal, karena bagian awal memang lebih kepada pendahuluan umum. Dalam fungsi ini, argumen pendukung menjadi orientasi bagi penulis dan pembaca supaya sungguh memahami masalah yang ada sebelum dapat dianalisis dan dibuat argumen intinya. Maka penjelasannya murni deskriptif, yaitu memaparkan apa yang terjadi tanpa menganalisis.

Fungsi kedua adalah sebagai justifikasi, yang merupakan pengertian umum tentang argumen pendukung. Pada fungsi ini, argumen pendukung menyediakan fakta-fakta yang dibutuhkan untuk membuktikan suatu tesis atau pernyataan. Justifikasi sendiri artinya untuk membenarkan, maka fakta apapun yang ada pada argumen pendukung berguna untuk menguatkan dan semakin menunjukkan kebenaran dari pernyataan yang ingin kita buktikan. Namun bukan sekadar fakta, melainkan bahwa ada kebenaran yang terdiri dari kebenaran-kebenaran yang lebih mendasar yang harus dibuktikan pula, argumen pendukung adalah bagian untuk hal itu.

Fungsi ketiga sebagai penyedia asumsi. Asumsi adalah keyakinan-keyakinan yang belum kita ketahui karena belum terbukti benar secara pasti. Namun asumsi ini kita yakini sebagai benar dan kita pakai untuk menganalisis suatu masalah. Asumsi tidak dipakai untuk membuktikan kebenaran suatu pernyataan, melainkan untuk mengomentari dan mengaitkan pandangan-pandangan pribadi kita dengan permasalah inti. Misalnya kalau kita menilai suatu gejala sosial adalah masalah sosial, kita paparkan dulu apa pandangan kita tentang masalah sosial, baru berlanjut ke argumen inti.

Fungsi keempat adalah menyediakan standar analisis. Sebenarnya fungsi keempat ini juga mirip dengan fungsi ketiga karena memberikan suatu standar untuk menganalisis dan berkomentar, tapi perbedaannya adalah standar analisis ini sudah dibuktikan pasti dan kebenarannya tidak lagi diragukan. Dalam esai-esaiku, standar ini biasanya akan dipinjam dari esai filsafat, untuk menganalisis masalah-masalah riil yang terjadi. Esai dengan argumen pendukung yang analitik cenderung lebih objektif karena kita menganalisis sesuai dengan kenyataan, sementara pada fungsi ketiga kita menganalisis sesuai sentimen pribadi.

Setiap fungsi ini memang lebih tepat dikatakan sebagai “jenis”, tapi dari perspektif esai ini mereka dianalisis berdasarkan tujuan dan manfaatnya bagi keseluruhan esai, sehingga disebut fungsi. Suatu argumen pendukung dapat merangkum dua fungsi atau lebih, misalnya suatu argumen yang deskriptif tapi juga justifikatif. Suatu asumsi pribadi yang sudah terbukti, dapat tergolong argumen pendukung yang asumtif sekaligus analitik.

Setelah pemaparan argumen pendukung yang secukupnya sesuai keinginan penulis, maka kita dapat melanjutkan masuk ke argumen inti, yang hanya memiliki satu tujuan dan fungsi, yaitu menjawab dan mencapai tujuan esai yang telah ditetapkan di awal. Dalam argumen inti, suatu masalah atau topik dibahas, dikupas, dan dianalisis sedalam-dalamnya sampai esai kita menguasai masalahnya sepenuhnya.

Sifat dari argumen inti haruslah deduktif, analitik, dan sintetik. Deduktif artinya dalam argumen inti kita membuktikan dan menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan fakta-fakta dari permasalahan yang sudah kita ketahui. Sifat deduktif ini yang dengan langsung menjawab atau menyajikan pembuktian untuk suatu pertanyaan atau pernyataan dalam bagian awal esai. Argumen pendukung dipakai di sini sebagai premis-premis penjelas dan pembenar.

Analitik artinya menganalisis atau menyederhanakan masalah menjadi bagian-bagian yang paling sederhana. Maka tentu saja argumen inti yang analitik menyederhanakan dan memecah suatu masalah sesuai dengan tujuan esai. Dalam sifat ini, argumen pendukung dipakai untuk menentukan bagaimana untuk menganalisis suatu masalah, dan apa yang ingin kita analisis dari suatu masalah tersebut. Sebab dari satu masalah ada banyak perspektif untuk menganalisis jadi harus dipakai standar analitik yang tepat sesuai dengan tujuan esai.

Sintetik adalah lawan dari analitik, yang artinya menggabungkan suatu masalah dengan fakta lainnya menjadi suatu realitas yang lebih lengkap. Perbedaannya dengan deduktif adalah sifat deduktif fokus pada pembuktian, sementara sifat sintetik fokus pada penggabungan. Umumnya argumen pendukung dipakai sebagai elemen kedua dari masalah yang ingin disintesiskan, atau suatu masalah dianalisis ulang dan digabungkan dengan suatu fakta kenyataan lainnya menjadi satu realitas yang lebih lengkap.

Setiap sifat ini haruslah ada dalam suatu argumen inti yang baik, jadi memiliki unsur deduktif, analitik, dan sintetik. Namun memang ada pengecualian-pengecualian khusus, yang mungkin saja tidak deduktif dan hanya analitik dan/atau sintetik. Terlepas dari pengecualian, umumnya semua argumen inti pasti membuktikan suatu hal sesuai dengan tujuan esai. Untuk membuktikannya maka masalahnya harus dianalisis dulu dan diratakan, lalu digabungkan kembali dengan fakta-fakta yang ada supaya jelas dan tampak suatu pembuktian yang benar.

Pada bagian akhir esai adalah kesimpulan umum yang menjadi jawaban ringkas terhadap tujuan esai yang telah ditetapkan pada awal esai. Kesimpulan ini dapat dikatakan sebagai suatu deduksi, pengetahuan yang baru, atau pernyataan umum sebagai tanggapan pada tujuan esai. Melalui kesimpulan, tujuan esai terjawab dan terpenuhi, sehingga aliran ide dan juga esai itu sendiri dianggap sudah selesai.

Kesimpulan menjadi nilai tambah dari hasil pengerjaan esai, dan dalam kesimpulan kita selalu memperoleh pengetahuan yang lebih dari pertama kali membuat esai atau mendapatkan ide inspirasi untuk menuliskan esai. Sebab esai selalu diawali dengan topik atau masalah yang ingin kita ketahui lebih dalam, atau yang masih dasar. Setelah kita mengeksplorasi melalui esai, pengetahuan kita bertambah karena ide itu telah dibuktikan secara penuh, dikembangkan semampunya, dan diintegrasikan selengkapnya dengan realitas yang lebih luas.

Suatu esai, sekalipun berhenti, dalam kesinambungan hidup tidak seharusnya berhenti di situ saja. Pada bagian paling akhir esai mungkin dapat disampaikan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang bisa saja dibuatkan menjadi suatu esai baru. Pertanyaan-pertanyaan ataupun rencana-rencana berikutnya memberi petunjuk bagaimana langkah berikutnya setelah membuat esai tersebut. Bagiku, ini biasanya akan berwujud rencana atau usulan dasar mengenai esai apa yang ingin kutulis berikutnya. Barulah setelah itu esai sungguh selesai.

Struktur ini tentu saja tidak dapat kita berlakukan secara keras sesuai dengan yang ada di esai ini. Setiap esai memiliki kekhasannya sendiri, dan bisa saja ada berbagai unsur yang tidak ada atau berbeda dalam satu esai. Unsur yang paling banyak berbeda pastinya unsur deduktif dalam esai, ini akan dibahas dalam jenis-jenis esai nantinya. Namun pastinya struktur umum mengenai pembukaan, argumen, dan penutupan pasti akan ada dalam setiap esaiku.

Sebelumnya dikatakan bahwa struktur esai meliputi struktur bahasa dan juga struktur ide, dan ini akan kutegaskan kembali sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya. Kesatuan struktural esai bukan hanya suatu kesatuan struktural bahasa supaya enak dibaca dan dipahami, melainkan menunjukkan suatu perkembangan ide yang nyata, dari awal, dikembangkan dengan pengetahuan lain dan akhirnya disempurnakan dalam suatu kesimpulan akhir. Dengan selesainya esai, suatu perkembangan dan kehidupan ide juga selesai, dan setelah itu berlanjut lagi dengan ide-ide berikutnya tiada henti.

Struktur dalam esai adalah metode untuk mencapai tujuan esai, yaitu untuk suatu fokus pada satu ide dengan tingkat kejernihan dan kebenaran yang tinggi. Sesungguhnya karena setiap ide itu berbeda, maka strukturnya tidak dapat sepenuhnya sama, atau pola isi dalam struktur itu tidak dapat sepenuhnya sama. Karena itu berikutnya aku akan menjelaskan bagaimana jenis-jenis esai yang berbeda terutama dalam kategori esai-esaiku dapat mempengaruhi strukturnya sesuai dengan kebutuhan.

Esai Filsafat

Esai filsafat di sini adalah esai yang sesuai namanya, membicarakan masalah-masalah filsafat. Dalam sistem esaiku, esai filsafat akan menjadi kategori esai yang paling utama, karena memang tujuan hidupku terorientasi pada kebenaran secara filosofis. Supaya suatu esai terkategorikan sebagai esai filsafat, syaratnya cukup keras, yaitu yang dibahas adalah filsafat murni, dan bukan integrasi antara filsafat dengan realitas empiris. Esai semacam itu tergolong esai umum dan bukan lagi esai filsafat.

Esai filsafat memiliki beberapa ciri khas yang tentu saja mempengaruhi struktur dan isi dari esai filsafat untuk memenuhi tujuannya. Pertama, tujuan esai filsafat tentu saja untuk mencapai suatu kebenaran filsafat. Secara umum, yang dimaksud dengan filsafat adalah segala ilmu yang berkaitan dengan pencarian hakikat akan segala sesuatu, atau kebenaran yang paling mendasar dan utama dari segala hal. Maka esai filsafat bertujuan untuk menguak kebenaran-kebenaran yang paling mendasar dari kenyataan.

Dalam hal ini, esai filsafat menjadi pembangun ilmu filsafat yang baru dari awal, dan konsekuensinya hal-hal yang terkandung dalam esai filsafat adalah sepenuhnya baru dan asli dari pemikiranku. Alasan ilmu filsafat dalam esaiku harus dibangun dari awal, dan bukan mengadaptasi dari pemikiran filsuf-filsuf lainnya akan diungkap pada suatu esai lain. Karena esai filsafat isinya baru dan orisinal, dalam kata lain dia tidak berdasarkan fakta-fakta yang ditetapkan oleh orang lain atau oleh masyarakat, ini memiliki konsekuensi tambahan.

Konsekuensinya adalah mayoritas pengamatan pertama atau pertanyaan atau titik awal dalam esai filsafat tidak akan bersifat empiris. Artinya, pengamatan filosofis tidak berdasarkan pengamatan inderawi atau segala klaim dan pengamatan yang harus dipertanggungjawabkan secara inderawi. Pengamatan filosofis bersifat rasionalis, yaitu berdasarkan akal budi dan penalaran semata. Ini adalah konsekuensi dari sifat filsafat yang sepenuhnya rasionalis, alasannya akan dikemukakan pada esai lain.

Namun ada pengecualian-pengecualian tertentu terhadap aturan rasionalis ini. Esai-esai filsafat yang paling pertama mau tidak mau bermula dari suatu pengamatan empiris. Esai-esai pertama ini akan mirip dengan esai umum, tapi sebenarnya sudah merupakan suatu esai filsafat. Alasannya sebagai berikut.

Membangun suatu ilmu filsafat yang secara penuh baru, memiliki implikasi menolak dan menentang semua ilmu filsafat yang lama. Penolakan itu harus dibenarkan dan didukung melalui argumen yang baik dan untuk menolak sesuatu kita harus memahami dengan baik apa itu yang kita tolak. Dalam masalah ini, hal yang ingin kita tolak, adalah ilmu filsafat yang sebelum kita dan artinya berasal dari luar kita dan merupakan suatu objek empiris. Oleh sebab itu, mau tidak mau esai-esai pertama, yang bertujuan untuk menolak ilmu filsafat yang lama, harus bersifat empiris.

Ciri khas kedua dari esai filsafat adalah esai filsafat sifatnya yakin, keras, dan tidak asumtif sama sekali. Pengecualiannya juga pada esai-esai filsafat yang pertama sesuai dengan alasan yang telah dikemukakan sebelumnya. Untuk mayoritas esai lainnya, ini kembali berkaitan dengan sifat dari ilmu filsafat, terlebih yang ingin kita bangun. Sesuai yang telah ditulis, filsafat bertujuan mencari kebenaran yang paling mendasar, sehingga kebenaran apapun itu harus pasti dan tak terbantahkan sehingga dapat menjadi dasar yang kuat bagi segala kebenaran lainnya.

Dengan sifat filsafat yang keras seperti itu, dalam penyusunannya juga hanya boleh menggunakan fakta-fakta atau ide-ide yang sama kuatnya dalam kebenaran dan itu berarti tidak boleh ada asumsi. Setiap premis, termasuk premis awal atau aksioma sekalipun, harus berdasarkan suatu kebenaran atau argumen yang kuat dan tak terbantahkan, bukan hanya sekadar intuisi, anggapan, asumsi, apalagi emosi semata.

Sebagai konsekuensi lanjutan, esai filsafat sifatnya akan sangat deduktif, yaitu menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan fakta-fakta yang telah kita ketahui. Ini tentu saja merupakan konsekuensi dari sifat filsafat yang dimulai dari premis-premis yang tak terbantahkan dan berhasil pada pengetahuan-pengetahuan baru yang juga tak terbantahkan. Karena esai filsafat bersifat deduktif, maka sifat esainya dari bawah ke atas, yaitu dari pengamatan-pengamatan yang sederhana naik ke atas sampai kebenaran yang paling tinggi.

Pengaruh hal-hal tersebut pada struktur esai filsafat adalah terutama pada titik awal dan juga pola argumen inti. Titik awal bersifat rasionalis kecuali pada esai-esai pertama, dan argumen inti berpola deduktif dan tidak memakai asumsi sama sekali, kecuali pada esai-esai pertama. Sementara pada kesimpulan umum, tentunya juga sebagai suatu deduksi yang meringkas hasil dari argumen inti.

Suatu esai filsafat, kecuali esai-esai yang pertama, biasanya tidak berdiri sendiri melainkan didukung dan juga mendukung berbagai macam esai lainnya. Entah itu sesama esai filsafat atau esai umum. Maka ada suatu sistem esai, diwujudkan dalam hyperlink, yang mencerminkan sistem ide yang ada dalam filsafat. Sebab suatu ilmu filsafat bukan sekumpulan ide-ide yang terpisah melainkan suatu kelompok ide yang sangat terhubung, terkoneksi, dan terkait, dalam kata lain suatu sistem.

Selain itu, esai filsafat juga memiliki tujuan berikutnya dan tidak selesai begitu saja setelah semua esai filsafat yang ingin dituliskan telah ditulis. Esai filsafat pada akhirnya akan dikumpulkan dan dirangkum menjadi satu buku untuk secara penuh menunjukkan kesatuan sistem filsafat. Alternatifnya adalah menjadi beberapa buku karena ada topik-topik yang secara jelas memiliki perbedaan-perbedaan penting, misalnya esai metafisika akan menjadi buku metafisika, dan esai etika menjadi buku etika, dan seterusnya.

Dalam konteks tersebut, esai filsafat dapat diibaratkan sebagai batu bata untuk menyusun suatu bangunan yang lebih besar dan megah. Setiap batu bata saling terhubung dengan yang lainnya, saling mendukung atau didukung. Batu bata yang baik memang penting, dan secara khusus esai filsafat dapat dinikmati sendirinya. Namun manfaat paling besar saat semua batu bata itu sudah menjadi rumah atau bangunan yang dapat dipakai dan juga indah. Kesatuan sistem filsafatlah yang paling bermanfaat dibanding dengan esai-esai individual saja, layaknya suatu rumah dibanding dengan pembentuknya.

Masih mengikuti analogi rumah, seperti setiap batu bata yang ditata di atas dan di bawah batu bata lainnya, setiap esai filsafat biasanya memiliki titik awal dari suatu esai sebelumnya dan akhirnya akan membuka pintu ke esai berikutnya, atau menjadi dasar untuk esai berikutnya. Maka aliran esai filsafat dapat ditelusuri hampir secara linear, dari kebenaran-kebenaran yang paling intuitif dan mendasar sampai ke penjabaran-penjabaran yang semakin dekat dengan empirisme. Tentu saja alirannya tidak sepenuhnya linear dan idealnya tidak sepenuhnya linear, tapi dapat ditelusuri dengan sedemikian rupa. Seperti batu bata yang tetap terhubung dengan batu bata di sampingnya atau di arah serongnya, esai filsafat juga seperti itu.

Pengetahuan filsafat yang terkandung pada esai filsafat memang paling bernilai sebagai hal yang dinikmati untuk dirinya sendiri dan juga untuk pengembangan dirinya sendiri. Namun sejatinya filsafat tidak boleh eksklusif dan harus berinteraksi dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya, yaitu realitas empiris yang lebih sering kita biasa. Sementara itu saat kita mulai menulis tentang korelasi filsafat dengan realitas empiris, kita telah beranjak dari esai filsafat dan masuk ke kategori berikutnya, yaitu esai umum.

Esai Umum

Esai umum adalah pertemuan antara filsafat dengan realitas empiris yang kita kenal. Singkatnya, esai umum adalah esai yang membahas permasalahan-permasalahan dalam dunia yang dianalisis dengan metode-metode filosofis, terlebih masalah-masalah yang kutemui dalam hidup. Dibanding dengan esai filsafat, lingkup esai umum jauh lebih luas, karena begitu esai itu bukan esai yang secara murni membicarakan filsafat, sudah menjadi esai umum.

Ada beberapa ciri khas dari esai umum yang mempengaruhi strukturnya supaya memenuhi tujuan esai umum. Tidak seperti esai filsafat, sulit untuk secara pasti mendefinisikan tujuan dari esai umum karena topiknya juga sangat luas. Namun hal yang pasti esai umum memiliki tujuan utama untuk menyampaikan pendapatku terhadap suatu permasalahan dalam kehidupanku atau yang kutemui dalam kehidupanku.

Esai umum dapat dibagi menjadi dua kategori kasar, yaitu esai umum filosofis dan esai umum non-filosofis. Esai umum filosofis adalah esai-esai yang mengomentari masalah-masalah dalam kehidupanku dari perspektif filsafat, maka argumen pendukungnya pasti diambil dari esai filsafat. Sementara esai umum non-filosofis tidak secara langsung menggunakan perspektif filsafat yang keras, melainkan berdasarkan pandangan-pandangan atau asumsi-asumsi pribadi yang belum dipastikan benar.

Karena esai umum pada dasarnya adalah komentar terhadap suatu topik dalam kehidupan atau permasalahan dalam kehidupan, konsekuensi paling utamanya adalah esai umum seringkali mengandung unsur empiris. Empiris di sini bukan berarti memakai tabel dan grafik, melainkan dapat diindera oleh panca indera, dalam kata lain pengetahuan yang berasal dari luar diri kita sendiri. Tentu saja ini karena objek esai umum adalah masalah dalam hidup, yang seringkali berasal dari luar. Penjelasan lebih lengkap mengenai ini akan diungkap pada esai lain.

Konsekuensi lanjutannya adalah karena esai umum memiliki unsur empiris, ia tidak akan sebaru, seasli, ataupun sepasti esai filsafat dalam masalah isi atau kebenaran. Esai umum bisa saja mirip dengan pemikiran-pemikiran orang lain karena objeknya juga hal-hal yang dari orang lain, lalu disintesiskan dengan pemikiranku sendiri, yaitu bagaimana aku menanggapi hal-hal tersebut. Jadi titik awal esai umum, yang bersifat empiris juga bersifat lama, bukan murni baru, dan kesimpulannya juga tidak murni baru.

Dalam masalah kepastian, tidak jarang aku tidak dapat mengingat atau menyajikan masalah empiris tertentu sepenuhnya, bisa saja ada ketidakpastian-ketidakpastian yang ada sehingga esai umum hanya sebatas pengetahuan dan ingatan saja. Kecenderungannya adalah jika esai umum semakin personal, artinya hal-hal yang memang terjadi secara langsung dalam hidupku dan bukan hanya kuketahui, akan lebih akurat karena aku menjadi sumber data primernya.

Kepastiannya bukan hanya karena sifat empiris dari esai umum, tapi karena ini bukan esai filsafat maka tidak ada tuntutan yang besar akan kepastian kebenaran. Memang esai umum yang berdasarkan filsafat bisa saja kekuatan kebenarannya setara dengan esai filsafat, tapi tidak semua esai umum akan filosofis. Bisa saja aku menulis esai umum yang asumsi filosofisnya belum memiliki esai filsafatnya tersendiri sehingga belum ada pembuktiannya.

Sebab tidak begitu mungkin bagiku untuk menulis semua esai filsafat dulu baru menulis esai umum. Saat itu terjadi, esai umum akan mengandung asumsi-asumsi pribadiku. Asumsi ini, biasanya memang rasional dan ada serangkaian pembenaran pra filsafatnya, tapi karena tidak didasarkan oleh kepastian kebenaran yagn dimiliki oleh filsafat, selalu ada kemungkinan bahwa asumsi itu salah. Maka esai umum biasanya kekuatan deduktifnya tidak sekuat esai filsafat, dan bisa saja kurang benar.

Hal ini dapat diterima karena tujuan utama esai umum adalah supaya aku dapat membagikan pendapatku mengenai masalah-masalah tertentu. Adakalanya aku benar-benar ingin mengkritik suatu fenomena sosial bukan hanya untuk menyampaikan pendapat melainkan juga untuk mengubah fenomena itu, pastilah esai itu akan berdasarkan filsafat. Terkadang aku hanya ingin berbagi pendapat, dan pada esai-esai itu aku tidak terlalu keras atau serius dan lebih santai, maka kekuatan deduktifnya tidak sekuat esai filsafat. Adapula waktu di mana aku benar-benar serius dalam suatu esai umum, karena topiknya juga serius, maka kekuatan deduktifnya bisa saja setara dengan esai filsafat.

Akan tetapi, bukan berarti esai umum itu tidak kuat, esai umum tetap memiliki kekuatan logis yang tinggi karena tetap didasarkan oleh analisis masalah yang mendalam dan terfokuskan. Sekalipun kebenaran esai umum tidak dapat dipakai sebagai kebenaran absolut, tapi esai umum tetap dapat menjadi bahan pertimbangan yang kritis dalam pemikiran atau dalam menentukan keputusan. Saat aku menulis bahwa esai umum tidak kuat, hanya relatif pada esai filsafat. Sendirinya esai umum tetap kuat, dan jika ditulis dengan sangat baik bisa menyamai esai filsafat, apalagi yang memang bersifat filosofis.

