Friday, February 15, 2019

Kenyataan-Lama


Pendahuluan

Tugas pertama kita dalam pelaksanaan filsafat revolusioner adalah menjawab pertanyaan mendasar dalam filsafat, yaitu “apa itu kenyataan”. Tentu saja salah satu tujuan terungkap dalam menjawab pertanyaan ini adalah untuk memajukan filsafat revolusioner dan membangkitkan filsafat itu sendiri. Tanpa menjawab pertanyaan ini, filsafat tidak akan pernah maju apalagi filsafat revolusioner. Lagipula kebenaran akan kenyataan adalah standar kebenaran yang pertama dalam pembelajaran filsafat murni. Dari kebenaran tertinggi itulah muncul kebenaran-kebenaran lainnya yang dapat membantu pula dalam perumusan filsafat lainnya. Adanya kebenaran pertama akan pula sangat membantu dalam perbaikan dan pemberesan filsafat klasik dan kontemporer yang tercerai berai.

Adapula tujuan pengetahuan yaitu untuk menyatukan segala pengetahuan dunia yang sekarang ini juga tercerai berai. Kebenaran pertama adalah langkah pertama dalam menyatukan pengetahuan dunia. Bahkan sebenarnya dengan adanya kebenaran pertama, segala pengetahuan sudah terikat dan harus dibuat patuh pada kebenaran ini. Dan semakin banyak kebenaran yang ditemukan, maka ikatan pengetahuan akan menjadi semakin kuat, dan melalui bantuan filsafat integrasi ilmu-ilmu pengetahuan dapat disatukan kembali. Dengan itu, dapat tercipta satu konsepsi dunia yang integratif dan universal, yang menyentuh segala bidang baik empiris ataupun idealis, baik fisik maupun sosial.

Dalam perwujudan praktisnya, menjawab pertanyaan kenyataan akan menjadi langkah pertama pula dalam penyelesaian krisis dunia. Sekarang ini kita tahu, akan adanya aliran-aliran garis keras yang ingin menguasai dunia dalam nama mereka sendiri, adanya aliran-aliran yang mengesampingkan filsafat dan mendewakan empirisme, adanya aliran-aliran “toleransi” yang secara etis sangatlah relativis dan subjektif. Belum lagi masalah konkrit seperti ancaman perang, ketegangan ekonomi dan ketidakpastian yang merajalela di dunia. Dengan pengetahuan yang benar, maka kita pun akan tahu penyelesaian yang benar.

Akan tetapi, terlepas dari segala hal itu, tujuan paling utama dari menjawab pertanyaan ini adalah hidup manusia. Dengan menjawab pertanyaan ini, kita dapat menjawab pertanyaan yang tak kalah penting dan tak kalah sering ditanyakan yaitu “Apa tujuan hidup manusia?” Begitu kita mengetahui tujuan yang benar, kita akan dibebaskan dari sengsara dan kita dapat menggapai hidup yang sungguh lebih baik. Suatu hidup yang lebih bermakna, dan lebih berharga. Dan ini adalah langkah pertama dari mencapai suatu hidup yang lebih sempurna bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi segala mahluk semesta. Oleh karena itu, marilah kita mulai.

Keberadaan Kenyataan

Setiap benda memiliki suatu esensi, atau karakteristik yang mendefinisikan benda itu sendiri. Atau apa yang membuat benda tersebut berbeda dari benda yang lain, dan apa yang menjadi dasar dari suatu benda. Kenyataan sebagai “objek” pun tidak jauh berbeda dan tugas filsafat adalah mengetahui esensi paling dalam dari kenyataan. Apa yang membedakan suatu hal yang nyata, dari yang tidak nyata. Dan tentu saja ciri pertama yang dapat kita analisis, dan harus kita tentukan terlebih dahulu adalah keberadaan dari kenyataan. Tanpa mendapatkan suatu bukti akan keberadaan kenyataan, jawaban akan segala pertanyaan lain, yaitu permintaan akan pengetahuan tentang kenyataan, tidak mungkin didapat.

