Pendahuluan
Pada
abad ke 21 ini, sudah banyak sekali bidang-bidang ilmu pengetahuan yang
semuanya berguna bagi umat manusia. Masalahnya, bidang-bidang tersebut
cenderung jarang ditunjukkan hubungan antar satu ilmu dengan ilmu lainnya
dengan kuat. Maka, terkadang ilmu-ilmu pengetahuan yang ada terlihat terpisah
dan berantakan karena kesannya tidak ada hubungan antara satu ilmu dengan ilmu
yang lain. Kecenderungan ini juga berpengaruh pada setiap ilmu pengetahuan ini,
karena setiap ilmu harus memiliki asumsi asumsi dasar, asumsi inilah yang kerap
menjadi salah. Padahal, paham bahwa setiap ilmu pengetahuan atau aspek dunia
itu terpisah sangatlah salah, karena segala hal itu terkait dan terhubung, maka
itulah yang akan dibahas pada tulisan ini, keterkaitan teori.
Keterkaitan Ilmu Alam
Ilmu-ilmu
alam yaitu ilmu yang hampir secara eksklusif mempelajari mekanisme dari dunia
materi, terlepas dari ide manusia, biasanya sangat disadari keterkaitannya.
Walau begitu permasalahan ilmu alam akan tetap dibahas, terutama pada trias
ilmu alam yaitu fisika, kimia, dan biologi. Fisika pada dasarnya adalah suatu
ilmu yang mempelajari mekanisme dasar dari alam semesta, baik dalam skala
relativis seperti galaksi dan bintang-bintang, maupun skala kuantum seperti
atom-atom atau partikel subatomik. Selanjutnya adalah ilmu kimia, kimia
sebenarnya hanya mempelajari bagaimana susunan-susunan partikel yang berbeda
berpengaruh pada sifatnya secara fisik. Misalkan perbedaan antara asam dan basa,
reaksi kimia, dan seterusnya. Ilmu paling rumit adalah ilmu biologi, yang
mempelajari bagaimana reaksi reaksi kimia bisa memicu suatu sistem kimiawi yang
konstan serta sifat sifat dari sistem tersebut alias kehidupan.
Dari
pembahasan tersebut kita sudah bisa mengetahui bagaimana ilmu alam itu sangat
terkait antara satu ilmu dengan ilmu lainnya. Selain itu, ilmu-ilmu terapannya
biasanya membutuhkan gabungan antara dua ilmu atau mungkin lebih. Misalnya,
ilmu biomedika, kedokteran, atau obat-obatan mengharuskan seseorang untuk
memahami permasalahan kimiawi dan juga memahami pengaruh, interaksi, dan
hubungannya dengan sistem biologis, supaya bisa membuat pengobatan yang tepat
untuk menyembuhkan penyakit. Mempelajari ilmu tentang bahan energi alternatif
memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, karena harus memahami tentang
bahan bakar dengan susunan kimia sedemikian rupa dan efisiensinya dalam ilmu
fisika. Kalau bahan bakar tersebut melibatkan mahluk hidup, maka lengkap sudah
trias ilmu alam. Ini menunjukkan bahwa ilmu alam sangat terkait.
Keterkaitan Ilmu Sosial
Ilmu
sosial di dunia masih sangat jauh di belakang dibandingkan dengan ilmu alam.
Maka terkadang keterkaitan antar satu ilmu dengan ilmu yang lain kurang
terdefinisikan. Walau begitu, setiap ilmu sosial masih sangat terkait antar
satu ilmu dengan yang lain. Ilmu sosial pada hakikatnya adalah suatu ilmu yang
secara eksklusif mempelajari manusia, tapi berbeda dengan ilmu alam. Kalau ilmu
alam mempelajari manusia sebagai sistem biologis, ilmu sosial mempelajari
manusia sebagai suatu entitas kesadaran. Sulit untuk mengatakan ilmu sosial
mana yang menjadi ilmu dasar, namun ada beberapa ilmu penting yang akan dibahas
pada bagian ini, yaitu ilmu psikologi, ilmu sosiologi, ilmu antropologi, ilmu
geografi, dan ilmu ekonomi.
Ilmu
psikologi adalah ilmu yang mempelajari sikap, perilaku, dan aspek mental dari
seorang individu. Sementara itu, ilmu sosiologi mengkaji hubungan antar
individu, kelompok individu, dan pengaruhnya terhadap individu tersebut. Di
lain pihak, ilmu geografi mempelajari hubungan dan interaksi manusia dengan
bumi, maka geografi bisa dianggap sebagai jembatan antara ilmu alam dan ilmu
sosial, dan ilmu antropologi mempelajari tentang kebudayaan manusia. Terakhir,
ilmu ekonomi mempelajari bagaimana sumber daya yang terbatas bisa digunakan
untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Dari
pembahasan di atas belum terlihat bagaimana semua ilmu itu terkait, tapi
setelah penjelasan berikut ini harusnya menjadi jelas. Pada dasarnya, manusia
tinggal di berbagai macam tempat yang terpisah, dan secara geografis setiap
wilayah memiliki sifat dan keunikannya masing masing. Maka, setiap kelompok
manusia pasti akan dipengaruhi oleh sifat-sifat geografis dari wilayah tempat
tinggal mereka. Hal ini menyebabkan timbulnya perbedaan antara paham dan sikap
perilaku setiap kelompok manusia, maka muncullah yang namanya kebudayaan,
sehingga ilmu geografi dan ilmu antropologi menjadi terhubung.
Sementara
itu, setiap kelompok sosial pastinya menjadi berbeda dan ini berarti ilmu
sosiologi harus memperhatikan kebudaayan yang berbeda dan juga lokasi yang
berbeda, sehingga tercipta keterkaitan dengan ilmu antropologi, belum lagi
segala hal ini pastinya akan mempengaruhi setiap individu, sehingga menjadi
terkait pula dengan ilmu psikologi. Terakhir, ilmu ekonomi akan sangat
terpengaruh oleh ilmu sosiologi, ilmu psikologi, dan ilmu antropologi, karena
akan mempengaruhi pola konsumsi dan manajemen sumber daya setiap kelompok
sosial. Selain itu, ilmu geografi juga berperan, sebab setiap wilayah memiliki
potensi sumber daya yang berbeda-beda, sehingga akan secara langsung
mempengaruhi pola ekonomi setiap kelompok. Dengan pembahasan di atas pastilah
jelas keterkaitan ilmu sosial, namun bagaimana dengan keterkaitan ilmu alam dan
ilmu sosial?
Keterkaitan Ilmu Alam-Sosial
Ilmu
alam dan ilmu sosial seringkali dikira sebagai dua cabang ilmu yang terpisah
dan berbeda. Namun pemahaman ini tidak bisa lebih jauh dari kebenaran, sebab
ilmu alam dan ilmu sosial sangatlah terkait, tapi apakah kita memiliki dasar
untuk hal ini? Dasarnya sangat jelas, sebab objek kajian dari ilmu alam, yaitu
dunia materi, beserta objek kajian dari ilmu sosial, yaitu manusia, terletak
pada kenyataan yang sama, yaitu di bumi dan juga alam semesta. Oleh sebab itu,
hanya dengan menjadi nyata, kedua obyek tersebut yaitu dunia dan manusia
pastilah saling berinteraksi, bagaimanapun caranya, sekecil apapun pengaruhnya,
dan inilah dasar terhadap keterkaitan antara ilmu alam dan sosial.
Salah
satu contoh paling konkrit dari ilmu pengetahuan yang secara khusus mempelajari
interaksi antara manusia dan buminya adalah geografi. Geografi cenderung
disamakan dengan geologi atau dengan kartografi, padahal geografi lebih luas
dari geologi dan kartografi. Orang berpikir bahwa geografi hanya mempelajari
tentang bumi dan pergerakan fisiknya, tapi itu adalah geologi, perpanjangan
dari geografi. Ada juga orang yang berpikir bahwa geografi adalah ilmu
pemetaan, padahal itu adalah kartografi, perpanjangan dari geografi. Geografi
menjadi jembatan jelas antara ilmu alam dan ilmu sosial, karena memiliki unsur
alamnya yaitu kebumian dan juga unsur sosial yaitu manusia. Namun, bagaimana
dengan ilmu-ilmu terapan lainnya?
Ilmu
psikologi adalah ilmu yang juga berada di wilayah perbatasan, karena walaupun
secara umum mempelajari tentang sikap perilaku seorang individu, ilmu ini juga
terhubung dengan neurologi atau ilmu saraf. Sebab saat seorang berperilaku atau
mengalami kondisi mental tertentu, maka ada bagian otak tertentu yang
teraktivasi atau dalam penyakit mental ada bagian otak yang cedera. Hal
tersebut adalah objek kajian dari ilmu saraf dan neurologi, yang merupakan ilmu
alam, maka sangat jelas bahwa ilmu psikologi dan ilmu saraf sangat terkait.
Sejauh ini, keterkaitan ilmu yang dibahas baru berupa hal hal teoritis,
bagaimana dengan praktisnya?
Permasalahan
manusia yang biasanya bersifat fisiologis atau hanya fisik bisa menjadi masalah
sosial yang berdampak luas pada individu dan masyarakat. Misalnya, jika
seseorang atau sekelompok orang kebutuhan biologisnya kurang dipenuhi, yang
secara umum kita definisikan sebagai kemiskinan, mereka bisa terdorong untuk
melakukan tindakan kriminal yang mempunyai dampak sosial yang serius. Trias
candu yaitu narkoba, seks bebas, dan alkohol pada hakikatnya adalah hal hal
yang secara langsung mempengaruhi otak manusia, tapi menjadi suatu masalah
sosial dan bahkan moral yang serius.
Selain
itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi yang merupakan terapan
dari ilmu alam yang teoritis juga sangat mempengaruhi sistem sosial dan ekonomi
yang ada. Misalnya, perkembangan ilmu alam yang pesat cenderung mulai membuat
manusia menjadi skeptis terhadap hal hal rohani dan meninggalkan Tuhan, sebab
mereka merasa ilmu alam bisa menjawab segalanya. Perkembangan teknologi serba
otomatis akan merubah wajah ekonomi dunia, karena bisa menghilangkan lapangan
pekerjaan dengan massal dan terjadi pengangguran yang luas. Perkembangan
teknologi kecerdasan buatan yang pesat juga menimbulkan kekhawatiran sosial dan
moral terhadap hakikat dan peran manusia dalam kenyataan.
Bagaimana
dengan pengaruh sosial terhadap alam? Sistem-sistem ekonomi yang agresif dan
tidak ramah lingkungan sangat berdampak pada bumi, dan bisa mengakibatkan
perubahan lingkungan yang begitu drastis. Perubahan ini tentunya akan
menciptakan lingkungan yang kurang atau bahkan tidak kondusif bagi kehidupan
manusia. Manusia dengan ilmu pengetahuannya yang luas dan cerdas justru
menciptakan ketidakseimbangan bagi obyek kajian ilmu tersebut dan menyebabkan
kerusakan yang luas. Semua ini menunjukkan hubungan erat antara ilmu alam dan
ilmu sosial. Akan tetapi, ada satu cabang ilmu lagi yang dilupakan dan mungkin
dianggap pseudosain alias palsu atau mirip ilmu alam, tapi mengada ada. Ilmu
tersebut adalah ilmu spiritual.
Ilmu Spiritual
Ilmu
spiritualitas, atau ilmu kerohanian, atau ilmu ketuhanan, merupakan suatu ilmu
yang sebenarnya ditentang oleh mayoritas kaum akademis. Mereka beranggapan
bahwa paham spiritualitas itu sebenarnya hanyalah khayalan, walaupun secara
resmi mayoritas akan berkata bahwa spiritualitas itu masalah pribadi dan
subyektif, maka tidak bisa kita teliti secara ilmiah. Masalahnya, sekarang
terdapat kesalahpahaman tentang ilmu spiritualitas atau kerohanian secara umum.
Bagaimana kesalahpahamannya?
Kesalahpahamannya
adalah bahwa spiritualitas itu secara langsung bertentangan dengan ilmu alam
yang sudah terbukti, dan membuat prediksi-prediksi atau hipotesis-hipotesis
yang tidak mungkin bisa diuji coba atau memang tidak masuk akal sejak awal.
Contohnya pandangan bahwa roh itu nyata, atau keberadaan alam setelah kematian,
semua hal ini dianggap tidak berdasar. Kedua hipotesis tersebut memang tidak
bisa diuji coba, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan
dipahami manusia saat ini. Tapi bukan berarti tidak akan pernah bisa diuji
coba.
Kenyataan
bahwa ada hipotesis-hipotesis spiritual yang sungguh tidak masuk akal adalah
benar, contohnya ada orang yang mulai berbicara tentang cakra-cakra atau paham
bahwa Atlantis sungguh ada dan memegang peranan spiritual yang penting, itu
memang sungguh-sungguh tidak masuk akal, setidaknya untuk saat ini. Tapi
pemikiran bahwa adanya roh dalam manusia, bahwa kematian hanya berarti
pemutusan hubungan antara roh dan dunia materi, dan adanya Tuhan yang menjadi
sumber segala kenyataan bukanlah pemikiran yang tidak masuk akal. Bahkan,
pemikiran ini lebih masuk akal dan bisa dibuktikan secara logika, matematis,
dan filsafat.
Maka,
paham bahwa ilmu spiritualitas adalah ilmu yang bertentangan dengan ilmu alam
yang pasti dan sudah dibuktikan adalah paham yang menyesatkan. Sebab
sesungguhnya kebenaran mengenai roh, kematian, dan Tuhan sudah bisa dibuktikan
dengan menganalisis implikasi-implikasi filsafat dari pernyataan-pernyataan
tersebut. Masalah utama dalam penelitian ilmu tentang roh adalah kita tidak
memiliki ilmu fisika dan teknologi yang cukup canggih untuk meneliti secara
pasti tentang masalah kerohanian. Masalah ini juga kerap kali digunakan sebagai
argumen melawan spiritualitas secara umum, namun argumen seperti itu
bermasalah, dan bisa ditanggapi dengan argumen kontra.
Paham
bahwa spiritualitas tidak mungkin benar sebab sampai saat ini belum ada bukti
yang memuaskan adalah paham yang sangat menyesatkan. Hal ini disebabkan
pernyataan tersebut bukan pernyataan rasional yang murni, atau sungguh-sungguh
dideduksikan dari fakta-fakta kenyataan yang ada, melainkan sudah dipengaruhi
oleh bias dan asumsi-asumsi menyesatkan manusia. Keyakinan bahwa kita telah
mencapai akhir dari segala penemuan fisika dan ilmu alam adalah keyakinan yang
sangat irasional. Sebab sejarah membuktikan bahwa dulu kala, ada orang-orang
hebat dan cerdas yang berpikir bahwa suatu bidang tertentu telah mencapai
batasnya. Siapakah mereka?
Ada
banyak sekali tokoh-tokoh sejarah yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak
akan berkembang lagi atau akan berubah sangat lambat. Contohnya, Orville Wright
mengatakan, “Manusia tidak akan terbang sampai 50 tahun,” pada tahun 1901, 2
tahun berikutnya Wright bersaudara menerbangkan pesawat terkontrol pertama.
Lalu suatu komentar dari William Siemens tentang bohlam lampu jangka panjang
karya Thomas Edison, “Kabar menggetarkan seperti itu harus dinyatakan sebagai
tidak layak untuk ilmu pengetahuan dan merusak pada perkembangan sesungguhnya,”
dan jelas komentar itu salah. Maka, sangat irasional untuk berpikir pada abad
ini, bahwa ilmu pengetahuan sudah berhenti berkembang dan spiritualitas itu salah
secara efektif. Kita hanya belum bisa meneliti spiritualitas secara langsung,
tapi bukan berarti spiritualitas ialah salah dan tidak benar.
Keterkaitan Ilmu Material-Imaterial
Maka
sekarang timbullah pertanyaan yang terakhir, apakah hubungan atau keterkaitan
sejati antara ilmu material dan ilmu imaterial, atau yang seringkali disebut
ilmu spiritualitas. Pada titik inilah kita tidak bisa membeda-bedakan antara
ilmu material dan ilmu material, sebab kedua ilmu itu sesungguhnya adalah
kesatuan ilmu yang tak terpisahkan. Apa maksudnya? Selama ini orang menganggap
bahwa ilmu materi dan ilmu imaterial itu terpisah dan berbeda. Padahal itu
adalah anggapan yang salah, sebab sesungguhnya lebih pantas disebut ilmu materi
dan ilmu transmateri atau ilmu energi. Mengapa begitu?
Pada
akhirnya, energi dan materi adalah dua hal yang sebenarnya sama, namun adalah
wujud yang berbeda dari wujud yang lain. Hal ini dibuktikan oleh Einstein
dengan rumus terkenalnya yaitu e=mc^2. Maka, ilmu material sebenarnya merujuk
pada ilmu tentang dunia yang bersifat materi, atau mempunyai massa dan memenuhi
sejumlah kriteria fisika lainnya. Sementara itu, ilmu imaterial, atau
spiritualitas, atau energi adalah ilmu tentang dunia energi, karena roh pada
hakikatnya adalah energi. Maka, kita bisa melihat bahwa sesungguhnya ilmu material
dan ilmu imaterial hanyalah bagian dari suatu kesatuan ilmu dan teori yang tak
bisa dipisahkan atau dikotak kotakkan.
Jadi,
apakah ada bukti konkrit dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi contoh
keterkaitan antara materi dan energi? Sederhana saja, lihatlah orang-orang
hebat di dunia, apakah mereka hebat hanya karena sekadar kondisi materi yang
mendukung? Bukankah ada banyak orang yang mengalami hal yang sama, tapi mengapa
ada yang menanggapi secara positif dan ada yang menanggapi secara negatif?
Mengapa ada orang yang menjadi kejam dan berdarah dingin di hadapan penderitaan
seperti Hitler atau Stalin, tapi ada yang menjadi penuh belas kasih dan
membebaskan sesama manusianya, seperti Soekarno atau George Washington?
Kontradiksi-kontradiksi inilah yang membuktikan bahwa hidup manusia tidak
sekali, dan kebijaksanaan atau kehebatan pribadi pastilah dipengaruhi oleh
segala pengalamannya, termasuk di hidup sebelumnya.
Bagaimana
dengan bukti yang lebih sederhana lagi? Lihatlah dunia sekitar, apakah dunia
itu bersifat statis atau dinamis? Berubah atau tidak berubah? Kalau misalnya
seluruh dunia ini memang hanya materi dan menuruti hukum hukum yang statis,
pertanyaannya bagaimana dunia ini bisa berubah? Bukannya akhirnya ditemukan
bahwa segalanya terjadi secara acak dan tidak ada penggerak awal? Kalau begitu,
bagaimana dengan kita sebagai manusia? Apakah kita tidak bisa membuat perubahan
dengan pilihan-pilihan kita? Seharusnya tidak seperti itu, karena manusia dan
perubahan yang dilakukannya, atau betapa acaknya perilaku manusia itu menjadi
bukti bahwa aspek imaterial sungguh bekerja. Pada akhirnya, kedua bukti yang
telah dijelaskan masih abstrak dan ini sulit dipahami tanpa memahami kebenaran
hakikat tentang spiritualitas itu sendiri, yang nantinya akan dibahas pula,
tapi itulah adanya.
Teori Dari Segala Teori
Kenyataan
bahwa adanya keterkaitan antara segala cabang ilmu yang ada berarti antara
setiap ilmu pastilah ada satu hal yang sama untuk setiap ilmu. Maka, kebenaran
hakikat atau kebenaran dasar haruslah sama untuk segala ilmu, dan dengan itu
maka muncullah kebutuhan akan suatu teori, bukan teori sembarangan, melainkan
teori berbasis kebenaran. Atau, suatu teori dan ilmu yang bisa menjelaskan
segala fenomena dunia secara rasional dan terkait. Suatu hukum umum yang
menjadi penyebab segala kejadian di dunia. Orang berpikir bahwa teori ini
kelihatannya tidak ada, tapi itu karena mereka belum memahami dunia secara
betul. Jadi, apakah teori ini bisa dirancang pada masa ini? Tentu bisa, tapi
yang menjadi masalah adalah apakah kita siap untuk merancangnya?
Penutup
Tulisan
ini telah membuktikan dan juga menjelaskan bahwa segala hal di dunia ini
terkait dan harusnya mengikuti aturan-aturan yang sama. Sebab kenyataan dunia
ialah satu dan tak mungkin ada lebih dari satu kenyataan. Maka, dengan itu
pastilah ada suatu metode, hukum, atau teori yang bisa digunakan untuk secara
rasional dan akurat menjelaskan segala hal di dunia ini. Dari pergerakan
atom-atom sampai ke tindakan kriminal, dari perkelahian kecil antar anak TK
sampai perang dunia II sekalipun. Sesungguhnya, dasar dari teori tersebut sudah
ada, dan hal yang kurang hanyalah merancang suatu tulisan yang bisa menjelaskan
dasar tersebut. Sekian dari saya, sampai jumpa dan Tuhan memberkati.
Sumber Referensi
Bellis,
Mary. “Bad Predictions”. Web 3
Agustus 2018.