Konsekuensi dari sifat esai umum yang tidak begitu deduktif adalah esai umum akan lebih banyak bersifat analitik atau sintetik. Dalam arti esai umum menganalisis dan menyederhanakan berbagai masalah kehidupan yang kutemui, dan juga menggabungkan masalah yang telah disederhanakan itu dengan pandanganku sendiri, yaitu disintesiskan. Ini tentu saja karena tujuan esai umum memang untuk memaparkan pandanganku tentang suatu topik, jadi pada akhirnya akan ada suatu sintesis.

Tidak seperti esai filsafat yang memiliki posisi utama bahkan menjadi bagian dari tujuan hidupku, esai umum lebih sering seperti hobi atau rekreasi saja. Sementara esai filsafat paling berguna setelah menjadi satu kesatuan sistem filsafat yang diwakilkan oleh buku filsafat, esai umum bagaikan makanan seporsi yang dapat dinikmati sendiri. Belum lagi esai umum topiknya sangat luas dan sulit mengikat semuanya dalam satu payung ide.

Meski begitu, memang tidak mustahil untuk beberapa esai umum memiliki kesamaan topik yang cukup erat sehingga dapat menjadi satu buku. Biasanya esai-esai ini akan sangat erat kaitannya dengan filsafat, dan bisa dipandang sebagai ekstensi dari esai filsafat. Karena fungsi lain esai umum, sekiranya esai filsafat dan ilmu filsafat sudah rampung, adalah untuk mengintegrasikan realitas empiris dengan realitas filsafat, antara Tuhan dan manusia. Namun itu memang ada di masa depan yang sangat jauh dan bukan kepentingan kita sekarang.

Tidak banyak yang sebenarnya dapat ditulis tentang esai umum, karena pada kondisi kini memang esai umum hanya sebagai esai yang “rekreatif”, dan esai filsafat masih menjadi kategori esai yang utama. Sementara esai filsafat menjadi batu bata dan tombak utama, untuk sementara ini esai umum memang lebih seperti hiasan, entah itu vas bunga atau kertas dinding atau gorden. Akan tetapi akan ada waktunya esai umum juga setara pentingnya dengan esai filsafat.

Seperti yang telah dikatakan, esai umum merupakan komentarku terhadap berbagai permasalahan dalam kehidupanku. Sebenarnya ada semacam spektrum yang menunjukkan seberapa dekat suatu masalah dengan kehidupanku. Semakin impersonal, masalah menjadi semakin tidak pasti karena aku tidak mengalami masalahnya secara penuh. Semakin personal, masalah semakin pasti karena aku mengalaminya sendiri. Namun tidak semua masalah yang aku alami dapat dijadikan esai umum, jika ada garis yang dilewati, esai itu bukan lagi esai umum, melainkan esai pribadi.

Esai Pribadi

Dapat diperdebatkan apakah esai pribadi layak dikategorikan sebagai suatu “esai” atau tidak, berhubungan kategori esai ini paling aneh dibandingkan dengan esai-esai lainnya. Namun karena definisi esai hanya satu, yaitu tulisan yang terfokus pada satu ide, serta sebagai konsekuensi dari fleksibilitas esai, aku tetap memasukkan esai pribadi sebagai suatu esai yang murni, bukan hanya karena aku mengatakannya.

Esai pribadi adalah esai yang membahas masalah-masalah pribadiku, dan biasanya hanya aku yang mengetahuinya atau orang-orang terdekat dan yang terlibat dalam kejadian-kejadian tertentu. Esai pribadi ini jelas berbeda dengan esai umum, karena pada esai umum masalahnya memang kualami tapi tetap biasanya menjadi masalah yang juga dimiliki orang lain, jadi tidak khas pada diriku saja. Sementara pada esai pribadi, masalahnya sangat khas pada diriku dan orang lain kemungkinan besar tidak akan tahu.

Tujuan utama esai pribadi memang untuk menginvestigasi segala masalah terkait identitasku, yaitu siapa aku, sejarahku, peranku di dunia, perasaanku, segala masalah personal seperti itu. Tujuan ini membuat esai pribadi sangat berbeda dengan esai lain pada umumnya, karena sekarang esai ini benar-benar untukku saja, bukan untuk orang lain. Maka struktur esai pribadi akan sangat berbeda dengan esai filsafat atau esai umum, untuk menyesuaikan dengan tujuan esai pribadi.

Esai pribadi akan sangat variatif, bisa saja ada esai pribadi yang deduktif dan bisa pula ada yang tidak deduktif. Dalam arti ada esai pribadi yang tujuannya adalah membuktikan suatu pernyataan terkait diriku sendiri, atau bisa saja hanya untuk menceritakan salah satu peristiwa hidupku. Esai pribadi juga bisa santai dan bisa serius, bisa saja esai pribadi hanya ditulis sebagai rekreasi semata dan bisa pula sebagai upaya yang serius untuk menguak diriku. Namun semua esai pribadi tetap memiliki derajat keseriusan yang minimal.

Esai pribadi biasanya naratif, artinya bercerita, tepatnya bercerita tentang hidupku sendiri. Karena itu sekalipun esai pribadi bisa bersifat deduktif, seringkali esai pribadi akan non-deduktif. Sebab apa yang ingin dibuktikan? Mungkin ada unsur analitik atau sintetik tapi lebih banyak hanya menceritakan apa adanya, apa yang kurasakan, apa yang kupikirkan, apa yang terjadi dalam hidupku, mengapa aku memiliki perilaku sedemikian rupa dan seterusnya.

Hal yang pasti dari esai pribadi adalah tidak selalu esai pribadi memiliki kebenaran yang secara objektif pasti terkait pribadiku sendiri. Memang benar bahwa objek dari esai pribadi adalah diriku sendiri, tapi aku bukan seorang psikolog, jadi berbagai masalah psikologisku akan kuanalisis menurut perspektif awam, dan kalau memungkinkan dengan bantuan filsafat. Akan tetapi kembali pada fakta bahwa esai pribadi tujuannya untuk bercerita, bukan untuk mengungkap suatu fakta psikologis. Hal-hal yang mungkin berlaku bagiku, tidak serta merta berlaku untuk orang lain.

Sekalipun esai pribadi dapat menjadi esai yang santai dan personal, esai pribadi bukan media untuk curhat. Esai pribadi tetap mengikuti kaidah esai yaitu kritis dan rasional. Maka sekalipun objek esai pribadi adalah emosi dan juga peristiwa-peristiwa emosional, mereka tetap diperlakukan secara rasional dan bukan secara emosional. Tetap ada struktur dari esai pribadi dan bahasanya juga tetap bahasa yang baku, bukan bahasa emosional.

Bukan hanya karena esai pribadi adalah suatu esai, melainkan tujuan esai pribadi yaitu untuk menguak diriku sendiri, membicarakan tentang diriku sendiri sebagai suatu objek yang riil artinya harus memakai pendekatan yang objektif pula, yaitu secara rasional dan kritis. Ini supaya aku dapat mengetahui diriku dan menguak diriku sebenar-benarnya, tidak terhalang oleh emosi, maka tentunya harus memakai rasionalitas. Alasan lengkapnya akan diungkap pada esai lain.

Suatu konsekuensi lain dari esai pribadi adalah bisa saja ada hal-hal dalam esai pribadi yang sangat sensitif dan personal bagiku. Bahkan, hal-hal yang bisa saja membuatku didakwa secara hukum dan berkonflik dengan masyarakat, ini tentu tidak dapat diterima. Konsekuensinya adalah mayoritas dari esai pribadiku tidak akan dipublikasikan dalam blogku. Lalu pertanyaan yang muncul adalah, untuk apa aku menulis tentang esai pribadi kalau pada akhirnya tidak akan dilihat oleh orang lain?

Pertama, aku menulis esai ini terutama bagiku dan bukan hanya untuk orang lain yang ingin membaca. Selain itu, aku juga ingin berbagi mengenai rencanaku dan pemikiranku yang sekiranya dapat mendorong orang lain untuk berpikir atau tergugah hatinya atau intinya terpengaruh secara positif oleh tulisan ini. Kedua, aku menulis bahwa tidak semua esai pribadi akan kutahan, ada esai-esai pribadi yang kunilai pantas untuk kupublikasikan yang akan dipublikasikan ke blog pula.

Lalu, aku memiliki suatu impian terkait esai pribadi ini, yaitu dari semua esai pribadiku menyusun suatu otobiografi yang benar-benar komprehensif dan menceritakan diriku sendiri pada khalayak umum. Sebab tujuan esai pribadi adalah menguak diriku sendiri, maka jelas saja kalau sepotong-sepotong dalam esai-esai individual sulit untuk memahami siapa diriku. Karena diriku seperti sistem filsafat yang setiap komponennya saling mengikat dan saling berkaitan.

Esai pribadi hanya akan sungguh bermanfaat saat dapat menceritakan diriku sepenuhnya dan artinya menjadi bagian dari satu karya yang komprehensif tentang diriku, yaitu suatu otobiografi. Otobiografi ini akan menjadi wakil bahasa dan wakil dalam perkataan akan kesatuan diriku yang tak terpisahkan. Sementara satu esai mewakili peristiwa-peristiwa hidup secara individual, otobiografi melukiskan keseluruhan kehidupan.

Karena itu anggaplah pembahasanku tentang esai pribadi adalah persiapan akan otobiografi. Pada saat otobiografiku kutulis dan kupublikasikan, tidak akan ada yang kusensor dari semua esaiku dan semua bahan-bahannya akan dirilis. Pada saat itu aku yakin kita sudah memasuki waktu di mana otobiografiku tidak akan lagi mengundang masalah atau konflik yang terlalu berarti. Jadi semua esai pribadiku tetap akan dipublikasikan, hanya tidak pada waktu yang dekat.

Otobiografi menjadi salah satu rencana besarku setelah ilmu filsafat, tapi memang filsafat tetap menjadi kategori esai dan juga rencana paling utama dalam hidupku, demi kesempurnaan dan keselamatan segala sesuatu. Jikalau filsafat sudah dirampungkan, maka aku akan segera menyelesaikan otobiografiku sebagai bagian dari rencanaku. Pada akhirnya, esai pribadi, esai filsafat, dan juga esai umum akan kupakai untuk mencapai rencana akhirku, impian terbesarku untuk esai-esai ini.

Rencana Akhir

Sebelumnya aku sudah banyak menyinggung bahwa aku memiliki suatu rencana terkait esai-esaiku ini, dan bagaimana mereka semua akan tampak pada akhir rencana itu. Sekarang aku akan sungguh menegaskan dan menjelaskan apa yang ingin kulakukan terkait semua esaiku, yaitu esai filsafat, esai umum, dan juga esai pribadi. Secara ringkas, wujud esai-esaiku pada akhirnya bukanlah sekumpulan esai yang tak berkaitan, melainkan suatu sistem esai yang melambangkan suatu keterkaitan ide antara semua esai.

Untuk masalah teknis, semua esaiku akan dipublikasikan ke kedua blogku, yaitu yang bahasa Indonesia dan yang bahasa Inggris. Tentu saja artinya setiap dari esaiku akan ditulis dalam dua bahasa, yaitu dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Esai yang tidak akan dipublikasikan secara langsung adalah esai-esai pribadi, yang hanya akan dipublikasikan setelah otobiografi dirampungkan. Maka kedua blog ini menjadi sarana untuk penyelesaian rencanaku.

Rencana tahap pertama, setelah mempublikasikan ke kedua blog dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, adalah sistem esai yang komprehensif di mana semua esai menjadi bagian dari suatu sistem esai yang saling berkaitan, saling merujuk, saling mendukung, saling didukung, dan saling berinteraksi. Sistem esai ini sesungguhnya mencerminkan sistem ide yang ada, dan menunjukkan bagaimana suatu ide terhubung dengan ide yang lain, dan ini melalui hubungan antar esai ini.

