Wednesday, January 15, 2020

Tahapan Menulis

Pendahuluan

Esai ini adalah esai terakhir dalam saga “esai tentang esai” atau “esai tentang menulis” atau “metaesai”. Adapula esai ini lebih menjadi eksekusi ide terakhir yang sempat dinyatakan pada esai pertama dan juga telah ditetapkan pada esai kedua. Sesungguhnya jika pada awal-awal itu aku tidak mendapat ide itu, bisa saja esai ini tidak akan lahir. Namun sebagai persiapan dan istirahat setelah dua esai yang cukup padat, aku ingin sedikit bersantai dengan penulisan esai ini.

Adapula sesungguhnya esai ini sejak awal telah direncanakan hanya sebagai suatu sharing tentang pengalamanku menulis selama 2 esai terakhir dan juga rencanaku dalam menulis esai-esai nanti. Jadi, sekalipun esai ini santai, Anda tetap dapat memiliki ekspektasi tinggi terkait formalitas dan kesantunan bahasa pada esai ini, yang memang telah menjadi tradisi dan budaya pribadiku. Mungkin dengan pengalamanku ini, pembaca dapat terinspirasi atau belajar, setidaknya itu adalah harapanku.

Sekalipun esai ini awalnya tidak memiliki tujuan yang sangat tinggi atau serius, kita tetap dapat memberikannya. Bahwa suatu tujuan tak langsung dari esai ini sebagai bentuk transparansi dari proses penulisanku. Dengan pengetahuan ini, pembaca dapat lebih memahami bagaimana esai-esaiku dibentuk dan mengapa esai-esaiku tertulis sedemikian rupa. Jadi jelas bahwa esaiku bukan plagiat melainkan sungguh asli buah pemikiran dan buah tangan, atau ketikan, dariku sendiri.

Dengan latar belakang demikian, bahwa pertama aku ingin membagikan pengalamanku tentang menulis esai, dan juga secara tak langsung untuk menunjukkan suatu transparansi semu dalam penulisanku supaya nyatalah bahwa apa yang kutulis sungguh buah pemikiran dan buah tangan atau ketikanku sendiri, aku menetapkan tujuan esai ini untuk membagikan dan menetapkan tahapan menulis esai bagiku.

Brainstorm

Sesungguhnya aku ingin menuliskan istilah terjemahan harafiah dalam bahasa Indonesia, yaitu “badai otak”, tapi aku rasa kurang cocok. Pada proses brainstorm, aku hanya menulis segala ide yang aku miliki dalam pikiranku pada buku tulisku. Biasanya hanya sepatah dua kata, tapi bisa juga kalimat-kalimat terpisah. Metode ini menurutku cukup efektif karena setelah melihat satu ide, lalu muncullah koneksi ke ide lain dan tinggal dilanjutkan terus sedemikian rupa.

Seringkali antara berbagai macam ide aku membuat koneksi-koneksi dalam bentuk garis antara satu kata atau ide dengan ide lainnya, yang menunjukkan suatu keterkaitan. Hal ini akan kulakukan sampai aku telah menulis ide selengkap-lengkapnya. Namun tentu saja sudah ada batasan supaya ide-idenya tidak terlalu banyak sehingga kita malah menghasilkan suatu manuskrip yang panjang, dan lengkap adalah lengkap yang terbatas. Konsep ini dapat ditemukan pada tulisanku, “... esai sifatnya sangat spesialis dan spesifik, satu ide tapi ide itu dikupas sangat mendalam dan diperas sampai kepada intisarinya” (Prasetyo, Esai, 2019).

Supaya sejak awal kita sudah membatasi ide-ide kita, aku akan menetapkan tujuan esai atau tesis esai di awal setelah pendahuluan. Jadi aku akan menulis mengapa aku ingin menulis esai ini, apa yang menjadi latar belakangnya, dan karena latar belakang itu apa yang ingin kusampaikan, kucapai, atau kubuktikan dengan esai itu. Dengan itu, segala tindakan brainstorm berikutnya akan terfokus untuk menjawab atau memenuhi tujuan esai sampai selengkap-lengkapnya. Maka cakupan esai menjadi sangat luas, tapi pada saat yang sama sangat terfokus.

