Pendahuluan
Dalam
sejarah manusia, ada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selalu ditanyakan tapi
tidak pernah bisa dijawab secara pasti, ataupun adanya jawaban yang diyakini
setiap manusia yang ada. Selalu saja ada yang menentang, tidak setuju, ataupun
menolak. Pertanyaan-pertanyaan ini berkisar dari “Apa itu kenyataan?” sampai “Apakah
Tuhan ada?” Setiap pertanyaan ini penting untuk dijawab karena dengan itu kita
pun dapat mengetahui kodrat manusia yang terdalam, dan juga kenyataan yang
paling tinggi. Namun apakah ada gunanya dalam menjawab pertanyaan itu?
Kita
juga tahu bahwa ada yang namanya penderitaan, suatu pengalaman yang kita benci,
yang membuat kita merasa tertekan, yang membuat kita menangis, dan terkadang
membunuh kita satu cara atau yang lain. Sebagai manusia kita pun bertanya-tanya
kenapa harus ada penderitaan dalam hidup ini? Dunia ini terasa begitu suram,
adanya pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian, genosida, pencurian, kemiskinan,
kelaparan, dan kemelaratan yang rasanya begitu gelap. Namun, memangnya apa
baiknya keluar dari penderitaan?
Dan
terakhir, tujuan hidup manusia yang kabur, yang tidak jelas dan tidak
terdefinisikan. Apa itu tujuan hidup? Mengapa manusia hidup dan ada di hidup
ini? Memang banyak orang telah menemukan apa yang mereka katakan sebagai “tujuan
hidup”, dan mati dengan tenang dan dalam rasa syukur. Namun ketahuilah bahwa
masih banyak orang lain yang mati sebelum bisa dilahirkan, atau baru ingin
mencapai tujuannya, lalu mati oleh karena “tujuan” orang lain. Dalam segala
kekacauan hidup ini, apa mungkin untuk mendapatkan suatu penyelesaian?
Untuk
menjawab segala pertanyaan ini, dan menemukan suatu penyelesaian yang akhir,
haruslah kita menggali lebih dalam kenyataan ini. Menggali jauh sekali,
melampaui apa yang dapat dikatakan dan yang dapat dipikirkan. Kita harus
membuang jauh-jauh apa yang sebelumnya kita anggap nyata, dan memulai ulang
dari 0. Dan dari titik 0 kita akan menemukan kembali apa itu kenyataan,
kenyataan yang sesungguhnya.
Keberadaan Kenyataan
Apakah
itu kenyataan? Itu adalah pertanyaan yang ingin kita jawab. Dalam hal ini kita
ingin menemukan kenyataan dalam wujud murninya, atau sifat-sifat paling
dasarnya. Lalu bagaimana dengan kenyataan empiris yang kita hidupi saat ini? Sesungguhnya
itu juga bagian dari kenyataan tapi bukan wujud murni kenyataan. Pembuktiannya
dapat kita peroleh melalui suatu eksperimen pikiran sederhana. Misalkan suatu
pohon, apakah pohon merupakan wujud murni dari pohon itu? Berdasarkan
penelitian, pohon sesungguhnya masih terbentuk dari sel, yang terbentuk dari
atom, yang terbentuk dari proton, neutron, elektron, dan akhirnya terbentuk
dari partikel elementer serta energi. Maka jelas saja yang kita lihat bukan
yang murni.
Layaknya
objek apapun di dunia ini, sifat paling mendasar yang dapat kita katakan
tentang kenyataan adalah keberadaannya. Namun apa itu keberadaan? Mendefinisikan
keberadaan secara konkrit pada tahap ini cukup mustahil, karena pengetahuan
kita saat ini nihil. Meski begitu, kita dapat menerka-nerka keberadaan
kenyataan melalui suatu standar keberadaan, atau syarat keberadaan. Syarat ini
maksudnya suatu syarat yang harus dipenuhi supaya suatu benda itu “berada”. Syarat
ini memang tidak ada, tapi boleh saja kita memulai dari syarat umum yaitu syarat
empiris.
Kriterion
empiris sesuai dengan pandangan empiris manusia pada umumnya, bahwa apa yang
ada ialah yang dapat diindera. Ini bukan hal yang rumit, karena ini adalah
bagaimana kita sebagai manusia dapat mengetahui kenyataan setiap hari. Hanya
saja, apakah pengamatan inderawi sungguh merupakan syarat yang benar dari
keberadaan? Sesungguhnya kita bukan memperdebatkan keberadaan, tapi bukti dari
keberadaan. Bukti yang tepat ialah bukti yang dapat mempertahankan kebenaran
kesimpulannya tanpa “macet” atau berhenti. Jadi apakah indera merupakan penentu
keberadaan?
