Pendahuluan
Filsafat
revolusioner sebagai suatu cara dalam pencarian kebenaran yang baru membutuhkan
suatu metodologi yang jelas. Metodologi di sini artinya aturan-aturan yang
jelas dalam melakukan suatu hal, dan metodologi filsafat artinya hal-hal yang
harus diperhatikan atau dilakukan dalam filsafat atau pencarian kebenaran. Kita
mengetahui bahwa filsafat adalah upaya pencarian kebenaran yang paling mendasar
dan paling murni. Artinya objek filsafat tidak terikat oleh panca indera
sekalipun, karena kita pun tahu bahwa wujud manusiawi bukan wujud paling murni
di dunia ini.
Setidaknya
kita mengetahui satu aturan pasti dalam filsafat revolusioner, yaitu lingkup
pemahaman yang dikuasai oleh filsafat. Dalam hal ini, filsafat hanya menggeluti
ide-ide, dan sifatnya idealis. Sebab kebenaran yang paling murni pastilah tak
terikat oleh apapun, karena dialah yang mengikat segalanya. Filsafat juga hanya
mempelajari hal-hal mendasar, dan haruslah ada suatu satu teori filsafat yang
mengikat segala teori lainnya menjadi satu teori filsafat yang lengkap. Namun
tentu kita membutuhkan metodologi yang lebih lengkap, demi suatu filsafat
revolusioner yang sungguh berhasil.
Filsafat Murni
Filsafat
murni merujuk pada bentuk filsafat yang paling dasar, yaitu perumusan kenyataan
murni secara lengkap dan utuh. Sebab filsafat dapat digunakan untuk hal-hal
lain dalam urusan teoritis, misal untuk integrasi, intrepretasi, dan juga
kritikan. Namun untuk bagian ini hanya akan dibahas filsafat murni. Kita tahu
bahwa filsafat murni secara umum atau pastinya akan mempelajari masalah-masalah
yang idealis dan bukan empiris. Penjelasan lebih lengkapnya adalah hukum-hukum
paling utama di dunia ini adalah hukum-hukum yang pada wujud murni mereka,
bersifat idealis. Materialisme justru merupakan ekspresi atau perpanjangan saja
dari wujud idealis tersebut.
Filsafat
murni juga tidak variatif dalam teorinya, dalam arti hanya ada satu alur logika
yang tepat dan benar dalam filsafat. Alasan utamanya adalah dalam filsafat
harus ada suatu standar kebenaran. Pada filsafat klasik dan juga kontemporer,
alasan tidak ada persetujuan umum dalam filsafat adalah kurangnya suatu standar
kebenaran ataupun metodologis yang dapat menyatukan setiap filsafat menjadi
satu ide yang koheren. Maka kita dapat merumuskan pula bahwa dalam filsafat
murni harus ada standar kebenaran. Standar kebenaran adalah suatu hal yang
dapat menentukan kebenaran dari suatu ide atau hal. Misal dalam empirisme,
standar kebenarannya adalah pengamatan inderawi manusia. Lalu bagaimana dengan
standar kebenaran filsafat?
Dalam
filsafat, standar kebenaran sebenarnya cukup sederhana, yaitu kenyataan itu
sendiri. Namun kalau kita belum mengetahui apa itu kenyataan, ini cukup sulit
dan kita harus beralih pada standar yang lebih rendah yaitu hukum kontradiksi.
Bahwa hal yang benar tidak mungkin berkontradiksi dengan kenyataan atau
menimbulkan kontradiksi dengan kenyataan lainnya kalau misalnya hal itu benar. Dan
karena dalam filsafat kita membahas masalah idealis, maka yang dimaksud dengan
kenyataan adalah kebenaran tentang kenyataan itu sendiri atau ide dari
kenyataan. Ide yang benar ini akan menjadi rujukan kita dalam menentukan apa
yang benar dalam filsafat.
Dan
bagaimana kita mengembangkan ide pertama ini menjadi satu konsepsi filsafat
yang jelas dan benar? Metode yang kita gunakan adalah metode logika deduktif,
yang sebenarnya hanyalah ekspresi manusia terhadap hukum kenyataan yang sangat
mengakar. Deduksi tidak menghasilkan apapun yang baru, hanya melihat
berdasarkan kenyataan yang ada dan menjelaskan secara lebih lengkap, melampaui
dari yang bisa dilihat. Deduksi memastikan segala kesimpulan filsafat yang kita
hasilkan ialah benar kalau ide awalnya juga benar. Induksi dan abduksi tidak
digunakan karena kita tidak berurusan dengan dunia empiris.
Dalam
filsafat murni, kita juga menggunakan metode skeptisisme yang absolut. Artinya
kita mempertanyakan dan meragukan segala sesuatu sampai jelas bahwa hal
tersebut memang tidak dapat dipertanyakan. Suatu hal yang benar secara pasti
tidak bisa kita ragukan, dan kalau masih dapat diragukan maka tentu ada
kemungkinan bahwa hal itu salah sehingga tidak lagi menjadi pasti. Suatu
hipotesis atau asumsi boleh dibuat, dengan syarat diuji menurut kebenaran murni
dan diintegrasikan dengan kebenaran murni. Sebab pastinya dari kebenaran murni
harus diambil beberapa asumsi dan juga integrasi dengan dunia nyata kita untuk
mengembangkan filsafat murni, atau filsafat itu akan mati.
Maka
dapat disimpulkan bahwa dalam filsafat murni kita tetap menjadikan kenyataan
sebagai pedoman metodologis kita. Bahwa segala ide filsafat dihasilkan menurut
kenyataan yang paling murni. Hal ini diekspresikan melalui skeptisisme yang
absolut, sehingga kita hanya melihat kenyataan dan tidak menciptakan suatu
prasangka terhadap kenyataan. Juga melalui idealisme, supaya kita tidak terikat
pada panca indera dan realitas manusiawi kita, melalui deduksi supaya kita
sungguh sampai pada suatu kesimpulan yang benar. Dan pada saat tugas kita dalam
filsafat murni selesai, tahap berikutnya adalah penyatuan segala pengetahuan
dalam nama filsafat atau filsafat integrasi.
Filsafat Integrasi
Tujuan
filsafat adalah menciptakan suatu pemahaman tentang kenyataan yang paling
lengkap, utuh, dan murni. Maka dari itu dibutuhkan suatu persatuan antara
filsafat yang idealis dan juga ilmu empiris yang materialis. Metode yang digunakan
sebenarnya tidak jauh berbeda dari filsafat murni, hanya saja ada tambahan
metode yaitu interpretasi. Pengetahuan empiris yang kita miliki sekarang
sebenarnya akan terlihat sangat tidak berhubungan atau terpisah dari filsafat
murni. Padahal keduanya hanyalah ekspresi dari satu hal yang sama, yaitu
kenyataan.
Maka
dalam hal ini harus dilakukan suatu penghubungan antara ilmu empiris dan
filsafat, antara ide-ide mendasar dengan pengetahuan empiris yang lebih
kompleks. Dan pada akhirnya kita dapat menjabarkan segala hal dalam maksud
kenyataan yang murni. Integrasi ini juga pada waktu-waktu tertentu sangat
berguna dalam mengembangkan filsafat murni itu sendiri, walau lebih pada metode
empirisnya dan bukan pengetahuan empiris itu sendiri. Tujuan utama dari integrasi
memang untuk memperbaiki ilmu pengetahuan yang cenderung terpisah dan kacau,
sehingga hubungan dari segala hal dapat dilihat.
Dengan
tercapainya suatu integrasi dan penyatuan dalam nama filsafat kita dapat
membentuk satu pemahaman kenyataan yang sungguh lengkap dan berkaitan. Sehingga
kita pun paham apa yang harus dilakukan secara pasti untuk mencapai suatu wujud
tertentu. Walaupun harus dipahami bahwa filsafat integrasi adalah pemahaman
akan kecenderungan dan hukum-hukum di dunia ini, dan sifatnya idealis. Integrasi
membantu kita memahami hukum dan tata kerja dunia secara utuh, tapi hasil
bentukan dari hukum-hukum tersebut bukan lingkup filsafat integrasi. Setelah
adanya suatu integrasi pengetahuan, maka langkah berikutnya adalah
interpretasi.
Filsafat Interpretatif
Filsafat
interpretatif di sini mungkin sekilas terlihat mirip dengan filsafat integrasi.
Namun filsafat integrasi hanya membahas hukum-hukum kenyataan yang lengkap.
