Sunday, August 5, 2018

Keterkaitan Teori


Pendahuluan

Pada abad ke 21 ini, sudah banyak sekali bidang-bidang ilmu pengetahuan yang semuanya berguna bagi umat manusia. Masalahnya, bidang-bidang tersebut cenderung jarang ditunjukkan hubungan antar satu ilmu dengan ilmu lainnya dengan kuat. Maka, terkadang ilmu-ilmu pengetahuan yang ada terlihat terpisah dan berantakan karena kesannya tidak ada hubungan antara satu ilmu dengan ilmu yang lain. Kecenderungan ini juga berpengaruh pada setiap ilmu pengetahuan ini, karena setiap ilmu harus memiliki asumsi asumsi dasar, asumsi inilah yang kerap menjadi salah. Padahal, paham bahwa setiap ilmu pengetahuan atau aspek dunia itu terpisah sangatlah salah, karena segala hal itu terkait dan terhubung, maka itulah yang akan dibahas pada tulisan ini, keterkaitan teori.

Keterkaitan Ilmu Alam

Ilmu-ilmu alam yaitu ilmu yang hampir secara eksklusif mempelajari mekanisme dari dunia materi, terlepas dari ide manusia, biasanya sangat disadari keterkaitannya. Walau begitu permasalahan ilmu alam akan tetap dibahas, terutama pada trias ilmu alam yaitu fisika, kimia, dan biologi. Fisika pada dasarnya adalah suatu ilmu yang mempelajari mekanisme dasar dari alam semesta, baik dalam skala relativis seperti galaksi dan bintang-bintang, maupun skala kuantum seperti atom-atom atau partikel subatomik. Selanjutnya adalah ilmu kimia, kimia sebenarnya hanya mempelajari bagaimana susunan-susunan partikel yang berbeda berpengaruh pada sifatnya secara fisik. Misalkan perbedaan antara asam dan basa, reaksi kimia, dan seterusnya. Ilmu paling rumit adalah ilmu biologi, yang mempelajari bagaimana reaksi reaksi kimia bisa memicu suatu sistem kimiawi yang konstan serta sifat sifat dari sistem tersebut alias kehidupan.

Dari pembahasan tersebut kita sudah bisa mengetahui bagaimana ilmu alam itu sangat terkait antara satu ilmu dengan ilmu lainnya. Selain itu, ilmu-ilmu terapannya biasanya membutuhkan gabungan antara dua ilmu atau mungkin lebih. Misalnya, ilmu biomedika, kedokteran, atau obat-obatan mengharuskan seseorang untuk memahami permasalahan kimiawi dan juga memahami pengaruh, interaksi, dan hubungannya dengan sistem biologis, supaya bisa membuat pengobatan yang tepat untuk menyembuhkan penyakit. Mempelajari ilmu tentang bahan energi alternatif memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, karena harus memahami tentang bahan bakar dengan susunan kimia sedemikian rupa dan efisiensinya dalam ilmu fisika. Kalau bahan bakar tersebut melibatkan mahluk hidup, maka lengkap sudah trias ilmu alam. Ini menunjukkan bahwa ilmu alam sangat terkait.

Keterkaitan Ilmu Sosial

Ilmu sosial di dunia masih sangat jauh di belakang dibandingkan dengan ilmu alam. Maka terkadang keterkaitan antar satu ilmu dengan ilmu yang lain kurang terdefinisikan. Walau begitu, setiap ilmu sosial masih sangat terkait antar satu ilmu dengan yang lain. Ilmu sosial pada hakikatnya adalah suatu ilmu yang secara eksklusif mempelajari manusia, tapi berbeda dengan ilmu alam. Kalau ilmu alam mempelajari manusia sebagai sistem biologis, ilmu sosial mempelajari manusia sebagai suatu entitas kesadaran. Sulit untuk mengatakan ilmu sosial mana yang menjadi ilmu dasar, namun ada beberapa ilmu penting yang akan dibahas pada bagian ini, yaitu ilmu psikologi, ilmu sosiologi, ilmu antropologi, ilmu geografi, dan ilmu ekonomi.

Ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari sikap, perilaku, dan aspek mental dari seorang individu. Sementara itu, ilmu sosiologi mengkaji hubungan antar individu, kelompok individu, dan pengaruhnya terhadap individu tersebut. Di lain pihak, ilmu geografi mempelajari hubungan dan interaksi manusia dengan bumi, maka geografi bisa dianggap sebagai jembatan antara ilmu alam dan ilmu sosial, dan ilmu antropologi mempelajari tentang kebudayaan manusia. Terakhir, ilmu ekonomi mempelajari bagaimana sumber daya yang terbatas bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Dari pembahasan di atas belum terlihat bagaimana semua ilmu itu terkait, tapi setelah penjelasan berikut ini harusnya menjadi jelas. Pada dasarnya, manusia tinggal di berbagai macam tempat yang terpisah, dan secara geografis setiap wilayah memiliki sifat dan keunikannya masing masing. Maka, setiap kelompok manusia pasti akan dipengaruhi oleh sifat-sifat geografis dari wilayah tempat tinggal mereka. Hal ini menyebabkan timbulnya perbedaan antara paham dan sikap perilaku setiap kelompok manusia, maka muncullah yang namanya kebudayaan, sehingga ilmu geografi dan ilmu antropologi menjadi terhubung.

Sementara itu, setiap kelompok sosial pastinya menjadi berbeda dan ini berarti ilmu sosiologi harus memperhatikan kebudaayan yang berbeda dan juga lokasi yang berbeda, sehingga tercipta keterkaitan dengan ilmu antropologi, belum lagi segala hal ini pastinya akan mempengaruhi setiap individu, sehingga menjadi terkait pula dengan ilmu psikologi. Terakhir, ilmu ekonomi akan sangat terpengaruh oleh ilmu sosiologi, ilmu psikologi, dan ilmu antropologi, karena akan mempengaruhi pola konsumsi dan manajemen sumber daya setiap kelompok sosial. Selain itu, ilmu geografi juga berperan, sebab setiap wilayah memiliki potensi sumber daya yang berbeda-beda, sehingga akan secara langsung mempengaruhi pola ekonomi setiap kelompok. Dengan pembahasan di atas pastilah jelas keterkaitan ilmu sosial, namun bagaimana dengan keterkaitan ilmu alam dan ilmu sosial?

Keterkaitan Ilmu Alam-Sosial

Ilmu alam dan ilmu sosial seringkali dikira sebagai dua cabang ilmu yang terpisah dan berbeda. Namun pemahaman ini tidak bisa lebih jauh dari kebenaran, sebab ilmu alam dan ilmu sosial sangatlah terkait, tapi apakah kita memiliki dasar untuk hal ini? Dasarnya sangat jelas, sebab objek kajian dari ilmu alam, yaitu dunia materi, beserta objek kajian dari ilmu sosial, yaitu manusia, terletak pada kenyataan yang sama, yaitu di bumi dan juga alam semesta. Oleh sebab itu, hanya dengan menjadi nyata, kedua obyek tersebut yaitu dunia dan manusia pastilah saling berinteraksi, bagaimanapun caranya, sekecil apapun pengaruhnya, dan inilah dasar terhadap keterkaitan antara ilmu alam dan sosial.

