Saturday, February 9, 2019

Filsafat Revolusioner


Pendahuluan

Sejak dahulu kala manusia selalu bertanya, “Apakah itu makna kehidupan?” Dan pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah “Apa itu kenyataan?” Mempertanyakan tujuan hidup, dan mempertanyakan kenyataan adalah dua hal yang paling mencolok dari seorang manusia, dan mungkin yang dapat membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya. Mungkin ada yang berkata bahwa manusia dapat mengasihi tapi bukankah kasih itu supaya orang lain cukup kuat untuk mengasihi kita? Hewan pun dapat “mengasihi”, tapi tidak ada hewan yang dapat bertanya kenapa mereka ada atau siapa jati diri mereka yang sesungguhnya. Sebab mempertanyakan kenyataan sama dengan mempertanyakan jati diri kita sebagai manusia, karena manusia pada akhirnya ialah bagian dari kenyataan.

Dalam sejarah, manusia telah menemukan berbagai cara untuk menjawab dua pertanyaan besar tersebut. Diawali dengan pendewaan dan berbagai kepercayaan tradisional. Lalu berkembang menjadi suatu kearifan tradisional, yang dilapisi oleh kegelapan lainnya. Dan dari pedalaman Yunani, muncullah filsafat sebagai upaya pencarian kebenaran yang paling mendasar, dan dari filsafat muncullah ilmu pengetahuan empiris dan ilmiah. Namun dari ketiga itu, tetaplah filsafat yang seharusnya menjadi ilmu yang paling penting. Sebab filsafat mencari yang paling dasar, yang tak terikat oleh apapun dan yang paling murni.

Akan tetapi filsafat telah mengalami kemunduran yang luar biasa dan bahkan terpecah. Aliran analitik membuat filsafat menjadi budak dari ilmu empiris, dan aliran kontinental meneruskan tradisi filsafat dalam perpecahan mutlak. Desakan empiris yang cenderung terkesan lebih nyaman dan jelas membuat orang tidak tertarik pada filsafat yang cenderung abstrak. Bahkan, pandangan bahwa filsafat adalah ilmu mati atau tidak berguna bukan pandangan yang aneh sekarang. Terlepas dari segala argumen itu, filsafat tetaplah penting karena filsafatlah yang membedakan manusia dari binatang. Karena itu, kita harus memahami pentingnya filsafat.

Hakikat Filsafat

Suatu pemahaman tentang pentingnya filsafat harus dimulai dari pemahaman tentang apa itu filsafat. Karena ilmu ini sudah lama diabaikan oleh dunia dan tertinggal dengan bidang ilmu lainnya, definisi filsafat pun mulai kabur dan tidak jelas. Dibandingkan dengan biologi yaitu ilmu tentang kehidupan, atau kimia yaitu ilmu tentang materi dan variasinya, ataupula fisika yaitu ilmu tentang mekanika semesta yang paling dasar. Ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah pencarian akan kebenaran, dan ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah upaya pengklarifikasi pikiran dan ide. Namun tetap saja tidak ada jawaban yang pasti.

Filsafat pada dasarnya berbeda dari ilmu empiris dan juga berbeda dari ilmu agamais seperti teologi atau kitab agama. Namun filsafat tetap memiliki beberapa kesamaan dengan keduanya. Hal yang pasti, filsafat adalah ilmu yang rasional dan skeptis layaknya ilmu empiris, tapi juga membahas hal-hal di luar panca indera seperti yang dibicarakan oleh ilmu agama. Namun seperti ilmu empiris dan ilmu agama, ketiganya memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menggambarkan kebenaran tertinggi tentang dunia ini. Bukan hanya manusia, tapi juga segala hal lain di dunia ini, dan filsafat sama saja.

Maka dapat dikatakan bahwa filsafat adalah suatu ilmu yang tugasnya adalah menemukan kebenaran paling tinggi dan paling mendasar dari segala hal di dunia ini. Namun tidakkah kedua ilmu sebelumnya yaitu ilmu empiris dan ilmu agama telah menyatakan jawaban mereka masing-masing? Lalu apa yang membedakan filsafat dari kedua ilmu itu? Sebenarnya ada satu perbedaan, yaitu filsafat tidak memiliki satu jawaban yang pasti, tidak pernah ada satu jawaban yang disetujui seluruh filsuf dunia tentang apa yang benar. Mungkin dapat diperdebatkan bahwa filsafat menganalisis akar-akar dunia ini, tapi bukankah ilmu empiris dan agama juga menganalisis hal yang sama? Maka, dari itu mulailah kemunduran filsafat.

Kemunduran Filsafat

Pada masa-masa kini filsafat telah mengkerdil menjadi semacam ilmu yang hanya digeluti kaum profesional dan tidak lagi menjadi perhatian publik. Salah satu alasan utama adalah filsafat terlalu abstrak dan tidak pasti. Banyak tulisan filsafat dibuat dalam bahasa yang sangat akademis, profesional, dan di satu sisi abstrak yang tidak bisa dipahami oleh kalangan umum. Ide-ide yang dibahas oleh filsuf-filsuf begitu jauh dari dunia nyata, dan tidak dapat direlasikan dengan kehidupan sehari-hari. Bahasa rumit filsafat yang berbelit-belit hanya mempersulit pemahaman terhadap filsafat.

Selain abstraknya filsafat tradisional, tiadanya kepastian dalam filsafat membuat ilmu ini tidak disenangi untuk mencari kebenaran. Banyak filsuf yang hanya saling membantah sesamanya, dan dengan rumitnya bahasa yang mereka gunakan, persoalan dan konflik filsafat yang terjadi malah semakin tidak bisa diselesaikan. Tidak seperti ilmu empiris dan ilmu agamais yang memiliki suatu standar kebenaran, filsafat cenderung tidak memiliki standar kebenaran. Satu-satunya acuan kebenaran dalam filsafat adalah jika suatu konsep tidak mengarah pada kontradiksi. Dan mencari kontradiksi dalam filsafat, tidak semudah yang kita bayangkan.

Terlepas dari kesulitan-kesulitan filsafat di atas, faktor paling besar dalam kemunduran filsafat adalah bangkitnya ilmu empiris. Agama dan tradisi budaya memang sudah mengakar sejak dahulu, tapi yang paling mematikan bagi filsafat adalah empirisme. Ilmu empiris yang cenderung lebih jelas dalam teorinya, sebab apa yang diamati memang suatu hal yang dapat diamati atau merupakan perpanjangan dari hal yang dapat diamati oleh kalangan umum, jelas unggul dibanding filsafat yang berputar-putar dan tidak jelas. Karena itu ilmu empiris menjadi pilihan yang lebih baik dibanding filsafat. Namun ilmu empiris tetap mengakui bahwa ia tidak memberikan jawaban terhadap masalah etika, dan disinilah muncul agama.

Agama sebenarnya tidak merujuk hanya pada agama terorganisir tapi lebih pada paham-paham etis yang tradisional, norma-norma sosial, sistem hukum dan seterusnya. Hanya saja, agama menjadi salah satu muka terdepan dari pemahaman spiritual dan etis kontemporer. Tidak seperti ilmu empiris, etika tradisional atau etika subjektif tidak memiliki suatu persetujuan global atau jawaban yang pasti. Namun diserahkan pada setiap budaya untuk mengatur masyarakatnya sendiri. Ini lebih nyaman daripada filsafat etis, karena suatu etika yang universal akan mengartikan kehancuran sistem sosial yang lama, dan bagi banyak orang itu juga hilangnya identitas diri mereka. Karena itulah budaya lokal dan identitas pribadi lebih nyaman sebagai panduan etis daripada filsafat.

Dengan itu, bukankah filsafat tidak lagi menjadi penting? Sebab empirisme dan tradisi telah cukup untuk memberikan suatu pandangan baik tentang dunia ini. Untuk masalah etika, baiklah kita mengikuti saja apa yang telah dilakukan oleh para leluhur secara turun temurun. Dan tidak memaksakan atau ikut campur dalam permasalahan orang lain. Maka dalam pandangan sekilas jelas saja bahwa filsafat sudah tidak lagi dibutuhkan dalam pencarian akan kebenaran. Namun sekali lagi, dalam pandangan sekilas karena sesungguhnya empirisme dan etika tradisi tidak dapat kita pertahankan sebagai metodologi pencarian kebenaran karena permasalahan berikut.

Melampaui Empirisme

Empirisme yaitu paham bahwa segala kebenaran dapat diketahui hanya melalui pengalaman panca indera adalah paham yang cukup berbahaya. Karena jelas saja empirisme sudah menolak segala hal yang bersifat imaterial alias tidak dapat diindera.  Maka dengan itu empirisme bertentangan dengan tradisi nenek moyang yang mengakar, dan empirisme juga ingin menghancurkan sistem sosial yang ada digantikan dengan suatu sistem yang lebih “ilmiah”. Tentu saja, itu bukan permasalahan utamanya, melainkan kedangkalan dari paham empirisme itu.

Kaum empiris bertindak seakan-akan mereka adalah kaum yang skeptis dan rasional, padahal jelas saja mereka mempercayai segala panca indera mereka tanpa ragu. Seorang yang sungguh skeptis harusnya ikut mempertanyakan panca indera, dan berdasarkan penelitian empiris saja dibuktikan bahwa panca indera manusia cenderung tidak konsisten, dan pengalaman yang dihasilkan tidak dapat dipercaya. Tentu saja mengandalkan panca indera untuk mengetahui dunia tidak salah, tapi mempercayai panca indera tanpa mempertanyakan hal itulah yang menjadi salah dan menyesatkan.

Seperti yang telah dikatakan, empirisme sendiri juga tidak mungkin bisa menghasilkan suatu sistem etika yang konsisten dan sungguh baik bagi setiap manusia atau setiap mahluk hidup. Karena dalam mata empiris, etika tidak ada dan tidak dapat dibuktikan sama sekali. Mengenai kebenaran ilmiah yang diklaim oleh kaum empiris, kebenaran ini sesungguhnya bergantung pada asumsi bahwa panca indera juga keberadaannya benar dan bahwa pengalaman panca indera dapat dipercaya. Dan untuk asumsi itu tidak ada dasar logikanya. Sehingga kita tidak bisa mengatakan panca indera sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.

Selain itu, fakta empiris sederhana juga membuktikan kenapa empirisme murni cukup salah. Bahwa keberadaan ide-ide, dan juga ide-ide itu sendiri jauh lebih penting daripada sekadar sensasi fisik. Misalkan seperti ini, suatu ide tentang apel jelas ada dan terpisah dari media informasi tentang apel tersebut. Seorang empiris mungkin akan berargumen bahwa ide tentang apel juga ada secara empiris melalui reaksi elektrokimia di otak, tapi jelas saja bahwa itu pun juga media yang arbitrer untuk ide apel. Suara dan tulisan ataupun gambar apel sekalipun hanyalah media arbitrer untuk menyatakan ide tentang apel. Maka media tentu sifatnya empiris, tapi ide yang murni tidak bisa kita pahami secara empiris dan bersifat transenden.

Pada intinya, empirisme tidak bisa berdiri sendiri sebagai suatu sumber pengetahuan apalagi metodologi pencarian kebenaran. Metodologi ilmiah dan empiris memang penting dan baik untuk digunakan demi pemahaman mekanis terhadap dunia ini. Namun empirisme tidak dapat dikatakan sebagai sumber pengetahuan tunggal di dunia ini, dan harus dilengkapi oleh unsur lain sebelum bisa bekerja secara maksimal. Unsur lain inilah yang kita ketahui sebagai filsafat. Kalau ilmu ilmiah menganalisis apa yang dapat diindera, dan menyimpulkan kecenderungan-kecenderungan sensasi, maka filsafat menganalisis hal-hal yang di luar indera, dan menyimpulkan hukum-hukum luar inderawi.

Menentang Tradisi

Kalau empirisme tidak bisa memberikan jawaban yang utuh dan lengkap mengenai kenyataan, maka tradisi yang berdasarkan oleh perasaan dan hati manusia akan semakin parah. Masalah paling jelas dari menyerahkan tugas etika pada setiap budaya adalah kontradiksi yang akan muncul. Sebab pada dasarnya, setiap budaya pasti memiliki kecenderungan yang mengutamakan budayanya sendiri dan bersikap antagonistis dengan budaya lain. Kecuali pada ajaran budaya tersebut secara eksplisit menyebarkan ajaran damai dan cinta kasih, misalnya ajaran Yesus atau ajaran Buddha, maka pasti akan terjadi suatu kontradiksi. Maka suatu sikap relativis dalam etika tidak dapat diambil.

Tradisi juga cenderung tidak dianalisis atau ditelanjangi terlebih dahulu untuk mengetahui kebenarannya. Pelestarian budaya dan tradisi yang mengakar cenderung didasari oleh alasan emosional dan sebagai pelestarian sejarah, bukan karena melestarikan norma sosial yang tradisional itu baik bagi umat manusia. Pelestarian budaya sebagai suatu bahan intelektual itu baik adanya, tapi pelestarian budaya sebagai upaya pencarian kebenaran tidaklah baik. Sebab tidak mungkin ada dua hal yang benar dan bertentangan, misal suatu objek X haruslah X dan bukan –X. Kebenaran hanya ada satu, tapi cara ekspresinya mungkin berbeda.

Bagaimanapun juga, tradisi tentu tidak akan membantu dalam mencapai kebenaran umat manusia. Malah beberapa tradisi dan budaya tertentu malah menjadi sumber pengetahuan akan kegelapan dan kejahatan dalam pribadi manusia. Tentu saja, ini tidak menjadikan tradisi atau budaya sebagai suatu hal yang tidak berguna, hanya saja perannya yang harus disesuaikan. Pencarian kebenaran boleh terbuka terhadap ekspresi yang berbeda, atau pada hal-hal imaterial tapi harus selalu dibuat rasional. Dan sebelum mengarah pada ekspresi, bentuk murni kebenaran itulah yang harus kita cari dahulu, supaya ada suatu standar kebenaran.

Kegagalan Filsafat Kontemporer

Lalu bagaimana dengan aliran filsafat seperti filsafat analitik dan kontinental pada masa kontemporer ini? Terus terang, filsafat kontemporer pada masa kini juga telah gagal dalam memenuhi tujuannya. Terutama filsafat analitik yang malah berpihak pada empirisme dan merendahkan filsafat itu sendiri. Suatu paham bahwa segala pengetahuan hanya berasal dari panca indera adalah kejatuhan dan kehancuran dari ilmu filsafat, yang seharusnya menjadi metode terutama kita dalam pencarian kebenaran luar inderawi. Bagaimana dengan filsafat kontinental? Mereka jauh lebih baik, tapi tetap saja cenderung ambigu dan sulit dipahami.

Ada beberapa aliran filsafat kontinental seperti femonologi yang mencoba mencari suatu integrasi berdasarkan pengalaman manusia yang kolektif, tapi ini juga melibatkan suatu metode empiris, hanya saja sifatnya lebih interpretatif dan mengacu pada hal-hal transenden. Dan setelah pembahasan sekian ini, kita dapat mengetahui bahwa filsafat kontemporer sekalipun tidak bisa kita andalkan untuk mencari kebenaran. Suatu anarkisme pengetahuan telah merajalela di antara dunia pengetahuan, dan dibutuhkan penyelesaian yang baru. Suatu filsafat atau metodologi yang baru.

Filsafat Revolusioner

Dalam hal mencari kebenaran kita membutuhkan suatu metodologi filsafat yang baru, suatu filsafat revolusioner bisa dibilang. Revolusioner sebab filsafat ini haruslah menentang segala tatanan ilmu tradisional, dan mengubahnya menjadi yang benar. Dengan ini kita dapat mendefinisikan ulang filsafat sebagai suatu ilmu yang independen dan jelas, serta merumuskan suatu tujuan filsafat yang lebih jelas. Dan melalui filsafat revolusioner inilah, segala ilmu pengetahuan harus disatukan kembali, dan patuh pada aturan-aturan dasar kenyataan, yaitu kebenaran sendiri.

Tujuan dari filsafat revolusioner tetaplah sama yaitu mencari kebenaran akan kenyataan, atau pengetahuan paling murni akan apa itu kenyataan. Hal yang membedakan filsafat dengan empirisme adalah filsafat mencari pengetahuan yang paling murni, dan itu berarti tidak terikat dari panca indera. Suatu pengetahuan yang dapat kita ketahui hanya melalui akal budi kita, atau suatu pengetahuan rasionalis atau a priori. Filsafat revolusioner juga harus pasti dalam memberikan jawaban akan kenyataan. Sekalipun ada variasi jawaban, hanya ada satu jawaban yang benar dan sisanya hanyalah ekspresi yang berbeda. Dan hal yang penting, filsafat revolusioner harus bisa mengikat segala konsep dan pengetahuan dalam satu wujud yang konkrit, yang dapat dipahami manusia, dan tidak abstrak.

Penutup

Suatu kebutuhan akan filsafat yang revolusioner sudah terlihat dengan jelas. Maka tugas kita adalah menyelami filsafat itu dan menyusun filsafat ini, sedikit demi sedikit sampai jelas kenyataan dunia ini. Dan dengan adanya suatu metodologi filsafat yang baru, kita berharap akan suatu kebangkitan filsafat di antara segala ilmu. Sebab itulah yang membedakan kita dari binatang, dan dengan ini kita pun akan tahu tujuan dari keberadaan kita. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment