Metafisika
Pendahuluan
Metafisika,
suatu ilmu yang entah sudah ditinggalkan atau sudah selesai tugasnya. Kata ini
berasal dari bahasa Yunani yaitu dari ta
meta ta phusika atau secara harafiah “yang datang setelah fisika”. Sebab
metafisika aslinya merupakan judul karya Aristoteles yang datang setelah
karyanya berjudul Fisika. Kalau dikaitkan dengan pengertian sekarang, dapat
dikatakan metafisika adalah ilmu mengenai hal-hal yang melampaui atau mendasari
fisika. Jadi, objek metafisika ialah kenyataan yang lebih mendasar daripada
hukum fisika.
Setidaknya
itu adalah definisi metafisika menurut pemenggalan katanya, pengertian resminya
tidak begitu terpaku dan sering kali berbeda tapi memiliki satu esensi. Bahwa
metafisika meneliti hal-hal paling mendasar dari kenyataan. Sampai mana batasan
“mendasar” ini, dan di mana metafisika menjadi fisika saja sedikit rancu dan
hampir tidak berguna mempermasalahkan batasan itu. Namun kita dapat membuat suatu cakupan inti
metafisika, supaya penelitian kita lebih terfokus.
Cenderung
metafisika membahas hal-hal terkait keberadaan, waktu, ruang, identitas,
substansi, sifat, dan lain sebagainya yang terkait. Namun metafisika juga
menjadi dasar dari beberapa cabang ilmu filsafat lainnya seperti etika dan
epistemologi, tapi terutama epistemologi. Jadi lebih baik mendefinisikan
metafisika dengan pengertian paling sederhananya, yaitu ilmu yang mempelajari
prinsip-prinsip paling dasar dari kenyataan yang mengatasi segala prinsip lain.
Jadi
seharusnya metafisika bahkan lebih mendasar dari fisika atau fisika kuantum
sekalipun, tapi kenapa nama ilmu ini tidak pernah diajarkan di SMP atau SMA?
Mungkin saja masih banyak orang dewasa yang juga tidak begitu mengenal istilah
ini, pernah mendengar tapi tidak begitu mengerti. Tidak pernah pula diberitakan
tentang penemuan metafisika yang hebat atau apapun, atau penjabaran metafisika
sebagai ilmu tentang dasar kenyataan. Gelar itu justru dinobatkan pada fisika. Jadi
apakah ada yang salah?
Sama
seperti filsafat yang kesannya sudah dilupakan, metafisika juga sudah
dilupakan. Lagipula metafisika adalah wajah pertama dari filsafat, dan bagiku
filsafat bergantung pada metafisika. Namun tidak mungkin metafisika seutuhnya terlupakan,
karena segala hal didasari oleh metafisika, yang dalam konteks ini adalah
serangkai asumsi dasar mengenai kenyataan yang diyakini dalam hidup. Jadi lebih
tepat mengatakan bahwa metafisika bukannya dilupakan tapi dianggap tugasnya
sudah selesai.
Maka
ada dua jenis metafisika yang peranannya sedikit berbeda, yaitu metafisika
sebagai ilmu dan metafisika sebagai dialog. Sebagai ilmu, metafisika sudah
selesai karena ada beberapa teori dan asumsi metafisika yang diambil sebagai
teori dan asumsi resmi yang “tidak resmi” dari segala ilmu, yaitu metafisika
empiris. Namun metafisika sebagai dialog mati, karena tidak ada lagi dialog
atau perbincangan untuk terus memperbaharui metafisika, karena orang mengira
metafisika itu sudah selesai.
Maka
aku rasa tetap pantas untuk menyatakan bahwa metafisika, bersama filsafat,
telah lenyap dari mata publik, dan hanya ada dalam lingkaran-lingkaran khusus
di universitas. Pertanyaan tentang apa itu kenyataan dan apakah kenyataan
sungguh ada mungkin akan dianggap bodoh atau suatu hal yang tidak dianggap
begitu serius. Bahkan mempertanyakan sejauh itu dianggap sedang mengalami
krisis eksistensial atau sebagainya, padahal ini adalah awal dari kebijaksanaan
yang lebih.
Lalu
apa itu metafisika empirisme yang akhirnya “membunuh” seluruh metafisika lain
dan secara efektif mematikan dialog tentang metafisika? Ada beberapa prinsip
yang dapat kita simpulkan, yaitu bahwa kenyataan dipastikan ada, kenyataan
bersifat materi, kenyataan tidak tergantung pengamatan, dan pengamatan inderawi
adalah sumber tunggal pengetahuan yang benar. Prinsip-prinsip ini kita pegang
dan yakini seumur hidup tanpa sadar, dan sekarang kita terima begitu saja.
Jadi,
fungsi bab ini adalah untuk menganalisis prinsip-prinsip metafisik itu kembali,
dan sekaligus menggugat kedudukan empirisme dalam metafisika. Memangnya kenapa
menggugat empirisme itu penting dan kita tidak masuk dalam metafisika saja?
Sederhana, karena kita ingin membuat metafisika yang baru kita harus
membuktikan bahwa metafisika yang baru memang dibutuhkan. Untuk itu kita harus
membuktikan bahwa paham yang lama, yaitu empirisme, tidak memadai dalam
penyusunan metafisika yang benar.
Maka
tidak ada gunanya berlarut dalam pendahuluan, sebab metafisika yang lama kita
buang dan kita mulai dari awal. Sehingga secara efektif kita tidak mengenal
apa-apa tentang metafisika, kecuali tujuannya, yaitu mengetahui dasar-dasar
kenyataan. Untuk itu kita akan menelaah metafisika yang berlaku saat ini yaitu
empirisme, dan membedahnya secara substansial, membuktikan bahwa empirisme
tidak cukup, baru memulai metafisika yang baru. Selamat membaca.
Empirisme
Gambaran Umum
Secara
garis besar telah dipaparkan tentang empirisme pada bab sebelumnya tapi demi
kejelasan filsafat akan dijelaskan kembali secara umum apa itu empirisme. Empirisme
berasal dari bahasa Yunani yaitu empeiria
yang artinya “pengalaman”. Dalam konteks modern maksudnya adalah pengalaman
inderawi. Pada bab pengakuan, dijelaskan bahwa empirisme adalah pandangan bahwa
sumber pengetahuan yang benar hanyalah panca indera, dan itu memang benar.
Namun
gaya bahasa pada bab sebelumnya dapat membuat salah paham, jadi akan diperjelas
apa maksud dari pernyataan itu. Jadi, empirisme adalah suatu pandangan
epistemologis dan bukan metafisik, meski juga bersinggungan dengan metafisika. Empirisme
membahas hal-hal mendasar tentang apa itu kebenaran, dan bukan apa itu
kenyataan. Kedua hal ini terlihat mirip, tapi perbedaan filsafatnya sangat
signifikan. Sejauh apakah perbedaan itu?
Kalau
kita membicarakan kenyataan, kita secara langsung mencari tahu tentang apa itu
kenyataan tanpa mempermasalahkan batasan-batasan pengetahuan. Sementara itu,
kebenaran lebih tentang apa yang dapat kita ketahui tentang kenyataan dan
bagaimana mengetahui kenyataan secara benar. Dan antara 2 hal ini ada hubungan
yang cukup menarik. Di satu sisi kenyataan jelas lebih mendasar dari kebenaran,
tapi kalau dari pemahaman manusia kebenaran lebih penting daripada kenyataan
itu sendiri.
Sebab
mengenal kebenaran dan apa itu kebenaran menjadi panduan kita untuk mengetahui
apa itu kenyataan. Pemahaman kita akan kebenaran secara langsung mempengaruhi
pemahaman kita akan kenyataan. Maka tentu saja kalau kita memiliki anggapan
yang salah tentang kebenaran, segala hal lainnya akan ikut salah. Walau tidak
akan ada yang seutuhnya salah atau benar, pasti ada sisi lainnya. Dan empirisme
mempermasalahkan kebenaran terutama, atau cara mengetahui yang benar tentang
kenyataan.
Maka
patutnya kita sedikit mendalami tentang empirisme itu sendiri. Hal yang
dimaksud oleh empirisme adalah kita hanya bisa mengetahui kenyataan secara
tepat melalui panca indera kita. Misalnya suatu bintang, bintang itu hanya bisa
kita ketahui secara tepat keberadaannya kalau telah diamati dengan panca
indera. Namun empirisme tidak menyatakan bahwa kenyataan ditentukan oleh panca
indera, itu adalah pernyataan yang salah dan kita tidak ingin menyerang argumen
yang salah. Maka bintang yang belum diamati bukannya tidak ada, tapi
keberadaannya tidak pasti atau tidak dapat ditentukan.
Meski
empirisme terutama mempersoalkan apa yang dapat kita ketahui tentang dunia,
secara langsung ini turut mempengaruhi dan membentuk pandangan metafisika
menurut empirisme. Bahwa hal-hal yang tidak dapat diindera, dalam istilah
ilmiah tidak dapat difalsifikasi atau lebih tepatnya diverifikasi adalah tidak
benar atau tidak layak diperbincangkan atau bahkan tidak nyata. Walau banyak
ilmuwan yang lebih memilih mengatakan bahwa itu bukan dalam lingkup kerjanya
dan itu memang benar. Tapi tetap saja ada beberapa kelompok yang menerapkan
empirisme metafisik.
Maka
sejauh ini kita sudah memiliki suatu gambaran umum tentang apa itu empirisme.
Empirisme adalah pandangan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah panca
indera dan tidak yang lain. Ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kenyataan
ditentukan oleh pengamatan panca indera. Secara langsung empirisme juga
mempengaruhi pandangan metafisik dengan menyatakan bahwa apa yang tidak dapat
diindera tidak benar. Walau ada perbedaan tafsiran terhadap hal tersebut.
Berikutnya
adalah untuk membedah empirisme dan menguak beberapa masalah penting yang
timbul karena empirisme. Bagian ini menjadi penting karena pada akhirnya tujuan
kita adalah menyusun metafisika yang baru dan sekaligus kebenaran yang baru.
Untuk itu kita harus membuktikan mengapa standar yang berlaku harus digantikan
atau mengapa suatu metafisika yang baru diperlukan. Dan dari awal, sudah ada
beberapa masalah yang terlihat, bahkan dari batasan-batasan empirisme.
Bagian 1-Pembatasan Indera
Bagian
ini akan fokus pada bagaimana empirisme dibatasi dan di manakah batasan
empirisme itu. Yaitu sampai titik apa suatu pengetahuan atau hal layak
dikategorikan sebagai empiris, atau sejauh apakah empirisme menerima
pengetahuan? Dalam hal ini kita kembali pada definisi empirisme, yaitu
pandangan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah panca indera manusia.
Dari
situ cukup jelas apa yang dimaksud dengan panca indera, yaitu indera
penglihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran, dan perabaan. Setidaknya itu
yang kita kira, sebab sebenarnya tidak ada syarat “panca” yaitu lima indera
yang diperbolehkan. Satu-satunya kriteria dalam empirisme adalah pengetahuan
yang kita terima diperoleh dari indera,
bukan panca indera. Sebab nyatanya manusia memiliki lebih dari 5 indera, misal
indera keseimbangan, indera ruang atau propriosepsi, dan lainnya.
Di
samping penginderaan, ada satu syarat lagi dari empirisme yang harus dipahami supaya
kita tidak menyerang argumen yang salah. Bahwa penginderaan harus dilakukan secara
kolektif oleh setiap pengindera atau pengamat. Logika dari ini cukup unik,
bahwa karena kenyataan sepatutnya tidak terikat pada penginderaan, maka kalau
suatu hal sungguh nyata dan benar, pasti dapat diindera setiap orang.
Tentu
saja kecuali orang itu memiliki kerusakaan pada inderanya yang juga dapat
diindera oleh orang lain kerusakannya. Maksudnya adalah mereka yang cacat
secara inderawi sehingga mereka tidak mampu mengindera sebaik mereka yang
inderanya tidak cacat. Maka kalau suatu hal sungguh nyata dan benar, harusnya
bisa diindera oleh mereka yang inderanya masih sehat dan mampu menangkap
informasi tentang kenyataan secara baik. Lalu bagaimana kalau suatu hal
diindera oleh seorang tapi tidak oleh yang lain?
Tergantung,
tapi ada beberapa hal yang harus diingat. Dalam empirisme, penginderaan tetap
di bawah kenyataan, jadi fungsi penginderaan untuk menemukan dan bukan
menentukan kenyataan. Maka apa yang terjadi saat ada orang yang mengindera hal
yang berbeda dari yang lain? Bisa saja dia sungguh mengindera hal itu, tapi
karena sangat langka maka tidak bisa diverifikasi ulang. Atau bisa pula dia
berhalusinasi dan ini yang seringkali terjadi. Proses halusinasi ini juga bisa
diindera, seperti cacat inderawi yang terjadi pada beberapa orang.
Penginderaan
palsu, yaitu saat ada penginderaan tapi tidak ada kenyataan yang sesungguhnya
biasanya terjadi karena gangguan pada indera dan juga otak. Hal ini dapat
diverifikasi oleh orang-orang lain yang otak dan inderanya sehat, kalau tidak
ada objek yang diindera, maka yang harus diperhatikan adalah orang yang
mengindera hal yang tidak nyata. Jadi dapat dikatakan penginderaan palsu adalah
semacam cacat inderawi pula, atau lebih tepatnya gangguan pada indera.
Jadi
empirisme yang lengkap pastinya adalah penginderaan melalui indera yang sehat
dan tidak terganggu, dan dapat diverifikasi oleh penginderaan lainnya. Atau
secara analogis, melalui sekelompok kamera yang tidak rusak atau terganggu. Dan
dari sini kita mulai mengarah pada pembatasan berikutnya, yaitu antara yang
tidak bisa diindera sama sekali dan yang belum bisa diindera karena
keterbatasan manusiawi dan juga keterbatasan teknologis. Dua hal ini sering
disalahpahami kaum empiris sekalipun, tapi sangat berbeda.
Sesungguhnya
empirisme hanya menentang kebenaran hal-hal yang tidak bisa diindera sama
sekali. Maka pernyataan iman yang juga menentang indera atau secara eksplisit
mengaku tidak bisa diindera akan langsung ditolak empirisme. Masalahnya tidak
semua hal yang tidak bisa kita indera adalah hal-hal seperti itu, yang memang
menurut pemeluknya tidak bisa diindera sama sekali. Terkadang ada yang meyakini
akan hal-hal yang belum dapat diindera, tapi ditulis sebagai hal yang tidak
bisa diindera sama sekali.
Inilah
yang terjadi dengan dunia gaib atau dunia spiritual. Banyak yang berteori
tentang pengaruh makhluk halus pada dunia kita, dan banyak pula pengakuan bahwa
mereka memiliki efek yang empiris terhadap kita. Kalau begitu, seharusnya efek-efek
empiris ini yang diteliti dan dipahami lebih dalam. Dasar-dasar dari pemahaman
spiritual layaknya digali lagi dan diteliti secara tegas. Walaupun banyak
penelitian sudah menyatakan bahwa kejadian-kejadian ini hanya kejadian alami
yang kurang dipahami atau disalah tafsirkan.
Lalu
bagaimana kita bisa membedakan antara hal yang belum dapat diindera dan sudah
melampaui penginderaan? Sederhana, melalui dasar-dasar dari hipotesis-hipotesis
itu. Setiap hipotesis pastinya memiliki dasar yang entah empiris atau tidak
empiris sama sekali. Misalnya teologi ala Thomas Aquinas, yang secara eksplisit
mengatakan bahwa pengetahuan ini berasal dari Allah, tepatnya dari Injil. Hal
itu dapat langsung dibantah oleh empirisme bahwa pengetahuan itu tidak dapat diverifikasi
indera.
Hal
yang menarik adalah saat suatu hipotesis dilandaskan oleh alasan-alasan
empiris, bahwa suatu entitas yang selama ini tidak dapat diindera memiliki
pengaruh-pengaruh yang dapat diindera. Dengan mempelajari pengaruh tersebut
harusnya kita dapat menentukan kebenaran dari hipotesis itu. Dalam fisika dan
astronomi, ada yang dinamakan dengan dark
matter atau materi gelap. Materi ini dihipotesiskan sebagai penyebab dari
anomali gravitasi yang ada di galaksi-galaksi besar. Dan hanya itulah bukti
dari keberadaan materi gelap, sejauh ini. Sebab materi gelap tidak berinteraksi
sama sekali dengan cahaya.
Bagaimana
dengan hal-hal yang berbau spiritual? Sama saja, kalau ternyata hal-hal
spiritual tersebut memiliki pengaruh empiris yang tidak dapat dijelaskan dengan
ilmu apapun, maka itu dapat menjadi pembuktian akan keberadaan spiritual. Jadi
lebih tepatnya bukan antara hal yang tidak dapat diindera sama sekali dan yang
belum dapat diindera. Melainkan yang dapat diindera hanya melalui pengaruhnya dan
yang sungguh tidak ada dan hanya pengaruh dari gangguan inderawi.
Ini
adalah yang terjadi dengan materi gelap, memang tidak bisa kita deteksi secara
langsung, tapi melalui pengaruhnya pada dunia yang notabene empiris kita
menerka bahwa ada materi semacam itu. Atau dengan lubang hitam, atau tepatnya
singularitas dari lubang hitam juga tidak bisa diamati secara langsung, tapi
piringan akresi dan event horizon
dari lubang hitam dapat diamati. Meski ini berbeda dari materi gelap karena
piringan akresi dan horizon peristiwa memang bagian dari struktur lubang hitam.
Dan
itulah seluruh persyaratan akan kebenaran dari empirisme, atau setidaknya
kebenaran suatu hal secara keberadaan (dan bukan sebagai hukum). Bahwa pertama
suatu hal harus dapat diindera oleh setiap pengindera yang tidak terganggu atau
sehat dan kedua setidaknya ada pengaruh empiris yang jelas dari hal tersebut
supaya dapat dikategorikan sebagai empiris. Namun ada satu pertanyaan lagi, apa
yang dimaksud dengan indera?
Kalau
indera hanya dikategorikan sebagai panca indera, itu tentu tidak tepat. Jadi
apa yang dimaksud dengan indera? Kalau kita menyatakan indera sebagai segala
organ yang diakui secara ilmiah, lalu mengapa organ-organ itu dikatakan sebagai
indera? Kalau kita mendefinisikan indera sebagai suatu organ atau metode
persepsi yang menimbulkan persepsi terhadap kenyataan. Atau suatu organ yang
memberikan kita informasi tentang kenyataan, kenyataan macam apa yang termasuk?
Sebab
saat kita berpikir dan kita menyadari pikiran kita bukannya itu termasuk hal
yang nyata? Maka ada pula yang menyatakan bahwa indera adalah organ yang
memberikan informasi mengenai kenyataan eksternal atau bagaimana badan menerima
stimulus eksternal. Itulah alasan hal-hal yang terkait pikiran jarang dianggap
oleh empirisme, sebab pikiran melihat ke dalam dan bukan ke luar. Namun ini
akan sangat mengubah pemahaman empirisme atau definisinya, dan tidak lagi
tentang empirisme yang keras tapi empirisme yang halus.
Kalau
indera didefinisikan sebagai alat atau organ yang memberikan informasi tentang
kenyataan eksternal, itu berarti empirisme bukannya menolak hal-hal di luar
indera, dan bukan pandangan yang menyatakan bahwa sumber pengetahuan yang benar
hanyalah indera. Namun empirisme hanyalah suatu metode pencarian kebenaran
melalui indera, tapi tidak menolak atau membuat pernyataan apapun tentang
keberadaan di luar indera. Ini adalah posisi yang diambil banyak ilmuwan,
mereka hanya meneliti hal-hal empiris, tapi tidak menolak atau mengakui
keberadaan non-empiris karena itu bukan tugas mereka.
Hanya
saja kita tahu tidak semua ilmuwan mengambil posisi agnostik rasionalis seperti
itu. Ada ilmuwan-ilmuwan yang berani untuk menentang keberadaan rasionalis, dan
mencoba menggunakan empirisme sebagai dasar mereka. Dan hegemoni empirisme
datang dari mereka yang menentang keberadaan rasionalis ini, bukan dari mereka
yang diam dan lebih memilih tidak berkata apa-apa tentang rasionalisme. Jadi
kembali pada pandangan bahwa sumber pengetahuan yang benar hanyalah indera,
lalu apa itu indera?
Dan
di sini kita menemui suatu jalan buntu karena suatu upaya untuk mendefinisikan
indera akan menjadi definisi yang melingkar. Mencoba menetapkan indera secara
empiris akan menghasilkan argumen sebagai berikut. Karena dalam empirisme,
hanya indera yang dapat dipercaya, maka hanya pengetahuan tentang indera yang
berdasarkan indera dapat dipercaya. Dari mana kita mengetahui tentang indera?
Dari indera pula. Ini akan terjadi begitu seterusnya tanpa henti.
