Saturday, March 2, 2019

Kenyataan-Arsip


Pendahuluan

Dalam sejarah manusia, ada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selalu ditanyakan tapi tidak pernah bisa dijawab secara pasti, ataupun adanya jawaban yang diyakini setiap manusia yang ada. Selalu saja ada yang menentang, tidak setuju, ataupun menolak. Pertanyaan-pertanyaan ini berkisar dari “Apa itu kenyataan?” sampai “Apakah Tuhan ada?” Setiap pertanyaan ini penting untuk dijawab karena dengan itu kita pun dapat mengetahui kodrat manusia yang terdalam, dan juga kenyataan yang paling tinggi. Namun apakah ada gunanya dalam menjawab pertanyaan itu?

Kita juga tahu bahwa ada yang namanya penderitaan, suatu pengalaman yang kita benci, yang membuat kita merasa tertekan, yang membuat kita menangis, dan terkadang membunuh kita satu cara atau yang lain. Sebagai manusia kita pun bertanya-tanya kenapa harus ada penderitaan dalam hidup ini? Dunia ini terasa begitu suram, adanya pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian, genosida, pencurian, kemiskinan, kelaparan, dan kemelaratan yang rasanya begitu gelap. Namun, memangnya apa baiknya keluar dari penderitaan?

Dan terakhir, tujuan hidup manusia yang kabur, yang tidak jelas dan tidak terdefinisikan. Apa itu tujuan hidup? Mengapa manusia hidup dan ada di hidup ini? Memang banyak orang telah menemukan apa yang mereka katakan sebagai “tujuan hidup”, dan mati dengan tenang dan dalam rasa syukur. Namun ketahuilah bahwa masih banyak orang lain yang mati sebelum bisa dilahirkan, atau baru ingin mencapai tujuannya, lalu mati oleh karena “tujuan” orang lain. Dalam segala kekacauan hidup ini, apa mungkin untuk mendapatkan suatu penyelesaian?

Untuk menjawab segala pertanyaan ini, dan menemukan suatu penyelesaian yang akhir, haruslah kita menggali lebih dalam kenyataan ini. Menggali jauh sekali, melampaui apa yang dapat dikatakan dan yang dapat dipikirkan. Kita harus membuang jauh-jauh apa yang sebelumnya kita anggap nyata, dan memulai ulang dari 0. Dan dari titik 0 kita akan menemukan kembali apa itu kenyataan, kenyataan yang sesungguhnya.

Keberadaan Kenyataan

Apakah itu kenyataan? Itu adalah pertanyaan yang ingin kita jawab. Dalam hal ini kita ingin menemukan kenyataan dalam wujud murninya, atau sifat-sifat paling dasarnya. Lalu bagaimana dengan kenyataan empiris yang kita hidupi saat ini? Sesungguhnya itu juga bagian dari kenyataan tapi bukan wujud murni kenyataan. Pembuktiannya dapat kita peroleh melalui suatu eksperimen pikiran sederhana. Misalkan suatu pohon, apakah pohon merupakan wujud murni dari pohon itu? Berdasarkan penelitian, pohon sesungguhnya masih terbentuk dari sel, yang terbentuk dari atom, yang terbentuk dari proton, neutron, elektron, dan akhirnya terbentuk dari partikel elementer serta energi. Maka jelas saja yang kita lihat bukan yang murni.

Layaknya objek apapun di dunia ini, sifat paling mendasar yang dapat kita katakan tentang kenyataan adalah keberadaannya. Namun apa itu keberadaan? Mendefinisikan keberadaan secara konkrit pada tahap ini cukup mustahil, karena pengetahuan kita saat ini nihil. Meski begitu, kita dapat menerka-nerka keberadaan kenyataan melalui suatu standar keberadaan, atau syarat keberadaan. Syarat ini maksudnya suatu syarat yang harus dipenuhi supaya suatu benda itu “berada”. Syarat ini memang tidak ada, tapi boleh saja kita memulai dari syarat umum yaitu syarat empiris.

Kriterion empiris sesuai dengan pandangan empiris manusia pada umumnya, bahwa apa yang ada ialah yang dapat diindera. Ini bukan hal yang rumit, karena ini adalah bagaimana kita sebagai manusia dapat mengetahui kenyataan setiap hari. Hanya saja, apakah pengamatan inderawi sungguh merupakan syarat yang benar dari keberadaan? Sesungguhnya kita bukan memperdebatkan keberadaan, tapi bukti dari keberadaan. Bukti yang tepat ialah bukti yang dapat mempertahankan kebenaran kesimpulannya tanpa “macet” atau berhenti. Jadi apakah indera merupakan penentu keberadaan?

