Suatu
pertanyaan filsafat yang paling mendasar adalah apa itu kenyataan yang paling
mendasar atau apa hakikat dari kenyataan. Menjawab pertanyaan ini sangatlah
penting karena sebenarnya kalau kita dapat mengetahui hukum paling utama
tentang dunia yang kita tinggali, kita dapat mengekstrapolasikan, atau
menemukan hukum-hukum berikutnya. Menjawab pertanyaan ini sama dengan menjawab
banyak sekali pertanyaan filsafat yang ada. Dan kalau kita dapat menghasilkan
suatu jawaban yang “benar”, maka pada akhirnya filsafat dapat bergabung dengan
studi-studi ilmiah lainnya. Di mana setiap bidang pengetahuan memiliki suatu
metodologi untuk menentukan apa yang benar dan apa yang kurang benar, filsafat
belum memilikinya.
Padahal
setiap bidang studi yang metodologis sekarang ini asal usulnya pastilah
filsafat, tidak lain dan tidak bukan. Jadi saat semua anak-anaknya sudah
menjadi penguasa-penguasa bumi, aneh melihat bahwa Ibu segala ilmu malah
semakin lama semakin terlupakan dan malah dimanfaatkan untuk membunuh dirinya
sendiri. Ini terutama untuk para filsuf positivis, misalnya Auguste Comte, yang
menyatakan bahwa satu-satunya kebenaran berasal dari dunia empiris, yaitu dunia
sesuai panca indera manusia. Kalau semua filsuf tiba tiba mengakui aliran
positivis, itu adalah akhir dari filsafat. Sebab filsafat adalah lawan dari
positivisme, filsafat mempelajari segala hal yang tidak bisa dirasakan dengan
panca indera, jadi kalau kita menganut positivisme bahwa yang benar hanyalah
yang dapat diindera, maka segala perjalanan para filsuf dalam dunia ide menjadi
tidak ada artinya.
Namun
tidak sesuai dengan pandangan umum, tujuan filsafat dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan terbesar filsafat bukan hanya demi kenikmatan intelektual
semata. Melainkan kalau pertanyaan tentang kenyataan dapat dijawab, maka kita
dapat pada akhirnya menyatukan segala ilmu pengetahuan yang selama ini kesannya
terpisah-pisah dan anarkis, alias tidak beraturan. Sebab tidak mungkin dan
tidak masuk akal kalau ada dua hukum alam yang bertentangan. Pastilah ada suatu
hukum yang paling berkuasa, paling kekal, dan paling mendasar dari segala
kenyataan. Dan tentu, jawaban paling penting bagi kita manusia tentunya adalah
tujuan, tujuan hidup kita di dunia ini. Apa maksud keberadaan manusia secara
keseluruhan? Atau mungkin, untuk apa ada semesta, bintang, kluster galaksi,
superkluster, gravitasi, jerapah, dan segala isi semesta?
Melihat
dari perspektif dunia yang umum, maraknya krisis yang semakin berpotensi untuk
melenyapkan manusia dari bumi ini cukup menakutkan dan memprihatinkan bagi
banyak sekali manusia. Munculnya manusia-manusia yang ingin melenyapkan
kelompok lain demi keuntungan dirinya hanyalah salah satu masalah. Adapula
kekacauan alam yaitu pemanasan global dan krisis lingkungan bumi yang
berpotensi memusnahkan manusia pula. Ataupun sikap manusia yang cenderung
apatis terhadap tradisi dan norma, bukan dalam hal menyimpang tapi dalam hal
tidak berani menghadapi dan membuat suatu penilaian yang objektif. Sikap yang
apatis terhadap kebenaran dan dunia ide, yaitu filsafat, sikap yang sekarang
malah diidolakan dan seringkali bernama toleransi.
Jadi
bagaimana caranya kita dapat menjawab pertanyaan yang sangat mengintimidasi dan
selama ribuan tahun belum berhasil dijawab secara konkrit? Hal pertama yang
harus dilakukan adalah kita harus mengetahui jawaban macam apa yang kita
inginkan. Ini mudah dijawab, karena jelas saja jawaban yang kita inginkan
adalah jawaban yang benar, tapi apa itu kebenaran? Pembedaan antara yang benar
dan yang salah selama ini cukup rancu dan juga tidak jelas, tapi kita memiliki
definisi yang jelas terhadap permasalahan ini. Benar salah di sini tidak
mengacu pada permasalahan etis, setidaknya untuk sekarang, melainkan hanya pada
karakteristik suatu “ide” atau “pernyataan”.
Suatu
pernyataan adalah lawan dari pertanyaan, kalau pertanyaan meminta suatu
jawaban, maka pernyataan adalah jawaban itu.
Maka
jawaban yang kita inginkan, yaitu jawaban dari pernyataan mengenai apa itu kenyataan
dan sifat paling dasarnya, adalah suatu pernyataan pula. Dan pernyataan ini
adalah suatu kalimat atau ide yang mendeskripsikan tentang suatu hal. Dalam hal
ini kita mencari pernyataan yang mendeskripsikan kenyataan, secara benar.
Maksud benar di sini artinya pernyataan itu memang sesuai dengan kenyataan,
kalau salah berarti tidak sesuai, cukup sederhana.
Lalu
apa itu kenyataan? Itulah yang ingin ketahui, memang sulit dan rasanya mustahil
untuk mencari tahu tentang sesuatu yang benar-benar kita tidak ketahui. Karena
kita tidak tahu apa itu kenyataan, atau setidaknya belum tahu, jadi tidak ada
cara bagi kita untuk menguji jawabannya. Begitu kita mengasumsikan suatu
kenyataan, maka jawabannya pastilah akan mematuhi kenyataan itu. Dalam
pandangan positivis, ini sama saja dengan menebak bentuk dari suatu objek tanpa
melihat objek itu. Bukan, bahkan tanpa pernah dapat berinteraksi dengan objek
itu. Namun filsafat dapat menebak secara persis bentuk objek itu, atau
setidaknya sifat paling dasarnya, tanpa harus berinteraksi dengannya.
Tentu
saja itu hanya suatu perumpamaan, karena metode tanpa melihat seperti itu hanya
berguna untuk menentukan sifat dasar kenyataan. Kalau kita ingin mengetahui
bentuk suatu objek, tentu harus melihatnya atau berinteraksi dengannya. Lalu
bagaimana filsafat dapat menentukan bentuk kenyataan tanpa harus berinteraksi
dengan bentuk tersebut? Sebenarnya bukannya kita tidak mau, tapi karena memang
kita tidak bisa berinteraksi dengan bentuk paling dasar dari kenyataan hanya
dengan panca indera kita. Dalam filsafat kita harus sedikit kreatif, yaitu
dengan membuat tebakan-tebakan dan memulai dari situ.
Tebakan
pertama yang ingin kita buat adalah dengan mengasumsikan pengalaman kita
sendiri. Bahwa kenyataan ialah dunia yang kita tinggali dan kenyataan sesuai
dengan yang dapat diketahui melalui panca indera manusia, secara spesifik
mayoritas manusia. Ini, bukan jawaban yang salah, tapi pertanyaan kita kurang
sebelumnya. Sebab kita bukan hanya ingin mengetahui apa itu kenyataan, tapi
kita ingin mengetahui kenyataan yang paling “nyata”. Yaitu kenyataan apa
adanya, tanpa dibumbui dengan berbagai lapisan ilusi. Hal ini dapat kita
katakan pula sebagai kenyataan absolut. Jadi, kalau kita mengatakan bahwa dunia
sesuai panca indera adalah kenyataan, itu belum tepat. Karena berdasarkan
pengamatan panca indera yang diperpanjang, sekadar melihat bunga belum cukup
untuk melihat wujud sejati dari bunga.
Maksudnya
adalah dunia yang kita lihat adalah bagian dari kenyataan, tapi bukan bentuk
paling murni dari kenyataan. Pertanyaan kita adalah “apa itu kenyataan”, dan
bukan “apa itu kenyataan menurut persepsi manusia”, jadi kita sama sekali belum
mendekati jawaban yang diinginkan. Misalkan suatu pohon, kita tahu bahwa pohon
sebagai suatu mahluk hidup sesungguhnya terdiri dari berbagai macam sel, yang
terdiri dari berbagai molekul yang sendirinya adalah kelompok atom-atom. Atom,
yang dikenal dulunya sebagai unsur pembentuk dunia paling dasar, ternyata juga
masih terdiri dari partikel subatomik, misalnya elektron, neutron, dan proton. Setiap
partikel ini pun terbagi lagi menjadi partikel-partikel elementer seperti
boson, kuark, dan segala partikel lainnya. Namun pertanyaan belum terjawab, ada
beberapa teori bahwa pada akhirnya partikel-partikel ini hanyalah energi, tapi
tetap saja belum terjawab.
Suatu
teori fisika kuantum yang cukup populer, yaitu teori medan kuantum, atau
quantum field theory menyatakan bahwa energi adalah gangguan pada bidang
kuantum, dan gangguan yang cukup besar adalah partikel-partikel. Walau begitu
tetap saja apa yang namanya bidang kuantum, energi, partikel elementer dan
seterusnya masih tidak diketahui apa sifatnya. Mengakui ini sebagai jawaban
terhadap pertanyaan kita tidak cukup baik. Karena kita hanya mengetahui
wujudnya, bukan sifatnya. Sama saja bahwa kita mengatakan kenyataan bentuknya
seperti seekor kucing, tapi kalau kita tidak tahu bagaimana kucing itu
berfungsi, tidak ada gunanya.
Bagaimanapun
juga, perspektif positivis-empiris tidak akan bisa membawa kita pada jawaban
terhadap pertanyaan akan kenyataan. Sebenarnya ada satu metode lain, yaitu
mengenai kebenaran itu sendiri. Walaupun kita tidak mengetahui sifat
sesungguhnya tentang kenyataan, kita tahu tentang beberapa sifat dari
kebenaran. Hal yang benar kalau ditelusuri tidak akan mengarah pada
pertentangan atau dalam istilah logika, kontradiksi. Dan karena kita mencari
jawaban akan kenyataan, berarti suatu pernyataan tentang kenyataan yang tidak
bisa digugat lagi adalah jawaban yang diinginkan atau jawaban yang benar. Kalau
misalnya suatu pernyataan masih bisa digugat, berarti dapat kita tolak secara
langsung.
Misal,
kalau ada yang membuat suatu pernyataan bahwa semua orang berkulit hitam gagal,
dan ada tokoh berkulit hitam yang ternyata sukses, maka pernyataan itu salah.
Karena tidak sesuai dengan kenyataan dan terjadi suatu kontradiksi. Selain itu,
kita harus menetapkan suatu parameter untuk membuat jelas pertanyaan ini. Saat
kita menanyakan tentang kondisi sesungguhnya dari kenyataan, kita harus memulai
dari properti kenyataan yang paling dasar, yaitu keberadaan. Dan memang cukup
bodoh bagi kita untuk memulai dengan pertanyaan tentang kenyataan, sebab kita
telah mengasumsikan keberadaan dari kenyataan. Padahal belum ada bukti akan
keberadaan dari suatu “kenyataan”, jadi sekali lagi kita harus mengubah
pertanyaan kita, dari “apa itu kenyataan” menjadi “apakah kenyataan itu ada?”
Pertanyaan
itu bagi beberapa orang terlihat lebih bodoh daripada pertanyaan pertama kita
yang memang sudah cukup gila bagi beberapa orang pula. Namun ini penting kalau
kita ingin menjawab pertanyaan tentang kenyataan. Sebab kalau ternyata,
keberadaan kenyataan terbukti salah, sangat mustahil bagi kita untuk menjawab
pertanyaan tentang kenyataan. Sekalipun naga-naga yang hanyalah ide, kita tetap
dapat menjawab pertanyaan tentang naga karena kita dapat menciptakan ide dan
berimajinasi tentang naga. Jadi keberadaan tidak ditentukan oleh materialisme
atau imaterialisme, karena selama suatu hal, seabstrak hal tersebut, dapat
dinyatakan, berarti keberadaannya ialah benar dalam suatu wujud.
Masalahnya,
apa yang sungguh berada di dunia ini? Bagaimana kita dapat membuktikan
keberadaan suatu objek atau keberadaan apapun di dunia ini? Banyak orang
berpendapat bahwa syarat dari keberadaan suatu benda adalah bahwa benda atau
apapun itu berada kalau dirinya atau pengaruhnya dapat diindera oleh manusia. Karena
itu, marilah kita coba menggunakan syarat hipotetis tersebut. Pertama, misalkan
suatu buah apel yang merah. Buah ini akan divonis ada kalau dapat diindera oleh
mayoritas manusia yang menemuinya, kecuali mereka sudah mati atau memang entah
kenapa tidak bisa mengindera apel itu, dan divonis tiada kalau mayoritas
manusia tidak bisa menginderanya.
Asumsikan
bahwa ada sekelompok orang yang terdiri dari 10 orang. Mereka menemui apel
merah itu, dan ternyata 10 dari 10 orang dapat melihatnya, merabanya,
menciumnya, mengecapnya, dan mendengar bunyi yang ditimbulkan saat apel itu
jatuh atau ditimpuk pada salah seorang lainnya. Jadi, apakah apel itu ada? Kelihatannya
ini adalah pertanyaan yang sederhana, dan mungkin bodoh kalau kita masih
mempertanyakannya. Masalahnya, syarat bahwa suatu objek ada kalau diindera
manusia adalah suatu syarat arbitrer, dan tetap saja pertanyaan berikutnya
adalah apakah manusia-manusia itu ada?
Suatu
pertanyaan yang bodoh juga, tapi tetap saja penting untuk ditanyakan demi
keberhasilan tujuan kita. Dapat diargumentasikan bahwa manusia-manusia itu
saling menjamin keberadaan sesamanya, tapi apa yang dapat menjamin keberadaan
seluruh 10 orang itu secara kolektif? Bagaimana kalau 10 orang itu tidak dapat
diindera oleh semua orang lain, dan ternyata tidak ada jaminan bahwa 10 orang,
atau apel yang tidak jelas sifatnya pula, sungguh ada? Ini dapat diterapkan
pada dunia nyata, di mana kita akan terus memperumit jaringan pernyataan kita,
dan hanya menjadi jaringan rumit yang hanya mendukung dirinya sendiri. Atau
bisa pula menjadi suatu regresi tak terbatas, di mana kita menemui suatu alur
pembuktian yang tak terbatas. Sehingga kita dihadapkan pada pembuktian
melingkar di satu sisi, yang biasanya tidak mengarah pada apapun, dan
pembuktian tak terbatas, di mana kita juga tidak bisa menemukan jawabannya di
akhir.
Pada
titik ini, orang biasa biasanya akan menyerah, atau malah berkata bahwa segala
pertanyaan ini tidak bermakna dan tidak berguna. Karena jelas saja ada suatu
kenyataan, apapun itu, dan mempertanyakannya adalah hal yang bodoh. Masalahnya,
segala hal yang telah kita lakukan sampai titik ini secara logis, tidak salah.
Dalam hal tidak ada alur pemikiran yang malah berkontradiksi antar satu sama
lain dan menjadikan segalanya salah. Dan dengan alur pembuktian yang kita
temukan, mungkin kebenarannya adalah kenyataan tidak ada. Kebenaran juga tidak
ada dan pertanyaan akan kenyataan tidak mungkin dijawab. Pertanyaan tentang
keberadaan pernyataan jelas dapat dijawab, karena jawabannya adalah keberadaan
apapun di dunia ini tidak dapat dibuktikan.
Supaya
segala permasalahan ini jelas, baiknya kita memahami apa yang terjadi. Pembuktian
yang kita lakukan menunjukkan bahwa memang kenyataan tidak ada dan tidak dapat
ditentukan. Namun ini menjadi masalah, karena kalau begitu segala pertanyaan,
yaitu permintaan akan suatu pernyataan, yaitu suatu deskripsi atau sesuai
namanya, pernyataan tentang kenyataan tidak dapat dijawab. Misalkan ada suatu
objek, katakanlah jam. Kalau jam itu tidak ada, bagaimana mungkin kita dapat
menjawab pertanyaan tentang jam itu? Namun secara paradoksikal, selalu ada satu
pertanyaan yang dapat dijawab, yaitu keberadaannya. Oleh sebab itu baiklah kita
gugat pula pernyataan tentang keberadaan kenyataan.
Saat
kita menyatakan ketiadaan kenyataan sebagai jawaban terhadap pertanyaan akan
keberadaan pertanyaan, kenyataan apapun yang “ada” sesunggunya “tiada”. Artinya
hanya ada suatu kekosongan yang bahkan tidak berarti dan begitu tiadanya tidak
dapat dijelaskan secara manusiawi. Menyatakan ketiadaan tersebut sepertinya
bukan hal yang buruk, atau hal yang salah. Karena memang pernyataan akan
ketiadaan, dan ketiadaan tersebut ialah sama. Hal yang dilupakan adalah fakta
bahwa pernyataan akan ketiadaan, tetap merupakan bagian dari kenyataan, yang
ironinya adalah suatu ketiadaan tersebut. Dan dengan itu kita dapat menyatakan
suatu hal tentang pernyataan tentang ketiadaan.
Faktanya,
kita dapat menyatakan keberadaan dari pernyataan tentang ketiadaan itu. Hal ini
menimbulkan kontradiksi fatal, karena artinya pernyataan tentang ketiadaan itu,
secara hakiki salah. Sebab pernyataan tersebut tidak mempertimbangkan
keberadaan dirinya sendiri. Namun kita dapat mengubah pernyataan itu menjadi
suatu pernyataan yang menyatakan bahwa kenyataan memang ada. Dengan itu,
pernyataan yang awalnya menyatakan ketiadaan sekarang menyatakan keberadaan
akan dirinya sendiri, yaitu kenyataan. Sebab karena kenyataan hanyalah
pernyataan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kenyataan menyatakan keberadaan
dirinya sendiri. Apapun arti hal itu bagi pertanyaan tentang kenyataan.
Sekarang kita tahu bahwa bagaimanapun juga, kenyataan memang ada dan pertanyaan
tentang kenyataan tetap dapat dijawab.
Intinya,
suatu kenyataan harus ada, kalau kita ingin menjawab pertanyaan apapun tentang
kenyataan termasuk keberadaan kenyataan. Kenyataan yang dapat diperbincangkan,
sekalipun “tiada” pasti ada dalam suatu bentuk atau yang lain. Kalau
benar-benar tidak ada kenyataan, kita tidak akan bisa mengatakan apa-apa
tentang kenyataan. Karena tidak mungkin dapat diketahui apakah ada ketiadaan
atau suatu keberadaan. Ketiadaan itu akan begitu tidak adanya dan tidak
berartinya sampai tidak bisa dinyatakan. Karena tidak ada yang bisa dinyatakan,
saat suatu pernyataan dapat dibuat artinya ada yang dinyatakan, dan keberadaan
benda itu terbukti.
Tahap
berikutnya lebih mudah, yaitu untuk menjawab pertanyaan tentang kenyataan. Kita
telah mengetahui bahwa kenyataan dalam kondisi ini hanyalah pernyataan yang
dapat menyatakan keberadaan dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya kenyataan
adalah kenyataan yang dapat menyatakan dirinya sendiri. Ini penting, karena
hanya dengan menjawab pertanyaan tentang keberadaan kenyataan kita juga
mengetahui jawaban terhadap pertanyaan tentang kenyataan. Maka jawaban terhadap
pertanyaan “apa itu kenyataan?” adalah kenyataan adalah kenyataan yang dapat
menyatakan dirinya sendiri. Setidaknya itu jawaban singkatnya.
Jawaban
panjangnya sedikit lebih rumit, tapi tetap dapat dipahami. Suatu kenyataan yang
dapat menyatakan dirinya sendiri sama dengan suatu kenyataan yang dapat
mengamati dirinya sendiri. Tentu saja kemampuan pengamatan ini bukan yang
paling penting, karena yang lebih penting adalah apa yang diamati. Banyak
mahluk dapat mengamati lingkungan sekitarnya, tapi bagi mahluk itu lingkungan
tersebut adalah bagian yang terpisah dari “diri”nya. Sebaliknya, kenyataan yang
paling murni dapat mengamati dirinya sendiri sekaligus mengakui, atau dalam
kata lain, menyadari bahwa yang diamati adalah dirinya sendiri.
Pada
wujud paling murni, kenyataan sebagai suatu subjek, atau objek, atau entitas
adalah suatu kesadaran. Yaitu entitas yang dapat mengetahui tentang dirinya
sendiri, menyadari tentang dirinya sendiri, dan memahami dirinya sendiri. Ini
juga salah satu alasan manusia disebut “citra Allah”, karena Allah yang
sebenarnya adalah kenyataan paling murni ini, sebab manusia adalah salah satu
mahluk di bumi yang dapat menyadari keberadaan dirinya sendiri. Manusia juga
mampu bertanya tentang kenyataan, alias berfilsafat, suatu hal yang tidak
dimiliki mahluk lain.