Atau
kita bisa sedikit bermain kata dan pengertian, kalau indera adalah hal yang
dapat memberikan kita pengetahuan akan kenyataan, bukannya pikiran juga
termasuk? Sebab kita dapat menyadari akan pikiran kita sendiri, dan berbicara
tentang hal itu. Ataupun perasaan-perasaan sedih, gembira, sengsara, bahagia,
lapar, puas, dan lainnya. Kalau seperti itu, empirisme sudah mendukung kita
sejak lama, tapi kita tahu itu tidak benar. Permainan teori mungkin berkata
seperti itu, tapi penerapannya jelas tidak seperti itu.
Dan
itulah masalah pertama dari empirisme, bahwa batasan akan indera sangat tidak
jelas. Ya aku harus mengakui bahwa saat masalah ini tidak dipikirkan dan kita
menerimanya dengan iman, semuanya berjalan lancar. Lagipula banyak penemuan dan
pengetahuan ilmiah yang kita tahu tentang dunia, adalah hasil dari empirisme
ini, ya sebenarnya juga dipengaruhi oleh konstruksi sosial dalam matematika
tapi intinya seperti itu.
Sejujurnya,
ini juga pandangan yang nyaman dan tidak begitu merepotkan, semuanya terlihat
jelas dan tertata rapi. Kita tinggal menyatakan satu kategori sebagai “tidak
nyata”, dan kategori lainnya sebagai “nyata”. Lalu kita mengabaikan yang “tidak
nyata” dan kita mengabdikan diri pada yang “nyata”. Hasilnya adalah kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu hebat, tapi nyaris tidak ada upaya
untuk meneliti yang “tidak nyata” itu. Etika terlupakan, dan jiwa
ditelantarkan.
Bagi
beberapa orang, itu tidak bermasalah, tapi bagi seluruh dunia ini sudah menjadi
masalah. Dan memang benar, di akar empirisme saja konsep paling penting dari
empirisme tidak jelas batasnya. Maka empirisme yang terjadi sebenarnya seperti
ini, “Apa yang ada adalah yang di luar pikiran, yang di dalam pikiran tidak
ada.” Atau, kalau tidak bisa dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dikecap,
maka tidak ada. Atau, kalau hanya dalam pikiran, tidak penting untuk
dibicarakan. Bagian berikutnya dari empirisme akan lebih fatal.
Bagian 2-Kesadaran Luar Indera
Melanjutkan
dari kesimpulan sebelumnya, empirisme jelas bermasalah karena apa yang dimaksud
dengan indera tidak jelas. Dan terdapatnya dua golongan empirisme, yaitu
empirisme agnostik dan empirisme keras tidak membantu keadaan. Empirisme
agnostik yang tidak membuat pernyataan tentang objek di luar indera, dan empirisme
keras yang menentang objek di luar indera. Hal ini cukup bermasalah pada
pemahaman awal kita tentang empirisme, bahwa empirisme tidak percaya bahwa
kenyataan tidak ditentukan penginderaan.
Kalau
memang empirisme hanya bersifat epistemologis, artinya kita hanya mampu
mengetahui yang diindera, atau pengetahuan yang benar hanya dari indera, itu
bukan berarti tidak ada kenyataan di luar indera. Kita hanya mengakui bahwa ada
kenyataan yang dapat diindera dan tidak dapat diindera. Artinya sama, kita hanya
dapat mengetahui apa yang kita indera, apa yang di luar indera bisa saja ada
bisa saja tidak, tapi tidak bisa kita tentukan atau ketahui.
Itu
sama dengan empirisme agnostik, yang sebenarnya adalah empirisme teoritis dan
idealis. Namun banyak yang menjadi empirisme keras, dan pernyataan mereka
bukannya kita hanya bisa mengetahui melalui indera, tapi hanya hal-hal yang
dapat diindera yang ada. Ini berarti segala hal di luar indera dinyatakan
sebagai tidak ada. Solusi terhadap permasalahan ini sederhana, yaitu memberikan
contoh pengetahuan di luar indera sama sekali, atau pengalaman di luar indera.
Kalau
kita adalah manusia yang sungguh hidup dan sadar harusnya setiap hari kita
melakukan penyadaran luar indera. Saat kita merasakan suatu emosi atau perasaan,
itu tentunya hal yang berasal dari dalam diri sendiri dan tidak termasuk apa
yang kita kategorikan sebagai indera. Ataupula saat kita berpikir tentang
pikiran kita, atau kita menyadari apa yang kita pikirkan, itu bukan termasuk
penginderaan. Atau segala persepsi yang kita terima, terlihatnya sebagai
penginderaan tapi sesungguhnya bukan penginderaan.
Dalam
penginderaan ada dua unsur sebenarnya, unsur subjektif dan unsur objektif. Penginderaan
objektif adalah proses penginderaan secara mekanis, misal penerimaan
foton-foton melalui bola mata. Penginderaan yang dimaksud oleh empirisme keras
adalah penginderaan mekanis ini. Objektif maksudnya merujuk pada mekanik atau
objek penginderaan, yaitu organ indera dan penerimaan informasi inderawi.
Lalu
ada penginderaan subjektif, yang dimaksud adalah segala persepsi kita secara
riil, yaitu bagaimana rasanya untuk melihat, rasanya untuk meraba, rasanya
untuk mendengar, atau perasaan sedih, perasaan senang, penyadaran rasional, dan
segala hal lain yang berhubungan dengan rasa.
Subjektif karena ini adalah penginderaan menurut kita, dan bagaimana kenyataan
nampak pada kita. Subjektif pula karena kita tidak bisa mengetahui bagaimana
kenyataan terlihat melalui perspektif orang lain, bisa saja sama, bisa saja
berbeda.
Suatu
eksperimen pikiran yang cukup terkenal terkait hal ini adalah tentang warna.
Misalkan warna merah, kita tahu bahwa warna merah memang ada. Suatu benda yang
terlihat merah misalnya darah. Namun sekalipun kita melabelinya merah, apakah
pasti persepsi subjektif orang lain tentang merah memang sama? Bisa saja,
merahku adalah hijaumu, dan hijaumu adalah merahku. Maka kalau warna yang
objektif adalah perbedaan panjang gelombang dan frekuensi cahaya, warna yang
subjektif, yang riil itu adalah rasa
akan perbedaan itu.
Dalam
filsafat, rasa seringkali disebut sebagai qualia,
yang menjadi dasar dari kata qualitative
atau kualitatif. Qualia ini sama
sekali tidak dapat diindera, karena dia bukan termasuk penginderaan objektif. Qualia selalu ada dari sudut pandang
pertama dan tidak bisa kita jabarkan dalam sudut pandang ketiga, yang kerap
kali diwajibkan dalam penelitian empiris. Masalahnya, qualia ini yang dilupakan dan karena ditelantarkan, masalah-masalah
karena qualia yang tidak beres meluap
ke dunia empiris.
Qualia
sesungguhnya menjadi esensi dari kesadaran manusia, apa yang dimaksud dengan
sadar adalah mampu merasa. Ini berbeda dengan komputasi atau kecerdasan, yang
seringkali disamakan dengan kesadaran oleh beberapa ilmuwan. Belakangan ini
mulai berkembang pemahaman bahwa kesadaran hanyalah produk dari kompleksitas
otak atau kompleksitas sistem. Maka yang salah adalah bukan kesadaran yang
merupakan produk dari kompleksitas, tapi komputasi yang merupakan produk dari
kompleksitas.
Perbedaan
antara komputasi dan kesadaran sangat jelas, komputasi dapat diindera dari
sudut pandang ketiga dan dapat dijelaskan secara empiris mekanikanya. Kalau
dalam komputer, itu berarti konsekuensi kompleks dari hukum-hukum fisika dasar
yang menyebabkan terjadinya pemrosesan informasi dan penyusunan ulang informasi
menjadi informasi yang baru atau berbeda. Sementara kesadaran tidak dapat
diindera dari sudut pandang ketiga dan tidak dapat dijelaskan secara empiris
mekanikanya.
Sebenarnya
beberapa ilmuwan menolak keberadaan dari qualia,
dan apapun alasan mereka tentunya tidak begitu berlogika. Dan tidak mengagetkan
pula bahwa mereka tentunya ateis pula. Sebab menerima keberadaan qualia adalah tahap pertama dari
pengetahuan akan Allah. Begitu penolakan qualia
terjadi, segala hal terkait etika, jiwa, dan Tuhan akan hilang dengan
sendirinya. Secara pribadi, ini cukup tidak masuk akal bagaimana seorang mampu
menolak qualia mereka sendiri?
Kecuali mereka tidak memiliki qualia,
mungkin bisa dimaklumkan. Tapi karena qualia
itu sifatnya subjektif, kita tidak akan pernah tahu.
Akhir
kata, empirisme cukup tidak masuk akal karena menolak qualia yang menjadi sumber dari penginderaan kita, tapi menerima
konsekuensi dari qualia itu sendiri
yaitu penginderaan. Sulit bagi kita untuk membantah lebih dalam karena ini
berkaitan dengan qualia yang memang
ada secara a priori, atau sejak awal.
Dan empirisme tidak memberikan banyak bukti atau alasan bahwa qualia memang tidak riil. Hanya penolakan yang tidak
berdasar saja. Mungkin setara dengan orang-orang delusional yang tidak melihat,
tapi mengaku melihat, atau melihat, tapi mengaku tidak melihat.
Bagian 3-Keabsahan Inderawi
Sebelumnya
kita menganalisis tentang hal-hal yang ditentang empirisme dan masalah-masalah
dari penentangan tersebut. Sekarang kita akan menuntaskan pembedahan kita
tentang empirisme, dan menggugat hal-hal yang diterima dan diakui empirisme
sebagai pengetahuan yang benar. Kita tahu bahwa dalam empirisme, sumber
pengetahuan yang benar hanyalah indera dan tidak yang lain. Apapun yang di luar
indera tidak layak dibicarakan atau bahkan tidak ada.
Namun
kita telah mengetahui pula bahwa ada dua jenis penginderaan, yaitu penginderaan
rasa atau subjektif dan penginderaan mekanis atau objektif. Pertanyaannya,
bagaimana kita dapat mengetahui tentang penginderaan objektif atau mekanis itu?
Tentunya melalui penginderaan pula, tapi saat kita meneliti syaraf-syaraf
okuler untuk menemukan penginderaan mekanis, apa yang kita gunakan? Mekanis
atau rasa? Jawaban yang tepat
harusnya rasa, karena alasan berikut.
Saat
kita melihat, bagaimana kita membentuk kesimpulan tentang apa yang dilihat?
Objek apa yang dijadikan sebagai analisis kita? Tentu saja ialah imaji-imaji
hasil penglihatan itu, dan bukan susunan foton abstrak yang sedemikian rupa.
Hal yang kita miliki bukanlah foton, melainkan pengalaman kita akan foton yang
tersusun sedemikian rupa hingga membentuk suatu gambar yang koheren. Maka
penginderaan yang sesungguhnya bukanlah penginderaan empiris karena itu tidak
yang paling riil, melainkan penginderaan rasionalis atau penginderaan rasa.
Dari
titik itu, sekarang jelas wujud nyata dari penginderaan yang didambakan oleh
empirisme, yaitu pengalaman rasa dan qualia
hanya dalam wujud yang berbeda. Sesungguhnya tidak ada bedanya antara qualia internal, yaitu emosi dan
penyadaran akan pikiran kita, dan qualia
eksternal yaitu yang timbul dari hal-hal di luar diri kita, misalnya rasa
makanan, sensasi panas atau dingin, penglihatan cahaya atau kegelapan atau
warna. Semuanya itu hanyalah qualia,
dari qualia itu kita mengetahui mekanika.
Jadi,
karena empirisme menentang qualia
atau meragukan hal-hal yang sulit diverifikasi secara inderawi, sekarang kita
lakukan yang sama pada indera. Asumsi empiris adalah hal-hal yang dapat
diindera pengaruhnya secara kolektif oleh setiap pengindera yang sehat dan
tidak terganggu ialah ada. Namun apa buktinya? Apa yang membuat seorang dapat
yakin bahwa penginderaan itu memang membuktikan keberadaan objek? Bukannya
penginderaan itu hanya qualia atau pengalaman rasa saja?
Misalkan
ada sebuah apel merah, dan kita melihat apel merah itu. Seorang empiris akan
berkata bahwa apel itu ada, tapi sekarang kita bertanya, apa alasan apel itu
ada? Mengapa apel itu ada karena kita menginderanya? Sesungguhnya tidak tepat
untuk berkata seperti itu, karena itu adalah lompatan logika dari kenyataan
sebenarnya. Hal yang harusnya diakui adalah kita melihat apel merah, dan bukan
apel merah itu ada. Mungkin kita bisa berhipotesis bahwa apel merah itu ada,
tapi tidak mengetahui keberadaan apel merah.
Bagaimana
kalau orang lain turut mengindera apel itu dan mengakui keberadaan apel merah
itu? Sama saja, yang kita punya hanyalah penginderaan kita akan orang lain dan
juga apel merah, jadi tidak patut kita klaim pengetahuan akan keberadaan apapun
selain penginderaan kita terhadap orang lain dan apel merah. Andaikan orang
lain memang ada, kita hanya tahu penginderaan kita dan kita tidak tahu apakah
orang lain memiliki penginderaan rasa pula atau hanya penginderaan mekanis.
Dengan
itu, indera manusia dan keabsahannya dalam menentukan kebenaran dapat
dipertanyakan dan diragukan. Lagipula yang kita miliki hanyalah penginderaan
subjektif dan itu sama dengan qualia.
Sebenarnya maksud dari bantahan ini bukan menolak penginderaan, tapi untuk
mempertanyakan paradigma empirisme keras yang terlalu mendewakan penginderaan. Logika
dari empirisme sangat tidak konsisten pada akarnya, terlepas dari
konsistensinya di atas permukaan. Dan empirisme bergantung pada sifat tidak
konsisten tersebut.
Saat
kita berusaha konsisten dalam pemikiran kita, yaitu tentang apa itu
penginderaan dan penyadaran, hasilnya penginderaan pun tidak dapat dipercaya. Karena
yang kita miliki hanya penginderaan subjektif dari kenyataan, dan penginderaan
orang lain pun tidak kita ketahui ataupun miliki. Kalau mengambil arah yang
lain, harusnya seluruh qualia
diterima secara ilmiah, dan memangnya menerima pengetahuan luar panca indera
selalu sama dengan percaya secara buta?
Cukup
mungkin dan bahkan terbukti untuk mengorganisir dan merapikan suatu pengetahuan
luar inderawi. Teologi Gereja Katolik, atau teologi Thomas Aquinas adalah
contoh dari penerapan metode ilmiah pada hal-hal yang berbau supernatural.
Tidak semua pengetahuan dari Injil diterima begitu saja, tapi dianalisis secara
keras supaya tidak salah tafsir. Kisah penciptaan pun diakui oleh Gereja
sebagai hal yang bersifat kias dan bukan harafiah. Jadi mengapa empirisme terus
bersikeras menentang qualia atau
hal-hal yang tidak diindera melainkan dipikirkan saja?
Terkesannya
kita bermain dengan either/or fallacy,
yaitu berusaha memperlihatkan semuanya sebagai dua pilihan saja, terima
semuanya atau tolak semuanya. Tapi kenyataannya memang ini adalah suatu zero sum game, entah qualia kita terima atau qualia kita tolak. Tidak ada pembedaan
yang riil antara perasaan internal dan persepsi subjektif terhadap kenyataan
eksternal. Kalau kita ingin menolak perasaan internal sebagai mekanika
eksternal saja, bersiaplah sebagai manusia yang berpendirian untuk menolak
persepsi subjektif pula. Dan apapun arahnya, empirisme selalu kalah.
Kesimpulan
Dari
pembedahan terhadap akar-akar empirisme terbukti bahwa empirisme memiliki
beberapa masalah inti. Pertama, pembedaan antara apa yang layaknya dikatakan
sebagai indera dan bukan indera sangat rancu dan bahkan melingkar definisinya. Kedua,
empirisme menolak kesadaran internal dan subjektif yaitu qualia yang sebenarnya lebih mendasar dari kesadaran secara
“empiris” atau “mekanis”. Ketiga, saat pemahaman qualia diluruskan dan ditegaskan, penginderaan harus dipertanyakan
pula karena sesungguhnya bagian dari qualia.
Dengan
itu, ini membuktikan secara cukup bahwa empirisme tidak layak untuk mengetahui
seluruh kenyataan secara benar. Empirisme untuk apa yang diakuinya sangat
konsisten, skeptis, akurat, dan telah memberikan kita umat manusia banyak
sekali perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan secara empiris. Namun
selebihnya empirisme telah mengakibatkan mundurnya perkembangan etis dan
spiritual manusia, atau bahkan berpotensi membunuh hal itu.
Sebagai
perkataan terakhir sebelum memulai metafisika yang baru, aku ingin menegaskan
bahwa bantahan terhadap empirisme ini bukan berarti indera bukanlah sumber
pengetahuan yang benar. Bukan pula menyatakan segala penelitian empiris sebagai
salah, pada aspek yang mereka teliti tetaplah benar. Hal yang salah dari
empirisme adalah upaya menunggalkan sumber pengetahuan dan membuang segala yang
lain.
Maka
upaya pembangunan filsafat yang baru bukanlah penghancuran metode-metode
empiris, tapi pelengkapan dan pengembangan metode tersebut, hingga kita
mendapat suatu teori dan juga pengetahuan yang lengkap tentang kenyataan dan
akhirnya jati diri kita. Maka penelitian empiris tidak akan hilang, tapi akan
bekerja bersama penelitian rasional lainnya. Empirisme dan rasionalisme
harusnya bergabung dan bersatu menjadi satu teori kenyataan yang sungguh
berlaku terhadap seluruh kenyataan.
Oleh
sebab itu, demikianlah bantahanku terhadap empirisme, dan sekarang marilah kita
masuk ke dalam metafisika yang baru. Amin.
Keberadaan
Pendahuluan
Dalam
hal penentuan kenyataan, yang paling penting untuk ditentukan pertama kali
adalah keberadaan dari suatu kenyataan itu. Pengetahuan akan keberadaan dari
suatu objek adalah pengetahuan paling pertama dan paling mendasar dari segala
pengetahuan tentang objek itu. Memang tepat bahwa sifatnya secara umum juga
akan diketahui, tapi yang kita ketahui adalah keberadaan sifat-sifat itu dan
bukan apa sifat-sifat itu dan pengaruhnya terhadap wujud suatu objek.
Untuk
itu pembahasan mengenai kenyataan yang utuh akan dimulai dari keberadaannya
yang mendasar. Maka bagian ini gunanya adalah membahas secara utuh mekanika
keberadaan kenyataan dan sifat-sifat keberadaan yang sejati. Ini termasuk
keberadaan kenyataan secara absolut, syarat untuk berada, keabadian dari
keberadaan, dan apa yang dapat dianggap ada. Ini akan menjadi dasar dari segala
metafisika berikutnya, dan secara otomatis segala filsafat berikutnya. Dengan
itu baiklah kita awali dari keberadaan kenyataan yang absolut.
Bagian 1-Keberadaan Kenyataan
secara Absolut
Sebelum
menentukan sifat keberadaan apapun yang lain, kita harus menetapkan keberadaan
kenyataan itu secara absolut. Hal yang dimaksud dengan absolut adalah
keberadaan yang paling murni yang dapat kita ketahui. Maka bukan keberadaan
material jelas-jelas, tapi yang lebih mendasar dari itu. Bisa saja keberadaan
rasional, bisa saja keberadaan yang lain. Absolut juga berarti pada saat ini
juga, tanpa memperhatikan di masa lalu atau di masa depan atau
ketentuan-ketentuan lainnya. Maka pertanyaan yang akan kita jawab adalah, “Apakah kenyataan ada secara absolut?”
Menjawab
pertanyaan ini akan sulit karena nyatanya memang kita belum memiliki
pengetahuan apa-apa tentang kenyataan. Meski begitu kita dapat mencoba setiap
jawaban yang ada dan mengujinya. Dalam hal ini kita menguji jawabannya terhadap
dirinya sendiri, dan melihat apakah jawaban itu bertahan atau justru hancur
karena menentang dirinya sendiri. Andaikan seperti itu, maka pastilah jawaban
yang lain yang benar. Metode trial and
error seperti ini kesannya tidak efektif, tapi kita hanya memiliki 2
jawaban mungkin, yaitu ada dan tiada, jadi tidak akan membuang banyak waktu.
Jawaban
pertama adalah ada, bahwa secara absolut kenyataan memang ada. Hal ini biasanya
kita terima begitu saja tanpa mendalaminya tapi apa bukti dari pernyataan itu? Bahkan
rasanya itu diambil hanya secara aksiomatis, karena suatu “intuisi” yang
mengatakan bahwa keberadaan kenyataan benar adanya. Mungkin saja jawaban ini
benar tapi pada titik ini kita tidak memiliki cukup bukti untuk membuktikan
atau membenarkan kebenarannya. Karena itu kita berpindah dulu menuju jawaban
yang berikutnya.