Perwujudan sesungguhnya dari sistem ini adalah melalui penggunaan sumber referensi dan hyperlink. Setiap esai dapat memiliki hyperlink yang akan mengarahkan ke esai yang bersangkutan, misalnya kalau ada penjelasan yang utamanya dibahas oleh esai lain. Jika ada esai yang berdasarkan oleh esai lain, atau memakai argumen pendukung dari esai lain, dapat dicantumkan sebagai suatu sumber referensi. Sehingga pada akhirnya dapat dibuat suatu skema yang menunjukkan relasi unik antara setiap esai dalam suatu sistem yang besar.

Dalam sistem ini, memang harapanku adalah semua esai dapat tergabung dalam sistem ini, tapi ada kemungkinan bahwa esai pribadi akan cukup terpisah dari esai umum dan esai filsafat. Sebab esai pribadi pada dasarnya bercerita tentang diriku sendiri, tapi tidak mustahil bahwa pada esai-esai pribadi tertentu aku akan menggunakan argumen pendukung dari suatu esai lain, terutama esai filsafat. Namun jika ada esai-esai pribadi yang terisolasikan, walau ini tidak begitu mungkin, tetap tidak apa-apa.

Esai umum dan esai filsafat pasti akan membentuk suatu sistem keterhubungan yang sangat kuat, karena seperti yang telah dikatakan sebelumnya, fungsi lain esai umum adalah mengintegrasikan realitas empiris dengan realitas filsafat. Maka esai umum yang paling akhir atau tinggi harusnya esai umum yang filosofis, yang menggunakan argumen pendukung dari esai filsafat. Supaya benar-benar terlihat keterkaitannya, pastilah esai filsafat yang bersangkutan akan dicantumkan sebagai suatu sumber referensi dan juga sebagai hyperlink. Dengan itu sistem esai akan cukup didominasi oleh sistem esai umum dan esai filsafat.

Walaupun antara esai pribadi dengan esai lainnya akan sedikit terisolasi, tapi dalam kategori esai pribadi itu sendiri pastilah akan terbentuk suatu sistem. Sebab sederhana saja, esai pribadi memiliki tujuan inti untuk menguak diriku sendiri, dan karena aku adalah suatu satu kesatuan pribadi, maka pastinya antara setiap esai pribadi akan ada hubungan yang mencerminkan relasi antara setiap komponen diriku.

Sama halnya dengan esai filsafat, tidak hanya ia berelasi dengan esai umum, tapi dalam kategori internalnya juga terbentuk suatu sistem esai filsafat yang komprehensif. Hal ini dikarenakan pemahaman mengenai esai filsafat dan ilmu filsafat yang sebelumnya. Karena ilmu filsafat adalah suatu satu kesatuan, maka antara setiap esai filsafat harus menunjukkan kesatuan sistematis tersebut. Hal ini juga sudah disebutkan pada bagian esai filsafat, jadi harusnya sudah cukup jelas.

Berbeda dengan keduanya adalah esai umum, topik esai umum tidak memiliki kategori yang benar-benar pasti, dan karena kondisi-kondisi kini mayoritas esai umum akan cukup tercerai berai. Mungkin ada beberapa esai umum yang saling terhubung, tapi untuk mayoritasnya tidak akan begitu terhubung. Esai umum akan lebih banyak terhubung dengan esai filsafat, dan itu pun hanya berlaku untuk esai umum yang filosofis. Jadi sebenarnya esai umum lebih terisolasi dibanding dengan esai pribadi, dan bisa saja ada esai umum yang sama sekali tidak terhubung dengan esai lain, walau harapannya tidak ada yang seperti itu.

Berdasarkan pemahamanku dan pengetahuanku akan pendapat orang lain tentang masalah-masalah seperti ini, idealnya sistem esaiku tidak tertutup dan mungkin terhubung dengan tulisan-tulisan lain dari luar diriku. Ini pastinya akan terjadi pula kalau ada esai-esai umum yang membutuhkan sumber dari luar. Mekanisme ini akan dibahas pada suatu esai lain. Dengan adanya sistem referensi tersebut, maka tercipta pula suatu relasi antara sistem esaiku dengan tulisan-tulisan dari luar, sehingga sistem esaiku pun semakin diperkaya.

Itu adalah rencana tahap pertama, yaitu sistem esai dan kesatuan sistem esai tersebut. Tahap kedua adalah perampungan semua esai dalam bentuk buku-buku atau karya-karya tulis yang menyatukan sistem-sistem tersebut secara komprehensif. Ini berlaku untuk semua kategori esai, baik esai filsafat, esai pribadi, dan esai umum. Rencana-rencana untuk setiap kategori esai pun sudah aku jelaskan pada setiap bagian tersebut. Pada bagian ini aku hanya akan menegaskan dan menjelaskan kembali rencanaku.

Untuk esai filsafat, hasil akhirnya adalah beberapa buku, walau harapanku adalah satu buku yang besar yang menyatukan seluruh esai filsafat, walau pasti hasilnya akan sangat tebal. Alternatifnya adalah beberapa buku sesuai dengan topik-topik filsafat yang bersangkutan. Misalnya satu buku metafisika khusus untuk metafisika, satu buku etika khusus untuk etika, dan seterusnya. Tentu saja buku-buku filsafat ini tidak sama dengan mengumpulkan semua esai filsafat menjadi satu karya, maka pastinya akan ada yang diringkas dan mungkin isi buku tidak sepenuhnya sama dalam bahasa dengan esai filsafat.

Maka harapanku adalah semua esai filsafatku juga dapat kutata dan kupublikasikan sebagai satu kompilasi esai yang panjang dan tebal. Ini akan menjadi sumber referensi untuk buku filsafatku supaya segala informasi yang membutuhkan penjelasan lebih dapat langsung diarahkan pada esai-esai filsafatku. Hal yang pasti adalah buku filsafatku tetap identik dalam isi dengan esai filsafatku, tapi memang jauh lebih ringkas dan karena itu kalau ada yang kurang jelas bisa diarahkan kembali ke esai yang bersangkutan.

