Pendahuluan
Sejak
dahulu kala manusia selalu bertanya, “Apakah itu makna kehidupan?” Dan
pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah “Apa itu kenyataan?” Mempertanyakan
tujuan hidup, dan mempertanyakan kenyataan adalah dua hal yang paling mencolok
dari seorang manusia, dan mungkin yang dapat membedakan manusia dari mahluk
hidup lainnya. Mungkin ada yang berkata bahwa manusia dapat mengasihi tapi
bukankah kasih itu supaya orang lain cukup kuat untuk mengasihi kita? Hewan pun
dapat “mengasihi”, tapi tidak ada hewan yang dapat bertanya kenapa mereka ada
atau siapa jati diri mereka yang sesungguhnya. Sebab mempertanyakan kenyataan
sama dengan mempertanyakan jati diri kita sebagai manusia, karena manusia pada
akhirnya ialah bagian dari kenyataan.
Dalam
sejarah, manusia telah menemukan berbagai cara untuk menjawab dua pertanyaan
besar tersebut. Diawali dengan pendewaan dan berbagai kepercayaan tradisional.
Lalu berkembang menjadi suatu kearifan tradisional, yang dilapisi oleh
kegelapan lainnya. Dan dari pedalaman Yunani, muncullah filsafat sebagai upaya
pencarian kebenaran yang paling mendasar, dan dari filsafat muncullah ilmu
pengetahuan empiris dan ilmiah. Namun dari ketiga itu, tetaplah filsafat yang
seharusnya menjadi ilmu yang paling penting. Sebab filsafat mencari yang paling
dasar, yang tak terikat oleh apapun dan yang paling murni.
Akan
tetapi filsafat telah mengalami kemunduran yang luar biasa dan bahkan terpecah.
Aliran analitik membuat filsafat menjadi budak dari ilmu empiris, dan aliran
kontinental meneruskan tradisi filsafat dalam perpecahan mutlak. Desakan
empiris yang cenderung terkesan lebih nyaman dan jelas membuat orang tidak
tertarik pada filsafat yang cenderung abstrak. Bahkan, pandangan bahwa filsafat
adalah ilmu mati atau tidak berguna bukan pandangan yang aneh sekarang.
Terlepas dari segala argumen itu, filsafat tetaplah penting karena filsafatlah
yang membedakan manusia dari binatang. Karena itu, kita harus memahami
pentingnya filsafat.
Hakikat Filsafat
Suatu
pemahaman tentang pentingnya filsafat harus dimulai dari pemahaman tentang apa
itu filsafat. Karena ilmu ini sudah lama diabaikan oleh dunia dan tertinggal
dengan bidang ilmu lainnya, definisi filsafat pun mulai kabur dan tidak jelas.
Dibandingkan dengan biologi yaitu ilmu tentang kehidupan, atau kimia yaitu ilmu
tentang materi dan variasinya, ataupula fisika yaitu ilmu tentang mekanika
semesta yang paling dasar. Ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah pencarian
akan kebenaran, dan ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah upaya
pengklarifikasi pikiran dan ide. Namun tetap saja tidak ada jawaban yang pasti.
Filsafat
pada dasarnya berbeda dari ilmu empiris dan juga berbeda dari ilmu agamais seperti
teologi atau kitab agama. Namun filsafat tetap memiliki beberapa kesamaan
dengan keduanya. Hal yang pasti, filsafat adalah ilmu yang rasional dan skeptis
layaknya ilmu empiris, tapi juga membahas hal-hal di luar panca indera seperti
yang dibicarakan oleh ilmu agama. Namun seperti ilmu empiris dan ilmu agama,
ketiganya memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menggambarkan kebenaran
tertinggi tentang dunia ini. Bukan hanya manusia, tapi juga segala hal lain di
dunia ini, dan filsafat sama saja.
Maka
dapat dikatakan bahwa filsafat adalah suatu ilmu yang tugasnya adalah menemukan
kebenaran paling tinggi dan paling mendasar dari segala hal di dunia ini. Namun
tidakkah kedua ilmu sebelumnya yaitu ilmu empiris dan ilmu agama telah
menyatakan jawaban mereka masing-masing? Lalu apa yang membedakan filsafat dari
kedua ilmu itu? Sebenarnya ada satu perbedaan, yaitu filsafat tidak memiliki
satu jawaban yang pasti, tidak pernah ada satu jawaban yang disetujui seluruh
filsuf dunia tentang apa yang benar. Mungkin dapat diperdebatkan bahwa filsafat
menganalisis akar-akar dunia ini, tapi bukankah ilmu empiris dan agama juga
menganalisis hal yang sama? Maka, dari itu mulailah kemunduran filsafat.