Maksudnya filsafat integrasi membahas kepastian-kepastian dan hal-hal yang
bersifat konstan dan pasti untuk setiap kondisi. Sementara filsafat
interpretatif menafsirkan kenyataan dalam perspektif filsafat murni, dan juga
melihatnya dari perspektif kontinuu, yaitu sesuai apa yang terjadi. Misal suatu
peristiwa yang terjadi, maka filsafat interpretatif akan menganalisis kejadian
tersebut secara mendetil dan menjelaskannya dalam istilah filsafat murni.
Memang
sulit untuk membedakan antara filsafat integrasi dan filsafat interpretatif,
karena hal yang dibahas sama, yaitu dunia materi. Perbedaannya adalah fokus
pembahasan dan analisis dari kedua bidang. Integrasi fokus pada menyatukan ilmu
pengetahuan, dan interpretasi fokus pada penyadaran atau analisis terhadap
wujud murni dari suatu kejadian atau kondisi. Atau dalam kata lain, tafsiran
yang benar untuk suatu kejadian, untuk mengetahui makna dari kejadian tersebut.
Sehingga filsafat interpretatif dapat digunakan untuk menganalisis
tulisan-tulisan bersejarah atau bahkan karya-karya sastra.
Suatu
ilustrasi yang mungkin dapat memperjelas perbedaan antara integrasi dan
interpretasi adalah sebagai berikut. Misalkan perang dunia II, filsafat
integrasi mungkin akan membahas perang dunia sesuai apa yang dapat dilihat dan
kaitannya dengan filsafat murni. Misal mengenai praktik pembunuhan, etika
perang, dan seterusnya. Akan tetapi filsafat interpretatif akan melihatnya dari
sisi yang lebih dalam, yaitu konflik dalam wujud paling murni dan apa yang
sedang terjadi. Dari segi teori, sulit dibedakan tapi pada saat dipraktikkan
akan cukup jelas.
Filsafat Evaluatif
Filsafat
evaluatif atau filsafat kritis adalah fungsi filsafat dan cabang filsafat yang
mengkritik dan juga memberikan pembenaran bagi ide-ide ataupun kondisi nyata
yang salah atau tidak sesuai kenyataan yang seharusnya. Filsafat kritis paling
berguna pada masa saat ini, yaitu sebagai suatu filsafat revolusioner. Melalui
filsafat murni, kita dapat menilai unsur-unsur kenyataan mana yang benar atau
salah pada saat ini, juga menilai ide-ide atau paham-paham yang benar atau
salah sesuai filsafat murni.
Dalam
filsafat evaluatif ada metodologi tersendiri yang unik untuk menilai dan juga
membantah paham-paham yang menyesatkan. Metode ini sebenarnya bervariatif, tapi
yang paling efektif adalah dengan menganalisis dasar-dasar filsafat mereka. Misalnya
suatu agama dapat dinilai benar atau salahnya secara keseluruhan dengan
menganalisis apa yang menjadi dasar iman agama tersebut. Akan tetapi, kita
sebagai filsuf yang revolusioner harus mengingat bahwa tetap ada nilai-nilai
dalam suatu paham yang mungkin menyesatkan. Sehingga suatu persoalan harus
dipahami secara menyeluruh dan dinilai secara menyeluruh pula. Oleh sebab itu
filsafat interpretatif akan sangat berguna pula dalam filsafat evaluatif.
Kesatuan Filsafat
Sesungguhnya
ini hanyalah satu sudut pandang saja terhadap metodologi filsafat yang cukup
luas. Dan pada akhirnya seluruh fungsi, cabang, atau metodologi filsafat yang
berbeda-beda ini tetap satu sifatnya dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Dan
melalui pemanfaatan filsafat secara utuh dan maksimal kita dapat menemukan
kebenaran yang utuh dan lengkap. Pengetahuan akan metodologi ini pun masih
belum sempurna karena filsafat itu sendiri masih belum dikembangkan lagi
ataupun didalami sama sekali, yaitu dengan menjawab pertanyaan besar kenyataan.
Oleh sebab itu, hal berikutnya yang harus kita lakukan jelas, yaitu memulai
perjalanan filsafat kita, demi suatu dunia yang lebih baik. Tuhan memberkati.
No comments:
Post a Comment