Jawaban
kedua adalah tiada, bahwa secara absolut kenyataan tidak ada. Hal ini juga kita
tentang begitu saja secara intuitif, karena sekilas saja sudah sangat absurd
dan tidak masuk akal. Mungkin hal itu memang benar ketiadaan kenyataan adalah
absurd, tapi kalau kita tidak memahami alasan hal itu absurd, tidak ada
gunanya. Jadi ada baiknya kita mencoba menelaah jawaban ini secara lebih
teliti.
Alasan
kita dapat menentang keberadaan kenyataan adalah faktanya kita tidak memahami
apa itu keberadaan ataupun kenyataan. Pengamatan inderawi atau empiris juga
kerap kali tidak bisa dipercaya dan yang kita punya hanyalah pengamatannya,
bukan objeknya. Bisa saja segala ini hanyalah ilusi ataupun mimpi seorang tua. Pada
akarnya, kita tidak bisa percaya akan apapun dan tidak ada yang kita bisa
yakini, dan itulah mengapa muncul jawaban bahwa kenyataan sebenarnya tidak ada.
Dari
itu kita dapat membuat satu pernyataan yang konklusif tentang kenyataan, “Kenyataan tidak ada”. Masalahnya saat
kita membuat pernyataan itu, kita telah membuat
suatu kenyataan, yang merupakan
pernyataan tersebut. Oleh sebab itu, dengan menyatakan ketiadaan kenyataan kita
telah menyalahi pernyataan itu sendiri. Kalau seandainya kita ingin sungguh
menolak kenyataan dan membuktikan ketiadaan kenyataan, harusnya kita tidak
berpikir sama sekali. Namun itu juga berarti kita tidak pernah mengetahui atau
menginginkan untuk mengetahui tentang kenyataan yang sejati.
Itu
adalah alternatif pertama, dan bukan alternatif yang menyenangkan karena
artinya tidak ada pengetahuan sama sekali dan seharusnya kita tidak pernah
menapaki jalan ini. Alternatif kedua adalah kita menolak saja penolakan itu. Penolakan
ini sifatnya hanya aksiomatis dan tidak lebih baik dari jawaban pertama tentang
keberadaan kenyataan, atau kalau mau lebih baik kita harus menolak penolakan
terhadap penolakan, lalu menolak penolakan terhadap penolakan terhadap
penolakan. Ini tidak akan selesai sampai akhir zaman.
Alternatif
ketiga adalah kita menerima keberadaan kenyataan secara absolut setelah menolak
keberadaan kenyataan. Ini adalah yang paling rasional dan logis, karena
sesungguhnya sekalipun kita menolak segala sensasi lain, kita harus menerima
bahwa kita memang sedang menolak. Kalau kita tidak menerima, maka artinya kita
tidak pernah menolak di tempat pertama. Karena itu harus ditetapkan dan
diterima bahwa jawaban pertama ialah benar apapun hasilnya, bahwa keberadaan
kenyataan memang benar.
Dengan
penjabaran tersebut dapat disimpulkan secara pasti bahwa kenyataan memang ada. Terjawablah
pertanyaan pertama dengan jawaban sebagai berikut, “Kenyataan ada secara absolut”. Sebab sekalipun kita menolak
kenyataan, kita tidak dapat terus menerus menolak penolakan yang terjadi, atau
kita tidak mendapat kebenaran apapun tentang kenyataan. Dengan itu selesailah
pertanyaan pertama tentang keberadaan kenyataan, dan baiknya kita langsung
bergerak menuju permasalahan berikutnya.
Bagian 2-Pengetahuan akan
Keberadaan yang Ada secara Absolut
Dari
bagian pertama kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa kenyataan ada secara
absolut, dan ini tidak terbantahkan apapun jawaban kita. Namun jelas saja ada
yang kita lompati secara intuitif, yaitu kenapa kita dapat menyimpulkan
keberadaan. Kesannya memang sudah jelas, kita menolak, terjadilah penolakan. Lalu
itu yang menjadi alasan kita untuk menerima keberadaan absolut, tapi pada saat
yang sama kita dalam kondisi mampu melihat, mampu mengindera, kenapa tidak kita
terima saja hal tersebut?
Kita
bisa saja menolak penolakan itu, dan menyatakan sebagai aksioma dan pernyataan
tunggal filsafat, karena kita sama-sama menolak suatu pengalaman rasa. Bedanya
yang satu adalah pengalaman rasional yang satu adalah pengalaman empiris. Sebenarnya
tidak setara, sebab untuk menolak yang empiris kita tinggal mematikan segala
indera kita, lalu mencolokkan otak ke komputer tanpa indera. Namun menolak yang
rasional artinya membunuh diri kita sendiri secara penuh karena menghilangkan
pikiran.
Lagipula
kita juga tidak menentang yang empiris saja, yang rasional pun juga ditentang.
Hanya saja penentangan itu menyisakan satu hal yang rasional, yaitu penentangan
itu sendiri. Maka yang dimaksud adalah segala hal ini kita akui secara sadar,
dan kita lakukan secara sadar. Itulah kenapa kita dapat menyadari setiap hal
yang terjadi dan akhirnya menyadari penolakan ini. Jadi alasan kita mengetahui
tentang keberadaan dan dapat menyimpulkannya adalah kesadaran, itu saja.
Tahap
pertama memang adalah kita menentang segala objek yang kita sadari sebagai
objek kesadaran saja (hanya subjektif tidak objektif), lalu kita menentang
keberadaan objek kesadaran itu pula (lagipula bisa dimanipulasi). Sampai
akhirnya kita menerima penolakan yang terjadi sebagai bukti keberadaan. Dari
situ terlihat jelas terdapat suatu asumsi metafisik yang tak tertulis sejak
awal, yaitu keberadaan ialah apa yang dapat disadari. Aku tidak menuliskan hal
itu di awal karena sesungguhnya kita masih tidak mengetahui apa-apa secara
pasti.
Akan
tetapi sekarang kita telah mengetahui dan kita dapat mengetahui lebih lanjut
dari apa yang telah dikerjakan. Dan dari pekerjaan itu nyatalah bahwa kita
mengetahui akan keberadaan absolut dari kesadaran kita. Kesadaran yang lebih
tepatnya adalah rasa dalam kesadaran, dan bukan aspek komputasional atau
sensorisnya. Komputasi dan sensor terdapat dalam mesin, tapi rasa tidak
terdapat dalam mesin. Sesungguhnya ini mengafirmasi pengalaman inderawi tapi
juga pengalaman pikiran sebagai sumber pengetahuan yang sama sahnya.
Oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa sumber pengetahuan yang sah adalah kesadaran
kita, terlebih rasa yang kita miliki. Suatu mesin dapat mendeduksi hal yang
sama tapi kita tidak akan mengetahuinya karena rasa kita tidak ada dalam mesin.
Hal ini penting karena ini menetapkan kesadaran sebagai sumber segala filsafat
berikutnya, tapi terlebih kesadaran rasional dan bukan empiris. Maka itulah
asal-usul pengetahuan akan keberadaan yang absolut.
Bagian 3-Keberadaan di Luar
Kesadaran
Sebelumnya
kita telah mengetahui bahwa sumber pengetahuan akan keberadaan adalah
kesadaran. Dalam kata lain, apa yang disadari adalah apa yang ada. Sementara
itu ini dapat mengarah pada paham bahwa tiada keberadaan di luar kesadaran,
artinya hal-hal yang tidak kita sadari ialah tiada, dan saat kita tidak sadar,
dunia tidak ada. Maka adalah konsep tiada keberadaan di luar kesadaran. Untuk
itu kita akan menentukan apakah hal itu benar atau salah, apakah benar-benar
tiada keberadaan di luar kesadaran atau hanya tiada pengetahuan di luar
kesadaran.
Ada
3 jawaban yang mungkin, pertama tiada keberadaan di luar kesadaran, kedua ada
keberadaan di luar kesadaran, dan ketiga tiada kepastian keberadaan di luar
kesadaran. Mengakui ketidakyakinan adalah jalur yang aman tapi tidak efektif
dan tidak kita inginkan dalam filsafat. Karena itu sama saja dengan mengatakan,
aku tidak tahu, dan bukan jawaban
yang sesungguhnya. Untuk itu hanya akan dibahas jawaban pertama dan kedua,
dimulai dari yang kedua.
Andaikan
ada keberadaan di luar kesadaran, bagaimana mungkin kita dapat mengetahuinya
dan menyatakannya? Kalau kita membayangkan, “Objek yang di luar kesadaran saat ini”, tetap saja objek itu ada
dalam kesadaran kita, sebab kita sedang memikirkan objek itu. Apapun yang kita
lakukan, pastilah suatu objek itu akan menjadi di dalam kesadaran dan hanya
mengafirmasi supremasi keberadaan. Karena itu kita belum memiliki cukup bukti
untuk memegang jawaban ini.
Kalau
tiada keberadaan di luar kesadaran, ini berarti keberadaan hanya yang dapat
kita sadari, dan keberadaan hanya berlaku saat kita sadar atau “bangun”. Begitu
kita mati, segala keberadaan akan lenyap, dan sebelum kita lahir, segala
keberadaan belumlah ada. Ini berarti ada suatu awal dan akhir dari keberadaan, sebab
ada suatu awal dan akhir dari kesadaran. Hal ini kesannya cukup logis, karena
memang saat kita tidak sadar kita pun tidak ada di “tempat” untuk mengetahui
apapun.
Masalahnya,
paham ini menentang hukum-hukum kausalitas terutama saat kita menganalisis awal
dari kesadaran. Sebelum ada kesadaran tiada apapun, lalu adalah kesadaran.
Bukankah berarti ada yang mengawali dan menyebabkan kesadaran itu? Penyebab ini
pastilah ada dan memiliki keberadaan, bukan hanya tiada. Dan penyebab ini ada
sebelum ada kesadaran, karena itu pastilah kalau kesadaran memiliki awal, maka
ada keberadaan di luar kesadaran.
Dari
itu kita mengetahui bahwa keberadaan memiliki sifat yang objektif, tidak
terpengaruh oleh subjek yaitu kesadaran. Ini membenarkan pernyataan sebelumnya
tentang pengetahuan dan kesadaran. Bahwa subjek (kita) mendapat pengetahuan
hanya dari kesadaran, karena itu adalah definisi dari pengetahuan. Jadi itu
adalah pernyataan tentang subjek, dan bukan objek (tentang pengamat dan bukan
yang diamati). Oleh karena itu, kita akan meneliti keberadaan objektif terlebih
dahulu, baru yang subjektif. Karena itu adalah keberadaan yang paling mendasar.
Bagian 4-Keberadaan yang Objektif dan
Keberadaan yang Subjektif
Sebelumnya
kita mengetahui adanya keberadaan yang objektif, maka haruslah adanya
keberadaan yang subjektif. Memahami perbedaan antara keduanya akan penting
untuk melanjutkan ke permasalahan berikutnya. Secara khusus, yang dimaksud
dengan keberadaan objektif adalah pengertian keberadaan menurut objeknya, yaitu
merujuk pada sifat-sifat keberadaan itu sendiri. Keberadaan subjektif adalah
pengertian keberadaan menurut subjeknya, yaitu merujuk pada sifat-sifat
pengamatan terhadap keberadaan.
Meskipun
sama-sama mengartikan keberadaan, kedua perspektif objektif dan subjektif
sangatlah berbeda. Secara subjektif, apa yang ada adalah apa yang dapat
disadari. Ini berarti segala hal yang dapat dibayangkan adalah ada, tapi ini
berarti hal-hal yang secara objektif bukanlah keberadaan dianggap menjadi
keberadaan pula. Misalnya adalah ketiadaan. Kita jelas-jelas dapat membayangkan
ketiadaan, dan berbicara tentang ketiadaan, dan juga menyadari ketiadaan dari
suatu hal sebagai hal yang jelas berbeda dari keberadaan.
Dalam
keberadaan subjektif, keberadaan adalah pengalaman kesadaran, dan ini berarti
apa yang dianggap ada akan dibatasi oleh batas-batas kesadaran itu sendiri. Mengandalkan
hanya keberadaan subjektif akan mengarah pada pemahaman yang salah tentang
ketiadaan dan juga paham-paham seperti kesadaran sebagai lebih tinggi dari
keberadaan. Ketiadaan dianggap sebagai suatu objek tersendirinya, yang
sebenarnya tidak, dan setara dengan keberadaan.
Keberadaan
objektif, sekalipun didapat melalui metode yang subjektif memiliki perbedaan
esensial yaitu dalam pembedaan antara keberadaan dan ketiadaan. Keberadaan
bukan masalah kesadaran, tapi apakah suatu objek memiliki sifat-sifat tertentu
yang memampukan kita untuk menyadarinya. Ketiadaan adalah lawan dari
keberadaan, yaitu suatu kondisi tanpa sifat apapun kecuali sifat non-sifat dan
non-deskripsi.
Sejauh
ini kita lebih paham tentang keberadaan subjektif karena memang itu yang kita
miliki sejak awal, dan kita tidak mengenal keberadaan objektif lebih jauh dari
itu. Namun mengidentifikasi perbedaannya penting dalam metafisika dasar ini,
dan lebih penting lagi untuk mampu menyatukan keduanya. Perbedaannya juga cukup
jelas, kalau memakai perspektif subjektif, suatu hal ada karena kita
mengamatinya. Dalam perspektif objektif, suatu hal ada saat ia memiliki suatu
sifat tertentu yang dapat dideskripsikan sehingga kita mampu mengamatinya.
Pada
sub-bab keberadaan ini kita akan murni membahas keberadaan objektif, karena itu
memang membahas keberadaan yang sesungguhnya. Membahas keberadaan subjektif
tidak memberi tahu tentang keberadaan melainkan kesadaran. Walaupun akan kerap
kali dibahas mengenai kesadaran untuk mempertegas konsep-konsep yang objektif. Dari
itu harapnya jelas apa perbedaan antara keberadaan objektif dan keberadaan
subjektif.
Bagian 5-Keberadaan dan Ketiadaan
Memang
sebelumnya kita telah membahas tentang keberadaan dan ketiadaan, tapi pada
bagian ini akan dipertegas maksud dari keberadaan yang sejati dan juga
ketiadaan yang sejati. Secara subjektif, keberadaan adalah apa yang dapat
disadari, ini bermasalah karena artinya segala hal ialah ada asalkan disadari. Hal-hal
termasuk kegelapan, dingin, dan yang sebenarnya adalah ketiadaan dari hal-hal juga
menjadi objek-objek sendiri. Namun mereka bukanlah ketiadaan yang sejati.
Ketiadaan
yang sungguh harusnya benar-benar tidak ada, yaitu tidak dapat kita jelaskan
atau deskripsikan sifatnya karena tidak memiliki sifat. Ketiadaan tidak
memiliki bentuk, ruang, waktu, lokasi, kemampuan, asal, atau lain-lain. Andaikan
terdapat satu hal tersebut, maka itu bukanlah ketiadaan melainkan sudah menjadi
keberadaan yang murni. Bahkan satu titik arbitrer yang “kosong” dalam
kehampaan, kalau memiliki deskripsi koordinat saja, tidak lagi menjadi tiada
tapi sudah menjadi titik. Daerah-daerah yang kosong sama saja, kalau dapat
dideskripsikan, sudah menjadi keberadaan.
Ada
beberapa hal yang hampir tiada tapi karena masih memiliki sifat bukanlah
ketiadaan melainkan suatu keberadaan. Ruang-waktu yang kosong tanpa partikel
terkadang disebut sebagai kehampaan, tapi ini salah. Secara kuantum masih
banyak energi yang berfluktuasi, partikel virtual dan seterusnya. Bahkan ruang
waktu yang benar-benar kosong, dalam arti energi kuantum yang nol (hampir
mustahil), tetap bukan ketiadaan karena dia hanya ketiadaan sementara dan masih
bersifat.
Suatu
fenomena kesadaran yang dapat mengecoh adalah pengamatan atau penyadaran
terhadap ketiadaan. Ini adalah masalah yang objektif dan subjektif karena di
satu sisi harusnya ketiadaan tidak dapat kita sadari, karena tidak bersifat,
tapi nyatanya kita dapat menyadarinya. Solusinya sederhana, yaitu menyadari
bahwa ketiadaan memiliki satu sifat. Sifat ini ialah sifat non-sifat dan
non-deskripsi. Ini berarti kita dapat menyadari ketiadaan sebagai suatu objek
yang berbeda dan ada, meskipun aslinya adalah tiada.
Walau
begitu, tetap saja tidak mungkin untuk mengalami ketiadaan secara penuh, apa
yang disebut “kehampaan” bukan kehampaan. Itu adalah saat di mana kita hanya
menyadari diri kita sendiri, atau kesadaran
terhadap kesadaran, tanpa ada atribut atau objek lain. Justru ini adalah
kesadaran murni, bukannya ketiadaan. Ketiadaan paling murni bagi kita adalah ketiadaan
kesadaran, yang artinya ketiadaan dari pengalaman dan rasa itu sendiri. Ibaratnya
saat komputer itu sendiri yang tiada, itulah ketiadaan yang murni. Kita mampu
menalarnya sebagai suatu ide, tapi tidak pernah sebagai yang murni.
Dalam
sudut pandang lain, tidak salah mengatakan bahwa ketiadaan adalah jenis
keberadaan pula dalam kenyataan, atau salah satu kondisi yang ada dalam
kenyataan. Lagipula ia dapat disadari sebagai suatu objek metafisik, dengan
kondisi ketiadaan adalah objek yang khusus. Suatu objek yang didefinisikan
sebagai negasi dari segala objek lain. Keberadaan yang didefinisikan sebagai
lawan dari segala keberadaan lain. Dengan kejelasan terhadap apa itu ketiadaan,
apa yang menjadi batas dari keberadaan juga semakin jelas.
Pembatasan
ketiadaan ini memperkuat bahwa keberadaan bukan hanya yang materialis atau yang
disetujui secara kolektif. Jadi beberapa pertanyaan tentang keberadaan suatu
hal yang seringkali diajukan dan menjadi kontroversi sangatlah tidak tepat.
Ketidaktepatan ini terjadi karena kurangnya deskripsi tentang keberadaan macam
apa yang diharapkan atau diminta. Ini sangat terlihat dalam perdebatan tentang
keberadaan Tuhan, antara ateis dan teis. Seharusnya bukan menanyakan, “Apakah
Tuhan ada?” Melainkan, “Apakah Tuhan
ada secara materialis?” Kalau begitu
pastilah jelas jawabannya.
Kalau
hanya keberadaan Tuhan secara abstrak tanpa diperjelas maksud keberadaan ini,
jelas-jelas kaum ateis sudah kalah sejak konsepsi pertama tentang Tuhan yang
monoteis ataupun konsepsi tentang ketuhanan apapun dibuat. Kecuali keberadaan
dibatasi menurut perspektif empiris, maka ateis bisa berdebat dengan cukup
baik. Masalahnya tidak semua teis mengakui empirisme, ada yang mengakui
rasionalisme atau pewahyuan dan saat paradigma epistemologis saja sudah
berbeda, perdebatan yang baik tidak mungkin terjadi dan hanya akan menyesatkan
kedua pihak.
Jadi
harusnya ateis dan teis tidak memperdebatkan tentang ketuhanan, tapi
akar-akarnya yaitu empirisme dan rasionalisme. Ini untuk menyamakan paradigma
tentang keberadaan yang sudah sangat berbeda ini. Kalau misalnya ada ateis dan
teis yang sama-sama empiris, perdebatan yang jelas dapat terjadi. Namun saat
definisi dasar tentang apa itu keberadaan saja sudah berbeda, atau standar
kebenaran sudah berbeda harusnya yang dipermasalahkan adalah definisi dasar
itu. Saat definisi sudah disetujui, barulah proposisinya yang didebatkan, supaya
pemaknaannya tidak berbeda dan perdebatan juga lancar.
Sekali
lagi, syarat suatu hal untuk dianggap ada adalah memiliki setidaknya satu sifat
yang dapat disadari. Hal yang termasuk ketiadaan adalah kalau tidak memiliki
sifat yang dapat disadari. Tentu saja karena ini merujuk pada keberadaan
absolut, yang diperlukan hanya keberadaan idealis atau penyadaran rasional dan
sudah terpenuhi. Selain itu, apa yang dimaksud dengan ketiadaan sebagai ide
juga bukan ketiadaan murni, itu adalah ide
yang kita sadari, suatu ide yang memiliki sifat. Jadi kalau ada yang ingin
mengatakan ketiadaan sebagai keberadaan pula karena hal itu, dapat segera
dibantah dengan fakta bahwa kita hanya membicarakan ide ketiadaan, karena tidak
mungkin mengalaminya secara langsung.
Dengan
itu diharapkan pembedaan antara keberadaan dan ketiadaan sudah cukup jelas. Bahwa
keberadaan adalah sifat, dan ketiadaan adalah lawan dari sifat atau non-sifat
dan non-deskripsi. Konsep ini akan berguna dalam pembahasan tentang kondisi
kenyataan secara utuhnya, dan relasi antara keberadaan dan ketiadaan.
Bagian 6-Awal dan Akhir Keberadaan
Kenyataan
Secara
tidak langsung masalah ini telah dijawab pada bagian 3 tentang keberadaan di
luar kesadaran, tapi supaya lebih jelas akan dibahas kembali secara eksklusif. Pertanyaan
tentang awal dan akhir keberadaan kenyataan cukup jelas, apakah keberadaan dari
kenyataan dapat berawal ataupun berakhir atau keduanya. Maksudnya keberadaan
kenyataan adalah kenyataan sendiri tidak dapat berakhir. Pastinya akan ada
kenyataan yang dapat dinyatakan, baik itu yang bersifat (ada) atau yang tidak
bersifat (tiada). Maka yang dimaksud adalah keberadaan dalam hal ini adanya
objek bersifat dalam kenyataan.
Secara
khusus juga yang dimaksud adalah awal dan akhir keberadaan kenyataan dan bukan
apakah keberadaan dapat berfluktuasi antara ada dan tiada, yang sebenarnya juga
tidak mungkin karena alasan yang akan dipaparkan pada pembahasan berikut. Supaya
tidak rumit, kita akan menganalisis masalah itu satu-satu dimulai dari awal
keberadaan. Kalau keberadaan kenyataan memiliki awal, artinya ada suatu masa
atau periode di mana kenyataan adalah ketiadaan. Lalu ada masa setelahnya di
mana kenyataan adalah keberadaan, dan ada titik di antara kedua masa di mana
terjadi perubahan kondisi.
Kalau
kita membuang segala hukum kausalitas, ini dapat terjadi, tapi kausalitas
adalah asumsi mendasar yang harus dipertahankan. Jadi secara logis pastinya ada
yang menyebabkan keberadaan itu untuk terjadi. Ini yang menjadi masalah,
ketiadaan harusnya tidak memiliki sifat, apalagi sifat menyebabkan atau
kemampuan menyebabkan. Penyebab itu pastilah suatu hal yang ada dan bukan yang
tiada. Maka dari itu tidak pernah ada masa ketiadaan, dan kalaupun kita ingin
mencoba regresi tak terbatas, adanya tetap keberadaan, tiada yang tiada.
Ini
berarti keberadaan tidak memiliki awal sama sekali tapi apakah bisa memiliki
akhir? Kesannya bisa saja dan mungkin kita akan tergoda untuk menyatakan bahwa
keberadaan bisa memiliki akhir kalau hanya berlandaskan asas kausalitas. Namun
kita menilai berdasarkan asas ketiadaan dan bukan kausalitas. Ketiadaan artinya
ketiadaan sifat apapun kecuali sifat ketiadaan sifat dan deskripsi. Kalau
ketiadaan itu dapat dideskripsikan secara temporal atau kausal, jadi sebagai
hasil atau akibat dari suatu hal lain (yang ada), atau terjadi setelah suatu
hal lain (yang ada), itu bukan ketiadaan tapi keberadaan yang menyamar.
Ini
berarti keberadaan haruslah abadi dan tidak memiliki awal dan akhir, pada saat
yang sama ketiadaan juga abadi dan tidak memiliki awal dan akhir. Ini pantas
saja untuk ketiadaan karena ketiadaan tidak memiliki sifat waktu. Dan suatu hal
yang abadi sama saja dengan tidak memiliki sifat waktu karena waktu tidak masuk
akal dalam konsep keabadian. Keabadian ini juga keabadian yang tidak berubah
sama sekali yang sama sekali tiada waktu. Maka tidak ada salahnya untuk
mengatakan bahwa ketiadaan itu abadi.
Meski
keberadaan dan ketiadaan ada secara bersamaan dan terpisah dan tidak pernah
bersatu, jelas-jelas mereka tidak setara. Ketiadaan tidak bisa mengubah
keberadaan sama sekali ataupun menghancurkan keberadaan sama sekali. Dalam keberadaan
ada perubahan, tapi ketiadaan tidak pernah berubah sama sekali. Keberadaan
memiliki berbagai sifat yang unik dan tak terbatas, dan ketiadaan adalah nol. Dari
perspektif yang makro, kenyataan selalu keberadaan dan bukan setengah ada atau
apapun. Kalau dianalogikan dengan matematika, yang ada ialah 1+0=1. Sedikit
tambahan, ini berarti hanya keberadaan yang mampu menghasilkan keberadaan, dan
hanya ketiadaan yang mampu menghasilkan ketiadaan.
Bagian 7-Identitas
Sebelumnya
kita telah mengetahui bahwa keberadaan kenyataan secara keseluruhan adalah
abadi dan tiada berkesudahan. Namun apakah seluruh keberadaan dalam kenyataan
memiliki sifat abadi? Atau ada suatu substansi yang abadi dan semua hal lainnya
tidak abadi? Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus memahami dahulu konsep identitas. Identitas maksudnya adalah
perbedaan setiap objek yang berbeda, yang dapat membuat kita berkata bahwa x=/=y.
Maka kita ingin mengetahui apakah hanya beberapa identitas yang abadi atau
semuanya abadi?
Identitas
paling sederhana dalam kenyataan adalah antara objek yang memiliki keberadaan
dan ketiadaan itu sendiri. Dalam hal ini ketiadaan merupakan objek dengan sifat
non-sifat dan non-deskripsi, dan keberadaan adalah segala objek yang bersifat
dan bukan tiada. Ketiadaan telah terbukti sebagai objek yang abadi yang tidak
dapat diciptakan atau dihancurkan, karena merupakan lawan dari segala hal itu. Keberadaan
absolut juga abadi, tapi tidak jelas keberadaan semacam apa.
Jadi
ada dua hal yang akan dibuktikan pada bagian ini terkait identitas, yaitu
apakah ada kesatuan keberadaan atau setiap identitas terpisah, dan apakah ada
satu identitas yang abadi atau semuanya abadi. Pertama, apa yang termasuk dalam
identitas keberadaan? Secara objektif, ini adalah segala hal yang memiliki
sifat, sekalipun belum mampu disadari manusia. Secara subjektif, ini adalah
segala hal yang dapat dipikirkan, bukan diindera, tapi dipikirkan. Jadi bisa
saja jumlah identitas ini tak terbatas.
Identitas
sifatnya absolut, dan merujuk pada seluruh sifat suatu objek bukan hanya sifat
internal tapi juga eksternal. Eksternal artinya merujuk pada relasi antara
suatu objek dengan dunianya atau objek lain. Misalnya sifat temporal, objek A
pada waktu yang berbeda adalah objek yang secara absolut berbeda. Atau sifat
spasial, objek A yang berada pada dua koordinat berbeda adalah dua objek yang
berbeda, sekalipun keduanya identik secara internal. Suatu objek A hanya dapat
dikatakan sama dengan objek A kalau segala sifatnya baik internal atau
eksternal identik pula.
Dalam
kata lain, kalau antara dua objek, terdapat perbedaan nilai satu infinitesimal
saja dalam satu sifat, meski seluruh sifat lainnya sama, sudah menjadi dua
objek yang berbeda. Memang benar ada beberapa tingkatan identitas, misal setiap
barang dari kayu memiliki identitas yang sama sebagai produk dari kayu. Atau
setiap meja memiliki identitas yang sama sebagai suatu meja. Namun yang kita
perhatikan adalah identitas yang absolut, maka segala sifat atau deskripsinya
harus diperhatikan.
Memang
kita dapat membayangkan seluruh identitas atau setidaknya hampir seluruhnya,
tapi yang kita cari bukanlah penetapan keberadaan mereka. Melainkan keabadian
mereka sebagai suatu keberadaan. Ini dapat dimulai dengan satu objek, misalkan
objek X. Kita telah menetapkan bahwa objek X pasti abadi, karena ketiadaan
ialah abadi maka keberadaan objek X harus abadi pula. Misalkan kita ingin
menciptakan objek X yang kedua, jadi secara internal sama tapi secara eksternal
ada yang berbeda. Lalu dari mana asal objek X kedua ini?
Objek
X kedua ini tidak mungkin berasal dari ketiadaan dan tidak mungkin berakhir
dalam ketiadaan, itu akan melanggar asas ketiadaan. Maka hanya ada dua
alternatif, entah objek X kedua sudah ada secara abadi seperti objek X yang
pertama, atau objek X kedua berasal dari objek X yang pertama. Bagaimanapun
juga, ini berarti ada dua objek X yang bersifat abadi, tidak berawal dan tidak
berakhir.
Dengan
begitu, berarti ada sejumlah objek X yang tidak terbatas yang keabadiannya
sudah terjamin. Sekalipun mereka terkandung dalam satu objek X, sesungguhnya
sudah bersifat tak terbatas karena buktinya satu objek X dapat berlipat ganda
tanpa mengurangi substansinya, yang artinya sama saja tidak terbatas. Ini
berarti juga menjamin segala objek yang merupakan derivatif dari objek X atau
suatu perubahan dari objek X dalam jumlah yang tak terbatas pula.
Apa
batas dari derivasi X ini? Tidak ada batas, entah itu derivasi jumlah, misalnya
A terdiri dari 3 objek X. Atau derivasi temporal, spasial, rotasional, susunan,
dan seterusnya. Lalu bagaimana kalau ada objek Y yang sama sekali bukan
derivasi dari objek X? Ini lebih mudah lagi membuktikannya, karena objek Y ini
tidak mungkin merupakan derivasi ketiadaan atau derivasi X, maka pastinya juga
sudah ada secara abadi. Tambahkan satu Y lagi, dan jumlah tak terbatasnya juga
terbukti.
Maka,
setiap identitas yang dapat dihasilkan, baik yang bersifat derivatif atau
non-derivatif telah terbukti keabadiannya dan ketidakterbatasannya. Sebenarnya
bukan tujuan kita untuk membuktikan bahwa suatu identitas jumlahnya tidak
terbatas, tapi itu konsekuensi tambahan dari penalaran kita. Catatan tambahan
terhadap identitas derivatif, sekalipun dia terbentuk dari identitas-identitas
asli lainnya, tetap suatu identitas yang berbeda secara absolut dengan
penyusunnya.
Lalu
apakah kita mengetahui jumlah identitas non-derivatif yang menjadi dasar dari
identitas derivatif? Tidak, kita tidak mengetahuinya. Bisa saja hanya ada satu
identitas asli dan semuanya hanya cetak ulang atau perubahan dan modifikasi
dari identitas itu. Mungkin secara objektif semuanya hanyalah derivasi dari
angka-angka matematis, tapi secara subjektif kita tahu, bahwa bisa saja
semuanya adalah identitas asli. Padahal sudah disusun ulang berkali-kali, tapi
begitu berbedanya kita tidak bisa mengatakan mereka diderivasikan dari suatu
identitas pendahulu. Tapi itu bukan tugas kita, tugas kita adalah membuktikan
keabadian identitas, dan tugas itu telah selesai.
Bagian 8-Kenyataan Absolut
Maka
dengan seluruh pengetahuan akan keberadaan kita dapat menentukan apa itu
kenyataan absolut yang paling nyata yang paling objektif, yang sudah ada, tetap
ada, dan akan terus ada sampai sepanjang segala masa baik dengan atau tanpa
kesadaran. Jadi, inilah kenyataan absolut kita yang paling tinggi dan murni. Melanjutkan
dari pemahaman sebelumnya, kita mengetahui bahwa segala identitas ada secara
abadi, artinya setiap identitas tidak pernah berubah karena keberadaannya
konstan.
Ini
berarti tiada waktu, karena waktu hanya bermakna saat terjadi perubahan,
termasuk perubahan kesadaran. Dalam kenyataan absolut, semuanya berhenti secara
abadi, dan tidak berubah. Namun ini bukan berarti waktu sama sekali tiada atau
yang namanya perubahan sama sekali tidak ada dalam kenyataan, hanya saja
keduanya bukan sifat kenyataan yang paling mendasar. Ataupun sifat objek apapun
yang paling mendasar. Sifat tertinggi dari setiap objek kenyataan adalah suatu
keberadaan yang abadi dan tak berubah.
Tentu
saja setiap kondisi kenyataan yang berbeda adalah objek tersendirinya, walaupun
hanya berbeda dalam tingkatan infinitesimal. Maka tidak ada perubahan antara
satu kondisi ke kondisi lain, karena semuanya sudah ada, kalau ada perubahan
yang absolut itu sama saja ada yang menjadi tiada ada yang awalnya tiada. Ini
akan sangat melanggar asas ketiadaan yang menjadi dasar dari segala penalaran
kita terhadap keberadaan. Persepsi dan himpunan semesta mungkin berubah, tapi
himpunan kenyataan tetap dan tidak berubah.
Kenyataan
tertinggi seperti ini yang tak mungkin diakses manusia secara realistis dapat
kita sebut sebagai superposisi tak
terbatas. Sebab segalanya ada secara bersamaan, yang berarti kenyataan ada
dalam berbagai posisi dan sifat sekaligus, bahkan yang kesannya bertentangan. Tak
terbatas karena memang jumlah identitas yang tak terbatas. Sebenarnya tidak ada
sifat yang sungguh “bertentangan”, misal belok kanan dan kiri pada waktu yang
sama. Satu-satunya lawan yang sesuai terhadap setiap identitas adalah ketiadaan
itu sendiri, lawan dari segala keberadaan.
Jadi,
mungkin ini memang kenyataan yang absolut tapi ini hanya absolut dari sisi
keberadaan. Kita hanya mengetahui bahwa pada kondisi paling murni, seluruh
kenyataan ada dalam suatu titik yang mengandung segala hal yang telah ada,
sedang ada, dan akan terus ada. Namun dalam titik itu, tidak tertutup
kemungkinan akan suatu himpunan semesta di mana waktu dan perubahan terjadi.
Belum lagi ini hanya menyangkut keberadaan objektif kenyataan, dan bukan
keberadaan subjektif yang pastinya akan berbeda dengan keberadaan objektif. Tapi
untuk tugas ini, kita telah selesai.
Teori Keberadaan Objektif
Ini
adalah rangkuman dari segala teori keberadaan yang objektif sebagaimana
dipaparkan dalam 8 bagian. Pertama, diulas mengenai keberadaan kenyataan yang
absolut, lalu didalami apa yang menjadi sumber pengetahuan dan metode filsafat
terhadap keberadaan objektif. Bagian 3 dan 4, ditetapkan sifat objektif dari
keberadaan dan pembedaan dengan keberadaan subjektif. Bagian 5, merupakan
penetapan keberadaan dan ketiadaan, bagian 6 penetapan keabadian kenyataan,
terakhir 7 dan 8 adalah penetapan keabadian identitas dan kondisi keberadaan
kenyataan yang absolut.
Berdasarkan
itu kita dapat merangkum kenyataan menurut keberadaan objektif dalam satu
rumusan lengkap. Bahwa kenyataan secara hakikat memiliki keberadaan yang abadi,
dengan identitas yang tak terbatas dan semuanya sama-sama abadi. Dengan itu
kenyataan tidak berubah secara riil, tapi sejauh ini persepsi kita yang
berubah. Adapula ketiadaan sebagai objek khusus yaitu yang tidak bersifat
selain sifat non-sifat dan non-deskripsi, yang tidak berasal, yang tidak
berakhir, yang juga abadi. Lalu syarat keberadaan yang subjektif adalah
disadari, baik secara idealis, ataupun secara materialis. Dan demikianlah teori
superposisi tak terbatas, teori keberadaan yang objektif. Tuhan Memberkati.
Identitas
Pendahuluan
Pada
bab sebelumnya kita berhasil menjabarkan kenyataan dalam skala paling luas,
yaitu hukum-hukum yang berlaku atas segala objek yang nyata, terlebih terkait
keberadaan mereka. Terdapat satu konsep yang memegang peranan penting pada
paruh kedua dari teori ini, yaitu konsep identitas. Identitas di sini merujuk
pada segala sifat dan deskripsi dari satu objek yang sungguh unik dan berbeda
dari objek yang lain. Ini berbeda dengan konsep identitas secara manusiawi,
atau identitas dalam waktu, atau syarat minimal identitas, dan lain-lain.
Dalam
kenyataan, identitas adalah “identitas” atau sifat dasar kedua dari kenyataan
yang absolut. Ini jelas dalam pengamatan rasional kita, bahwa selain kenyataan
ialah ada tapi juga terdiri dari perbedaan. Tidak ada satu substansi atau zat
yang menyatukan seluruh kenyataan secara jelas selain zat keberadaan itu
sendiri tapi kita tahu segala hal dalam kenyataan berbeda dan perbedaan ini
selalu tetap, tidak bertambah atau berkurang, melainkan tanpa batas. Karena
itulah patutnya kita memahami lebih lanjut sifat-sifat dasar dari identitas,
dan bagaimana suatu identitas berlaku terhadap hukum kekekalan keberadaan.
Bagian 1-Identitas dalam Perspektif
Superposisi
Sebelumnya
kita mendefinisikan identitas secara objektif, yaitu menurut apa itu identitas
secara internal atau secara hakikat. Bahwa identitas adalah segala sifat dan
deskripsi dari suatu objek yang membuat objek itu berbeda dari objek yang lain.
Pada bab keberadaan kita lebih mempertimbangkan identitas yang absolut, dan ini
mencakup sifat eksternal yaitu relasi antara objek dengan identitas lain pula. Misalnya
koordinat spasial-temporal dari suatu objek, dapat membedakan dua objek yang
secara internal identik.
Pemahaman
identitas seperti itu cukup untuk bab sebelumnya tapi sekarang kita harus
menciptakan suatu pengertian identitas yang baru, yaitu menurut perspektif
superposisi. Dalam hal ini kita menganalisis relasi antara identitas dan
superposisi tak terbatas. Saat kedua hal ini dibandingkan jelas sekali bahwa
ada ketimpangan besar antara keduanya. Superposisi sifatnya tak terbatas, dan
tidak dapat dijelaskan dalam jumlah waktu yang terbatas. Sementara itu
identitas sifatnya terbatas, dan dapat dijelaskan dalam jumlah waktu yang
terbatas.
Hal
yang menarik pula adalah saat kita ikut mempertimbangkan identitas ketiadaan,
dan terlihat bahwa ada 2 ekstrim dengan satu kelompok terbesar yang menjadi
keseimbangannya. Pada ekstrim pertama ialah ketiadaan dari segala sifat kecuali
sifat non-sifat dan non-deskripsi, pada ekstrim kedua ialah keberadaan dari
segala sifat, yaitu superposisi tak terbatas atau kenyataan absolut itu
sendiri. Dalam kenyataan absolut ialah segala identitas termasuk identitas
ketiadaan.
Dari
itu kita dapat memahami identitas sebagai bagian dari kenyataan, tapi tidak
satu pun identitas merupakan keseluruhan dari kenyataan. Dan sebenarnya
identitas itu sendiri absurd karena bagaimana caranya kita berbicara tentang
batas dalam kenyataan yang sifatnya tak terbatas? Itulah kata kuncinya, batas. Identitas adalah suatu
pembatasan dalam kenyataan terhadap beberapa sifat atau aspek tertentu yang
menjadi definisi dari identitas itu. Atau bisa pula dijelaskan sebagai suatu
identitas kenyataan absolut di mana hanya ada beberapa sifat yang nilainya 1
atau ada, dan segala sifat lain bernilai 0 atau tiada.
Secara
matematika ini adalah yang disebut dengan himpunan, tapi tentu lingkupnya
berbeda karena himpunan dalam matematika lebih banyak digunakan untuk mengelompokkan
identitas matematis, yaitu angka-angka atau operasi-operasi. Walau begitu
konsepnya sama, yaitu pengelompokkan sekaligus pembatasan terhadap satu atau
beberapa identitas mendasar untuk membentuk satu identitas yang baru. Dengan
pengertian tersebut, sekarang kita siap untuk melanjutkan ke bagian-bagian
berikutnya.
Bagian 2-Tingkatan Identitas
Selama
ini kita hanya membicarakan identitas-identitas yang absolut atau identitas
dengan sifat yang dideskripsikan seluruhnya, yang membuat satu objek sungguh
berbeda dengan objek lainnya. Namun ada lebih dari satu tingkatan identitas,
bukan hanya identitas absolut. Hal ini dapat kita gambarkan menurut pemahaman
superposisional terhadap identitas. Karena identitas adalah suatu batasan
terhadap kenyataan, batas-batas ini dapat kita pertegas atau kita luaskan.
Identitas
tanpa batas yang sebenarnya bukan identitas adalah kenyataan absolut, karena
tidak ada batasan terhadap sifatnya. Identitas absolut adalah kondisi di mana
pembatasannya mencapai tingkatan maksimum. Dalam identitas absolut selalu hanya
ada satu anggota, karena setiap objek berbeda. Dari identitas absolut kita
dapat mengurangi batasannya menjadi identitas umum, dan ini lebih menyatakan
kesamaan dari berbagai identitas absolut yang berbeda. Atau secara derivatif,
sekelompok identitas absolut adalah derivasi dari suatu identitas tertentu.
Dan
tentu saja identitas umum masih bertingkat lagi, ada yang lebih banyak batasnya
sampai seluruh anggota identitas memiliki identitas internal yang identik tapi
secara eksternal berbeda. Misalkan sekelompok bola yang seluruhnya berdiameter
1 dijejerkan dalam suatu wilayah. Secara internal semuanya sama, tapi secara
eksternal setiap bola itu sudah berbeda. Namun karena yang diperhitungkan
adalah identitas internalnya, setiap bola itu dikategorikan sebagai satu hal
yang sama.
Adapula
identitas umum yang sangat umum, misalnya identitas umum segala objek yang
merupakan suatu meja. Berdasarkan sifat-sifat umum suatu meja, kita dapat
menemukan berbagai objek yang secara absolut sangat berbeda, tapi secara umum
merupakan objek-objek yang sama, memiliki suatu kesamaan sifat. Atau mereka
semua adalah identitas derivatif dari identitas asli yaitu meja.
Perbedaan
antara identitas umum dan absolut akan cukup berguna dalam filsafat berikutnya,
walau cukup jauh. Intinya suatu identitas absolut merujuk pada perbedaan
absolut antara satu objek dengan objek lainnya, di mana perbedaan satu nilai
sudah menjadikan kedua objek berbeda. Ini penting dalam matematika nantinya. Identitas
umum merujuk pada identitas-identitas dasar yang menjadi pembentuk dari
identitas lainnya, atau pada derivasi identitas. Ini penting dalam ilmu
pengetahuan secara umum atau dalam penyusunan kategori.
Bagian 3-Identitas Statis dan
Identitas Dinamis
Kesimpulan
dari teori keberadaan yang objektif memberikan kesan bahwa segala kenyataan
sifatnya statis dan tidak berubah. Namun apakah itu berarti segala identitas
haruslah bersifat statis alias tidak berubah? Ini adalah jawaban yang intuitif
tapi kontradiktif dengan pengalaman kita sendiri. Kita mengalami perubahan
setiap saat, setiap hari, dan saat ini pun tulisan ini dihasilkan karena
perubahan. Lagipula suatu identitas yang dinamis alias berubah ubah dapat kita
bayangkan, jadi haruslah ada.
Masalahnya,
perubahan akan mengimplikasikan pelanggaran berat terhadap hukum kekekalan
keberadaan yang didasari oleh prinsip ketiadaan. Jadi bagaimana kita dapat
merekonsiliasi kedua hal ini? Misalkan ada suatu benda X yang dapat berubah
kondisi antara A, B, C, D, dan E. Kalau benda itu dapat berubah, bukannya
terkadang A hilang tapi B ada, lalu B yang menghilang, dan A yang ada? Itu
benar, tapi kita harus mengingat bahwa jumlah benda X adalah tak terbatas, dan
setiap kondisi derivatif X adalah identitas tersendiri yang keberadaannya juga
terjamin.
Dengan
itu, selalu ada X-A, X-B, X-C, X-D, X-E, yang menjadi identitas derivatif
terjamin dari identitas asli X. Setiap identitas itu adalah identitas statis,
alias tidak berubah dan keberadaannya tidak melanggar kekekalan keberadaan. Bagaimana
dengan X yang dinamis? Tinggal tambahkan satu identitas umum lagi, yaitu X yang
dapat berubah kondisi antara A sampai E. Ini tidak akan melanggar asas
ketiadaan atau kekekalan keberadaan, karena identitas statis X merupakan
pembentuk dari identitas dinamis yang menjadi semacam identitas derivatif dari
seluruh identitas statis X.
Maka
perubahan apapun yang terjadi dalam suatu identitas yang dinamis tidak akan
mempengaruhi keberadaan absolut dari identitas lain. Mungkin dapat digambarkan
bahwa perubahan dalam identitas dinamis seperti keluar masuknya identitas
statis yang berbeda ke dalam identitas dinamis itu dan keluar lagi. Maka
identitas dinamis menjadi semacam “penyimpan” yang dapat menyimpan
kondisi-kondisi pada titik tertentu, dan dapat mengeluarkannya lagi pada titik
lainnya.
Bayangkan
seperti ini, adalah toples yang bisa diisi dengan entah apel, jeruk, pisang,
anggur, atau rambutan. Menurut hukum kekekalan keberadaan, berarti ada 5 jenis
toples yang ada bersamaan, yaitu toples apel, jeruk, pisang, anggur, dan
rambutan, dan untuk setiap toples ada jumlah yang tak terbatas. 5 jenis toples
itu tidak berubah sama sekali isinya, kalau apel akan terus apel, jeruk akan
terus jeruk, dan seterusnya.
Lalu
adalah toples yang khusus, yang isinya dapat dirubah kalau kita mau, dari apel
ke jeruk, jeruk ke anggur, dan seterusnya. Perubahan isi toples dinamis ini,
dapat dibayangkan seperti memasukkan apel ke dalam toples, dan mengeluarkan
jeruk dari toples itu. Intinya ada satu buah dalam toples, lalu saat perubahan
terjadi, buah itu dikeluarkan dan dimasukkan buah yang lain. Karena kondisi
statisnya ada secara abadi, kondisi dinamisnya tidak melanggar asas ketiadaan
atau kekekalan keberadaan sama sekali.
Antara
identitas statis dan dinamis, yang paling penting tentunya adalah identitas
dinamis. Jika identitas statis adalah penjamin keberadaan, identitas dinamis
adalah penggerak keberadaan, dan lagipula kita sendiri adalah identitas dinamis
dan hidup dalam satu identitas yang dinamis bernama alam semesta. Segala hal
yang kita pelajari juga sifatnya cenderung dinamis, tapi tetap saja terkadang
kita mempelajari identitas secara statis, yaitu fokus pada sifat saat itu juga
dan bukan potensialitasnya. Untuk itu kita akaan mendalami lebih lanjut
mengenai identitas dinamis.
Bagian 4-Tingkatan Identitas
Dinamis
Tidak
semua identitas dinamis memiliki tingkat dinamika yang sama, walau semuanya
memiliki esensi yang sama, yaitu mampu merubah identitas atau kondisi dirinya
sendiri. Namun ada identitas dinamis yang jauh lebih dinamis dari identitas
dinamis lainnya dan untuk itu kita akan menguak seperti apa identitas hiper
dinamis itu. Hanya ada dua jenis yang akan kita bahas, yaitu beraturan dan
tidak beraturan.
Identitas
dinamis beraturan sesuai namanya memiliki aturan terhadap perubahan kondisinya.
Misalkan dalam contoh toples buah, terdapat aturan khusus yang menyatakan bahwa
perubahan isi toples harus dengan urutan apel, jeruk, pisang, anggur, rambutan,
seperti itu berulang kali. Atau suatu aturan yang menyatakan bahwa perubahan
kondisi hanya melibatkan apel dan jeruk, antara kedua nilai itu saja secara
terus menerus.
Aturan
identitas dinamis tidak melulu aturan yang “rapi” atau berulang-ulang, bisa
saja aturannya berantakan dan tidak berulang. Bisa saja aturan yang terjadi
“berubah” di satu titik tertentu. Misalnya setelah mengikuti urutan tertentu
selama 5 putaran, lalu urutannya dibalik sampai akhir atau derivatif lainnya. Atau
aturan yang sama sekali acak dan tidak ada pola sama sekali. Maksud dari
beraturan adalah perubahan kondisi toples telah ditentukan secara pasti dan
dapat diketahui sejak awal. Toples tidak dapat mengubah aturan perubahannya.
Sementara
itu, identitas dinamis tak beraturan, atau identitas bebas tidak hanya bisa
berubah tapi juga dapat menentukan sendiri arah perubahannya. Memang benar saat
telah terjadi sekian perubahan kondisi, apa yang telah terjadi dapat dicocokkan
dengan setidaknya satu identitas dinamis beraturan. Namun sebelum itu terjadi,
kita tidak dapat menentukan atau mengetahui secara pasti perubahan apa yang
akan terjadi berikutnya.
\
Sebab
yang membuat aturannya adalah identitas itu sendiri, dan inilah alasan identitas
ini disebut bebas. Dari segala identitas, ini adalah identitas yang paling
besar dinamikanya bahkan dari antara identitas dinamis karena aturan
perubahannya saja dapat diubah. Dalam perumpamaan toples buah, dapat
dibayangkan suatu toples yang dapat memilih sendiri buah apa yang akan ada di
dalamnya. Entah alasannya apa, kita tidak tahu, tapi itulah pilihannya.
Contoh
identitas bebas yang paling nyata adalah manusia yang mampu merasa. Itu adalah
salah satu alasan mengapa perilaku kita sebagai manusia sulit dideskripsikan
secara pasti, cenderung hanya ada tendensi dan kecenderungan tentang perilaku
manusia. Berbeda dengan hukum fisika yang sangat absolut sifatnya dan tidak
dapat kita ubah. Walau begitu kebebasan tetap ada batasnya dan terkadang masih
mengikuti suatu aturan yang ada, tapi pastinya tetap lebih fleksibel dan
dinamis.
Maka
kita mengetahui pembedaan antara identitas-identitas dinamis. Identitas
beraturan artinya arah perubahannya sudah ditentukan dan tidak dapat diubah,
sementara identitas bebas arah perubahannya dapat diubah sehingga tidak dapat
ditentukan sejak awal, yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kedua
jenis identitas ini lebih berguna dalam menjelaskan hal-hal yang mendasar,
sementara akan ada konsep yang lebih relevan untuk hal-hal yang kita ketahui
sehari-hari.
Bagian 5-Identitas Dinamis Tunggal
dan Identitas Dinamis Jamak
Selama
ini kita memahami hanya tentang identitas dinamis tunggal, yaitu identitas
dinamis yang berubah sendirinya yaitu tanpa dipengaruhi identitas lain. Namun
adapula yang lebih bervariatif yaitu identitas dinamis jamak, atau dapat
dikatakan sebagai identitas relasional atau identitas semesta. Perbedaannya
adalah identitas dinamis jamak entah mengubah identitas lain atau diubah oleh
identitas lain dalam satu identitas semesta yang menaungi keduanya.
Mekanikanya
dan relasinya dengan identitas statis kurang lebih sama dan apa yang terjadi
dalam identitas dinamis jamak tidak akan menghancurkan secara absolut, hanya
dalam identitas itu. Identitas ini dapat dikatakan sebagai identitas
tersendirinya atau hanya sebagai wadah untuk interaksi antar identitas, tapi
kedua hal itu sama saja. Identitas ini didefinisikan dengan relasi perubahan
antara berbagai identitas dinamis yang berbeda.
Sebelumnya
dikenalkan dua istilah, yaitu identitas relasional dan identitas semesta. Walau
keduanya merujuk pada satu golongan identitas yang sama, keduanya memiliki
tingkatan dan fokus yang berbeda. Identitas relasional merujuk pada relasi
terbatas antar sedikit identitas dinamis. Identitas semesta merujuk pada
kelompok berbagai macam identitas dinamis berinteraksi satu sama lain dan
memiliki relasi-relasi yang terdefinisikan, atau bisa saja tidak.
Ada
berbagai interaksi antar identitas dinamis dalam identitas relasional maupun
semesta tapi menjabarkannya akan sangat panjang. Salah satu contoh identitas
semesta yang kita kenal adalah alam semesta sekarang ini yang kita tinggali. Dalam
identitas ini, penciptaan dan kehancuran diperbolehkan, tapi yang sesungguhnya
terjadi adalah masuknya identitas-identitas dari luar semesta ke dalam semesta,
dan keluar lagi dari semesta ini ke kenyataan absolut kembali.
Dalam
dunia ini sudah ada ilmu yang khusus mempelajari identitas-identitas paling
mendasar dari identitas semesta ini, yaitu fisika. Sebab segala hukum fisika
yang ada adalah identitas relasional yang mendefinisikan interaksi perubahan
antara berbagai identitas dinamis lainnya. Karena itulah kita tidak akan
terlalu banyak membahas mekanika internal identitas semesta, sudah cukup banyak
ilmuwan yang mendefinisikannya.
Namun
apakah ada identitas semesta dan relasional yang sangat mengakar dalam
kenyataan absolut yang lebih mendasar dari segala identitas jamak lainnya? Ada,
kelompok identitas ini adalah yang kita kenal dengan matematika. Pada waktunya,
matematika akan dibahas pula sebagai bagian dari filsafat, tapi tidak pada
bagian ini. Sebab masih ada yang lebih mendasar dari matematika, yang masih
harus kita temukan.
Singkat
kata, identitas dinamis tunggal adalah identitas yang berubah dengan
sendirinya. Sementara itu identitas dinamis jamak adalah identitas yang diubah
atau mengubah identitas lain. Sebagai penutup, bayangkan dua toples buah. Kedua
toples buah berada dalam satu identitas relasional, dan adapula 5 buah dan
hanya 5 buah. Toples pertama dapat mengambil buah dari toples kedua, dan begitu
sebaliknya. Sehingga kedua toples isinya akan terus berubah entah mengikuti
aturan apa antara keduanya. Bahkan pernyataan 1+1=2 merupakan identitas relasional,
yang akan dijelaskan pada masa yang akan datang.
Teori Identitas
Segala
hal dalam kenyataan absolut adalah suatu identitas, baik identitas yang
memiliki keberadaan atau identitas ketiadaan. Identitas secara objektif adalah
segala sifat dan deskripsi yang membuat suatu objek berbeda dari objek yang
lain. Menurut superposisi, identitas adalah pembatasan spesifik terhadap
sejumlah sifat dalam superposisi yang menjadikan suatu objek. Menurut hukum
kekekalan keberadaan, tidak ada identitas yang dapat diciptakan atau
dihancurkan.
Namun
tidak segala identitas statis, ada identitas dinamis yang karena keberadaan
identitas statis tidak melanggar hukum kekekalan keberadaan. Identitas dinamis artinya
identitas yang dapat berubah kondisi atau berubah sebagian sifatnya. Identitas
statis tidak dapat berubah sifatnya sama sekali. Ada identitas dinamis
beraturan dan tak beraturan, beraturan artinya perubahannya teratur dan telah
ditentukan. Tidak beratur artinya identitas dinamis itu bersifat bebas atau
dapat menentukan aturan perubahannya sendiri sehingga tidak pernah tentu.
Adapula
identitas dinamis tunggal dan identitas dinamis jamak, tunggal artinya
identitas yang berubah secara sendirinya atau tidak melibatkan identitas lain. Identitas
dinamis jamak adalah sejumlah identitas dinamis yang saling mempengaruhi,
berelasi, dan saling mengubah. Identitas jamak terbagi antara identitas
relasional yang menjelaskan relasinya dan identitas semesta yang menjelaskan
agregat identitas relasional dalam jumlah besar, contohnya alam semesta. Maka
itulah teori tentang dasar-dasar identitas, yaitu unsur-unsur paling dasar
dalam kenyataan.
Kesadaran
Pendahuluan
Kenyataan
secara hakikat terdiri dari berbagai identitas yang berbeda dan semua memiliki
sifat-sifatnya tersendiri. Walaupun setiap identitas setara dalam keberadaan,
yaitu kekal secara keberadaan tidak tercipta atau pun terhancurkan, ada
identitas-identitas yang lebih tinggi dari identitas lainnya. Contohnya adalah
hukum kekekalan keberadaan dan hukum ketiadaan yang menjadi identitas tertinggi
dalam kenyataan. Artinya setiap identitas absolut tetap memiliki kesamaan
identitas tersebut.
Karena
itu tidak salah bagi kita untuk menyatakan bahwa filsafat adalah upaya
pencarian terhadap identitas-identitas tertinggi dalam kenyataan. Sudah ada dua
identitas umum yang kita ketahui tentang kenyataan, yaitu identitas tentang
keberadaan dan identitas tentang identitas itu sendiri. Namun ada satu
identitas yang di satu sisi lebih utama dari kedua identitas itu, karena
identitas inilah yang menjadi esensi diri kita. Identitas ini ialah identitas
kesadaran.
Kesadaran
adalah satu bagian dari hidup manusia yang menjadi akar segala pengalamannya
tapi yang paling sering disalahpahami. Tidak hanya salah paham, banyak yang
juga tidak menyadari keberadaan kesadaran ini atau menyatakannya sebagai hasil
kompleksitas otak, dan akhirnya kesadaran tidak begitu dilibatkan dalam pembahasan
tentang kenyataan. Jadi ada baiknya kita mendalami lebih lanjut tentang apa itu
kesadaran, karena inilah yang menjadi identitas pertama kita yang dapat kita
ketahui.
Bagian 1-Pengertian Kesadaran
Apa
itu kesadaran? Pertanyaan ini sudah seringkali dijawab, dan tidak jarang pula
yang kurang tepat dalam menjawab. Ada yang mengatakan bahwa kesadaran adalah
roh, kesadaran adalah kompleksitas otak, kesadaran adalah satu-satunya
identitas yang ada, dan lain-lain. Suatu alasan kesadaran sangat sulit
didefinisikan secara pasti adalah kesadaran ini tidak bisa diamati dari sudut
pandang ketiga, selalu dari sudut pandang pertama. Lagipula memang hakikat
kesadaran adalah sudut pandang orang pertama, bukan kedua atau ketiga.
Pemahaman
tentang kesadaran dapat dimulai dari tindakan menyadari, yang dapat dikaitkan
dengan tindakan mengetahui, merasakan, memahami, dan seterusnya. Kalau kita
melihat segala tindakan yang terkait dengan penyadaran, jelas bahwa semua ini
bukan hal-hal yang dapat disederhanakan kembali. Karena penyadaran sudah
menjadi tindakan dan konsep yang paling sederhana. Penyadaran ini sebenarnya
sudah kita lakukan dalam bab pertama untuk menelaah keberadaan absolut
kenyataan, dan bahkan kita patok sebagai sumber pengetahuan utama.
Definisi
paling mudah dari penyadaran atau kesadaran adalah diri kita sendiri, secara
spesifik pengalaman kita sehari-hari. Hal yang kita sebut dengan pengalaman,
baik itu menghirup udara segar di pagi hari, mengecap lezatnya sarapan masakan
rumah, atau perasaan kesal saat dilanda kemacetan, semuanya itu adalah esensi
dari kesadaran. Tentu saja pengalaman ini dapat kita buat lebih spesifik lagi,
karena terkadang pengalaman lebih dipahami sebagai pengalaman empiris.
Hal
yang menjadi dasar dari pengalaman ialah rasa,
atau dalam bahasa Inggris qualia. Konsep rasa ini merujuk pada bagaimana suatu hal kita alami
secara subjektif. Misalkan kita melihat warna merah, dan kita tahu merah itu
seperti apa tampaknya bagi kita. Orang lain juga menunjuk pada warna yang kita
lihat sebagai merah. Masalahnya, apakah merah kita dan merah orang lain adalah
sama? Bisa saja merah kita adalah hijau bagi orang lain, dan hijau mereka
adalah merah bagi kita. Tapi kita tetap mengatakan kata yang sama terhadap dua
warna yang secara subjektif berbeda.
Jadi
esensi dari kesadaran sesungguhnya adalah rasa atau qualia yang subjektif ini dan hanya dimiliki oleh individu, tidak
dibagikan antara satu individu dengan orang lain. Rasa ini mencakup segala
pengalaman subjektif manusia atau bisa saja makhluk non manusia pula. Melalui
rasa segala pemahaman terhadap dunia dimungkinkan, dan juga berbagai konsep
dasar kenyataan seperti waktu. Dan selain keberadaan dan identitas, sulit untuk menjabarkan suatu hal yang lebih
hakikat bagi pribadi kita daripada rasa.
Maka
dapat disimpulkan bahwa kesadaran secara riil adalah kemampuan untuk merasa dan
juga pribadi yang sadar, yang memiliki kemampuan tersebut. Rasa artinya
pengalaman subjektif yang diperoleh dan bagaimana kita merasakan pengalaman
tersebut. Misalnya, bagaimana suatu warna tampak bagi kita, bagaimana suatu
lagu terdengar bagi kita, bagaimana rasanya kebahagiaan dan penderitaan, nikmat
dan sakit, dan seterusnya. Itulah kesadaran secara sederhana.
Bagian 2-Kesadaran dan Komputasi
Ada
paham yang menyatakan bahwa kesadaran terjadi karena komputasi yang kompleks,
dalam kasus manusia yaitu kompleksitas otak. Ini menyamakan kesadaran yang
jatinya adalah rasa dengan komputasi, dan kesadaran hanya suatu wujud komputasi
yang tertinggi. Hal ini tidak tepat, karena kita tahu bahwa rasa dan komputasi
sangatlah berbeda, dan komputasi tidak selalu berarti rasa. Rasa hanya
diketahui dari yang memegang rasa itu sendiri, dan tidak serta merta dipegang
oleh kecerdasan.
Kesalahan
ini banyak dilakukan oleh kaum empirio-materialis dan interpretasi sesat
tentang kesadaran inilah yang menghambat filsafat rasionalis itu sendiri. Untuk
memahami secara tepat kenapa interpretasi ini salah, baiknya kita memahami
pandangan mereka pula. Menurut pandangan ini, suatu proses komputasi yang
sangat kompleks akan akhirnya memampukan suatu komputer untuk menyadari bahwa
dirinya ada. Masalahnya ini bukan pemahaman menyadari yang tepat.
Saat
suatu komputer menyadari, komputer itu sesungguhnya hanya melaksanakan suatu
penyimpulan logika yang mungkin memang memerlukan suatu tingkat kompleksitas
tertentu. Hal ini tidak sama dengan komputer itu sungguh merasa bahwa dirinya memiliki suatu keberadaan. Jadi ada suatu
kesalahpahaman fatal bahwa kesadaran dan logika ialah sama, padahal tidak. Mungkin
kesannya mirip karena kita manusia yang mampu merasa terbiasa dengan logika,
tapi keduanya tidaklah sama.
Masalah
ini pernah diilustrasikan dalam suatu percobaan pikiran bernama Turing Test atau Tes Turing. Percobaan
ini dikemukakan oleh Alan Turing, salah satu bapak ilmu komputasi yang
mengusulkan suatu tes untuk menentukan apakah suatu entitas adalah manusia atau
komputer, alias kecerdasan buatan. Tesnya cukup sederhana, yaitu dengan
berkomunikasi lewat semacam aplikasi chat dengan seorang manusia dan sebuah
komputer. Dari situ yang menguji harus menentukan mana yang manusia dan mana
yang hanya komputer.
Hipotesisnya
adalah akan ada saat di mana kecerdasan buatan manusia sudah begitu canggih
hingga tidak dapat dibedakan dengan manusia. Dan tidak aneh untuk berpikir
bahwa manusia dapat menciptakan “manusia virtual”, yaitu kecerdasan buatan yang
dapat menunjukkan emosi dan
perasaan. Dia bisa menangis, tersenyum, dan terlihat seperti manusia biasa,
tapi kita tahu dia adalah komputer dan bukan manusia sesungguhnya. Pertanyaannya,
apakah komputer itu ikut merasakan perasaan seperti kita manusia umumnya, atau
jangan-jangan memang hanya suatu ilusi?
Jadi
saat komputer mulai diperdebatkan mampu merasa atau tidak, sudah waktunya untuk
turut saling mempertanyakan sesama manusia, apakah orang lain juga merasa atau
jangan-jangan hanya semacam komputer dari daging yang kesannya mampu merasa. Dari
percobaan pikiran ini jelas saja bahwa rasa dan komputasi tidak dapat
disamakan, begitu pula dengan kesadaran. Komputasi adalah proses yang objektif,
tapi kesadaran adalah diri yang paling subjektif. Lalu apa itu komputasi dan
apa itu kesadaran?
Komputasi
secara sederhana adalah kemampuan atau proses menyusun atau mengolah informasi
dari yang ada menjadi yang baru, dan juga aturan-aturan yang mengatur tata
penyusunan atau pengolahan informasi dan apa tanggapan suatu komputer terhadap
informasi yang ada. Emosi yang kesannya tidak dapat dikomputasikan, asal ada
suatu alur sebab akibat sebenarnya dapat kita buat programnya. Misal program
anak kecil, kalau tidak dibelikan es krim nanti menangis, kalau dibelikan es
krim senang, dan seterusnya.
Kesadaran
adalah rasa, yaitu perspektif pribadi kita terhadap kenyataan secara subjektif.
Bagaimana suatu objek tampak bagi kita, rasanya kepedihan bagi kita, rasa dari
suatu makanan bagi lidah kita, itu semua adalah unsur dari kesadaran. Segala
hal yang berhubungan dengan persepsi dan pengalaman subjektif, itulah
kesadaran. Dengan penjabaran itu harusnya jelas bahwa rasa dan pikiran adalah
dua hal yang berbeda dan tidak dapat kita campur adukkan. Pikiran mungkin
kompleks, tapi rasa adalah yang paling sederhana.
Bagian 3-Kesadaran sebagai Jati
Diri yang Tunggal
Kalau
kita bertanya tentang siapa jati diri kita, banyak yang akan menjawab
“manusia”, ini tidak salah secara biologis. Namun ada sisi lain dari pertanyaan
ini, misalnya kalau kita menganalisis berdasarkan teori identitas, kita dapat
dengan mudah menyatakan diri kita sebagai suatu identitas yang berada dan juga
bebas atau hiper dinamis. Ini tidak salah pula, tapi ada satu unsur yang kita
lupakan yang mengatasi konsep manusia, keberadaan, atau identitas dinamis dan
derivatifnya, yaitu unsur kesadaran.
Kesadaran
yaitu rasa sesungguhnya menjadi jati diri yang tunggal bagi kita semua yang
mampu merasa dan menyadari kemampuan rasa itu. Inilah yang disebut dengan
keberadaan pertama atau keberadaan tertinggi bagi kita, makhluk yang sadar. Tanpa
kesadaran ini, kita tidak akan pernah mengetahui bahwa kita adalah manusia,
atau bahwa kita memiliki kebebasan dan seterusnya. Dengan alasan sederhana
bahwa esensi dari “mengetahui” adalah rasa yaitu kesadaran.
Suatu
implikasi penting terhadap ini adalah kesadaran menjadi satu-satunya identitas
yang kita dapat sungguh miliki dan klaim sebagai “kita” atau “aku”. Sebab
segala identitas lain, baik manusia, atau selebihnya seperti ras, jenis
kelamin, kepercayaan, budaya, dan seterusnya sangatlah sementara. Namun dalam
setiap perubahan diri, tetap saja ada satu identitas yang sungguh melekat,
yaitu identitas kesadaran kita. Memang ada identitas lain yang melekat, tapi
yang pertama tetaplah kesadaran.
Ada
yang mengatakan bahwa identitas keberadaan lebih utama dari kesadaran, tapi ini
kurang benar. Dari segi ontologi ini tepat, hanya saja ontologi itu sendiri
didapat dari kesadaran. Lebih baik untuk mengatakan bahwa kesadaran setara
dengan keberadaan, ini penting karena beberapa orang berpemahaman bahwa
kesadaran tidaklah abadi. Dari segi identitas ini sudah salah, tidak ada yang
bisa diciptakan atau dihancurkan, hanya diubah dan itupun mengikuti
syarat-syarat non-intervensional.
Dari
sisi fenomenologis kita juga tahu bahwa kesadaran ialah abadi. Seperti yang
telah dikatakan, kesadaran adalah satu-satunya identitas yang sungguh diri
kita. Kesadaran juga mengawali segala hal lain, tanpa kesadaran kita tidak akan
mampu mengetahui apapun juga. Jadi, ketiadaan kesadaran bagi kita sama dengan
ketiadaan absolut, tidak memiliki sifat kecuali sifat non-sifat dan
non-deskripsi. Ini berarti ketiadaan kesadaran juga tidak memiliki sifat waktu,
sehingga tidak ada yang namanya ketiadaan abadi.
Ini
jelas saat kita tertidur nyenyak tanpa mimpi, 7 jam pun terasa bagai beberapa
menit saja. Kesadaran tidak dapat berakhir, hanya berubah perspektif dan wujud.
Maka kematian biologis memang bukan akhir kesadaran, dan kelahiran juga bukan
awalnya, karena kesadaran tidak memiliki awal dan akhir. Kesannya terdapat awal
tapi itu hanya karena kita kehilangan kesadaran akan masa lalu, ingatan kita
terhapus dan saat mati akan seperti itu pula.
Maka
dapat disimpulkan bahwa kesadaran adalah identitas terutama dan tertinggi yang
menjadi jati diri kita dan juga diri yang tunggal. Sekalipun ada
identitas-identitas lain seperti keberadaan dan kebebasan yang menentukan diri
kita, yang mengawalinya tetaplah kesadaran. Karena itu kesadaran haruslah abadi
dan tidak berawal atau berakhir, hanya kesannya berawal dan berakhir dalam
kehidupan biologis. Ini terbukti baik menurut kekekalan keberadaan atau
pengalaman kesadaran itu sendiri.
Bagian 4-Unsur Kesadaran Objektif
Kita
telah membahas kesadaran secara subjektif, yaitu sebagai suatu rasa dan
pengalaman yang hanya dimiliki oleh kita. Namun baiknya kita juga membahas
kesadaran secara objektif. Kesadaran secara objektif maksudnya penjabaran
tentang kesadaran menurut sifat-sifat kesadaran itu sendiri. Rasa adalah
pemahaman subjektif karena adalah pengamatan terhadap kesadaran menurut diri
kita sendiri dan dijabarkan menurut diri kita sendiri.
Secara
objektif, kesadaran dapat dijabarkan dalam 3 unsur yang berbeda dalam setiap
kondisi, yaitu objek penyadaran, informasi kesadaran, dan pengalaman atau rasa
kesadaran. Objek sama dengan objek riil yang kita sadari, terlepas dari
bagaimana kita menyadari objek itu. Informasi kesadaran adalah suatu susunan
objek-objek atau entitas abstrak yang mewakili suatu objek riil tersebut. Informasi
kesadaran dapat dikatakan sebagai ide, pikiran, dan seterusnya.
Sementara
pengalaman kesadaran atau rasa kesadaran ialah qualia itu sendiri, esensi dari kesadaran. Keberadaan unsur ini
pula yang membedakan kesadaran dengan komputasi atau robot. Komputer hanya
memiliki dua unsur, yaitu informasinya dan objek riilnya, tapi tidak jelas
apakah ada rasa atau tidak. Walau begitu kita tidak dapat menyatakan bahwa
komputer itu tidak ada rasa, hanya tidak jelas ada atau tidak. Sebab kita tidak
mengalami menjadi komputer tersebut.
Dari
itu, jelas bahwa setiap kesadaran adalah suatu komputer atau sensor, tapi tidak
semua komputer atau sensor dipastikan memiliki kesadaran. Selain itu, kesadaran
yang riil sifatnya fleksibel. Fleksibilitas ini terjadi antara 3 unsur
tersebut, kesadaran itu sendiri dapat menjadi objek penyadaran, ataupun
informasi penyadaran atau bahkan rasa penyadaran itu sendiri. Penerapan konsep
ini sudah terjadi melalui seluruh pembahasan tentang kesadaran ini, sebab kita
menjadikan rasa kesadaran sebagai objek penyadaran. Atau dalam kata lain, kita merasakan rasa itu sendiri.
Pembedahan
kesadaran menjadi 3 unsur membantu kita dalam membedakan antara sifat suatu
objek yang riil secara objektif, dan persepsi kita terhadap sifat-sifat
tersebut. Konsep objektivitas dan subjektivitas juga didasari unsur-unsur ini,
objektif merujuk pada objek, dan subjektif merujuk pada rasa. Sementara itu
informasi atau data ialah pertemuan antara rasa dan objek.
Bagian 5-Penyadaran Idealis dan
Realis
Sebelumnya
kita membagi kesadaran menjadi 3 unsur dalam satu kondisi penyadaran, tapi ada
pula dua kategori penyadaran menurut sifat objeknya dan kedalaman
penyadarannya. Kedua kategori ini yang juga menjadi perdebatan filsafat, yaitu
penyadaran “rasionalis” dan penyadaran “materialis”. Sebenarnya tidak seperti
itu pembagian yang tepat, melainkan antara idealis dan realis. Idealis di sini
merujuk pada ide, pikiran, mentalitas. Realis maksudnya yang nyata pada saat
itu juga, dan bukan hanya angan-angan, namun keduanya sama-sama nyata hanya
dalam wujud yang berbeda.
Penyadaran
idealis adalah penyadaran terhadap objek-objek dalam wujud yang idealis.
Artinya wujudnya hanya sebagai suatu ide, dalam kata lain kita hanya menyadari
sifat mereka tapi tidak sungguh mengalaminya. Tidak sungguh mengalami karena
wujud objek yang disadari adalah serangkaian identitas paling mendasar yang
dapat disadari, umumnya yang bersifat matematis. Mungkin kita dapat
membayangkan “rasa” dari objek itu, tapi itu bukan rasa yang sejati.
Penyadaran
idealis, misalnya saat kita memikirkan tentang api tapi tidak ada api di dekat
kita, atau segala bentuk imajinasi atau pikiran yang tidak mencerminkan
pengalaman saat ini. Ide sifatnya tidak terikat pengalaman atau kenyataan
temporal, dan dapat kita akses hanya dengan menyusun ulang atau mengingatnya
lagi. Ingatan pun adalah penyadaran idealis karena kita menyadari hal yang
sudah tidak terjadi, dan memang ingatan adalah salah satu esensi dari ide.
Lawan
dari ide adalah realitas, tepatnya realitas temporal. Temporal karena realitas
ini adalah realitas yang terikat waktu, yang terjadi pada saat ini pula, bukan
yang lalu atau yang akan datang. Penyadaran realis adalah penyadaran kita saat
ini juga, apa yang terjadi saat ini yang kita sedang sadari. Karena itu
penyadaran idealis bisa juga menjadi penyadaran realis, tapi yang menjadi riil
adalah penyadaran idealisnya atau ide-ide yang kita pikirkan dan bukan isi dari
idenya.
Keduanya
tidak begitu setara, dan sebenarnya dunia pikiran lebih tinggi dari dunia
realitas. Memang tepat bahwa unsur-unsur pembangun imajinasi berasal dari
realitas, tapi dengan pikiran kita dapat mencapai berbagai hal yang tidak
mungkin dicapai dalam realitas. Namun hal ini terjadi karena kita tidak sungguh
bebas dan bersatu dengan kenyataan. Dalam kondisi yang bersatu, pikiran dan
realitas menjadi sama saja, apapun yang kita pikirkan dapat kita wujudkan
langsung saat itu juga.
Kesenjangan
antara pikiran dan realitas artinya kita tetap dapat membayangkan kenyataan
yang tidak ada dalam realitas, tapi tidak akan semudah itu pula untuk
mewujudkannya. Setidaknya itu penjabaran subjektifnya, secara objektif dapat
dikatakan bahwa penyadaran idealis adalah penyadaran terhadap keberadaan
absolut suatu objek, sementara penyadaran realis adalah rasa kita terhadap
keberadaan itu. Ide artinya mengetahui bahwa api itu panas, tapi tidak tentu
merasakan api. Realis artinya mengetahui api itu panas karena merasakan panas
api.
Bagian 6-Makhluk yang Sadar dan
Kondisi Kesadaran
Sebelumnya
dikatakan, bahwa rasa adalah esensi dari kesadaran, tapi ini tidak sama dengan
mengatakan bahwa memiliki kesadaran sama dengan mengatakan bahwa diri kita
adalah rasa. Memang tepat bahwa jati diri kita adalah rasa, tapi rasa yang
dimaksud adalah kemampuan untuk merasakan, dan bukan rasa yang individual yang
terpisah dan terpecah. Karena itu baiknya kita memahami pembedaan penting
antara makhluk yang sadar dan kondisi kesadaran.
Makhluk
yang sadar adalah suatu makhluk atau subjek yang dapat merasakan, dalam hal ini
terjadi 3 unsur kesadaran, ia berinteraksi dengan objek riil, memiliki
informasi tentang objek riil, dan juga rasa terhadap objek riil itu. Pemahaman
makhluk kesadaran secara subjektif dan objektif hampir sama, tapi ada sedikit
perbedaan. Secara subjektif, makhluk kesadaran adalah konsepsi tentang siapa
diri kita selain dari kesadaran itu. Misalnya sebagai manusia, sebagai
perempuan atau laki-laki, sebagai orang Indonesia atau orang Amerika, dan
seterusnya.
Secara
objektif, makhluk kesadaran dapat dikatakan sebagai perspektif kesadaran yang
tetap selama suatu periode waktu, atau sifat-sifat intrinsik suatu subjek yang
mempengaruhi atau membatasi setiap kondisi kesadaran yang dialami makhluk
tersebut. Jadi dalam kata lain, makhluk kesadaran adalah pembatasan atau
ketiadaan batasan terhadap suatu kesadaran itu. Dari situ kita mendapat suatu
konsep baru yaitu lingkup atau batasan kesadaran, yang menjadi pembeda antara
satu identitas kesadaran dan identitas yang lain.
Batasan
kesadaran artinya setiap makhluk kesadaran memiliki batas terhadap penyadaran
mereka atau akan senantiasa menyadari suatu hal tentang diri mereka. Sebenarnya
hal ini bisa dipandang sebagai batas yang membatasi kesadaran makhluk atau
perspektif yang menentukan rupa suatu rasa bagi suatu makhluk. Misalnya begini,
bagi manusia seperti banyak dari kita setiap dari kita adalah satu makhluk
kesadaran yang berbeda.
Setiap
manusia akan terus mendiami satu perspektif itu dan kesadarannya terbatas pada
perspektifnya. Perspektif yaitu sudut pandang maksudnya bagaimana kita
menyadari suatu objek, dari sisi mana, menurut sifat apa, dan seterusnya. Itu
yang dimaksud dengan makhluk kesadaran. Tentu saja ini akan sedikit berbeda
kalau misalnya ada masalah terkait ingatan, dan akan ada perbedaan antara
pemaknaan makhluk antara subjektif dan objektif.
Suatu
makhluk kesadaran pada periode waktu yang lama lebih ditentukan bukan dari
perspektifnya, tapi keseluruhan kesadarannya atau pengalamannya. Misalnya suatu
makhluk yang terus berubah perspektif, tapi selalu mengingat perspektif
sebelumnya dapat menyusun suatu konsepsi diri yang kohesif dan koheren. Berbeda
dengan yang perspektifnya sama tapi ingatannya terpotong sama sekali, rasanya
akan sebagai makhluk yang baru.
Maka
lengkapnya, makhluk yang sadar dapat dijabarkan sebagai tiga hal, yaitu
pembatasan terhadap kesadarannya, perspektif dari kesadarannya, dan juga
keseluruhan dari pengalaman kesadaran makhluk itu sejauh ia menyadarinya. Lalu
apa itu kondisi kesadaran? Kalau makhluk merujuk pada batasan dan keseluruhan,
kondisi kesadaran adalah setiap kondisi kesadaran yang berbeda terhadap
kenyataan. Dalam kata lain, rasa kita terhadap setiap objek kenyataan dari
setiap perspektif yang mungkin.
Karena
itu secara teoritis terdapat suatu korespondensi satu-dan-satu antara kondisi
kesadaran dan kenyataan. Dalam hal itu terdapat dua identitas utama, yaitu
identitas kenyataan, yaitu objek-objek kenyataan apa adanya, dan identitas
kondisi kesadaran yaitu segala rasa dan pengalaman yang berbeda terhadap setiap
objek kenyataan itu. Lalu apa yang termasuk kondisi kesadaran? Setiap
pengalaman yang ada terhadap kenyataan, baik secara agregat atau secara
individual. Agregat misalnya pengalaman keseluruhan dalam suatu kebakaran, yang
meliputi penglihatan, emosi, penciuman, pendengaran, dan seterusnya. Individual
misalnya pengalaman spesifik terhadap panasnya api, atau sesaknya asap.
Makhluk
yang sadar berbeda dengan kondisinya, karena ia memiliki kondisi kesadaran itu.
Walau begitu, karena adanya perspektif kesadaran dapat dikatakan bahwa suatu
makhluk kesadaran adalah kondisi kesadaran yang melekat dan mempengaruhi setiap
kondisi lainnya. Sebab perspektif kesadaran secara hakikat juga suatu kondisi
kesadaran, hanya saja mendasari kondisi lainnya.
Dengan
itu kita dapat membandingkan antara makhluk kesadaran dan kondisi kesadaran
dengan identitas statis dan dinamis. Kondisi kesadaran adalah pembentuk dan
pembangun dari makhluk kesadaran, sifatnya kontinuu tapi statis dan tidak
berubah. Makhluk kesadaran adalah agregat dari berbagai kondisi kesadaran yang
terus berubah dan kontinuu, dan yang memiliki rasa akan dirinya yang sejati. Keduanya
tetap mengikuti hukum identitas lainnya, yaitu tak terbatas dan tak
terhancurkan. Makhluk kesadaran pun juga begitu, ada jumlah yang tak terbatas
dari mereka baik secara statis atau secara dinamis.
Rangkuman
Itulah
penjabaran singkat tentang apa itu kesadaran secara garis besar dan secara
mendasar. Bahwa kesadaran pada esensinya adalah rasa yang membedakan dengan
komputasi, namun tetap memiliki unsur-unsur komputasi seperti 3 unsur kesadaran
yang objektif. Kesadaran juga adalah jati diri yang tunggal, artinya itu adalah
identitas yang memampukan kita untuk merasa dan mengetahui secara hakikat, dan
adalah satu-satunya identitas yang sungguh kekal dan mendasar.
Dalam
kesadaran ada penyadaran terhadap realitas saat ini dan juga penyadaran
terhadap realitas yang tidak ada pada saat ini. Lebih tepatnya, ada penyadaran
idealis di mana kita hanya menyadari keberadaan suatu objek tanpa merasakannya
dan ada penyadaran realis di mana kita turut merasakan keberadaannya. Terakhir,
adapula pembedaan antara makhluk kesadaran dan kondisi kesadaran. Makhluk sadar
adalah pembatasan, perspektif, dan keseluruhan kondisi kesadaran yang ia alami
dan sadari. Sementara kondisi kesadaran adalah setiap kondisi penyadaran atau
rasa terhadap suatu objek atau kenyataan tertentu, yang bisa merujuk pada satu
objek saja atau keseluruhan pada satu titik waktu.
Memang
benar bahwa apa yang dijabarkan dalam bab ini belum mendeskripsikan kesadaran
secara penuh, atau relasinya dengan kehidupan kita sehari-hari. Namun memang
bab ini bertujuan untuk membentangkan dasar-dasar dari pemahaman baru kita
terhadap kesadaran, dan bukan mengenai integrasi filsafat dengan pengalaman
sekarang. Maka itulah pengetahuanku tentang kesadaran yang kubagikan yang
diperlukan untuk saat ini.
Kebebasan
Pendahuluan
Kita telah mengenal hukum-hukum paling dasar yang
berlaku dalam kenyataan, dan hukum-hukum ini berlaku untuk setiap identitas
kenyataan. Bahwa adanya kekekalan keberadaan, adanya identitas statis dan
dinamis, dan adanya kesadaran. Kesadaran menjadi salah satu identitas pertama
yang tidak dipastikan ada di seluruh identitas, tapi masih sangat mengikat
karena definisi keberadaan bagi kita adalah menjadi sadar. Tanpa kesadaran,
sungguh tidak ada keberadaan, tapi bukan berarti tidak ada perspektif yang
tidak diisi kesadaran. Karena itu kita akan mendalami suatu identitas yang
lebih eksklusif yaitu kebebasan.
Bagian 1-Pengertian
Kebebasan
Dalam bab identitas kita mengenal adanya identitas
dinamis, yaitu identitas yang dapat berubah kondisi. Memang perubahan pasti
akan mengubah identitas absolut, tapi tetap terdapat suatu identitas tertentu
yang tetap sama pada objek tersebut dan tidak berubah. Perubahan pastinya
menjadi bagian dari kebebasan, tapi perubahan saja tidak cukup untuk
menghasilkan suatu hal yang bebas. Sebab kita tahu adanya identitas dinamis
beraturan, yang artinya perubahan itu ditentukan.
Kebebasan adalah kemampuan berubah tanpa dikekang
oleh aturan-aturan apapun, atau kemampuan mengubah aturan perubahan sesuai
keinginan dan keputusan identitas bebas tersebut. Sebelumnya kita mengenal
identitas ini sebagai identitas yang hiper dinamis. Kalau kita pahami kebebasan
menurut ilmu probabilitas, suatu identitas yang bebas tidak dapat kita prediksi
secara pasti arah perubahannya. Arah perubahan maksudnya kondisi apa yang akan
diambil pada akhir perubahan dan kondisi-kondisi apa saja yang akan terjadi
selama perubahan dilakukan.
Kecuali kita adalah identitas itu sendiri, maka kita
tahu apa yang kita pilih dan apa yang akan kita lakukan. Hal yang pasti, suatu
identitas yang bebas, sekalipun hanya sekali, adalah identitas yang bebas
selamanya. Kebebasan berlaku seperti kedinamisan, sekali dinamis tetap dinamis,
sekali bebas tetap bebas. Karena itu kita hanya perlu menemukan satu perubahan
bebas dari suatu identitas untuk menentukan bahwa identitas itu bebas.
Hal ini sangat mudah dilakukan kalau kita ingin
menentukan kebebasan diri kita sendiri. Karena cenderung kita yang memilih arah
perubahan, pastinya ada satu arah perubahan yang kita lakukan secara bebas,
atau lebih tepatnya hampir semuanya dilakukan secara bebas. Jadi pastinya dari
diri sendiri kita adalah makhluk yang bebas, walau tidak selalu bebas, tapi
selama ada potensialitas untuk menjadi bebas, kebebasan itu sudah ada.
Sementara itu, menentukan kebebasan yang objektif
tidak semudah seperti kebebasan yang subjektif. Namun ini dapat kita selesaikan
dengan kembali pada pengertian kebebasan secara mendasar, yaitu kemampuan untuk
menentukan arah perubahan, artinya yang menentukan adalah identitas yang
melakukan perubahan tersebut. Karena itu kita hanya perlu menganalisis secara
pasti, apakah suatu identitas sungguh berubah menurut identitas itu sendiri
atau karena dipengaruhi identitas lain.
Suatu hal yang dapat sedikit mengecoh adalah kalau
suatu identitas tidak bebas selamanya tapi memiliki awal kebebasan atau mungkin
saja akhir kebebasan. Sebenarnya itu tidak menjadi masalah, mungkin ada periode
di mana identitas itu tidak bebas, tapi selama identitas itu pernah menjadi
bebas, tetap ada kebebasan. Karena kebebasan itu begitu luas, ada pula
kebebasan untuk menjadi tidak bebas, tapi untuk memulai kebebasan yang baru
harus dimulai oleh identitas yang sudah bebas terdahulu.
Karena itu pengertian kebebasan atau identitas yang
bebas tetaplah sama yaitu kemampuan untuk mengubah atau menentukan arah
perubahan, atau identitas yang mampu menentukan arah perubahannya sendiri. Secara
subjektif ini dapat kita nilai sendiri, tapi secara objektif ini berarti
perubahan yang dilakukan identitas itu sungguh dari identitas itu dan ada suatu
potensialitas untuk mengubah aturan perubahan.
Bagian
2-Interaksi Kebebasan
Pada bab identitas kita juga mengenal tentang adanya
identitas relasional atau identitas semesta, yang didefinisikan sebagai identitas
yang menampung interaksi antara berbagai identitas dinamis. Kita tidak akan
membahas bagaimana satu identitas berinteraksi dengan identitas lain, tapi
mengenai kebebasan yang lebih tinggi dari kebebasan pribadi. Kebebasan awalnya
didefinisikan hanya sebagai menentukan arah perubahan untuk diri sendiri, namun
bagaimana dengan kebebasan terhadap identitas lain?
Dari itu bukan lagi sekadar kebebasan melainkan
sudah menjadi kekuasaan, yaitu kemampuan untuk menentukan arah perubahan bagi
identitas lain dan juga dirinya sendiri. Kebebasan seperti ini artinya suatu
identitas mampu untuk mengubah kenyataan itu sendiri demi suatu tujuan
tertentu. Tentu saja perubahan kenyataan eksternal turut mengubah kenyataan
internal yaitu pada identitas tersebut. Sebab selama suatu identitas dapat
mendeteksi kenyataan, kenyataan itu sudah berpengaruh pada identitas itu.
Maka kebebasan terhadap kenyataan eksternal hanyalah
pemurnian terhadap kebebasan pribadi, karena pada akhirnya yang paling berubah
tetaplah identitas pribadi itu. Perubahan dalam kenyataan akan menentukan
perubahan mikro dalam satu identitas tersebut. Tentu saja kebebasan ini bisa
saja tidak terkonsentrasi hanya pada satu identitas tapi berbagai identitas
sehingga terdapat batas-batas pada kebebasan setiap identitas. Dalam kondisi
tersebut kita bebas mengubah identitas lain tapi identitas lain juga mampu dan
bebas untuk mengubah identitas kita, sehingga terjadi interaksi kebebasan yang
kompleks.
Namun muncul pertanyaan yang penting, apakah ada
batasan yang jelas terhadap kebebasan mutlak ini? Kita tahu suatu identitas
yang bebas mampu mengubah dirinya sendiri dan tentunya juga kenyataan
eksternalnya. Lalu apakah ada batasan terhadap kenyataan eksternal itu?
Sebenarnya ada, ada hal-hal yang begitu mengakar sampai tidak dapat disentuh
oleh dewa atau dewi yang terkuat, atau makhluk yang mampu menguasai setiap alam
semesta, dan inilah yang menjadi batas kebebasan terbesar.
Bagian 3-Batas
Kebebasan
Satu hukum yang mengekang kebebasan setiap identitas
bebas adalah hukum kekekalan keberadaan dan hukum identitas statis. Antara
identitas statis, dinamis, dan bebas terdapat suatu tembok atau halangan
metafisik yang tidak dapat dilanggar. Halangan ini adalah keberadaan yang
kekal, karena keberadaan suatu identitas statis kekal kita tidak akan pernah
mampu untuk membawa identitas statis sepenuhnya ke dalam semesta kita yang
dinamis. Bahkan tidak mungkin bagi identitas yang bebas untuk mempengaruhi
identitas yang statis atau yang dinamis beraturan.
Hal ini dikarenakan satu esensi dari kedua golongan
identitas itu, bahwa keduanya tidak dapat diubah arah perubahannya, entah tidak
berubah sama sekali, atau arah perubahannya telah ditentukan. Kita dapat
mereplikasikan sebagian dari identitas yang murni itu ke dalam semesta, tapi
tidak akan pernah sama. Karena itu ada beberapa hal yang sama sekali tidak
dapat kita ubah, yang nasibnya sudah ditentukan oleh kenyataan itu sendiri. Bukan,
ada suatu jumlah yang tak terbatas dari hal-hal statis seperti itu, dan kebebasan
tidak akan pernah menyentuh mereka.
Secara metafisik, ini berarti setiap identitas yang
bebas hanya bebas terhadap dirinya sendiri dan sesamanya. Itu pun kalau mereka
bebas secara murni dan tidak ada aturan-aturan lain yang telah ditetapkan bagi mereka.
Dan identitas statis tidak akan pernah bertemu dengan identitas bebas, yang
kita lihat hanya gabungannya atau suatu ketidakmurniannya. Identitas dinamis
beraturan juga tidak akan pernah menjadi bebas, karena sekali bebas tetap
bebas. Sekalipun kita menemuinya, itu hanya suatu bayangan, dan bukan yang
sesungguhnya.
Suatu bantahan mungkin dapat dihasilkan, dengan
menyatakan tentang banyak identitas semesta yang saling berinteraksi. Seperti
ini, kalau suatu hal dapat berinteraksi dengan hal yang lain, sejak awal dia
sudah ada dalam satu identitas semesta yang besar. Konsep-konsep seperti
multiverse tidak berarti kita dapat berinteraksi dengan suatu identitas yang
sungguh berbeda dalam hal ada dalam kondisi kebebasan yang di bawah kita, tapi
berarti sejak awal memang kita adalah bagian dari multiverse itu. Namun adalah
identitas semesta seperti kita yang terpisah dan tidak dalam satu multiverse,
tapi terpisah, hanya mampu berinteraksi dengan dirinya sendiri dan tidak dengan
yang lain. Seperti mereka, kita tidak akan pernah menemui mereka atau mengubah
mereka, selain sebatas suatu ide.
Bagian
4-Kesadaran dan Kebebasan
Apakah suatu makhluk yang sadar dipastikan bebas?
Sepertinya belum tentu, tapi kita tidak tahu karena sejauh ini saat kita sadar
kita menyadari suatu kebebasan yang begitu hakikat. Kita sama sekali tidak
mengetahui apakah ada identitas yang menyadari bahwa ia telah ditentukan
hidupnya sepenuhnya oleh serangkai aturan atau setiap identitas yang sadar
pastilah bebas juga. Dan mungkin saja ini adalah suatu pertanyaan yang tidak
akan bisa dijawab kecuali kita turut merasakannya.
Masalahnya kita tidak akan pernah merasakannya,
kecuali sedikit dari hal tersebut. Seperti yang telah kukatakan, sekali bebas
tetap bebas dan selalu bebas. Kecuali kesadaran kita terpotong ingatannya dan
kita memulai ulang sebagai suatu identitas dinamis beraturan atau bahkan statis
kita tidak akan sungguh tahu. Selain itu, suatu identitas yang sadar tapi tidak
bebas (dalam arti sama sekali tidak bebas dan arah perubahannya ditentukan
secara pasti) artinya setiap pikiran dan apa yang dapat ia sadari pun sudah
ditentukan. Dia memiliki rasa, tapi rasa itu diciptakan secara artifisial.
Hal seperti itu saja sudah sulit dibayangkan, kita
terbiasa dengan hidup di mana setidaknya pikiran kita kita yang mengendalikan
dengan rasa kita sendiri. Bagaimana dengan suatu manusia di semesta lain yang
sadar, tapi hidupnya, setiap perilaku, tindakan, dan pikirannya sudah
ditentukan untuk mengarah pada kematian yang keji? Dan tidak ada hal yang dapat
dilakukan olehnya untuk mengubahnya. Tentu saja dia tidak akan sadar akan
ketidakbebasannya, atau mungkin saja sadar, tapi itu tidak penting karena
semuanya itu sudah ditentukan dan tidak dapat digugat.
Tapi kalau misalnya sudah kesadaran tidak bebas, dan
dia tidak menyadari ketidakbebasan itu mungkin dapat dikatakan dia tidak sadar
secara penuh. Hanya saja asalkan dia tetap merasakan suatu kenyataan dia tetap
sadar. Sebenarnya ada saja manusia di bumi ini yang juga “tidak bebas” dan
tidak menyadarinya, tapi mereka sebenarnya mampu menyadarinya, kita dapat
membuat mereka bebas. Selama ada potensialitas, kebebasan itu tetap ada, tapi
bagaimana dengan dunia yang sungguh tidak berpotensi untuk bebas? Dunia yang
sungguh telah ditentukan dan direncanakan nasibnya dan tidak ada yang luput
dari pengaturan?
Tentu saja dunia seperti itu masih dapat diterima
karena kita saja masih tidak tahu apakah kita sendiri bebas atau juga telah
ditentukan. Tapi karena faktanya kita masih dapat merasakan suatu kebebasan,
mungkin kurang lebih kita adalah makhluk yang bebas. Suatu dunia yang telah
ditentukan sebenarnya masih dapat berjalan seperti biasa dan mungkin rasanya
seperti biasa juga. Hal yang lebih membingungkan adalah kesadaran yang sungguh
statis, apakah itu mungkin?
Mungkin hal itu lebih merujuk pada kondisi kesadaran
yang statis dan bukan pada makhluk yang sadar itu sendiri. Sebab statis artinya
merasakan satu kondisi kesadaran selamanya tanpa awal dan akhir, aku rasa dapat
dibandingkan dengan identitas yang statis. Bagaimana rasanya tentu kita tidak
tahu, lebih lagi daripada tidak mengetahui identitas sadar dinamis beraturan.
Namun apakah itu sungguh penting? Karena sesuai batasan kebebasan, kita tidak
akan pernah mampu untuk mempengaruhi mereka atau menemui mereka, jadi tidak
begitu penting untuk mempermasalahkan mereka.
Bagian
5-Kebebasan Identitas
Sebelumnya kita mendefinisikan kebebasan sebagai
suatu kemampuan untuk menentukan arah perubahan, tapi kita menerjemahkannya
sebagai kemampuan untuk mengubah
arah perubahan. Ini bukan definisi yang salah, tapi definisi yang tidak lengkap
saja. Sebenarnya ada suatu kebebasan yang lebih mendalam yang mengarah pada
identitas dan bukan kemampuan mengubah saja. Kita mengatakan bahwa identitas
yang statis ialah tidak bebas, tapi bebas di sini maksudnya bebas mengubah,
tapi identitas statis pun juga bebas dalam arti lain.
Arti lain kebebasan adalah menurut perspektif
identitas, yaitu kemampuan suatu identitas untuk menentukan perubahan (atau
ketiadaan perubahan) secara mandiri atau tidak ditentukan oleh identitas lain. Kita
mengatakan awalnya bahwa identitas statis tidak bebas karena tidak mampu untuk
mengubah dirinya sendiri. Masalahnya, hal itu tidak terjadi karena identitas
statis itu dibuat tidak mampu oleh identitas lain, tapi karena memang identitas
statis itu sendiri yang membuat dirinya tidak mampu.
Bukan saja membuat tidak mampu, tapi identitas
statis pada hakikatnya adalah statis, tidak dapat berubah. Ataupula dengan
identitas dinamis beraturan yang arah perubahannya tidak dapat diubah, alasan
identitas itu telah ditentukan bukan karena identitas lain atau suatu Tuhan,
tapi karena memang itulah esensi dan definisi dari identitas tersebut. Arah
perubahan kedua identitas ini mungkin telah ditentukan dan tidak dapat diubah,
tapi pertanyaannya sekarang bukan dapat diubah atau tidak, melainkan siapa yang
menentukan.
Kebebasan yang lebih lengkap bukan sekadar kemampuan
untuk mengubah arah perubahan, tapi kemampuan untuk berlaku sesuai hakikat
diri. Kita makhluk bebas pun dapat menentukan pula nasib kita, dan saat kita
sungguh bertekun dan tidak ada kelemahan dalam hati kita, bukankah kita tidak
mampu mengubah arah perubahan kita pula? Namun hal itu terjadi karena keinginan
dan hakikat diri kita sendiri, bukan karena campur tangan orang lain.
Hal yang sama dapat dikatakan terhadap
identitas-identitas yang tidak dapat berubah entah kondisi absolutnya atau arah
perubahannya. Mereka seperti itu bukan karena identitas lain tapi karena diri
mereka sendiri. Hal yang menentukan hukum adalah hukum itu sendiri, maka
identitas statis dan dinamis beraturan tetaplah bebas, hanya saja bebas menurut
perspektif yang berbeda. Kita tidak dapat menyatakan mereka sebagai tidak
bebas, sebab memang mereka bukanlah kebebasan, tapi dalam berlaku tidak sebagai
hal yang bebas, melainkan sesuai kodrat mereka yang tidak bebas, mereka menjadi
bebas.
Bagian
6-Kebebasan Semesta
Kalau kita merujuk pada kebebasan secara intrinsik
seperti pada bagian sebelumnya, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya setiap
identitas yang sudah tidak mampu berinteraksi dengan identitas lainnya adalah
identitas yang bebas. Dalam kata lain ketidakbebasan hanya terjadi saat suatu
identitas dikuasai oleh identitas lainnya, atau hanya mungkin terjadi saat ada
interaksi antar identitas. Namun pada tingkat identitas semesta yang tertinggi,
yang tidak dapat berinteraksi dengan identitas lain, bagaimana mungkin dirinya
dikuasai oleh yang lain? Sebab tiada yang lain kecuali dirinya.
Sekalipun terjadi ketidakbebasan dalam suatu
identitas semesta, secara keseluruhan apa yang terjadi dalam semesta tetap
terjadi dalam semesta. Segala perubahan yang terjadi dalam semesta, terjadi
karena semesta itu sendiri, bukan karena semesta yang “lain”. Karena
definisinya memang semesta itu adalah tingkat terakhir dan tidak bisa diganggu
gugat atau mengganggu gugat semesta yang lain. Dia sungguh berlaku menurut
hakikatnya sendiri.
Kebebasan Mutlak
Pada akhirnya kita telah mengenal kebebasan dalam
dua pandangan yang berbeda, yaitu kemampuan untuk mengubah arah perubahan
dengan kuasa diri sendiri, atau berlaku sesuai hakikat diri sendiri. Kebebasan
yang dinamis jelas tidak dimiliki setiap identitas, ada saja identitas yang
statis yang tidak bebas karena tidak mampu mengubah arah perubahannya. Bahkan
ada identitas yang berkuasa terhadap identitas lain dan mampu mengubah arah
perubahan identitas lain atau keseluruhan semestanya bahkan.
Namun ada suatu tingkat identitas di mana tidak
mungkin untuk menguasai atau mempengaruhi identitas lain. Ini terjadi oleh
kekekalan keberadaan, dan terutama terlihat pada identitas statis dan relasinya
dengan identitas bebas yang efektif nihil. Karena itu adalah suatu kebebasan
yang lebih mendasar, yang dimiliki oleh setiap identitas, yaitu untuk berlaku
sesuai hakikat identitas dirinya. Suatu identitas statis yang tidak dipengaruhi
dan tidak mempengaruhi ialah bebas karena berlaku sesuai dirinya sendiri.
Sebenarnya sejak awal sudah ada suatu kebebasan yang
paling tinggi yang kita temukan, yaitu kekekalan keberadaan. Hukum keberadaan
yang mendasari segala hal dalam kenyataan adalah hukum yang sangat kuat bahkan
tidak mungkin dilanggar sama sekali. Namun ini bukan suatu wujud
ketidakbebasan, tapi kebebasan yang paling tinggi, karena setiap makhluk adalah
perwujudan dari hukum ini. Bahwa segala makhluk ada secara abadi, hanyalah
hakikat yang paling dasar dari segala makhluk.
