Saturday, July 27, 2019

Metafisika


Metafisika
Pendahuluan
Metafisika, suatu ilmu yang entah sudah ditinggalkan atau sudah selesai tugasnya. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yaitu dari ta meta ta phusika atau secara harafiah “yang datang setelah fisika”. Sebab metafisika aslinya merupakan judul karya Aristoteles yang datang setelah karyanya berjudul Fisika. Kalau dikaitkan dengan pengertian sekarang, dapat dikatakan metafisika adalah ilmu mengenai hal-hal yang melampaui atau mendasari fisika. Jadi, objek metafisika ialah kenyataan yang lebih mendasar daripada hukum fisika.
Setidaknya itu adalah definisi metafisika menurut pemenggalan katanya, pengertian resminya tidak begitu terpaku dan sering kali berbeda tapi memiliki satu esensi. Bahwa metafisika meneliti hal-hal paling mendasar dari kenyataan. Sampai mana batasan “mendasar” ini, dan di mana metafisika menjadi fisika saja sedikit rancu dan hampir tidak berguna mempermasalahkan batasan itu.  Namun kita dapat membuat suatu cakupan inti metafisika, supaya penelitian kita lebih terfokus.
Cenderung metafisika membahas hal-hal terkait keberadaan, waktu, ruang, identitas, substansi, sifat, dan lain sebagainya yang terkait. Namun metafisika juga menjadi dasar dari beberapa cabang ilmu filsafat lainnya seperti etika dan epistemologi, tapi terutama epistemologi. Jadi lebih baik mendefinisikan metafisika dengan pengertian paling sederhananya, yaitu ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip paling dasar dari kenyataan yang mengatasi segala prinsip lain.
Jadi seharusnya metafisika bahkan lebih mendasar dari fisika atau fisika kuantum sekalipun, tapi kenapa nama ilmu ini tidak pernah diajarkan di SMP atau SMA? Mungkin saja masih banyak orang dewasa yang juga tidak begitu mengenal istilah ini, pernah mendengar tapi tidak begitu mengerti. Tidak pernah pula diberitakan tentang penemuan metafisika yang hebat atau apapun, atau penjabaran metafisika sebagai ilmu tentang dasar kenyataan. Gelar itu justru dinobatkan pada fisika. Jadi apakah ada yang salah?
Sama seperti filsafat yang kesannya sudah dilupakan, metafisika juga sudah dilupakan. Lagipula metafisika adalah wajah pertama dari filsafat, dan bagiku filsafat bergantung pada metafisika. Namun tidak mungkin metafisika seutuhnya terlupakan, karena segala hal didasari oleh metafisika, yang dalam konteks ini adalah serangkai asumsi dasar mengenai kenyataan yang diyakini dalam hidup. Jadi lebih tepat mengatakan bahwa metafisika bukannya dilupakan tapi dianggap tugasnya sudah selesai.
Maka ada dua jenis metafisika yang peranannya sedikit berbeda, yaitu metafisika sebagai ilmu dan metafisika sebagai dialog. Sebagai ilmu, metafisika sudah selesai karena ada beberapa teori dan asumsi metafisika yang diambil sebagai teori dan asumsi resmi yang “tidak resmi” dari segala ilmu, yaitu metafisika empiris. Namun metafisika sebagai dialog mati, karena tidak ada lagi dialog atau perbincangan untuk terus memperbaharui metafisika, karena orang mengira metafisika itu sudah selesai.
Maka aku rasa tetap pantas untuk menyatakan bahwa metafisika, bersama filsafat, telah lenyap dari mata publik, dan hanya ada dalam lingkaran-lingkaran khusus di universitas. Pertanyaan tentang apa itu kenyataan dan apakah kenyataan sungguh ada mungkin akan dianggap bodoh atau suatu hal yang tidak dianggap begitu serius. Bahkan mempertanyakan sejauh itu dianggap sedang mengalami krisis eksistensial atau sebagainya, padahal ini adalah awal dari kebijaksanaan yang lebih.
Lalu apa itu metafisika empirisme yang akhirnya “membunuh” seluruh metafisika lain dan secara efektif mematikan dialog tentang metafisika? Ada beberapa prinsip yang dapat kita simpulkan, yaitu bahwa kenyataan dipastikan ada, kenyataan bersifat materi, kenyataan tidak tergantung pengamatan, dan pengamatan inderawi adalah sumber tunggal pengetahuan yang benar. Prinsip-prinsip ini kita pegang dan yakini seumur hidup tanpa sadar, dan sekarang kita terima begitu saja.
Jadi, fungsi bab ini adalah untuk menganalisis prinsip-prinsip metafisik itu kembali, dan sekaligus menggugat kedudukan empirisme dalam metafisika. Memangnya kenapa menggugat empirisme itu penting dan kita tidak masuk dalam metafisika saja? Sederhana, karena kita ingin membuat metafisika yang baru kita harus membuktikan bahwa metafisika yang baru memang dibutuhkan. Untuk itu kita harus membuktikan bahwa paham yang lama, yaitu empirisme, tidak memadai dalam penyusunan metafisika yang benar.
Maka tidak ada gunanya berlarut dalam pendahuluan, sebab metafisika yang lama kita buang dan kita mulai dari awal. Sehingga secara efektif kita tidak mengenal apa-apa tentang metafisika, kecuali tujuannya, yaitu mengetahui dasar-dasar kenyataan. Untuk itu kita akan menelaah metafisika yang berlaku saat ini yaitu empirisme, dan membedahnya secara substansial, membuktikan bahwa empirisme tidak cukup, baru memulai metafisika yang baru. Selamat membaca.











Empirisme

Gambaran Umum
Secara garis besar telah dipaparkan tentang empirisme pada bab sebelumnya tapi demi kejelasan filsafat akan dijelaskan kembali secara umum apa itu empirisme. Empirisme berasal dari bahasa Yunani yaitu empeiria yang artinya “pengalaman”. Dalam konteks modern maksudnya adalah pengalaman inderawi. Pada bab pengakuan, dijelaskan bahwa empirisme adalah pandangan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah panca indera, dan itu memang benar.
Namun gaya bahasa pada bab sebelumnya dapat membuat salah paham, jadi akan diperjelas apa maksud dari pernyataan itu. Jadi, empirisme adalah suatu pandangan epistemologis dan bukan metafisik, meski juga bersinggungan dengan metafisika. Empirisme membahas hal-hal mendasar tentang apa itu kebenaran, dan bukan apa itu kenyataan. Kedua hal ini terlihat mirip, tapi perbedaan filsafatnya sangat signifikan. Sejauh apakah perbedaan itu?
Kalau kita membicarakan kenyataan, kita secara langsung mencari tahu tentang apa itu kenyataan tanpa mempermasalahkan batasan-batasan pengetahuan. Sementara itu, kebenaran lebih tentang apa yang dapat kita ketahui tentang kenyataan dan bagaimana mengetahui kenyataan secara benar. Dan antara 2 hal ini ada hubungan yang cukup menarik. Di satu sisi kenyataan jelas lebih mendasar dari kebenaran, tapi kalau dari pemahaman manusia kebenaran lebih penting daripada kenyataan itu sendiri.
Sebab mengenal kebenaran dan apa itu kebenaran menjadi panduan kita untuk mengetahui apa itu kenyataan. Pemahaman kita akan kebenaran secara langsung mempengaruhi pemahaman kita akan kenyataan. Maka tentu saja kalau kita memiliki anggapan yang salah tentang kebenaran, segala hal lainnya akan ikut salah. Walau tidak akan ada yang seutuhnya salah atau benar, pasti ada sisi lainnya. Dan empirisme mempermasalahkan kebenaran terutama, atau cara mengetahui yang benar tentang kenyataan.
Maka patutnya kita sedikit mendalami tentang empirisme itu sendiri. Hal yang dimaksud oleh empirisme adalah kita hanya bisa mengetahui kenyataan secara tepat melalui panca indera kita. Misalnya suatu bintang, bintang itu hanya bisa kita ketahui secara tepat keberadaannya kalau telah diamati dengan panca indera. Namun empirisme tidak menyatakan bahwa kenyataan ditentukan oleh panca indera, itu adalah pernyataan yang salah dan kita tidak ingin menyerang argumen yang salah. Maka bintang yang belum diamati bukannya tidak ada, tapi keberadaannya tidak pasti atau tidak dapat ditentukan.



Meski empirisme terutama mempersoalkan apa yang dapat kita ketahui tentang dunia, secara langsung ini turut mempengaruhi dan membentuk pandangan metafisika menurut empirisme. Bahwa hal-hal yang tidak dapat diindera, dalam istilah ilmiah tidak dapat difalsifikasi atau lebih tepatnya diverifikasi adalah tidak benar atau tidak layak diperbincangkan atau bahkan tidak nyata. Walau banyak ilmuwan yang lebih memilih mengatakan bahwa itu bukan dalam lingkup kerjanya dan itu memang benar. Tapi tetap saja ada beberapa kelompok yang menerapkan empirisme metafisik.
Maka sejauh ini kita sudah memiliki suatu gambaran umum tentang apa itu empirisme. Empirisme adalah pandangan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah panca indera dan tidak yang lain. Ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kenyataan ditentukan oleh pengamatan panca indera. Secara langsung empirisme juga mempengaruhi pandangan metafisik dengan menyatakan bahwa apa yang tidak dapat diindera tidak benar. Walau ada perbedaan tafsiran terhadap hal tersebut.
Berikutnya adalah untuk membedah empirisme dan menguak beberapa masalah penting yang timbul karena empirisme. Bagian ini menjadi penting karena pada akhirnya tujuan kita adalah menyusun metafisika yang baru dan sekaligus kebenaran yang baru. Untuk itu kita harus membuktikan mengapa standar yang berlaku harus digantikan atau mengapa suatu metafisika yang baru diperlukan. Dan dari awal, sudah ada beberapa masalah yang terlihat, bahkan dari batasan-batasan empirisme.
Bagian 1-Pembatasan Indera
Bagian ini akan fokus pada bagaimana empirisme dibatasi dan di manakah batasan empirisme itu. Yaitu sampai titik apa suatu pengetahuan atau hal layak dikategorikan sebagai empiris, atau sejauh apakah empirisme menerima pengetahuan? Dalam hal ini kita kembali pada definisi empirisme, yaitu pandangan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah panca indera manusia.
Dari situ cukup jelas apa yang dimaksud dengan panca indera, yaitu indera penglihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran, dan perabaan. Setidaknya itu yang kita kira, sebab sebenarnya tidak ada syarat “panca” yaitu lima indera yang diperbolehkan. Satu-satunya kriteria dalam empirisme adalah pengetahuan yang kita terima diperoleh dari indera, bukan panca indera. Sebab nyatanya manusia memiliki lebih dari 5 indera, misal indera keseimbangan, indera ruang atau propriosepsi, dan lainnya.
Di samping penginderaan, ada satu syarat lagi dari empirisme yang harus dipahami supaya kita tidak menyerang argumen yang salah. Bahwa penginderaan harus dilakukan secara kolektif oleh setiap pengindera atau pengamat. Logika dari ini cukup unik, bahwa karena kenyataan sepatutnya tidak terikat pada penginderaan, maka kalau suatu hal sungguh nyata dan benar, pasti dapat diindera setiap orang.
Tentu saja kecuali orang itu memiliki kerusakaan pada inderanya yang juga dapat diindera oleh orang lain kerusakannya. Maksudnya adalah mereka yang cacat secara inderawi sehingga mereka tidak mampu mengindera sebaik mereka yang inderanya tidak cacat. Maka kalau suatu hal sungguh nyata dan benar, harusnya bisa diindera oleh mereka yang inderanya masih sehat dan mampu menangkap informasi tentang kenyataan secara baik. Lalu bagaimana kalau suatu hal diindera oleh seorang tapi tidak oleh yang lain?
Tergantung, tapi ada beberapa hal yang harus diingat. Dalam empirisme, penginderaan tetap di bawah kenyataan, jadi fungsi penginderaan untuk menemukan dan bukan menentukan kenyataan. Maka apa yang terjadi saat ada orang yang mengindera hal yang berbeda dari yang lain? Bisa saja dia sungguh mengindera hal itu, tapi karena sangat langka maka tidak bisa diverifikasi ulang. Atau bisa pula dia berhalusinasi dan ini yang seringkali terjadi. Proses halusinasi ini juga bisa diindera, seperti cacat inderawi yang terjadi pada beberapa orang.
Penginderaan palsu, yaitu saat ada penginderaan tapi tidak ada kenyataan yang sesungguhnya biasanya terjadi karena gangguan pada indera dan juga otak. Hal ini dapat diverifikasi oleh orang-orang lain yang otak dan inderanya sehat, kalau tidak ada objek yang diindera, maka yang harus diperhatikan adalah orang yang mengindera hal yang tidak nyata. Jadi dapat dikatakan penginderaan palsu adalah semacam cacat inderawi pula, atau lebih tepatnya gangguan pada indera.
Jadi empirisme yang lengkap pastinya adalah penginderaan melalui indera yang sehat dan tidak terganggu, dan dapat diverifikasi oleh penginderaan lainnya. Atau secara analogis, melalui sekelompok kamera yang tidak rusak atau terganggu. Dan dari sini kita mulai mengarah pada pembatasan berikutnya, yaitu antara yang tidak bisa diindera sama sekali dan yang belum bisa diindera karena keterbatasan manusiawi dan juga keterbatasan teknologis. Dua hal ini sering disalahpahami kaum empiris sekalipun, tapi sangat berbeda.
Sesungguhnya empirisme hanya menentang kebenaran hal-hal yang tidak bisa diindera sama sekali. Maka pernyataan iman yang juga menentang indera atau secara eksplisit mengaku tidak bisa diindera akan langsung ditolak empirisme. Masalahnya tidak semua hal yang tidak bisa kita indera adalah hal-hal seperti itu, yang memang menurut pemeluknya tidak bisa diindera sama sekali. Terkadang ada yang meyakini akan hal-hal yang belum dapat diindera, tapi ditulis sebagai hal yang tidak bisa diindera sama sekali.
Inilah yang terjadi dengan dunia gaib atau dunia spiritual. Banyak yang berteori tentang pengaruh makhluk halus pada dunia kita, dan banyak pula pengakuan bahwa mereka memiliki efek yang empiris terhadap kita. Kalau begitu, seharusnya efek-efek empiris ini yang diteliti dan dipahami lebih dalam. Dasar-dasar dari pemahaman spiritual layaknya digali lagi dan diteliti secara tegas. Walaupun banyak penelitian sudah menyatakan bahwa kejadian-kejadian ini hanya kejadian alami yang kurang dipahami atau disalah tafsirkan.
Lalu bagaimana kita bisa membedakan antara hal yang belum dapat diindera dan sudah melampaui penginderaan? Sederhana, melalui dasar-dasar dari hipotesis-hipotesis itu. Setiap hipotesis pastinya memiliki dasar yang entah empiris atau tidak empiris sama sekali. Misalnya teologi ala Thomas Aquinas, yang secara eksplisit mengatakan bahwa pengetahuan ini berasal dari Allah, tepatnya dari Injil. Hal itu dapat langsung dibantah oleh empirisme bahwa pengetahuan itu tidak dapat diverifikasi indera.
Hal yang menarik adalah saat suatu hipotesis dilandaskan oleh alasan-alasan empiris, bahwa suatu entitas yang selama ini tidak dapat diindera memiliki pengaruh-pengaruh yang dapat diindera. Dengan mempelajari pengaruh tersebut harusnya kita dapat menentukan kebenaran dari hipotesis itu. Dalam fisika dan astronomi, ada yang dinamakan dengan dark matter atau materi gelap. Materi ini dihipotesiskan sebagai penyebab dari anomali gravitasi yang ada di galaksi-galaksi besar. Dan hanya itulah bukti dari keberadaan materi gelap, sejauh ini. Sebab materi gelap tidak berinteraksi sama sekali dengan cahaya.
Bagaimana dengan hal-hal yang berbau spiritual? Sama saja, kalau ternyata hal-hal spiritual tersebut memiliki pengaruh empiris yang tidak dapat dijelaskan dengan ilmu apapun, maka itu dapat menjadi pembuktian akan keberadaan spiritual. Jadi lebih tepatnya bukan antara hal yang tidak dapat diindera sama sekali dan yang belum dapat diindera. Melainkan yang dapat diindera hanya melalui pengaruhnya dan yang sungguh tidak ada dan hanya pengaruh dari gangguan inderawi.
Ini adalah yang terjadi dengan materi gelap, memang tidak bisa kita deteksi secara langsung, tapi melalui pengaruhnya pada dunia yang notabene empiris kita menerka bahwa ada materi semacam itu. Atau dengan lubang hitam, atau tepatnya singularitas dari lubang hitam juga tidak bisa diamati secara langsung, tapi piringan akresi dan event horizon dari lubang hitam dapat diamati. Meski ini berbeda dari materi gelap karena piringan akresi dan horizon peristiwa memang bagian dari struktur lubang hitam.
Dan itulah seluruh persyaratan akan kebenaran dari empirisme, atau setidaknya kebenaran suatu hal secara keberadaan (dan bukan sebagai hukum). Bahwa pertama suatu hal harus dapat diindera oleh setiap pengindera yang tidak terganggu atau sehat dan kedua setidaknya ada pengaruh empiris yang jelas dari hal tersebut supaya dapat dikategorikan sebagai empiris. Namun ada satu pertanyaan lagi, apa yang dimaksud dengan indera?
Kalau indera hanya dikategorikan sebagai panca indera, itu tentu tidak tepat. Jadi apa yang dimaksud dengan indera? Kalau kita menyatakan indera sebagai segala organ yang diakui secara ilmiah, lalu mengapa organ-organ itu dikatakan sebagai indera? Kalau kita mendefinisikan indera sebagai suatu organ atau metode persepsi yang menimbulkan persepsi terhadap kenyataan. Atau suatu organ yang memberikan kita informasi tentang kenyataan, kenyataan macam apa yang termasuk?
Sebab saat kita berpikir dan kita menyadari pikiran kita bukannya itu termasuk hal yang nyata? Maka ada pula yang menyatakan bahwa indera adalah organ yang memberikan informasi mengenai kenyataan eksternal atau bagaimana badan menerima stimulus eksternal. Itulah alasan hal-hal yang terkait pikiran jarang dianggap oleh empirisme, sebab pikiran melihat ke dalam dan bukan ke luar. Namun ini akan sangat mengubah pemahaman empirisme atau definisinya, dan tidak lagi tentang empirisme yang keras tapi empirisme yang halus.


Kalau indera didefinisikan sebagai alat atau organ yang memberikan informasi tentang kenyataan eksternal, itu berarti empirisme bukannya menolak hal-hal di luar indera, dan bukan pandangan yang menyatakan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah indera. Namun empirisme hanyalah suatu metode pencarian kebenaran melalui indera, tapi tidak menolak atau membuat pernyataan apapun tentang keberadaan di luar indera. Ini adalah posisi yang diambil banyak ilmuwan, mereka hanya meneliti hal-hal empiris, tapi tidak menolak atau mengakui keberadaan non-empiris karena itu bukan tugas mereka.
Hanya saja kita tahu tidak semua ilmuwan mengambil posisi agnostik rasionalis seperti itu. Ada ilmuwan-ilmuwan yang berani untuk menentang keberadaan rasionalis, dan mencoba menggunakan empirisme sebagai dasar mereka. Dan hegemoni empirisme datang dari mereka yang menentang keberadaan rasionalis ini, bukan dari mereka yang diam dan lebih memilih tidak berkata apa-apa tentang rasionalisme. Jadi kembali pada pandangan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah indera, lalu apa itu indera?
Dan di sini kita menemui suatu jalan buntu karena suatu upaya untuk mendefinisikan indera akan menjadi definisi yang melingkar. Mencoba menetapkan indera secara empiris akan menghasilkan argumen sebagai berikut. Karena dalam empirisme, hanya indera yang dapat dipercaya, maka hanya pengetahuan tentang indera yang berdasarkan indera dapat dipercaya. Dari mana kita mengetahui tentang indera? Dari indera pula. Ini akan terjadi begitu seterusnya tanpa henti.
Atau kita bisa sedikit bermain kata dan pengertian, kalau indera adalah hal yang dapat memberikan kita pengetahuan akan kenyataan, bukannya pikiran juga termasuk? Sebab kita dapat menyadari akan pikiran kita sendiri, dan berbicara tentang hal itu. Ataupun perasaan-perasaan sedih, gembira, sengsara, bahagia, lapar, puas, dan lainnya. Kalau seperti itu, empirisme sudah mendukung kita sejak lama, tapi kita tahu itu tidak benar. Permainan teori mungkin berkata seperti itu, tapi penerapannya jelas tidak seperti itu.
Dan itulah masalah pertama dari empirisme, bahwa batasan akan indera sangat tidak jelas. Ya aku harus mengakui bahwa saat masalah ini tidak dipikirkan dan kita menerimanya dengan iman, semuanya berjalan lancar. Lagipula banyak penemuan dan pengetahuan ilmiah yang kita tahu tentang dunia, adalah hasil dari empirisme ini, ya sebenarnya juga dipengaruhi oleh konstruksi sosial dalam matematika tapi intinya seperti itu.
Sejujurnya, ini juga pandangan yang nyaman dan tidak begitu merepotkan, semuanya terlihat jelas dan tertata rapi. Kita tinggal menyatakan satu kategori sebagai “tidak nyata”, dan kategori lainnya sebagai “nyata”. Lalu kita mengabaikan yang “tidak nyata” dan kita mengabdikan diri pada yang “nyata”. Hasilnya adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu hebat, tapi nyaris tidak ada upaya untuk meneliti yang “tidak nyata” itu. Etika terlupakan, dan jiwa ditelantarkan.


