Pendahuluan
Dalam sejarah, ada benarnya bahwa buku lebih dikenal
sebagai sumber pengetahuan yang utama, tapi dengan perkembangan zaman, ada
suatu bentuk tulisan yang mulai populer, yaitu esai. Bahkan, esai juga menjadi
bentuk tulisan paling umum dalam jurnal-jurnal ilmiah, sementara buku menjadi
suatu rangkuman akhir dari serangkaian esai. Hal ini turut berlaku bagiku, dan
dengan esai ini menandakan titik transisi antara gaya penulisan manuskrip yang
panjang menjadi esai-esai yang lebih singkat.
Selama beberapa waktu, aku telah berupaya dalam
menuangkan pikiranku dalam manuskrip-manuskrip yang panjang. Aku tidak menyebut
mereka buku, karena tidak memiliki struktur dari sebuah buku dan rencananya
akan menjadi bagian dari buku yang lebih besar. Isi dari manuskrip-manuskrip
ini adalah filsafat, tapi pada akhirnya hanya dua yang berhasil kutulis yaitu
metafisika dan etika.
Tentu saja kuantitas tidak mencerminkan kegagalan
atau keberhasilan manuskrip, yang lebih mencerminkan adalah fakta bahwa setelah
itu aku tidak mampu untuk melanjutkan penulisan manuskrip yang lebih panjang. Sebagai
suatu latar belakang, baiknya aku menceritakan mengenai kejadian yang telah
terjadi belakangan ini.
Penulisan manuskrip filsafat sebagai upaya
pengembangan ilmu filsafat menurut perspektifku telah menjadi suatu rutinitas
kehidupan untuk beberapa minggu ini. Pada minggu-minggu awal di mana ide-ide
cukup berlimpah dan dapat dituliskan semuanya, menuliskan manuskrip yang
panjang untuk menyatakan seluruh ide tersebut tidak begitu sulit. Tanpa
perencanaan yang cukup matang atau panjang pun dapat dituliskan segera suatu
bagian dari manuskrip.
Pada tanggal 2 Desember 2019, karena ide-ide yang
berlimpah itu sudah mulai habis dan juga munculnya kesadaran baru, penulisan
manuskrip akhirnya terhenti dan tidak dapat dilanjutkan, bahkan mengakibatkan
krisis mental yang cukup melumpuhkan pikiran sehingga tidak dapat berpikir
lagi. Kesadaran baru yang dimaksud adalah kesadaran bahwa sesungguhnya logika
dari manuskrip yang telah ditulis itu sangat berantakan dan tidak beraturan.
Kesadaran itu menimbulkan pemahaman bahwa dalam dua
manuskrip yang telah ditulis banyak sekali pernyataan-pernyataan atau argumen
yang janggal dan dapat dengan mudah dibantah. Bagi suatu sistem filsafat yang
saling terkait satu argumen dengan yang lainnya, kehilangan satu argumen saja
sudah berakibat fatal pada keseluruhan sistem filsafat tersebut. Maka hasilnya
adalah suatu keraguan yang mencekam terhadap pemikiran-pemikiranku sendiri dan
rasa ketidakmampuan untuk bangkit.
Memangnya, mengapa dapat muncul keraguan besar
tersebut? Mengapa dapat timbul kesadaran baru akan kekurangan-kekurangan yang
fatal dalam manuskrip, atau tepatnya, apa yang salah dari gaya penulisan
manuskrip? Kesalahannya tentu bukan pada manuskrip itu sendiri, tapi bagaimana
aku menggunakan manuskrip untuk mencari pengetahuan yang baru dan mencapai
kebenaran.
Pertama, dalam penulisan manuskrip, ide-ide yang
ditulis seringkali terlalu luas dan hasilnya tidak fokus. Saat ide-ide yang
dibahas terlalu banyak, maka fokusnya hanya pada keseluruhan rangkaian ide, dan
tidak pada ide-ide individual itu, apakah sendirinya sudah layak atau belum? Karena
itu, pembahasannya juga menjadi dangkal dan tidak memberikan suatu pembenaran
yang benar-benar sepatutnya untuk setiap ide, pemikiran, atau pernyataan
individual yang dibahas.
Masalah kedua yang menjadi masalah yang lebih
penting sebenarnya adalah masalah psikologis. Pada masa aku menuliskan
manuskrip, aku berada dalam tekanan untuk mencari kebenaran secepat-cepatnya
dan selengkap-lengkapnya. Dalam kata lain aku terburu-buru untuk menuliskan
manuskrip-manuskrip yang panjang karena aku ingin dengan cepat memperoleh suatu
sistematika kebenaran yang utuh dapat menjadi suatu sandaran hidup.
Ketergesa-gesaan itu memiliki suatu alasan lain di
baliknya, yaitu karena aku takut waktuku tidak cukup untuk mencari dan
menemukan kebenaran. Namun kita semua tahu bahwa ketakutan justru menjadi
penghambat saat terlalu menguasai, dan hasilnya bagiku adalah suatu bumerang.
Karena ketakutan, fokusnya bukan pada kualitas, melainkan pada kuantitas, ini
terlihat pada jumlah kata dan jumlah halaman yang terakumulasi, minimal 100
halaman.
Memang benar dalam 100 halaman lebih itu tetap
mengandung ide-ide yang berharga, tapi karena dikerjakan dengan terburu-buru
tetap saja tidak mencapai suatu kualitas bahasa atau standar logis yang
maksimum. Jikalau tidak dikerjakan dengan terburu-buru, sebenarnya mungkin saja
untuk mengerjakan manuskrip dengan sangat perlahan dan dengan sangat sempurna,
tapi itu justru menjadi tidak efektif dan akan memakan jauh lebih banyak waktu.
Walaupun begitu, tetap saja untuk sekarang manuskrip
tetap tidak ideal karena alasan berikut. Bahwa dengan kesadaran yang baru itu,
jelaslah bahwa kebenaran yang penuh, sistematis, dan berkualitas dalam bahasa
dan logika hilang lagi, maka kita harus memulai kembali dari awal. Fakta bahwa
kita harus memulai kembali dari awal membuat manuskrip tidak ideal untuk
melaksanakan tugas ini.
Untuk menyusun manuskrip yang baik, sekiranya sudah
ada perencanaan terhadap keseluruhan isi manuskrip tersebut, tapi saat
pengetahuan itu sudah lepas dari genggaman kita, apakah hal itu mungkin? Jika
tetap dipaksakan, justru bisa mengarah pada manuskrip yang arahnya tak
terbatas, tak teratur kembali, atau memakan sangat banyak waktu untuk menjaga
keseimbangan bahasa dalam manuskrip.
Maka dengan latar belakang sebagai berikut, aku
mengalihkan pandangan pada bentuk tulisan yang lebih rapi, dan tertata, tanpa
sepenuhnya meninggalkan atau menghilangkan manuskrip, yaitu esai. Dari itu
tujuan esai pertama ini adalah menerangkan masalah esai itu sendiri, menetapkan
penulisan esai terlebih bagi diriku, dan juga alasan-alasanku memakai esai
dalam pencarian kebenaran.
Esai
Pengertian esai yang paling sederhana adalah suatu
tulisan singkat yang berisi pandangan atau tanggapan penulis terhadap suatu
permasalahan. Tentu saja, “singkat” memang relatif bagi banyak orang, suatu hal
yang singkat bagiku bisa saja panjang dan layaknya skripsi bagi orang lain.
Sejarah juga telah membuktikan adanya esai-esai yang panjang, dan mungkin lebih
tepat kalau dikatakan sebagai suatu buku, dan bukan esai.
Maksud dari “singkat” adalah singkat dibandingkan
dengan banyak jenis tulisan lain. Selain itu esai dikatakan sebagai suatu
tulisan yang ringkas bukan hanya panjangnya atau jumlah halaman, melainkan
karena isi dan jumlah ide yang terkandung dalam esai. Dibandingkan dengan buku
dan manuskrip yang dapat membahas berbagai ide yang saling terkait, suatu esai
sangat terfokus pada satu ide saja, dan ini yang membuat esai “singkat”.
“Satu” ide dalam suatu esai cakupannya dapat seluas
esai John Locke atau Robert Malthus, atau dapat seringkas esai-esai pertama
milik Montaigne. Berhubungan esai ini lebih fokus pada esaiku, dan bukan esai
orang lain, aku sendiri akan menetapkan batasannya. Bagiku, “satu” ide dapat
dikatakan sebagai satu argumen yang dapat berdiri sendiri secara keseluruhan,
dibandingkan dengan suatu rangkaian argumen yang harus saling mendukung dan
didukung.
Karena dalam esai hanya ada satu ide yang jelas,
atau satu argumen yang jelas dan tegas, maka ada konsekuensi yang jelas pada
esai itu. Bahwa esai itu akan fokus sepenuhnya dalam memperjelas suatu argumen
yang ada dan membuat satu ide yang singkat itu menjadi ide yang sempurna. Maka
esai sifatnya sangat spesialis dan spesifik, satu ide tapi ide itu dikupas
sangat mendalam dan diperas sampai kepada intisarinya.
Supaya esai dapat mencapai tingkat kejernihan dan
kebenaran yang tinggi, salah satu strategi utamanya adalah melalui struktur. Esai
yang baik umumnya memiliki struktur yang jelas, bukan hanya untuk pembaca tapi
juga penulisnya. Struktur mendiktekan pola, alur, dan keterkaitan antara setiap
ide pendukung dengan ide keseluruhan esai tersebut. Struktur tidak hanya
mempermasalahkan urutan paragraf dalam esai, melainkan juga struktur ide yang
diwujudkan dalam struktur bahasa dalam esai.
Suatu struktur esai yang baik dapat diidentifikasi,
dan lebih penting lagi adalah mengalir dari satu paragraf ke paragraf lainnya.
Arus bahasa ini menunjukkan arus pemikiran, yang pada akhirnya menunjukkan
perkembangan ide atau argumen dalam esai dari awal sampai akhir. Dengan adanya
struktur seperti ini, aku dipaksa untuk menganalisis dan memikirkan dengan
cermat suatu ide sampai benar-benar jelas dari awal dan akhir, dengan suatu
kejernihan dan kebenaran yang sempurna.
Melalui penerapan struktur esai yang baik, fokus dan
kesatuan ide dalam esai dapat dicapai dan hasil akhirnya adalah esai yang baik
dan berkualitas. Pada esai ini pula akan ada bagian yang membahas lebih dalam
struktur suatu esai, bukan hanya dari bahasanya melainkan juga isi atau ide
dari esai. Sesungguhnya, kalau kita mencermati esai pertama ini, suatu struktur
yang kasar juga sudah mulai tampak, sebagai hasil dari kesadaranku yang baru.
Topik apa saja yang dapat dibicarakan dalam esai?
Jawabannya, tak terhitung jumlahnya. Esai berbeda dengan jenis tulisan singkat
lainnya, karena di mana banyak genre yang didefinisikan oleh kontennya, esai
didefinisikan oleh struktur dan formanya, atau bentuk teksnya. Karena itu esai
sangatlah fleksibel dalam penulisannya dan dapat menjadi tulisan lintas genre
saat esai mengambil tema dari genre lain.
Esai bisa saja formal atau informal, bisa serius
atau santai, bisa personal atau impersonal. Seringkali suatu esai memiliki
sifat personalitas yang meski sedikit, tetap ada, karena pada dasarnya esai
adalah tanggapan atau pendapat penulis terhadap suatu permasalahan. Tergantung
cara tanggapan ini diekspresikan dan bagaimana penulis memandang pendapatnya sendiri,
suatu esai bisa sangat personal dan pribadi atau sangat objektif dan
impersonal.
Salah satu ciri dari esai yang menunjukkan
personalitasnya adalah penggunaan sudut pandang orang pertama, misalnya dalam
esai ini sudah beberapa kali menunjukkan kata “aku”. Sebab esai seringkali
berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri atau perasaan dan tanggapan
penulisannya sendiri, maka pasti akan ada rujukan pada dirinya sendiri. Terlepas
dari batasan minor itu, benar-benar tidak ada batasan yang pasti terhadap isi
dari esai.
Fleksibilitas esai menjadi suatu kekuatan yang besar
bagi esai, karena artinya esai dapat digunakan untuk mengupas beragam ide yang
mungkin sulit dijangkau bentuk-bentuk tulisan lainnya. Bahkan suatu hal yang
begitu sepele atau yang begitu pribadi dan sensitif, dengan pemikiran yang
tepat dapat dikonversikan dan dituangkan menjadi suatu esai yang berkualitas. Pada
bagian-bagian berikutnya pun akan ada pembagian jenis-jenis esai yang akan kutulis,
dan itu hanya sebagian dari fleksibilitas esai yang tinggi.
Setiap ciri khas dari esai yang telah disebutkan
berkontribusi pada alasan mengapa esai lebih baik dalam ekspresi pendapat dan
pemikiran daripada manuskrip yang panjang. Pertama, panjang esai yang umumnya
tidak terlalu panjang artinya beban untuk menulis dan juga waktu yang
dihabiskan tidak terlalu banyak, sehingga lebih banyak energi dapat difokuskan
ke isi dari esai dan bukan panjangnya, serta dalam penulisan esai-esai
berikutnya.
Hal yang lebih penting dari panjang esai adalah
kekuatan logika esai sebagai konsekuensi dari fokus esai yang kuat pada satu
ide saja. Ini akan sangat bermanfaat saat merangkai suatu sistem argumen atau
filsafat, karena setiap esai ini sudah sangat kuat maka akhirnya keseluruhan
sistem dapat menjadi sangat kuat. Maka esai menjadi daya utama dalam upaya
pencarian kebenaran, di mana setiap esai menjadi satu langkah, yang sekalipun
hanya satu tapi langkah yang pasti dan yakin.
Fleksibilitas esai juga berkontribusi pada kebaikan
esai, karena segala topik yang dapat dipermasalahkan dapat dituangkan dalam
esai, apapun itu. Sehingga tidak hanya filsafat yang dapat dituangkan dalam
esai, permasalahan yang pribadi bagiku, entah berbagai pengalaman hidup atau
ingatan atau penderitaan pun dapat ditulis dalam esai yang rapi dan
terstruktur. Karena memang esai didefinisikan dari struktur dan bukan isinya,
maka dalam penulisan dapat semakin difokuskan pada kualitas isi dan ide yang
dituangkan, bukan pada syarat-syarat isi.
Sebelumnya dikatakan bahwa manuskrip tidak
sepenuhnya dihilangkan, itu memang benar. Setelah semua esai diselesaikan
dengan baik, maka barulah dibuat suatu manuskrip yang menjadi rangkuman dari
berbagai esai yang ada. Di mana manuskrip berisi banyak sekali ide, diwakili
esai-esai yang ada, tapi semua ide itu disatukan satu topik atau pernyataan
umum, dan setiap ide itu mengalir, seperti pada satu esai. Maka manuskrip
menjadi karya paling akhir, dan esai adalah batu batanya.
Struktur Esai
Esai yang baik harus memiliki struktur yang baik
pula, dan struktur yang baik adalah yang jelas, dapat diidentifikasi, dan
mengikuti peraturan-peraturan logika yang umum. Seperti yang telah dikatakan
bahwa struktur esai adalah metode untuk mencapai fokus pada ide dalam esai
dengan mengembangkan ide tersebut sedalam-dalamnya. Seperti yang telah
dikatakan pula bahwa struktur esai bukan hanya struktur bahasa melainkan juga
struktur ide, maka pembahasan mengenai struktur esai akan menggabungkan
keduanya.
Esai pastinya diawali dengan suatu titik pertama,
yang menunjukkan ide paling pertama yang kita miliki. Dalam konteks esaiku,
titik pertama ini adalah suatu pertanyaan atau pengamatan yang menarik, yang
merangsang pikiran dan membuatku merasa bahwa aku harus menuliskan hal tersebut
atau menjawab pertanyaan tersebut. Bagian awal sangat penting karena menjadi
pembatas dan penunjuk jalan untuk keseluruhan esai tersebut.
Selain latar belakang atau sebab-sebab dari
penulisan esai, yang dituliskan pula adalah tujuan dari esai tersebut. Dengan
pengamatan atau pertanyaan tersebut, lalu apa yang ingin kita capai dari esai
ini? Mungkin kita ingin menjawab suatu pertanyaan, mungkin kita ingin
mengeksplorasi dan mencari tahu lebih mengenai suatu masalah, atau kita ingin
membuktikan suatu pendapat melalui suatu argumentasi yang logis.