Sebab suatu keberadaan adalah hakikat paling mendasar dari segala objek. Kalau suatu objek tidak ada, kita pun tidak mungkin dapat mengetahui atau mengatakan apa-apa tentang objek tersebut. Katakanlah sebuah apel merah, kalau apel itu tidak ada maka suatu perumusan tentang apel merah spesifik itu pun tidak akan mungkin. Bahkan kita tidak bisa menyatakan tentang ketiadaan dari apel merah karena apel merah itu harus ada dulu lalu hilang sehingga kita bisa menyatakan ketiadaannya. Dan kalau apel merah itu ada sebagai ide, ia tetap dianggap berada karena dapat dinyatakan ketiadaan materilnya.

Namun apa yang menjadi bukti dari keberadaan suatu benda atau kenyataan apapun? Dalam logika, dianggap bahwa segala hal yang benar pastilah memiliki suatu bukti. Namun kebenaran filsafat yang umumnya juga diakui oleh setiap filsuf, yaitu keberadaan kenyataan tidak pernah dapat dibuktikan secara konkrit atau langsung. Dalam arti pembuktian pernah dilakukan tapi tidak ada yang menyerang permasalahan secara langsung. Dulu Descartes pernah membuat suatu perumusan yang sekarang dikenal sebagai Cogito Ergo Sum, atau “aku berpikir maka aku ada”. Sebagai titik awal, baiknya kita melihat sejenak pernyataan filsafat mendasar ini.

Argumen Descartes adalah dia bisa meragukan segala hal yang ada tapi tidak bisa meragukan fakta bahwa dia sedang meragukan. Suatu argumen yang tidak salah, dan dalam tulisan ini pun kesimpulannya tidak akan jauh berbeda dari kesimpulan Descartes. Hanya saja kita akan mengambil suatu pendekatan yang secara esensial cukup berbeda daripada pendekatan Cartesian. Kalau Descartes mengambil pendekatan ego, yaitu menurut diri kita sendiri, kita akan mengambil perspektif yang lebih transenden, tanpa merujuk pada diri atau ego. Dan untuk membuktikan keberadaan kenyataan, kita harus mengambil suatu titik awal.

Kriteria keberadaan kenyataan yang benar belum kita rumuskan saat ini, tapi tidak salah untuk mengambil suatu asumsi empiris bahwa apa yang berada ialah apa yang dapat diindera. Kesimpulan yang cukup masuk akal, tapi tetap harus kita perdebatkan dan kita pertanyakan. Misalkan adalah suatu apel merah, kalau kita dapat mengindera apel merah itu, maka secara empiris apel itu lulus tes keberadaan. Ide-ide tentang apel merah juga diterima karena dapat diterjemahkan dalam bentuk empiris, walau hakikatnya bersifat idealis. Satu kriteria umum lainnya adalah kalau benda tersebut dapat diindera secara kolektif atau hanya secara pribadi.

Kriteria empiris sekilas terlihat logis dan masuk akal, akan tetapi kalau kita uji akan terlihat beberapa masalah. Pertama, kriteria empiris bergantung pada keyakinan manusia akan panca indera, bahwa panca indera adalah sumber pengetahuan yang paling utama. Padahal secara empiris, terbukti bahwa panca indera sekalipun baik, tidak sesempurna atau seakurat yang kita bayangkan sebagai manusia. Bahwa terkadang ada hal-hal yang diindera tapi ternyata tidak ada dan seterusnya. Hal yang bermasalah tentu adalah keberadaan dari manusia itu sendiri, dan pembuktian dari keberadaan sang pengamat.

Kita dapat memperdebatkan bahwa keberadaan manusia sebagai pengamat dibuktikan oleh penginderaan bersama manusia, di mana setiap manusia menjamin keberadaan sesamanya. Hanya saja, tidak ada yang dapat menjamin keberadaan kolektif kelompok manusia tersebut, dan sekalipun ada pastilah akan muncul pertanyaan akan jaminan terhadap jaminan tersebut, begitu seterusnya sampai tiada akhir. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa pembuktian keberadaan menurut faktor eksternal bukan kriteria yang baik, karena akan pada akhirnya menciptakan pembuktian melingkar atau pembuktian tiada akhir.

Tanpa suatu kriteria keberadaan yang jelas ataupun konkrit, tidak ada keberadaan yang dapat dipastikan secara logika dan kita tidak dapat menyatakan keberadaan kenyataan. Justru karena adanya gugatan terhadap keberadaan kenyataan, dan tidak ada kepastian akan keberadaannya, maka dapat dinyatakan bahwa kenyataan sesungguhnya tidak ada. Jawaban ini mungkin terlihat cukup untuk pertanyaan kita, dan menyelesaikan tugas filsafat. Hanya saja kita harus tetap menguji pernyataan tersebut sampai jelas kebenaran, atau kesalahan dari pernyataan tersebut.

Kalau kenyataan memang tiada, maka kita dapat membentuk suatu pernyataan akan ketiadaan kenyataan. Pernyataan ini akan berbunyi, “Kenyataan tidak ada”. Namun dengan adanya pernyataan ini timbul beberapa masalah fatal bagi ide ketiadaan kita. Kalau misalnya kenyataan memang tiada, bagaimana mungkin kenyataan dapat dirumuskan? Sebab tidak ada yang dapat mengamati ketiadaan tersebut. Lalu kita beranggapan bahwa pernyataan tersebut terpisah dari kenyataan yang dinyatakannya, padahal begitu diciptakan suatu pernyataan ini maka timbullah suatu kenyataan. Pernyataan ini telah menjadi “nyata”, dan sebenarnya kita dapat menyatakan suatu hal pula tentang kondisi ini.

Pernyataan akan ketiadaan kenyataan, sekalipun terlihat benar sebenarnya salah karena satu hal, yaitu pernyataan tersebut tidak memperhitungkan dirinya sendiri. Pernyataan ini mungkin benar kalau berkata tentang segala hal di luar dirinya yang memang kosong. Akan tetapi saat ia mengatakan suatu hal tentang kenyataan, haruslah dirinya diperhitungkan pula dan berarti keberadaan dirinya telah terbukti, bagaimanapun juga. Maka kita dapat mengubah pernyataan tersebut menjadi suatu pernyataan yang berbunyi, “Kenyataan ada”, atau karena berhubungan dengan dirinya sendiri, “ ‘Aku’ ada,” dan di sinilah perjalanan filsafat kita sungguh berawal.

Dengan ini keberadaan dari kenyataan telah dipastikan dan dijamin. Hal yang menarik adalah keberadaan ini tidak ditentukan oleh suatu hal di luar kenyataan itu sendiri. Dan bahwa keberadaan ini juga dapat menyatakan dan membuktikan keberadaannya sendiri, layaknya konsepsi Cartesian mengenai Cogito Ergo Sum. Memang tidak ada perbedaan antara konsepsi kita dan konsepsi Descartes, hanya saja yang berbeda adalah penyampaiannya. Di mana Descartes menyampaikan secara personal, kita menyampaikan secara impersonal dan terlepas dari pemikiran ini. Dengan terbuktinya keberadaan kenyataan, hal berikut yang harus dilakukan ialah menetapkan kenyataan yang murni.

Kenyataan Murni

Esensi paling utama dari kenyataan tentu keberadaannya, apa yang ada ialah yang nyata dan sebaliknya. Hal yang membedakan adalah kalau kenyataan merupakan himpunan, maka keberadaan adalah kondisi di dalam himpunan kenyataan. Hal-hal yang di luar himpunan bukan termasuk himpunan dan juga bukan himpunan tersebut. Esensi murni ini tidak perlu kita perdebatkan kembali, dan bagi seluruh filsuf dan juga awam sekalipun ini juga tidak lagi diperdebatkan. Hal yang diperdebatkan adalah apa yang datang berikutnya.

Secara umum orang melakukan kesalahan dengan mengasumsikan realitas sekarang sebagai realitas yang murni padahal belum ditemukan jaminan pasti tentang realitas sekarang. Kita hanya mengetahui fakta bahwa kenyataan adalah keberadaan dan sebaliknya, tidak lebih tidak kurang. Karena itu kita juga akan memulai dari situ, tanpa mengurangi atau menambahkan. Hal pertama yang dapat kita ketahui adalah bahwa kenyataan hanya terdiri dari satu pernyataan tunggal yang menyatakan dirinya. 
Karena tidak ada hal lain selain ide tersebut, baiklah kita sebut saja sebagai suatu entitas.

Entitas kenyataan, sebagai keseluruhan kenyataan dan juga anggota tunggal kenyataan memiliki beberapa ciri utama yang dapat kita ringkas dengan satu kata, yaitu kesadaran. Ini ditunjukkan dalam proses pembuktian keberadaan kenyataan. Pertama, kenyataan dapat membuktikan keberadaan dirinya sendiri dan dapat menyatakan dirinya sendiri. Hal ini berarti bahwa kenyataan sebagai entitas dapat mengamati dirinya sendiri. Dalam istilah awam, kemampuan pengamatan dan pernyataan diri adalah kesadaran.