Bagi beberapa orang, itu tidak bermasalah, tapi bagi seluruh dunia ini sudah menjadi masalah. Dan memang benar, di akar empirisme saja konsep paling penting dari empirisme tidak jelas batasnya. Maka empirisme yang terjadi sebenarnya seperti ini, “Apa yang ada adalah yang di luar pikiran, yang di dalam pikiran tidak ada.” Atau, kalau tidak bisa dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dikecap, maka tidak ada. Atau, kalau hanya dalam pikiran, tidak penting untuk dibicarakan. Bagian berikutnya dari empirisme akan lebih fatal.
Bagian 2-Kesadaran Luar Indera
Melanjutkan dari kesimpulan sebelumnya, empirisme jelas bermasalah karena apa yang dimaksud dengan indera tidak jelas. Dan terdapatnya dua golongan empirisme, yaitu empirisme agnostik dan empirisme keras tidak membantu keadaan. Empirisme agnostik yang tidak membuat pernyataan tentang objek di luar indera, dan empirisme keras yang menentang objek di luar indera. Hal ini cukup bermasalah pada pemahaman awal kita tentang empirisme, bahwa empirisme tidak percaya bahwa kenyataan tidak ditentukan penginderaan.
Kalau memang empirisme hanya bersifat epistemologis, artinya kita hanya mampu mengetahui yang diindera, atau pengetahuan yang benar hanya dari indera, itu bukan berarti tidak ada kenyataan di luar indera. Kita hanya mengakui bahwa ada kenyataan yang dapat diindera dan tidak dapat diindera. Artinya sama, kita hanya dapat mengetahui apa yang kita indera, apa yang di luar indera bisa saja ada bisa saja tidak, tapi tidak bisa kita tentukan atau ketahui.
Itu sama dengan empirisme agnostik, yang sebenarnya adalah empirisme teoritis dan idealis. Namun banyak yang menjadi empirisme keras, dan pernyataan mereka bukannya kita hanya bisa mengetahui melalui indera, tapi hanya hal-hal yang dapat diindera yang ada. Ini berarti segala hal di luar indera dinyatakan sebagai tidak ada. Solusi terhadap permasalahan ini sederhana, yaitu memberikan contoh pengetahuan di luar indera sama sekali, atau pengalaman di luar indera.
Kalau kita adalah manusia yang sungguh hidup dan sadar harusnya setiap hari kita melakukan penyadaran luar indera. Saat kita merasakan suatu emosi atau perasaan, itu tentunya hal yang berasal dari dalam diri sendiri dan tidak termasuk apa yang kita kategorikan sebagai indera. Ataupula saat kita berpikir tentang pikiran kita, atau kita menyadari apa yang kita pikirkan, itu bukan termasuk penginderaan. Atau segala persepsi yang kita terima, terlihatnya sebagai penginderaan tapi sesungguhnya bukan penginderaan.
Dalam penginderaan ada dua unsur sebenarnya, unsur subjektif dan unsur objektif. Penginderaan objektif adalah proses penginderaan secara mekanis, misal penerimaan foton-foton melalui bola mata. Penginderaan yang dimaksud oleh empirisme keras adalah penginderaan mekanis ini. Objektif maksudnya merujuk pada mekanik atau objek penginderaan, yaitu organ indera dan penerimaan informasi inderawi.


Lalu ada penginderaan subjektif, yang dimaksud adalah segala persepsi kita secara riil, yaitu bagaimana rasanya untuk melihat, rasanya untuk meraba, rasanya untuk mendengar, atau perasaan sedih, perasaan senang, penyadaran rasional, dan segala hal lain yang berhubungan dengan rasa. Subjektif karena ini adalah penginderaan menurut kita, dan bagaimana kenyataan nampak pada kita. Subjektif pula karena kita tidak bisa mengetahui bagaimana kenyataan terlihat melalui perspektif orang lain, bisa saja sama, bisa saja berbeda.
Suatu eksperimen pikiran yang cukup terkenal terkait hal ini adalah tentang warna. Misalkan warna merah, kita tahu bahwa warna merah memang ada. Suatu benda yang terlihat merah misalnya darah. Namun sekalipun kita melabelinya merah, apakah pasti persepsi subjektif orang lain tentang merah memang sama? Bisa saja, merahku adalah hijaumu, dan hijaumu adalah merahku. Maka kalau warna yang objektif adalah perbedaan panjang gelombang dan frekuensi cahaya, warna yang subjektif, yang riil itu adalah rasa akan perbedaan itu.
Dalam filsafat, rasa seringkali disebut sebagai qualia, yang menjadi dasar dari kata qualitative atau kualitatif. Qualia ini sama sekali tidak dapat diindera, karena dia bukan termasuk penginderaan objektif. Qualia selalu ada dari sudut pandang pertama dan tidak bisa kita jabarkan dalam sudut pandang ketiga, yang kerap kali diwajibkan dalam penelitian empiris. Masalahnya, qualia ini yang dilupakan dan karena ditelantarkan, masalah-masalah karena qualia yang tidak beres meluap ke dunia empiris.
Qualia sesungguhnya menjadi esensi dari kesadaran manusia, apa yang dimaksud dengan sadar adalah mampu merasa. Ini berbeda dengan komputasi atau kecerdasan, yang seringkali disamakan dengan kesadaran oleh beberapa ilmuwan. Belakangan ini mulai berkembang pemahaman bahwa kesadaran hanyalah produk dari kompleksitas otak atau kompleksitas sistem. Maka yang salah adalah bukan kesadaran yang merupakan produk dari kompleksitas, tapi komputasi yang merupakan produk dari kompleksitas.
Perbedaan antara komputasi dan kesadaran sangat jelas, komputasi dapat diindera dari sudut pandang ketiga dan dapat dijelaskan secara empiris mekanikanya. Kalau dalam komputer, itu berarti konsekuensi kompleks dari hukum-hukum fisika dasar yang menyebabkan terjadinya pemrosesan informasi dan penyusunan ulang informasi menjadi informasi yang baru atau berbeda. Sementara kesadaran tidak dapat diindera dari sudut pandang ketiga dan tidak dapat dijelaskan secara empiris mekanikanya.
Sebenarnya beberapa ilmuwan menolak keberadaan dari qualia, dan apapun alasan mereka tentunya tidak begitu berlogika. Dan tidak mengagetkan pula bahwa mereka tentunya ateis pula. Sebab menerima keberadaan qualia adalah tahap pertama dari pengetahuan akan Allah. Begitu penolakan qualia terjadi, segala hal terkait etika, jiwa, dan Tuhan akan hilang dengan sendirinya. Secara pribadi, ini cukup tidak masuk akal bagaimana seorang mampu menolak qualia mereka sendiri? Kecuali mereka tidak memiliki qualia, mungkin bisa dimaklumkan. Tapi karena qualia itu sifatnya subjektif, kita tidak akan pernah tahu.

Akhir kata, empirisme cukup tidak masuk akal karena menolak qualia yang menjadi sumber dari penginderaan kita, tapi menerima konsekuensi dari qualia itu sendiri yaitu penginderaan. Sulit bagi kita untuk membantah lebih dalam karena ini berkaitan dengan qualia yang memang ada secara a priori, atau sejak awal. Dan empirisme tidak memberikan banyak bukti atau alasan bahwa qualia  memang tidak riil. Hanya penolakan yang tidak berdasar saja. Mungkin setara dengan orang-orang delusional yang tidak melihat, tapi mengaku melihat, atau melihat, tapi mengaku tidak melihat.
Bagian 3-Keabsahan Inderawi
Sebelumnya kita menganalisis tentang hal-hal yang ditentang empirisme dan masalah-masalah dari penentangan tersebut. Sekarang kita akan menuntaskan pembedahan kita tentang empirisme, dan menggugat hal-hal yang diterima dan diakui empirisme sebagai pengetahuan yang benar. Kita tahu bahwa dalam empirisme, sumber pengetahuan yang benar hanyalah indera dan tidak yang lain. Apapun yang di luar indera tidak layak dibicarakan atau bahkan tidak ada.
Namun kita telah mengetahui pula bahwa ada dua jenis penginderaan, yaitu penginderaan rasa atau subjektif dan penginderaan mekanis atau objektif. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengetahui tentang penginderaan objektif atau mekanis itu? Tentunya melalui penginderaan pula, tapi saat kita meneliti syaraf-syaraf okuler untuk menemukan penginderaan mekanis, apa yang kita gunakan? Mekanis atau rasa? Jawaban yang tepat harusnya rasa, karena alasan berikut.
Saat kita melihat, bagaimana kita membentuk kesimpulan tentang apa yang dilihat? Objek apa yang dijadikan sebagai analisis kita? Tentu saja ialah imaji-imaji hasil penglihatan itu, dan bukan susunan foton abstrak yang sedemikian rupa. Hal yang kita miliki bukanlah foton, melainkan pengalaman kita akan foton yang tersusun sedemikian rupa hingga membentuk suatu gambar yang koheren. Maka penginderaan yang sesungguhnya bukanlah penginderaan empiris karena itu tidak yang paling riil, melainkan penginderaan rasionalis atau penginderaan rasa.
Dari titik itu, sekarang jelas wujud nyata dari penginderaan yang didambakan oleh empirisme, yaitu pengalaman rasa dan qualia hanya dalam wujud yang berbeda. Sesungguhnya tidak ada bedanya antara qualia internal, yaitu emosi dan penyadaran akan pikiran kita, dan qualia eksternal yaitu yang timbul dari hal-hal di luar diri kita, misalnya rasa makanan, sensasi panas atau dingin, penglihatan cahaya atau kegelapan atau warna. Semuanya itu hanyalah qualia, dari qualia  itu kita mengetahui mekanika.
Jadi, karena empirisme menentang qualia atau meragukan hal-hal yang sulit diverifikasi secara inderawi, sekarang kita lakukan yang sama pada indera. Asumsi empiris adalah hal-hal yang dapat diindera pengaruhnya secara kolektif oleh setiap pengindera yang sehat dan tidak terganggu ialah ada. Namun apa buktinya? Apa yang membuat seorang dapat yakin bahwa penginderaan itu memang membuktikan keberadaan objek? Bukannya penginderaan itu hanya qualia  atau pengalaman rasa saja?
Misalkan ada sebuah apel merah, dan kita melihat apel merah itu. Seorang empiris akan berkata bahwa apel itu ada, tapi sekarang kita bertanya, apa alasan apel itu ada? Mengapa apel itu ada karena kita menginderanya? Sesungguhnya tidak tepat untuk berkata seperti itu, karena itu adalah lompatan logika dari kenyataan sebenarnya. Hal yang harusnya diakui adalah kita melihat apel merah, dan bukan apel merah itu ada. Mungkin kita bisa berhipotesis bahwa apel merah itu ada, tapi tidak mengetahui keberadaan apel merah.
Bagaimana kalau orang lain turut mengindera apel itu dan mengakui keberadaan apel merah itu? Sama saja, yang kita punya hanyalah penginderaan kita akan orang lain dan juga apel merah, jadi tidak patut kita klaim pengetahuan akan keberadaan apapun selain penginderaan kita terhadap orang lain dan apel merah. Andaikan orang lain memang ada, kita hanya tahu penginderaan kita dan kita tidak tahu apakah orang lain memiliki penginderaan rasa pula atau hanya penginderaan mekanis.
Dengan itu, indera manusia dan keabsahannya dalam menentukan kebenaran dapat dipertanyakan dan diragukan. Lagipula yang kita miliki hanyalah penginderaan subjektif dan itu sama dengan qualia. Sebenarnya maksud dari bantahan ini bukan menolak penginderaan, tapi untuk mempertanyakan paradigma empirisme keras yang terlalu mendewakan penginderaan. Logika dari empirisme sangat tidak konsisten pada akarnya, terlepas dari konsistensinya di atas permukaan. Dan empirisme bergantung pada sifat tidak konsisten tersebut.
Saat kita berusaha konsisten dalam pemikiran kita, yaitu tentang apa itu penginderaan dan penyadaran, hasilnya penginderaan pun tidak dapat dipercaya. Karena yang kita miliki hanya penginderaan subjektif dari kenyataan, dan penginderaan orang lain pun tidak kita ketahui ataupun miliki. Kalau mengambil arah yang lain, harusnya seluruh qualia diterima secara ilmiah, dan memangnya menerima pengetahuan luar panca indera selalu sama dengan percaya secara buta?
Cukup mungkin dan bahkan terbukti untuk mengorganisir dan merapikan suatu pengetahuan luar inderawi. Teologi Gereja Katolik, atau teologi Thomas Aquinas adalah contoh dari penerapan metode ilmiah pada hal-hal yang berbau supernatural. Tidak semua pengetahuan dari Injil diterima begitu saja, tapi dianalisis secara keras supaya tidak salah tafsir. Kisah penciptaan pun diakui oleh Gereja sebagai hal yang bersifat kias dan bukan harafiah. Jadi mengapa empirisme terus bersikeras menentang qualia atau hal-hal yang tidak diindera melainkan dipikirkan saja?
Terkesannya kita bermain dengan either/or fallacy, yaitu berusaha memperlihatkan semuanya sebagai dua pilihan saja, terima semuanya atau tolak semuanya. Tapi kenyataannya memang ini adalah suatu zero sum game, entah qualia kita terima atau qualia kita tolak. Tidak ada pembedaan yang riil antara perasaan internal dan persepsi subjektif terhadap kenyataan eksternal. Kalau kita ingin menolak perasaan internal sebagai mekanika eksternal saja, bersiaplah sebagai manusia yang berpendirian untuk menolak persepsi subjektif pula. Dan apapun arahnya, empirisme selalu kalah.

Kesimpulan
Dari pembedahan terhadap akar-akar empirisme terbukti bahwa empirisme memiliki beberapa masalah inti. Pertama, pembedaan antara apa yang layaknya dikatakan sebagai indera dan bukan indera sangat rancu dan bahkan melingkar definisinya. Kedua, empirisme menolak kesadaran internal dan subjektif yaitu qualia yang sebenarnya lebih mendasar dari kesadaran secara “empiris” atau “mekanis”. Ketiga, saat pemahaman qualia diluruskan dan ditegaskan, penginderaan harus dipertanyakan pula karena sesungguhnya bagian dari qualia.
Dengan itu, ini membuktikan secara cukup bahwa empirisme tidak layak untuk mengetahui seluruh kenyataan secara benar. Empirisme untuk apa yang diakuinya sangat konsisten, skeptis, akurat, dan telah memberikan kita umat manusia banyak sekali perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan secara empiris. Namun selebihnya empirisme telah mengakibatkan mundurnya perkembangan etis dan spiritual manusia, atau bahkan berpotensi membunuh hal itu.
Sebagai perkataan terakhir sebelum memulai metafisika yang baru, aku ingin menegaskan bahwa bantahan terhadap empirisme ini bukan berarti indera bukanlah sumber pengetahuan yang benar. Bukan pula menyatakan segala penelitian empiris sebagai salah, pada aspek yang mereka teliti tetaplah benar. Hal yang salah dari empirisme adalah upaya menunggalkan sumber pengetahuan dan membuang segala yang lain.
Maka upaya pembangunan filsafat yang baru bukanlah penghancuran metode-metode empiris, tapi pelengkapan dan pengembangan metode tersebut, hingga kita mendapat suatu teori dan juga pengetahuan yang lengkap tentang kenyataan dan akhirnya jati diri kita. Maka penelitian empiris tidak akan hilang, tapi akan bekerja bersama penelitian rasional lainnya. Empirisme dan rasionalisme harusnya bergabung dan bersatu menjadi satu teori kenyataan yang sungguh berlaku terhadap seluruh kenyataan.
Oleh sebab itu, demikianlah bantahanku terhadap empirisme, dan sekarang marilah kita masuk ke dalam metafisika yang baru. Amin.









Keberadaan
Pendahuluan
Dalam hal penentuan kenyataan, yang paling penting untuk ditentukan pertama kali adalah keberadaan dari suatu kenyataan itu. Pengetahuan akan keberadaan dari suatu objek adalah pengetahuan paling pertama dan paling mendasar dari segala pengetahuan tentang objek itu. Memang tepat bahwa sifatnya secara umum juga akan diketahui, tapi yang kita ketahui adalah keberadaan sifat-sifat itu dan bukan apa sifat-sifat itu dan pengaruhnya terhadap wujud suatu objek.
Untuk itu pembahasan mengenai kenyataan yang utuh akan dimulai dari keberadaannya yang mendasar. Maka bagian ini gunanya adalah membahas secara utuh mekanika keberadaan kenyataan dan sifat-sifat keberadaan yang sejati. Ini termasuk keberadaan kenyataan secara absolut, syarat untuk berada, keabadian dari keberadaan, dan apa yang dapat dianggap ada. Ini akan menjadi dasar dari segala metafisika berikutnya, dan secara otomatis segala filsafat berikutnya. Dengan itu baiklah kita awali dari keberadaan kenyataan yang absolut.
Bagian 1-Keberadaan Kenyataan secara Absolut
Sebelum menentukan sifat keberadaan apapun yang lain, kita harus menetapkan keberadaan kenyataan itu secara absolut. Hal yang dimaksud dengan absolut adalah keberadaan yang paling murni yang dapat kita ketahui. Maka bukan keberadaan material jelas-jelas, tapi yang lebih mendasar dari itu. Bisa saja keberadaan rasional, bisa saja keberadaan yang lain. Absolut juga berarti pada saat ini juga, tanpa memperhatikan di masa lalu atau di masa depan atau ketentuan-ketentuan lainnya. Maka pertanyaan yang akan kita jawab adalah, “Apakah kenyataan ada secara absolut?
Menjawab pertanyaan ini akan sulit karena nyatanya memang kita belum memiliki pengetahuan apa-apa tentang kenyataan. Meski begitu kita dapat mencoba setiap jawaban yang ada dan mengujinya. Dalam hal ini kita menguji jawabannya terhadap dirinya sendiri, dan melihat apakah jawaban itu bertahan atau justru hancur karena menentang dirinya sendiri. Andaikan seperti itu, maka pastilah jawaban yang lain yang benar. Metode trial and error seperti ini kesannya tidak efektif, tapi kita hanya memiliki 2 jawaban mungkin, yaitu ada dan tiada, jadi tidak akan membuang banyak waktu.
Jawaban pertama adalah ada, bahwa secara absolut kenyataan memang ada. Hal ini biasanya kita terima begitu saja tanpa mendalaminya tapi apa bukti dari pernyataan itu? Bahkan rasanya itu diambil hanya secara aksiomatis, karena suatu “intuisi” yang mengatakan bahwa keberadaan kenyataan benar adanya. Mungkin saja jawaban ini benar tapi pada titik ini kita tidak memiliki cukup bukti untuk membuktikan atau membenarkan kebenarannya. Karena itu kita berpindah dulu menuju jawaban yang berikutnya.


Jawaban kedua adalah tiada, bahwa secara absolut kenyataan tidak ada. Hal ini juga kita tentang begitu saja secara intuitif, karena sekilas saja sudah sangat absurd dan tidak masuk akal. Mungkin hal itu memang benar ketiadaan kenyataan adalah absurd, tapi kalau kita tidak memahami alasan hal itu absurd, tidak ada gunanya. Jadi ada baiknya kita mencoba menelaah jawaban ini secara lebih teliti.
Alasan kita dapat menentang keberadaan kenyataan adalah faktanya kita tidak memahami apa itu keberadaan ataupun kenyataan. Pengamatan inderawi atau empiris juga kerap kali tidak bisa dipercaya dan yang kita punya hanyalah pengamatannya, bukan objeknya. Bisa saja segala ini hanyalah ilusi ataupun mimpi seorang tua. Pada akarnya, kita tidak bisa percaya akan apapun dan tidak ada yang kita bisa yakini, dan itulah mengapa muncul jawaban bahwa kenyataan sebenarnya tidak ada.
Dari itu kita dapat membuat satu pernyataan yang konklusif tentang kenyataan, “Kenyataan tidak ada”. Masalahnya saat kita membuat pernyataan itu, kita telah membuat suatu kenyataan, yang merupakan pernyataan tersebut. Oleh sebab itu, dengan menyatakan ketiadaan kenyataan kita telah menyalahi pernyataan itu sendiri. Kalau seandainya kita ingin sungguh menolak kenyataan dan membuktikan ketiadaan kenyataan, harusnya kita tidak berpikir sama sekali. Namun itu juga berarti kita tidak pernah mengetahui atau menginginkan untuk mengetahui tentang kenyataan yang sejati.
Itu adalah alternatif pertama, dan bukan alternatif yang menyenangkan karena artinya tidak ada pengetahuan sama sekali dan seharusnya kita tidak pernah menapaki jalan ini. Alternatif kedua adalah kita menolak saja penolakan itu. Penolakan ini sifatnya hanya aksiomatis dan tidak lebih baik dari jawaban pertama tentang keberadaan kenyataan, atau kalau mau lebih baik kita harus menolak penolakan terhadap penolakan, lalu menolak penolakan terhadap penolakan terhadap penolakan. Ini tidak akan selesai sampai akhir zaman.
Alternatif ketiga adalah kita menerima keberadaan kenyataan secara absolut setelah menolak keberadaan kenyataan. Ini adalah yang paling rasional dan logis, karena sesungguhnya sekalipun kita menolak segala sensasi lain, kita harus menerima bahwa kita memang sedang menolak. Kalau kita tidak menerima, maka artinya kita tidak pernah menolak di tempat pertama. Karena itu harus ditetapkan dan diterima bahwa jawaban pertama ialah benar apapun hasilnya, bahwa keberadaan kenyataan memang benar.
Dengan penjabaran tersebut dapat disimpulkan secara pasti bahwa kenyataan memang ada. Terjawablah pertanyaan pertama dengan jawaban sebagai berikut, “Kenyataan ada secara absolut”. Sebab sekalipun kita menolak kenyataan, kita tidak dapat terus menerus menolak penolakan yang terjadi, atau kita tidak mendapat kebenaran apapun tentang kenyataan. Dengan itu selesailah pertanyaan pertama tentang keberadaan kenyataan, dan baiknya kita langsung bergerak menuju permasalahan berikutnya.



Bagian 2-Pengetahuan akan Keberadaan yang Ada secara Absolut
Dari bagian pertama kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa kenyataan ada secara absolut, dan ini tidak terbantahkan apapun jawaban kita. Namun jelas saja ada yang kita lompati secara intuitif, yaitu kenapa kita dapat menyimpulkan keberadaan. Kesannya memang sudah jelas, kita menolak, terjadilah penolakan. Lalu itu yang menjadi alasan kita untuk menerima keberadaan absolut, tapi pada saat yang sama kita dalam kondisi mampu melihat, mampu mengindera, kenapa tidak kita terima saja hal tersebut?
Kita bisa saja menolak penolakan itu, dan menyatakan sebagai aksioma dan pernyataan tunggal filsafat, karena kita sama-sama menolak suatu pengalaman rasa. Bedanya yang satu adalah pengalaman rasional yang satu adalah pengalaman empiris. Sebenarnya tidak setara, sebab untuk menolak yang empiris kita tinggal mematikan segala indera kita, lalu mencolokkan otak ke komputer tanpa indera. Namun menolak yang rasional artinya membunuh diri kita sendiri secara penuh karena menghilangkan pikiran.
Lagipula kita juga tidak menentang yang empiris saja, yang rasional pun juga ditentang. Hanya saja penentangan itu menyisakan satu hal yang rasional, yaitu penentangan itu sendiri. Maka yang dimaksud adalah segala hal ini kita akui secara sadar, dan kita lakukan secara sadar. Itulah kenapa kita dapat menyadari setiap hal yang terjadi dan akhirnya menyadari penolakan ini. Jadi alasan kita mengetahui tentang keberadaan dan dapat menyimpulkannya adalah kesadaran, itu saja.
Tahap pertama memang adalah kita menentang segala objek yang kita sadari sebagai objek kesadaran saja (hanya subjektif tidak objektif), lalu kita menentang keberadaan objek kesadaran itu pula (lagipula bisa dimanipulasi). Sampai akhirnya kita menerima penolakan yang terjadi sebagai bukti keberadaan. Dari situ terlihat jelas terdapat suatu asumsi metafisik yang tak tertulis sejak awal, yaitu keberadaan ialah apa yang dapat disadari. Aku tidak menuliskan hal itu di awal karena sesungguhnya kita masih tidak mengetahui apa-apa secara pasti.
Akan tetapi sekarang kita telah mengetahui dan kita dapat mengetahui lebih lanjut dari apa yang telah dikerjakan. Dan dari pekerjaan itu nyatalah bahwa kita mengetahui akan keberadaan absolut dari kesadaran kita. Kesadaran yang lebih tepatnya adalah rasa dalam kesadaran, dan bukan aspek komputasional atau sensorisnya. Komputasi dan sensor terdapat dalam mesin, tapi rasa tidak terdapat dalam mesin. Sesungguhnya ini mengafirmasi pengalaman inderawi tapi juga pengalaman pikiran sebagai sumber pengetahuan yang sama sahnya.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sumber pengetahuan yang sah adalah kesadaran kita, terlebih rasa yang kita miliki. Suatu mesin dapat mendeduksi hal yang sama tapi kita tidak akan mengetahuinya karena rasa kita tidak ada dalam mesin. Hal ini penting karena ini menetapkan kesadaran sebagai sumber segala filsafat berikutnya, tapi terlebih kesadaran rasional dan bukan empiris. Maka itulah asal-usul pengetahuan akan keberadaan yang absolut.

Bagian 3-Keberadaan di Luar Kesadaran
Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa sumber pengetahuan akan keberadaan adalah kesadaran. Dalam kata lain, apa yang disadari adalah apa yang ada. Sementara itu ini dapat mengarah pada paham bahwa tiada keberadaan di luar kesadaran, artinya hal-hal yang tidak kita sadari ialah tiada, dan saat kita tidak sadar, dunia tidak ada. Maka adalah konsep tiada keberadaan di luar kesadaran. Untuk itu kita akan menentukan apakah hal itu benar atau salah, apakah benar-benar tiada keberadaan di luar kesadaran atau hanya tiada pengetahuan di luar kesadaran.
Ada 3 jawaban yang mungkin, pertama tiada keberadaan di luar kesadaran, kedua ada keberadaan di luar kesadaran, dan ketiga tiada kepastian keberadaan di luar kesadaran. Mengakui ketidakyakinan adalah jalur yang aman tapi tidak efektif dan tidak kita inginkan dalam filsafat. Karena itu sama saja dengan mengatakan, aku tidak tahu, dan bukan jawaban yang sesungguhnya. Untuk itu hanya akan dibahas jawaban pertama dan kedua, dimulai dari yang kedua.
Andaikan ada keberadaan di luar kesadaran, bagaimana mungkin kita dapat mengetahuinya dan menyatakannya? Kalau kita membayangkan, “Objek yang di luar kesadaran saat ini”, tetap saja objek itu ada dalam kesadaran kita, sebab kita sedang memikirkan objek itu. Apapun yang kita lakukan, pastilah suatu objek itu akan menjadi di dalam kesadaran dan hanya mengafirmasi supremasi keberadaan. Karena itu kita belum memiliki cukup bukti untuk memegang jawaban ini.
Kalau tiada keberadaan di luar kesadaran, ini berarti keberadaan hanya yang dapat kita sadari, dan keberadaan hanya berlaku saat kita sadar atau “bangun”. Begitu kita mati, segala keberadaan akan lenyap, dan sebelum kita lahir, segala keberadaan belumlah ada. Ini berarti ada suatu awal dan akhir dari keberadaan, sebab ada suatu awal dan akhir dari kesadaran. Hal ini kesannya cukup logis, karena memang saat kita tidak sadar kita pun tidak ada di “tempat” untuk mengetahui apapun.
Masalahnya, paham ini menentang hukum-hukum kausalitas terutama saat kita menganalisis awal dari kesadaran. Sebelum ada kesadaran tiada apapun, lalu adalah kesadaran. Bukankah berarti ada yang mengawali dan menyebabkan kesadaran itu? Penyebab ini pastilah ada dan memiliki keberadaan, bukan hanya tiada. Dan penyebab ini ada sebelum ada kesadaran, karena itu pastilah kalau kesadaran memiliki awal, maka ada keberadaan di luar kesadaran.
Dari itu kita mengetahui bahwa keberadaan memiliki sifat yang objektif, tidak terpengaruh oleh subjek yaitu kesadaran. Ini membenarkan pernyataan sebelumnya tentang pengetahuan dan kesadaran. Bahwa subjek (kita) mendapat pengetahuan hanya dari kesadaran, karena itu adalah definisi dari pengetahuan. Jadi itu adalah pernyataan tentang subjek, dan bukan objek (tentang pengamat dan bukan yang diamati). Oleh karena itu, kita akan meneliti keberadaan objektif terlebih dahulu, baru yang subjektif. Karena itu adalah keberadaan yang paling mendasar.

Bagian 4-Keberadaan yang Objektif dan Keberadaan yang Subjektif
Sebelumnya kita mengetahui adanya keberadaan yang objektif, maka haruslah adanya keberadaan yang subjektif. Memahami perbedaan antara keduanya akan penting untuk melanjutkan ke permasalahan berikutnya. Secara khusus, yang dimaksud dengan keberadaan objektif adalah pengertian keberadaan menurut objeknya, yaitu merujuk pada sifat-sifat keberadaan itu sendiri. Keberadaan subjektif adalah pengertian keberadaan menurut subjeknya, yaitu merujuk pada sifat-sifat pengamatan terhadap keberadaan.
Meskipun sama-sama mengartikan keberadaan, kedua perspektif objektif dan subjektif sangatlah berbeda. Secara subjektif, apa yang ada adalah apa yang dapat disadari. Ini berarti segala hal yang dapat dibayangkan adalah ada, tapi ini berarti hal-hal yang secara objektif bukanlah keberadaan dianggap menjadi keberadaan pula. Misalnya adalah ketiadaan. Kita jelas-jelas dapat membayangkan ketiadaan, dan berbicara tentang ketiadaan, dan juga menyadari ketiadaan dari suatu hal sebagai hal yang jelas berbeda dari keberadaan.
Dalam keberadaan subjektif, keberadaan adalah pengalaman kesadaran, dan ini berarti apa yang dianggap ada akan dibatasi oleh batas-batas kesadaran itu sendiri. Mengandalkan hanya keberadaan subjektif akan mengarah pada pemahaman yang salah tentang ketiadaan dan juga paham-paham seperti kesadaran sebagai lebih tinggi dari keberadaan. Ketiadaan dianggap sebagai suatu objek tersendirinya, yang sebenarnya tidak, dan setara dengan keberadaan.
Keberadaan objektif, sekalipun didapat melalui metode yang subjektif memiliki perbedaan esensial yaitu dalam pembedaan antara keberadaan dan ketiadaan. Keberadaan bukan masalah kesadaran, tapi apakah suatu objek memiliki sifat-sifat tertentu yang memampukan kita untuk menyadarinya. Ketiadaan adalah lawan dari keberadaan, yaitu suatu kondisi tanpa sifat apapun kecuali sifat non-sifat dan non-deskripsi.
Sejauh ini kita lebih paham tentang keberadaan subjektif karena memang itu yang kita miliki sejak awal, dan kita tidak mengenal keberadaan objektif lebih jauh dari itu. Namun mengidentifikasi perbedaannya penting dalam metafisika dasar ini, dan lebih penting lagi untuk mampu menyatukan keduanya. Perbedaannya juga cukup jelas, kalau memakai perspektif subjektif, suatu hal ada karena kita mengamatinya. Dalam perspektif objektif, suatu hal ada saat ia memiliki suatu sifat tertentu yang dapat dideskripsikan sehingga kita mampu mengamatinya.
Pada sub-bab keberadaan ini kita akan murni membahas keberadaan objektif, karena itu memang membahas keberadaan yang sesungguhnya. Membahas keberadaan subjektif tidak memberi tahu tentang keberadaan melainkan kesadaran. Walaupun akan kerap kali dibahas mengenai kesadaran untuk mempertegas konsep-konsep yang objektif. Dari itu harapnya jelas apa perbedaan antara keberadaan objektif dan keberadaan subjektif.



Bagian 5-Keberadaan dan Ketiadaan
Memang sebelumnya kita telah membahas tentang keberadaan dan ketiadaan, tapi pada bagian ini akan dipertegas maksud dari keberadaan yang sejati dan juga ketiadaan yang sejati. Secara subjektif, keberadaan adalah apa yang dapat disadari, ini bermasalah karena artinya segala hal ialah ada asalkan disadari. Hal-hal termasuk kegelapan, dingin, dan yang sebenarnya adalah ketiadaan dari hal-hal juga menjadi objek-objek sendiri. Namun mereka bukanlah ketiadaan yang sejati.
Ketiadaan yang sungguh harusnya benar-benar tidak ada, yaitu tidak dapat kita jelaskan atau deskripsikan sifatnya karena tidak memiliki sifat. Ketiadaan tidak memiliki bentuk, ruang, waktu, lokasi, kemampuan, asal, atau lain-lain. Andaikan terdapat satu hal tersebut, maka itu bukanlah ketiadaan melainkan sudah menjadi keberadaan yang murni. Bahkan satu titik arbitrer yang “kosong” dalam kehampaan, kalau memiliki deskripsi koordinat saja, tidak lagi menjadi tiada tapi sudah menjadi titik. Daerah-daerah yang kosong sama saja, kalau dapat dideskripsikan, sudah menjadi keberadaan.
Ada beberapa hal yang hampir tiada tapi karena masih memiliki sifat bukanlah ketiadaan melainkan suatu keberadaan. Ruang-waktu yang kosong tanpa partikel terkadang disebut sebagai kehampaan, tapi ini salah. Secara kuantum masih banyak energi yang berfluktuasi, partikel virtual dan seterusnya. Bahkan ruang waktu yang benar-benar kosong, dalam arti energi kuantum yang nol (hampir mustahil), tetap bukan ketiadaan karena dia hanya ketiadaan sementara dan masih bersifat.
Suatu fenomena kesadaran yang dapat mengecoh adalah pengamatan atau penyadaran terhadap ketiadaan. Ini adalah masalah yang objektif dan subjektif karena di satu sisi harusnya ketiadaan tidak dapat kita sadari, karena tidak bersifat, tapi nyatanya kita dapat menyadarinya. Solusinya sederhana, yaitu menyadari bahwa ketiadaan memiliki satu sifat. Sifat ini ialah sifat non-sifat dan non-deskripsi. Ini berarti kita dapat menyadari ketiadaan sebagai suatu objek yang berbeda dan ada, meskipun aslinya adalah tiada.
Walau begitu, tetap saja tidak mungkin untuk mengalami ketiadaan secara penuh, apa yang disebut “kehampaan” bukan kehampaan. Itu adalah saat di mana kita hanya menyadari diri kita sendiri, atau kesadaran terhadap kesadaran, tanpa ada atribut atau objek lain. Justru ini adalah kesadaran murni, bukannya ketiadaan. Ketiadaan paling murni bagi kita adalah ketiadaan kesadaran, yang artinya ketiadaan dari pengalaman dan rasa itu sendiri. Ibaratnya saat komputer itu sendiri yang tiada, itulah ketiadaan yang murni. Kita mampu menalarnya sebagai suatu ide, tapi tidak pernah sebagai yang murni.
Dalam sudut pandang lain, tidak salah mengatakan bahwa ketiadaan adalah jenis keberadaan pula dalam kenyataan, atau salah satu kondisi yang ada dalam kenyataan. Lagipula ia dapat disadari sebagai suatu objek metafisik, dengan kondisi ketiadaan adalah objek yang khusus. Suatu objek yang didefinisikan sebagai negasi dari segala objek lain. Keberadaan yang didefinisikan sebagai lawan dari segala keberadaan lain. Dengan kejelasan terhadap apa itu ketiadaan, apa yang menjadi batas dari keberadaan juga semakin jelas.
Pembatasan ketiadaan ini memperkuat bahwa keberadaan bukan hanya yang materialis atau yang disetujui secara kolektif. Jadi beberapa pertanyaan tentang keberadaan suatu hal yang seringkali diajukan dan menjadi kontroversi sangatlah tidak tepat. Ketidaktepatan ini terjadi karena kurangnya deskripsi tentang keberadaan macam apa yang diharapkan atau diminta. Ini sangat terlihat dalam perdebatan tentang keberadaan Tuhan, antara ateis dan teis. Seharusnya bukan menanyakan, “Apakah Tuhan ada?” Melainkan, “Apakah Tuhan ada secara materialis?” Kalau begitu pastilah jelas jawabannya.
Kalau hanya keberadaan Tuhan secara abstrak tanpa diperjelas maksud keberadaan ini, jelas-jelas kaum ateis sudah kalah sejak konsepsi pertama tentang Tuhan yang monoteis ataupun konsepsi tentang ketuhanan apapun dibuat. Kecuali keberadaan dibatasi menurut perspektif empiris, maka ateis bisa berdebat dengan cukup baik. Masalahnya tidak semua teis mengakui empirisme, ada yang mengakui rasionalisme atau pewahyuan dan saat paradigma epistemologis saja sudah berbeda, perdebatan yang baik tidak mungkin terjadi dan hanya akan menyesatkan kedua pihak.
Jadi harusnya ateis dan teis tidak memperdebatkan tentang ketuhanan, tapi akar-akarnya yaitu empirisme dan rasionalisme. Ini untuk menyamakan paradigma tentang keberadaan yang sudah sangat berbeda ini. Kalau misalnya ada ateis dan teis yang sama-sama empiris, perdebatan yang jelas dapat terjadi. Namun saat definisi dasar tentang apa itu keberadaan saja sudah berbeda, atau standar kebenaran sudah berbeda harusnya yang dipermasalahkan adalah definisi dasar itu. Saat definisi sudah disetujui, barulah proposisinya yang didebatkan, supaya pemaknaannya tidak berbeda dan perdebatan juga lancar.
Sekali lagi, syarat suatu hal untuk dianggap ada adalah memiliki setidaknya satu sifat yang dapat disadari. Hal yang termasuk ketiadaan adalah kalau tidak memiliki sifat yang dapat disadari. Tentu saja karena ini merujuk pada keberadaan absolut, yang diperlukan hanya keberadaan idealis atau penyadaran rasional dan sudah terpenuhi. Selain itu, apa yang dimaksud dengan ketiadaan sebagai ide juga bukan ketiadaan murni, itu adalah ide yang kita sadari, suatu ide yang memiliki sifat. Jadi kalau ada yang ingin mengatakan ketiadaan sebagai keberadaan pula karena hal itu, dapat segera dibantah dengan fakta bahwa kita hanya membicarakan ide ketiadaan, karena tidak mungkin mengalaminya secara langsung.
Dengan itu diharapkan pembedaan antara keberadaan dan ketiadaan sudah cukup jelas. Bahwa keberadaan adalah sifat, dan ketiadaan adalah lawan dari sifat atau non-sifat dan non-deskripsi. Konsep ini akan berguna dalam pembahasan tentang kondisi kenyataan secara utuhnya, dan relasi antara keberadaan dan ketiadaan.