Salah satu contoh paling konkrit dari ilmu pengetahuan yang secara khusus mempelajari interaksi antara manusia dan buminya adalah geografi. Geografi cenderung disamakan dengan geologi atau dengan kartografi, padahal geografi lebih luas dari geologi dan kartografi. Orang berpikir bahwa geografi hanya mempelajari tentang bumi dan pergerakan fisiknya, tapi itu adalah geologi, perpanjangan dari geografi. Ada juga orang yang berpikir bahwa geografi adalah ilmu pemetaan, padahal itu adalah kartografi, perpanjangan dari geografi. Geografi menjadi jembatan jelas antara ilmu alam dan ilmu sosial, karena memiliki unsur alamnya yaitu kebumian dan juga unsur sosial yaitu manusia. Namun, bagaimana dengan ilmu-ilmu terapan lainnya?

Ilmu psikologi adalah ilmu yang juga berada di wilayah perbatasan, karena walaupun secara umum mempelajari tentang sikap perilaku seorang individu, ilmu ini juga terhubung dengan neurologi atau ilmu saraf. Sebab saat seorang berperilaku atau mengalami kondisi mental tertentu, maka ada bagian otak tertentu yang teraktivasi atau dalam penyakit mental ada bagian otak yang cedera. Hal tersebut adalah objek kajian dari ilmu saraf dan neurologi, yang merupakan ilmu alam, maka sangat jelas bahwa ilmu psikologi dan ilmu saraf sangat terkait. Sejauh ini, keterkaitan ilmu yang dibahas baru berupa hal hal teoritis, bagaimana dengan praktisnya?

Permasalahan manusia yang biasanya bersifat fisiologis atau hanya fisik bisa menjadi masalah sosial yang berdampak luas pada individu dan masyarakat. Misalnya, jika seseorang atau sekelompok orang kebutuhan biologisnya kurang dipenuhi, yang secara umum kita definisikan sebagai kemiskinan, mereka bisa terdorong untuk melakukan tindakan kriminal yang mempunyai dampak sosial yang serius. Trias candu yaitu narkoba, seks bebas, dan alkohol pada hakikatnya adalah hal hal yang secara langsung mempengaruhi otak manusia, tapi menjadi suatu masalah sosial dan bahkan moral yang serius.

Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi yang merupakan terapan dari ilmu alam yang teoritis juga sangat mempengaruhi sistem sosial dan ekonomi yang ada. Misalnya, perkembangan ilmu alam yang pesat cenderung mulai membuat manusia menjadi skeptis terhadap hal hal rohani dan meninggalkan Tuhan, sebab mereka merasa ilmu alam bisa menjawab segalanya. Perkembangan teknologi serba otomatis akan merubah wajah ekonomi dunia, karena bisa menghilangkan lapangan pekerjaan dengan massal dan terjadi pengangguran yang luas. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang pesat juga menimbulkan kekhawatiran sosial dan moral terhadap hakikat dan peran manusia dalam kenyataan.

Bagaimana dengan pengaruh sosial terhadap alam? Sistem-sistem ekonomi yang agresif dan tidak ramah lingkungan sangat berdampak pada bumi, dan bisa mengakibatkan perubahan lingkungan yang begitu drastis. Perubahan ini tentunya akan menciptakan lingkungan yang kurang atau bahkan tidak kondusif bagi kehidupan manusia. Manusia dengan ilmu pengetahuannya yang luas dan cerdas justru menciptakan ketidakseimbangan bagi obyek kajian ilmu tersebut dan menyebabkan kerusakan yang luas. Semua ini menunjukkan hubungan erat antara ilmu alam dan ilmu sosial. Akan tetapi, ada satu cabang ilmu lagi yang dilupakan dan mungkin dianggap pseudosain alias palsu atau mirip ilmu alam, tapi mengada ada. Ilmu tersebut adalah ilmu spiritual.

Ilmu Spiritual

Ilmu spiritualitas, atau ilmu kerohanian, atau ilmu ketuhanan, merupakan suatu ilmu yang sebenarnya ditentang oleh mayoritas kaum akademis. Mereka beranggapan bahwa paham spiritualitas itu sebenarnya hanyalah khayalan, walaupun secara resmi mayoritas akan berkata bahwa spiritualitas itu masalah pribadi dan subyektif, maka tidak bisa kita teliti secara ilmiah. Masalahnya, sekarang terdapat kesalahpahaman tentang ilmu spiritualitas atau kerohanian secara umum. Bagaimana kesalahpahamannya?

Kesalahpahamannya adalah bahwa spiritualitas itu secara langsung bertentangan dengan ilmu alam yang sudah terbukti, dan membuat prediksi-prediksi atau hipotesis-hipotesis yang tidak mungkin bisa diuji coba atau memang tidak masuk akal sejak awal. Contohnya pandangan bahwa roh itu nyata, atau keberadaan alam setelah kematian, semua hal ini dianggap tidak berdasar. Kedua hipotesis tersebut memang tidak bisa diuji coba, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dipahami manusia saat ini. Tapi bukan berarti tidak akan pernah bisa diuji coba.

Kenyataan bahwa ada hipotesis-hipotesis spiritual yang sungguh tidak masuk akal adalah benar, contohnya ada orang yang mulai berbicara tentang cakra-cakra atau paham bahwa Atlantis sungguh ada dan memegang peranan spiritual yang penting, itu memang sungguh-sungguh tidak masuk akal, setidaknya untuk saat ini. Tapi pemikiran bahwa adanya roh dalam manusia, bahwa kematian hanya berarti pemutusan hubungan antara roh dan dunia materi, dan adanya Tuhan yang menjadi sumber segala kenyataan bukanlah pemikiran yang tidak masuk akal. Bahkan, pemikiran ini lebih masuk akal dan bisa dibuktikan secara logika, matematis, dan filsafat.

Maka, paham bahwa ilmu spiritualitas adalah ilmu yang bertentangan dengan ilmu alam yang pasti dan sudah dibuktikan adalah paham yang menyesatkan. Sebab sesungguhnya kebenaran mengenai roh, kematian, dan Tuhan sudah bisa dibuktikan dengan menganalisis implikasi-implikasi filsafat dari pernyataan-pernyataan tersebut. Masalah utama dalam penelitian ilmu tentang roh adalah kita tidak memiliki ilmu fisika dan teknologi yang cukup canggih untuk meneliti secara pasti tentang masalah kerohanian. Masalah ini juga kerap kali digunakan sebagai argumen melawan spiritualitas secara umum, namun argumen seperti itu bermasalah, dan bisa ditanggapi dengan argumen kontra.

Paham bahwa spiritualitas tidak mungkin benar sebab sampai saat ini belum ada bukti yang memuaskan adalah paham yang sangat menyesatkan. Hal ini disebabkan pernyataan tersebut bukan pernyataan rasional yang murni, atau sungguh-sungguh dideduksikan dari fakta-fakta kenyataan yang ada, melainkan sudah dipengaruhi oleh bias dan asumsi-asumsi menyesatkan manusia. Keyakinan bahwa kita telah mencapai akhir dari segala penemuan fisika dan ilmu alam adalah keyakinan yang sangat irasional. Sebab sejarah membuktikan bahwa dulu kala, ada orang-orang hebat dan cerdas yang berpikir bahwa suatu bidang tertentu telah mencapai batasnya. Siapakah mereka?

Ada banyak sekali tokoh-tokoh sejarah yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan berkembang lagi atau akan berubah sangat lambat. Contohnya, Orville Wright mengatakan, “Manusia tidak akan terbang sampai 50 tahun,” pada tahun 1901, 2 tahun berikutnya Wright bersaudara menerbangkan pesawat terkontrol pertama. Lalu suatu komentar dari William Siemens tentang bohlam lampu jangka panjang karya Thomas Edison, “Kabar menggetarkan seperti itu harus dinyatakan sebagai tidak layak untuk ilmu pengetahuan dan merusak pada perkembangan sesungguhnya,” dan jelas komentar itu salah. Maka, sangat irasional untuk berpikir pada abad ini, bahwa ilmu pengetahuan sudah berhenti berkembang dan spiritualitas itu salah secara efektif. Kita hanya belum bisa meneliti spiritualitas secara langsung, tapi bukan berarti spiritualitas ialah salah dan tidak benar.

Keterkaitan Ilmu Material-Imaterial

Maka sekarang timbullah pertanyaan yang terakhir, apakah hubungan atau keterkaitan sejati antara ilmu material dan ilmu imaterial, atau yang seringkali disebut ilmu spiritualitas. Pada titik inilah kita tidak bisa membeda-bedakan antara ilmu material dan ilmu material, sebab kedua ilmu itu sesungguhnya adalah kesatuan ilmu yang tak terpisahkan. Apa maksudnya? Selama ini orang menganggap bahwa ilmu materi dan ilmu imaterial itu terpisah dan berbeda. Padahal itu adalah anggapan yang salah, sebab sesungguhnya lebih pantas disebut ilmu materi dan ilmu transmateri atau ilmu energi. Mengapa begitu?

Pada akhirnya, energi dan materi adalah dua hal yang sebenarnya sama, namun adalah wujud yang berbeda dari wujud yang lain. Hal ini dibuktikan oleh Einstein dengan rumus terkenalnya yaitu e=mc^2. Maka, ilmu material sebenarnya merujuk pada ilmu tentang dunia yang bersifat materi, atau mempunyai massa dan memenuhi sejumlah kriteria fisika lainnya. Sementara itu, ilmu imaterial, atau spiritualitas, atau energi adalah ilmu tentang dunia energi, karena roh pada hakikatnya adalah energi. Maka, kita bisa melihat bahwa sesungguhnya ilmu material dan ilmu imaterial hanyalah bagian dari suatu kesatuan ilmu dan teori yang tak bisa dipisahkan atau dikotak kotakkan.

Jadi, apakah ada bukti konkrit dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi contoh keterkaitan antara materi dan energi? Sederhana saja, lihatlah orang-orang hebat di dunia, apakah mereka hebat hanya karena sekadar kondisi materi yang mendukung? Bukankah ada banyak orang yang mengalami hal yang sama, tapi mengapa ada yang menanggapi secara positif dan ada yang menanggapi secara negatif? Mengapa ada orang yang menjadi kejam dan berdarah dingin di hadapan penderitaan seperti Hitler atau Stalin, tapi ada yang menjadi penuh belas kasih dan membebaskan sesama manusianya, seperti Soekarno atau George Washington? Kontradiksi-kontradiksi inilah yang membuktikan bahwa hidup manusia tidak sekali, dan kebijaksanaan atau kehebatan pribadi pastilah dipengaruhi oleh segala pengalamannya, termasuk di hidup sebelumnya.

Bagaimana dengan bukti yang lebih sederhana lagi? Lihatlah dunia sekitar, apakah dunia itu bersifat statis atau dinamis? Berubah atau tidak berubah? Kalau misalnya seluruh dunia ini memang hanya materi dan menuruti hukum hukum yang statis, pertanyaannya bagaimana dunia ini bisa berubah? Bukannya akhirnya ditemukan bahwa segalanya terjadi secara acak dan tidak ada penggerak awal? Kalau begitu, bagaimana dengan kita sebagai manusia? Apakah kita tidak bisa membuat perubahan dengan pilihan-pilihan kita? Seharusnya tidak seperti itu, karena manusia dan perubahan yang dilakukannya, atau betapa acaknya perilaku manusia itu menjadi bukti bahwa aspek imaterial sungguh bekerja. Pada akhirnya, kedua bukti yang telah dijelaskan masih abstrak dan ini sulit dipahami tanpa memahami kebenaran hakikat tentang spiritualitas itu sendiri, yang nantinya akan dibahas pula, tapi itulah adanya.

Teori Dari Segala Teori

Kenyataan bahwa adanya keterkaitan antara segala cabang ilmu yang ada berarti antara setiap ilmu pastilah ada satu hal yang sama untuk setiap ilmu. Maka, kebenaran hakikat atau kebenaran dasar haruslah sama untuk segala ilmu, dan dengan itu maka muncullah kebutuhan akan suatu teori, bukan teori sembarangan, melainkan teori berbasis kebenaran. Atau, suatu teori dan ilmu yang bisa menjelaskan segala fenomena dunia secara rasional dan terkait. Suatu hukum umum yang menjadi penyebab segala kejadian di dunia. Orang berpikir bahwa teori ini kelihatannya tidak ada, tapi itu karena mereka belum memahami dunia secara betul. Jadi, apakah teori ini bisa dirancang pada masa ini? Tentu bisa, tapi yang menjadi masalah adalah apakah kita siap untuk merancangnya?

Penutup

Tulisan ini telah membuktikan dan juga menjelaskan bahwa segala hal di dunia ini terkait dan harusnya mengikuti aturan-aturan yang sama. Sebab kenyataan dunia ialah satu dan tak mungkin ada lebih dari satu kenyataan. Maka, dengan itu pastilah ada suatu metode, hukum, atau teori yang bisa digunakan untuk secara rasional dan akurat menjelaskan segala hal di dunia ini. Dari pergerakan atom-atom sampai ke tindakan kriminal, dari perkelahian kecil antar anak TK sampai perang dunia II sekalipun. Sesungguhnya, dasar dari teori tersebut sudah ada, dan hal yang kurang hanyalah merancang suatu tulisan yang bisa menjelaskan dasar tersebut. Sekian dari saya, sampai jumpa dan Tuhan memberkati.

Sumber Referensi

Bellis, Mary.  Bad Predictions”.  Web 3 Agustus 2018.



Friday, July 13, 2018

Analisis GNFI


Pengantar

Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan pribadi saya terhadap seminar kebangsaan tentang GNFI, atau Good News From Indonesia yang dibawakan oleh foundernya sendiri yaitu Bapak Akhyari Hananto. Seminar ini diadakan pada hari Jumat, tanggal 13 Juli 2018, di SMA Santa Laurensia. Saya sendiri berlaku sebagai saksi dari seminar ini, dan sebagai seorang yang kritis terhadap ideologi nasionalis, saya putuskan untuk mencatat segala hal yang penting untuk saya catat dan supaya saya analisis. Sebelum melanjutkan, saya sama sekali tidak bertujuan untuk mencemarkan nama baik siapapun atau organisasi apapun, apa yang saya tulis berupa kritikan, bukan pencemaran, harap bisa dibedakan.

Nasionalisme Baik?

Terus terang saja, saya bukan seorang “nasionalis” sesuai paham orang pada umumnya. Saya bukan nasionalis yang siap melayani negara lewat Paskibra atau mempromosikan bangsa ini, definisi nasionalis bagi saya sedikit berbeda. Bagi saya, menjadi seorang nasionalis adalah menjadi seorang yang peduli akan rakyatnya, dan menghargai prestasi serta kerja keras rakyat. Lagipula, berkat rakyat sesama kitalah kita bisa tetap hidup, bahkan setelah kita bisa bekerja pun, rakyat tetap sangat penting bagi kita. Maka, nasionalis paham saya bukan nasionalisme yang terpusat pada ideologi, yaitu konsep Bangsa Indonesia, melainkan nasionalisme yang terpusat pada rakyat.