Jika kita sudah membuat bagian awal dengan baik dan
jelas, tahap berikutnya adalah memulai argumentasi kita atau analisis kita. Tergantung
dari topik esai kita, argumen dapat langsung mengarah pada argumen inti atau
dapat pula membahas argumen pendukung dahulu. Argumen pendukung dapat
dibandingkan dengan landasan teori pada suatu penelitian ilmiah, dan fungsinya
kurang lebih sama.
Menurutku, argumen pendukung memiliki fungsi-fungsi
berikut. Pertama, sebagai penjelas masalah atau ide yang ada. Argumen pendukung
menjadi penjelas dari pertanyaan atau pengamatan yang tertulis di bagian awal,
karena bagian awal memang lebih kepada pendahuluan umum. Dalam fungsi ini,
argumen pendukung menjadi orientasi bagi penulis dan pembaca supaya sungguh
memahami masalah yang ada sebelum dapat dianalisis dan dibuat argumen intinya.
Maka penjelasannya murni deskriptif, yaitu memaparkan apa yang terjadi tanpa
menganalisis.
Fungsi kedua adalah sebagai justifikasi, yang merupakan
pengertian umum tentang argumen pendukung. Pada fungsi ini, argumen pendukung
menyediakan fakta-fakta yang dibutuhkan untuk membuktikan suatu tesis atau
pernyataan. Justifikasi sendiri artinya untuk membenarkan, maka fakta apapun
yang ada pada argumen pendukung berguna untuk menguatkan dan semakin
menunjukkan kebenaran dari pernyataan yang ingin kita buktikan. Namun bukan
sekadar fakta, melainkan bahwa ada kebenaran yang terdiri dari
kebenaran-kebenaran yang lebih mendasar yang harus dibuktikan pula, argumen
pendukung adalah bagian untuk hal itu.
Fungsi ketiga sebagai penyedia asumsi. Asumsi adalah
keyakinan-keyakinan yang belum kita ketahui karena belum terbukti benar secara
pasti. Namun asumsi ini kita yakini sebagai benar dan kita pakai untuk
menganalisis suatu masalah. Asumsi tidak dipakai untuk membuktikan kebenaran
suatu pernyataan, melainkan untuk mengomentari dan mengaitkan
pandangan-pandangan pribadi kita dengan permasalah inti. Misalnya kalau kita
menilai suatu gejala sosial adalah masalah sosial, kita paparkan dulu apa
pandangan kita tentang masalah sosial, baru berlanjut ke argumen inti.
Fungsi keempat adalah menyediakan standar analisis. Sebenarnya
fungsi keempat ini juga mirip dengan fungsi ketiga karena memberikan suatu
standar untuk menganalisis dan berkomentar, tapi perbedaannya adalah standar
analisis ini sudah dibuktikan pasti dan kebenarannya tidak lagi diragukan. Dalam
esai-esaiku, standar ini biasanya akan dipinjam dari esai filsafat, untuk
menganalisis masalah-masalah riil yang terjadi. Esai dengan argumen pendukung
yang analitik cenderung lebih objektif karena kita menganalisis sesuai dengan
kenyataan, sementara pada fungsi ketiga kita menganalisis sesuai sentimen
pribadi.
Setiap fungsi ini memang lebih tepat dikatakan
sebagai “jenis”, tapi dari perspektif esai ini mereka dianalisis berdasarkan
tujuan dan manfaatnya bagi keseluruhan esai, sehingga disebut fungsi. Suatu
argumen pendukung dapat merangkum dua fungsi atau lebih, misalnya suatu argumen
yang deskriptif tapi juga justifikatif. Suatu asumsi pribadi yang sudah
terbukti, dapat tergolong argumen pendukung yang asumtif sekaligus analitik.
Setelah pemaparan argumen pendukung yang secukupnya
sesuai keinginan penulis, maka kita dapat melanjutkan masuk ke argumen inti,
yang hanya memiliki satu tujuan dan fungsi, yaitu menjawab dan mencapai tujuan
esai yang telah ditetapkan di awal. Dalam argumen inti, suatu masalah atau
topik dibahas, dikupas, dan dianalisis sedalam-dalamnya sampai esai kita
menguasai masalahnya sepenuhnya.
Sifat dari argumen inti haruslah deduktif, analitik,
dan sintetik. Deduktif artinya dalam argumen inti kita membuktikan dan
menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan fakta-fakta dari permasalahan yang
sudah kita ketahui. Sifat deduktif ini yang dengan langsung menjawab atau
menyajikan pembuktian untuk suatu pertanyaan atau pernyataan dalam bagian awal
esai. Argumen pendukung dipakai di sini sebagai premis-premis penjelas dan pembenar.
Analitik artinya menganalisis atau menyederhanakan
masalah menjadi bagian-bagian yang paling sederhana. Maka tentu saja argumen
inti yang analitik menyederhanakan dan memecah suatu masalah sesuai dengan
tujuan esai. Dalam sifat ini, argumen pendukung dipakai untuk menentukan
bagaimana untuk menganalisis suatu masalah, dan apa yang ingin kita analisis
dari suatu masalah tersebut. Sebab dari satu masalah ada banyak perspektif
untuk menganalisis jadi harus dipakai standar analitik yang tepat sesuai dengan
tujuan esai.
Sintetik adalah lawan dari analitik, yang artinya
menggabungkan suatu masalah dengan fakta lainnya menjadi suatu realitas yang
lebih lengkap. Perbedaannya dengan deduktif adalah sifat deduktif fokus pada
pembuktian, sementara sifat sintetik fokus pada penggabungan. Umumnya argumen
pendukung dipakai sebagai elemen kedua dari masalah yang ingin disintesiskan,
atau suatu masalah dianalisis ulang dan digabungkan dengan suatu fakta
kenyataan lainnya menjadi satu realitas yang lebih lengkap.
Setiap sifat ini haruslah ada dalam suatu argumen
inti yang baik, jadi memiliki unsur deduktif, analitik, dan sintetik. Namun
memang ada pengecualian-pengecualian khusus, yang mungkin saja tidak deduktif
dan hanya analitik dan/atau sintetik. Terlepas dari pengecualian, umumnya semua
argumen inti pasti membuktikan suatu hal sesuai dengan tujuan esai. Untuk
membuktikannya maka masalahnya harus dianalisis dulu dan diratakan, lalu
digabungkan kembali dengan fakta-fakta yang ada supaya jelas dan tampak suatu
pembuktian yang benar.
Pada bagian akhir esai adalah kesimpulan umum yang
menjadi jawaban ringkas terhadap tujuan esai yang telah ditetapkan pada awal
esai. Kesimpulan ini dapat dikatakan sebagai suatu deduksi, pengetahuan yang
baru, atau pernyataan umum sebagai tanggapan pada tujuan esai. Melalui
kesimpulan, tujuan esai terjawab dan terpenuhi, sehingga aliran ide dan juga
esai itu sendiri dianggap sudah selesai.
Kesimpulan menjadi nilai tambah dari hasil
pengerjaan esai, dan dalam kesimpulan kita selalu memperoleh pengetahuan yang
lebih dari pertama kali membuat esai atau mendapatkan ide inspirasi untuk
menuliskan esai. Sebab esai selalu diawali dengan topik atau masalah yang ingin
kita ketahui lebih dalam, atau yang masih dasar. Setelah kita mengeksplorasi
melalui esai, pengetahuan kita bertambah karena ide itu telah dibuktikan secara
penuh, dikembangkan semampunya, dan diintegrasikan selengkapnya dengan realitas
yang lebih luas.
Suatu esai, sekalipun berhenti, dalam kesinambungan
hidup tidak seharusnya berhenti di situ saja. Pada bagian paling akhir esai
mungkin dapat disampaikan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang bisa saja
dibuatkan menjadi suatu esai baru. Pertanyaan-pertanyaan ataupun
rencana-rencana berikutnya memberi petunjuk bagaimana langkah berikutnya setelah
membuat esai tersebut. Bagiku, ini biasanya akan berwujud rencana atau usulan
dasar mengenai esai apa yang ingin kutulis berikutnya. Barulah setelah itu esai
sungguh selesai.
Struktur ini tentu saja tidak dapat kita berlakukan
secara keras sesuai dengan yang ada di esai ini. Setiap esai memiliki
kekhasannya sendiri, dan bisa saja ada berbagai unsur yang tidak ada atau
berbeda dalam satu esai. Unsur yang paling banyak berbeda pastinya unsur
deduktif dalam esai, ini akan dibahas dalam jenis-jenis esai nantinya. Namun
pastinya struktur umum mengenai pembukaan, argumen, dan penutupan pasti akan
ada dalam setiap esaiku.
Sebelumnya dikatakan bahwa struktur esai meliputi
struktur bahasa dan juga struktur ide, dan ini akan kutegaskan kembali sebelum
melanjutkan ke bagian berikutnya. Kesatuan struktural esai bukan hanya suatu
kesatuan struktural bahasa supaya enak dibaca dan dipahami, melainkan
menunjukkan suatu perkembangan ide yang nyata, dari awal, dikembangkan dengan
pengetahuan lain dan akhirnya disempurnakan dalam suatu kesimpulan akhir.
Dengan selesainya esai, suatu perkembangan dan kehidupan ide juga selesai, dan
setelah itu berlanjut lagi dengan ide-ide berikutnya tiada henti.
Struktur dalam esai adalah metode untuk mencapai
tujuan esai, yaitu untuk suatu fokus pada satu ide dengan tingkat kejernihan
dan kebenaran yang tinggi. Sesungguhnya karena setiap ide itu berbeda, maka
strukturnya tidak dapat sepenuhnya sama, atau pola isi dalam struktur itu tidak
dapat sepenuhnya sama. Karena itu berikutnya aku akan menjelaskan bagaimana
jenis-jenis esai yang berbeda terutama dalam kategori esai-esaiku dapat
mempengaruhi strukturnya sesuai dengan kebutuhan.
Esai Filsafat
Esai filsafat di sini adalah esai yang sesuai
namanya, membicarakan masalah-masalah filsafat. Dalam sistem esaiku, esai
filsafat akan menjadi kategori esai yang paling utama, karena memang tujuan
hidupku terorientasi pada kebenaran secara filosofis. Supaya suatu esai
terkategorikan sebagai esai filsafat, syaratnya cukup keras, yaitu yang dibahas
adalah filsafat murni, dan bukan integrasi antara filsafat dengan realitas
empiris. Esai semacam itu tergolong esai umum dan bukan lagi esai filsafat.
Esai filsafat memiliki beberapa ciri khas yang tentu
saja mempengaruhi struktur dan isi dari esai filsafat untuk memenuhi tujuannya.
Pertama, tujuan esai filsafat tentu saja untuk mencapai suatu kebenaran
filsafat. Secara umum, yang dimaksud dengan filsafat adalah segala ilmu yang
berkaitan dengan pencarian hakikat akan segala sesuatu, atau kebenaran yang
paling mendasar dan utama dari segala hal. Maka esai filsafat bertujuan untuk
menguak kebenaran-kebenaran yang paling mendasar dari kenyataan.
Dalam hal ini, esai filsafat menjadi pembangun ilmu
filsafat yang baru dari awal, dan konsekuensinya hal-hal yang terkandung dalam
esai filsafat adalah sepenuhnya baru dan asli dari pemikiranku. Alasan ilmu
filsafat dalam esaiku harus dibangun dari awal, dan bukan mengadaptasi dari
pemikiran filsuf-filsuf lainnya akan diungkap pada suatu esai lain. Karena esai
filsafat isinya baru dan orisinal, dalam kata lain dia tidak berdasarkan
fakta-fakta yang ditetapkan oleh orang lain atau oleh masyarakat, ini memiliki
konsekuensi tambahan.
Konsekuensinya adalah mayoritas pengamatan pertama
atau pertanyaan atau titik awal dalam esai filsafat tidak akan bersifat
empiris. Artinya, pengamatan filosofis tidak berdasarkan pengamatan inderawi
atau segala klaim dan pengamatan yang harus dipertanggungjawabkan secara
inderawi. Pengamatan filosofis bersifat rasionalis, yaitu berdasarkan akal budi
dan penalaran semata. Ini adalah konsekuensi dari sifat filsafat yang sepenuhnya
rasionalis, alasannya akan dikemukakan pada esai lain.
Namun ada pengecualian-pengecualian tertentu
terhadap aturan rasionalis ini. Esai-esai filsafat yang paling pertama mau
tidak mau bermula dari suatu pengamatan empiris. Esai-esai pertama ini akan
mirip dengan esai umum, tapi sebenarnya sudah merupakan suatu esai filsafat. Alasannya sebagai berikut.
Membangun suatu ilmu filsafat yang secara penuh
baru, memiliki implikasi menolak dan menentang semua ilmu filsafat yang lama. Penolakan
itu harus dibenarkan dan didukung melalui argumen yang baik dan untuk menolak
sesuatu kita harus memahami dengan baik apa itu yang kita tolak. Dalam masalah
ini, hal yang ingin kita tolak, adalah ilmu filsafat yang sebelum kita dan
artinya berasal dari luar kita dan merupakan suatu objek empiris. Oleh sebab
itu, mau tidak mau esai-esai pertama, yang bertujuan untuk menolak ilmu
filsafat yang lama, harus bersifat empiris.
Ciri khas kedua dari esai filsafat adalah esai
filsafat sifatnya yakin, keras, dan tidak asumtif sama sekali. Pengecualiannya
juga pada esai-esai filsafat yang pertama sesuai dengan alasan yang telah
dikemukakan sebelumnya. Untuk mayoritas esai lainnya, ini kembali berkaitan
dengan sifat dari ilmu filsafat, terlebih yang ingin kita bangun. Sesuai yang
telah ditulis, filsafat bertujuan mencari kebenaran yang paling mendasar,
sehingga kebenaran apapun itu harus pasti dan tak terbantahkan sehingga dapat
menjadi dasar yang kuat bagi segala kebenaran lainnya.
Dengan sifat filsafat yang keras seperti itu, dalam
penyusunannya juga hanya boleh menggunakan fakta-fakta atau ide-ide yang sama
kuatnya dalam kebenaran dan itu berarti tidak boleh ada asumsi. Setiap premis,
termasuk premis awal atau aksioma sekalipun, harus berdasarkan suatu kebenaran
atau argumen yang kuat dan tak terbantahkan, bukan hanya sekadar intuisi,
anggapan, asumsi, apalagi emosi semata.
Sebagai konsekuensi lanjutan, esai filsafat sifatnya
akan sangat deduktif, yaitu menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan
fakta-fakta yang telah kita ketahui. Ini tentu saja merupakan konsekuensi dari
sifat filsafat yang dimulai dari premis-premis yang tak terbantahkan dan
berhasil pada pengetahuan-pengetahuan baru yang juga tak terbantahkan. Karena
esai filsafat bersifat deduktif, maka sifat esainya dari bawah ke atas, yaitu
dari pengamatan-pengamatan yang sederhana naik ke atas sampai kebenaran yang
paling tinggi.
Pengaruh hal-hal tersebut pada struktur esai
filsafat adalah terutama pada titik awal dan juga pola argumen inti. Titik awal
bersifat rasionalis kecuali pada esai-esai pertama, dan argumen inti berpola
deduktif dan tidak memakai asumsi sama sekali, kecuali pada esai-esai pertama. Sementara
pada kesimpulan umum, tentunya juga sebagai suatu deduksi yang meringkas hasil
dari argumen inti.
Suatu esai filsafat, kecuali esai-esai yang pertama,
biasanya tidak berdiri sendiri melainkan didukung dan juga mendukung berbagai
macam esai lainnya. Entah itu sesama esai filsafat atau esai umum. Maka ada
suatu sistem esai, diwujudkan dalam hyperlink, yang mencerminkan sistem ide
yang ada dalam filsafat. Sebab suatu ilmu filsafat bukan sekumpulan ide-ide
yang terpisah melainkan suatu kelompok ide yang sangat terhubung, terkoneksi,
dan terkait, dalam kata lain suatu sistem.