Bagian 6-Awal dan Akhir Keberadaan Kenyataan
Secara tidak langsung masalah ini telah dijawab pada bagian 3 tentang keberadaan di luar kesadaran, tapi supaya lebih jelas akan dibahas kembali secara eksklusif. Pertanyaan tentang awal dan akhir keberadaan kenyataan cukup jelas, apakah keberadaan dari kenyataan dapat berawal ataupun berakhir atau keduanya. Maksudnya keberadaan kenyataan adalah kenyataan sendiri tidak dapat berakhir. Pastinya akan ada kenyataan yang dapat dinyatakan, baik itu yang bersifat (ada) atau yang tidak bersifat (tiada). Maka yang dimaksud adalah keberadaan dalam hal ini adanya objek bersifat dalam kenyataan.
Secara khusus juga yang dimaksud adalah awal dan akhir keberadaan kenyataan dan bukan apakah keberadaan dapat berfluktuasi antara ada dan tiada, yang sebenarnya juga tidak mungkin karena alasan yang akan dipaparkan pada pembahasan berikut. Supaya tidak rumit, kita akan menganalisis masalah itu satu-satu dimulai dari awal keberadaan. Kalau keberadaan kenyataan memiliki awal, artinya ada suatu masa atau periode di mana kenyataan adalah ketiadaan. Lalu ada masa setelahnya di mana kenyataan adalah keberadaan, dan ada titik di antara kedua masa di mana terjadi perubahan kondisi.
Kalau kita membuang segala hukum kausalitas, ini dapat terjadi, tapi kausalitas adalah asumsi mendasar yang harus dipertahankan. Jadi secara logis pastinya ada yang menyebabkan keberadaan itu untuk terjadi. Ini yang menjadi masalah, ketiadaan harusnya tidak memiliki sifat, apalagi sifat menyebabkan atau kemampuan menyebabkan. Penyebab itu pastilah suatu hal yang ada dan bukan yang tiada. Maka dari itu tidak pernah ada masa ketiadaan, dan kalaupun kita ingin mencoba regresi tak terbatas, adanya tetap keberadaan, tiada yang tiada.
Ini berarti keberadaan tidak memiliki awal sama sekali tapi apakah bisa memiliki akhir? Kesannya bisa saja dan mungkin kita akan tergoda untuk menyatakan bahwa keberadaan bisa memiliki akhir kalau hanya berlandaskan asas kausalitas. Namun kita menilai berdasarkan asas ketiadaan dan bukan kausalitas. Ketiadaan artinya ketiadaan sifat apapun kecuali sifat ketiadaan sifat dan deskripsi. Kalau ketiadaan itu dapat dideskripsikan secara temporal atau kausal, jadi sebagai hasil atau akibat dari suatu hal lain (yang ada), atau terjadi setelah suatu hal lain (yang ada), itu bukan ketiadaan tapi keberadaan yang menyamar.
Ini berarti keberadaan haruslah abadi dan tidak memiliki awal dan akhir, pada saat yang sama ketiadaan juga abadi dan tidak memiliki awal dan akhir. Ini pantas saja untuk ketiadaan karena ketiadaan tidak memiliki sifat waktu. Dan suatu hal yang abadi sama saja dengan tidak memiliki sifat waktu karena waktu tidak masuk akal dalam konsep keabadian. Keabadian ini juga keabadian yang tidak berubah sama sekali yang sama sekali tiada waktu. Maka tidak ada salahnya untuk mengatakan bahwa ketiadaan itu abadi.



Meski keberadaan dan ketiadaan ada secara bersamaan dan terpisah dan tidak pernah bersatu, jelas-jelas mereka tidak setara. Ketiadaan tidak bisa mengubah keberadaan sama sekali ataupun menghancurkan keberadaan sama sekali. Dalam keberadaan ada perubahan, tapi ketiadaan tidak pernah berubah sama sekali. Keberadaan memiliki berbagai sifat yang unik dan tak terbatas, dan ketiadaan adalah nol. Dari perspektif yang makro, kenyataan selalu keberadaan dan bukan setengah ada atau apapun. Kalau dianalogikan dengan matematika, yang ada ialah 1+0=1. Sedikit tambahan, ini berarti hanya keberadaan yang mampu menghasilkan keberadaan, dan hanya ketiadaan yang mampu menghasilkan ketiadaan.
Bagian 7-Identitas
Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa keberadaan kenyataan secara keseluruhan adalah abadi dan tiada berkesudahan. Namun apakah seluruh keberadaan dalam kenyataan memiliki sifat abadi? Atau ada suatu substansi yang abadi dan semua hal lainnya tidak abadi? Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus memahami dahulu konsep identitas. Identitas maksudnya adalah perbedaan setiap objek yang berbeda, yang dapat membuat kita berkata bahwa x=/=y. Maka kita ingin mengetahui apakah hanya beberapa identitas yang abadi atau semuanya abadi?
Identitas paling sederhana dalam kenyataan adalah antara objek yang memiliki keberadaan dan ketiadaan itu sendiri. Dalam hal ini ketiadaan merupakan objek dengan sifat non-sifat dan non-deskripsi, dan keberadaan adalah segala objek yang bersifat dan bukan tiada. Ketiadaan telah terbukti sebagai objek yang abadi yang tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, karena merupakan lawan dari segala hal itu. Keberadaan absolut juga abadi, tapi tidak jelas keberadaan semacam apa.
Jadi ada dua hal yang akan dibuktikan pada bagian ini terkait identitas, yaitu apakah ada kesatuan keberadaan atau setiap identitas terpisah, dan apakah ada satu identitas yang abadi atau semuanya abadi. Pertama, apa yang termasuk dalam identitas keberadaan? Secara objektif, ini adalah segala hal yang memiliki sifat, sekalipun belum mampu disadari manusia. Secara subjektif, ini adalah segala hal yang dapat dipikirkan, bukan diindera, tapi dipikirkan. Jadi bisa saja jumlah identitas ini tak terbatas.
Identitas sifatnya absolut, dan merujuk pada seluruh sifat suatu objek bukan hanya sifat internal tapi juga eksternal. Eksternal artinya merujuk pada relasi antara suatu objek dengan dunianya atau objek lain. Misalnya sifat temporal, objek A pada waktu yang berbeda adalah objek yang secara absolut berbeda. Atau sifat spasial, objek A yang berada pada dua koordinat berbeda adalah dua objek yang berbeda, sekalipun keduanya identik secara internal. Suatu objek A hanya dapat dikatakan sama dengan objek A kalau segala sifatnya baik internal atau eksternal identik pula.
Dalam kata lain, kalau antara dua objek, terdapat perbedaan nilai satu infinitesimal saja dalam satu sifat, meski seluruh sifat lainnya sama, sudah menjadi dua objek yang berbeda. Memang benar ada beberapa tingkatan identitas, misal setiap barang dari kayu memiliki identitas yang sama sebagai produk dari kayu. Atau setiap meja memiliki identitas yang sama sebagai suatu meja. Namun yang kita perhatikan adalah identitas yang absolut, maka segala sifat atau deskripsinya harus diperhatikan.
Memang kita dapat membayangkan seluruh identitas atau setidaknya hampir seluruhnya, tapi yang kita cari bukanlah penetapan keberadaan mereka. Melainkan keabadian mereka sebagai suatu keberadaan. Ini dapat dimulai dengan satu objek, misalkan objek X. Kita telah menetapkan bahwa objek X pasti abadi, karena ketiadaan ialah abadi maka keberadaan objek X harus abadi pula. Misalkan kita ingin menciptakan objek X yang kedua, jadi secara internal sama tapi secara eksternal ada yang berbeda. Lalu dari mana asal objek X kedua ini?
Objek X kedua ini tidak mungkin berasal dari ketiadaan dan tidak mungkin berakhir dalam ketiadaan, itu akan melanggar asas ketiadaan. Maka hanya ada dua alternatif, entah objek X kedua sudah ada secara abadi seperti objek X yang pertama, atau objek X kedua berasal dari objek X yang pertama. Bagaimanapun juga, ini berarti ada dua objek X yang bersifat abadi, tidak berawal dan tidak berakhir.
Dengan begitu, berarti ada sejumlah objek X yang tidak terbatas yang keabadiannya sudah terjamin. Sekalipun mereka terkandung dalam satu objek X, sesungguhnya sudah bersifat tak terbatas karena buktinya satu objek X dapat berlipat ganda tanpa mengurangi substansinya, yang artinya sama saja tidak terbatas. Ini berarti juga menjamin segala objek yang merupakan derivatif dari objek X atau suatu perubahan dari objek X dalam jumlah yang tak terbatas pula.
Apa batas dari derivasi X ini? Tidak ada batas, entah itu derivasi jumlah, misalnya A terdiri dari 3 objek X. Atau derivasi temporal, spasial, rotasional, susunan, dan seterusnya. Lalu bagaimana kalau ada objek Y yang sama sekali bukan derivasi dari objek X? Ini lebih mudah lagi membuktikannya, karena objek Y ini tidak mungkin merupakan derivasi ketiadaan atau derivasi X, maka pastinya juga sudah ada secara abadi. Tambahkan satu Y lagi, dan jumlah tak terbatasnya juga terbukti.
Maka, setiap identitas yang dapat dihasilkan, baik yang bersifat derivatif atau non-derivatif telah terbukti keabadiannya dan ketidakterbatasannya. Sebenarnya bukan tujuan kita untuk membuktikan bahwa suatu identitas jumlahnya tidak terbatas, tapi itu konsekuensi tambahan dari penalaran kita. Catatan tambahan terhadap identitas derivatif, sekalipun dia terbentuk dari identitas-identitas asli lainnya, tetap suatu identitas yang berbeda secara absolut dengan penyusunnya.
Lalu apakah kita mengetahui jumlah identitas non-derivatif yang menjadi dasar dari identitas derivatif? Tidak, kita tidak mengetahuinya. Bisa saja hanya ada satu identitas asli dan semuanya hanya cetak ulang atau perubahan dan modifikasi dari identitas itu. Mungkin secara objektif semuanya hanyalah derivasi dari angka-angka matematis, tapi secara subjektif kita tahu, bahwa bisa saja semuanya adalah identitas asli. Padahal sudah disusun ulang berkali-kali, tapi begitu berbedanya kita tidak bisa mengatakan mereka diderivasikan dari suatu identitas pendahulu. Tapi itu bukan tugas kita, tugas kita adalah membuktikan keabadian identitas, dan tugas itu telah selesai.



Bagian 8-Kenyataan Absolut
Maka dengan seluruh pengetahuan akan keberadaan kita dapat menentukan apa itu kenyataan absolut yang paling nyata yang paling objektif, yang sudah ada, tetap ada, dan akan terus ada sampai sepanjang segala masa baik dengan atau tanpa kesadaran. Jadi, inilah kenyataan absolut kita yang paling tinggi dan murni. Melanjutkan dari pemahaman sebelumnya, kita mengetahui bahwa segala identitas ada secara abadi, artinya setiap identitas tidak pernah berubah karena keberadaannya konstan.
Ini berarti tiada waktu, karena waktu hanya bermakna saat terjadi perubahan, termasuk perubahan kesadaran. Dalam kenyataan absolut, semuanya berhenti secara abadi, dan tidak berubah. Namun ini bukan berarti waktu sama sekali tiada atau yang namanya perubahan sama sekali tidak ada dalam kenyataan, hanya saja keduanya bukan sifat kenyataan yang paling mendasar. Ataupun sifat objek apapun yang paling mendasar. Sifat tertinggi dari setiap objek kenyataan adalah suatu keberadaan yang abadi dan tak berubah.
Tentu saja setiap kondisi kenyataan yang berbeda adalah objek tersendirinya, walaupun hanya berbeda dalam tingkatan infinitesimal. Maka tidak ada perubahan antara satu kondisi ke kondisi lain, karena semuanya sudah ada, kalau ada perubahan yang absolut itu sama saja ada yang menjadi tiada ada yang awalnya tiada. Ini akan sangat melanggar asas ketiadaan yang menjadi dasar dari segala penalaran kita terhadap keberadaan. Persepsi dan himpunan semesta mungkin berubah, tapi himpunan kenyataan tetap dan tidak berubah.
Kenyataan tertinggi seperti ini yang tak mungkin diakses manusia secara realistis dapat kita sebut sebagai superposisi tak terbatas. Sebab segalanya ada secara bersamaan, yang berarti kenyataan ada dalam berbagai posisi dan sifat sekaligus, bahkan yang kesannya bertentangan. Tak terbatas karena memang jumlah identitas yang tak terbatas. Sebenarnya tidak ada sifat yang sungguh “bertentangan”, misal belok kanan dan kiri pada waktu yang sama. Satu-satunya lawan yang sesuai terhadap setiap identitas adalah ketiadaan itu sendiri, lawan dari segala keberadaan.
Jadi, mungkin ini memang kenyataan yang absolut tapi ini hanya absolut dari sisi keberadaan. Kita hanya mengetahui bahwa pada kondisi paling murni, seluruh kenyataan ada dalam suatu titik yang mengandung segala hal yang telah ada, sedang ada, dan akan terus ada. Namun dalam titik itu, tidak tertutup kemungkinan akan suatu himpunan semesta di mana waktu dan perubahan terjadi. Belum lagi ini hanya menyangkut keberadaan objektif kenyataan, dan bukan keberadaan subjektif yang pastinya akan berbeda dengan keberadaan objektif. Tapi untuk tugas ini, kita telah selesai.




Teori Keberadaan Objektif
Ini adalah rangkuman dari segala teori keberadaan yang objektif sebagaimana dipaparkan dalam 8 bagian. Pertama, diulas mengenai keberadaan kenyataan yang absolut, lalu didalami apa yang menjadi sumber pengetahuan dan metode filsafat terhadap keberadaan objektif. Bagian 3 dan 4, ditetapkan sifat objektif dari keberadaan dan pembedaan dengan keberadaan subjektif. Bagian 5, merupakan penetapan keberadaan dan ketiadaan, bagian 6 penetapan keabadian kenyataan, terakhir 7 dan 8 adalah penetapan keabadian identitas dan kondisi keberadaan kenyataan yang absolut.
Berdasarkan itu kita dapat merangkum kenyataan menurut keberadaan objektif dalam satu rumusan lengkap. Bahwa kenyataan secara hakikat memiliki keberadaan yang abadi, dengan identitas yang tak terbatas dan semuanya sama-sama abadi. Dengan itu kenyataan tidak berubah secara riil, tapi sejauh ini persepsi kita yang berubah. Adapula ketiadaan sebagai objek khusus yaitu yang tidak bersifat selain sifat non-sifat dan non-deskripsi, yang tidak berasal, yang tidak berakhir, yang juga abadi. Lalu syarat keberadaan yang subjektif adalah disadari, baik secara idealis, ataupun secara materialis. Dan demikianlah teori superposisi tak terbatas, teori keberadaan yang objektif. Tuhan Memberkati.
















Identitas
Pendahuluan
Pada bab sebelumnya kita berhasil menjabarkan kenyataan dalam skala paling luas, yaitu hukum-hukum yang berlaku atas segala objek yang nyata, terlebih terkait keberadaan mereka. Terdapat satu konsep yang memegang peranan penting pada paruh kedua dari teori ini, yaitu konsep identitas. Identitas di sini merujuk pada segala sifat dan deskripsi dari satu objek yang sungguh unik dan berbeda dari objek yang lain. Ini berbeda dengan konsep identitas secara manusiawi, atau identitas dalam waktu, atau syarat minimal identitas, dan lain-lain.
Dalam kenyataan, identitas adalah “identitas” atau sifat dasar kedua dari kenyataan yang absolut. Ini jelas dalam pengamatan rasional kita, bahwa selain kenyataan ialah ada tapi juga terdiri dari perbedaan. Tidak ada satu substansi atau zat yang menyatukan seluruh kenyataan secara jelas selain zat keberadaan itu sendiri tapi kita tahu segala hal dalam kenyataan berbeda dan perbedaan ini selalu tetap, tidak bertambah atau berkurang, melainkan tanpa batas. Karena itulah patutnya kita memahami lebih lanjut sifat-sifat dasar dari identitas, dan bagaimana suatu identitas berlaku terhadap hukum kekekalan keberadaan.
Bagian 1-Identitas dalam Perspektif Superposisi
Sebelumnya kita mendefinisikan identitas secara objektif, yaitu menurut apa itu identitas secara internal atau secara hakikat. Bahwa identitas adalah segala sifat dan deskripsi dari suatu objek yang membuat objek itu berbeda dari objek yang lain. Pada bab keberadaan kita lebih mempertimbangkan identitas yang absolut, dan ini mencakup sifat eksternal yaitu relasi antara objek dengan identitas lain pula. Misalnya koordinat spasial-temporal dari suatu objek, dapat membedakan dua objek yang secara internal identik.
Pemahaman identitas seperti itu cukup untuk bab sebelumnya tapi sekarang kita harus menciptakan suatu pengertian identitas yang baru, yaitu menurut perspektif superposisi. Dalam hal ini kita menganalisis relasi antara identitas dan superposisi tak terbatas. Saat kedua hal ini dibandingkan jelas sekali bahwa ada ketimpangan besar antara keduanya. Superposisi sifatnya tak terbatas, dan tidak dapat dijelaskan dalam jumlah waktu yang terbatas. Sementara itu identitas sifatnya terbatas, dan dapat dijelaskan dalam jumlah waktu yang terbatas.
Hal yang menarik pula adalah saat kita ikut mempertimbangkan identitas ketiadaan, dan terlihat bahwa ada 2 ekstrim dengan satu kelompok terbesar yang menjadi keseimbangannya. Pada ekstrim pertama ialah ketiadaan dari segala sifat kecuali sifat non-sifat dan non-deskripsi, pada ekstrim kedua ialah keberadaan dari segala sifat, yaitu superposisi tak terbatas atau kenyataan absolut itu sendiri. Dalam kenyataan absolut ialah segala identitas termasuk identitas ketiadaan.


Dari itu kita dapat memahami identitas sebagai bagian dari kenyataan, tapi tidak satu pun identitas merupakan keseluruhan dari kenyataan. Dan sebenarnya identitas itu sendiri absurd karena bagaimana caranya kita berbicara tentang batas dalam kenyataan yang sifatnya tak terbatas? Itulah kata kuncinya, batas. Identitas adalah suatu pembatasan dalam kenyataan terhadap beberapa sifat atau aspek tertentu yang menjadi definisi dari identitas itu. Atau bisa pula dijelaskan sebagai suatu identitas kenyataan absolut di mana hanya ada beberapa sifat yang nilainya 1 atau ada, dan segala sifat lain bernilai 0 atau tiada.
Secara matematika ini adalah yang disebut dengan himpunan, tapi tentu lingkupnya berbeda karena himpunan dalam matematika lebih banyak digunakan untuk mengelompokkan identitas matematis, yaitu angka-angka atau operasi-operasi. Walau begitu konsepnya sama, yaitu pengelompokkan sekaligus pembatasan terhadap satu atau beberapa identitas mendasar untuk membentuk satu identitas yang baru. Dengan pengertian tersebut, sekarang kita siap untuk melanjutkan ke bagian-bagian berikutnya.
Bagian 2-Tingkatan Identitas
Selama ini kita hanya membicarakan identitas-identitas yang absolut atau identitas dengan sifat yang dideskripsikan seluruhnya, yang membuat satu objek sungguh berbeda dengan objek lainnya. Namun ada lebih dari satu tingkatan identitas, bukan hanya identitas absolut. Hal ini dapat kita gambarkan menurut pemahaman superposisional terhadap identitas. Karena identitas adalah suatu batasan terhadap kenyataan, batas-batas ini dapat kita pertegas atau kita luaskan.
Identitas tanpa batas yang sebenarnya bukan identitas adalah kenyataan absolut, karena tidak ada batasan terhadap sifatnya. Identitas absolut adalah kondisi di mana pembatasannya mencapai tingkatan maksimum. Dalam identitas absolut selalu hanya ada satu anggota, karena setiap objek berbeda. Dari identitas absolut kita dapat mengurangi batasannya menjadi identitas umum, dan ini lebih menyatakan kesamaan dari berbagai identitas absolut yang berbeda. Atau secara derivatif, sekelompok identitas absolut adalah derivasi dari suatu identitas tertentu.
Dan tentu saja identitas umum masih bertingkat lagi, ada yang lebih banyak batasnya sampai seluruh anggota identitas memiliki identitas internal yang identik tapi secara eksternal berbeda. Misalkan sekelompok bola yang seluruhnya berdiameter 1 dijejerkan dalam suatu wilayah. Secara internal semuanya sama, tapi secara eksternal setiap bola itu sudah berbeda. Namun karena yang diperhitungkan adalah identitas internalnya, setiap bola itu dikategorikan sebagai satu hal yang sama.
Adapula identitas umum yang sangat umum, misalnya identitas umum segala objek yang merupakan suatu meja. Berdasarkan sifat-sifat umum suatu meja, kita dapat menemukan berbagai objek yang secara absolut sangat berbeda, tapi secara umum merupakan objek-objek yang sama, memiliki suatu kesamaan sifat. Atau mereka semua adalah identitas derivatif dari identitas asli yaitu meja.
Perbedaan antara identitas umum dan absolut akan cukup berguna dalam filsafat berikutnya, walau cukup jauh. Intinya suatu identitas absolut merujuk pada perbedaan absolut antara satu objek dengan objek lainnya, di mana perbedaan satu nilai sudah menjadikan kedua objek berbeda. Ini penting dalam matematika nantinya. Identitas umum merujuk pada identitas-identitas dasar yang menjadi pembentuk dari identitas lainnya, atau pada derivasi identitas. Ini penting dalam ilmu pengetahuan secara umum atau dalam penyusunan kategori.
Bagian 3-Identitas Statis dan Identitas Dinamis
Kesimpulan dari teori keberadaan yang objektif memberikan kesan bahwa segala kenyataan sifatnya statis dan tidak berubah. Namun apakah itu berarti segala identitas haruslah bersifat statis alias tidak berubah? Ini adalah jawaban yang intuitif tapi kontradiktif dengan pengalaman kita sendiri. Kita mengalami perubahan setiap saat, setiap hari, dan saat ini pun tulisan ini dihasilkan karena perubahan. Lagipula suatu identitas yang dinamis alias berubah ubah dapat kita bayangkan, jadi haruslah ada.
Masalahnya, perubahan akan mengimplikasikan pelanggaran berat terhadap hukum kekekalan keberadaan yang didasari oleh prinsip ketiadaan. Jadi bagaimana kita dapat merekonsiliasi kedua hal ini? Misalkan ada suatu benda X yang dapat berubah kondisi antara A, B, C, D, dan E. Kalau benda itu dapat berubah, bukannya terkadang A hilang tapi B ada, lalu B yang menghilang, dan A yang ada? Itu benar, tapi kita harus mengingat bahwa jumlah benda X adalah tak terbatas, dan setiap kondisi derivatif X adalah identitas tersendiri yang keberadaannya juga terjamin.
Dengan itu, selalu ada X-A, X-B, X-C, X-D, X-E, yang menjadi identitas derivatif terjamin dari identitas asli X. Setiap identitas itu adalah identitas statis, alias tidak berubah dan keberadaannya tidak melanggar kekekalan keberadaan. Bagaimana dengan X yang dinamis? Tinggal tambahkan satu identitas umum lagi, yaitu X yang dapat berubah kondisi antara A sampai E. Ini tidak akan melanggar asas ketiadaan atau kekekalan keberadaan, karena identitas statis X merupakan pembentuk dari identitas dinamis yang menjadi semacam identitas derivatif dari seluruh identitas statis X.
Maka perubahan apapun yang terjadi dalam suatu identitas yang dinamis tidak akan mempengaruhi keberadaan absolut dari identitas lain. Mungkin dapat digambarkan bahwa perubahan dalam identitas dinamis seperti keluar masuknya identitas statis yang berbeda ke dalam identitas dinamis itu dan keluar lagi. Maka identitas dinamis menjadi semacam “penyimpan” yang dapat menyimpan kondisi-kondisi pada titik tertentu, dan dapat mengeluarkannya lagi pada titik lainnya.
Bayangkan seperti ini, adalah toples yang bisa diisi dengan entah apel, jeruk, pisang, anggur, atau rambutan. Menurut hukum kekekalan keberadaan, berarti ada 5 jenis toples yang ada bersamaan, yaitu toples apel, jeruk, pisang, anggur, dan rambutan, dan untuk setiap toples ada jumlah yang tak terbatas. 5 jenis toples itu tidak berubah sama sekali isinya, kalau apel akan terus apel, jeruk akan terus jeruk, dan seterusnya.
Lalu adalah toples yang khusus, yang isinya dapat dirubah kalau kita mau, dari apel ke jeruk, jeruk ke anggur, dan seterusnya. Perubahan isi toples dinamis ini, dapat dibayangkan seperti memasukkan apel ke dalam toples, dan mengeluarkan jeruk dari toples itu. Intinya ada satu buah dalam toples, lalu saat perubahan terjadi, buah itu dikeluarkan dan dimasukkan buah yang lain. Karena kondisi statisnya ada secara abadi, kondisi dinamisnya tidak melanggar asas ketiadaan atau kekekalan keberadaan sama sekali.
Antara identitas statis dan dinamis, yang paling penting tentunya adalah identitas dinamis. Jika identitas statis adalah penjamin keberadaan, identitas dinamis adalah penggerak keberadaan, dan lagipula kita sendiri adalah identitas dinamis dan hidup dalam satu identitas yang dinamis bernama alam semesta. Segala hal yang kita pelajari juga sifatnya cenderung dinamis, tapi tetap saja terkadang kita mempelajari identitas secara statis, yaitu fokus pada sifat saat itu juga dan bukan potensialitasnya. Untuk itu kita akaan mendalami lebih lanjut mengenai identitas dinamis.
Bagian 4-Tingkatan Identitas Dinamis
Tidak semua identitas dinamis memiliki tingkat dinamika yang sama, walau semuanya memiliki esensi yang sama, yaitu mampu merubah identitas atau kondisi dirinya sendiri. Namun ada identitas dinamis yang jauh lebih dinamis dari identitas dinamis lainnya dan untuk itu kita akan menguak seperti apa identitas hiper dinamis itu. Hanya ada dua jenis yang akan kita bahas, yaitu beraturan dan tidak beraturan.
Identitas dinamis beraturan sesuai namanya memiliki aturan terhadap perubahan kondisinya. Misalkan dalam contoh toples buah, terdapat aturan khusus yang menyatakan bahwa perubahan isi toples harus dengan urutan apel, jeruk, pisang, anggur, rambutan, seperti itu berulang kali. Atau suatu aturan yang menyatakan bahwa perubahan kondisi hanya melibatkan apel dan jeruk, antara kedua nilai itu saja secara terus menerus.
Aturan identitas dinamis tidak melulu aturan yang “rapi” atau berulang-ulang, bisa saja aturannya berantakan dan tidak berulang. Bisa saja aturan yang terjadi “berubah” di satu titik tertentu. Misalnya setelah mengikuti urutan tertentu selama 5 putaran, lalu urutannya dibalik sampai akhir atau derivatif lainnya. Atau aturan yang sama sekali acak dan tidak ada pola sama sekali. Maksud dari beraturan adalah perubahan kondisi toples telah ditentukan secara pasti dan dapat diketahui sejak awal. Toples tidak dapat mengubah aturan perubahannya.
Sementara itu, identitas dinamis tak beraturan, atau identitas bebas tidak hanya bisa berubah tapi juga dapat menentukan sendiri arah perubahannya. Memang benar saat telah terjadi sekian perubahan kondisi, apa yang telah terjadi dapat dicocokkan dengan setidaknya satu identitas dinamis beraturan. Namun sebelum itu terjadi, kita tidak dapat menentukan atau mengetahui secara pasti perubahan apa yang akan terjadi berikutnya.

\
Sebab yang membuat aturannya adalah identitas itu sendiri, dan inilah alasan identitas ini disebut bebas. Dari segala identitas, ini adalah identitas yang paling besar dinamikanya bahkan dari antara identitas dinamis karena aturan perubahannya saja dapat diubah. Dalam perumpamaan toples buah, dapat dibayangkan suatu toples yang dapat memilih sendiri buah apa yang akan ada di dalamnya. Entah alasannya apa, kita tidak tahu, tapi itulah pilihannya.
Contoh identitas bebas yang paling nyata adalah manusia yang mampu merasa. Itu adalah salah satu alasan mengapa perilaku kita sebagai manusia sulit dideskripsikan secara pasti, cenderung hanya ada tendensi dan kecenderungan tentang perilaku manusia. Berbeda dengan hukum fisika yang sangat absolut sifatnya dan tidak dapat kita ubah. Walau begitu kebebasan tetap ada batasnya dan terkadang masih mengikuti suatu aturan yang ada, tapi pastinya tetap lebih fleksibel dan dinamis.
Maka kita mengetahui pembedaan antara identitas-identitas dinamis. Identitas beraturan artinya arah perubahannya sudah ditentukan dan tidak dapat diubah, sementara identitas bebas arah perubahannya dapat diubah sehingga tidak dapat ditentukan sejak awal, yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kedua jenis identitas ini lebih berguna dalam menjelaskan hal-hal yang mendasar, sementara akan ada konsep yang lebih relevan untuk hal-hal yang kita ketahui sehari-hari.
Bagian 5-Identitas Dinamis Tunggal dan Identitas Dinamis Jamak
Selama ini kita memahami hanya tentang identitas dinamis tunggal, yaitu identitas dinamis yang berubah sendirinya yaitu tanpa dipengaruhi identitas lain. Namun adapula yang lebih bervariatif yaitu identitas dinamis jamak, atau dapat dikatakan sebagai identitas relasional atau identitas semesta. Perbedaannya adalah identitas dinamis jamak entah mengubah identitas lain atau diubah oleh identitas lain dalam satu identitas semesta yang menaungi keduanya.
Mekanikanya dan relasinya dengan identitas statis kurang lebih sama dan apa yang terjadi dalam identitas dinamis jamak tidak akan menghancurkan secara absolut, hanya dalam identitas itu. Identitas ini dapat dikatakan sebagai identitas tersendirinya atau hanya sebagai wadah untuk interaksi antar identitas, tapi kedua hal itu sama saja. Identitas ini didefinisikan dengan relasi perubahan antara berbagai identitas dinamis yang berbeda.
Sebelumnya dikenalkan dua istilah, yaitu identitas relasional dan identitas semesta. Walau keduanya merujuk pada satu golongan identitas yang sama, keduanya memiliki tingkatan dan fokus yang berbeda. Identitas relasional merujuk pada relasi terbatas antar sedikit identitas dinamis. Identitas semesta merujuk pada kelompok berbagai macam identitas dinamis berinteraksi satu sama lain dan memiliki relasi-relasi yang terdefinisikan, atau bisa saja tidak.



Ada berbagai interaksi antar identitas dinamis dalam identitas relasional maupun semesta tapi menjabarkannya akan sangat panjang. Salah satu contoh identitas semesta yang kita kenal adalah alam semesta sekarang ini yang kita tinggali. Dalam identitas ini, penciptaan dan kehancuran diperbolehkan, tapi yang sesungguhnya terjadi adalah masuknya identitas-identitas dari luar semesta ke dalam semesta, dan keluar lagi dari semesta ini ke kenyataan absolut kembali.
Dalam dunia ini sudah ada ilmu yang khusus mempelajari identitas-identitas paling mendasar dari identitas semesta ini, yaitu fisika. Sebab segala hukum fisika yang ada adalah identitas relasional yang mendefinisikan interaksi perubahan antara berbagai identitas dinamis lainnya. Karena itulah kita tidak akan terlalu banyak membahas mekanika internal identitas semesta, sudah cukup banyak ilmuwan yang mendefinisikannya.
Namun apakah ada identitas semesta dan relasional yang sangat mengakar dalam kenyataan absolut yang lebih mendasar dari segala identitas jamak lainnya? Ada, kelompok identitas ini adalah yang kita kenal dengan matematika. Pada waktunya, matematika akan dibahas pula sebagai bagian dari filsafat, tapi tidak pada bagian ini. Sebab masih ada yang lebih mendasar dari matematika, yang masih harus kita temukan.
Singkat kata, identitas dinamis tunggal adalah identitas yang berubah dengan sendirinya. Sementara itu identitas dinamis jamak adalah identitas yang diubah atau mengubah identitas lain. Sebagai penutup, bayangkan dua toples buah. Kedua toples buah berada dalam satu identitas relasional, dan adapula 5 buah dan hanya 5 buah. Toples pertama dapat mengambil buah dari toples kedua, dan begitu sebaliknya. Sehingga kedua toples isinya akan terus berubah entah mengikuti aturan apa antara keduanya. Bahkan pernyataan 1+1=2 merupakan identitas relasional, yang akan dijelaskan pada masa yang akan datang.
Teori Identitas
Segala hal dalam kenyataan absolut adalah suatu identitas, baik identitas yang memiliki keberadaan atau identitas ketiadaan. Identitas secara objektif adalah segala sifat dan deskripsi yang membuat suatu objek berbeda dari objek yang lain. Menurut superposisi, identitas adalah pembatasan spesifik terhadap sejumlah sifat dalam superposisi yang menjadikan suatu objek. Menurut hukum kekekalan keberadaan, tidak ada identitas yang dapat diciptakan atau dihancurkan.
Namun tidak segala identitas statis, ada identitas dinamis yang karena keberadaan identitas statis tidak melanggar hukum kekekalan keberadaan. Identitas dinamis artinya identitas yang dapat berubah kondisi atau berubah sebagian sifatnya. Identitas statis tidak dapat berubah sifatnya sama sekali. Ada identitas dinamis beraturan dan tak beraturan, beraturan artinya perubahannya teratur dan telah ditentukan. Tidak beratur artinya identitas dinamis itu bersifat bebas atau dapat menentukan aturan perubahannya sendiri sehingga tidak pernah tentu.


Adapula identitas dinamis tunggal dan identitas dinamis jamak, tunggal artinya identitas yang berubah secara sendirinya atau tidak melibatkan identitas lain. Identitas dinamis jamak adalah sejumlah identitas dinamis yang saling mempengaruhi, berelasi, dan saling mengubah. Identitas jamak terbagi antara identitas relasional yang menjelaskan relasinya dan identitas semesta yang menjelaskan agregat identitas relasional dalam jumlah besar, contohnya alam semesta. Maka itulah teori tentang dasar-dasar identitas, yaitu unsur-unsur paling dasar dalam kenyataan.






















Kesadaran
Pendahuluan
Kenyataan secara hakikat terdiri dari berbagai identitas yang berbeda dan semua memiliki sifat-sifatnya tersendiri. Walaupun setiap identitas setara dalam keberadaan, yaitu kekal secara keberadaan tidak tercipta atau pun terhancurkan, ada identitas-identitas yang lebih tinggi dari identitas lainnya. Contohnya adalah hukum kekekalan keberadaan dan hukum ketiadaan yang menjadi identitas tertinggi dalam kenyataan. Artinya setiap identitas absolut tetap memiliki kesamaan identitas tersebut.
Karena itu tidak salah bagi kita untuk menyatakan bahwa filsafat adalah upaya pencarian terhadap identitas-identitas tertinggi dalam kenyataan. Sudah ada dua identitas umum yang kita ketahui tentang kenyataan, yaitu identitas tentang keberadaan dan identitas tentang identitas itu sendiri. Namun ada satu identitas yang di satu sisi lebih utama dari kedua identitas itu, karena identitas inilah yang menjadi esensi diri kita. Identitas ini ialah identitas kesadaran.
Kesadaran adalah satu bagian dari hidup manusia yang menjadi akar segala pengalamannya tapi yang paling sering disalahpahami. Tidak hanya salah paham, banyak yang juga tidak menyadari keberadaan kesadaran ini atau menyatakannya sebagai hasil kompleksitas otak, dan akhirnya kesadaran tidak begitu dilibatkan dalam pembahasan tentang kenyataan. Jadi ada baiknya kita mendalami lebih lanjut tentang apa itu kesadaran, karena inilah yang menjadi identitas pertama kita yang dapat kita ketahui.
Bagian 1-Pengertian Kesadaran
Apa itu kesadaran? Pertanyaan ini sudah seringkali dijawab, dan tidak jarang pula yang kurang tepat dalam menjawab. Ada yang mengatakan bahwa kesadaran adalah roh, kesadaran adalah kompleksitas otak, kesadaran adalah satu-satunya identitas yang ada, dan lain-lain. Suatu alasan kesadaran sangat sulit didefinisikan secara pasti adalah kesadaran ini tidak bisa diamati dari sudut pandang ketiga, selalu dari sudut pandang pertama. Lagipula memang hakikat kesadaran adalah sudut pandang orang pertama, bukan kedua atau ketiga.
Pemahaman tentang kesadaran dapat dimulai dari tindakan menyadari, yang dapat dikaitkan dengan tindakan mengetahui, merasakan, memahami, dan seterusnya. Kalau kita melihat segala tindakan yang terkait dengan penyadaran, jelas bahwa semua ini bukan hal-hal yang dapat disederhanakan kembali. Karena penyadaran sudah menjadi tindakan dan konsep yang paling sederhana. Penyadaran ini sebenarnya sudah kita lakukan dalam bab pertama untuk menelaah keberadaan absolut kenyataan, dan bahkan kita patok sebagai sumber pengetahuan utama.


Definisi paling mudah dari penyadaran atau kesadaran adalah diri kita sendiri, secara spesifik pengalaman kita sehari-hari. Hal yang kita sebut dengan pengalaman, baik itu menghirup udara segar di pagi hari, mengecap lezatnya sarapan masakan rumah, atau perasaan kesal saat dilanda kemacetan, semuanya itu adalah esensi dari kesadaran. Tentu saja pengalaman ini dapat kita buat lebih spesifik lagi, karena terkadang pengalaman lebih dipahami sebagai pengalaman empiris.
Hal yang menjadi dasar dari pengalaman ialah rasa, atau dalam bahasa Inggris qualia. Konsep rasa ini merujuk pada bagaimana suatu hal kita alami secara subjektif. Misalkan kita melihat warna merah, dan kita tahu merah itu seperti apa tampaknya bagi kita. Orang lain juga menunjuk pada warna yang kita lihat sebagai merah. Masalahnya, apakah merah kita dan merah orang lain adalah sama? Bisa saja merah kita adalah hijau bagi orang lain, dan hijau mereka adalah merah bagi kita. Tapi kita tetap mengatakan kata yang sama terhadap dua warna yang secara subjektif berbeda.
Jadi esensi dari kesadaran sesungguhnya adalah rasa atau qualia yang subjektif ini dan hanya dimiliki oleh individu, tidak dibagikan antara satu individu dengan orang lain. Rasa ini mencakup segala pengalaman subjektif manusia atau bisa saja makhluk non manusia pula. Melalui rasa segala pemahaman terhadap dunia dimungkinkan, dan juga berbagai konsep dasar kenyataan seperti waktu. Dan selain keberadaan dan identitas, sulit  untuk menjabarkan suatu hal yang lebih hakikat bagi pribadi kita daripada rasa.
Maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran secara riil adalah kemampuan untuk merasa dan juga pribadi yang sadar, yang memiliki kemampuan tersebut. Rasa artinya pengalaman subjektif yang diperoleh dan bagaimana kita merasakan pengalaman tersebut. Misalnya, bagaimana suatu warna tampak bagi kita, bagaimana suatu lagu terdengar bagi kita, bagaimana rasanya kebahagiaan dan penderitaan, nikmat dan sakit, dan seterusnya. Itulah kesadaran secara sederhana.
Bagian 2-Kesadaran dan Komputasi
Ada paham yang menyatakan bahwa kesadaran terjadi karena komputasi yang kompleks, dalam kasus manusia yaitu kompleksitas otak. Ini menyamakan kesadaran yang jatinya adalah rasa dengan komputasi, dan kesadaran hanya suatu wujud komputasi yang tertinggi. Hal ini tidak tepat, karena kita tahu bahwa rasa dan komputasi sangatlah berbeda, dan komputasi tidak selalu berarti rasa. Rasa hanya diketahui dari yang memegang rasa itu sendiri, dan tidak serta merta dipegang oleh kecerdasan.
Kesalahan ini banyak dilakukan oleh kaum empirio-materialis dan interpretasi sesat tentang kesadaran inilah yang menghambat filsafat rasionalis itu sendiri. Untuk memahami secara tepat kenapa interpretasi ini salah, baiknya kita memahami pandangan mereka pula. Menurut pandangan ini, suatu proses komputasi yang sangat kompleks akan akhirnya memampukan suatu komputer untuk menyadari bahwa dirinya ada. Masalahnya ini bukan pemahaman menyadari yang tepat.
Saat suatu komputer menyadari, komputer itu sesungguhnya hanya melaksanakan suatu penyimpulan logika yang mungkin memang memerlukan suatu tingkat kompleksitas tertentu. Hal ini tidak sama dengan komputer itu sungguh merasa bahwa dirinya memiliki suatu keberadaan. Jadi ada suatu kesalahpahaman fatal bahwa kesadaran dan logika ialah sama, padahal tidak. Mungkin kesannya mirip karena kita manusia yang mampu merasa terbiasa dengan logika, tapi keduanya tidaklah sama.
Masalah ini pernah diilustrasikan dalam suatu percobaan pikiran bernama Turing Test atau Tes Turing. Percobaan ini dikemukakan oleh Alan Turing, salah satu bapak ilmu komputasi yang mengusulkan suatu tes untuk menentukan apakah suatu entitas adalah manusia atau komputer, alias kecerdasan buatan. Tesnya cukup sederhana, yaitu dengan berkomunikasi lewat semacam aplikasi chat dengan seorang manusia dan sebuah komputer. Dari situ yang menguji harus menentukan mana yang manusia dan mana yang hanya komputer.
Hipotesisnya adalah akan ada saat di mana kecerdasan buatan manusia sudah begitu canggih hingga tidak dapat dibedakan dengan manusia. Dan tidak aneh untuk berpikir bahwa manusia dapat menciptakan “manusia virtual”, yaitu kecerdasan buatan yang dapat menunjukkan emosi dan perasaan. Dia bisa menangis, tersenyum, dan terlihat seperti manusia biasa, tapi kita tahu dia adalah komputer dan bukan manusia sesungguhnya. Pertanyaannya, apakah komputer itu ikut merasakan perasaan seperti kita manusia umumnya, atau jangan-jangan memang hanya suatu ilusi?
Jadi saat komputer mulai diperdebatkan mampu merasa atau tidak, sudah waktunya untuk turut saling mempertanyakan sesama manusia, apakah orang lain juga merasa atau jangan-jangan hanya semacam komputer dari daging yang kesannya mampu merasa. Dari percobaan pikiran ini jelas saja bahwa rasa dan komputasi tidak dapat disamakan, begitu pula dengan kesadaran. Komputasi adalah proses yang objektif, tapi kesadaran adalah diri yang paling subjektif. Lalu apa itu komputasi dan apa itu kesadaran?
Komputasi secara sederhana adalah kemampuan atau proses menyusun atau mengolah informasi dari yang ada menjadi yang baru, dan juga aturan-aturan yang mengatur tata penyusunan atau pengolahan informasi dan apa tanggapan suatu komputer terhadap informasi yang ada. Emosi yang kesannya tidak dapat dikomputasikan, asal ada suatu alur sebab akibat sebenarnya dapat kita buat programnya. Misal program anak kecil, kalau tidak dibelikan es krim nanti menangis, kalau dibelikan es krim senang, dan seterusnya.
Kesadaran adalah rasa, yaitu perspektif pribadi kita terhadap kenyataan secara subjektif. Bagaimana suatu objek tampak bagi kita, rasanya kepedihan bagi kita, rasa dari suatu makanan bagi lidah kita, itu semua adalah unsur dari kesadaran. Segala hal yang berhubungan dengan persepsi dan pengalaman subjektif, itulah kesadaran. Dengan penjabaran itu harusnya jelas bahwa rasa dan pikiran adalah dua hal yang berbeda dan tidak dapat kita campur adukkan. Pikiran mungkin kompleks, tapi rasa adalah yang paling sederhana.


Bagian 3-Kesadaran sebagai Jati Diri yang Tunggal
Kalau kita bertanya tentang siapa jati diri kita, banyak yang akan menjawab “manusia”, ini tidak salah secara biologis. Namun ada sisi lain dari pertanyaan ini, misalnya kalau kita menganalisis berdasarkan teori identitas, kita dapat dengan mudah menyatakan diri kita sebagai suatu identitas yang berada dan juga bebas atau hiper dinamis. Ini tidak salah pula, tapi ada satu unsur yang kita lupakan yang mengatasi konsep manusia, keberadaan, atau identitas dinamis dan derivatifnya, yaitu unsur kesadaran.
Kesadaran yaitu rasa sesungguhnya menjadi jati diri yang tunggal bagi kita semua yang mampu merasa dan menyadari kemampuan rasa itu. Inilah yang disebut dengan keberadaan pertama atau keberadaan tertinggi bagi kita, makhluk yang sadar. Tanpa kesadaran ini, kita tidak akan pernah mengetahui bahwa kita adalah manusia, atau bahwa kita memiliki kebebasan dan seterusnya. Dengan alasan sederhana bahwa esensi dari “mengetahui” adalah rasa yaitu kesadaran.
Suatu implikasi penting terhadap ini adalah kesadaran menjadi satu-satunya identitas yang kita dapat sungguh miliki dan klaim sebagai “kita” atau “aku”. Sebab segala identitas lain, baik manusia, atau selebihnya seperti ras, jenis kelamin, kepercayaan, budaya, dan seterusnya sangatlah sementara. Namun dalam setiap perubahan diri, tetap saja ada satu identitas yang sungguh melekat, yaitu identitas kesadaran kita. Memang ada identitas lain yang melekat, tapi yang pertama tetaplah kesadaran.
Ada yang mengatakan bahwa identitas keberadaan lebih utama dari kesadaran, tapi ini kurang benar. Dari segi ontologi ini tepat, hanya saja ontologi itu sendiri didapat dari kesadaran. Lebih baik untuk mengatakan bahwa kesadaran setara dengan keberadaan, ini penting karena beberapa orang berpemahaman bahwa kesadaran tidaklah abadi. Dari segi identitas ini sudah salah, tidak ada yang bisa diciptakan atau dihancurkan, hanya diubah dan itupun mengikuti syarat-syarat non-intervensional.
Dari sisi fenomenologis kita juga tahu bahwa kesadaran ialah abadi. Seperti yang telah dikatakan, kesadaran adalah satu-satunya identitas yang sungguh diri kita. Kesadaran juga mengawali segala hal lain, tanpa kesadaran kita tidak akan mampu mengetahui apapun juga. Jadi, ketiadaan kesadaran bagi kita sama dengan ketiadaan absolut, tidak memiliki sifat kecuali sifat non-sifat dan non-deskripsi. Ini berarti ketiadaan kesadaran juga tidak memiliki sifat waktu, sehingga tidak ada yang namanya ketiadaan abadi.
Ini jelas saat kita tertidur nyenyak tanpa mimpi, 7 jam pun terasa bagai beberapa menit saja. Kesadaran tidak dapat berakhir, hanya berubah perspektif dan wujud. Maka kematian biologis memang bukan akhir kesadaran, dan kelahiran juga bukan awalnya, karena kesadaran tidak memiliki awal dan akhir. Kesannya terdapat awal tapi itu hanya karena kita kehilangan kesadaran akan masa lalu, ingatan kita terhapus dan saat mati akan seperti itu pula.


Maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran adalah identitas terutama dan tertinggi yang menjadi jati diri kita dan juga diri yang tunggal. Sekalipun ada identitas-identitas lain seperti keberadaan dan kebebasan yang menentukan diri kita, yang mengawalinya tetaplah kesadaran. Karena itu kesadaran haruslah abadi dan tidak berawal atau berakhir, hanya kesannya berawal dan berakhir dalam kehidupan biologis. Ini terbukti baik menurut kekekalan keberadaan atau pengalaman kesadaran itu sendiri.
Bagian 4-Unsur Kesadaran Objektif
Kita telah membahas kesadaran secara subjektif, yaitu sebagai suatu rasa dan pengalaman yang hanya dimiliki oleh kita. Namun baiknya kita juga membahas kesadaran secara objektif. Kesadaran secara objektif maksudnya penjabaran tentang kesadaran menurut sifat-sifat kesadaran itu sendiri. Rasa adalah pemahaman subjektif karena adalah pengamatan terhadap kesadaran menurut diri kita sendiri dan dijabarkan menurut diri kita sendiri.
Secara objektif, kesadaran dapat dijabarkan dalam 3 unsur yang berbeda dalam setiap kondisi, yaitu objek penyadaran, informasi kesadaran, dan pengalaman atau rasa kesadaran. Objek sama dengan objek riil yang kita sadari, terlepas dari bagaimana kita menyadari objek itu. Informasi kesadaran adalah suatu susunan objek-objek atau entitas abstrak yang mewakili suatu objek riil tersebut. Informasi kesadaran dapat dikatakan sebagai ide, pikiran, dan seterusnya.
Sementara pengalaman kesadaran atau rasa kesadaran ialah qualia itu sendiri, esensi dari kesadaran. Keberadaan unsur ini pula yang membedakan kesadaran dengan komputasi atau robot. Komputer hanya memiliki dua unsur, yaitu informasinya dan objek riilnya, tapi tidak jelas apakah ada rasa atau tidak. Walau begitu kita tidak dapat menyatakan bahwa komputer itu tidak ada rasa, hanya tidak jelas ada atau tidak. Sebab kita tidak mengalami menjadi komputer tersebut.
Dari itu, jelas bahwa setiap kesadaran adalah suatu komputer atau sensor, tapi tidak semua komputer atau sensor dipastikan memiliki kesadaran. Selain itu, kesadaran yang riil sifatnya fleksibel. Fleksibilitas ini terjadi antara 3 unsur tersebut, kesadaran itu sendiri dapat menjadi objek penyadaran, ataupun informasi penyadaran atau bahkan rasa penyadaran itu sendiri. Penerapan konsep ini sudah terjadi melalui seluruh pembahasan tentang kesadaran ini, sebab kita menjadikan rasa kesadaran sebagai objek penyadaran. Atau dalam kata lain, kita merasakan rasa itu sendiri.
Pembedahan kesadaran menjadi 3 unsur membantu kita dalam membedakan antara sifat suatu objek yang riil secara objektif, dan persepsi kita terhadap sifat-sifat tersebut. Konsep objektivitas dan subjektivitas juga didasari unsur-unsur ini, objektif merujuk pada objek, dan subjektif merujuk pada rasa. Sementara itu informasi atau data ialah pertemuan antara rasa dan objek.


Bagian 5-Penyadaran Idealis dan Realis
Sebelumnya kita membagi kesadaran menjadi 3 unsur dalam satu kondisi penyadaran, tapi ada pula dua kategori penyadaran menurut sifat objeknya dan kedalaman penyadarannya. Kedua kategori ini yang juga menjadi perdebatan filsafat, yaitu penyadaran “rasionalis” dan penyadaran “materialis”. Sebenarnya tidak seperti itu pembagian yang tepat, melainkan antara idealis dan realis. Idealis di sini merujuk pada ide, pikiran, mentalitas. Realis maksudnya yang nyata pada saat itu juga, dan bukan hanya angan-angan, namun keduanya sama-sama nyata hanya dalam wujud yang berbeda.
Penyadaran idealis adalah penyadaran terhadap objek-objek dalam wujud yang idealis. Artinya wujudnya hanya sebagai suatu ide, dalam kata lain kita hanya menyadari sifat mereka tapi tidak sungguh mengalaminya. Tidak sungguh mengalami karena wujud objek yang disadari adalah serangkaian identitas paling mendasar yang dapat disadari, umumnya yang bersifat matematis. Mungkin kita dapat membayangkan “rasa” dari objek itu, tapi itu bukan rasa yang sejati.
Penyadaran idealis, misalnya saat kita memikirkan tentang api tapi tidak ada api di dekat kita, atau segala bentuk imajinasi atau pikiran yang tidak mencerminkan pengalaman saat ini. Ide sifatnya tidak terikat pengalaman atau kenyataan temporal, dan dapat kita akses hanya dengan menyusun ulang atau mengingatnya lagi. Ingatan pun adalah penyadaran idealis karena kita menyadari hal yang sudah tidak terjadi, dan memang ingatan adalah salah satu esensi dari ide.
Lawan dari ide adalah realitas, tepatnya realitas temporal. Temporal karena realitas ini adalah realitas yang terikat waktu, yang terjadi pada saat ini pula, bukan yang lalu atau yang akan datang. Penyadaran realis adalah penyadaran kita saat ini juga, apa yang terjadi saat ini yang kita sedang sadari. Karena itu penyadaran idealis bisa juga menjadi penyadaran realis, tapi yang menjadi riil adalah penyadaran idealisnya atau ide-ide yang kita pikirkan dan bukan isi dari idenya.
Keduanya tidak begitu setara, dan sebenarnya dunia pikiran lebih tinggi dari dunia realitas. Memang tepat bahwa unsur-unsur pembangun imajinasi berasal dari realitas, tapi dengan pikiran kita dapat mencapai berbagai hal yang tidak mungkin dicapai dalam realitas. Namun hal ini terjadi karena kita tidak sungguh bebas dan bersatu dengan kenyataan. Dalam kondisi yang bersatu, pikiran dan realitas menjadi sama saja, apapun yang kita pikirkan dapat kita wujudkan langsung saat itu juga.
Kesenjangan antara pikiran dan realitas artinya kita tetap dapat membayangkan kenyataan yang tidak ada dalam realitas, tapi tidak akan semudah itu pula untuk mewujudkannya. Setidaknya itu penjabaran subjektifnya, secara objektif dapat dikatakan bahwa penyadaran idealis adalah penyadaran terhadap keberadaan absolut suatu objek, sementara penyadaran realis adalah rasa kita terhadap keberadaan itu. Ide artinya mengetahui bahwa api itu panas, tapi tidak tentu merasakan api. Realis artinya mengetahui api itu panas karena merasakan panas api.

Bagian 6-Makhluk yang Sadar dan Kondisi Kesadaran
Sebelumnya dikatakan, bahwa rasa adalah esensi dari kesadaran, tapi ini tidak sama dengan mengatakan bahwa memiliki kesadaran sama dengan mengatakan bahwa diri kita adalah rasa. Memang tepat bahwa jati diri kita adalah rasa, tapi rasa yang dimaksud adalah kemampuan untuk merasakan, dan bukan rasa yang individual yang terpisah dan terpecah. Karena itu baiknya kita memahami pembedaan penting antara makhluk yang sadar dan kondisi kesadaran.
Makhluk yang sadar adalah suatu makhluk atau subjek yang dapat merasakan, dalam hal ini terjadi 3 unsur kesadaran, ia berinteraksi dengan objek riil, memiliki informasi tentang objek riil, dan juga rasa terhadap objek riil itu. Pemahaman makhluk kesadaran secara subjektif dan objektif hampir sama, tapi ada sedikit perbedaan. Secara subjektif, makhluk kesadaran adalah konsepsi tentang siapa diri kita selain dari kesadaran itu. Misalnya sebagai manusia, sebagai perempuan atau laki-laki, sebagai orang Indonesia atau orang Amerika, dan seterusnya.
Secara objektif, makhluk kesadaran dapat dikatakan sebagai perspektif kesadaran yang tetap selama suatu periode waktu, atau sifat-sifat intrinsik suatu subjek yang mempengaruhi atau membatasi setiap kondisi kesadaran yang dialami makhluk tersebut. Jadi dalam kata lain, makhluk kesadaran adalah pembatasan atau ketiadaan batasan terhadap suatu kesadaran itu. Dari situ kita mendapat suatu konsep baru yaitu lingkup atau batasan kesadaran, yang menjadi pembeda antara satu identitas kesadaran dan identitas yang lain.
Batasan kesadaran artinya setiap makhluk kesadaran memiliki batas terhadap penyadaran mereka atau akan senantiasa menyadari suatu hal tentang diri mereka. Sebenarnya hal ini bisa dipandang sebagai batas yang membatasi kesadaran makhluk atau perspektif yang menentukan rupa suatu rasa bagi suatu makhluk. Misalnya begini, bagi manusia seperti banyak dari kita setiap dari kita adalah satu makhluk kesadaran yang berbeda.
Setiap manusia akan terus mendiami satu perspektif itu dan kesadarannya terbatas pada perspektifnya. Perspektif yaitu sudut pandang maksudnya bagaimana kita menyadari suatu objek, dari sisi mana, menurut sifat apa, dan seterusnya. Itu yang dimaksud dengan makhluk kesadaran. Tentu saja ini akan sedikit berbeda kalau misalnya ada masalah terkait ingatan, dan akan ada perbedaan antara pemaknaan makhluk antara subjektif dan objektif.
Suatu makhluk kesadaran pada periode waktu yang lama lebih ditentukan bukan dari perspektifnya, tapi keseluruhan kesadarannya atau pengalamannya. Misalnya suatu makhluk yang terus berubah perspektif, tapi selalu mengingat perspektif sebelumnya dapat menyusun suatu konsepsi diri yang kohesif dan koheren. Berbeda dengan yang perspektifnya sama tapi ingatannya terpotong sama sekali, rasanya akan sebagai makhluk yang baru.
Maka lengkapnya, makhluk yang sadar dapat dijabarkan sebagai tiga hal, yaitu pembatasan terhadap kesadarannya, perspektif dari kesadarannya, dan juga keseluruhan dari pengalaman kesadaran makhluk itu sejauh ia menyadarinya. Lalu apa itu kondisi kesadaran? Kalau makhluk merujuk pada batasan dan keseluruhan, kondisi kesadaran adalah setiap kondisi kesadaran yang berbeda terhadap kenyataan. Dalam kata lain, rasa kita terhadap setiap objek kenyataan dari setiap perspektif yang mungkin.
Karena itu secara teoritis terdapat suatu korespondensi satu-dan-satu antara kondisi kesadaran dan kenyataan. Dalam hal itu terdapat dua identitas utama, yaitu identitas kenyataan, yaitu objek-objek kenyataan apa adanya, dan identitas kondisi kesadaran yaitu segala rasa dan pengalaman yang berbeda terhadap setiap objek kenyataan itu. Lalu apa yang termasuk kondisi kesadaran? Setiap pengalaman yang ada terhadap kenyataan, baik secara agregat atau secara individual. Agregat misalnya pengalaman keseluruhan dalam suatu kebakaran, yang meliputi penglihatan, emosi, penciuman, pendengaran, dan seterusnya. Individual misalnya pengalaman spesifik terhadap panasnya api, atau sesaknya asap.
Makhluk yang sadar berbeda dengan kondisinya, karena ia memiliki kondisi kesadaran itu. Walau begitu, karena adanya perspektif kesadaran dapat dikatakan bahwa suatu makhluk kesadaran adalah kondisi kesadaran yang melekat dan mempengaruhi setiap kondisi lainnya. Sebab perspektif kesadaran secara hakikat juga suatu kondisi kesadaran, hanya saja mendasari kondisi lainnya.
Dengan itu kita dapat membandingkan antara makhluk kesadaran dan kondisi kesadaran dengan identitas statis dan dinamis. Kondisi kesadaran adalah pembentuk dan pembangun dari makhluk kesadaran, sifatnya kontinuu tapi statis dan tidak berubah. Makhluk kesadaran adalah agregat dari berbagai kondisi kesadaran yang terus berubah dan kontinuu, dan yang memiliki rasa akan dirinya yang sejati. Keduanya tetap mengikuti hukum identitas lainnya, yaitu tak terbatas dan tak terhancurkan. Makhluk kesadaran pun juga begitu, ada jumlah yang tak terbatas dari mereka baik secara statis atau secara dinamis.
Rangkuman
Itulah penjabaran singkat tentang apa itu kesadaran secara garis besar dan secara mendasar. Bahwa kesadaran pada esensinya adalah rasa yang membedakan dengan komputasi, namun tetap memiliki unsur-unsur komputasi seperti 3 unsur kesadaran yang objektif. Kesadaran juga adalah jati diri yang tunggal, artinya itu adalah identitas yang memampukan kita untuk merasa dan mengetahui secara hakikat, dan adalah satu-satunya identitas yang sungguh kekal dan mendasar.
Dalam kesadaran ada penyadaran terhadap realitas saat ini dan juga penyadaran terhadap realitas yang tidak ada pada saat ini. Lebih tepatnya, ada penyadaran idealis di mana kita hanya menyadari keberadaan suatu objek tanpa merasakannya dan ada penyadaran realis di mana kita turut merasakan keberadaannya. Terakhir, adapula pembedaan antara makhluk kesadaran dan kondisi kesadaran. Makhluk sadar adalah pembatasan, perspektif, dan keseluruhan kondisi kesadaran yang ia alami dan sadari. Sementara kondisi kesadaran adalah setiap kondisi penyadaran atau rasa terhadap suatu objek atau kenyataan tertentu, yang bisa merujuk pada satu objek saja atau keseluruhan pada satu titik waktu.
Memang benar bahwa apa yang dijabarkan dalam bab ini belum mendeskripsikan kesadaran secara penuh, atau relasinya dengan kehidupan kita sehari-hari. Namun memang bab ini bertujuan untuk membentangkan dasar-dasar dari pemahaman baru kita terhadap kesadaran, dan bukan mengenai integrasi filsafat dengan pengalaman sekarang. Maka itulah pengetahuanku tentang kesadaran yang kubagikan yang diperlukan untuk saat ini.
Kebebasan
Pendahuluan
Kita telah mengenal hukum-hukum paling dasar yang berlaku dalam kenyataan, dan hukum-hukum ini berlaku untuk setiap identitas kenyataan. Bahwa adanya kekekalan keberadaan, adanya identitas statis dan dinamis, dan adanya kesadaran. Kesadaran menjadi salah satu identitas pertama yang tidak dipastikan ada di seluruh identitas, tapi masih sangat mengikat karena definisi keberadaan bagi kita adalah menjadi sadar. Tanpa kesadaran, sungguh tidak ada keberadaan, tapi bukan berarti tidak ada perspektif yang tidak diisi kesadaran. Karena itu kita akan mendalami suatu identitas yang lebih eksklusif yaitu kebebasan.
Bagian 1-Pengertian Kebebasan
Dalam bab identitas kita mengenal adanya identitas dinamis, yaitu identitas yang dapat berubah kondisi. Memang perubahan pasti akan mengubah identitas absolut, tapi tetap terdapat suatu identitas tertentu yang tetap sama pada objek tersebut dan tidak berubah. Perubahan pastinya menjadi bagian dari kebebasan, tapi perubahan saja tidak cukup untuk menghasilkan suatu hal yang bebas. Sebab kita tahu adanya identitas dinamis beraturan, yang artinya perubahan itu ditentukan.
Kebebasan adalah kemampuan berubah tanpa dikekang oleh aturan-aturan apapun, atau kemampuan mengubah aturan perubahan sesuai keinginan dan keputusan identitas bebas tersebut. Sebelumnya kita mengenal identitas ini sebagai identitas yang hiper dinamis. Kalau kita pahami kebebasan menurut ilmu probabilitas, suatu identitas yang bebas tidak dapat kita prediksi secara pasti arah perubahannya. Arah perubahan maksudnya kondisi apa yang akan diambil pada akhir perubahan dan kondisi-kondisi apa saja yang akan terjadi selama perubahan dilakukan.
Kecuali kita adalah identitas itu sendiri, maka kita tahu apa yang kita pilih dan apa yang akan kita lakukan. Hal yang pasti, suatu identitas yang bebas, sekalipun hanya sekali, adalah identitas yang bebas selamanya. Kebebasan berlaku seperti kedinamisan, sekali dinamis tetap dinamis, sekali bebas tetap bebas. Karena itu kita hanya perlu menemukan satu perubahan bebas dari suatu identitas untuk menentukan bahwa identitas itu bebas.
Hal ini sangat mudah dilakukan kalau kita ingin menentukan kebebasan diri kita sendiri. Karena cenderung kita yang memilih arah perubahan, pastinya ada satu arah perubahan yang kita lakukan secara bebas, atau lebih tepatnya hampir semuanya dilakukan secara bebas. Jadi pastinya dari diri sendiri kita adalah makhluk yang bebas, walau tidak selalu bebas, tapi selama ada potensialitas untuk menjadi bebas, kebebasan itu sudah ada.