Sekalipun begitu, saya tetap mempunyai paham bahwa nasionalisme itu hanya semacam alat transisi, menuju apa? Menuju internasionalisme dan globalisme, walau paham saya masih sedikit berbeda dari paham Soekarno tentang internasionalisme. Memang baik adanya menghargai identitas bangsa dan menghargai budaya nasional, apalagi melestarikannya dan mendalaminya. Walau begitu, identitas bangsa bukanlah sesuatu yang harus kita pertahankan sampai mati, kalau kemerdekaan memang harus kita pertahankan sampai titik penghabisan, tapi menurut saya, identitas bangsa hanya salah satu keunikan lagi dari kita sebagai manusia. Kita tetap pada akhirnya harus mengutamakan kebahagiaan umat manusia secara keseluruhan di atas kepentingan bangsa, seperti kita mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.

Maka, nasionalisme yang merakyat itu sebenarnya sangat penting sebagai persiapan untuk suatu persatuan dunia yang bersifat globalis. Karena kalau kita belum bisa bersatu sebagai satu bangsa, bagaimana kita bisa bersatu sebagai satu umat manusia, atau bahkan seluruh umat semesta alam? Selain itu, bagaimanapun juga kita pasti menjadi warga negara tertentu, dan oleh sebab itu, selama kita masih terjebak sistem materialis, lingkaran pengaruh kita terbatas pada negara tersebut. Terlebih tujuan kita sebagai manusia adalah hidup demi kesempurnaan diri dan juga kesempurnaan orang lain, maka baiklah adanya kalau kita memberikan yang terbaik untuk rakyat kita dahulu, dan setelah sukses di negara tanah air, kita maju ke panggung global.

Analisis Argumen GNFI

Bapak Akhyari menyampaikan beberapa poin penting tentang nasionalisme yang saya catat sebisa saya menangkap pembicaraannya. Pertama adalah masalah rakyat Indonesia tidak cinta atau peduli akan bangsanya sendiri, dan malah lebih menyenangi negara asing. Ini dibuktikan dari pemuda Surabaya yang ditemukan banyak memakai baju dengan tulisan, “I love [Negara Asing Generik],” dengan negara atau unsur asing itu bisa Hongkong, Taiwan, New York, Singapura, dan lain lain. Memang itu sendiri bukan masalah, tapi menjadi tanda akan suatu masalah kritis yang jauh lebih besar daripada urusan baju yang sebenarnya sepele.

Mengapa rakyat Indonesia tidak peduli dengan negaranya sendiri? Alasannya sederhana, karena rakyat Indonesia tidak dididik dengan cukup baik, dan dibekali dengan sikap menghargai dan kepedulian akan negaranya sendiri. Alasan alternatif mungkin karena Indonesia kurang baik, atau karena media massa jarang mengekspos hal hal baik tentang Indonesia. Tapi, karena GNFI berhasil menyampaikan begitu banyak berita baik tentang Indonesia, saya rasa alasan yang lebih masuk akal adalah media massa jarang mengekspos, dan pendidikan Indonesia memang kurang bagus. Sementara itu, GNFI memilih untuk mengulas hal hal baik dan menarik di Indonesia untuk menutupi kekurangan media massa, dan selama seminar, Pak Akhyari memberikan sejumlah berita berita itu.

Hal baik pertama yang dikupas adalah kekayaan alam Indonesia, dan saya akui bahwa Indonesia memang mempunyai kekayaan alam yang sangat luar biasa dan menyaingi banyak negara lain. Bukan hanya keindahan alam saja, tapi juga sumber daya alam yang ada, yang seharusnya bisa membuat Indonesia menjadi negara yang bahkan menyaingi Amerika Serikat atau China dalam ekonomi dan kekuatan politik. Hal ini memang anugrah dari Tuhan kepada kita rakyat Indonesia dan juga leluhur kita manusia Nusantara. Saya rasa mengupas tentang kekayaan alam kita tidak ada salahnya, dan baik adanya untuk meningkatkan kesadaran rakyat akan keistimewaan tanah air kita. Hal yang menjadi perhatian saya adalah, apa penyebab kekayaan alam ini menjadi terbuang dan tidak lagi disadari oleh rakyat?

Hal baik kedua tentang Indonesia adalah sejarah “Indonesia” yang sangat mengagumkan, dan bagaimana para leluhur bisa menciptakan berbagai macam inovasi yang bahkan pada abad modern ini sulit untuk diimitasi. Contohnya adalah Candi Borobodur yang begitu simetris dan diukir dengan sedemikian rupa, atau keris yang sudah mengandung unsur Titanium sejak abad 9 atau abad 14, dan inovasi inovasi lainnya. Saya kurang setuju kalau penemuan penemuan tersebut disebut sebagai karya “Indonesia”, karena itu adalah karya Nusantara, dan juga kerajaan kerajaan dahulu. Indonesia baru ada tahun 1945, dan merupakan suatu konsepsi politik, konsepsi budayanya lebih pantas disebut sebagai Nusantara.

Sebenarnya, bagaimana para leluhur bisa menciptakan hal hal yang begitu mengagumkannya bahkan pada zaman sekarang? Padahal pada masa itu tidak ada yang namanya nasionalisme atau rasa cinta akan bangsa yang begitu berlebihannya. Malah, inovasi inovasi Nusantara terjadi pada masa Hindu Buddha, dimana ajarannya sangat mengutamakan keselarasan dengan alam semesta, kerendahan hati dan kedamaian. Maka, kita tahu bahwa kebijaksanaan tidak akan muncul hanya dengan nasionalisme semata, melainkan dengan berselaras dengan alam semesta dan pada Tuhan, sehingga pikiran kita bisa dijernihkan dan terbebas dari segala kekangan apapun. Itulah alasan sesungguhnya dari kebijaksanaan para leluhur yang sudah hilang tergantikan oleh budaya kapitalis materialis dan juga nasionalis materialis.

Hal berikutnya yang dibicarakan Pak Akhyari intinya adalah bagaimana banyak perusahaan Indonesia menjadi terkenal di luar negeri, dan juga sosok sosok Indonesia yang mendunia atau berpengaruh besar bagi dunia. Saat ini saya mulai bingung, apa yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh Pak Akhyari? Dari segi ekonomi, perusahaaan perusahaan Indonesia memang bisa diakui kehebatan dan kesuksesannya, malah bisa dibilang terlalu sukses dan hebat, contohnya perusahaan Sinarmas atau Lippo. Lalu bagaimana dengan anak anak Bangsa yang mendunia? Seperti Sri Mulyani, Habibie, Ricky Elson, Ronny Gani, dan lain lain? Saya rasa kehebatan mereka juga patut dihargai dan diakui oleh rakyat Indonesia, tapi mengapa mereka tidak terlalu dikenal? Apakah ada yang salah?