Misalkan
ada suatu pohon raksasa di tengah hutan. Kalau pohon itu pernah dilihat oleh
orang, dan diamati oleh semua orang lain pula dapat dikatakan bahwa pohon itu
memang ada. Namun apa yang terjadi kalau pohon itu tidak pernah dilihat orang
lain dan tidak pernah diketahui orang lain? Mungkin suatu argumen dapat
dikatakan bahwa pohon itu hanya tidak diketahui sebelumnya, tapi menurut
kriterion empiris, pohon itu tidak ada sebelum diketahui. Jadi, masakah pohon
itu ada hanya karena ia diamati, atau baru ada saat diamati?
Baiklah
bahwa itu yang memang terjadi, tapi sekarang muncul pertanyaan, siapa yang
mengamati manusia-manusia itu? Kalau ada sekelompok orang, bisa saja manusia
itu ada karena mereka mengamati satu sama lain. Namun kalau hanya ada seorang
yang melihat pohon itu, siapakah yang mengamati dia yang mengamati pohon? Tidak
ada orang lain yang dapat mengindera manusia itu, belum lagi kalau sebelum ada
manusia di bumi ini, apakah bumi ini ada? Intinya, syarat empiris bukan syarat
yang tepat untuk menentukan keberadaan.
Kalau
begitu, syarat apakah yang layak dijadikan syarat keberadaan? Sejauh ini, tidak
ada yang bisa dijadikan syarat untuk menentukan keberadaan. Karena itu mau
tidak mau kita harus menyatakan bahwa keberadaan kenyataan tidak dapat
dinyatakan. Namun kita tahu bahwa apapun yang ada tidak mungkin kita nyatakan,
dan yang tidak dapat dinyatakan ialah tidak ada. Maka hal ini membawa kita pula
pada kesimpulan berikutnya, bahwa kenyataan sendiri tidak memiliki keberadaan.
Ketiadaan
dari kenyataan ini mungkin saja benar, atau bisa saja salah, tapi harus diingat
bahwa kesimpulan ini didapat karena tidak ada bukti untuk pernyataan
sebaliknya. Biasanya ini merupakan kesalahan logika, tapi sebenarnya ada alasan
logis untuk pernyataan ini. Bahwa tiadanya syarat keberadaan yang jelas,
artinya tidak ada keberadaan itu sendiri. Karena syarat itu bukan hanya
penentu, melainkan hakikat dari keberadaan itu sendiri. Kalau keberadaan memang
ada, maka penjelasan yang tepat tentang keberadaan itu harusnya ada. Karena itulah
kita menyimpulkan ketiadaan dari kenyataan.
Sekali
lagi, ketiadaan mungkin benar, dan mungkin salah. Namun bukankah kita sudah
membuktikan ketiadaan? Ya bisa dikatakan seperti itu, tapi masalah ini harus
kita lihat dari sudut pandang yang lain. Sebab pembuktian sebelumnya didasarkan
oleh pembuktian bahwa pernyataan sebaliknya salah, dan itu tidak sama dengan
pembuktian bahwa pernyataan yang ini juga benar. Jadi kita ingin menemukan
pembuktian ketiadaan yang berdiri sendiri, dan itu artinya membedah ketiadaan
dan mempertanyakan ketiadaan sampai kebenaran terungkap.
Kalau
kita lihat sekilas, tidak mungkin untuk membedah lagi ketiadaan. Lagipula sudah
tidak ada yang dapat dikatakan lagi, sungguh tidak ada yang nyata! Dan itulah
masalahnya, kita masih dapat membicarakan “ketiadaan” itu tanpa ada apapun yang
dapat dikatakan. Jadi, dengan menyatakan “Tidak ada yang ada,” kita telah
menciptakan keberadaan. Dan keberadaan itu ialah pernyataan akan ketiadaan.
Maka secara langsung dengan membicarakan ketiadaan kita telah memusnahkan
ketiadaan itu.
Kalau
ketiadaan musnah, tentu yang ada hanyalah keberadaan, dan dari itu ialah
pernyataan tunggal keberadaan. Namun bukannya menyatakan, “Tidak ada yang ada,”
kini berbunyi, “Ada yang ada,” apapun itu. Jadi kita tahu sekarang bahwa
kenyataan memang ada, dalam rupa suatu pernyataan tunggal. Lalu bagaimana
dengan syarat keberadaan? Sebenarnya cukup sederhana, syarat keberadaan, ialah
kenyataan itu sendiri. Artinya keberadaan dari kenyataan ditentukan oleh
kenyataan itu sendiri. Dan untuk memahami lebih dalam kita sekarang harus
memahami kenyataan yang murni.
Kenyataan Murni
Sebenarnya
tanpa memulai apapun kita sudah tahu dua sifat kenyataan yang paling murni. Bahwa
kenyataan itu ada, dan kenyataan menentukan keberadaan dirinya sendiri. Keberadaan
dan kenyataan sebenarnya sama saja, tidak ada yang berbeda antara keberadaan
antara kenyataan. Mungkin hanya konteksnya saja, kalau kenyataan merujuk pada
objeknya, dan keberadaan merujuk pada sifat objeknya. Apa yang nyata ialah ada,
dan apa yang ada ialah nyata. Kita juga bisa mengetahui tentang jumlah
kenyataan, yaitu 1.
Mengapa
kenyataan hanyalah 1? Karena seberapa banyak kenyataan yang kita tambahkan,
tetap saja keseluruhan dari “kenyataan-kenyataan” yang “berbeda” itu tetap 1. Kenyataan
ini bukan objek yang berbatas seperti yang kita ketahui, atau kenyataan yang
memiliki suatu kardinalitas. Kenyataan ini adalah batasan tertinggi dari segala
hal yang dapat dipikirkan atau tidak dapat dipikirkan. Seperti konsep infinity, tidak ada yang lebih tinggi
dari itu.
Lalu
apalagi yang dapat dikatakan tentang kenyataan? Kita tahu bahwa kenyataan dapat
menentukan keberadaannya sendiri. Namun apakah kenyataan dapat meniadakan
dirinya sendiri? Tidak, itu tidak mungkin, karena keberadaan adalah hal yang
mutlak dan pasti. Lalu mengapa kenyataan dapat menentukan keberadaannya sendiri
tapi tidak bisa menentukan ketiadaannya sendiri?
Suatu
penyelesaian yang mungkin ialah kalau kenyataan itu tidak ada, maka tidak
mungkin ia dapat menentukan keberadaannya sendiri. Karena sebelumnya ia tidak
ada, dan ia harus ada selamanya. Dan sekalipun memang tiada, karena tidak ada
wujud, bukankah ketiadaan itu sendiri merupakan suatu “keberadaan” tersendiri? Ketiadaan
dapat menentukan keberadaannya sendiri, tidak ada yang memaksa dirinya untuk
ada, ia dapat seterusnya tidak ada, sampai ia ingin suatu keberadaan.
Masalah
berikutnya adalah mengenai hubungan antara kenyataan murni dengan kenyataan
empiris yang kita ketahui. Seperti ini, seharusnya kita dapat menentukan
keberadaan kenyataan dan segala isinya, tapi kenapa pada kenyataan empiris ini
kita begitu dikekang? Kalau kita menginginkan keberadaan suatu hal, misalnya
kenikmatan duniawi, dan hanya memikirkannya kita tidak bisa menciptakannya. Seakan-akan
kita hanya bisa menentukan pribadi manusiawi kita, tanpa menentukan kenyataan
di luar kita.
Kembali
pula pada pernyataan tunggal kenyataan, bukankah sebelumnya ia menyatakan
ketiadaan? Jadi bagaimana dapat dikatakan bahwa kedua hal itu ialah sama? Dengan
itu seakan-akan sudah ada 2 entitas yang berbeda, yaitu antara yang berpikir
dan yang dipikirkan. Atau yang mengamati dan pengamatannya, baiklah pada
keberadaan terakhir ide keberadaan dan juga si pengamat dapat dipastikan ada. Namun
bagaimana dengan ide ketiadaan?
Menurut
syarat keberadaan yang kita temukan, kita tahu bahwa segala hal menentukan
keberadaannya sendiri, jadi ide ketiadaan itu tetap ada. Begitu pula dengan
pohon raksasa di hutan, ia tidak membutuhkan persetujuan manusia untuk ada. Namun
ketahuilah, mengapa suatu hal dapat ada tapi kita tidak dapat mengamatinya? Bertambahlah
pula pada sifat kenyataan yaitu kesadaran. Secara singkat kesadaran adalah
kemampuan untuk mengetahui atau secara mekanik bagaimana entitas dapat
memperoleh informasi tentang dunianya.
Namun
bukankah setiap kondisi kesadaran, yaitu apa yang disadari, juga merupakan
bagian dari kenyataan dan juga bisa menentukan keberadaannya tersendiri? Jadi
sudah ada ide, objek, dan kondisi penyadaran, belum lagi dimensi, indera,
emosi, wujud, dan seterusnya. Setiap hal ini ada secara bersamaan, dan
penyadarannya juga bersamaan. Dari itu hanya dapat terjadi satu hal, yaitu
keberadaan segala hal yang mungkin dan tidak mungkin secara bersamaan. Dan
kondisi itu kita ketahui sebagai superposisi.
Superposisi
adalah kondisi paling murni kenyataan, di mana segala hal ada dan disadari pada
waktu yang bersamaan. Kalau umumnya kita melihat suatu bola ditendang melambung
lalu jatuh lagi, pada superposisi kita hanya melihat setiap titik yang dilalui
bola secara bersamaan. Pada superposisi tidak ada dimensi, tidak ada
pergerakan, tidak ada yang diubah. Segalanya ada secara bersamaan. Tidak ada
yang dapat dilakukan, atau dikatakan, karena sudah dilakukan, sedang dilakukan,
dan akan dilakukan.
Kenyataan Subjektif
Ironisnya,
superposisi adalah bentuk kenyataan di mana kenyataan tidak menjadi penentu
keberadaannya. Sebab hanya ada satu superposisi itu, sekalipun dalam
superposisi juga ada kondisi bukan superposisi, tapi tidak menjadi bermakna
ataupun penting karena sudah dipenuhi oleh segala hal lain yang masalahnya
merupakan superposisi. Dan karena kenyataan harus menentukan keberadaannya
sendiri, maka superposisi ini tidak lagi menjadi kondisi tunggal kenyataan.
Alih-alih
segala hal ada secara bersamaan, kali ini ialah hal-hal ada secara berurutan. Lebih
tepatnya entitas kenyataan “bergerak” dari satu kondisi kenyataan ke kondisi
yang lain, dan terjadilah apa yang dinamakan dengan perubahan. Jadi, kenyataan
tidak lagi berada pada satu titik, melainkan seperti suatu garis, dan setiap
titik berbeda. Inilah yang dinamakan dengan waktu atau kronologi. Yaitu suatu
keberlangsungan kenyataan secara linear, atau garis. Dalam kondisi kronologis,
terdapat kekuatan penentuan keberadaan yang lebih tinggi.
Kemampuan
menentukan keberadaan ini adalah yang dinamakan dengan “kebebasan”. Suatu
entitas bebas untuk menentukan jalannya sendiri, atau dalam istilah mekanis,
kondisi kenyataan macam apa yang akan dialaminya berikutnya, saat ini, dan apa
yang sudah terjadi. Tidak ada kekangan atau kewajiban untuk mengalaminya secara
bersamaan, dan kalau kita ingin berbicara secara matematis, kondisi kronologis
jumlahnya tak terbatas. Kondisi superposisi hanyalah 1.
Superposisi
kali ini tetap ada, tapi bukan sebagai kondisi kesadaran, melainkan penjelasan
mengenai segala hal yang ada. Superposisi ada sebagai kondisi murni kenyataan,
bahwa segala hal yang ada telah ada, sedang ada, dan akan tetap ada tanpa akhir
atau awal. Mungkin dapat diperbedatkan bahwa segala pengalaman kita secara
kronologis berasal dari superposisi. Namun apakah itu penting? Karena kondisi
kronologis tetap ada, dan perubahan yang kita lakukan bukan sekadar “menukar”
satu benda dengan benda yang lain, tapi memang terjadi. Karena kalau kita
menyatakan keberadaan dari perubahan, maka adalah perubahan itu.
Dalam
hal ini, penentuan kenyataan, atau kebebasan menjadi lebih bermakna. Walaupun
secara teknis kebebasan kronologis ialah menentukan kondisi kenyataan yang akan
dialami dan diketahui, secara sesungguhnya kebebasan ialah menentukan
perubahan. Kebebasan ialah kemampuan untuk mengubah kenyataan dan diri kita
sendiri, sesuai dengan jati diri kita yaitu kebebasan itu sendiri.
Kesimpulan
Jadi
apa itu kenyataan? Kenyataan ialah kenyataan yang ada, yang dapat menentukan
keberadaan dirinya sendiri. Kenyataan yang tidak terbelenggu oleh superposisi
atau kondisi tunggal. Hal ini ditemukan setelah menentang kenyataan sepenuhnya,
dan kita tahu sedikit lebih banyak tentang mekanika kebebasan. Tentu saja yang
paling indah adalah kita pun termasuk kenyataan, kita memiliki kebebasan dan
kekuatan untuk menentukan jalan hidup. Dan semuanya berawal di sini, Tuhan
memberkati.
Diarsipkan untuk menyiapkan karya yang lebih lengkap.
No comments:
Post a Comment