Pada
tulisan sebelumnya kita telah menemukan suatu sifat kenyataan yang paling
mendasar dan paling murni, yaitu sifat kesadaran. Bahwa di dasar segala sesuatu
kenyataan adalah suatu entitas yang dapat menyadari dan memahami dirinya sendiri,
juga menyebabkan dirinya sendiri. Dalam istilah awam kita mengenal sifat ini
sebagai kebebasan, salah satu nilai yang juga seringkali dianut dan didambakan
oleh berbagai kelompok umat manusia. Kebebasan dalam hal ini akan kita rumuskan
dan teliti secara filsafat, yaitu sebagai suatu karakter esensi dari kenyataan.
Kebebasan dalam hal ini artinya kondisi di mana suatu entitas tidak dipengaruhi
atau dikendalikan oleh entitas yang di luar dirinya sendiri, melainkan ia
memiliki kuasa sepenuhnya atas dirinya sendiri.
Memang
benar bahwa segala hal di dunia ini adalah satu kesatuan, jadi mau tidak mau
setiap entitas sudah dikendalikan oleh dirinya sendiri. Hal yang menjadi
pembeda adalah kesadaran entitas itu terhadap entitas lainnya, dan juga dirinya
sendiri. Sebab cenderung suatu roh hanya memiliki sudut pandang terbatas
terhadap dirinya sendiri, dan belum memahami bahwa roh-roh lainnya dan dirinya
adalah satu kesatuan. Ketidakpahaman dan ketidaksadaran ini yang menciptakan
ketidakbebasan, dan adanya ilusi akan keterpisahan kenyataan. Oleh sebab itu,
yang dinamakan dengan kebebasan tidak merujuk pada kondisi metafisis, melainkan
bergantung sepenuhnya pada kondisi intelektual dan juga epistemologis dari
suatu roh.
Lalu
bagaimanakah sifat kebebasan ini tercermin secara konkrit dalam suatu
kesadaran? Sesungguhnya sifat kebebasan ini dapat kita perpanjang dan dipecah
menjadi berbagai sifat lainnya yang unik dan harus dipahami. Namun dalam
kondisi ini kita hanya mengetahui kesadaran sebagai entitas yang bebas yang
dapat menyatakan dan menyebabkan dirinya sendiri. Suatu sudut pandang
materialis dapat diambil, dan kita dapat mendeduksikan mengenai sifat fisika
dari kesadaran, tapi itu bukan objek dari filsafat jadi kita tidak akan
membahas masalah tersebut. Untuk mengetahui sifat-sifat lain dari kesadaran,
kita harus membuat suatu hubungan logis antara dunia yang kita ketahui, dan
kesadaran murni.
Pada
kondisi kesadaran yang paling murni, tidak ada yang dapat kita ketahui selain
kesadaran itu sendiri. Kalau kita mengambil sudut pandang kesadaran murni itu,
yang tidak terbagi ataupun tertata, yang kita lihat bukanlah kegelapan.
Melainkan suatu kekacauan murni yang kalau dialami oleh otak manusia
kemungkinan besar akan menghancurkan otak manusia. Alasannya sederhana, karena
segala dari kenyataan pada hakikatnya, adalah kesadaran murni maka jelas saja
segala hal lain yang sepertinya unik atau berbeda dari kesadaran, pada akhirnya
hanya perpanjangan dari kenyataan dasar itu. Sama saja dengan warna-warna dalam
pelangi yang sejatinya hanya potongan-potongan dari suatu hal yang lebih luas
yaitu cahaya kasat mata.
Walau
begitu, tidak salah bagi kita untuk mengatakan bahwa dalam kondisi paling murni
kita juga akan melihat kegelapan. Atau justru hanya kegelapan dan suatu keheningan
yang mencekam yang dapat kita “rasakan”. Karena kita belum mengetahui apapun dan
belum menyadari apapun kecuali keberadaan diri kita sendiri. Namun mendalami
lebih mengenai kegelapan dan kekacauan akan membawa kita pada hal-hal yang
lebih rumit seperti sejarah kenyataan dan masalah-masalah seperti ketuhanan.
Oleh karena itu, kita akan berhenti sampai pada hubungan mendasar antara
kesadaran dan dunia kita sekarang. Bahwa dunia yang kita ketahui dan kita
hidupi, hanyalah wujud dan pengejawantahan lebih rumit dari kesadaran murni
pada awalnya.
Untuk
menentukan sifat dasar kebebasan yang konkrit, kita harus memulai dari asumsi
manusiawi, yaitu pengalaman manusiawi sehari-hari kita sebab manusia memang
adalah mahluk paling sadar yang dapat diamati secara empiris. Dalam kehidupan
sehari-hari kita sering kali mengenal apa yang dinamakan dengan logika atau
pikiran, dan perasaan atau hati. Orang cenderung berpandang bahwa logika fokus
pada apa yang benar dan perasaan fokus pada apa yang baik. Pembedaan itu secara
filsafat kurang tepat, tapi juga tidak salah sepenuhnya, karena memang logika
dan perasaan menyentuh aspek-aspek kenyataan yang berbeda. Dan untuk memahami
lebih lanjut apa itu logika dan sensasi kita harus kembali pada kebebasan.