Kesadaran
ini juga tidak hanya bisa menyadari dirinya, tapi juga menyebabkan dirinya.
Sebab tidak seperti hal-hal lain yang lebih kompleks misalnya manusia, pohon,
bintang, dan lain-lain yang membutuhkan suatu penyebab selain dirinya sendiri,
kesadaran murni tidak membutuhkan penyebab. Sebenarnya tetap ada penyebab, tapi
penyebab dari kesadaran, atau keberadaan kesadaran adalah kesadaran itu
sendiri. Justru kesadaran ini yang juga menyebabkan segala hal lain, termasuk
wujud kita sekarang ini sebagai manusia.
Kita
juga bisa melihat kesadaran ini sebagai suatu pernyataan bahwa dirinya sungguh
ada. Pernyataan ini memang benar, tapi hal yang membuatnya unik adalah ia tidak
dibuktikan oleh apapun kecuali dirinya sendiri. Dalam ilmu logika, ini juga
aneh karena biasanya suatu pernyataan, baik benar atau salah pasti ada alur
pembuktiannya melalui premis-premis yang rumit dan panjang. Pernyataan tentang
keberadaan kenyataan dapat dikatakan adalah satu satunya pernyataan yang dapat
membuktikan kebenaran dirinya sendiri. Ini sepertinya mirip dengan kondisi
mengenai 10 orang sebelumnya, yang dikategorikan sebagai pembuktian melingkar
yang secara logika salah atau tidak mengarah pada apa-apa. Jadi mengapa
pembuktian melingkar diperbolehkan untuk kesadaran murni?
Sebenarnya
bisa saja kita berhenti pada 10 orang itu dan menyimpulkan bahwa kenyataan
dapat mengamati dirinya sendiri dan seterusnya. Masalahnya adalah saat membahas
tentang 10 orang itu, kita masih tidak tahu apa kenyataan itu, ataupun
keberadaan kenyataan. 10 orang itu dalam perspektif kita saat itu hanya
individu-individu yang saling mendukung keberadaan mereka sendiri. Namun tetap
tidak ada yang menjadi dasar logika untuk menjamin keberadaan mereka secara
kolektif. Mengenai pembuktian melingkar itu sendiri, alasan biasanya pembuktian
semacam itu salah karena pembuktian melingkar sejatinya adalah suatu bentuk
pembuktian yang berasal dari dirinya sendiri. Tidak melibatkan fakta lain, dan
hanya pernyataan tentang keberadaan kenyataan yang dapat memenuhi hal tersebut.
Segala pernyataan lain pasti disebabkan oleh pernyataan pertama ini, dalam satu
bentuk atau yang lain.
Dan
sekarang kita telah menyelesaikan apa yang selama ini belum pernah berhasil
dijawab secara lengkap dan sistematis oleh para filsuf. Yaitu tugas dan pertanyaan
akbar dalam filsafat, “Apa itu kenyataan?” Sebagai rumusan akhir, kenyataan
adalah kesadaran, yaitu entitas yang dapat menyadari dirinya sendiri, dan juga
menyebabkan dirinya sendiri. Dalam kata lain, kenyataan adalah kenyataan yang
bebas, yang menggerakan dirinya sendiri dan mengendalikan dirinya sendiri. Sebagai
suatu kebenaran, kebenaran ini juga menjadi dasar dari segala pemikiran dan
pengetahuan lainnya. Kebenaran absolut ini yang harapnya dapat menjadi dasar
penilaian bagi paham-paham apapun yang ada. Tentu masih banyak yang dapat
dibahas, terutama tentang masalah Tuhan atau Allah, dan juga pertanyaan akbar
lain yang lebih manusiawi yaitu pertanyaan etika. Namun itu bukan tugas kita
saat ini, tugas kita ialah mencari tahu wujud paling murni dari kenyataan. Dan
itulah yang ada, semoga penemuan ini berguna bagi mereka yang membaca dan
memahami, Tuhan memberkati.