Friday, February 1, 2019

Sifat-Sifat Kesadaran


Pada tulisan sebelumnya kita telah menemukan suatu sifat kenyataan yang paling mendasar dan paling murni, yaitu sifat kesadaran. Bahwa di dasar segala sesuatu kenyataan adalah suatu entitas yang dapat menyadari dan memahami dirinya sendiri, juga menyebabkan dirinya sendiri. Dalam istilah awam kita mengenal sifat ini sebagai kebebasan, salah satu nilai yang juga seringkali dianut dan didambakan oleh berbagai kelompok umat manusia. Kebebasan dalam hal ini akan kita rumuskan dan teliti secara filsafat, yaitu sebagai suatu karakter esensi dari kenyataan. Kebebasan dalam hal ini artinya kondisi di mana suatu entitas tidak dipengaruhi atau dikendalikan oleh entitas yang di luar dirinya sendiri, melainkan ia memiliki kuasa sepenuhnya atas dirinya sendiri.

Memang benar bahwa segala hal di dunia ini adalah satu kesatuan, jadi mau tidak mau setiap entitas sudah dikendalikan oleh dirinya sendiri. Hal yang menjadi pembeda adalah kesadaran entitas itu terhadap entitas lainnya, dan juga dirinya sendiri. Sebab cenderung suatu roh hanya memiliki sudut pandang terbatas terhadap dirinya sendiri, dan belum memahami bahwa roh-roh lainnya dan dirinya adalah satu kesatuan. Ketidakpahaman dan ketidaksadaran ini yang menciptakan ketidakbebasan, dan adanya ilusi akan keterpisahan kenyataan. Oleh sebab itu, yang dinamakan dengan kebebasan tidak merujuk pada kondisi metafisis, melainkan bergantung sepenuhnya pada kondisi intelektual dan juga epistemologis dari suatu roh.

Lalu bagaimanakah sifat kebebasan ini tercermin secara konkrit dalam suatu kesadaran? Sesungguhnya sifat kebebasan ini dapat kita perpanjang dan dipecah menjadi berbagai sifat lainnya yang unik dan harus dipahami. Namun dalam kondisi ini kita hanya mengetahui kesadaran sebagai entitas yang bebas yang dapat menyatakan dan menyebabkan dirinya sendiri. Suatu sudut pandang materialis dapat diambil, dan kita dapat mendeduksikan mengenai sifat fisika dari kesadaran, tapi itu bukan objek dari filsafat jadi kita tidak akan membahas masalah tersebut. Untuk mengetahui sifat-sifat lain dari kesadaran, kita harus membuat suatu hubungan logis antara dunia yang kita ketahui, dan kesadaran murni.

Pada kondisi kesadaran yang paling murni, tidak ada yang dapat kita ketahui selain kesadaran itu sendiri. Kalau kita mengambil sudut pandang kesadaran murni itu, yang tidak terbagi ataupun tertata, yang kita lihat bukanlah kegelapan. Melainkan suatu kekacauan murni yang kalau dialami oleh otak manusia kemungkinan besar akan menghancurkan otak manusia. Alasannya sederhana, karena segala dari kenyataan pada hakikatnya, adalah kesadaran murni maka jelas saja segala hal lain yang sepertinya unik atau berbeda dari kesadaran, pada akhirnya hanya perpanjangan dari kenyataan dasar itu. Sama saja dengan warna-warna dalam pelangi yang sejatinya hanya potongan-potongan dari suatu hal yang lebih luas yaitu cahaya kasat mata.

Walau begitu, tidak salah bagi kita untuk mengatakan bahwa dalam kondisi paling murni kita juga akan melihat kegelapan. Atau justru hanya kegelapan dan suatu keheningan yang mencekam yang dapat kita “rasakan”. Karena kita belum mengetahui apapun dan belum menyadari apapun kecuali keberadaan diri kita sendiri. Namun mendalami lebih mengenai kegelapan dan kekacauan akan membawa kita pada hal-hal yang lebih rumit seperti sejarah kenyataan dan masalah-masalah seperti ketuhanan. Oleh karena itu, kita akan berhenti sampai pada hubungan mendasar antara kesadaran dan dunia kita sekarang. Bahwa dunia yang kita ketahui dan kita hidupi, hanyalah wujud dan pengejawantahan lebih rumit dari kesadaran murni pada awalnya.

Untuk menentukan sifat dasar kebebasan yang konkrit, kita harus memulai dari asumsi manusiawi, yaitu pengalaman manusiawi sehari-hari kita sebab manusia memang adalah mahluk paling sadar yang dapat diamati secara empiris. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali mengenal apa yang dinamakan dengan logika atau pikiran, dan perasaan atau hati. Orang cenderung berpandang bahwa logika fokus pada apa yang benar dan perasaan fokus pada apa yang baik. Pembedaan itu secara filsafat kurang tepat, tapi juga tidak salah sepenuhnya, karena memang logika dan perasaan menyentuh aspek-aspek kenyataan yang berbeda. Dan untuk memahami lebih lanjut apa itu logika dan sensasi kita harus kembali pada kebebasan.

Logika pada dasarnya dapat dikatakan sebagai cara kita “melihat” dunia, dan “melihat” kenyataan secara keseluruhan. Dalam perspektif lama, logika adalah cara bernalar, atau berpikir, dan secara khusus cara menyimpulkan. Kesimpulan dalam hal ini maksudnya suatu pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan lama. Kalau kita melihat sepotong demi sepotong ini memang tidak salah. Logika pada umumnya memang memiliki wujud menentukan apa yang benar kalau dua potong informasi benar. Namun dalam perspektif kebebasan, logika bukan sekadar menghasilkan pengetahuan baru atau menentukan kebenaran argumen.