Logika
pada dasarnya dapat dikatakan sebagai cara kita “melihat” dunia, dan “melihat”
kenyataan secara keseluruhan. Dalam perspektif lama, logika adalah cara
bernalar, atau berpikir, dan secara khusus cara menyimpulkan. Kesimpulan dalam
hal ini maksudnya suatu pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan lama. Kalau kita
melihat sepotong demi sepotong ini memang tidak salah. Logika pada umumnya
memang memiliki wujud menentukan apa yang benar kalau dua potong informasi
benar. Namun dalam perspektif kebebasan, logika bukan sekadar menghasilkan
pengetahuan baru atau menentukan kebenaran argumen.
Bahkan,
mengatakan bahwa dihasilkan suatu pengetahuan baru adalah pernyataan yang
menyesatkan, karena tidak ada yang baru di dunia ini. Segala pengetahuan,
wujud, dan kondisi sudah ada, tetap ada, dan akan terus ada. Hal yang
membedakan adalah apakah kita menyadarinya atau tidak. Selain itu, logika dasar
dapat kita gambarkan dan terjemahkan dalam suatu teori matematika yang juga
mendasar yaitu teori himpunan. Dengan menggambarkan premis-premis dalam bentuk
diagram venn kita dapat melihat apa konklusinya. Namun harus dipahami pula
bahwa tidak ada hal yang baru dalam penggambaran diagram venn, kedua himpunan
sudah ada sebelumnya dan himpunan-himpunan “baru” juga sudah ada. Kita hanya
menjelaskan dan menyadari saja kenyataan yang digambarkan secara penuh. Itulah kenapa logika dapat dikatakan sebagai “melihat”,
saat awalnya kita hanya mendengar saja apa yang ada, lalu kita melihat dan
dapat menyadari kenyataan yang utuh.
Sebagai
perpanjangan logika dapat dikatakan pula sebagai metode untuk menyadari, atau
mengetahui konsekuensi dari kondisi yang ada, dan melihat hubungan-hubungan
yang terjadi. Perubahan dan pengetahuan tentang hal tersebut dapat dikatakan
sebagai bagian dari logika pula. Melalui logika kita dapat mengetahui
segalanya, tanpa harus pernah melihat atau mengalaminya. Dan konsepsi ini kita
alami pula setiap hari, misal mayoritas dari kita tahu bahwa ditusuk di jantung
akan menyebabkan kematian. Tentu kita tidak pernah mengalaminya, tapi tanpa
mengalami kita dapat tahu hal seperti itu akan terjadi. Maka logika adalah
suatu kebebasan yang tak terikat waktu ataupun kondisi. Kalau kita memahami
segala parameternya, kita bisa saja menjelaskan masa depan secara akurat.
Logika adalah cara mengetahui, tanpa melihat, mendengar, ataupun meraba objek.
Berbeda
dengan logika yang tak terikat waktu, perasaan sangat terikat pada kondisi dan
waktu. Walaupun kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan perasaan adalah “sensasi”,
seperti sensasi fisik, sensasi nikmat, atau sensasi saja. Dalam logika, kita
melihat suatu hal sebagai seorang pengamat tanpa menjadi objek yang diamati.
Dalam sensasi, kita yang menjadi objek tersebut. Maksud dari sensasi ialah
merasakan dan juga mengetahui pengaruh dari suatu benda atau kondisi pada diri
kita sendiri. Dan juga mengambil bagian dalam keberadaan suatu objek. Misalnya
penglihatan cahaya, adalah sensasi terhadap rupa suatu objek yang dipantulkan
melalui cahaya. Dalam gelap malam misalnya, kita tetap dapat mengetahui rupa
benda saat dalam cahaya, tapi tidak mengalaminya.
Sensasi
juga sangat terikat pada kondisi dan waktu karena memang itu definisi dari
sensasi. Sensasi atau perasaan adalah bagaimana kita dapat merasakan apa yang
terjadi pada suatu saat tertentu secara kontinuu dari satu waktu ke waktu yang
lain. Hal paling sederhana adalah segala panca indera, tapi emosi juga dapat
digolongkan sebagai suatu sensasi. Dan tentu sensasi yang paling dasar adalah
sensasi akan kenyataan. Yaitu mengetahui rasanya untuk “berada”, sensasi jenis
ini hampir sama dengan logika karena tidak terikat apapun. Tentu saja ini
karena keberadaan adalah hal yang mutlak dan paling hakikat dari kenyataan,
jadi sensasi terhadap keberadaan akan terus ada, baik kita menyadarinya atau
tidak.
Secara
metafisik, sensasi memang ada sebelum logika dan secara logika sendiri juga
sensasi ada lebih dahulu. Sebab premis-premis awal dalam logika diadakan dari
sensasi baru kita nalar dan lihat lebih jauh. Sebelum mengetahui apapun di
dunia ini, kita tetap memiliki sensasi dan dari sensasi itu muncullah logika. Namun
dalam hidup, logika harus diutamakan di atas sensasi sebagai pedoman hidup,
alasannya cukup panjang karena menyentuh hal yang lebih jauh yaitu etika.
Intinya, logika mengacu pada hal-hal yang pasti akan terjadi dan membantu kita
menyesuaikan dengan sensasi yang sangat variatif. Meski begitu, secara bebas
kedua unsur kesadaran ini sama derajatnya dan sama pentingnya. Logika membantu
kita mengetahui apa yang di luar jangkauan sensasi, dan sensasi membantu kita
mendalami apa yang terjadi saat ini.
No comments:
Post a Comment