Sementara itu, menentukan kebebasan yang objektif tidak semudah seperti kebebasan yang subjektif. Namun ini dapat kita selesaikan dengan kembali pada pengertian kebebasan secara mendasar, yaitu kemampuan untuk menentukan arah perubahan, artinya yang menentukan adalah identitas yang melakukan perubahan tersebut. Karena itu kita hanya perlu menganalisis secara pasti, apakah suatu identitas sungguh berubah menurut identitas itu sendiri atau karena dipengaruhi identitas lain.
Suatu hal yang dapat sedikit mengecoh adalah kalau suatu identitas tidak bebas selamanya tapi memiliki awal kebebasan atau mungkin saja akhir kebebasan. Sebenarnya itu tidak menjadi masalah, mungkin ada periode di mana identitas itu tidak bebas, tapi selama identitas itu pernah menjadi bebas, tetap ada kebebasan. Karena kebebasan itu begitu luas, ada pula kebebasan untuk menjadi tidak bebas, tapi untuk memulai kebebasan yang baru harus dimulai oleh identitas yang sudah bebas terdahulu.
Karena itu pengertian kebebasan atau identitas yang bebas tetaplah sama yaitu kemampuan untuk mengubah atau menentukan arah perubahan, atau identitas yang mampu menentukan arah perubahannya sendiri. Secara subjektif ini dapat kita nilai sendiri, tapi secara objektif ini berarti perubahan yang dilakukan identitas itu sungguh dari identitas itu dan ada suatu potensialitas untuk mengubah aturan perubahan.
Bagian 2-Interaksi Kebebasan
Pada bab identitas kita juga mengenal tentang adanya identitas relasional atau identitas semesta, yang didefinisikan sebagai identitas yang menampung interaksi antara berbagai identitas dinamis. Kita tidak akan membahas bagaimana satu identitas berinteraksi dengan identitas lain, tapi mengenai kebebasan yang lebih tinggi dari kebebasan pribadi. Kebebasan awalnya didefinisikan hanya sebagai menentukan arah perubahan untuk diri sendiri, namun bagaimana dengan kebebasan terhadap identitas lain?
Dari itu bukan lagi sekadar kebebasan melainkan sudah menjadi kekuasaan, yaitu kemampuan untuk menentukan arah perubahan bagi identitas lain dan juga dirinya sendiri. Kebebasan seperti ini artinya suatu identitas mampu untuk mengubah kenyataan itu sendiri demi suatu tujuan tertentu. Tentu saja perubahan kenyataan eksternal turut mengubah kenyataan internal yaitu pada identitas tersebut. Sebab selama suatu identitas dapat mendeteksi kenyataan, kenyataan itu sudah berpengaruh pada identitas itu.
Maka kebebasan terhadap kenyataan eksternal hanyalah pemurnian terhadap kebebasan pribadi, karena pada akhirnya yang paling berubah tetaplah identitas pribadi itu. Perubahan dalam kenyataan akan menentukan perubahan mikro dalam satu identitas tersebut. Tentu saja kebebasan ini bisa saja tidak terkonsentrasi hanya pada satu identitas tapi berbagai identitas sehingga terdapat batas-batas pada kebebasan setiap identitas. Dalam kondisi tersebut kita bebas mengubah identitas lain tapi identitas lain juga mampu dan bebas untuk mengubah identitas kita, sehingga terjadi interaksi kebebasan yang kompleks.

Namun muncul pertanyaan yang penting, apakah ada batasan yang jelas terhadap kebebasan mutlak ini? Kita tahu suatu identitas yang bebas mampu mengubah dirinya sendiri dan tentunya juga kenyataan eksternalnya. Lalu apakah ada batasan terhadap kenyataan eksternal itu? Sebenarnya ada, ada hal-hal yang begitu mengakar sampai tidak dapat disentuh oleh dewa atau dewi yang terkuat, atau makhluk yang mampu menguasai setiap alam semesta, dan inilah yang menjadi batas kebebasan terbesar.
Bagian 3-Batas Kebebasan
Satu hukum yang mengekang kebebasan setiap identitas bebas adalah hukum kekekalan keberadaan dan hukum identitas statis. Antara identitas statis, dinamis, dan bebas terdapat suatu tembok atau halangan metafisik yang tidak dapat dilanggar. Halangan ini adalah keberadaan yang kekal, karena keberadaan suatu identitas statis kekal kita tidak akan pernah mampu untuk membawa identitas statis sepenuhnya ke dalam semesta kita yang dinamis. Bahkan tidak mungkin bagi identitas yang bebas untuk mempengaruhi identitas yang statis atau yang dinamis beraturan.
Hal ini dikarenakan satu esensi dari kedua golongan identitas itu, bahwa keduanya tidak dapat diubah arah perubahannya, entah tidak berubah sama sekali, atau arah perubahannya telah ditentukan. Kita dapat mereplikasikan sebagian dari identitas yang murni itu ke dalam semesta, tapi tidak akan pernah sama. Karena itu ada beberapa hal yang sama sekali tidak dapat kita ubah, yang nasibnya sudah ditentukan oleh kenyataan itu sendiri. Bukan, ada suatu jumlah yang tak terbatas dari hal-hal statis seperti itu, dan kebebasan tidak akan pernah menyentuh mereka.
Secara metafisik, ini berarti setiap identitas yang bebas hanya bebas terhadap dirinya sendiri dan sesamanya. Itu pun kalau mereka bebas secara murni dan tidak ada aturan-aturan lain yang telah ditetapkan bagi mereka. Dan identitas statis tidak akan pernah bertemu dengan identitas bebas, yang kita lihat hanya gabungannya atau suatu ketidakmurniannya. Identitas dinamis beraturan juga tidak akan pernah menjadi bebas, karena sekali bebas tetap bebas. Sekalipun kita menemuinya, itu hanya suatu bayangan, dan bukan yang sesungguhnya.
Suatu bantahan mungkin dapat dihasilkan, dengan menyatakan tentang banyak identitas semesta yang saling berinteraksi. Seperti ini, kalau suatu hal dapat berinteraksi dengan hal yang lain, sejak awal dia sudah ada dalam satu identitas semesta yang besar. Konsep-konsep seperti multiverse tidak berarti kita dapat berinteraksi dengan suatu identitas yang sungguh berbeda dalam hal ada dalam kondisi kebebasan yang di bawah kita, tapi berarti sejak awal memang kita adalah bagian dari multiverse itu. Namun adalah identitas semesta seperti kita yang terpisah dan tidak dalam satu multiverse, tapi terpisah, hanya mampu berinteraksi dengan dirinya sendiri dan tidak dengan yang lain. Seperti mereka, kita tidak akan pernah menemui mereka atau mengubah mereka, selain sebatas suatu ide.



Bagian 4-Kesadaran dan Kebebasan
Apakah suatu makhluk yang sadar dipastikan bebas? Sepertinya belum tentu, tapi kita tidak tahu karena sejauh ini saat kita sadar kita menyadari suatu kebebasan yang begitu hakikat. Kita sama sekali tidak mengetahui apakah ada identitas yang menyadari bahwa ia telah ditentukan hidupnya sepenuhnya oleh serangkai aturan atau setiap identitas yang sadar pastilah bebas juga. Dan mungkin saja ini adalah suatu pertanyaan yang tidak akan bisa dijawab kecuali kita turut merasakannya.
Masalahnya kita tidak akan pernah merasakannya, kecuali sedikit dari hal tersebut. Seperti yang telah kukatakan, sekali bebas tetap bebas dan selalu bebas. Kecuali kesadaran kita terpotong ingatannya dan kita memulai ulang sebagai suatu identitas dinamis beraturan atau bahkan statis kita tidak akan sungguh tahu. Selain itu, suatu identitas yang sadar tapi tidak bebas (dalam arti sama sekali tidak bebas dan arah perubahannya ditentukan secara pasti) artinya setiap pikiran dan apa yang dapat ia sadari pun sudah ditentukan. Dia memiliki rasa, tapi rasa itu diciptakan secara artifisial.
Hal seperti itu saja sudah sulit dibayangkan, kita terbiasa dengan hidup di mana setidaknya pikiran kita kita yang mengendalikan dengan rasa kita sendiri. Bagaimana dengan suatu manusia di semesta lain yang sadar, tapi hidupnya, setiap perilaku, tindakan, dan pikirannya sudah ditentukan untuk mengarah pada kematian yang keji? Dan tidak ada hal yang dapat dilakukan olehnya untuk mengubahnya. Tentu saja dia tidak akan sadar akan ketidakbebasannya, atau mungkin saja sadar, tapi itu tidak penting karena semuanya itu sudah ditentukan dan tidak dapat digugat.
Tapi kalau misalnya sudah kesadaran tidak bebas, dan dia tidak menyadari ketidakbebasan itu mungkin dapat dikatakan dia tidak sadar secara penuh. Hanya saja asalkan dia tetap merasakan suatu kenyataan dia tetap sadar. Sebenarnya ada saja manusia di bumi ini yang juga “tidak bebas” dan tidak menyadarinya, tapi mereka sebenarnya mampu menyadarinya, kita dapat membuat mereka bebas. Selama ada potensialitas, kebebasan itu tetap ada, tapi bagaimana dengan dunia yang sungguh tidak berpotensi untuk bebas? Dunia yang sungguh telah ditentukan dan direncanakan nasibnya dan tidak ada yang luput dari pengaturan?
Tentu saja dunia seperti itu masih dapat diterima karena kita saja masih tidak tahu apakah kita sendiri bebas atau juga telah ditentukan. Tapi karena faktanya kita masih dapat merasakan suatu kebebasan, mungkin kurang lebih kita adalah makhluk yang bebas. Suatu dunia yang telah ditentukan sebenarnya masih dapat berjalan seperti biasa dan mungkin rasanya seperti biasa juga. Hal yang lebih membingungkan adalah kesadaran yang sungguh statis, apakah itu mungkin?



Mungkin hal itu lebih merujuk pada kondisi kesadaran yang statis dan bukan pada makhluk yang sadar itu sendiri. Sebab statis artinya merasakan satu kondisi kesadaran selamanya tanpa awal dan akhir, aku rasa dapat dibandingkan dengan identitas yang statis. Bagaimana rasanya tentu kita tidak tahu, lebih lagi daripada tidak mengetahui identitas sadar dinamis beraturan. Namun apakah itu sungguh penting? Karena sesuai batasan kebebasan, kita tidak akan pernah mampu untuk mempengaruhi mereka atau menemui mereka, jadi tidak begitu penting untuk mempermasalahkan mereka.
Bagian 5-Kebebasan Identitas
Sebelumnya kita mendefinisikan kebebasan sebagai suatu kemampuan untuk menentukan arah perubahan, tapi kita menerjemahkannya sebagai kemampuan untuk mengubah arah perubahan. Ini bukan definisi yang salah, tapi definisi yang tidak lengkap saja. Sebenarnya ada suatu kebebasan yang lebih mendalam yang mengarah pada identitas dan bukan kemampuan mengubah saja. Kita mengatakan bahwa identitas yang statis ialah tidak bebas, tapi bebas di sini maksudnya bebas mengubah, tapi identitas statis pun juga bebas dalam arti lain.
Arti lain kebebasan adalah menurut perspektif identitas, yaitu kemampuan suatu identitas untuk menentukan perubahan (atau ketiadaan perubahan) secara mandiri atau tidak ditentukan oleh identitas lain. Kita mengatakan awalnya bahwa identitas statis tidak bebas karena tidak mampu untuk mengubah dirinya sendiri. Masalahnya, hal itu tidak terjadi karena identitas statis itu dibuat tidak mampu oleh identitas lain, tapi karena memang identitas statis itu sendiri yang membuat dirinya tidak mampu.
Bukan saja membuat tidak mampu, tapi identitas statis pada hakikatnya adalah statis, tidak dapat berubah. Ataupula dengan identitas dinamis beraturan yang arah perubahannya tidak dapat diubah, alasan identitas itu telah ditentukan bukan karena identitas lain atau suatu Tuhan, tapi karena memang itulah esensi dan definisi dari identitas tersebut. Arah perubahan kedua identitas ini mungkin telah ditentukan dan tidak dapat diubah, tapi pertanyaannya sekarang bukan dapat diubah atau tidak, melainkan siapa yang menentukan.
Kebebasan yang lebih lengkap bukan sekadar kemampuan untuk mengubah arah perubahan, tapi kemampuan untuk berlaku sesuai hakikat diri. Kita makhluk bebas pun dapat menentukan pula nasib kita, dan saat kita sungguh bertekun dan tidak ada kelemahan dalam hati kita, bukankah kita tidak mampu mengubah arah perubahan kita pula? Namun hal itu terjadi karena keinginan dan hakikat diri kita sendiri, bukan karena campur tangan orang lain.
Hal yang sama dapat dikatakan terhadap identitas-identitas yang tidak dapat berubah entah kondisi absolutnya atau arah perubahannya. Mereka seperti itu bukan karena identitas lain tapi karena diri mereka sendiri. Hal yang menentukan hukum adalah hukum itu sendiri, maka identitas statis dan dinamis beraturan tetaplah bebas, hanya saja bebas menurut perspektif yang berbeda. Kita tidak dapat menyatakan mereka sebagai tidak bebas, sebab memang mereka bukanlah kebebasan, tapi dalam berlaku tidak sebagai hal yang bebas, melainkan sesuai kodrat mereka yang tidak bebas, mereka menjadi bebas.
Bagian 6-Kebebasan Semesta
Kalau kita merujuk pada kebebasan secara intrinsik seperti pada bagian sebelumnya, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya setiap identitas yang sudah tidak mampu berinteraksi dengan identitas lainnya adalah identitas yang bebas. Dalam kata lain ketidakbebasan hanya terjadi saat suatu identitas dikuasai oleh identitas lainnya, atau hanya mungkin terjadi saat ada interaksi antar identitas. Namun pada tingkat identitas semesta yang tertinggi, yang tidak dapat berinteraksi dengan identitas lain, bagaimana mungkin dirinya dikuasai oleh yang lain? Sebab tiada yang lain kecuali dirinya.
Sekalipun terjadi ketidakbebasan dalam suatu identitas semesta, secara keseluruhan apa yang terjadi dalam semesta tetap terjadi dalam semesta. Segala perubahan yang terjadi dalam semesta, terjadi karena semesta itu sendiri, bukan karena semesta yang “lain”. Karena definisinya memang semesta itu adalah tingkat terakhir dan tidak bisa diganggu gugat atau mengganggu gugat semesta yang lain. Dia sungguh berlaku menurut hakikatnya sendiri.
Kebebasan Mutlak
Pada akhirnya kita telah mengenal kebebasan dalam dua pandangan yang berbeda, yaitu kemampuan untuk mengubah arah perubahan dengan kuasa diri sendiri, atau berlaku sesuai hakikat diri sendiri. Kebebasan yang dinamis jelas tidak dimiliki setiap identitas, ada saja identitas yang statis yang tidak bebas karena tidak mampu mengubah arah perubahannya. Bahkan ada identitas yang berkuasa terhadap identitas lain dan mampu mengubah arah perubahan identitas lain atau keseluruhan semestanya bahkan.
Namun ada suatu tingkat identitas di mana tidak mungkin untuk menguasai atau mempengaruhi identitas lain. Ini terjadi oleh kekekalan keberadaan, dan terutama terlihat pada identitas statis dan relasinya dengan identitas bebas yang efektif nihil. Karena itu adalah suatu kebebasan yang lebih mendasar, yang dimiliki oleh setiap identitas, yaitu untuk berlaku sesuai hakikat identitas dirinya. Suatu identitas statis yang tidak dipengaruhi dan tidak mempengaruhi ialah bebas karena berlaku sesuai dirinya sendiri.
Sebenarnya sejak awal sudah ada suatu kebebasan yang paling tinggi yang kita temukan, yaitu kekekalan keberadaan. Hukum keberadaan yang mendasari segala hal dalam kenyataan adalah hukum yang sangat kuat bahkan tidak mungkin dilanggar sama sekali. Namun ini bukan suatu wujud ketidakbebasan, tapi kebebasan yang paling tinggi, karena setiap makhluk adalah perwujudan dari hukum ini. Bahwa segala makhluk ada secara abadi, hanyalah hakikat yang paling dasar dari segala makhluk.





Rangkuman
Keberadaan
Dengan 4 bagian utama dalam bab metafisika ini, dapat dikatakan bahwa kita telah selesai dalam menyusun suatu rangkaian ilmu metafisika yang paling mendasar dan berlaku bagi segala kenyataan yang ada. Karena itu baiklah kita rangkum semua penemuan metafisika mulai dari keberadaan sampai dengan kebebasan. Pertama kita buktikan bahwa kenyataan memiliki keberadaan melalui kesadaran murni, yang tidak terikat oleh kesadaran itu, dan juga kekal keberadaannya. Kekekalan ini disebabkan oleh sifat ketiadaan yang tidak memiliki sifat, artinya tidak dapat berubah atau diubah dari, maka keduanya ada secara terpisah dan abadi.
Karena itu dari bagian keberadaan kita dapat merumuskan suatu hukum, yaitu Hukum Kekekalan Keberadaan yang menyatakan bahwa, “Kenyataan ada secara kekal dan abadi, tidak berawal atau berakhir.” Sebelum hukum kekekalan terdapat Hukum Keberadaan Subjektif dan Hukum Ketiadaan. Hukum keberadaan subjektif menyatakan bahwa, “Keberadaan ditemukan dan dipastikan melalui kesadaran yang murni.” Hukum ketiadaan menyatakan bahwa, “Ketiadaan ialah hal yang tidak memiliki sifat apapun selain sifat non-sifat dan non-deskripsi.” Hukum pertama adalah penemuan keberadaan yang pertama dan hukum kedua membentuk kekekalan keberadaan.
Berikutnya adalah penjabaran mengenai identitas, yang didefinisikan sebagai serangkai sifat yang membedakan suatu objek dari objek yang lain. Ada identitas absolut yang mendeskripsikan keseluruhan suatu objek baik sifat internal atau eksternal (sifat objek relatif terhadap objek lain misal ruang dan waktu) atau identitas umum yang mendeskripsikan kesamaan sifat atau identitas antara beberapa objek yang berbeda secara absolut.
Menurut hukum kekekalan keberadaan, setiap identitas memiliki keberadaan yang kekal, tidak berawal atau berakhir. Hal ini berarti kenyataan yang paling murni merupakan suatu superposisi tak terbatas, dalam arti segala hal ada secara bersamaan tanpa suatu waktu atau ruang yang berbeda,  dalam jumlah yang tak terbatas dan tak terhitung. Ini adalah Hukum Superposisi Tak Terbatas yang menyatakan bahwa, “Kenyataan merupakan segala identitas yang ada secara bersamaan dalam jumlah yang tak terbatas dan tak terhitung.”
Dengan itu seluruh keberadaan dapat kita rangkum dalam satu pernyataan yang ringkas, “Kenyataan ialah keberadaan segala identitas absolut secara bersamaan yang tak berawal atau berakhir.”





Identitas
Ada dua definisi terhadap identitas, yaitu identitas menurut perspektif mikro yaitu identitas absolut dan juga identitas menurut perspektif makro atau perbandingan antara identitas dan kenyataan superposisi. Identitas dalam perspektif superposisi adalah pembatasan yang spesifik terhadap suatu bagian tertentu dari kenyataan yang menjadikan suatu identitas yang berbeda dari kenyataan di luar identitas tersebut. Maka secara resmi identitas ialah, “Identitas ialah objek yang berbeda dalam segala sifat dengan objek yang lainnya sebagai hasil dari pembatasan yang spesifik terhadap satu bagian tertentu dari kenyataan.”
Identitas juga dapat ada secara derivatif atau secara non-derivatif. Identitas non-derivatif adalah identitas yang tidak dapat dibagi lagi menjadi identitas-identitas yang lebih sederhana, atau dalam kata lain identitas yang asli. Sementara itu identitas derivatif adalah identitas yang didefinisikan sebagai kumpulan dari berbagai identitas asli menjadi suatu identitas baru yang berbeda dari setiap identitas pembentuknya. Ini dapat kita rumuskan sebagai suatu Hukum Identitas Derivatif yang berbunyi, “Identitas dapat berupa identitas asli atau kumpulan dari beberapa identitas asli yang berbeda.”
Suatu penerapan yang lebih jauh dari hukum itu ialah identitas statis, dinamis, dan bebas. Identitas statis adalah segala identitas yang secara absolut tidak dapat berubah dan kondisinya abadi. Ini adalah identitas asli yang paling mendasar dalam kenyataan. Identitas dinamis adalah identitas yang secara absolut dapat berubah tapi arah perubahannya yaitu tujuan perubahan dan proses perubahan tidak dapat diubah. Maka dapat dikatakan bahwa identitas dinamis adalah identitas derivatif dari berbagai identitas statis yang terlibat.
Sementara itu ada identitas bebas yang secara absolut dapat berubah dan arah perubahannya juga dapat diubah sehingga tidak tentu atau secara pasti mengikuti identitas dinamis yang sudah ada. Karena itu dapat dikatakan bahwa identitas bebas adalah identitas derivatif dari berbagai identitas dinamis yang sendirinya adalah identitas derivatif dari berbagai identitas statis yang ada.
Terakhir, ada yang dinamakan dengan identitas semesta atau identitas relasional, yang didefinisikan sebagai relasi atau interaksi antara berbagai identitas yang berbeda dalam satu identitas yang sama. Namun identitas semesta juga dapat didefinisikan sebagai tingkat identitas tertinggi di mana tidak dapat terjadi interaksi dengan identitas yang lain. Secara rasional, ada banyak sekali tingkatan identitas semesta, baik yang bebas atau yang tidak bebas, yang melibatkan jumlah identitas yang terbatas atau yang tak terbatas.




Karena itu, setiap identitas semesta tidak dapat saling menjangkau, dan hal yang pasti setiap identitas yang tunggal juga tidak dapat saling menjangkau. Maka ada tiga halangan aksesibilitas antar identitas, yaitu halangan antara setiap identitas tunggal yaitu yang tidak berinteraksi atau berelasi dengan identitas lain, antara identitas tunggal dan identitas relasional, dan antar setiap identitas semesta. Dari itu dirumuskan Hukum Inaksesibilitas Mutual yang berbunyi, “Identitas yang tidak dapat berinteraksi dengan identitas lain tidak akan berinteraksi dengan sesamanya dan sebaliknya, identitas yang dapat berinteraksi dengan identitas lain tetap tidak akan berinteraksi dengan identitas yang tidak dapat berinteraksi dengan identitas lain dan sebaliknya.
Adapula Hukum Identitas Bebas yang berbunyi, “Identitas bebas ialah identitas yang secara absolut dapat berubah secara tidak tentu sebagai derivatif dari identitas dinamis yang secara absolut dapat berubah secara tentu sebagai derivatif dari identitas statis yang secara absolut tidak dapat berubah.” Dan hukum terakhir untuk bagian identitas ialah Hukum Identitas Semesta yang berbunyi, “Identitas semesta ialah relasi dan interaksi antar berbagai identitas yang berbeda dan dinamis atau bebas.
Kesadaran
Secara mendasar, kesadaran dapat didefinisikan sebagai rasa, yaitu pengalaman subjektif bagi setiap pribadi. Contoh paling sederhana adalah rasa panas, rasa sedih, atau tampak warna merah, yang semuanya subjektif. Ini berbeda dengan komputasi, yang merupakan bagian dari kesadaran tapi tidak semua komputasi adalah kesadaran. Maka definisi kesadaran secara resmi ialah, “Kesadaran ialah rasa terhadap kenyataan yang dimiliki setiap pribadi dan dialami secara subjektif dan tidak berbagi dengan pribadi lain.”
Kesadaran dari perspektif yang subjektif bukan hanya rasa tapi juga konsepsi diri yang paling kekal, abadi, dan mendasar. Segala konsepsi diri lainnya, misal sebagai manusia atau sebagai hewan, sebagai makhluk hidup, atau hal-hal lain hanya ada pertama kali melalui kesadaran. Karena itu kesadaran juga menjadi keberadaan pertama dan tertinggi bagi setiap makhluk yang sadar, juga menjadi penentu segala keberadaan subjektif. Sehingga ketiadaan kesadaran setara dengan ketiadaan yang sesungguhnya dan kesadaran haruslah abadi dalam rasa. Karena itu adalah Hukum Supremasi Kesadaran yang menyatakan bahwa, “Kesadaran bagi segala makhluk yang sadar ialah konsepsi diri paling utama dan juga keberadaan pertama yang menentukan segala keberadaan lain secara subjektif yang abadi.
Kesadaran sebagai suatu objek adalah sensor dan komputer ditambah dengan unsur rasa yang subjektif. Maka dalam setiap interaksi kesadaran adalah 3 unsur, yaitu objek yang disadari, informasi tentang objek yang disadari, dan juga rasa terhadap objek yang disadari. Objek adalah objek yang murni, yang mencakup keseluruhan sifatnya. Informasi tentang objek adalah suatu objek lain yang mewakili sebagian atau keseluruhan objek yang disadari, atau yang memampukan penyadaran terhadap objek. Dan rasa adalah sebagaimana yang telah dijabarkan. Dengan itu adalah Hukum Kesadaran Komputasional yang menyatakan bahwa, “Kesadaran adalah objek yang mampu memiliki informasi tentang suatu objek lain dan juga memiliki rasa terhadap objek tersebut.
Kesadaran tidak terikat pada saat yang sekarang, melainkan bisa menjangkau hal-hal yang tidak terjadi pada saat sekarang. Kesadaran pada hakikatnya adalah rasa, tapi rasa ini dapat menjadi rasa terhadap kenyataan yang aktual, yang saat ini atau rasa terhadap keberadaan kenyataan yang absolut. Rasa absolut atau kesadaran idealis sama dengan pengetahuan, pikiran, atau ide, di mana adanya penyadaran terhadap keberadaan suatu objek tapi tidak serta merta merasakan objek itu pada saat itu juga. Rasa aktual atau kesadaran realis sama dengan pengalaman langsung, maka ada penyadaran terhadap keberadaan suatu objek tapi juga merasakan objek itu pada saat itu juga. Maka adalah Hukum Kesadaran Idealis yang berbunyi, “Kesadaran yang paling dasar ialah rasa akan keberadaan absolut dari suatu identitas tanpa perlu adanya rasa yang lebih spesifik terhadap suatu identitas.”
Kesadaran juga terdiri dari makhluk sadar dan kondisi kesadaran. Makhluk sadar pada dasarnya adalah objek yang mampu merasakan atau menyadari kenyataan. Namun lengkapnya makhluk sadar adalah batasan terhadap kesadaran akan kenyataan, perspektif spesifik terhadap setiap kenyataan, dan juga keseluruhan kondisi kesadaran yang telah dialami suatu makhluk. Sementara kondisi kesadaran adalah rasa yang individual atau pengalaman spesifik terhadap suatu objek. Maka adalah Hukum Makhluk yang Sadar sebagai berikut, “Makhluk yang sadar ialah segala objek yang mampu merasakan kenyataan dengan perspektif tertentu dengan batasan tertentu terhadap kenyataan yang dibentuk oleh keseluruhan pengalaman makhluk tersebut.”
Sebagai makhluk yang bebas dan sadar, kita bisa saja berasumsi bahwa setiap makhluk sadar haruslah bebas, tapi itu tidak tentu. Karena makhluk sadar secara definisi ialah objek yang mampu merasa, identitas statis atau dinamis juga mampu memiliki kesadaran, hanya saja tidak berubah dan telah ditentukan. Hal ini berarti bahwa kesadaran tidak bersifat eksklusif pada kebebasan dan ini diungkapkan dengan Hukum Non-Eksklusivitas Kesadaran yang berbunyi, “Kesadaran tidak terbatas pada identitas bebas dan dapat berlaku pada identitas statis ataupun dinamis.” Itulah hukum terakhir untuk bagian kesadaran.
Kebebasan
Kebebasan jenis pertama adalah kemampuan untuk mengubah arah perubahan bagi suatu identitas atau mengubah arah perubahan identitas lain dalam suatu identitas semesta. Ini adalah esensi dari identitas bebas, yang tidak dimiliki oleh identitas dinamis atau identitas statis. Hukum dari kebebasan jenis ini ialah Hukum Kebebasan Dinamis yang berbunyi, “Kebebasan dinamis adalah kemampuan suatu identitas untuk mengubah arah perubahan dirinya atau identitas yang lain.”
Kebebasan kedua adalah kemampuan untuk menentukan arah perubahan bagi suatu identitas, dan ini berlaku untuk setiap identitas yang memenuhi hukum inaksesibilitas mutual. Artinya, setiap identitas semesta telah menentukan arah perubahannya sekalipun tidak dapat mengubah arah perubahan itu. Maka setiap identitas statis dan dinamis bebas dalam kategori ini, bersama setiap identitas semesta. Hukum dari kebebasan ini ialah Hukum Kebebasan Deterministik yang berbunyi, “Kebebasan deterministik adalah kemampuan setiap identitas yang memenuhi hukum inaksebilitas mutual untuk menentukan arah perubahannya sendiri.
Adapula pengekangan dan pembatasan kebebasan secara absolut oleh hukum inaksesibilitas itu sendiri. Bahwa sebebas-bebasnya suatu identitas terhadap yang lain, identitas itu tetap hanya berkuasa terhadap dirinya sendiri atau semestanya. Ini adalah Hukum Inaksesibilitas Kebebasan yang berbunyi, “Kebebasan dinamis tidak akan pernah melanggar hukum inaksesibilitas mutual.” Itulah hukum terakhir dalam bagian kebebasan.
Hukum-Hukum Metafisika
Maka semua ilmu metafisika dasar dapat diringkas sebagai hukum-hukum berikut.
1. Hukum Keberadaan Subjektif
Keberadaan ditemukan dan dipastikan melalui kesadaran yang murni.
2. Hukum Ketiadaan
Ketiadaan ialah hal yang tidak memiliki sifat apapun selain sifat non-sifat dan non-deskripsi.
3. Hukum Kekekalan Keberadaan
Kenyataan ada secara kekal dan abadi, tidak berawal atau berakhir.
4. Hukum Superposisi Tak Terbatas
Kenyataan merupakan segala identitas yang ada secara bersamaan dalam jumlah yang tak terbatas dan tak terhitung.
5. Hukum Kenyataan Absolut
Kenyataan ialah keberadaan segala identitas absolut secara bersamaan yang tak berawal atau berakhir.”
6. Hukum Identitas
Identitas ialah objek yang berbeda dalam segala sifat dengan objek yang lainnya sebagai hasil dari pembatasan yang spesifik terhadap satu bagian tertentu dari kenyataan.
7. Hukum Identitas Derivatif
Identitas dapat berupa identitas asli atau kumpulan dari beberapa identitas asli yang berbeda.
8. Hukum Identitas Bebas
Identitas bebas ialah identitas yang secara absolut dapat berubah secara tidak tentu sebagai derivatif dari identitas dinamis yang secara absolut dapat berubah secara tentu sebagai derivatif dari identitas dinamis yang secara absolut tidak dapat berubah.
9. Hukum Identitas Semesta
Identitas semesta ialah relasi dan interaksi antar berbagai identitas yang berbeda dan dinamis atau bebas.
10. Hukum Inaksesibilitas Mutual
Identitas yang tidak dapat berinteraksi dengan identitas lain tidak akan berinteraksi dengan sesamanya dan sebaliknya, identitas yang dapat berinteraksi dengan identitas lain tetap tidak akan berinteraksi dengan identitas yang tidak dapat berinteraksi dengan identitas lain dan sebaliknya.
11. Hukum Kesadaran
Kesadaran ialah rasa terhadap kenyataan yang dimiliki setiap pribadi dan dialami secara subjektif dan tidak berbagi dengan pribadi lain.
12. Hukum Kesadaran Komputasional
Kesadaran adalah objek yang mampu memiliki informasi tentang suatu objek lain dan juga memiliki rasa terhadap objek tersebut.
13. Hukum Kesadaran Idealis
Kesadaran yang paling dasar ialah rasa akan keberadaan absolut dari suatu identitas tanpa perlu adanya rasa yang lebih spesifik terhadap suatu identitas.
14. Hukum Makhluk yang Sadar
Makhluk yang sadar ialah segala objek yang mampu merasakan kenyataan dengan perspektif tertentu dengan batasan tertentu terhadap kenyataan yang dibentuk oleh keseluruhan pengalaman makhluk tersebut.
15. Hukum Non-Eksklusivitas Kesadaran
Kesadaran tidak terbatas pada identitas bebas dan dapat berlaku pada identitas statis ataupun dinamis.
16. Hukum Kebebasan Dinamis
Kebebasan dinamis adalah kemampuan suatu identitas untuk mengubah arah perubahan dirinya atau identitas yang lain.
17. Hukum Kebebasan Deterministik
Kebebasan deterministik adalah kemampuan setiap identitas yang memenuhi hukum inaksebilitas mutual untuk menentukan arah perubahannya sendiri.
18. Hukum Inaksesibilitas Kebebasan
Kebebasan dinamis tidak akan pernah melanggar hukum inaksesibilitas mutual.


Semesta Kita
Ini adalah bab terakhir dalam ilmu metafisika dasar, yang akan berisi sedikit pemikiranku tentang apa sifat alam semesta kita menurut perspektif metafisika. Menurut hukum identitas, semesta kita jelas merupakan contoh identitas semesta (lagipula ideku tentang itu didapat dari pemahaman tentang semesta kita sendiri), di mana terjadi interaksi antara setidaknya 10^86 partikel di semesta ini. Semesta ini juga memiliki identitas yang dinamis dan yang bebas. Para fisikawan sudah menemukan banyak sekali hukum di semesta ini yang sepertinya tidak akan bisa dilanggar. Namun ada banyak pula hal-hal dalam hukum itu yang sifatnya acak atau tidak bisa diprediksi.
Apakah semesta kita merupakan identitas inaksesibel? Sepertinya tidak, banyak ilmuwan mendukung hipotesis bahwa adanya semesta lain yang dapat diakses entah bagaimana caranya. Hanya saja hal itu belum pasti dan tetap ada kemungkinan kita berada pada identitas inaksesibel. Sekalipun kita ada dalam suatu multiverse, belum tentu itu adalah multiverse absolut yang dapat menampung sejumlah semesta yang tak terbatas dan berbeda. Bisa saja identitas semesta kita memiliki sedikit sifat statis yang tidak bisa diubah. Itu adalah kemungkinan yang sangat nyata.
Namun itu tidak begitu penting ataupun berpengaruh pada kita, sekalipun ternyata kita hanya memiliki satu semesta yang dapat kita manipulasi tentu ada hal-hal yang dapat kita lakukan. Kesadaran pastinya ada dalam semesta ini, walau mekanika pastinya aku pun tidak mengetahuinya. Hal yang mungkin menarik untuk dipersoalkan adalah awal dari semesta ini. Apakah semesta ini diciptakan oleh semesta lain atau suatu entitas super, atau mungkin telah ada sebagai suatu pengulangan atau loop yang terus berulang, kita tidak tahu.
Sebenarnya tidak banyak yang dapat dibahas antara metafisika dan semesta kita, karena memasuki semesta kita sudah menjadi lingkup fisika. Jadi aku rasa cukup itu saja yang dapat kubahas terkait metafisika semesta kita. Apapun lebih kompleks dari ini ialah urusan waktu yang akan datang. Hal-hal lebih kompleks termasuk Tuhan dan semesta, atau masalah epistemologi, logika, matematika, dan seterusnya.








Penutup
Maka itulah segala ilmu metafisika dasar yang dapat kubagikan kepada dunia. 18 hukum yang singkat telah tertulis untuk meringkas seluruh kenyataan dunia, tapi masih ada banyak hal terkait metafisika yang masih harus ditulis dan dibagikan. Karena itu hukum dalam tulisan ini pastinya tidak akan lengkap untuk mendeskripsikan seluruh metafisika kenyataan. Namun seperti yang telah kukatakan, ini adalah metafisika yang paling dasar, dan pastinya ada bagian-bagian yang menjadi lebih mendalam nantinya. Dan aku rasa metafisika ini cukup untuk sekarang, sebagai fondasi untuk segala filsafat berikutnya. Aku harap tulisan ini dapat menjadi suatu hal yang berguna bagi seluruh umat manusia, kini dan sampai akhir dunia. Tuhan memberkati kita semua, amin.