Kritikan Pada GNFI

Saya sedikit bingung, apa yang diharapkan GNFI dengan mengabarkan hal hal baik tentang Indonesia kepada rakyat? Apa supaya rakyat bisa mengerti kehebatan Bangsanya sendiri dan menjadi nasionalis? Sekarang, mari kita lihat masalah nasionalisme dari segi kenyataan, yaitu mencari akar dari masalah ini. Hal yang dilakukan GNFI semata menyembuhkan gejalanya, dan bukan penyakitnya. Jadi sekarang kita ingin bertanya, mengapa rakyat Indonesia tidak nasionalis lagi? Apa yang membuat rakyat kecewa dengan Indonesia? Apakah itu alam, atau ketidakbecusan rakyat, atau ketidaktahuan rakyat semata? Saya rasa bukan itu jawabannya, kalau saya lihat masih banyak media massa yang mengabarkan hal baik tentang Indonesia, bukan hanya GNFI. Jadi apa yang mengecewakan rakyat?

Jika kita lihat kabar kabar buruk dan genting tentang Indonesia, apa topik utama dari segala berita tersebut? Apa itu kerusakan alam atau orang orang Indonesia yang mengakibakan kerugian pada dunia? Bukan, topik utamanya adalah politik, itulah yang menjadi permasalahan utama di Indonesia. Lihat saja orang orang DPR yang sebenarnya kurang berguna, dan sedikit sekali yang betul betul berkontribusi kepada rakyat. Bagaimana dengan korupsi pemerintahan yang begitu merasuk di negeri ini, atau ancaman perpecahan yang ada di Bangsa ini karena kaum kaum radikal fanatik? Bukankah semua hal itu patut kita ketahui dan waspadai sebagai warga negara Indonesia? Jadi, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah itu?

Menurut GNFI, jika seorang terjangkit penyakit dan kita belum tahu apa penyakitnya, hanya terlihat gejala, kita hanya perlu mengobati gejalanya. Sama saja dengan Indonesia saat ini, ada suatu permasalahan politik dan sosial yang sangat merajalela di Indonesia, yang menyebabkan suatu rasa pesimisme terhadap Indonesia, lalu apa yang dilakukan GNFI? Mereka hanya berusaha menyembuhkan rasa pesimisme itu menjadi rasa optimisme, tanpa menyelesaikan permasalahan yang jauh lebih besar saat ini. Saya rasa membuat rakyat Indonesia menjadi terindoktrinasi dengan konsep nasionalis dan cinta akan tanah air hanya akan membutakan mereka dari permasalahan yang sungguh ada.

Kabar baik itu tidak selalu baik dan kabar buruk itu tidak selalu buruk. Kabar baik yang berlebihan bisa jadi pembuta rakyat sehingga mereka menjadi nasionalis tanpa bersikap kritis. Sikap fanatisme tanpa adanya sikap kritis akan menjadi pembawa kejatuhan bangsa ini. Di lain pihak, kabar buruk malah menjadi pengingat kepada kita bahwa Indonesia mempunyai banyak sekali masalah. Kabar buruklah yang menarik kita kembali pada kenyataan pahit bahwa sistem di Indonesia memang bermasalah dan harus diperbaiki. Maka, saya harap GNFI mengerti masalah ini, dan sungguh mengerti apa yang mereka lakukan.

Pendapat Pribadi

Saya ingin menyampaikan pendapat pribadi saya pula tentang permasalahan di Indonesia. Saat ini, mengapa banyak orang Indonesia yang hanya kecewa pada pemerintahan, tapi tidak beraksi, atau malah sama sekali tidak tahu menahu tentang permasalahan kritis Indonesia? Akarnya adalah psikologi dan karakter rakyat Indonesia, yang berarti kita harus melihat apa yang terjadi pada masa kecil rakyat. Pertanyaannya, apa yang menjadi faktor terutama dalam pengembangan karakter dan psikologi anak selama masa pertumbuhan? Ada dua faktor, orangtua, dan juga sistem pendidikan, namun orangtua juga terbatas oleh sistem pendidikan yang lalu, dan yang sungguh bisa membawa sikap yang berbeda pada anak adalah pendidikan.

Kalau rakyat tidak bersikap kritis, artinya apa? Cukup sederhana, artinya sistem pendidikan tidak membekali rakyat dengan sikap kritis terhadap segala hal dan juga sikap proaktif terhadap permasalahan Indonesia. Artinya sistem pendidikan Indonesia membutakan dan menekan kekritisan rakyat Indonesia, alasannya apa? Alasannya juga sangat sederhana, yaitu sistem materialisme yang telah merasuk dan meracuni negara ini. Sederhananya begini, karena Indonesia telah diinfiltrasi oleh daya materialis, daya ini akan meracuni segala aspek Bangsa supaya Indonesia tetap dikuasai oleh pengaruh materialis, dan kebenaran tidak pernah terbuka bagi rakyat. Bagaimana caranya?

Daya materialis membelenggu rakyat dari segala arah, pertama dari arah ekonomi dalam wujud sikap kapitalis hedonis, yang tidak peduli dan apatis terhadap nasib bangsa. Kedua dari arah nasionalis fanatis, yang membuat rakyat tertutup pikirannya dan menjadi berpandangan sempit. Mengapa berpandangan sempit? Karena pandangan nasionalis fanatis menyempitkan sudut pandang rakyat menjadi pandangan bahwa Indonesia adalah negara yang paling benar dan kita harus mengutamakan negara atas segala hal. Ini membangun suatu sikap kelekatan pada identitas bangsa, sehingga rakyat hanya peduli akan Indonesia, dan bukan pada kebenaran semesta. Dan sedihnya, GNFI menjadi salah satu manifestasi dari sikap nasionalis fanatis ini, yang sungguhnya hanya membelenggu pikiran rakyat kepada identitas “Indonesia”, dan menjauhkan mereka dari kebenaran semesta yang pernah dipegang oleh para leluhur, tanpa iming iming ideologi Pancasila maupun nasionalisme.

Jadi, apa yang kita bisa lakukan sekarang ini? Saat ini sistem materialis tidak bisa diguncang hanya dari batangnya saja, kita harus membongkar sistem dari akarnya. Dari pernyataan itu, saya rasa sudah cukup jelas apa yang harus kita lakukan demi keselamatan rakyat Indonesia dan juga umat manusia. Kita harus membangun suatu revolusi, revolusi kebenaran yang akan membuka kembali kebenaran semesta yang selama ini ditekan dan dibelenggu oleh sistem materialis. Hanya dengan revolusi yang nasional dan juga internasional inilah manusia bisa dikembalikan kepada hakikatnya, dan pada saat itulah Indonesia akan mengalami masa kejayaan yang seharusnya. Kejayaan Indonesia tidak akan dicapai dengan nasionalisme semata, tapi dengan kesadaran akan kebenaran semesta.

Akhir Kata

Kepada pihak GNFI yang mungkin kebetulan membaca, saya mohon maaf jika tulisan saya ini menyinggung pihak GNFI. Saya hanya mengemukakan pendapat saya dan apa yang menurut saya adalah kebenaran. Maka, saya bisa salah karena saya adalah manusia, dan sekali lagi saya mohon maaf. Bagaimana pun, pendirian saya tetap bahwa GNFI memang mempunyai intensi yang baik, tapi mereka menyerang masalah ini dari sisi yang kurang tepat. Perubahan yang sifatnya hanya lokal dan terbatas tidak akan berpengaruh besar. Jika kita ingin perubahan yang sungguh nyata, kita harus memangkas dari akar akarnya. Saya rasa itu saja perkataan saya, salam damai sejahtera bagi kita semua dan sampai jumpa.

Monday, July 2, 2018

Kebenaran Semesta


Pembukaan

Selama perjalananku dalam menulis dan bernalar, aku sudah menuliskan banyak hal yang mempunyai serpihan dari kebenaran. Namun aku belum pernah merumuskan suatu kebenaran semesta yang hakiki, atau suatu kebenaran yang sifatnya menjadi sumber segala kebenaran yang lain. Aku tahu akan kebenaran itu, hanya saja aku belum menuliskannya, lagipula selama ini aku selalu menulis dalam bahasa asing, maka tibalah waktunya bagiku untuk membuat tulisan tulisanku ini lebih mudah dimengerti oleh saudara saudariku Bangsa Indonesia. Ini akan menjadi tulisan pertama yang kutulis dalam bahasa Ibuku, aku harap kebenaran yang tertulis pada tulisan ini bisa berguna bagi kita semua dan juga bangsa ini.

Kekhawatiran

Aku tahu aku baru 14 tahun menginjakkan kakiku di bumi ini, dan masih ada banyak hal yang belum kuketahui di dunia ini. Namun entah kenapa, sejak ibuku dipanggil oleh Tuhan, dan aku mulai membuka mata terhadap penderitaanku, aku mulai mencari. Aku bingung mengapa segala hal yang terjadi haruslah terjadi, mengapa aku yang harus merasakan segala hal ini. Maka aku pun memulai sebuah perjalanan dengan satu tujuan, yaitu mencari kebenaran. Namun seiring aku mulai memahami apa kebenaran itu sendiri, aku mulai sadar bahwa semenjak aku memilih jalan ini, aku telah menentukan nasib hidupku sendiri. Dan pada saat itulah aku sadar bahwa aku telah diberikan tugas yang mulia, untuk mencari dan menyusun kembali kebenaran yang telah hilang selama ribuan tahun. Semua serpihannya sudah tersedia, tugasku hanya menyusunnya kembali, dan saat waktunya tiba, aku harus mewartakannya, supaya dunia tidak terjerumus pada kematian.

Aku bukannya merasa penting seorang yang dimuliakan, tapi aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kondisi manusia pada waktu sekarang. Aku sendiri yang merasa haus akan kebenaran yang kekal, sementara semua orang lain, atau setidaknya hampir semua, sibuk dengan tujuan tujuan dan impian impian yang bersifat materialistis dan hedonis. Aku merasa terkucilkan, seperti serigala diantara domba, tapi pada saat yang sama aku merasa khawatir. Aku kira, pemahaman tentang kebenaran, atau kehausan akan kebenaran itu sendiri seharusnya menjadi hal yang lumrah, hal yang biasa dan bukan keanehan atau penyakit. Namun, hal yang kulihat justru sebaliknya, bahwa pengetahuan akan kebenaran sudah lama dilupakan, orang sudah puas akan kebenaran yang dilembagakan dan kebenaran mereka sendiri. Maka, aku merasakan suatu kegentingan dan kegawatan yang sangat untuk membuka mata umat manusia, dan disinilah aku berusaha melakukan yang terbaik demi kebenaran.

Keberadaan Kebenaran

Bilamana ada orang yang menyangkal adanya kebenaran, maka aku harap orang itu mulai bersiap siap untuk merubah pandangannya. Sebab aku berkata, jikalau kebenaran itu tidak ada, terkutuklah segala hal yang ada karena tidak mungkin bisa ada sesuatu hal yang nyata. Bilamana pembaca masih belum mengerti apa maksudku, baiklah aku akan menerangkan lebih dalam perihal kebenaran ini. Sebelum memasukki perihal ini lebih jauh, baiklah kalau aku membahas kebenaran macam apa yang kita cari. Kebenaran itulah kebenaran yang universal, obyektif, yaitu mencakup seluruh semesta tanpa terkecuali dan tidak terpengaruh oleh pendapat pribadi. Itulah kebenaran yang kita cari, dan sesungguhnya aku nyatakan, adalah kebenaran itu! Apa buktiku terhadap pernyataan itu? Marilah kita analisis dan kita teliti seluk beluk dari bukti itu!

Bukti Keberadaan Kebenaran

Kebenaran pada hakikatnya adalah suatu pernyataan yang sesuai dengan kenyataan yang sejati. Maka kenyataan haruslah yang benar benar ada, dan bukan yang kita harapkan menjadi kenyataan, alias khayalan dan angan angan saja. Oleh sebab itu, aku akan membuktikan kebenaran menggunakan metode rasional atau logika. Logika ialah ilmu untuk menciptakan informasi baru dari informasi yang ada, akan tetapi ialah juga ilmu untuk membuktikan kebenaran suatu pernyataan. Maka, ada baiknya jika kita mempelajari sedikit saja ilmu logika supaya kita bisa menemukan kebenaran yang sungguh benar dan tidak bisa dibantahkan atau dipertanyakan.

Dalam ilmu logika, pernyataan pernyataan yang ingin kita teliti disebut argumen. Argumen terdiri dari dua unsur, yaitu unsur premis dan unsur konklusi. Premis ialah bukti atau dasar dari pernyataan yang kita ingin buktikan, sementara konklusi ialah kesimpulan dari premis premis yang ada. Contoh yang paling mudah, kita mempunyai dua premis, semua manusia adalah mamalia dan semua mamalia melahirkan. Oleh sebab itu kita bisa membuat kesimpulan bahwa manusia melahirkan, dan ini berdasarkan hukum matematis yang sederhana yang pembaca mungkin kenal sebagai teori himpunan atau dalam bahasa Inggris ialah “Set Theory”. Maka, dengan ilmu ini kita sudah mendapatkan alat alat yang diperlukan untuk mencari kebenaran.

Mencari Kebenaran

Bilamana kebenaran adalah pernyataan apapun yang sesuai dengan kenyataan sejati, bukankah berarti kebenaran itu sangat mudah ditemukan? Misalkan, bumi itu bulat, bukankah itu kebenaran? Memang benar bahwa rupa bumi itu bulat, namun kita harus mempertanyakan kebenaran itu, dengan kata lain, apa bukti dari pernyataan bumi itu bulat? Kebanyakan orang sudah merasa puas dengan ditunjukkan premis dari pernyataan bumi itu bulat, akan tetapi premis premis tersebut juga merupakan suatu konklusi dari premis premis sebelumnya. Oleh sebab itu, kita harus menganalisis premis premis tersebut pula, dan jikalau pada suatu saat kita tidak bisa membuktikan premis yang pertama, maka runtuhlah segala deduksi berikutnya.

Maka, marilah kita membuat suatu percobaan logika dengan suatu pernyataan biologis yang sederhana, yaitu bahwa darah berwarna merah. Kalau kita menanyakan warna darah kepada orang, baik dokter maupun orang desa, mereka pasti menjawab bahwa darah warnanya merah. Tapi apa yang menjadi bukti bahwa darah sungguh merah warnanya? Mungkin akan menjadi lebih baik jikalau kita mengilustrasikannya dalam format premis dan konklusi.

(P1) Jika kita melihat barang X dengan kondisi Y, maka itulah kenyataannya.
(P2) Kita melihat darah dengan kondisi warna merah.
(K) Darah berwarna merah.

Marilah kita membedah argumen tersebut, yaitu dengan membuktikan kebenaran kedua premis yang menjadi dasar untuk konklusi kita. Premis dua memang benar adanya, jikalau kita bertanya kepada orang alasan mereka, mayoritas pasti menjawab bahwa itulah yang kita lihat. Walaupun premis dua benar, apa yang membuktikan kebenaran premis satu yang menjadi dasar utama dari kepercayaan kita bahwa darah itu merah? Mungkinkah kita bisa membuktikan premis ini dengan menjadikannya konklusi dari premis premis lain? Kelihatannya sulit, tapi tidak ada salahnya dalam mencoba.

(P1) Manusia mempunyai mata.
(P2) Mata menangkap informasi visual tentang kenyataan.
(K) Informasi visual yang ditangkap melalui mata manusia mendeskripsikan kenyataan.

Kelihatannya itu argumen yang kuat dan padu, tapi apakah benar begitu. Pertama, kedua premis itu bisa dipertanyakan. Premis dua menyatakan bahwa mata menangkap informasi visual tentang kenyataan, tapi itu mengasumsikan bahwa ada suatu kenyataan di luar pikiran manusia. Premis satu sama saja, mengasumsikan bahwa mata itu ada di tempat pertama. Tapi apakah kita bisa membenarkan kedua pernyataan itu? Bahwa ada suatu kenyataan yang objektif dan mata manusia sungguh ada? Pada saat inilah kita seharusnya sadar, bahwa membuktikan hal itu mustahil. Karena pada akhirnya kita hanya akan terus menerus mencari premis premis untuk mendukung premis premis dari konklusi awal kita, dan menjadi regresi tak terbatas.

Maka, kita harus mencari kebenaran yang betul betul bisa berdiri sendiri, karena itulah kebenaran yang sungguh tidak bisa dipertanyakan ataupun dibantah oleh argumen apapun. Kebenaran Asal, yaitu pernyataan kebenaran yang bisa menjadi premis bagi dirinya sendiri dan tidak memerlukan premis premis lainnya. Walau begitu, kebenaran itulah yang menjadi premis awal untuk segala kebenaran kebenaran lainnya. Sebelum kita melanjutkan, aku ingin mengingatkan bahwa aku tidak mengatakan bahwa premis premis dan konklusi konklusi yang dibahas sebelumnya tidak benar. Karena untuk mengatakan bahwa suatu pernyataan itu tidak benar, berarti kita mempunyai bukti akan yang sebaliknya, yaitu pernyataan yang benar. Namun pada kondisi ini kita tidak mempunyai bukti akan kenyataan apapun, maka kesimpulan yang tepat adalah mengatakan bahwa kebenaran tidak bisa dibuktikan. Tapi, apakah kebenaran asal memang tidak bisa dibuktikan?

Tiada Kebenaran Asal?

Pada titik ini, mungkin pembaca mulai menyerah dan berpikir bahwa kebenaran itu tidak ada, akan tetapi jikalau kebenaran itu tidak ada, maka aku tidak mungkin bisa membuat tulisan ini dan segala tulisan sebelumnya. Lagipula, jika kebenaran itu tidak ada, maka konsekuensi logisnya, dengan kata lain konklusinya akan berkontradiksi dengan dirinya sendiri, alias salah. Bagaimana perumusannya? Baiklah kita membuatnya dalam rancangan premis dan konklusi kembali.

(P) Kebenaran itu tidak ada.
(K) Kenyataan itu tidak ada.

Argumen itu terlihat aneh bukan? Bagaimana bisa hanya ada satu premis dalam suatu argumen? Jawabannya sederhana, karena argumen itu bukanlah penjabaran lengkapnya. Aku sengaja menuliskannya begitu, supaya pembaca terus menggunakan pikirannya dan daya rasionalnya, lagipula itulah yang membuat manusia sungguh “manusia”, tentu dengan mengasumsikan kebenaran bahwa manusia itu nyata. Lalu, apakah makna argumen tersebut? Sebenarnya, kedua pernyataan di atas bisa dirubah posisinya berhubungan satu dengan yang lain. Bagaimana itu bisa terjadi? Mari kita ingat kembali apa definisi kebenaran, “kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.” Dengan itu, kita bisa menjabarkan argumen tadi menjadi dua wujud.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kebenaran tidak ada.
(K) Kenyataan tidak ada karena tidak ada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.

Demikianlah wujud sesungguhnya dari argumen ketiadaan kebenaran dan ketiadaan kenyataan tersebut. Perbedaannya hanya satu, pada wujud yang pertama, kita mendeduksikan penyebab dari ketiadaan kebenaran, sementara pada wujud yang kedua, kita mendeduksikan akibat dari ketiadaan kenyataan. Singkat kata, wujud pertama menunjukkan sebuah inferensi, sementara wujud kedua menunjukkan sebuah prediksi. Walaupun begitu, makna kedua wujud argumen tetaplah sama, bahwa dengan tidak adanya kenyataan, tidak bisa ada kebenaran. Maka, apakah itu akhir dari perjalanan kita? Bahwa kebenaran sungguh tiada? Para ateis dan materialis tentu berbicara seperti itu, tapi tanpa banyak berpikir, argumen itu telah menghancurkan dirinya dengan sendirinya, bagaimana mungkin?

Selain menganalis premis dari suatu pernyataan, ada metode lain, yang lebih sering digunakan oleh para filsuf yang malas mencari, yaitu mencari kontradiksi. Apakah kontradiksi itu? Kontradiksi ialah pertentangan antara suatu pernyataan dengan pernyataan lain, dan maksudku, dalam argumen itu adalah suatu kontradiksi yang menjadi pengungkapan kebenaran bagi umat manusia. Marilah kita bersama-sama mencarinya!

Pertama, tidak ada hukum yang melarang kita dari membuat pernyataan tentang suatu pernyataan, sama halnya dengan argumen ini. Kita bisa membuat suatu pernyataan yang mendeskripsikan argumen tersebut, seperti biasa pernyataan tersebut akan disusun dalam rancangan premis dan konklusi. Namun ada satu perbedaan, akan ada dua unsur baru pada argumen tersebut, yaitu pernyataan, atau pernyataan yang ingin kita buktikan, dan terakhir metakonklusi, yaitu pernyataan yang mendeskripsikan kebenaran dari pernyataan tersebut. Selain itu, aku akan menuliskan kedua wujud, supaya kebenarannya menjadi lebih jelas. Perhatikan dengan baik!

(P) Kenyataan itu tidak ada.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kebenaran tidak ada.
(K) Kenyataan tidak ada karena tidak ada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.

(MK) Pernyataan bahwa tidak ada kenyataan itu benar.


(P) Kebenaran itu tidak ada.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.

(MK) Pernyataan bahwa tidak ada kebenaran itu benar.

Apakah kontradiksi mulia itu sudah menangkap mata pembaca? Maka, dengan mengasumsikan bahwa tidak ada kebenaran, kita telah menemukan bahwa ada pernyataan yang benar, yang sesuai dengan kenyataan. Pernyataan itu tidak lain dan tidak bukan dari dua pernyataan bahwa tidak ada kebenaran dan tidak ada kenyataan. Bahkan kita tidak hanya menemukan satu kebenaran, tapi dua kebenaran! Akan tetapi, jikalau ada kebenaran, maka hancurlah argumen bahwa tidak ada kebenaran, maka kita akan mendapatkan rumusan argumen yang sesungguhnya.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar karena sesuai dengan kenyataan bahwa tidak ada kenyataan sehingga tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar.
(K) Kebenaran ada.

(1) Kebenaran adalah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kebenaran ada.
(K) Kenyataan ada karena harus ada kenyataan yang bisa dinyatakan supaya ada kebenaran.

Demikianlah kebenaran yang ada, dan aku akui bahwa ada metode metode lain untuk menemukan kebenaran asal ini. Kita bisa mendeskripsikan keberadaan pernyataan itu sendiri, tapi metode kontradiksi adalah metode yang paling bisa dipercaya, karena kita hanya mengandalkan argumen yang ada tanpa membuat asumsi apapun. Mengapa penting sekali untuk tidak berasumsi dalam ilmu logika? Karena asumsi adalah premis atau konklusi yang khayal, alias kita masukkan tanpa mengetahui kebenaran premis atau konklusi itu terdahulu. Bagaimanapun juga, kita telah membuktikan bahwa kebenaran itu ada dan kenyataan itu ada.

Kebenaran Asal ialah pernyataan bahwa kenyataan itu ada, maupun kebenaran itu ada. Kesimpulannya, ada sesuatu di dunia ini yang sungguh ada dan nyata, tapi apakah itu? Kebenaran  dan kenyataan itu, adalah kesadaran. Hal ini jelas, bagaimana mungkin argumen ini bisa dibuat jikalau tidak ada kesadaran yang sadar akan kenyataan itu. Itulah metode lain yang aku singgungkan sebelumnya, bahwa sekalipun kita meragukan, kita tidak bisa meragukan fakta bahwa kita sedang meragukan. Mungkin kita ingin menyatakan bahwa tidak ada kenyataan, tapi dengan begitu, kita menyatakan bahwa ada suatu kenyataan, yaitu tidak ada kenyataan, yang berkontradiksi dengan dirinya sendirinya dan membunuh argumen ketiadaaan kebenaran. Selain itu, keberadaan pernyataan dan argumen ketiadaan kebenaran itu sendiri telah mematahkan argumen ketiadaan kebenaran dengan sendirinya. Karena itu berarti bahwa ada yang nyata, yaitu argumen itu sendiri. Lalu, apa makna dari segala hal ini?

Kebenaran Allah

Jikalau ada kebenaran yang menjadi sumber dari segala kebenaran, maka kita harus mengakui bahwa ada suatu kenyataan yang menjadi sumber dari segala kenyataan lainnya. Mengapa harus seperti itu? Alasannya sederhana, kebenaran asal adalah kebenaran yang tidak memerlukan bukti untuk benar, dalam kata lain kebenaran itu benar apa adanya. Sama halnya, ada suatu kenyataan yang nyata apa adanya, artinya kenyataan itu tidak memerlukan bukti untuk dibuktikan nyata. Kenyataan itu berdiri dengan sendirinya, dan jawaban bahwa kenyataan itu adalah kesadaran memang benar, tapi bukan itu saja yang penting. Masalahnya, kenyataan seperti itu membawakan konsekuensi logis yang sungguh tak terduga, dan semua ini terhubung dengan entitas yang telah lama di salah pahami, ditolak, dan dilukai. Aku yakin pembaca tahu, dan tanpa menunda lagi, entitas itulah ALLAH.

Sesungguhnya, kebenaranlah hal yang paling ditakuti para ateis dan materialis! Karena dari segala sisi kita bisa melihat, bahwa Allah itu sungguh nyata, dan Allah adalah kesadaran yang menjadi sumber dari segala kenyataan lain. Oleh sebab itu, memang benar bahwa bumi itu bulat dan darah itu merah, tapi semua itu bersumber dari Allah. Walaupun begitu, bukankah benar bahwa satu satunya kenyataan yang ada adalah kenyataan kesadaran yaitu Allah sendiri? Hal itu memang benar, dan sebab itu kita bisa membuat kesimpulan yang suci dan mulia tentang segala kenyataan lain, yang sepertinya “terpisah” dari Allah.

Ada suatu kesimpulan lain dari segala pembahasan ini. Bahwa tidak ada yang bisa diciptakan atau dimusnahkan, hanya bisa diubah wujudnya. Kita melihat bahwa segala kebenaran yang ada, mempunyai suatu wujud sejati yaitu Sang Kebenaran Asal. Segala pernyataan, jikalau kita tarik sampai ujungnya hanya satu, bahwa kenyataan itu ada, dan kenyataan tersebut ialah Allah, Sang Kenyataan Sadar. Karena Allah adalah satu satunya kenyataan yang ada, kita bisa membuat kesimpulan bahwa segala kenyataan lain hanyalah manifestasi atau pengejawantahan Allah. Maka, itulah kebenaran semesta, yang ditakuti oleh mereka yang lupa akan Allah, yang mengaku berteman dengan kebenaran, tapi dikhianati oleh kebenaran itu sendiri.

Kesimpulan

Kesimpulannya hanya satu, bahwa Allah adalah kesadaran dan kenyataan yang ada pada semesta ini. Segala hal lain adalah manifestasi, cerminan, citra, perwujudan, atau pengejawantahan dari kenyataan tersebut. Dari kebenaran semesta yang ilahi itulah segala kebenaran, ideologi, dan ide harusnya berasal. Jika ada ideologi yang sudah bertentangan dengan hakikat ini, terkutuklah ideologi itu dan dengan sendirinya ideologi itu akan jatuh ke dalam ketiadaan dan kebinasaan! Walaupun begitu, serpihan kebenaran ada pada semua ideologi, masalahnya apakah para perumus ideologi sungguh mengetahui kebenaran semesta? Dengan tulisan ini, seharusnya mereka bisa mengetahui, tapi kalau semisalnya ada yang menolak kebenaran tulisan ini, itu adalah urusan dan pilihan pribadi. Bagi pembaca yang seperti itu, tunjukkanlah bukti untuk membuktikan tulisan ini salah kalau kalian berani! Dan bagi mereka yang sudah paham akan kebenaran semesta ini, Tuhan memberkati dan sampai jumpa.

Sunday, July 1, 2018

Perkenalan

Salam damai sejahtera kepada kita semua. Perkenalkan, saya adalah seorang remaja 14 tahun (sejauh saya menulis post ini) yang mempunyai impian untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran semesta bagi dunia ini. Saya sudah pernah membuat blog sebelumnya untuk menuliskan pikiran pikiran saya, namun semuanya dalam bahasa Inggris. Maka, karena saya adalah manusia Nusantara, baiklah kalau saya menuliskan kembali dalam bahasa Ibu saya, yaitu bahasa Indonesia itu sendiri. Walaupun saya tidak akan menerjemahkan semua tulisan saya, saya harap apapun yang saya tulis pada blog ini bisa berguna bagi saudara saudari pembaca. Bagi yang sudah kenal dengan blog saya yang bahasa Inggris, https://ignasrantsandideas.blogspot.com/, pastilah tahu apa yang menjadi isi blog saya. Bagi pembaca baru, dalam blog ini saya akan menuliskan hal hal yang menurut saya adalah kebenaran sejati, namun karena saya adalah manusia, jelas sekali saya bisa salah. Oleh sebab itu jangan sungkan atau takut untuk membenarkan dan berdialog dengan saya. Sekian dari saya untuk saat ini, Tuhan memberkati dan selamat membaca!

Update: Setelah beberapa pertimbangan, saya putuskan untuk membuat blog ini sebagai wadah tulisan tulisan saya yang lain, jadi akan ada tulisan yang memang tidak fokus pada kebenaran, tapi merupakan pengamatan terhadap kejadian kejadian yang saya alami atau saya tertarik pada, dan analisis pada hal hal tersebut dengan basis kebenaran sebagai perspektif analisis. Hal ini saya tulis supaya tidak mengagetkan pembaca, terimakasih.