Misalkan ada suatu pohon raksasa di tengah hutan. Kalau pohon itu pernah dilihat oleh orang, dan diamati oleh semua orang lain pula dapat dikatakan bahwa pohon itu memang ada. Namun apa yang terjadi kalau pohon itu tidak pernah dilihat orang lain dan tidak pernah diketahui orang lain? Mungkin suatu argumen dapat dikatakan bahwa pohon itu hanya tidak diketahui sebelumnya, tapi menurut kriterion empiris, pohon itu tidak ada sebelum diketahui. Jadi, masakah pohon itu ada hanya karena ia diamati, atau baru ada saat diamati?

Baiklah bahwa itu yang memang terjadi, tapi sekarang muncul pertanyaan, siapa yang mengamati manusia-manusia itu? Kalau ada sekelompok orang, bisa saja manusia itu ada karena mereka mengamati satu sama lain. Namun kalau hanya ada seorang yang melihat pohon itu, siapakah yang mengamati dia yang mengamati pohon? Tidak ada orang lain yang dapat mengindera manusia itu, belum lagi kalau sebelum ada manusia di bumi ini, apakah bumi ini ada? Intinya, syarat empiris bukan syarat yang tepat untuk menentukan keberadaan.

Kalau begitu, syarat apakah yang layak dijadikan syarat keberadaan? Sejauh ini, tidak ada yang bisa dijadikan syarat untuk menentukan keberadaan. Karena itu mau tidak mau kita harus menyatakan bahwa keberadaan kenyataan tidak dapat dinyatakan. Namun kita tahu bahwa apapun yang ada tidak mungkin kita nyatakan, dan yang tidak dapat dinyatakan ialah tidak ada. Maka hal ini membawa kita pula pada kesimpulan berikutnya, bahwa kenyataan sendiri tidak memiliki keberadaan.

Ketiadaan dari kenyataan ini mungkin saja benar, atau bisa saja salah, tapi harus diingat bahwa kesimpulan ini didapat karena tidak ada bukti untuk pernyataan sebaliknya. Biasanya ini merupakan kesalahan logika, tapi sebenarnya ada alasan logis untuk pernyataan ini. Bahwa tiadanya syarat keberadaan yang jelas, artinya tidak ada keberadaan itu sendiri. Karena syarat itu bukan hanya penentu, melainkan hakikat dari keberadaan itu sendiri. Kalau keberadaan memang ada, maka penjelasan yang tepat tentang keberadaan itu harusnya ada. Karena itulah kita menyimpulkan ketiadaan dari kenyataan.

Sekali lagi, ketiadaan mungkin benar, dan mungkin salah. Namun bukankah kita sudah membuktikan ketiadaan? Ya bisa dikatakan seperti itu, tapi masalah ini harus kita lihat dari sudut pandang yang lain. Sebab pembuktian sebelumnya didasarkan oleh pembuktian bahwa pernyataan sebaliknya salah, dan itu tidak sama dengan pembuktian bahwa pernyataan yang ini juga benar. Jadi kita ingin menemukan pembuktian ketiadaan yang berdiri sendiri, dan itu artinya membedah ketiadaan dan mempertanyakan ketiadaan sampai kebenaran terungkap.

Kalau kita lihat sekilas, tidak mungkin untuk membedah lagi ketiadaan. Lagipula sudah tidak ada yang dapat dikatakan lagi, sungguh tidak ada yang nyata! Dan itulah masalahnya, kita masih dapat membicarakan “ketiadaan” itu tanpa ada apapun yang dapat dikatakan. Jadi, dengan menyatakan “Tidak ada yang ada,” kita telah menciptakan keberadaan. Dan keberadaan itu ialah pernyataan akan ketiadaan. Maka secara langsung dengan membicarakan ketiadaan kita telah memusnahkan ketiadaan itu.

Kalau ketiadaan musnah, tentu yang ada hanyalah keberadaan, dan dari itu ialah pernyataan tunggal keberadaan. Namun bukannya menyatakan, “Tidak ada yang ada,” kini berbunyi, “Ada yang ada,” apapun itu. Jadi kita tahu sekarang bahwa kenyataan memang ada, dalam rupa suatu pernyataan tunggal. Lalu bagaimana dengan syarat keberadaan? Sebenarnya cukup sederhana, syarat keberadaan, ialah kenyataan itu sendiri. Artinya keberadaan dari kenyataan ditentukan oleh kenyataan itu sendiri. Dan untuk memahami lebih dalam kita sekarang harus memahami kenyataan yang murni.

Kenyataan Murni

Sebenarnya tanpa memulai apapun kita sudah tahu dua sifat kenyataan yang paling murni. Bahwa kenyataan itu ada, dan kenyataan menentukan keberadaan dirinya sendiri. Keberadaan dan kenyataan sebenarnya sama saja, tidak ada yang berbeda antara keberadaan antara kenyataan. Mungkin hanya konteksnya saja, kalau kenyataan merujuk pada objeknya, dan keberadaan merujuk pada sifat objeknya. Apa yang nyata ialah ada, dan apa yang ada ialah nyata. Kita juga bisa mengetahui tentang jumlah kenyataan, yaitu 1.

Mengapa kenyataan hanyalah 1? Karena seberapa banyak kenyataan yang kita tambahkan, tetap saja keseluruhan dari “kenyataan-kenyataan” yang “berbeda” itu tetap 1. Kenyataan ini bukan objek yang berbatas seperti yang kita ketahui, atau kenyataan yang memiliki suatu kardinalitas. Kenyataan ini adalah batasan tertinggi dari segala hal yang dapat dipikirkan atau tidak dapat dipikirkan. Seperti konsep infinity, tidak ada yang lebih tinggi dari itu.

Lalu apalagi yang dapat dikatakan tentang kenyataan? Kita tahu bahwa kenyataan dapat menentukan keberadaannya sendiri. Namun apakah kenyataan dapat meniadakan dirinya sendiri? Tidak, itu tidak mungkin, karena keberadaan adalah hal yang mutlak dan pasti. Lalu mengapa kenyataan dapat menentukan keberadaannya sendiri tapi tidak bisa menentukan ketiadaannya sendiri?

Suatu penyelesaian yang mungkin ialah kalau kenyataan itu tidak ada, maka tidak mungkin ia dapat menentukan keberadaannya sendiri. Karena sebelumnya ia tidak ada, dan ia harus ada selamanya. Dan sekalipun memang tiada, karena tidak ada wujud, bukankah ketiadaan itu sendiri merupakan suatu “keberadaan” tersendiri? Ketiadaan dapat menentukan keberadaannya sendiri, tidak ada yang memaksa dirinya untuk ada, ia dapat seterusnya tidak ada, sampai ia ingin suatu keberadaan.

Masalah berikutnya adalah mengenai hubungan antara kenyataan murni dengan kenyataan empiris yang kita ketahui. Seperti ini, seharusnya kita dapat menentukan keberadaan kenyataan dan segala isinya, tapi kenapa pada kenyataan empiris ini kita begitu dikekang? Kalau kita menginginkan keberadaan suatu hal, misalnya kenikmatan duniawi, dan hanya memikirkannya kita tidak bisa menciptakannya. Seakan-akan kita hanya bisa menentukan pribadi manusiawi kita, tanpa menentukan kenyataan di luar kita.

Kembali pula pada pernyataan tunggal kenyataan, bukankah sebelumnya ia menyatakan ketiadaan? Jadi bagaimana dapat dikatakan bahwa kedua hal itu ialah sama? Dengan itu seakan-akan sudah ada 2 entitas yang berbeda, yaitu antara yang berpikir dan yang dipikirkan. Atau yang mengamati dan pengamatannya, baiklah pada keberadaan terakhir ide keberadaan dan juga si pengamat dapat dipastikan ada. Namun bagaimana dengan ide ketiadaan?

Menurut syarat keberadaan yang kita temukan, kita tahu bahwa segala hal menentukan keberadaannya sendiri, jadi ide ketiadaan itu tetap ada. Begitu pula dengan pohon raksasa di hutan, ia tidak membutuhkan persetujuan manusia untuk ada. Namun ketahuilah, mengapa suatu hal dapat ada tapi kita tidak dapat mengamatinya? Bertambahlah pula pada sifat kenyataan yaitu kesadaran. Secara singkat kesadaran adalah kemampuan untuk mengetahui atau secara mekanik bagaimana entitas dapat memperoleh informasi tentang dunianya.

Namun bukankah setiap kondisi kesadaran, yaitu apa yang disadari, juga merupakan bagian dari kenyataan dan juga bisa menentukan keberadaannya tersendiri? Jadi sudah ada ide, objek, dan kondisi penyadaran, belum lagi dimensi, indera, emosi, wujud, dan seterusnya. Setiap hal ini ada secara bersamaan, dan penyadarannya juga bersamaan. Dari itu hanya dapat terjadi satu hal, yaitu keberadaan segala hal yang mungkin dan tidak mungkin secara bersamaan. Dan kondisi itu kita ketahui sebagai superposisi.

Superposisi adalah kondisi paling murni kenyataan, di mana segala hal ada dan disadari pada waktu yang bersamaan. Kalau umumnya kita melihat suatu bola ditendang melambung lalu jatuh lagi, pada superposisi kita hanya melihat setiap titik yang dilalui bola secara bersamaan. Pada superposisi tidak ada dimensi, tidak ada pergerakan, tidak ada yang diubah. Segalanya ada secara bersamaan. Tidak ada yang dapat dilakukan, atau dikatakan, karena sudah dilakukan, sedang dilakukan, dan akan dilakukan.

Kenyataan Subjektif

Ironisnya, superposisi adalah bentuk kenyataan di mana kenyataan tidak menjadi penentu keberadaannya. Sebab hanya ada satu superposisi itu, sekalipun dalam superposisi juga ada kondisi bukan superposisi, tapi tidak menjadi bermakna ataupun penting karena sudah dipenuhi oleh segala hal lain yang masalahnya merupakan superposisi. Dan karena kenyataan harus menentukan keberadaannya sendiri, maka superposisi ini tidak lagi menjadi kondisi tunggal kenyataan.

Alih-alih segala hal ada secara bersamaan, kali ini ialah hal-hal ada secara berurutan. Lebih tepatnya entitas kenyataan “bergerak” dari satu kondisi kenyataan ke kondisi yang lain, dan terjadilah apa yang dinamakan dengan perubahan. Jadi, kenyataan tidak lagi berada pada satu titik, melainkan seperti suatu garis, dan setiap titik berbeda. Inilah yang dinamakan dengan waktu atau kronologi. Yaitu suatu keberlangsungan kenyataan secara linear, atau garis. Dalam kondisi kronologis, terdapat kekuatan penentuan keberadaan yang lebih tinggi.

Kemampuan menentukan keberadaan ini adalah yang dinamakan dengan “kebebasan”. Suatu entitas bebas untuk menentukan jalannya sendiri, atau dalam istilah mekanis, kondisi kenyataan macam apa yang akan dialaminya berikutnya, saat ini, dan apa yang sudah terjadi. Tidak ada kekangan atau kewajiban untuk mengalaminya secara bersamaan, dan kalau kita ingin berbicara secara matematis, kondisi kronologis jumlahnya tak terbatas. Kondisi superposisi hanyalah 1.

Superposisi kali ini tetap ada, tapi bukan sebagai kondisi kesadaran, melainkan penjelasan mengenai segala hal yang ada. Superposisi ada sebagai kondisi murni kenyataan, bahwa segala hal yang ada telah ada, sedang ada, dan akan tetap ada tanpa akhir atau awal. Mungkin dapat diperbedatkan bahwa segala pengalaman kita secara kronologis berasal dari superposisi. Namun apakah itu penting? Karena kondisi kronologis tetap ada, dan perubahan yang kita lakukan bukan sekadar “menukar” satu benda dengan benda yang lain, tapi memang terjadi. Karena kalau kita menyatakan keberadaan dari perubahan, maka adalah perubahan itu.

Dalam hal ini, penentuan kenyataan, atau kebebasan menjadi lebih bermakna. Walaupun secara teknis kebebasan kronologis ialah menentukan kondisi kenyataan yang akan dialami dan diketahui, secara sesungguhnya kebebasan ialah menentukan perubahan. Kebebasan ialah kemampuan untuk mengubah kenyataan dan diri kita sendiri, sesuai dengan jati diri kita yaitu kebebasan itu sendiri.

Kesimpulan

Jadi apa itu kenyataan? Kenyataan ialah kenyataan yang ada, yang dapat menentukan keberadaan dirinya sendiri. Kenyataan yang tidak terbelenggu oleh superposisi atau kondisi tunggal. Hal ini ditemukan setelah menentang kenyataan sepenuhnya, dan kita tahu sedikit lebih banyak tentang mekanika kebebasan. Tentu saja yang paling indah adalah kita pun termasuk kenyataan, kita memiliki kebebasan dan kekuatan untuk menentukan jalan hidup. Dan semuanya berawal di sini, Tuhan memberkati.

Diarsipkan untuk menyiapkan karya yang lebih lengkap.

No comments:

Post a Comment