Kemunduran Filsafat
Pada
masa-masa kini filsafat telah mengkerdil menjadi semacam ilmu yang hanya
digeluti kaum profesional dan tidak lagi menjadi perhatian publik. Salah satu
alasan utama adalah filsafat terlalu abstrak dan tidak pasti. Banyak tulisan
filsafat dibuat dalam bahasa yang sangat akademis, profesional, dan di satu
sisi abstrak yang tidak bisa dipahami oleh kalangan umum. Ide-ide yang dibahas
oleh filsuf-filsuf begitu jauh dari dunia nyata, dan tidak dapat direlasikan
dengan kehidupan sehari-hari. Bahasa rumit filsafat yang berbelit-belit hanya
mempersulit pemahaman terhadap filsafat.
Selain
abstraknya filsafat tradisional, tiadanya kepastian dalam filsafat membuat ilmu
ini tidak disenangi untuk mencari kebenaran. Banyak filsuf yang hanya saling
membantah sesamanya, dan dengan rumitnya bahasa yang mereka gunakan, persoalan
dan konflik filsafat yang terjadi malah semakin tidak bisa diselesaikan. Tidak
seperti ilmu empiris dan ilmu agamais yang memiliki suatu standar kebenaran,
filsafat cenderung tidak memiliki standar kebenaran. Satu-satunya acuan
kebenaran dalam filsafat adalah jika suatu konsep tidak mengarah pada
kontradiksi. Dan mencari kontradiksi dalam filsafat, tidak semudah yang kita
bayangkan.
Terlepas
dari kesulitan-kesulitan filsafat di atas, faktor paling besar dalam kemunduran
filsafat adalah bangkitnya ilmu empiris. Agama dan tradisi budaya memang sudah
mengakar sejak dahulu, tapi yang paling mematikan bagi filsafat adalah
empirisme. Ilmu empiris yang cenderung lebih jelas dalam teorinya, sebab apa
yang diamati memang suatu hal yang dapat diamati atau merupakan perpanjangan
dari hal yang dapat diamati oleh kalangan umum, jelas unggul dibanding filsafat
yang berputar-putar dan tidak jelas. Karena itu ilmu empiris menjadi pilihan
yang lebih baik dibanding filsafat. Namun ilmu empiris tetap mengakui bahwa ia
tidak memberikan jawaban terhadap masalah etika, dan disinilah muncul agama.
Agama
sebenarnya tidak merujuk hanya pada agama terorganisir tapi lebih pada
paham-paham etis yang tradisional, norma-norma sosial, sistem hukum dan
seterusnya. Hanya saja, agama menjadi salah satu muka terdepan dari pemahaman
spiritual dan etis kontemporer. Tidak seperti ilmu empiris, etika tradisional
atau etika subjektif tidak memiliki suatu persetujuan global atau jawaban yang
pasti. Namun diserahkan pada setiap budaya untuk mengatur masyarakatnya
sendiri. Ini lebih nyaman daripada filsafat etis, karena suatu etika yang
universal akan mengartikan kehancuran sistem sosial yang lama, dan bagi banyak
orang itu juga hilangnya identitas diri mereka. Karena itulah budaya lokal dan
identitas pribadi lebih nyaman sebagai panduan etis daripada filsafat.
Dengan
itu, bukankah filsafat tidak lagi menjadi penting? Sebab empirisme dan tradisi
telah cukup untuk memberikan suatu pandangan baik tentang dunia ini. Untuk
masalah etika, baiklah kita mengikuti saja apa yang telah dilakukan oleh para
leluhur secara turun temurun. Dan tidak memaksakan atau ikut campur dalam
permasalahan orang lain. Maka dalam pandangan sekilas jelas saja bahwa filsafat
sudah tidak lagi dibutuhkan dalam pencarian akan kebenaran. Namun sekali lagi,
dalam pandangan sekilas karena sesungguhnya empirisme dan etika tradisi tidak
dapat kita pertahankan sebagai metodologi pencarian kebenaran karena
permasalahan berikut.
Melampaui Empirisme
Empirisme
yaitu paham bahwa segala kebenaran dapat diketahui hanya melalui pengalaman
panca indera adalah paham yang cukup berbahaya. Karena jelas saja empirisme
sudah menolak segala hal yang bersifat imaterial alias tidak dapat diindera. Maka dengan itu empirisme bertentangan dengan
tradisi nenek moyang yang mengakar, dan empirisme juga ingin menghancurkan
sistem sosial yang ada digantikan dengan suatu sistem yang lebih “ilmiah”. Tentu
saja, itu bukan permasalahan utamanya, melainkan kedangkalan dari paham
empirisme itu.
Kaum
empiris bertindak seakan-akan mereka adalah kaum yang skeptis dan rasional,
padahal jelas saja mereka mempercayai segala panca indera mereka tanpa ragu. Seorang
yang sungguh skeptis harusnya ikut mempertanyakan panca indera, dan berdasarkan
penelitian empiris saja dibuktikan bahwa panca indera manusia cenderung tidak
konsisten, dan pengalaman yang dihasilkan tidak dapat dipercaya. Tentu saja
mengandalkan panca indera untuk mengetahui dunia tidak salah, tapi mempercayai
panca indera tanpa mempertanyakan hal itulah yang menjadi salah dan
menyesatkan.
Seperti
yang telah dikatakan, empirisme sendiri juga tidak mungkin bisa menghasilkan
suatu sistem etika yang konsisten dan sungguh baik bagi setiap manusia atau
setiap mahluk hidup. Karena dalam mata empiris, etika tidak ada dan tidak dapat
dibuktikan sama sekali. Mengenai kebenaran ilmiah yang diklaim oleh kaum
empiris, kebenaran ini sesungguhnya bergantung pada asumsi bahwa panca indera
juga keberadaannya benar dan bahwa pengalaman panca indera dapat dipercaya. Dan
untuk asumsi itu tidak ada dasar logikanya. Sehingga kita tidak bisa mengatakan
panca indera sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.
Selain
itu, fakta empiris sederhana juga membuktikan kenapa empirisme murni cukup
salah. Bahwa keberadaan ide-ide, dan juga ide-ide itu sendiri jauh lebih
penting daripada sekadar sensasi fisik. Misalkan seperti ini, suatu ide tentang
apel jelas ada dan terpisah dari media informasi tentang apel tersebut. Seorang
empiris mungkin akan berargumen bahwa ide tentang apel juga ada secara empiris
melalui reaksi elektrokimia di otak, tapi jelas saja bahwa itu pun juga media
yang arbitrer untuk ide apel. Suara dan tulisan ataupun gambar apel sekalipun
hanyalah media arbitrer untuk menyatakan ide tentang apel. Maka media tentu
sifatnya empiris, tapi ide yang murni tidak bisa kita pahami secara empiris dan
bersifat transenden.
Pada
intinya, empirisme tidak bisa berdiri sendiri sebagai suatu sumber pengetahuan
apalagi metodologi pencarian kebenaran. Metodologi ilmiah dan empiris memang
penting dan baik untuk digunakan demi pemahaman mekanis terhadap dunia ini.
Namun empirisme tidak dapat dikatakan sebagai sumber pengetahuan tunggal di
dunia ini, dan harus dilengkapi oleh unsur lain sebelum bisa bekerja secara
maksimal. Unsur lain inilah yang kita ketahui sebagai filsafat. Kalau ilmu
ilmiah menganalisis apa yang dapat diindera, dan menyimpulkan
kecenderungan-kecenderungan sensasi, maka filsafat menganalisis hal-hal yang di
luar indera, dan menyimpulkan hukum-hukum luar inderawi.
Menentang Tradisi
Kalau
empirisme tidak bisa memberikan jawaban yang utuh dan lengkap mengenai
kenyataan, maka tradisi yang berdasarkan oleh perasaan dan hati manusia akan
semakin parah. Masalah paling jelas dari menyerahkan tugas etika pada setiap
budaya adalah kontradiksi yang akan muncul. Sebab pada dasarnya, setiap budaya
pasti memiliki kecenderungan yang mengutamakan budayanya sendiri dan bersikap
antagonistis dengan budaya lain. Kecuali pada ajaran budaya tersebut secara
eksplisit menyebarkan ajaran damai dan cinta kasih, misalnya ajaran Yesus atau
ajaran Buddha, maka pasti akan terjadi suatu kontradiksi. Maka suatu sikap
relativis dalam etika tidak dapat diambil.
Tradisi
juga cenderung tidak dianalisis atau ditelanjangi terlebih dahulu untuk
mengetahui kebenarannya. Pelestarian budaya dan tradisi yang mengakar cenderung
didasari oleh alasan emosional dan sebagai pelestarian sejarah, bukan karena
melestarikan norma sosial yang tradisional itu baik bagi umat manusia.
Pelestarian budaya sebagai suatu bahan intelektual itu baik adanya, tapi
pelestarian budaya sebagai upaya pencarian kebenaran tidaklah baik. Sebab tidak
mungkin ada dua hal yang benar dan bertentangan, misal suatu objek X haruslah X
dan bukan –X. Kebenaran hanya ada satu, tapi cara ekspresinya mungkin berbeda.
Bagaimanapun
juga, tradisi tentu tidak akan membantu dalam mencapai kebenaran umat manusia.
Malah beberapa tradisi dan budaya tertentu malah menjadi sumber pengetahuan
akan kegelapan dan kejahatan dalam pribadi manusia. Tentu saja, ini tidak
menjadikan tradisi atau budaya sebagai suatu hal yang tidak berguna, hanya saja
perannya yang harus disesuaikan. Pencarian kebenaran boleh terbuka terhadap
ekspresi yang berbeda, atau pada hal-hal imaterial tapi harus selalu dibuat
rasional. Dan sebelum mengarah pada ekspresi, bentuk murni kebenaran itulah
yang harus kita cari dahulu, supaya ada suatu standar kebenaran.
Kegagalan Filsafat Kontemporer
Lalu
bagaimana dengan aliran filsafat seperti filsafat analitik dan kontinental pada
masa kontemporer ini? Terus terang, filsafat kontemporer pada masa kini juga
telah gagal dalam memenuhi tujuannya. Terutama filsafat analitik yang malah
berpihak pada empirisme dan merendahkan filsafat itu sendiri. Suatu paham bahwa
segala pengetahuan hanya berasal dari panca indera adalah kejatuhan dan
kehancuran dari ilmu filsafat, yang seharusnya menjadi metode terutama kita
dalam pencarian kebenaran luar inderawi. Bagaimana dengan filsafat kontinental?
Mereka jauh lebih baik, tapi tetap saja cenderung ambigu dan sulit dipahami.
Ada
beberapa aliran filsafat kontinental seperti femonologi yang mencoba mencari
suatu integrasi berdasarkan pengalaman manusia yang kolektif, tapi ini juga
melibatkan suatu metode empiris, hanya saja sifatnya lebih interpretatif dan
mengacu pada hal-hal transenden. Dan setelah pembahasan sekian ini, kita dapat
mengetahui bahwa filsafat kontemporer sekalipun tidak bisa kita andalkan untuk
mencari kebenaran. Suatu anarkisme pengetahuan telah merajalela di antara dunia
pengetahuan, dan dibutuhkan penyelesaian yang baru. Suatu filsafat atau
metodologi yang baru.
Filsafat Revolusioner
Dalam
hal mencari kebenaran kita membutuhkan suatu metodologi filsafat yang baru,
suatu filsafat revolusioner bisa dibilang. Revolusioner sebab filsafat ini
haruslah menentang segala tatanan ilmu tradisional, dan mengubahnya menjadi
yang benar. Dengan ini kita dapat mendefinisikan ulang filsafat sebagai suatu
ilmu yang independen dan jelas, serta merumuskan suatu tujuan filsafat yang
lebih jelas. Dan melalui filsafat revolusioner inilah, segala ilmu pengetahuan
harus disatukan kembali, dan patuh pada aturan-aturan dasar kenyataan, yaitu
kebenaran sendiri.
Tujuan
dari filsafat revolusioner tetaplah sama yaitu mencari kebenaran akan
kenyataan, atau pengetahuan paling murni akan apa itu kenyataan. Hal yang
membedakan filsafat dengan empirisme adalah filsafat mencari pengetahuan yang
paling murni, dan itu berarti tidak
terikat dari panca indera. Suatu pengetahuan yang dapat kita ketahui hanya
melalui akal budi kita, atau suatu pengetahuan rasionalis atau a priori. Filsafat revolusioner juga
harus pasti dalam memberikan jawaban akan kenyataan. Sekalipun ada variasi
jawaban, hanya ada satu jawaban yang benar dan sisanya hanyalah ekspresi yang
berbeda. Dan hal yang penting, filsafat revolusioner harus bisa mengikat segala
konsep dan pengetahuan dalam satu wujud yang konkrit, yang dapat dipahami
manusia, dan tidak abstrak.
Penutup
Suatu
kebutuhan akan filsafat yang revolusioner sudah terlihat dengan jelas. Maka
tugas kita adalah menyelami filsafat itu dan menyusun filsafat ini, sedikit
demi sedikit sampai jelas kenyataan dunia ini. Dan dengan adanya suatu
metodologi filsafat yang baru, kita berharap akan suatu kebangkitan filsafat di
antara segala ilmu. Sebab itulah yang membedakan kita dari binatang, dan dengan
ini kita pun akan tahu tujuan dari keberadaan kita. Tuhan memberkati.
No comments:
Post a Comment