Bahkan, mengatakan bahwa dihasilkan suatu pengetahuan baru adalah pernyataan yang menyesatkan, karena tidak ada yang baru di dunia ini. Segala pengetahuan, wujud, dan kondisi sudah ada, tetap ada, dan akan terus ada. Hal yang membedakan adalah apakah kita menyadarinya atau tidak. Selain itu, logika dasar dapat kita gambarkan dan terjemahkan dalam suatu teori matematika yang juga mendasar yaitu teori himpunan. Dengan menggambarkan premis-premis dalam bentuk diagram venn kita dapat melihat apa konklusinya. Namun harus dipahami pula bahwa tidak ada hal yang baru dalam penggambaran diagram venn, kedua himpunan sudah ada sebelumnya dan himpunan-himpunan “baru” juga sudah ada. Kita hanya menjelaskan dan menyadari saja kenyataan yang digambarkan secara penuh.  Itulah kenapa logika dapat dikatakan sebagai “melihat”, saat awalnya kita hanya mendengar saja apa yang ada, lalu kita melihat dan dapat menyadari kenyataan yang utuh.

Sebagai perpanjangan logika dapat dikatakan pula sebagai metode untuk menyadari, atau mengetahui konsekuensi dari kondisi yang ada, dan melihat hubungan-hubungan yang terjadi. Perubahan dan pengetahuan tentang hal tersebut dapat dikatakan sebagai bagian dari logika pula. Melalui logika kita dapat mengetahui segalanya, tanpa harus pernah melihat atau mengalaminya. Dan konsepsi ini kita alami pula setiap hari, misal mayoritas dari kita tahu bahwa ditusuk di jantung akan menyebabkan kematian. Tentu kita tidak pernah mengalaminya, tapi tanpa mengalami kita dapat tahu hal seperti itu akan terjadi. Maka logika adalah suatu kebebasan yang tak terikat waktu ataupun kondisi. Kalau kita memahami segala parameternya, kita bisa saja menjelaskan masa depan secara akurat. Logika adalah cara mengetahui, tanpa melihat, mendengar, ataupun meraba objek.

Berbeda dengan logika yang tak terikat waktu, perasaan sangat terikat pada kondisi dan waktu. Walaupun kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan perasaan adalah “sensasi”, seperti sensasi fisik, sensasi nikmat, atau sensasi saja. Dalam logika, kita melihat suatu hal sebagai seorang pengamat tanpa menjadi objek yang diamati. Dalam sensasi, kita yang menjadi objek tersebut. Maksud dari sensasi ialah merasakan dan juga mengetahui pengaruh dari suatu benda atau kondisi pada diri kita sendiri. Dan juga mengambil bagian dalam keberadaan suatu objek. Misalnya penglihatan cahaya, adalah sensasi terhadap rupa suatu objek yang dipantulkan melalui cahaya. Dalam gelap malam misalnya, kita tetap dapat mengetahui rupa benda saat dalam cahaya, tapi tidak mengalaminya.

Sensasi juga sangat terikat pada kondisi dan waktu karena memang itu definisi dari sensasi. Sensasi atau perasaan adalah bagaimana kita dapat merasakan apa yang terjadi pada suatu saat tertentu secara kontinuu dari satu waktu ke waktu yang lain. Hal paling sederhana adalah segala panca indera, tapi emosi juga dapat digolongkan sebagai suatu sensasi. Dan tentu sensasi yang paling dasar adalah sensasi akan kenyataan. Yaitu mengetahui rasanya untuk “berada”, sensasi jenis ini hampir sama dengan logika karena tidak terikat apapun. Tentu saja ini karena keberadaan adalah hal yang mutlak dan paling hakikat dari kenyataan, jadi sensasi terhadap keberadaan akan terus ada, baik kita menyadarinya atau tidak.

Secara metafisik, sensasi memang ada sebelum logika dan secara logika sendiri juga sensasi ada lebih dahulu. Sebab premis-premis awal dalam logika diadakan dari sensasi baru kita nalar dan lihat lebih jauh. Sebelum mengetahui apapun di dunia ini, kita tetap memiliki sensasi dan dari sensasi itu muncullah logika. Namun dalam hidup, logika harus diutamakan di atas sensasi sebagai pedoman hidup, alasannya cukup panjang karena menyentuh hal yang lebih jauh yaitu etika. Intinya, logika mengacu pada hal-hal yang pasti akan terjadi dan membantu kita menyesuaikan dengan sensasi yang sangat variatif. Meski begitu, secara bebas kedua unsur kesadaran ini sama derajatnya dan sama pentingnya. Logika membantu kita mengetahui apa yang di luar jangkauan sensasi, dan sensasi membantu kita mendalami apa yang terjadi saat ini.

 Lalu bagaimana dengan yang dinamakan dengan emosi? Emosi memang dijelaskan sebagai bagian dari sensasi, tapi apakah emosi itu sendiri? Untuk menjawab pertanyaan tersebut akan melibatkan kita mendalami masalah-masalah etika dan tujuan kenyataan, dan itu bukan tujuan dari tulisan kali ini. Mengetahui logika dan sensasi sebagai unsur kesadaran sepertinya tidak berguna karena sangat “niscaya” sifatnya. Namun ini akan menjadi penting dalam penelusuran lebih lanjut terhadap apa yang benar, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh umat manusia. Dan karena itulah pada berikutnya akan didalami lebih lanjut, apa itu makna hidup manusia, dan seluruh mahluk semesta, Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment