Pendahuluan
Tugas
pertama kita dalam pelaksanaan filsafat revolusioner adalah menjawab pertanyaan
mendasar dalam filsafat, yaitu “apa itu kenyataan”. Tentu saja salah satu
tujuan terungkap dalam menjawab pertanyaan ini adalah untuk memajukan filsafat
revolusioner dan membangkitkan filsafat itu sendiri. Tanpa menjawab pertanyaan
ini, filsafat tidak akan pernah maju apalagi filsafat revolusioner. Lagipula
kebenaran akan kenyataan adalah standar kebenaran yang pertama dalam
pembelajaran filsafat murni. Dari kebenaran tertinggi itulah muncul
kebenaran-kebenaran lainnya yang dapat membantu pula dalam perumusan filsafat
lainnya. Adanya kebenaran pertama akan pula sangat membantu dalam perbaikan dan
pemberesan filsafat klasik dan kontemporer yang tercerai berai.
Adapula
tujuan pengetahuan yaitu untuk menyatukan segala pengetahuan dunia yang
sekarang ini juga tercerai berai. Kebenaran pertama adalah langkah pertama
dalam menyatukan pengetahuan dunia. Bahkan sebenarnya dengan adanya kebenaran
pertama, segala pengetahuan sudah terikat dan harus dibuat patuh pada kebenaran
ini. Dan semakin banyak kebenaran yang ditemukan, maka ikatan pengetahuan akan
menjadi semakin kuat, dan melalui bantuan filsafat integrasi ilmu-ilmu
pengetahuan dapat disatukan kembali. Dengan itu, dapat tercipta satu konsepsi
dunia yang integratif dan universal, yang menyentuh segala bidang baik empiris
ataupun idealis, baik fisik maupun sosial.
Dalam
perwujudan praktisnya, menjawab pertanyaan kenyataan akan menjadi langkah
pertama pula dalam penyelesaian krisis dunia. Sekarang ini kita tahu, akan
adanya aliran-aliran garis keras yang ingin menguasai dunia dalam nama mereka
sendiri, adanya aliran-aliran yang mengesampingkan filsafat dan mendewakan
empirisme, adanya aliran-aliran “toleransi” yang secara etis sangatlah
relativis dan subjektif. Belum lagi masalah konkrit seperti ancaman perang,
ketegangan ekonomi dan ketidakpastian yang merajalela di dunia. Dengan
pengetahuan yang benar, maka kita pun akan tahu penyelesaian yang benar.
Akan
tetapi, terlepas dari segala hal itu, tujuan paling utama dari menjawab
pertanyaan ini adalah hidup manusia. Dengan menjawab pertanyaan ini, kita dapat
menjawab pertanyaan yang tak kalah penting dan tak kalah sering ditanyakan
yaitu “Apa tujuan hidup manusia?” Begitu kita mengetahui tujuan yang benar,
kita akan dibebaskan dari sengsara dan kita dapat menggapai hidup yang sungguh
lebih baik. Suatu hidup yang lebih bermakna, dan lebih berharga. Dan ini adalah
langkah pertama dari mencapai suatu hidup yang lebih sempurna bukan hanya bagi
manusia, tapi juga bagi segala mahluk semesta. Oleh karena itu, marilah kita
mulai.
Keberadaan Kenyataan
Setiap
benda memiliki suatu esensi, atau karakteristik yang mendefinisikan benda itu
sendiri. Atau apa yang membuat benda tersebut berbeda dari benda yang lain, dan
apa yang menjadi dasar dari suatu benda. Kenyataan sebagai “objek” pun tidak
jauh berbeda dan tugas filsafat adalah mengetahui esensi paling dalam dari
kenyataan. Apa yang membedakan suatu hal yang nyata, dari yang tidak nyata. Dan
tentu saja ciri pertama yang dapat kita analisis, dan harus kita tentukan
terlebih dahulu adalah keberadaan dari kenyataan. Tanpa mendapatkan suatu bukti
akan keberadaan kenyataan, jawaban akan segala pertanyaan lain, yaitu
permintaan akan pengetahuan tentang kenyataan, tidak mungkin didapat.
Sebab
suatu keberadaan adalah hakikat paling mendasar dari segala objek. Kalau suatu
objek tidak ada, kita pun tidak mungkin dapat mengetahui atau mengatakan
apa-apa tentang objek tersebut. Katakanlah sebuah apel merah, kalau apel itu
tidak ada maka suatu perumusan tentang apel merah spesifik itu pun tidak akan
mungkin. Bahkan kita tidak bisa menyatakan tentang ketiadaan dari apel merah
karena apel merah itu harus ada dulu lalu hilang sehingga kita bisa menyatakan
ketiadaannya. Dan kalau apel merah itu ada sebagai ide, ia tetap dianggap
berada karena dapat dinyatakan ketiadaan materilnya.
Namun
apa yang menjadi bukti dari keberadaan suatu benda atau kenyataan apapun? Dalam
logika, dianggap bahwa segala hal yang benar pastilah memiliki suatu bukti.
Namun kebenaran filsafat yang umumnya juga diakui oleh setiap filsuf, yaitu
keberadaan kenyataan tidak pernah dapat dibuktikan secara konkrit atau
langsung. Dalam arti pembuktian pernah dilakukan tapi tidak ada yang menyerang
permasalahan secara langsung. Dulu Descartes pernah membuat suatu perumusan
yang sekarang dikenal sebagai Cogito Ergo
Sum, atau “aku berpikir maka aku ada”. Sebagai titik awal, baiknya kita
melihat sejenak pernyataan filsafat mendasar ini.
Argumen
Descartes adalah dia bisa meragukan segala hal yang ada tapi tidak bisa
meragukan fakta bahwa dia sedang meragukan. Suatu argumen yang tidak salah, dan
dalam tulisan ini pun kesimpulannya tidak akan jauh berbeda dari kesimpulan
Descartes. Hanya saja kita akan mengambil suatu pendekatan yang secara esensial
cukup berbeda daripada pendekatan Cartesian. Kalau Descartes mengambil pendekatan
ego, yaitu menurut diri kita sendiri, kita akan mengambil perspektif yang lebih
transenden, tanpa merujuk pada diri atau ego. Dan untuk membuktikan keberadaan
kenyataan, kita harus mengambil suatu titik awal.
Kriteria
keberadaan kenyataan yang benar belum kita rumuskan saat ini, tapi tidak salah
untuk mengambil suatu asumsi empiris bahwa apa yang berada ialah apa yang dapat
diindera. Kesimpulan yang cukup masuk akal, tapi tetap harus kita perdebatkan
dan kita pertanyakan. Misalkan adalah suatu apel merah, kalau kita dapat
mengindera apel merah itu, maka secara empiris apel itu lulus tes keberadaan.
Ide-ide tentang apel merah juga diterima karena dapat diterjemahkan dalam
bentuk empiris, walau hakikatnya bersifat idealis. Satu kriteria umum lainnya
adalah kalau benda tersebut dapat diindera secara kolektif atau hanya secara
pribadi.
Kriteria
empiris sekilas terlihat logis dan masuk akal, akan tetapi kalau kita uji akan
terlihat beberapa masalah. Pertama, kriteria empiris bergantung pada keyakinan
manusia akan panca indera, bahwa panca indera adalah sumber pengetahuan yang
paling utama. Padahal secara empiris, terbukti bahwa panca indera sekalipun
baik, tidak sesempurna atau seakurat yang kita bayangkan sebagai manusia. Bahwa
terkadang ada hal-hal yang diindera tapi ternyata tidak ada dan seterusnya. Hal
yang bermasalah tentu adalah keberadaan dari manusia itu sendiri, dan
pembuktian dari keberadaan sang pengamat.
Kita
dapat memperdebatkan bahwa keberadaan manusia sebagai pengamat dibuktikan oleh
penginderaan bersama manusia, di mana setiap manusia menjamin keberadaan
sesamanya. Hanya saja, tidak ada yang dapat menjamin keberadaan kolektif
kelompok manusia tersebut, dan sekalipun ada pastilah akan muncul pertanyaan akan
jaminan terhadap jaminan tersebut, begitu seterusnya sampai tiada akhir. Dengan
ini dapat disimpulkan bahwa pembuktian keberadaan menurut faktor eksternal
bukan kriteria yang baik, karena akan pada akhirnya menciptakan pembuktian
melingkar atau pembuktian tiada akhir.
Tanpa
suatu kriteria keberadaan yang jelas ataupun konkrit, tidak ada keberadaan yang
dapat dipastikan secara logika dan kita tidak dapat menyatakan keberadaan
kenyataan. Justru karena adanya gugatan terhadap keberadaan kenyataan, dan tidak
ada kepastian akan keberadaannya, maka dapat dinyatakan bahwa kenyataan
sesungguhnya tidak ada. Jawaban ini mungkin terlihat cukup untuk pertanyaan
kita, dan menyelesaikan tugas filsafat. Hanya saja kita harus tetap menguji
pernyataan tersebut sampai jelas kebenaran, atau kesalahan dari pernyataan
tersebut.
Kalau
kenyataan memang tiada, maka kita dapat membentuk suatu pernyataan akan
ketiadaan kenyataan. Pernyataan ini akan berbunyi, “Kenyataan tidak ada”. Namun
dengan adanya pernyataan ini timbul beberapa masalah fatal bagi ide ketiadaan
kita. Kalau misalnya kenyataan memang tiada, bagaimana mungkin kenyataan dapat
dirumuskan? Sebab tidak ada yang dapat mengamati ketiadaan tersebut. Lalu kita
beranggapan bahwa pernyataan tersebut terpisah dari kenyataan yang
dinyatakannya, padahal begitu diciptakan suatu pernyataan ini maka timbullah
suatu kenyataan. Pernyataan ini telah menjadi “nyata”, dan sebenarnya kita
dapat menyatakan suatu hal pula tentang kondisi ini.
Pernyataan
akan ketiadaan kenyataan, sekalipun terlihat benar sebenarnya salah karena satu
hal, yaitu pernyataan tersebut tidak memperhitungkan dirinya sendiri.
Pernyataan ini mungkin benar kalau berkata tentang segala hal di luar dirinya
yang memang kosong. Akan tetapi saat ia mengatakan suatu hal tentang kenyataan,
haruslah dirinya diperhitungkan pula dan berarti keberadaan dirinya telah
terbukti, bagaimanapun juga. Maka kita dapat mengubah pernyataan tersebut
menjadi suatu pernyataan yang berbunyi, “Kenyataan ada”, atau karena
berhubungan dengan dirinya sendiri, “ ‘Aku’ ada,” dan di sinilah perjalanan
filsafat kita sungguh berawal.
Dengan
ini keberadaan dari kenyataan telah dipastikan dan dijamin. Hal yang menarik
adalah keberadaan ini tidak ditentukan oleh suatu hal di luar kenyataan itu
sendiri. Dan bahwa keberadaan ini juga dapat menyatakan dan membuktikan
keberadaannya sendiri, layaknya konsepsi Cartesian mengenai Cogito Ergo Sum. Memang tidak ada
perbedaan antara konsepsi kita dan konsepsi Descartes, hanya saja yang berbeda
adalah penyampaiannya. Di mana Descartes menyampaikan secara personal, kita
menyampaikan secara impersonal dan terlepas dari pemikiran ini. Dengan
terbuktinya keberadaan kenyataan, hal berikut yang harus dilakukan ialah
menetapkan kenyataan yang murni.
Kenyataan Murni
Esensi
paling utama dari kenyataan tentu keberadaannya, apa yang ada ialah yang nyata
dan sebaliknya. Hal yang membedakan adalah kalau kenyataan merupakan himpunan,
maka keberadaan adalah kondisi di dalam himpunan kenyataan. Hal-hal yang di
luar himpunan bukan termasuk himpunan dan juga bukan himpunan tersebut. Esensi
murni ini tidak perlu kita perdebatkan kembali, dan bagi seluruh filsuf dan
juga awam sekalipun ini juga tidak lagi diperdebatkan. Hal yang diperdebatkan
adalah apa yang datang berikutnya.
Secara
umum orang melakukan kesalahan dengan mengasumsikan realitas sekarang sebagai
realitas yang murni padahal belum ditemukan jaminan pasti tentang realitas
sekarang. Kita hanya mengetahui fakta bahwa kenyataan adalah keberadaan dan
sebaliknya, tidak lebih tidak kurang. Karena itu kita juga akan memulai dari
situ, tanpa mengurangi atau menambahkan. Hal pertama yang dapat kita ketahui
adalah bahwa kenyataan hanya terdiri dari satu pernyataan tunggal yang
menyatakan dirinya.
Karena tidak ada hal lain selain ide tersebut, baiklah kita
sebut saja sebagai suatu entitas.
Entitas
kenyataan, sebagai keseluruhan kenyataan dan juga anggota tunggal kenyataan
memiliki beberapa ciri utama yang dapat kita ringkas dengan satu kata, yaitu
kesadaran. Ini ditunjukkan dalam proses pembuktian keberadaan kenyataan.
Pertama, kenyataan dapat membuktikan keberadaan dirinya sendiri dan dapat
menyatakan dirinya sendiri. Hal ini berarti bahwa kenyataan sebagai entitas
dapat mengamati dirinya sendiri. Dalam istilah awam, kemampuan pengamatan dan
pernyataan diri adalah kesadaran.
Kesadaran
ini sendiri dapat kita kembangkan lebih lagi, yaitu menjadi konsep kebebasan.
Bahwa kesadaran berdiri sendiri dan tidak ditentukan oleh entitas lain, itu
adalah suatu kondisi yang disebut sebagai kebebasan dalam istilah awam. Kebebasan
ini juga mengarah pada penyebaban diri dan jelas saja, kenyataan tidak
disebabkan oleh entitas di luar dirinya sendiri, karena hanya ada satu
kenyataan yaitu kenyataan kesadaran dan kebebasan. Dan dengan itu dapat
dirumuskan satu kesimpulan umum mengenai kenyataan murni, bahwa kenyataan pada
wujud yang paling mendasar adalah entitas yang dapat menyadari dan menyebabkan
dirinya sendiri.
Kenyataan dan Indera
Sifat
kenyataan yang murni sebagai suatu entitas yang bebas dan sadar telah
dibuktikan dan ditetapkan, masalahnya tetap ada satu pertanyaan, bagaimana
dengan kenyataan inderawi yang kita pegang pada saat ini? Sesungguhnya, segala
hal yang kita lihat tetaplah yang terlihat dan yang diindera tetap yang
diindera. Maka apapun yang kita ketahui memang nyata dan ada, hanya saja mereka
kerap kali bukan dalam perwujudan murni kenyataan. Wujud murni kenyataan adalah
sesuai yang dirumuskan, yaitu entitas kesadaran dan kebebasan. Lalu bagaimana
relasi konkrit antara kenyataan murni dan kenyataan yang empiris?
Dalam
intinya segala hal dalam kenyataan ialah satu, maka apapun yang kita lihat
hanyalah perwujudan atau ekspresi dari kenyataan murni tersebut. Segala hal di
dunia ini ada dan nyata dalam himpunan kenyataan. Bahkan yang tak terpikirkan
pun juga nyata dan benar adanya, ataupun yang sudah mati, yang sudah hilang,
dan yang belum terjadi. Hanya saja mereka berada dalam wujud yang berbeda atau
tidak dapat diindera manusia. Namun mereka tetap ada dan menjadi bagian dari
kenyataan yang utuh, seperti kita manusia dan segala makhluk lainnya.
Tentu
saja rumusan kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan saja tidak cukup untuk
menciptakan hubungan yang konkrit antara pengetahuan empiris dan filsafat
murni. Baru setelah kenyataan murni diketahui secara penuh dan utuh kita dapat
membentuk integrasi yang konkrit antara filsafat dan empirisme. Hal yang pasti,
kita tahu bahwa objek empiris tidak ada karena kita mengamatinya, melainkan
mereka ada tanpa pengamatan kita. Justru kita dapat mengamatinya karena hal
tersebut ada, bukan sebaliknya. Manusia ada karena sendirinya ada, bukan karena
diamati. Dan tentu saja, Tuhan pun nyata tanpa harus dapat diindera manusia.
Penutup
Dengan
ini, tugas pertama kita dalam merumuskan kenyataan yang murni sudah selesai.
Tentu saja maksud dari kenyataan murni ialah hal-hal paling esensial dari
kenyataan, yaitu kebebasan dan kesadaran. Dengan mempertanyakan segala hal kita
menemukan bahwa kenyataan harus ada dan keberadaannya tidak ditentukan oleh
apapun kecuali dirinya sendiri. Dan fakta bahwa kenyataan dapat menyatakan
dirinya sendiri adalah bukti bahwa ia adalah suatu entitas yang sadar. Namun
tugas kita belum selesai, karena kita harus tetap mencari makna kesadaran dan
kebebasan yang sejati, dalam hubungan dengan kenyataan yang kita tinggali
sekarang. Untuk itu, perjalanan filsafat kita baru dimulai, Tuhan memberkati.
Ctt: Tulisan baru tentang kenyataan sudah ada yang lebih mencerminkan kenyataan secara sesungguhnya. Kenapa? Karena pada tulisan yang ini kebebasan tidak dijelaskan secara mendetil, padahal kebebasan yang paling penting. Selain itu masalah-masalah lain telah muncul sejak tulisan ini pertama kali dihasilkan, dan dibutuhkan suatu perumusan kenyataan yang lebih dalam.
No comments:
Post a Comment