Sunday, February 10, 2019

Metodologi Filsafat Revolusioner


Pendahuluan

Filsafat revolusioner sebagai suatu cara dalam pencarian kebenaran yang baru membutuhkan suatu metodologi yang jelas. Metodologi di sini artinya aturan-aturan yang jelas dalam melakukan suatu hal, dan metodologi filsafat artinya hal-hal yang harus diperhatikan atau dilakukan dalam filsafat atau pencarian kebenaran. Kita mengetahui bahwa filsafat adalah upaya pencarian kebenaran yang paling mendasar dan paling murni. Artinya objek filsafat tidak terikat oleh panca indera sekalipun, karena kita pun tahu bahwa wujud manusiawi bukan wujud paling murni di dunia ini.

Setidaknya kita mengetahui satu aturan pasti dalam filsafat revolusioner, yaitu lingkup pemahaman yang dikuasai oleh filsafat. Dalam hal ini, filsafat hanya menggeluti ide-ide, dan sifatnya idealis. Sebab kebenaran yang paling murni pastilah tak terikat oleh apapun, karena dialah yang mengikat segalanya. Filsafat juga hanya mempelajari hal-hal mendasar, dan haruslah ada suatu satu teori filsafat yang mengikat segala teori lainnya menjadi satu teori filsafat yang lengkap. Namun tentu kita membutuhkan metodologi yang lebih lengkap, demi suatu filsafat revolusioner yang sungguh berhasil.

Filsafat Murni

Filsafat murni merujuk pada bentuk filsafat yang paling dasar, yaitu perumusan kenyataan murni secara lengkap dan utuh. Sebab filsafat dapat digunakan untuk hal-hal lain dalam urusan teoritis, misal untuk integrasi, intrepretasi, dan juga kritikan. Namun untuk bagian ini hanya akan dibahas filsafat murni. Kita tahu bahwa filsafat murni secara umum atau pastinya akan mempelajari masalah-masalah yang idealis dan bukan empiris. Penjelasan lebih lengkapnya adalah hukum-hukum paling utama di dunia ini adalah hukum-hukum yang pada wujud murni mereka, bersifat idealis. Materialisme justru merupakan ekspresi atau perpanjangan saja dari wujud idealis tersebut.

Filsafat murni juga tidak variatif dalam teorinya, dalam arti hanya ada satu alur logika yang tepat dan benar dalam filsafat. Alasan utamanya adalah dalam filsafat harus ada suatu standar kebenaran. Pada filsafat klasik dan juga kontemporer, alasan tidak ada persetujuan umum dalam filsafat adalah kurangnya suatu standar kebenaran ataupun metodologis yang dapat menyatukan setiap filsafat menjadi satu ide yang koheren. Maka kita dapat merumuskan pula bahwa dalam filsafat murni harus ada standar kebenaran. Standar kebenaran adalah suatu hal yang dapat menentukan kebenaran dari suatu ide atau hal. Misal dalam empirisme, standar kebenarannya adalah pengamatan inderawi manusia. Lalu bagaimana dengan standar kebenaran filsafat?

Dalam filsafat, standar kebenaran sebenarnya cukup sederhana, yaitu kenyataan itu sendiri. Namun kalau kita belum mengetahui apa itu kenyataan, ini cukup sulit dan kita harus beralih pada standar yang lebih rendah yaitu hukum kontradiksi. Bahwa hal yang benar tidak mungkin berkontradiksi dengan kenyataan atau menimbulkan kontradiksi dengan kenyataan lainnya kalau misalnya hal itu benar. Dan karena dalam filsafat kita membahas masalah idealis, maka yang dimaksud dengan kenyataan adalah kebenaran tentang kenyataan itu sendiri atau ide dari kenyataan. Ide yang benar ini akan menjadi rujukan kita dalam menentukan apa yang benar dalam filsafat.

Dan bagaimana kita mengembangkan ide pertama ini menjadi satu konsepsi filsafat yang jelas dan benar? Metode yang kita gunakan adalah metode logika deduktif, yang sebenarnya hanyalah ekspresi manusia terhadap hukum kenyataan yang sangat mengakar. Deduksi tidak menghasilkan apapun yang baru, hanya melihat berdasarkan kenyataan yang ada dan menjelaskan secara lebih lengkap, melampaui dari yang bisa dilihat. Deduksi memastikan segala kesimpulan filsafat yang kita hasilkan ialah benar kalau ide awalnya juga benar. Induksi dan abduksi tidak digunakan karena kita tidak berurusan dengan dunia empiris.

Dalam filsafat murni, kita juga menggunakan metode skeptisisme yang absolut. Artinya kita mempertanyakan dan meragukan segala sesuatu sampai jelas bahwa hal tersebut memang tidak dapat dipertanyakan. Suatu hal yang benar secara pasti tidak bisa kita ragukan, dan kalau masih dapat diragukan maka tentu ada kemungkinan bahwa hal itu salah sehingga tidak lagi menjadi pasti. Suatu hipotesis atau asumsi boleh dibuat, dengan syarat diuji menurut kebenaran murni dan diintegrasikan dengan kebenaran murni. Sebab pastinya dari kebenaran murni harus diambil beberapa asumsi dan juga integrasi dengan dunia nyata kita untuk mengembangkan filsafat murni, atau filsafat itu akan mati.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam filsafat murni kita tetap menjadikan kenyataan sebagai pedoman metodologis kita. Bahwa segala ide filsafat dihasilkan menurut kenyataan yang paling murni. Hal ini diekspresikan melalui skeptisisme yang absolut, sehingga kita hanya melihat kenyataan dan tidak menciptakan suatu prasangka terhadap kenyataan. Juga melalui idealisme, supaya kita tidak terikat pada panca indera dan realitas manusiawi kita, melalui deduksi supaya kita sungguh sampai pada suatu kesimpulan yang benar. Dan pada saat tugas kita dalam filsafat murni selesai, tahap berikutnya adalah penyatuan segala pengetahuan dalam nama filsafat atau filsafat integrasi.

Filsafat Integrasi

Tujuan filsafat adalah menciptakan suatu pemahaman tentang kenyataan yang paling lengkap, utuh, dan murni. Maka dari itu dibutuhkan suatu persatuan antara filsafat yang idealis dan juga ilmu empiris yang materialis. Metode yang digunakan sebenarnya tidak jauh berbeda dari filsafat murni, hanya saja ada tambahan metode yaitu interpretasi. Pengetahuan empiris yang kita miliki sekarang sebenarnya akan terlihat sangat tidak berhubungan atau terpisah dari filsafat murni. Padahal keduanya hanyalah ekspresi dari satu hal yang sama, yaitu kenyataan.

Maka dalam hal ini harus dilakukan suatu penghubungan antara ilmu empiris dan filsafat, antara ide-ide mendasar dengan pengetahuan empiris yang lebih kompleks. Dan pada akhirnya kita dapat menjabarkan segala hal dalam maksud kenyataan yang murni. Integrasi ini juga pada waktu-waktu tertentu sangat berguna dalam mengembangkan filsafat murni itu sendiri, walau lebih pada metode empirisnya dan bukan pengetahuan empiris itu sendiri. Tujuan utama dari integrasi memang untuk memperbaiki ilmu pengetahuan yang cenderung terpisah dan kacau, sehingga hubungan dari segala hal dapat dilihat.

Dengan tercapainya suatu integrasi dan penyatuan dalam nama filsafat kita dapat membentuk satu pemahaman kenyataan yang sungguh lengkap dan berkaitan. Sehingga kita pun paham apa yang harus dilakukan secara pasti untuk mencapai suatu wujud tertentu. Walaupun harus dipahami bahwa filsafat integrasi adalah pemahaman akan kecenderungan dan hukum-hukum di dunia ini, dan sifatnya idealis. Integrasi membantu kita memahami hukum dan tata kerja dunia secara utuh, tapi hasil bentukan dari hukum-hukum tersebut bukan lingkup filsafat integrasi. Setelah adanya suatu integrasi pengetahuan, maka langkah berikutnya adalah interpretasi.

Filsafat Interpretatif

Filsafat interpretatif di sini mungkin sekilas terlihat mirip dengan filsafat integrasi. Namun filsafat integrasi hanya membahas hukum-hukum kenyataan yang lengkap. Maksudnya filsafat integrasi membahas kepastian-kepastian dan hal-hal yang bersifat konstan dan pasti untuk setiap kondisi. Sementara filsafat interpretatif menafsirkan kenyataan dalam perspektif filsafat murni, dan juga melihatnya dari perspektif kontinuu, yaitu sesuai apa yang terjadi. Misal suatu peristiwa yang terjadi, maka filsafat interpretatif akan menganalisis kejadian tersebut secara mendetil dan menjelaskannya dalam istilah filsafat murni.

Memang sulit untuk membedakan antara filsafat integrasi dan filsafat interpretatif, karena hal yang dibahas sama, yaitu dunia materi. Perbedaannya adalah fokus pembahasan dan analisis dari kedua bidang. Integrasi fokus pada menyatukan ilmu pengetahuan, dan interpretasi fokus pada penyadaran atau analisis terhadap wujud murni dari suatu kejadian atau kondisi. Atau dalam kata lain, tafsiran yang benar untuk suatu kejadian, untuk mengetahui makna dari kejadian tersebut. Sehingga filsafat interpretatif dapat digunakan untuk menganalisis tulisan-tulisan bersejarah atau bahkan karya-karya sastra.

Suatu ilustrasi yang mungkin dapat memperjelas perbedaan antara integrasi dan interpretasi adalah sebagai berikut. Misalkan perang dunia II, filsafat integrasi mungkin akan membahas perang dunia sesuai apa yang dapat dilihat dan kaitannya dengan filsafat murni. Misal mengenai praktik pembunuhan, etika perang, dan seterusnya. Akan tetapi filsafat interpretatif akan melihatnya dari sisi yang lebih dalam, yaitu konflik dalam wujud paling murni dan apa yang sedang terjadi. Dari segi teori, sulit dibedakan tapi pada saat dipraktikkan akan cukup jelas.

Filsafat Evaluatif

Filsafat evaluatif atau filsafat kritis adalah fungsi filsafat dan cabang filsafat yang mengkritik dan juga memberikan pembenaran bagi ide-ide ataupun kondisi nyata yang salah atau tidak sesuai kenyataan yang seharusnya. Filsafat kritis paling berguna pada masa saat ini, yaitu sebagai suatu filsafat revolusioner. Melalui filsafat murni, kita dapat menilai unsur-unsur kenyataan mana yang benar atau salah pada saat ini, juga menilai ide-ide atau paham-paham yang benar atau salah sesuai filsafat murni.

Dalam filsafat evaluatif ada metodologi tersendiri yang unik untuk menilai dan juga membantah paham-paham yang menyesatkan. Metode ini sebenarnya bervariatif, tapi yang paling efektif adalah dengan menganalisis dasar-dasar filsafat mereka. Misalnya suatu agama dapat dinilai benar atau salahnya secara keseluruhan dengan menganalisis apa yang menjadi dasar iman agama tersebut. Akan tetapi, kita sebagai filsuf yang revolusioner harus mengingat bahwa tetap ada nilai-nilai dalam suatu paham yang mungkin menyesatkan. Sehingga suatu persoalan harus dipahami secara menyeluruh dan dinilai secara menyeluruh pula. Oleh sebab itu filsafat interpretatif akan sangat berguna pula dalam filsafat evaluatif.

Kesatuan Filsafat

Sesungguhnya ini hanyalah satu sudut pandang saja terhadap metodologi filsafat yang cukup luas. Dan pada akhirnya seluruh fungsi, cabang, atau metodologi filsafat yang berbeda-beda ini tetap satu sifatnya dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Dan melalui pemanfaatan filsafat secara utuh dan maksimal kita dapat menemukan kebenaran yang utuh dan lengkap. Pengetahuan akan metodologi ini pun masih belum sempurna karena filsafat itu sendiri masih belum dikembangkan lagi ataupun didalami sama sekali, yaitu dengan menjawab pertanyaan besar kenyataan. Oleh sebab itu, hal berikutnya yang harus kita lakukan jelas, yaitu memulai perjalanan filsafat kita, demi suatu dunia yang lebih baik. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment