Wednesday, January 23, 2019

Kenyataan Absolut


Suatu pertanyaan filsafat yang paling mendasar adalah apa itu kenyataan yang paling mendasar atau apa hakikat dari kenyataan. Menjawab pertanyaan ini sangatlah penting karena sebenarnya kalau kita dapat mengetahui hukum paling utama tentang dunia yang kita tinggali, kita dapat mengekstrapolasikan, atau menemukan hukum-hukum berikutnya. Menjawab pertanyaan ini sama dengan menjawab banyak sekali pertanyaan filsafat yang ada. Dan kalau kita dapat menghasilkan suatu jawaban yang “benar”, maka pada akhirnya filsafat dapat bergabung dengan studi-studi ilmiah lainnya. Di mana setiap bidang pengetahuan memiliki suatu metodologi untuk menentukan apa yang benar dan apa yang kurang benar, filsafat belum memilikinya. 

Padahal setiap bidang studi yang metodologis sekarang ini asal usulnya pastilah filsafat, tidak lain dan tidak bukan. Jadi saat semua anak-anaknya sudah menjadi penguasa-penguasa bumi, aneh melihat bahwa Ibu segala ilmu malah semakin lama semakin terlupakan dan malah dimanfaatkan untuk membunuh dirinya sendiri. Ini terutama untuk para filsuf positivis, misalnya Auguste Comte, yang menyatakan bahwa satu-satunya kebenaran berasal dari dunia empiris, yaitu dunia sesuai panca indera manusia. Kalau semua filsuf tiba tiba mengakui aliran positivis, itu adalah akhir dari filsafat. Sebab filsafat adalah lawan dari positivisme, filsafat mempelajari segala hal yang tidak bisa dirasakan dengan panca indera, jadi kalau kita menganut positivisme bahwa yang benar hanyalah yang dapat diindera, maka segala perjalanan para filsuf dalam dunia ide menjadi tidak ada artinya.

Namun tidak sesuai dengan pandangan umum, tujuan filsafat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan terbesar filsafat bukan hanya demi kenikmatan intelektual semata. Melainkan kalau pertanyaan tentang kenyataan dapat dijawab, maka kita dapat pada akhirnya menyatukan segala ilmu pengetahuan yang selama ini kesannya terpisah-pisah dan anarkis, alias tidak beraturan. Sebab tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau ada dua hukum alam yang bertentangan. Pastilah ada suatu hukum yang paling berkuasa, paling kekal, dan paling mendasar dari segala kenyataan. Dan tentu, jawaban paling penting bagi kita manusia tentunya adalah tujuan, tujuan hidup kita di dunia ini. Apa maksud keberadaan manusia secara keseluruhan? Atau mungkin, untuk apa ada semesta, bintang, kluster galaksi, superkluster, gravitasi, jerapah, dan segala isi semesta?

Melihat dari perspektif dunia yang umum, maraknya krisis yang semakin berpotensi untuk melenyapkan manusia dari bumi ini cukup menakutkan dan memprihatinkan bagi banyak sekali manusia. Munculnya manusia-manusia yang ingin melenyapkan kelompok lain demi keuntungan dirinya hanyalah salah satu masalah. Adapula kekacauan alam yaitu pemanasan global dan krisis lingkungan bumi yang berpotensi memusnahkan manusia pula. Ataupun sikap manusia yang cenderung apatis terhadap tradisi dan norma, bukan dalam hal menyimpang tapi dalam hal tidak berani menghadapi dan membuat suatu penilaian yang objektif. Sikap yang apatis terhadap kebenaran dan dunia ide, yaitu filsafat, sikap yang sekarang malah diidolakan dan seringkali bernama toleransi.

Jadi bagaimana caranya kita dapat menjawab pertanyaan yang sangat mengintimidasi dan selama ribuan tahun belum berhasil dijawab secara konkrit? Hal pertama yang harus dilakukan adalah kita harus mengetahui jawaban macam apa yang kita inginkan. Ini mudah dijawab, karena jelas saja jawaban yang kita inginkan adalah jawaban yang benar, tapi apa itu kebenaran? Pembedaan antara yang benar dan yang salah selama ini cukup rancu dan juga tidak jelas, tapi kita memiliki definisi yang jelas terhadap permasalahan ini. Benar salah di sini tidak mengacu pada permasalahan etis, setidaknya untuk sekarang, melainkan hanya pada karakteristik suatu “ide” atau “pernyataan”.

Suatu pernyataan adalah lawan dari pertanyaan, kalau pertanyaan meminta suatu jawaban, maka pernyataan adalah jawaban itu. Maka jawaban yang kita inginkan, yaitu jawaban dari pernyataan mengenai apa itu kenyataan dan sifat paling dasarnya, adalah suatu pernyataan pula. Dan pernyataan ini adalah suatu kalimat atau ide yang mendeskripsikan tentang suatu hal. Dalam hal ini kita mencari pernyataan yang mendeskripsikan kenyataan, secara benar. Maksud benar di sini artinya pernyataan itu memang sesuai dengan kenyataan, kalau salah berarti tidak sesuai, cukup sederhana.

Lalu apa itu kenyataan? Itulah yang ingin ketahui, memang sulit dan rasanya mustahil untuk mencari tahu tentang sesuatu yang benar-benar kita tidak ketahui. Karena kita tidak tahu apa itu kenyataan, atau setidaknya belum tahu, jadi tidak ada cara bagi kita untuk menguji jawabannya. Begitu kita mengasumsikan suatu kenyataan, maka jawabannya pastilah akan mematuhi kenyataan itu. Dalam pandangan positivis, ini sama saja dengan menebak bentuk dari suatu objek tanpa melihat objek itu. Bukan, bahkan tanpa pernah dapat berinteraksi dengan objek itu. Namun filsafat dapat menebak secara persis bentuk objek itu, atau setidaknya sifat paling dasarnya, tanpa harus berinteraksi dengannya.

Tentu saja itu hanya suatu perumpamaan, karena metode tanpa melihat seperti itu hanya berguna untuk menentukan sifat dasar kenyataan. Kalau kita ingin mengetahui bentuk suatu objek, tentu harus melihatnya atau berinteraksi dengannya. Lalu bagaimana filsafat dapat menentukan bentuk kenyataan tanpa harus berinteraksi dengan bentuk tersebut? Sebenarnya bukannya kita tidak mau, tapi karena memang kita tidak bisa berinteraksi dengan bentuk paling dasar dari kenyataan hanya dengan panca indera kita. Dalam filsafat kita harus sedikit kreatif, yaitu dengan membuat tebakan-tebakan dan memulai dari situ.

Tebakan pertama yang ingin kita buat adalah dengan mengasumsikan pengalaman kita sendiri. Bahwa kenyataan ialah dunia yang kita tinggali dan kenyataan sesuai dengan yang dapat diketahui melalui panca indera manusia, secara spesifik mayoritas manusia. Ini, bukan jawaban yang salah, tapi pertanyaan kita kurang sebelumnya. Sebab kita bukan hanya ingin mengetahui apa itu kenyataan, tapi kita ingin mengetahui kenyataan yang paling “nyata”. Yaitu kenyataan apa adanya, tanpa dibumbui dengan berbagai lapisan ilusi. Hal ini dapat kita katakan pula sebagai kenyataan absolut. Jadi, kalau kita mengatakan bahwa dunia sesuai panca indera adalah kenyataan, itu belum tepat. Karena berdasarkan pengamatan panca indera yang diperpanjang, sekadar melihat bunga belum cukup untuk melihat wujud sejati dari bunga.

Maksudnya adalah dunia yang kita lihat adalah bagian dari kenyataan, tapi bukan bentuk paling murni dari kenyataan. Pertanyaan kita adalah “apa itu kenyataan”, dan bukan “apa itu kenyataan menurut persepsi manusia”, jadi kita sama sekali belum mendekati jawaban yang diinginkan. Misalkan suatu pohon, kita tahu bahwa pohon sebagai suatu mahluk hidup sesungguhnya terdiri dari berbagai macam sel, yang terdiri dari berbagai molekul yang sendirinya adalah kelompok atom-atom. Atom, yang dikenal dulunya sebagai unsur pembentuk dunia paling dasar, ternyata juga masih terdiri dari partikel subatomik, misalnya elektron, neutron, dan proton. Setiap partikel ini pun terbagi lagi menjadi partikel-partikel elementer seperti boson, kuark, dan segala partikel lainnya. Namun pertanyaan belum terjawab, ada beberapa teori bahwa pada akhirnya partikel-partikel ini hanyalah energi, tapi tetap saja belum terjawab.

Suatu teori fisika kuantum yang cukup populer, yaitu teori medan kuantum, atau quantum field theory menyatakan bahwa energi adalah gangguan pada bidang kuantum, dan gangguan yang cukup besar adalah partikel-partikel. Walau begitu tetap saja apa yang namanya bidang kuantum, energi, partikel elementer dan seterusnya masih tidak diketahui apa sifatnya. Mengakui ini sebagai jawaban terhadap pertanyaan kita tidak cukup baik. Karena kita hanya mengetahui wujudnya, bukan sifatnya. Sama saja bahwa kita mengatakan kenyataan bentuknya seperti seekor kucing, tapi kalau kita tidak tahu bagaimana kucing itu berfungsi, tidak ada gunanya.

Bagaimanapun juga, perspektif positivis-empiris tidak akan bisa membawa kita pada jawaban terhadap pertanyaan akan kenyataan. Sebenarnya ada satu metode lain, yaitu mengenai kebenaran itu sendiri. Walaupun kita tidak mengetahui sifat sesungguhnya tentang kenyataan, kita tahu tentang beberapa sifat dari kebenaran. Hal yang benar kalau ditelusuri tidak akan mengarah pada pertentangan atau dalam istilah logika, kontradiksi. Dan karena kita mencari jawaban akan kenyataan, berarti suatu pernyataan tentang kenyataan yang tidak bisa digugat lagi adalah jawaban yang diinginkan atau jawaban yang benar. Kalau misalnya suatu pernyataan masih bisa digugat, berarti dapat kita tolak secara langsung.

Misal, kalau ada yang membuat suatu pernyataan bahwa semua orang berkulit hitam gagal, dan ada tokoh berkulit hitam yang ternyata sukses, maka pernyataan itu salah. Karena tidak sesuai dengan kenyataan dan terjadi suatu kontradiksi. Selain itu, kita harus menetapkan suatu parameter untuk membuat jelas pertanyaan ini. Saat kita menanyakan tentang kondisi sesungguhnya dari kenyataan, kita harus memulai dari properti kenyataan yang paling dasar, yaitu keberadaan. Dan memang cukup bodoh bagi kita untuk memulai dengan pertanyaan tentang kenyataan, sebab kita telah mengasumsikan keberadaan dari kenyataan. Padahal belum ada bukti akan keberadaan dari suatu “kenyataan”, jadi sekali lagi kita harus mengubah pertanyaan kita, dari “apa itu kenyataan” menjadi “apakah kenyataan itu ada?”

Pertanyaan itu bagi beberapa orang terlihat lebih bodoh daripada pertanyaan pertama kita yang memang sudah cukup gila bagi beberapa orang pula. Namun ini penting kalau kita ingin menjawab pertanyaan tentang kenyataan. Sebab kalau ternyata, keberadaan kenyataan terbukti salah, sangat mustahil bagi kita untuk menjawab pertanyaan tentang kenyataan. Sekalipun naga-naga yang hanyalah ide, kita tetap dapat menjawab pertanyaan tentang naga karena kita dapat menciptakan ide dan berimajinasi tentang naga. Jadi keberadaan tidak ditentukan oleh materialisme atau imaterialisme, karena selama suatu hal, seabstrak hal tersebut, dapat dinyatakan, berarti keberadaannya ialah benar dalam suatu wujud.

Masalahnya, apa yang sungguh berada di dunia ini? Bagaimana kita dapat membuktikan keberadaan suatu objek atau keberadaan apapun di dunia ini? Banyak orang berpendapat bahwa syarat dari keberadaan suatu benda adalah bahwa benda atau apapun itu berada kalau dirinya atau pengaruhnya dapat diindera oleh manusia. Karena itu, marilah kita coba menggunakan syarat hipotetis tersebut. Pertama, misalkan suatu buah apel yang merah. Buah ini akan divonis ada kalau dapat diindera oleh mayoritas manusia yang menemuinya, kecuali mereka sudah mati atau memang entah kenapa tidak bisa mengindera apel itu, dan divonis tiada kalau mayoritas manusia tidak bisa menginderanya.

Asumsikan bahwa ada sekelompok orang yang terdiri dari 10 orang. Mereka menemui apel merah itu, dan ternyata 10 dari 10 orang dapat melihatnya, merabanya, menciumnya, mengecapnya, dan mendengar bunyi yang ditimbulkan saat apel itu jatuh atau ditimpuk pada salah seorang lainnya. Jadi, apakah apel itu ada? Kelihatannya ini adalah pertanyaan yang sederhana, dan mungkin bodoh kalau kita masih mempertanyakannya. Masalahnya, syarat bahwa suatu objek ada kalau diindera manusia adalah suatu syarat arbitrer, dan tetap saja pertanyaan berikutnya adalah apakah manusia-manusia itu ada?

Suatu pertanyaan yang bodoh juga, tapi tetap saja penting untuk ditanyakan demi keberhasilan tujuan kita. Dapat diargumentasikan bahwa manusia-manusia itu saling menjamin keberadaan sesamanya, tapi apa yang dapat menjamin keberadaan seluruh 10 orang itu secara kolektif? Bagaimana kalau 10 orang itu tidak dapat diindera oleh semua orang lain, dan ternyata tidak ada jaminan bahwa 10 orang, atau apel yang tidak jelas sifatnya pula, sungguh ada? Ini dapat diterapkan pada dunia nyata, di mana kita akan terus memperumit jaringan pernyataan kita, dan hanya menjadi jaringan rumit yang hanya mendukung dirinya sendiri. Atau bisa pula menjadi suatu regresi tak terbatas, di mana kita menemui suatu alur pembuktian yang tak terbatas. Sehingga kita dihadapkan pada pembuktian melingkar di satu sisi, yang biasanya tidak mengarah pada apapun, dan pembuktian tak terbatas, di mana kita juga tidak bisa menemukan jawabannya di akhir.

Pada titik ini, orang biasa biasanya akan menyerah, atau malah berkata bahwa segala pertanyaan ini tidak bermakna dan tidak berguna. Karena jelas saja ada suatu kenyataan, apapun itu, dan mempertanyakannya adalah hal yang bodoh. Masalahnya, segala hal yang telah kita lakukan sampai titik ini secara logis, tidak salah. Dalam hal tidak ada alur pemikiran yang malah berkontradiksi antar satu sama lain dan menjadikan segalanya salah. Dan dengan alur pembuktian yang kita temukan, mungkin kebenarannya adalah kenyataan tidak ada. Kebenaran juga tidak ada dan pertanyaan akan kenyataan tidak mungkin dijawab. Pertanyaan tentang keberadaan pernyataan jelas dapat dijawab, karena jawabannya adalah keberadaan apapun di dunia ini tidak dapat dibuktikan.

Supaya segala permasalahan ini jelas, baiknya kita memahami apa yang terjadi. Pembuktian yang kita lakukan menunjukkan bahwa memang kenyataan tidak ada dan tidak dapat ditentukan. Namun ini menjadi masalah, karena kalau begitu segala pertanyaan, yaitu permintaan akan suatu pernyataan, yaitu suatu deskripsi atau sesuai namanya, pernyataan tentang kenyataan tidak dapat dijawab. Misalkan ada suatu objek, katakanlah jam. Kalau jam itu tidak ada, bagaimana mungkin kita dapat menjawab pertanyaan tentang jam itu? Namun secara paradoksikal, selalu ada satu pertanyaan yang dapat dijawab, yaitu keberadaannya. Oleh sebab itu baiklah kita gugat pula pernyataan tentang keberadaan kenyataan.

Saat kita menyatakan ketiadaan kenyataan sebagai jawaban terhadap pertanyaan akan keberadaan pertanyaan, kenyataan apapun yang “ada” sesunggunya “tiada”. Artinya hanya ada suatu kekosongan yang bahkan tidak berarti dan begitu tiadanya tidak dapat dijelaskan secara manusiawi. Menyatakan ketiadaan tersebut sepertinya bukan hal yang buruk, atau hal yang salah. Karena memang pernyataan akan ketiadaan, dan ketiadaan tersebut ialah sama. Hal yang dilupakan adalah fakta bahwa pernyataan akan ketiadaan, tetap merupakan bagian dari kenyataan, yang ironinya adalah suatu ketiadaan tersebut. Dan dengan itu kita dapat menyatakan suatu hal tentang pernyataan tentang ketiadaan.

Faktanya, kita dapat menyatakan keberadaan dari pernyataan tentang ketiadaan itu. Hal ini menimbulkan kontradiksi fatal, karena artinya pernyataan tentang ketiadaan itu, secara hakiki salah. Sebab pernyataan tersebut tidak mempertimbangkan keberadaan dirinya sendiri. Namun kita dapat mengubah pernyataan itu menjadi suatu pernyataan yang menyatakan bahwa kenyataan memang ada. Dengan itu, pernyataan yang awalnya menyatakan ketiadaan sekarang menyatakan keberadaan akan dirinya sendiri, yaitu kenyataan. Sebab karena kenyataan hanyalah pernyataan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kenyataan menyatakan keberadaan dirinya sendiri. Apapun arti hal itu bagi pertanyaan tentang kenyataan. Sekarang kita tahu bahwa bagaimanapun juga, kenyataan memang ada dan pertanyaan tentang kenyataan tetap dapat dijawab.

Intinya, suatu kenyataan harus ada, kalau kita ingin menjawab pertanyaan apapun tentang kenyataan termasuk keberadaan kenyataan. Kenyataan yang dapat diperbincangkan, sekalipun “tiada” pasti ada dalam suatu bentuk atau yang lain. Kalau benar-benar tidak ada kenyataan, kita tidak akan bisa mengatakan apa-apa tentang kenyataan. Karena tidak mungkin dapat diketahui apakah ada ketiadaan atau suatu keberadaan. Ketiadaan itu akan begitu tidak adanya dan tidak berartinya sampai tidak bisa dinyatakan. Karena tidak ada yang bisa dinyatakan, saat suatu pernyataan dapat dibuat artinya ada yang dinyatakan, dan keberadaan benda itu terbukti.

Tahap berikutnya lebih mudah, yaitu untuk menjawab pertanyaan tentang kenyataan. Kita telah mengetahui bahwa kenyataan dalam kondisi ini hanyalah pernyataan yang dapat menyatakan keberadaan dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya kenyataan adalah kenyataan yang dapat menyatakan dirinya sendiri. Ini penting, karena hanya dengan menjawab pertanyaan tentang keberadaan kenyataan kita juga mengetahui jawaban terhadap pertanyaan tentang kenyataan. Maka jawaban terhadap pertanyaan “apa itu kenyataan?” adalah kenyataan adalah kenyataan yang dapat menyatakan dirinya sendiri. Setidaknya itu jawaban singkatnya.

Jawaban panjangnya sedikit lebih rumit, tapi tetap dapat dipahami. Suatu kenyataan yang dapat menyatakan dirinya sendiri sama dengan suatu kenyataan yang dapat mengamati dirinya sendiri. Tentu saja kemampuan pengamatan ini bukan yang paling penting, karena yang lebih penting adalah apa yang diamati. Banyak mahluk dapat mengamati lingkungan sekitarnya, tapi bagi mahluk itu lingkungan tersebut adalah bagian yang terpisah dari “diri”nya. Sebaliknya, kenyataan yang paling murni dapat mengamati dirinya sendiri sekaligus mengakui, atau dalam kata lain, menyadari bahwa yang diamati adalah dirinya sendiri.

Pada wujud paling murni, kenyataan sebagai suatu subjek, atau objek, atau entitas adalah suatu kesadaran. Yaitu entitas yang dapat mengetahui tentang dirinya sendiri, menyadari tentang dirinya sendiri, dan memahami dirinya sendiri. Ini juga salah satu alasan manusia disebut “citra Allah”, karena Allah yang sebenarnya adalah kenyataan paling murni ini, sebab manusia adalah salah satu mahluk di bumi yang dapat menyadari keberadaan dirinya sendiri. Manusia juga mampu bertanya tentang kenyataan, alias berfilsafat, suatu hal yang tidak dimiliki mahluk lain.

Kesadaran ini juga tidak hanya bisa menyadari dirinya, tapi juga menyebabkan dirinya. Sebab tidak seperti hal-hal lain yang lebih kompleks misalnya manusia, pohon, bintang, dan lain-lain yang membutuhkan suatu penyebab selain dirinya sendiri, kesadaran murni tidak membutuhkan penyebab. Sebenarnya tetap ada penyebab, tapi penyebab dari kesadaran, atau keberadaan kesadaran adalah kesadaran itu sendiri. Justru kesadaran ini yang juga menyebabkan segala hal lain, termasuk wujud kita sekarang ini sebagai manusia.

Kita juga bisa melihat kesadaran ini sebagai suatu pernyataan bahwa dirinya sungguh ada. Pernyataan ini memang benar, tapi hal yang membuatnya unik adalah ia tidak dibuktikan oleh apapun kecuali dirinya sendiri. Dalam ilmu logika, ini juga aneh karena biasanya suatu pernyataan, baik benar atau salah pasti ada alur pembuktiannya melalui premis-premis yang rumit dan panjang. Pernyataan tentang keberadaan kenyataan dapat dikatakan adalah satu satunya pernyataan yang dapat membuktikan kebenaran dirinya sendiri. Ini sepertinya mirip dengan kondisi mengenai 10 orang sebelumnya, yang dikategorikan sebagai pembuktian melingkar yang secara logika salah atau tidak mengarah pada apa-apa. Jadi mengapa pembuktian melingkar diperbolehkan untuk kesadaran murni?

Sebenarnya bisa saja kita berhenti pada 10 orang itu dan menyimpulkan bahwa kenyataan dapat mengamati dirinya sendiri dan seterusnya. Masalahnya adalah saat membahas tentang 10 orang itu, kita masih tidak tahu apa kenyataan itu, ataupun keberadaan kenyataan. 10 orang itu dalam perspektif kita saat itu hanya individu-individu yang saling mendukung keberadaan mereka sendiri. Namun tetap tidak ada yang menjadi dasar logika untuk menjamin keberadaan mereka secara kolektif. Mengenai pembuktian melingkar itu sendiri, alasan biasanya pembuktian semacam itu salah karena pembuktian melingkar sejatinya adalah suatu bentuk pembuktian yang berasal dari dirinya sendiri. Tidak melibatkan fakta lain, dan hanya pernyataan tentang keberadaan kenyataan yang dapat memenuhi hal tersebut. Segala pernyataan lain pasti disebabkan oleh pernyataan pertama ini, dalam satu bentuk atau yang lain.

Dan sekarang kita telah menyelesaikan apa yang selama ini belum pernah berhasil dijawab secara lengkap dan sistematis oleh para filsuf. Yaitu tugas dan pertanyaan akbar dalam filsafat, “Apa itu kenyataan?” Sebagai rumusan akhir, kenyataan adalah kesadaran, yaitu entitas yang dapat menyadari dirinya sendiri, dan juga menyebabkan dirinya sendiri. Dalam kata lain, kenyataan adalah kenyataan yang bebas, yang menggerakan dirinya sendiri dan mengendalikan dirinya sendiri. Sebagai suatu kebenaran, kebenaran ini juga menjadi dasar dari segala pemikiran dan pengetahuan lainnya. Kebenaran absolut ini yang harapnya dapat menjadi dasar penilaian bagi paham-paham apapun yang ada. Tentu masih banyak yang dapat dibahas, terutama tentang masalah Tuhan atau Allah, dan juga pertanyaan akbar lain yang lebih manusiawi yaitu pertanyaan etika. Namun itu bukan tugas kita saat ini, tugas kita ialah mencari tahu wujud paling murni dari kenyataan. Dan itulah yang ada, semoga penemuan ini berguna bagi mereka yang membaca dan memahami, Tuhan memberkati.