Selain itu, esai filsafat juga memiliki tujuan
berikutnya dan tidak selesai begitu saja setelah semua esai filsafat yang ingin
dituliskan telah ditulis. Esai filsafat pada akhirnya akan dikumpulkan dan
dirangkum menjadi satu buku untuk secara penuh menunjukkan kesatuan sistem
filsafat. Alternatifnya adalah menjadi beberapa buku karena ada topik-topik
yang secara jelas memiliki perbedaan-perbedaan penting, misalnya esai
metafisika akan menjadi buku metafisika, dan esai etika menjadi buku etika, dan
seterusnya.
Dalam konteks tersebut, esai filsafat dapat
diibaratkan sebagai batu bata untuk menyusun suatu bangunan yang lebih besar
dan megah. Setiap batu bata saling terhubung dengan yang lainnya, saling
mendukung atau didukung. Batu bata yang baik memang penting, dan secara khusus
esai filsafat dapat dinikmati sendirinya. Namun manfaat paling besar saat semua
batu bata itu sudah menjadi rumah atau bangunan yang dapat dipakai dan juga
indah. Kesatuan sistem filsafatlah yang paling bermanfaat dibanding dengan
esai-esai individual saja, layaknya suatu rumah dibanding dengan pembentuknya.
Masih mengikuti analogi rumah, seperti setiap batu
bata yang ditata di atas dan di bawah batu bata lainnya, setiap esai filsafat
biasanya memiliki titik awal dari suatu esai sebelumnya dan akhirnya akan
membuka pintu ke esai berikutnya, atau menjadi dasar untuk esai berikutnya. Maka
aliran esai filsafat dapat ditelusuri hampir secara linear, dari
kebenaran-kebenaran yang paling intuitif dan mendasar sampai ke
penjabaran-penjabaran yang semakin dekat dengan empirisme. Tentu saja alirannya
tidak sepenuhnya linear dan idealnya tidak sepenuhnya linear, tapi dapat
ditelusuri dengan sedemikian rupa. Seperti batu bata yang tetap terhubung
dengan batu bata di sampingnya atau di arah serongnya, esai filsafat juga
seperti itu.
Pengetahuan filsafat yang terkandung pada esai
filsafat memang paling bernilai sebagai hal yang dinikmati untuk dirinya
sendiri dan juga untuk pengembangan dirinya sendiri. Namun sejatinya filsafat
tidak boleh eksklusif dan harus berinteraksi dengan pengetahuan-pengetahuan
lainnya, yaitu realitas empiris yang lebih sering kita biasa. Sementara itu
saat kita mulai menulis tentang korelasi filsafat dengan realitas empiris, kita
telah beranjak dari esai filsafat dan masuk ke kategori berikutnya, yaitu esai
umum.
Esai Umum
Esai umum adalah pertemuan antara filsafat dengan
realitas empiris yang kita kenal. Singkatnya, esai umum adalah esai yang membahas
permasalahan-permasalahan dalam dunia yang dianalisis dengan metode-metode
filosofis, terlebih masalah-masalah yang kutemui dalam hidup. Dibanding dengan
esai filsafat, lingkup esai umum jauh lebih luas, karena begitu esai itu bukan
esai yang secara murni membicarakan filsafat, sudah menjadi esai umum.
Ada beberapa ciri khas dari esai umum yang
mempengaruhi strukturnya supaya memenuhi tujuan esai umum. Tidak seperti esai
filsafat, sulit untuk secara pasti mendefinisikan tujuan dari esai umum karena
topiknya juga sangat luas. Namun hal yang pasti esai umum memiliki tujuan utama
untuk menyampaikan pendapatku terhadap suatu permasalahan dalam kehidupanku
atau yang kutemui dalam kehidupanku.
Esai umum dapat dibagi menjadi dua kategori kasar,
yaitu esai umum filosofis dan esai umum non-filosofis. Esai umum filosofis
adalah esai-esai yang mengomentari masalah-masalah dalam kehidupanku dari
perspektif filsafat, maka argumen pendukungnya pasti diambil dari esai filsafat.
Sementara esai umum non-filosofis tidak secara langsung menggunakan perspektif
filsafat yang keras, melainkan berdasarkan pandangan-pandangan atau
asumsi-asumsi pribadi yang belum dipastikan benar.
Karena esai umum pada dasarnya adalah komentar
terhadap suatu topik dalam kehidupan atau permasalahan dalam kehidupan,
konsekuensi paling utamanya adalah esai umum seringkali mengandung unsur
empiris. Empiris di sini bukan berarti memakai tabel dan grafik, melainkan
dapat diindera oleh panca indera, dalam kata lain pengetahuan yang berasal dari
luar diri kita sendiri. Tentu saja ini karena objek esai umum adalah masalah
dalam hidup, yang seringkali berasal dari luar. Penjelasan lebih lengkap
mengenai ini akan diungkap pada esai lain.
Konsekuensi lanjutannya adalah karena esai umum
memiliki unsur empiris, ia tidak akan sebaru, seasli, ataupun sepasti esai
filsafat dalam masalah isi atau kebenaran. Esai umum bisa saja mirip dengan
pemikiran-pemikiran orang lain karena objeknya juga hal-hal yang dari orang
lain, lalu disintesiskan dengan pemikiranku sendiri, yaitu bagaimana aku
menanggapi hal-hal tersebut. Jadi titik awal esai umum, yang bersifat empiris
juga bersifat lama, bukan murni baru, dan kesimpulannya juga tidak murni baru.
Dalam masalah kepastian, tidak jarang aku tidak
dapat mengingat atau menyajikan masalah empiris tertentu sepenuhnya, bisa saja
ada ketidakpastian-ketidakpastian yang ada sehingga esai umum hanya sebatas
pengetahuan dan ingatan saja. Kecenderungannya adalah jika esai umum semakin
personal, artinya hal-hal yang memang terjadi secara langsung dalam hidupku dan
bukan hanya kuketahui, akan lebih akurat karena aku menjadi sumber data
primernya.
Kepastiannya bukan hanya karena sifat empiris dari
esai umum, tapi karena ini bukan esai filsafat maka tidak ada tuntutan yang
besar akan kepastian kebenaran. Memang esai umum yang berdasarkan filsafat bisa
saja kekuatan kebenarannya setara dengan esai filsafat, tapi tidak semua esai
umum akan filosofis. Bisa saja aku menulis esai umum yang asumsi filosofisnya
belum memiliki esai filsafatnya tersendiri sehingga belum ada pembuktiannya.
Sebab tidak begitu mungkin bagiku untuk menulis
semua esai filsafat dulu baru menulis esai umum. Saat itu terjadi, esai umum
akan mengandung asumsi-asumsi pribadiku. Asumsi ini, biasanya memang rasional
dan ada serangkaian pembenaran pra filsafatnya, tapi karena tidak didasarkan
oleh kepastian kebenaran yagn dimiliki oleh filsafat, selalu ada kemungkinan
bahwa asumsi itu salah. Maka esai umum biasanya kekuatan deduktifnya tidak
sekuat esai filsafat, dan bisa saja kurang benar.
Hal ini dapat diterima karena tujuan utama esai umum
adalah supaya aku dapat membagikan pendapatku mengenai masalah-masalah
tertentu. Adakalanya aku benar-benar ingin mengkritik suatu fenomena sosial
bukan hanya untuk menyampaikan pendapat melainkan juga untuk mengubah fenomena
itu, pastilah esai itu akan berdasarkan filsafat. Terkadang aku hanya ingin
berbagi pendapat, dan pada esai-esai itu aku tidak terlalu keras atau serius
dan lebih santai, maka kekuatan deduktifnya tidak sekuat esai filsafat. Adapula
waktu di mana aku benar-benar serius dalam suatu esai umum, karena topiknya
juga serius, maka kekuatan deduktifnya bisa saja setara dengan esai filsafat.
Akan tetapi, bukan berarti esai umum itu tidak kuat,
esai umum tetap memiliki kekuatan logis yang tinggi karena tetap didasarkan
oleh analisis masalah yang mendalam dan terfokuskan. Sekalipun kebenaran esai
umum tidak dapat dipakai sebagai kebenaran absolut, tapi esai umum tetap dapat
menjadi bahan pertimbangan yang kritis dalam pemikiran atau dalam menentukan
keputusan. Saat aku menulis bahwa esai umum tidak kuat, hanya relatif pada esai
filsafat. Sendirinya esai umum tetap kuat, dan jika ditulis dengan sangat baik
bisa menyamai esai filsafat, apalagi yang memang bersifat filosofis.
Konsekuensi dari sifat esai umum yang tidak begitu
deduktif adalah esai umum akan lebih banyak bersifat analitik atau sintetik. Dalam
arti esai umum menganalisis dan menyederhanakan berbagai masalah kehidupan yang
kutemui, dan juga menggabungkan masalah yang telah disederhanakan itu dengan
pandanganku sendiri, yaitu disintesiskan. Ini tentu saja karena tujuan esai
umum memang untuk memaparkan pandanganku tentang suatu topik, jadi pada
akhirnya akan ada suatu sintesis.
Tidak seperti esai filsafat yang memiliki posisi
utama bahkan menjadi bagian dari tujuan hidupku, esai umum lebih sering seperti
hobi atau rekreasi saja. Sementara esai filsafat paling berguna setelah menjadi
satu kesatuan sistem filsafat yang diwakilkan oleh buku filsafat, esai umum
bagaikan makanan seporsi yang dapat dinikmati sendiri. Belum lagi esai umum
topiknya sangat luas dan sulit mengikat semuanya dalam satu payung ide.
Meski begitu, memang tidak mustahil untuk beberapa
esai umum memiliki kesamaan topik yang cukup erat sehingga dapat menjadi satu
buku. Biasanya esai-esai ini akan sangat erat kaitannya dengan filsafat, dan
bisa dipandang sebagai ekstensi dari esai filsafat. Karena fungsi lain esai
umum, sekiranya esai filsafat dan ilmu filsafat sudah rampung, adalah untuk
mengintegrasikan realitas empiris dengan realitas filsafat, antara Tuhan dan
manusia. Namun itu memang ada di masa depan yang sangat jauh dan bukan
kepentingan kita sekarang.
Tidak banyak yang sebenarnya dapat ditulis tentang
esai umum, karena pada kondisi kini memang esai umum hanya sebagai esai yang “rekreatif”,
dan esai filsafat masih menjadi kategori esai yang utama. Sementara esai
filsafat menjadi batu bata dan tombak utama, untuk sementara ini esai umum
memang lebih seperti hiasan, entah itu vas bunga atau kertas dinding atau
gorden. Akan tetapi akan ada waktunya esai umum juga setara pentingnya dengan
esai filsafat.
Seperti yang telah dikatakan, esai umum merupakan
komentarku terhadap berbagai permasalahan dalam kehidupanku. Sebenarnya ada
semacam spektrum yang menunjukkan seberapa dekat suatu masalah dengan
kehidupanku. Semakin impersonal, masalah menjadi semakin tidak pasti karena aku
tidak mengalami masalahnya secara penuh. Semakin personal, masalah semakin
pasti karena aku mengalaminya sendiri. Namun tidak semua masalah yang aku alami
dapat dijadikan esai umum, jika ada garis yang dilewati, esai itu bukan lagi
esai umum, melainkan esai pribadi.
Esai Pribadi
Dapat diperdebatkan apakah esai pribadi layak
dikategorikan sebagai suatu “esai” atau tidak, berhubungan kategori esai ini
paling aneh dibandingkan dengan esai-esai lainnya. Namun karena definisi esai
hanya satu, yaitu tulisan yang terfokus pada satu ide, serta sebagai
konsekuensi dari fleksibilitas esai, aku tetap memasukkan esai pribadi sebagai
suatu esai yang murni, bukan hanya karena aku mengatakannya.
Esai pribadi adalah esai yang membahas
masalah-masalah pribadiku, dan biasanya hanya aku yang mengetahuinya atau
orang-orang terdekat dan yang terlibat dalam kejadian-kejadian tertentu. Esai
pribadi ini jelas berbeda dengan esai umum, karena pada esai umum masalahnya
memang kualami tapi tetap biasanya menjadi masalah yang juga dimiliki orang
lain, jadi tidak khas pada diriku saja. Sementara pada esai pribadi, masalahnya
sangat khas pada diriku dan orang lain kemungkinan besar tidak akan tahu.
Tujuan utama esai pribadi memang untuk
menginvestigasi segala masalah terkait identitasku, yaitu siapa aku, sejarahku,
peranku di dunia, perasaanku, segala masalah personal seperti itu. Tujuan ini
membuat esai pribadi sangat berbeda dengan esai lain pada umumnya, karena
sekarang esai ini benar-benar untukku saja, bukan untuk orang lain. Maka
struktur esai pribadi akan sangat berbeda dengan esai filsafat atau esai umum,
untuk menyesuaikan dengan tujuan esai pribadi.
Esai pribadi akan sangat variatif, bisa saja ada
esai pribadi yang deduktif dan bisa pula ada yang tidak deduktif. Dalam arti
ada esai pribadi yang tujuannya adalah membuktikan suatu pernyataan terkait
diriku sendiri, atau bisa saja hanya untuk menceritakan salah satu peristiwa
hidupku. Esai pribadi juga bisa santai dan bisa serius, bisa saja esai pribadi
hanya ditulis sebagai rekreasi semata dan bisa pula sebagai upaya yang serius
untuk menguak diriku. Namun semua esai pribadi tetap memiliki derajat
keseriusan yang minimal.
Esai pribadi biasanya naratif, artinya bercerita,
tepatnya bercerita tentang hidupku sendiri. Karena itu sekalipun esai pribadi
bisa bersifat deduktif, seringkali esai pribadi akan non-deduktif. Sebab apa yang
ingin dibuktikan? Mungkin ada unsur analitik atau sintetik tapi lebih banyak
hanya menceritakan apa adanya, apa yang kurasakan, apa yang kupikirkan, apa
yang terjadi dalam hidupku, mengapa aku memiliki perilaku sedemikian rupa dan
seterusnya.
Hal yang pasti dari esai pribadi adalah tidak selalu
esai pribadi memiliki kebenaran yang secara objektif pasti terkait pribadiku
sendiri. Memang benar bahwa objek dari esai pribadi adalah diriku sendiri, tapi
aku bukan seorang psikolog, jadi berbagai masalah psikologisku akan kuanalisis
menurut perspektif awam, dan kalau memungkinkan dengan bantuan filsafat. Akan
tetapi kembali pada fakta bahwa esai pribadi tujuannya untuk bercerita, bukan
untuk mengungkap suatu fakta psikologis. Hal-hal yang mungkin berlaku bagiku,
tidak serta merta berlaku untuk orang lain.
Sekalipun esai pribadi dapat menjadi esai yang
santai dan personal, esai pribadi bukan media untuk curhat. Esai pribadi tetap
mengikuti kaidah esai yaitu kritis dan rasional. Maka sekalipun objek esai
pribadi adalah emosi dan juga peristiwa-peristiwa emosional, mereka tetap
diperlakukan secara rasional dan bukan secara emosional. Tetap ada struktur
dari esai pribadi dan bahasanya juga tetap bahasa yang baku, bukan bahasa
emosional.
Bukan hanya karena esai pribadi adalah suatu esai,
melainkan tujuan esai pribadi yaitu untuk menguak diriku sendiri, membicarakan
tentang diriku sendiri sebagai suatu objek yang riil artinya harus memakai
pendekatan yang objektif pula, yaitu secara rasional dan kritis. Ini supaya aku
dapat mengetahui diriku dan menguak diriku sebenar-benarnya, tidak terhalang
oleh emosi, maka tentunya harus memakai rasionalitas. Alasan lengkapnya akan
diungkap pada esai lain.
Suatu konsekuensi lain dari esai pribadi adalah bisa
saja ada hal-hal dalam esai pribadi yang sangat sensitif dan personal bagiku.
Bahkan, hal-hal yang bisa saja membuatku didakwa secara hukum dan berkonflik
dengan masyarakat, ini tentu tidak dapat diterima. Konsekuensinya adalah
mayoritas dari esai pribadiku tidak akan dipublikasikan dalam blogku. Lalu
pertanyaan yang muncul adalah, untuk apa aku menulis tentang esai pribadi kalau
pada akhirnya tidak akan dilihat oleh orang lain?
Pertama, aku menulis esai ini terutama bagiku dan
bukan hanya untuk orang lain yang ingin membaca. Selain itu, aku juga ingin
berbagi mengenai rencanaku dan pemikiranku yang sekiranya dapat mendorong orang
lain untuk berpikir atau tergugah hatinya atau intinya terpengaruh secara
positif oleh tulisan ini. Kedua, aku menulis bahwa tidak semua esai pribadi
akan kutahan, ada esai-esai pribadi yang kunilai pantas untuk kupublikasikan
yang akan dipublikasikan ke blog pula.
Lalu, aku memiliki suatu impian terkait esai pribadi
ini, yaitu dari semua esai pribadiku menyusun suatu otobiografi yang
benar-benar komprehensif dan menceritakan diriku sendiri pada khalayak umum. Sebab
tujuan esai pribadi adalah menguak diriku sendiri, maka jelas saja kalau
sepotong-sepotong dalam esai-esai individual sulit untuk memahami siapa diriku.
Karena diriku seperti sistem filsafat yang setiap komponennya saling mengikat
dan saling berkaitan.
Esai pribadi hanya akan sungguh bermanfaat saat
dapat menceritakan diriku sepenuhnya dan artinya menjadi bagian dari satu karya
yang komprehensif tentang diriku, yaitu suatu otobiografi. Otobiografi ini akan
menjadi wakil bahasa dan wakil dalam perkataan akan kesatuan diriku yang tak
terpisahkan. Sementara satu esai mewakili peristiwa-peristiwa hidup secara
individual, otobiografi melukiskan keseluruhan kehidupan.
Karena itu anggaplah pembahasanku tentang esai
pribadi adalah persiapan akan otobiografi. Pada saat otobiografiku kutulis dan
kupublikasikan, tidak akan ada yang kusensor dari semua esaiku dan semua
bahan-bahannya akan dirilis. Pada saat itu aku yakin kita sudah memasuki waktu
di mana otobiografiku tidak akan lagi mengundang masalah atau konflik yang
terlalu berarti. Jadi semua esai pribadiku tetap akan dipublikasikan, hanya
tidak pada waktu yang dekat.
Otobiografi menjadi salah satu rencana besarku
setelah ilmu filsafat, tapi memang filsafat tetap menjadi kategori esai dan
juga rencana paling utama dalam hidupku, demi kesempurnaan dan keselamatan
segala sesuatu. Jikalau filsafat sudah dirampungkan, maka aku akan segera
menyelesaikan otobiografiku sebagai bagian dari rencanaku. Pada akhirnya, esai
pribadi, esai filsafat, dan juga esai umum akan kupakai untuk mencapai rencana
akhirku, impian terbesarku untuk esai-esai ini.
Rencana Akhir
Sebelumnya aku sudah banyak menyinggung bahwa aku
memiliki suatu rencana terkait esai-esaiku ini, dan bagaimana mereka semua akan
tampak pada akhir rencana itu. Sekarang aku akan sungguh menegaskan dan
menjelaskan apa yang ingin kulakukan terkait semua esaiku, yaitu esai filsafat,
esai umum, dan juga esai pribadi. Secara ringkas, wujud esai-esaiku pada
akhirnya bukanlah sekumpulan esai yang tak berkaitan, melainkan suatu sistem
esai yang melambangkan suatu keterkaitan ide antara semua esai.
Untuk masalah teknis, semua esaiku akan
dipublikasikan ke kedua blogku, yaitu yang bahasa Indonesia dan yang bahasa
Inggris. Tentu saja artinya setiap dari esaiku akan ditulis dalam dua bahasa,
yaitu dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Esai yang tidak akan
dipublikasikan secara langsung adalah esai-esai pribadi, yang hanya akan
dipublikasikan setelah otobiografi dirampungkan. Maka kedua blog ini menjadi
sarana untuk penyelesaian rencanaku.
Rencana tahap pertama, setelah mempublikasikan ke
kedua blog dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, adalah sistem esai yang
komprehensif di mana semua esai menjadi bagian dari suatu sistem esai yang
saling berkaitan, saling merujuk, saling mendukung, saling didukung, dan saling
berinteraksi. Sistem esai ini sesungguhnya mencerminkan sistem ide yang ada,
dan menunjukkan bagaimana suatu ide terhubung dengan ide yang lain, dan ini
melalui hubungan antar esai ini.
Perwujudan sesungguhnya dari sistem ini adalah
melalui penggunaan sumber referensi dan hyperlink. Setiap esai dapat memiliki
hyperlink yang akan mengarahkan ke esai yang bersangkutan, misalnya kalau ada
penjelasan yang utamanya dibahas oleh esai lain. Jika ada esai yang berdasarkan
oleh esai lain, atau memakai argumen pendukung dari esai lain, dapat dicantumkan
sebagai suatu sumber referensi. Sehingga pada akhirnya dapat dibuat suatu skema
yang menunjukkan relasi unik antara setiap esai dalam suatu sistem yang besar.
Dalam sistem ini, memang harapanku adalah semua esai
dapat tergabung dalam sistem ini, tapi ada kemungkinan bahwa esai pribadi akan
cukup terpisah dari esai umum dan esai filsafat. Sebab esai pribadi pada
dasarnya bercerita tentang diriku sendiri, tapi tidak mustahil bahwa pada
esai-esai pribadi tertentu aku akan menggunakan argumen pendukung dari suatu
esai lain, terutama esai filsafat. Namun jika ada esai-esai pribadi yang
terisolasikan, walau ini tidak begitu mungkin, tetap tidak apa-apa.
Esai umum dan esai filsafat pasti akan membentuk
suatu sistem keterhubungan yang sangat kuat, karena seperti yang telah dikatakan
sebelumnya, fungsi lain esai umum adalah mengintegrasikan realitas empiris
dengan realitas filsafat. Maka esai umum yang paling akhir atau tinggi harusnya
esai umum yang filosofis, yang menggunakan argumen pendukung dari esai
filsafat. Supaya benar-benar terlihat keterkaitannya, pastilah esai filsafat
yang bersangkutan akan dicantumkan sebagai suatu sumber referensi dan juga
sebagai hyperlink. Dengan itu sistem esai akan cukup didominasi oleh sistem
esai umum dan esai filsafat.
Walaupun antara esai pribadi dengan esai lainnya
akan sedikit terisolasi, tapi dalam kategori esai pribadi itu sendiri pastilah
akan terbentuk suatu sistem. Sebab sederhana saja, esai pribadi memiliki tujuan
inti untuk menguak diriku sendiri, dan karena aku adalah suatu satu kesatuan
pribadi, maka pastinya antara setiap esai pribadi akan ada hubungan yang
mencerminkan relasi antara setiap komponen diriku.
Sama halnya dengan esai filsafat, tidak hanya ia
berelasi dengan esai umum, tapi dalam kategori internalnya juga terbentuk suatu
sistem esai filsafat yang komprehensif. Hal ini dikarenakan pemahaman mengenai
esai filsafat dan ilmu filsafat yang sebelumnya. Karena ilmu filsafat adalah
suatu satu kesatuan, maka antara setiap esai filsafat harus menunjukkan
kesatuan sistematis tersebut. Hal ini juga sudah disebutkan pada bagian esai
filsafat, jadi harusnya sudah cukup jelas.
Berbeda dengan keduanya adalah esai umum, topik esai
umum tidak memiliki kategori yang benar-benar pasti, dan karena kondisi-kondisi
kini mayoritas esai umum akan cukup tercerai berai. Mungkin ada beberapa esai
umum yang saling terhubung, tapi untuk mayoritasnya tidak akan begitu
terhubung. Esai umum akan lebih banyak terhubung dengan esai filsafat, dan itu
pun hanya berlaku untuk esai umum yang filosofis. Jadi sebenarnya esai umum
lebih terisolasi dibanding dengan esai pribadi, dan bisa saja ada esai umum
yang sama sekali tidak terhubung dengan esai lain, walau harapannya tidak ada
yang seperti itu.
Berdasarkan pemahamanku dan pengetahuanku akan
pendapat orang lain tentang masalah-masalah seperti ini, idealnya sistem esaiku
tidak tertutup dan mungkin terhubung dengan tulisan-tulisan lain dari luar
diriku. Ini pastinya akan terjadi pula kalau ada esai-esai umum yang
membutuhkan sumber dari luar. Mekanisme ini akan dibahas pada suatu esai lain.
Dengan adanya sistem referensi tersebut, maka tercipta pula suatu relasi antara
sistem esaiku dengan tulisan-tulisan dari luar, sehingga sistem esaiku pun
semakin diperkaya.
Itu adalah rencana tahap pertama, yaitu sistem esai
dan kesatuan sistem esai tersebut. Tahap kedua adalah perampungan semua esai
dalam bentuk buku-buku atau karya-karya tulis yang menyatukan sistem-sistem
tersebut secara komprehensif. Ini berlaku untuk semua kategori esai, baik esai
filsafat, esai pribadi, dan esai umum. Rencana-rencana untuk setiap kategori
esai pun sudah aku jelaskan pada setiap bagian tersebut. Pada bagian ini aku
hanya akan menegaskan dan menjelaskan kembali rencanaku.
Untuk esai filsafat, hasil akhirnya adalah beberapa
buku, walau harapanku adalah satu buku yang besar yang menyatukan seluruh esai
filsafat, walau pasti hasilnya akan sangat tebal. Alternatifnya adalah beberapa
buku sesuai dengan topik-topik filsafat yang bersangkutan. Misalnya satu buku
metafisika khusus untuk metafisika, satu buku etika khusus untuk etika, dan seterusnya.
Tentu saja buku-buku filsafat ini tidak sama dengan mengumpulkan semua esai
filsafat menjadi satu karya, maka pastinya akan ada yang diringkas dan mungkin
isi buku tidak sepenuhnya sama dalam bahasa dengan esai filsafat.
Maka harapanku adalah semua esai filsafatku juga
dapat kutata dan kupublikasikan sebagai satu kompilasi esai yang panjang dan
tebal. Ini akan menjadi sumber referensi untuk buku filsafatku supaya segala
informasi yang membutuhkan penjelasan lebih dapat langsung diarahkan pada esai-esai
filsafatku. Hal yang pasti adalah buku filsafatku tetap identik dalam isi
dengan esai filsafatku, tapi memang jauh lebih ringkas dan karena itu kalau ada
yang kurang jelas bisa diarahkan kembali ke esai yang bersangkutan.
Sebenarnya untuk semua esaiku akan kubuatkan suatu
karya kompilasi yang menjadi kumpulan semua esaiku, dan dipublikasikan sebagai
satu karya yang besar, satu karya untuk setiap kategori. Jadi satu kompilasi
esai filsafat, satu kompilasi esai umum, dan satu kompilasi esai pribadi.
Tujuan kompilasi-kompilasi ini supaya memang esai-esaiku terkodifikasi dan juga
sebagai suatu sumber referensi untuk buku-buku yang akan kugunakan. Blog memang
sudah ada, tapi karya kompilasi untuk memformalkan semuanya dan sebagai suatu
perangkuman atas segala yang telah dikerjakan.
Untuk esai umum, seperti yang telah dikatakan
sebelumnya, bentuk akhir esai umum bukan lagi esai-esai yang hanya untuk rekreasi
melainkan sebagai integrasi antara realitas empiris dengan realitas filsafat. Jadi
bisa saja esai-esai umum yang memiliki suatu kesamaan topik, misalnya perang,
disatukan dan dianalisis menurut perspektif filsafat, baik perang secara umum
ataupun sejarah peperangan dan segala masalahnya. Buku-buku esai umum ini juga
akan kembali merujuk pada esai-esai umum yang bersangkutan jika dibutuhkan
suatu kejelasan, atau bahkan ikut merujuk pada esai-esai filsafat.
Untuk esai pribadi, karya paling terakhir adalah suatu
otobiografi, tentu saja otobiografi ini tidak hanya deskriptif tapi juga
analitik, menceritakan tentang pola sebab-akibat dalam hidupku, mengapa hal-hal
terjadi dan bagaimana pribadiku terbentuk selama hidupku. Otobiografi ini akan
merangkum dari segala esai pribadi yang telah kutulis, dan pastinya pada
bagian-bagian tertentu akan merujuk kembali pada esai-esai pribadi yang telah
kutulis. Pada otobiografi inilah, semua esai pribadi yang sebelumnya tidak
dipublikasikan, akan dibuka pada akhirnya bagi khalayak umum, beserta dengan
kompilasi esai pribadi.
Maka demikianlah rencana jangka panjangku terkait
esai-esai ini. Rencana jangka panjang ini kemungkinan akan menjadi suatu upaya
seumur hidup dan baru selesai setelah puluhan tahun. Karena itu pastinya masih
sangat panjang baiknya kita melihat pula rencana awalku untuk esai-esaiku. Untuk
jangka waktu yang lebih dekat, aku sudah merencanakan serangkaian esai yang
sebenarnya akan sedikit aneh karena seperti esai ini, mereka akan sulit
dikategorikan secara spesifik.
Esai-esai berikutnya adalah untuk mempersiapkan dan
memantapkan pola penulisan esai, atau pula mempersiapkan kategori-kategori esai
masing-masing. Hal yang pasti akan kutulis adalah mengenai esai-esai pertama
dalam kategori esai filsafat, yang akan banyak mengkritik realitas empiris yang
kini, juga berbagai macam ilmu filsafat yang sekarang dipegang. Sesuai yang
telah dikatakan, serangkaian kritik ini akan dipakai sebagai dasar dan titik
awal akan seluruh ilmu filsafat.
Kritik-kritik ini, walau sebagian bersifat filsafat
tapi dapat dikategorikan sebagai esai umum, dan terkadang ada beberapa esai
yang juga terkesan sebagai esai pribadi. Sebab ini untuk mengadakan suatu
fondasi terutama untuk esai pribadi dan juga esai filsafat tapi terlebih esai
filsafat. Esai pribadi sebenarnya tidak membutuhkan fondasi secara publik
karena juga tidak akan dipublikasikan sebelum waktunya dan juga esai umum
karena topiknya sangat bervariasi, esai fondasi untuk filsafat hanya menjadi
yang “pertama” dalam esai umum.
Sebenarnya, esai ini sendiri sudah merupakan langkah
pertama dari segala rencana esai ini, dan memang aku sendiri tidak tahu
bagaimana cara mengkategorikan esai ini. Anggaplah esai ini adalah esai yang
pertama dari segala esai, dan suatu esai tentang esai bagiku pantas untuk
mengenalkan diriku dan pembaca kepada dunia esai yang indah dan menarik. Maka
dengan pernyataan itu baiknya kita mulai menutup esai ini.
Akhir Kata
Dengan esai ini dapat dirangkum mengapa esai menjadi
suatu alat yang lebih baik dari manuskrip untuk pengungkapan pendapat atau
pembuktian kebenaran. Bahwa esai terfokus pada satu ide saja, yang artinya ide
itu akan dibahas dengan lebih mendalam dan justifikasinya juga lebih kuat. Esai
juga fleksibel karena kekhasannya hanyalah bahwa ia memiliki satu ide, dan
karena itu dapat dipakai mulai dari filsafat, topik umum, bahkan sampai topik
yang personal.
Esai bagaikan tombak atau amunisi yang menjadi
peluru utama dalam mendobrak tatantan ilmu pengetahuan, atau pula sebagai batu
bata atau suatu bahan baku untuk membangun suatu bangunan. Esai, yang
perlahan-lahan ditulis, semakin lama semakin membangun dan juga saling
berelasi, sampai akhirnya menjadi suatu satu kesatuan sistem yang dapat
dimanfaatkan dalam kehidupan praktis ataupun teoritis. Itulah suatu esai.
Maka adapula beberapa esai di masa depan yang sudah
aku pikirkan secara pasti adalah masalah-masalah mengenai logika dan lebih
utama lagi mengenai sitasi dan referensi, yang akan membenarkan bagaimana aku
menggunakan sitasi dan referensi di semua esaiku. Aku juga berencana bercerita
sedikit tentang bagaimana aku menulis esaiku dan bagaimana pula aku menerjemahkan
esai ke bahasa Inggris. Untuk sekarang, aku rasa cukuplah sudah esai ini,
sebagai esai pertama untuk menetapkan segala esai lainnya. Tuhan memberkati.