Sebenarnya untuk semua esaiku akan kubuatkan suatu karya kompilasi yang menjadi kumpulan semua esaiku, dan dipublikasikan sebagai satu karya yang besar, satu karya untuk setiap kategori. Jadi satu kompilasi esai filsafat, satu kompilasi esai umum, dan satu kompilasi esai pribadi. Tujuan kompilasi-kompilasi ini supaya memang esai-esaiku terkodifikasi dan juga sebagai suatu sumber referensi untuk buku-buku yang akan kugunakan. Blog memang sudah ada, tapi karya kompilasi untuk memformalkan semuanya dan sebagai suatu perangkuman atas segala yang telah dikerjakan.

Untuk esai umum, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bentuk akhir esai umum bukan lagi esai-esai yang hanya untuk rekreasi melainkan sebagai integrasi antara realitas empiris dengan realitas filsafat. Jadi bisa saja esai-esai umum yang memiliki suatu kesamaan topik, misalnya perang, disatukan dan dianalisis menurut perspektif filsafat, baik perang secara umum ataupun sejarah peperangan dan segala masalahnya. Buku-buku esai umum ini juga akan kembali merujuk pada esai-esai umum yang bersangkutan jika dibutuhkan suatu kejelasan, atau bahkan ikut merujuk pada esai-esai filsafat.

Untuk esai pribadi, karya paling terakhir adalah suatu otobiografi, tentu saja otobiografi ini tidak hanya deskriptif tapi juga analitik, menceritakan tentang pola sebab-akibat dalam hidupku, mengapa hal-hal terjadi dan bagaimana pribadiku terbentuk selama hidupku. Otobiografi ini akan merangkum dari segala esai pribadi yang telah kutulis, dan pastinya pada bagian-bagian tertentu akan merujuk kembali pada esai-esai pribadi yang telah kutulis. Pada otobiografi inilah, semua esai pribadi yang sebelumnya tidak dipublikasikan, akan dibuka pada akhirnya bagi khalayak umum, beserta dengan kompilasi esai pribadi.

Maka demikianlah rencana jangka panjangku terkait esai-esai ini. Rencana jangka panjang ini kemungkinan akan menjadi suatu upaya seumur hidup dan baru selesai setelah puluhan tahun. Karena itu pastinya masih sangat panjang baiknya kita melihat pula rencana awalku untuk esai-esaiku. Untuk jangka waktu yang lebih dekat, aku sudah merencanakan serangkaian esai yang sebenarnya akan sedikit aneh karena seperti esai ini, mereka akan sulit dikategorikan secara spesifik.

Esai-esai berikutnya adalah untuk mempersiapkan dan memantapkan pola penulisan esai, atau pula mempersiapkan kategori-kategori esai masing-masing. Hal yang pasti akan kutulis adalah mengenai esai-esai pertama dalam kategori esai filsafat, yang akan banyak mengkritik realitas empiris yang kini, juga berbagai macam ilmu filsafat yang sekarang dipegang. Sesuai yang telah dikatakan, serangkaian kritik ini akan dipakai sebagai dasar dan titik awal akan seluruh ilmu filsafat.

Kritik-kritik ini, walau sebagian bersifat filsafat tapi dapat dikategorikan sebagai esai umum, dan terkadang ada beberapa esai yang juga terkesan sebagai esai pribadi. Sebab ini untuk mengadakan suatu fondasi terutama untuk esai pribadi dan juga esai filsafat tapi terlebih esai filsafat. Esai pribadi sebenarnya tidak membutuhkan fondasi secara publik karena juga tidak akan dipublikasikan sebelum waktunya dan juga esai umum karena topiknya sangat bervariasi, esai fondasi untuk filsafat hanya menjadi yang “pertama” dalam esai umum.

Sebenarnya, esai ini sendiri sudah merupakan langkah pertama dari segala rencana esai ini, dan memang aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengkategorikan esai ini. Anggaplah esai ini adalah esai yang pertama dari segala esai, dan suatu esai tentang esai bagiku pantas untuk mengenalkan diriku dan pembaca kepada dunia esai yang indah dan menarik. Maka dengan pernyataan itu baiknya kita mulai menutup esai ini.

Akhir Kata

Dengan esai ini dapat dirangkum mengapa esai menjadi suatu alat yang lebih baik dari manuskrip untuk pengungkapan pendapat atau pembuktian kebenaran. Bahwa esai terfokus pada satu ide saja, yang artinya ide itu akan dibahas dengan lebih mendalam dan justifikasinya juga lebih kuat. Esai juga fleksibel karena kekhasannya hanyalah bahwa ia memiliki satu ide, dan karena itu dapat dipakai mulai dari filsafat, topik umum, bahkan sampai topik yang personal.

Esai bagaikan tombak atau amunisi yang menjadi peluru utama dalam mendobrak tatantan ilmu pengetahuan, atau pula sebagai batu bata atau suatu bahan baku untuk membangun suatu bangunan. Esai, yang perlahan-lahan ditulis, semakin lama semakin membangun dan juga saling berelasi, sampai akhirnya menjadi suatu satu kesatuan sistem yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan praktis ataupun teoritis. Itulah suatu esai.

Maka adapula beberapa esai di masa depan yang sudah aku pikirkan secara pasti adalah masalah-masalah mengenai logika dan lebih utama lagi mengenai sitasi dan referensi, yang akan membenarkan bagaimana aku menggunakan sitasi dan referensi di semua esaiku. Aku juga berencana bercerita sedikit tentang bagaimana aku menulis esaiku dan bagaimana pula aku menerjemahkan esai ke bahasa Inggris. Untuk sekarang, aku rasa cukuplah sudah esai ini, sebagai esai pertama untuk menetapkan segala esai lainnya. Tuhan memberkati.