Kesadaran ini sendiri dapat kita kembangkan lebih lagi, yaitu menjadi konsep kebebasan. Bahwa kesadaran berdiri sendiri dan tidak ditentukan oleh entitas lain, itu adalah suatu kondisi yang disebut sebagai kebebasan dalam istilah awam. Kebebasan ini juga mengarah pada penyebaban diri dan jelas saja, kenyataan tidak disebabkan oleh entitas di luar dirinya sendiri, karena hanya ada satu kenyataan yaitu kenyataan kesadaran dan kebebasan. Dan dengan itu dapat dirumuskan satu kesimpulan umum mengenai kenyataan murni, bahwa kenyataan pada wujud yang paling mendasar adalah entitas yang dapat menyadari dan menyebabkan dirinya sendiri.

Kenyataan dan Indera

Sifat kenyataan yang murni sebagai suatu entitas yang bebas dan sadar telah dibuktikan dan ditetapkan, masalahnya tetap ada satu pertanyaan, bagaimana dengan kenyataan inderawi yang kita pegang pada saat ini? Sesungguhnya, segala hal yang kita lihat tetaplah yang terlihat dan yang diindera tetap yang diindera. Maka apapun yang kita ketahui memang nyata dan ada, hanya saja mereka kerap kali bukan dalam perwujudan murni kenyataan. Wujud murni kenyataan adalah sesuai yang dirumuskan, yaitu entitas kesadaran dan kebebasan. Lalu bagaimana relasi konkrit antara kenyataan murni dan kenyataan yang empiris?

Dalam intinya segala hal dalam kenyataan ialah satu, maka apapun yang kita lihat hanyalah perwujudan atau ekspresi dari kenyataan murni tersebut. Segala hal di dunia ini ada dan nyata dalam himpunan kenyataan. Bahkan yang tak terpikirkan pun juga nyata dan benar adanya, ataupun yang sudah mati, yang sudah hilang, dan yang belum terjadi. Hanya saja mereka berada dalam wujud yang berbeda atau tidak dapat diindera manusia. Namun mereka tetap ada dan menjadi bagian dari kenyataan yang utuh, seperti kita manusia dan segala makhluk lainnya.

Tentu saja rumusan kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan saja tidak cukup untuk menciptakan hubungan yang konkrit antara pengetahuan empiris dan filsafat murni. Baru setelah kenyataan murni diketahui secara penuh dan utuh kita dapat membentuk integrasi yang konkrit antara filsafat dan empirisme. Hal yang pasti, kita tahu bahwa objek empiris tidak ada karena kita mengamatinya, melainkan mereka ada tanpa pengamatan kita. Justru kita dapat mengamatinya karena hal tersebut ada, bukan sebaliknya. Manusia ada karena sendirinya ada, bukan karena diamati. Dan tentu saja, Tuhan pun nyata tanpa harus dapat diindera manusia.

Penutup

Dengan ini, tugas pertama kita dalam merumuskan kenyataan yang murni sudah selesai. Tentu saja maksud dari kenyataan murni ialah hal-hal paling esensial dari kenyataan, yaitu kebebasan dan kesadaran. Dengan mempertanyakan segala hal kita menemukan bahwa kenyataan harus ada dan keberadaannya tidak ditentukan oleh apapun kecuali dirinya sendiri. Dan fakta bahwa kenyataan dapat menyatakan dirinya sendiri adalah bukti bahwa ia adalah suatu entitas yang sadar. Namun tugas kita belum selesai, karena kita harus tetap mencari makna kesadaran dan kebebasan yang sejati, dalam hubungan dengan kenyataan yang kita tinggali sekarang. Untuk itu, perjalanan filsafat kita baru dimulai, Tuhan memberkati.

Ctt: Tulisan baru tentang kenyataan sudah ada yang lebih mencerminkan kenyataan secara sesungguhnya. Kenapa? Karena pada tulisan yang ini kebebasan tidak dijelaskan secara mendetil, padahal kebebasan yang paling penting. Selain itu masalah-masalah lain telah muncul sejak tulisan ini pertama kali dihasilkan, dan dibutuhkan suatu perumusan kenyataan yang lebih dalam. 

No comments:

Post a Comment