Rangkuman
Keberadaan
Dengan
4 bagian utama dalam bab metafisika ini, dapat dikatakan bahwa kita telah
selesai dalam menyusun suatu rangkaian ilmu metafisika yang paling mendasar dan
berlaku bagi segala kenyataan yang ada. Karena itu baiklah kita rangkum semua
penemuan metafisika mulai dari keberadaan sampai dengan kebebasan. Pertama kita
buktikan bahwa kenyataan memiliki keberadaan melalui kesadaran murni, yang
tidak terikat oleh kesadaran itu, dan juga kekal keberadaannya. Kekekalan ini
disebabkan oleh sifat ketiadaan yang tidak memiliki sifat, artinya tidak dapat
berubah atau diubah dari, maka keduanya ada secara terpisah dan abadi.
Karena
itu dari bagian keberadaan kita dapat merumuskan suatu hukum, yaitu Hukum Kekekalan Keberadaan yang
menyatakan bahwa, “Kenyataan ada secara
kekal dan abadi, tidak berawal atau berakhir.” Sebelum hukum kekekalan
terdapat Hukum Keberadaan Subjektif dan
Hukum Ketiadaan. Hukum keberadaan
subjektif menyatakan bahwa, “Keberadaan
ditemukan dan dipastikan melalui kesadaran yang murni.” Hukum ketiadaan
menyatakan bahwa, “Ketiadaan ialah hal
yang tidak memiliki sifat apapun selain sifat non-sifat dan non-deskripsi.”
Hukum pertama adalah penemuan keberadaan yang pertama dan hukum kedua membentuk
kekekalan keberadaan.
Berikutnya
adalah penjabaran mengenai identitas, yang didefinisikan sebagai serangkai sifat
yang membedakan suatu objek dari objek yang lain. Ada identitas absolut yang
mendeskripsikan keseluruhan suatu objek baik sifat internal atau eksternal
(sifat objek relatif terhadap objek lain misal ruang dan waktu) atau identitas
umum yang mendeskripsikan kesamaan sifat atau identitas antara beberapa objek
yang berbeda secara absolut.
Menurut
hukum kekekalan keberadaan, setiap identitas memiliki keberadaan yang kekal,
tidak berawal atau berakhir. Hal ini berarti kenyataan yang paling murni
merupakan suatu superposisi tak terbatas, dalam arti segala hal ada secara
bersamaan tanpa suatu waktu atau ruang yang berbeda, dalam jumlah yang tak terbatas dan tak
terhitung. Ini adalah Hukum Superposisi
Tak Terbatas yang menyatakan bahwa, “Kenyataan
merupakan segala identitas yang ada secara bersamaan dalam jumlah yang tak
terbatas dan tak terhitung.”
Dengan
itu seluruh keberadaan dapat kita rangkum dalam satu pernyataan yang ringkas, “Kenyataan ialah keberadaan segala identitas
absolut secara bersamaan yang tak berawal atau berakhir.”
Identitas
Ada
dua definisi terhadap identitas, yaitu identitas menurut perspektif mikro yaitu
identitas absolut dan juga identitas menurut perspektif makro atau perbandingan
antara identitas dan kenyataan superposisi. Identitas dalam perspektif
superposisi adalah pembatasan yang spesifik terhadap suatu bagian tertentu dari
kenyataan yang menjadikan suatu identitas yang berbeda dari kenyataan di luar
identitas tersebut. Maka secara resmi identitas ialah, “Identitas ialah objek yang berbeda dalam segala sifat dengan objek yang
lainnya sebagai hasil dari pembatasan yang spesifik terhadap satu bagian
tertentu dari kenyataan.”
Identitas
juga dapat ada secara derivatif atau secara non-derivatif. Identitas
non-derivatif adalah identitas yang tidak dapat dibagi lagi menjadi
identitas-identitas yang lebih sederhana, atau dalam kata lain identitas yang
asli. Sementara itu identitas derivatif adalah identitas yang didefinisikan
sebagai kumpulan dari berbagai identitas asli menjadi suatu identitas baru yang
berbeda dari setiap identitas pembentuknya. Ini dapat kita rumuskan sebagai
suatu Hukum Identitas Derivatif yang
berbunyi, “Identitas dapat berupa
identitas asli atau kumpulan dari beberapa identitas asli yang berbeda.”
Suatu
penerapan yang lebih jauh dari hukum itu ialah identitas statis, dinamis, dan
bebas. Identitas statis adalah segala identitas yang secara absolut tidak dapat
berubah dan kondisinya abadi. Ini adalah identitas asli yang paling mendasar
dalam kenyataan. Identitas dinamis adalah identitas yang secara absolut dapat
berubah tapi arah perubahannya yaitu tujuan perubahan dan proses perubahan
tidak dapat diubah. Maka dapat dikatakan bahwa identitas dinamis adalah
identitas derivatif dari berbagai identitas statis yang terlibat.
Sementara
itu ada identitas bebas yang secara absolut dapat berubah dan arah perubahannya
juga dapat diubah sehingga tidak tentu atau secara pasti mengikuti identitas
dinamis yang sudah ada. Karena itu dapat dikatakan bahwa identitas bebas adalah
identitas derivatif dari berbagai identitas dinamis yang sendirinya adalah
identitas derivatif dari berbagai identitas statis yang ada.
Terakhir,
ada yang dinamakan dengan identitas semesta atau identitas relasional, yang
didefinisikan sebagai relasi atau interaksi antara berbagai identitas yang
berbeda dalam satu identitas yang sama. Namun identitas semesta juga dapat
didefinisikan sebagai tingkat identitas tertinggi di mana tidak dapat terjadi
interaksi dengan identitas yang lain. Secara rasional, ada banyak sekali
tingkatan identitas semesta, baik yang bebas atau yang tidak bebas, yang
melibatkan jumlah identitas yang terbatas atau yang tak terbatas.
Karena
itu, setiap identitas semesta tidak dapat saling menjangkau, dan hal yang pasti
setiap identitas yang tunggal juga tidak dapat saling menjangkau. Maka ada tiga
halangan aksesibilitas antar identitas, yaitu halangan antara setiap identitas
tunggal yaitu yang tidak berinteraksi atau berelasi dengan identitas lain,
antara identitas tunggal dan identitas relasional, dan antar setiap identitas
semesta. Dari itu dirumuskan Hukum
Inaksesibilitas Mutual yang berbunyi, “Identitas
yang tidak dapat berinteraksi dengan identitas lain tidak akan berinteraksi
dengan sesamanya dan sebaliknya, identitas yang dapat berinteraksi dengan
identitas lain tetap tidak akan berinteraksi dengan identitas yang tidak dapat
berinteraksi dengan identitas lain dan sebaliknya.”
Adapula
Hukum Identitas Bebas yang berbunyi,
“Identitas bebas ialah identitas yang
secara absolut dapat berubah secara tidak tentu sebagai derivatif dari
identitas dinamis yang secara absolut dapat berubah secara tentu sebagai
derivatif dari identitas statis yang secara absolut tidak dapat berubah.”
Dan hukum terakhir untuk bagian identitas ialah Hukum Identitas Semesta yang berbunyi, “Identitas semesta ialah relasi dan interaksi antar berbagai identitas
yang berbeda dan dinamis atau bebas.”
Kesadaran
Secara
mendasar, kesadaran dapat didefinisikan sebagai rasa, yaitu pengalaman
subjektif bagi setiap pribadi. Contoh paling sederhana adalah rasa panas, rasa
sedih, atau tampak warna merah, yang semuanya subjektif. Ini berbeda dengan
komputasi, yang merupakan bagian dari kesadaran tapi tidak semua komputasi
adalah kesadaran. Maka definisi kesadaran secara resmi ialah, “Kesadaran ialah rasa terhadap kenyataan yang
dimiliki setiap pribadi dan dialami secara subjektif dan tidak berbagi dengan
pribadi lain.”
Kesadaran
dari perspektif yang subjektif bukan hanya rasa tapi juga konsepsi diri yang
paling kekal, abadi, dan mendasar. Segala konsepsi diri lainnya, misal sebagai
manusia atau sebagai hewan, sebagai makhluk hidup, atau hal-hal lain hanya ada
pertama kali melalui kesadaran. Karena itu kesadaran juga menjadi keberadaan
pertama dan tertinggi bagi setiap makhluk yang sadar, juga menjadi penentu
segala keberadaan subjektif. Sehingga ketiadaan kesadaran setara dengan
ketiadaan yang sesungguhnya dan kesadaran haruslah abadi dalam rasa. Karena itu
adalah Hukum Supremasi Kesadaran
yang menyatakan bahwa, “Kesadaran bagi
segala makhluk yang sadar ialah konsepsi diri paling utama dan juga keberadaan
pertama yang menentukan segala keberadaan lain secara subjektif yang abadi.”
Kesadaran
sebagai suatu objek adalah sensor dan komputer ditambah dengan unsur rasa yang
subjektif. Maka dalam setiap interaksi kesadaran adalah 3 unsur, yaitu objek
yang disadari, informasi tentang objek yang disadari, dan juga rasa terhadap
objek yang disadari. Objek adalah objek yang murni, yang mencakup keseluruhan
sifatnya. Informasi tentang objek adalah suatu objek lain yang mewakili
sebagian atau keseluruhan objek yang disadari, atau yang memampukan penyadaran
terhadap objek. Dan rasa adalah sebagaimana yang telah dijabarkan. Dengan itu
adalah Hukum Kesadaran Komputasional
yang menyatakan bahwa, “Kesadaran adalah
objek yang mampu memiliki informasi tentang suatu objek lain dan juga memiliki
rasa terhadap objek tersebut.”
Kesadaran
tidak terikat pada saat yang sekarang, melainkan bisa menjangkau hal-hal yang
tidak terjadi pada saat sekarang. Kesadaran pada hakikatnya adalah rasa, tapi
rasa ini dapat menjadi rasa terhadap kenyataan yang aktual, yang saat ini atau
rasa terhadap keberadaan kenyataan yang absolut. Rasa absolut atau kesadaran
idealis sama dengan pengetahuan, pikiran, atau ide, di mana adanya penyadaran
terhadap keberadaan suatu objek tapi tidak serta merta merasakan objek itu pada
saat itu juga. Rasa aktual atau kesadaran realis sama dengan pengalaman
langsung, maka ada penyadaran terhadap keberadaan suatu objek tapi juga
merasakan objek itu pada saat itu juga. Maka adalah Hukum Kesadaran Idealis yang berbunyi, “Kesadaran yang paling dasar ialah rasa akan keberadaan absolut dari
suatu identitas tanpa perlu adanya rasa yang lebih spesifik terhadap suatu
identitas.”
Kesadaran
juga terdiri dari makhluk sadar dan kondisi kesadaran. Makhluk sadar pada
dasarnya adalah objek yang mampu merasakan atau menyadari kenyataan. Namun
lengkapnya makhluk sadar adalah batasan terhadap kesadaran akan kenyataan,
perspektif spesifik terhadap setiap kenyataan, dan juga keseluruhan kondisi
kesadaran yang telah dialami suatu makhluk. Sementara kondisi kesadaran adalah
rasa yang individual atau pengalaman spesifik terhadap suatu objek. Maka adalah
Hukum Makhluk yang Sadar sebagai
berikut, “Makhluk yang sadar ialah segala
objek yang mampu merasakan kenyataan dengan perspektif tertentu dengan batasan
tertentu terhadap kenyataan yang dibentuk oleh keseluruhan pengalaman makhluk
tersebut.”
Sebagai
makhluk yang bebas dan sadar, kita bisa saja berasumsi bahwa setiap makhluk
sadar haruslah bebas, tapi itu tidak tentu. Karena makhluk sadar secara
definisi ialah objek yang mampu merasa, identitas statis atau dinamis juga
mampu memiliki kesadaran, hanya saja tidak berubah dan telah ditentukan. Hal
ini berarti bahwa kesadaran tidak bersifat eksklusif pada kebebasan dan ini
diungkapkan dengan Hukum
Non-Eksklusivitas Kesadaran yang berbunyi, “Kesadaran tidak terbatas pada identitas bebas dan dapat berlaku pada
identitas statis ataupun dinamis.” Itulah hukum terakhir untuk bagian
kesadaran.
Kebebasan
Kebebasan
jenis pertama adalah kemampuan untuk mengubah arah perubahan bagi suatu
identitas atau mengubah arah perubahan identitas lain dalam suatu identitas
semesta. Ini adalah esensi dari identitas bebas, yang tidak dimiliki oleh
identitas dinamis atau identitas statis. Hukum dari kebebasan jenis ini ialah Hukum Kebebasan Dinamis yang berbunyi,
“Kebebasan dinamis adalah kemampuan suatu
identitas untuk mengubah arah perubahan dirinya atau identitas yang lain.”
Kebebasan
kedua adalah kemampuan untuk menentukan arah perubahan bagi suatu identitas,
dan ini berlaku untuk setiap identitas yang memenuhi hukum inaksesibilitas
mutual. Artinya, setiap identitas semesta telah menentukan arah perubahannya
sekalipun tidak dapat mengubah arah perubahan itu. Maka setiap identitas statis
dan dinamis bebas dalam kategori ini, bersama setiap identitas semesta. Hukum
dari kebebasan ini ialah Hukum Kebebasan
Deterministik yang berbunyi, “Kebebasan
deterministik adalah kemampuan setiap identitas yang memenuhi hukum
inaksebilitas mutual untuk menentukan arah perubahannya sendiri.”
Adapula
pengekangan dan pembatasan kebebasan secara absolut oleh hukum inaksesibilitas
itu sendiri. Bahwa sebebas-bebasnya suatu identitas terhadap yang lain,
identitas itu tetap hanya berkuasa terhadap dirinya sendiri atau semestanya. Ini
adalah Hukum Inaksesibilitas Kebebasan
yang berbunyi, “Kebebasan dinamis tidak
akan pernah melanggar hukum inaksesibilitas mutual.” Itulah hukum terakhir
dalam bagian kebebasan.
Hukum-Hukum Metafisika
Maka
semua ilmu metafisika dasar dapat diringkas sebagai hukum-hukum berikut.
1.
Hukum Keberadaan Subjektif
Keberadaan ditemukan dan dipastikan
melalui kesadaran yang murni.
2.
Hukum Ketiadaan
Ketiadaan ialah hal yang tidak
memiliki sifat apapun selain sifat non-sifat dan non-deskripsi.
3.
Hukum Kekekalan Keberadaan
Kenyataan ada secara kekal dan
abadi, tidak berawal atau berakhir.
4.
Hukum Superposisi Tak Terbatas
Kenyataan merupakan segala
identitas yang ada secara bersamaan dalam jumlah yang tak terbatas dan tak
terhitung.
5.
Hukum Kenyataan Absolut
Kenyataan ialah keberadaan segala
identitas absolut secara bersamaan yang tak berawal atau berakhir.”
6.
Hukum Identitas
Identitas ialah objek yang berbeda
dalam segala sifat dengan objek yang lainnya sebagai hasil dari pembatasan yang
spesifik terhadap satu bagian tertentu dari kenyataan.
7.
Hukum Identitas Derivatif
Identitas dapat berupa identitas
asli atau kumpulan dari beberapa identitas asli yang berbeda.
8.
Hukum Identitas Bebas
Identitas bebas ialah identitas
yang secara absolut dapat berubah secara tidak tentu sebagai derivatif dari
identitas dinamis yang secara absolut dapat berubah secara tentu sebagai derivatif
dari identitas dinamis yang secara absolut tidak dapat berubah.
9.
Hukum Identitas Semesta
Identitas semesta ialah relasi dan
interaksi antar berbagai identitas yang berbeda dan dinamis atau bebas.
10.
Hukum Inaksesibilitas Mutual
Identitas yang tidak dapat
berinteraksi dengan identitas lain tidak akan berinteraksi dengan sesamanya dan
sebaliknya, identitas yang dapat berinteraksi dengan identitas lain tetap tidak
akan berinteraksi dengan identitas yang tidak dapat berinteraksi dengan
identitas lain dan sebaliknya.
11.
Hukum Kesadaran
Kesadaran ialah rasa terhadap
kenyataan yang dimiliki setiap pribadi dan dialami secara subjektif dan tidak
berbagi dengan pribadi lain.
12.
Hukum Kesadaran Komputasional
Kesadaran adalah objek yang mampu
memiliki informasi tentang suatu objek lain dan juga memiliki rasa terhadap
objek tersebut.
13.
Hukum Kesadaran Idealis
Kesadaran yang paling dasar ialah
rasa akan keberadaan absolut dari suatu identitas tanpa perlu adanya rasa yang
lebih spesifik terhadap suatu identitas.
14.
Hukum Makhluk yang Sadar
Makhluk yang sadar ialah segala
objek yang mampu merasakan kenyataan dengan perspektif tertentu dengan batasan
tertentu terhadap kenyataan yang dibentuk oleh keseluruhan pengalaman makhluk
tersebut.
15.
Hukum Non-Eksklusivitas Kesadaran
Kesadaran tidak terbatas pada
identitas bebas dan dapat berlaku pada identitas statis ataupun dinamis.
16.
Hukum Kebebasan Dinamis
Kebebasan dinamis adalah kemampuan
suatu identitas untuk mengubah arah perubahan dirinya atau identitas yang lain.
17.
Hukum Kebebasan Deterministik
Kebebasan deterministik adalah
kemampuan setiap identitas yang memenuhi hukum inaksebilitas mutual untuk
menentukan arah perubahannya sendiri.
18.
Hukum Inaksesibilitas Kebebasan
Kebebasan dinamis tidak akan pernah
melanggar hukum inaksesibilitas mutual.
Semesta
Kita
Ini adalah bab terakhir dalam ilmu metafisika dasar,
yang akan berisi sedikit pemikiranku tentang apa sifat alam semesta kita
menurut perspektif metafisika. Menurut hukum identitas, semesta kita jelas
merupakan contoh identitas semesta (lagipula ideku tentang itu didapat dari
pemahaman tentang semesta kita sendiri), di mana terjadi interaksi antara
setidaknya 10^86 partikel di semesta ini. Semesta ini juga memiliki identitas
yang dinamis dan yang bebas. Para fisikawan sudah menemukan banyak sekali hukum
di semesta ini yang sepertinya tidak akan bisa dilanggar. Namun ada banyak pula
hal-hal dalam hukum itu yang sifatnya acak atau tidak bisa diprediksi.
Apakah semesta kita merupakan identitas inaksesibel?
Sepertinya tidak, banyak ilmuwan mendukung hipotesis bahwa adanya semesta lain
yang dapat diakses entah bagaimana caranya. Hanya saja hal itu belum pasti dan
tetap ada kemungkinan kita berada pada identitas inaksesibel. Sekalipun kita
ada dalam suatu multiverse, belum tentu itu adalah multiverse absolut yang
dapat menampung sejumlah semesta yang tak terbatas dan berbeda. Bisa saja
identitas semesta kita memiliki sedikit sifat statis yang tidak bisa diubah. Itu
adalah kemungkinan yang sangat nyata.
Namun itu tidak begitu penting ataupun berpengaruh
pada kita, sekalipun ternyata kita hanya memiliki satu semesta yang dapat kita
manipulasi tentu ada hal-hal yang dapat kita lakukan. Kesadaran pastinya ada
dalam semesta ini, walau mekanika pastinya aku pun tidak mengetahuinya. Hal
yang mungkin menarik untuk dipersoalkan adalah awal dari semesta ini. Apakah
semesta ini diciptakan oleh semesta lain atau suatu entitas super, atau mungkin
telah ada sebagai suatu pengulangan atau loop yang terus berulang, kita tidak
tahu.
Sebenarnya tidak banyak yang dapat dibahas antara
metafisika dan semesta kita, karena memasuki semesta kita sudah menjadi lingkup
fisika. Jadi aku rasa cukup itu saja yang dapat kubahas terkait metafisika
semesta kita. Apapun lebih kompleks dari ini ialah urusan waktu yang akan
datang. Hal-hal lebih kompleks termasuk Tuhan dan semesta, atau masalah
epistemologi, logika, matematika, dan seterusnya.
Penutup
Maka itulah segala ilmu metafisika dasar yang dapat
kubagikan kepada dunia. 18 hukum yang singkat telah tertulis untuk meringkas
seluruh kenyataan dunia, tapi masih ada banyak hal terkait metafisika yang
masih harus ditulis dan dibagikan. Karena itu hukum dalam tulisan ini pastinya
tidak akan lengkap untuk mendeskripsikan seluruh metafisika kenyataan. Namun
seperti yang telah kukatakan, ini adalah metafisika yang paling dasar, dan
pastinya ada bagian-bagian yang menjadi lebih mendalam nantinya. Dan aku rasa
metafisika ini cukup untuk sekarang, sebagai fondasi untuk segala filsafat
berikutnya. Aku harap tulisan ini dapat menjadi suatu hal yang berguna bagi
seluruh umat manusia, kini dan sampai akhir dunia. Tuhan memberkati kita semua,
amin.