Pada tahap ini pula sepatutnya kita juga mulai mencari sumber referensi yang terkait, karena kita harus membaca dulu konsepnya, memahami intisarinya, lalu mencatat di halaman brainstorm ide apa yang didapat dari sumber tersebut. Tentu saja tidak melupakan untuk mulai mencatat sumbernya itu sendiri supaya pada saat menulis atau merancang kerangka sumber referensi tinggal diurutkan dan dicantumkan.

Pada esai keduaku aku memang melakukan proses itu pada bagian kerangka tapi aku memiliki alasan. Alasan itu adalah saat itu aku sudah memiliki gambaran jelas dan spesifik pendapat macam apa yang ingin kucari dari sumber eksternal. Maka aku merasa tidak perlu untuk mencari terlebih dahulu, karena aku tahu potongan informasi itu sudah dapat ditemukan dan sudah pernah kutemukan. Jadi memang ini adalah hal yang fleksibel tapi umumnya seperti itu.

Sebagai ilustrasi, di bawah ada dua foto hasil brainstorming-ku untuk esai ini dan juga esai pertamaku.

Gambar 1 Brainstorm Esai Pertama

Gambar 2 Brainstorm Esai Sekarang

Kerangka Tulisan

Setelah kita merasa bahwa semua ide yang diperlukan untuk mencapai tujuan esai telah ditulis dan segala koneksinya telah dibuat pula, maka kita siap untuk mulai menyusun suatu kerangka tulisan. Esensi dari kerangka tulisan adalah mengurutkan ide-ide sesuai dengan struktur esai. Struktur esai ini sebagaimana yang telah ditulis dahulu, adalah dari titik awal, argumen pendukung, argumen inti, sampai diakhiri dengan kesimpulan (Prasetyo, Esai, 2019).


Kerangka tulisan dibuat dengan singkat, setiap ide diwakili sebagai bulletpoint saja, maka hanya kata-kata, atau frasa, dan jarang mencapai satu kalimat lengkap. Ide yang tertulis di kerangka seharusnya sepenuhnya diambil dari brainstorm, sebab brainstorm sudah ditulis dengan lengkap. Namun jika memang ada ide yang tiba-tiba muncul lagi, boleh saja diselipkan di satu tempat, tapi harapannya ini tidak terlalu banyak. Salah satu contohnya sebenarnya pada kerangka tulisan esai ini, yang akan ditampilkan nanti.

Kerangka juga akan menjadi pedoman akhir dalam menulis, yaitu apa yang harus dituliskan pertama, apa yang harus ditulis berikutnya, sampai akhir. Maka harapnya dalam penyusunan kerangka tulisan semuanya dapat dilakukan dengan yakin dan pasti, sehingga sungguh menjadi kerangka esai kita. Hal yang juga penting adalah menuliskan pada bagian mana suatu sumber referensi akan digunakan. Ini juga supaya kita tahu pada bagian esai kita yang mana kita harus mencantumkan sitasi sumber tersebut dan juga menuliskan informasi dari sumber referensi tersebut. 

Sebagai penjelas di bawah ada satu foto kerangka tulisanku untuk esai ini.

Gambar 3 Kerangka Tulisan Esai ini, dapat terlihat bagian yang diselipkan

Proses Menulis

Setelah kerangka tulisan siap dan lengkap, maka langkah berikutnya tentu saja untuk menulis esai itu sendiri. Suatu hal yang harus diperhatikan adalah penulisan esai harus sesuai dengan kerangka tulisan dan tidak membelok. Tujuannya jelas, untukku supaya esaiku tetap terdefinisikan, teratur, dan memiliki batasan yang jelas. Ini akan mempermudah proses dan juga membuat esai lebih enak untuk dibaca. Maka segala ide sudah harus disiapkan terdahulu di tahap brainstorm dan juga tahap kerangka tulisan, penulisan esai hanya proses paling akhirnya.

Pada tahap ini poin-poin dikembangkan menjadi paragraf-paragraf, dan juga diperdalam dan diperjelas. Memang benar bahwa dalam menulis paragraf kita “menambah ide”, tapi idenya tetap yang relevan dengan poin utama yang sedang kita tulis. Misalnya paragraf ini berdasarkan poin “kembangkan poin menjadi paragraf,” maka sesuailah paragraf ini dengan poin tersebut. Maksudnya kita memperjelas apa yang dimaksud dengan poin tersebut, apa korelasinya dengan keseluruhan esai, dan seterusnya.

Suatu hal yang harus diingat pula adalah mengenai sitasi dan referensi. Karena sejauh ini aku masih banyak menulis sitasi dan referensi internal, aku hanya mengutip secara langsung dan setelah itu dicantumkan sitasinya. Namun saat akan mengutip secara eksternal, ada dua cara, yaitu dengan pengutipan langsung atau dengan parafrase. Saat kita memparafrase, harus dipastikan informasinya masih semakna dengan informasi asli, sehingga tidak akan ada masalah akuntabilitas. Setelah itu baru kita cantumkan sitasinya. Maka langkah umumnya adalah menulis informasi dari sumber, lalu cantumkan sitasinya.

Berikutnya, secara khusus aku menulis esai-esaiku dalam dua bahasa secara berurutan, yaitu dalam bahasa Indonesia dulu, baru bahasa Inggris. Sebab ada teman-temanku yang berasal dari luar negeri maka aku harus mengakomodasinya. Dalam menulis esai versi Inggris, tidak ada tahapan yang berbeda, dan kerangka tulisan juga tidak diubah sehingga tetap menggunakan kerangka bahasa Indonesia untuk menulis. Tujuannya memang supaya praktis dan juga supaya tetap makna dan isinya tidak jauh berbeda. Selain itu ini juga melatih kemampuan bilingualku jadi aku rasa itu metode yang cukup efektif.

Publikasi

Setelah kedua esai dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris selesai, maka tahap terakhir adalah mempublikasikannya. Bagiku aku biasa mempublikasikan pada blog sekarang untuk esai bahasa Indonesia dan pada blog ini untuk esai bahasa Inggris. Lalu berikutnya aku membagikan secara langsung kepada beberapa rekan dan temanku yang sudah biasa kubagikan tulisanku. Saat kedua esai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sudah selesai, maka selesailah esai tersebut dan aku dapat berpindah pada esai berikutnya, dan siklus dimulai kembali.

Suntingan?

Aku menyadari bahwa umumnya dan idealnya suatu tulisan itu disunting dulu sebelum benar-benar dipublikasikan. Namun pada tahap ini aku memang belum memiliki rekan siapapun untuk membantu menyunting pekerjaanku. Adapula aku juga belum memiliki pendapatan untuk membayar penyunting profesional, maka esaiku sekarang apa adanya. Selain itu bagiku kalau esaiku harus melalui proses penyuntingan dahulu, akan menghabiskan waktu dan menjadi tidak efisien.

Lalu solusinya apa? Solusinya adalah untuk berusaha keras untuk menghasilkan esai yang berkualitas dan jelas sejak awal, sehingga tidak mengandalkan penyuntingan yang intensif untuk mempertahankan atau membela kualitasnya. Lagipula aku juga tidak menuntut tingkat kualitas bahasa yang sangat tinggi, melainkan secukupnya untuk mengekspresikan ide, sebab bukankah itu fungsi bahasa yang sebenarnya?

Meski begitu memang tidak dapat dipungkiri bahwa di masa yang akan datang kemungkinan selalu ada dan kesempatan dapat datang. Jadi memang bisa saja aku akan meminta bantuan seorang penyunting untuk menyunting karya-karyaku jika diperlukan. Namun aku rasa tetap saja tidak begitu diperlukan kalau masih esai seperti ini, jika tidak ada keluhan akan masalah bahasa yang kurang jelas, maka anggapannya bahasa esaiku cukuplah jelas dan baik.

Penutup

Maka dengan itu aku akan mulai menutup esai singkat ini. Tahapan dalam menulis bagiku dibagi menjadi 3 tahap yaitu brainstorm, kerangka tulisan, dan terakhir adalah penulisan esai itu sendiri. Esai ditulis dalam bahasa Indonesia dahulu, lalu dalam bahasa Inggris dengan kerangka tulisan yang sama. Setelah itu kedua esai dipublikasikan ke blog masing-masing dan juga kepada rekan-rekanku.

Adapula masalah penyuntingan belum menjadi masalah yang sangat penting atau kritis. Maka dengan itu esai singkat ini dapat kukatakan sudah selesai, dan berakhirlah saga esai-esai persiapan untuk sistem filsafat dan juga esai-esai lain. Dengan selesainya esai ini dan nantinya versi bahasa Inggris, maka hanya ada satu hal yang dapat dilakukan, yaitu melalui imperium filsafatku. Imperium ini akan dimulai dengan perkenalan umum pada filsafat, tapi itu untuk nanti. Untuk sekarang, esai ini sudah selesai, Tuhan memberkati.

Daftar Pustaka

Prasetyo, I. C. (2019, December 15). Esai. Dipetik December 31, 2019, dari Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2019/12/esai.html

Prasetyo, I. C. (2020, Januari 3). Sitasi, Sumber, dan Referensi. Dipetik Januari 13, 2020, dari Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2020/01/sitasi-sumber-dan-referensi.html


Friday, January 3, 2020

Sitasi, Sumber, dan Referensi


Pendahuluan

Di sekolah, guru-guru selalu mengulang beberapa hal terkait menulis suatu karya tulis, baik itu laporan atau esai, yaitu selalu mencantumkan sumbernya dan juga menggunakan sumber yang terpercaya. Mengintip ke dunia akademis yang lebih luas, prinsip atau doktrin referensi ini tetap terpakai dan menjadi semacam kepastian dalam karya tulis. Dalam semua tulisan non-fiksi, hampir semuanya akan menggunakan sumber eksternal, dan hanya sedikit sekali yang minim atau tiada referensi.

Sekalipun konsep sitasi diterima sebagai suatu doktrin yang tak terbantahkan dalam menulis non-fiksi, ini tetap menjadi masalah bagiku dulu. Sekalipun sejak awal aku dikenal sebagai anak yang “di atas rata-rata”, dan nantinya anak yang pintar, aku selalu malas untuk mencari sumber referensi. Oleh karena itu aku sejak dulu membenci pelajaran proyek penelitian ilmiah yang diadakan sekolahku. Hanya karena tuntutan untuk mencari sumber referensi.

Sebenarnya aku sudah memahami alasan di balik kewajiban memakai sumber referensi itu, dan plagiarisme hanya alasan kecil. Alasan yang lebih penting adalah masalah kredibilitas. Dalam menulis suatu karya tulis, pastilah akan ada argumen-argumen pendukung yang kita gunakan untuk menyampaikan argumen utama kita. Argumen pendukung ini biasanya semacam klaim, kalau klaim ini tidak dapat kita pertanggungjawabkan kebenarannya, pastilah argumen utama kita juga kurang dapat dipercaya.

Akan tetapi, aku tetap malas sekali untuk mencari sumber referensi walaupun aku sedikit menyadari pentingnya ada sumber referensi. Sekalipun aku tahu dan paham bahwa tanpa sumber referensi klaimku akan sulit dipercaya atau tidak ada dasarnya, rasa malas itu tetap ada. Syukurnya aku mampu mengalahkan rasa malas itu, dan dengan berat hati, tetap bekerja dan mencari sumber referensi semampu kemampuanku, yang sepertinya sudah cukup untuk standar akademis sekolahku.

Hal itu terjadi sekitar beberapa tahun sampai beberapa bulan yang lalu, dengan kesadaranku yang baru aku sekarang menyadari betapa pentingnya sitasi dan referensi itu. Di sisi lain aku juga menyadari mengapa aku merasa enggan dan malas untuk mencari sumber referensi, karena sulitnya itu luar biasa. Kesulitan ini yang setelah aku telaah, disebabkan oleh kekacauan ilmu pengetahuan itu sendiri serta kekacauan dunia yang ada saat ini.

Lalu, aku juga sudah berencana untuk menuliskan banyak esai, bagaimana dengan kesadaranku yang baru itu tentang sitasi dan referensi? Aku memang akan merencanakan akan tetap menggunakan sitasi dan referensi, tapi ada ketentuan-ketentuan tertentu yang akan mempengaruhinya. Bahwa tidak semua esaiku akan memakai sitasi dan referesi dari sumber eksternal. Oleh sebab itu esai ini bertujuan untuk membenarkan penggunaan sitasi dan referensi dalam esai-esaiku serta untuk menjelaskan bagaimana aku akan menggunakan sitasi dan referensi dalam esai-esaiku.

Kekacauan Sistem Sumber Referensi

Terdapat suatu kekacauan dalam sistem sumber referensi yang sekarang ada dalam dunia. Mungkin begitu kacaunya justru yang ada adalah ketiadaan sistem dan semua tulisan ditata secara berantakan dan saling bertentangan. Bayangkan kalau kita harus terjun dalam keberantakan itu dan berupaya mencari satu saja sumber yang kita inginkan. Hal yang kita punya hanyalah browser dan juga kata kunci, sisanya adalah beban kita untuk mencari dan menemukan sumber yang pas.

Sebagai pelajar yang harus menghadapi siksaan tersebut, aku jelas saja sangat merasakan kemalasannya untuk mencari sumber yang tepat. Masalahnya seperti ini, kita memiliki semacam ide dan kita dapat mendefinisikan ide tersebut. Sayangnya hanya dengan memasukkan kata kunci terkait ide itu akan mustahil untuk mendapatkan sumber yang tepat. Maka kita harus berupaya mencari konsep yang terkait, dan tergantung kemudahan ide kita, bisa cukup mudah karena beruntung atau sangat sulit karena demikianlah kenyataannya.

Terkadang, aku harus membaca satu per satu sumber dari pilihan sekian puluhan artikel yang berbeda, hanya untuk mencari informasi yang tepat. Itu pun kalau kita hanya mencari berdasarkan relevansi, aku biasanya sadar bahwa bisa saja artikel-artikel tersebut kurang kredibel, dan saat memasukkan faktor kredibilitas, pekerjaan ini menjadi puluhan kali lipat lebih sulit. Hal ini menimbulkan rasa frustrasi dan kesal yang akhirnya menjadi rasa malas. Jadi itulah asal usul dari “kemalasanku”.

Bagaimana persisnya kekacauan sistem sumber referensi ini dalam pandanganku? Bagiku semua artikel dan karya tulis yang disediakan di internet sebagai suatu sumber referensi kurang terorganisir. Dalam arti tidak diatur supaya memudahkan pencarian dan penggunaan sumber-sumber ini ataupun memperjelas sumber-sumber mana yang kredibel dan paling layak untuk dipakai, ataupun suatu sarana untuk membantu menentukan tulisan mana yang paling sesuai untuk dipakai.

Masalah pertama adalah klasifikasi, aku merasa bahwa cenderung tidak ada klasifikasi yang baik terhadap jurnal-jurnal ataupun sumber-sumber lainnya. Memang benar bahwa ada suatu sistem klasifikasi yang kasar berdasarkan topik besarnya. Misalnya artikel tentang sosiologi akan muncul di jurnal sosiologi dan bukan di jurnal biologi. Klasifikasi yang kumaksud adalah yang lebih khusus dalam setiap bidang itu, misalnya jurnal ini membicarakan tentang teori apa dalam sosiologi, atau memakai perspektif siapa dalam sosiologi. Adapula tidak adanya klasifikasi antara penelitian pertama yang menetapkan hukum-hukum utama dalam suatu ilmu, serta penelitian lanjutan yang lebih praktis daripada teoritis.

Seharusnya dalam setiap situs atau penyelenggara tulisan-tulisan ini ada semacam sistem klasifikasi internal supaya pencarian jurnal-jurnal dan artikel-artikel dapat dimudahkan. Misalnya aku sedang meneliti tentang sejarah G30S/PKI, dengan sistem klasifikasi tersebut ada kelompok jurnal-jurnal yang secara khusus membahas historiografinya, ada yang membahas teori-teori penyebabnya, ada yang membahas akibatnya dari beberapa bidang. Dengan itu aku dapat memilih dengan lebih mudah mana tulisan yang paling cocok.

Tanpa klasifikasi itu, maka aku harus memasukkan kata kunci, menggantinya berkali-kali, dan membaca dari sekian banyak artikel dan jurnal barulah ditemukan satu tulisan yang cukup cocok. Barangkali tulisan itu sebenarnya masih banyak perbedaan, tapi yang paling mendekati dari segala tulisan yang jauh dari pemikiran kita. Itu adalah masalah pertama mengenai klasifikasi, tapi klasifikasi ini tidak terjadi karena masalah kedua, yaitu otoritas.

Kesannya tidak ada badan otoritas yang berpengaruh dan berwenang mengatur segala artikel dan jurnal ini. Semua pihak bekerja secara “independen” dari satu sama lain, dan hasilnya apa yang dapat kita “ketahui” mengenai suatu ilmu menjadi potong demi sepotong. Tidak ada satu pihak yang menyatukan semua itu dan membuat suatu ringkasan paling baru mengenai ilmu tersebut sesuai dengan perkembangan tulisan. Tidak ada pula yang membuat penilaian terorganisir dan sistematis terhadap semua tulisan supaya dapat diklasifikasi sesuai dengan masalah pertama.

Otoritas yang kumaksud bukan menekankan pada suatu pemerintahan atau suatu politik dalam akademia, melainkan suatu kesatuan arah dan kesatuan pimpinan secara demokratis supaya semuanya ini bisa ditata dengan rapi. Maksudnya rapi adalah semua tulisan diklasifikasi menurut pengetahuan dalam ilmu yang bersangkutan, serta ada penilaian yang transparan terkait kualitas dan kredibilitas suatu tulisan. Serta ada sarana atau situs di mana kita dapat melihat seluruh tulisan tersebut secara cuma-cuma, tentunya yang sudah diklasifikasi dan sudah dinilai, supaya kita tidak perlu terlalu repot mencarinya.

Pada akhirnya, ada kesan yang kudapat bahwa pihak-pihak yang berwenang pada masalah ini seakan-akan kurang terjalin dalam kerjasama dan lebih pada suatu kompetisi. Tentunya bukan kompetisi secara terbuka atau kompetisi dalam mencari untung, tapi kurangnya hasrat untuk bekerjasama dengan pihak lain dan lebih banyak mau bekerja sendiri. Makanya ada banyak sekali jurnal-jurnal yang berbeda, seakan-akan ini suatu bisnis.

Mengapa ada banyak sekali jurnal atau situs yang berbeda? Kalau untuk setiap universitas ini aku pahami, tapi kalau yang di luar itu apakah harus begitu banyak? Banyak artikel yang begitu berbeda dan topiknya juga jauh-jauh. Kalau ada artikel dari dua sumber berbeda yang membicarakan topik yang sama tapi mereka saling berlawanan, mana yang harus dipercaya? Jelas ada suatu konflik kepentingan di sini, ada konflik keyakinan pula, yang satu percaya A yang lain percaya B.

Andaikan mereka bekerjasama dalam kesatuan otoritas tersebut, akan lebih jelas mana yang benar dan dapat diintegrasikan pandangan-pandangan yang berlawanan sehingga dapat diperoleh suatu sumber referensi yang lebih kredibel. Tidak usah mencari dari berbagai jenis jurnal, karena sarana prasarananya sudah disediakan melalui kesatuan otoritas akademis. Segalanya juga sudah diklasifikasi dan dinilai, yang kita lakukan tinggal memilih saja mana yang paling cocok dengan kebutuhan kita sesuai dengan kriteria yang ada.

Masih banyak lagi masalah yang mungkin dapat diungkit, tapi aku rasa kombinasi 3 faktor ini yang paling mengacaukan, yaitu minimnya klasifikasi, otoritas, dan kerjasama dalam dunia akademik. Dengan itu mencari sitasi dan referensi menjadi sangat melelahkan dan menyulitkan. Karena cenderung untuk mencari yang mirip saja dengan penelitian kita sudah susah, karena organisasinya sangat kurang memadai atau bahkan tidak ada.

Aku tahu bahwa kemungkinan besar aku salah satu dari kelompok yang sangat kecil atau satu-satunya orang yang mempermasalahkan hal ini. Orang lain kesannya sudah terbiasa dengan hal ini, dan juga tidak terdengar suara-suara yang mengkritik hal ini, selain aku. Bahkan mencari sumber referensi dengan tepat, dianggap sebagai suatu “keterampilan” dalam menulis. Pada akhirnya mayoritas orang menerima saja status quo ini dan menjadi terampil, sampai mampu memperoleh puluhan sumber referensi hanya untuk satu buku.

Apakah itu berarti aku ini seorang yang mudah menyerah dan mengeluh? Tidak, karena aku paham bahwa penggunaan sumber referensi itu penting, yang aku kritik adalah sistem sumber referensi, atau tepatnya pengelolaan tulisan-tulisan ilmiah yang kacau. Baiklah orang-orang mengatakan bahwa terjun dalam kekacauan ini dan memperoleh sumber yang tepat adalah suatu keterampilan, itu memang tepat. Akan tetapi aku rasa itu bukan hal yang harus dipertahankan, karena kita harus menilai kembali apa yang menjadi tujuan kita.

Tujuan kita yaitu untuk mencari kebenaran, bukan untuk “keterampilan” memilah sumber semata. Kekacauan sistem ini justru menjadi hambatan bagi kita semua untuk mencari kebenaran. Bayangkan kalau semua tulisan-tulisan ilmiah sudah dikelola dengan baik menurut prinsip klasifikasi, otoritas, dan kerjasama, pastilah pemilihan sumber referensi akan jauh lebih efisien dan kita dapat meluangkan lebih banyak waktu pada penyusunan argumen. Dengan itu segala proses akan dipercepat dan pastinya akan lebih efektif dalam mencapai tujuan kita untuk memperoleh kebenaran.

Maka dari itu kekacauan ini tetap tidak dapat dibenarkan dan sangat menghambat tujuan kita untuk mencapai kebenaran yang sepenuhnya. Sekalipun orang-orang sudah banyak yang mampu menemukan jarum dalam jerami, aku tetap terganggu oleh masalah ini aku pandang ini adalah masalah yang nyata. Sekali lagi menjadi sangat malas untuk mencari sumber referensi karena disorganisasi ini. Namun jangan menyamakan perkataanku dengan mengatakan sumber referensi itu tidak penting. Sebab sampai akhir zaman, memakai sumber eksternal tetaplah penting.

Pentingnya Sitasi dan Referensi

Orang-orang biasanya mengatakan bahwa sitasi dan referensi itu berguna untuk menghindari plagiarisme, dan supaya kita jujur bahwa kita menggunakan ide orang lain. Aku setuju tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu kredibilitas tulisan kita. Ini sangat berlaku untuk esai-esai yang menggunakan klaim-klaim eksternal yang harus dipertanggungjawabkan. Klaim eksternal ini biasanya klaim yang empiris, yang kita tidak bisa replikasikan ulang karena faktor sumber daya dan tidak praktis sehingga kita harus meminjam klaim orang lain.

Dengan mencantumkan referensi klaim orang lain tersebut, sebenarnya kita menyediakan suatu koneksi kembali ke referensi awal tersebut. Dalam perspektif lain, referensi itu menjadi pemadatan seluruh tulisan pendahulu menjadi argumen ringkas yang kita pakai. Argumen ringkas ini, biasanya argumen pendukung, anggapannya sudah “jadi”, dan tidak kita buktikan kembali atau perdebatkan kembali. Sebab kebenarannya sudah diuji terdahulu dalam tulisan pendahulu, dan para pembaca dapat dengan mudah mengaksesnya kembali untuk menilai kekuatan argumen pendukung tersebut.

Dalam kasus ini, kegunaan sitasi dan referensi adalah sebagai pertanggungjawaban dan akuntabilitas dari tulisan kita. Argumen utama kita memang sudah pasti “akuntabel” karena berasal dari kita. Namun komponennya, yaitu argumen pendukung, premis, atau deskripsi peristiwa yang bukan berasal dari penyelidikan kita sendiri, semua itu harus dipertanggungjawabkan. Kalau kita menggunakan argumen yang tidak akurat tentu tulisan kita akan berkurang kualitas kebenarannya. Maka sitasi dan referensi ada supaya kita dapat mempertanggungjawabkan tulisan kita, dengan menghubungkan kembali informasi yang kita pakai kepada sumber-sumbernya, yang harapannya memang akuntabel juga.

Sampai pada batas tertentu kita juga dapat memakai sitasi dan referensi untuk mempertanggungjawabkan klaim-klaim non-empiris. Bukan hanya pada teori abstrak berbasis empiris melainkan juga teori abstrak yang benar-benar non-empiris. Misalnya pada teori-teori matematika yang sangat abstrak, umumnya mereka hampir tidak ada koneksinya dengan dunia empiris dan murni rasionalis. Contoh lain adalah teori filsafat, ini lebih sulit karena banyak klaim yang berlawanan tapi “sama kuatnya”, tapi tetap dapat kita gunakan kalau kita membutuhkan informasi tersebut.

Kembali pada masalah plagiarisme, sitasi dan referensi memang berguna untuk menunjukkan bahwa ide itu berasal dari orang lain dan bukan dari kita. Ini lebih berguna untuk menunjukkan bahwa ide orang lain tersebut bukan argumen kita sendiri, melainkan alat bantu untuk menyusun argumen kita. Sebab argumen utama kita akan selalu berasal dari diri kita sendiri, justru konyol kalau argumen inti kita bukan punya kita sendiri, itu malah meringkas karya orang lain dan bukan membuat karya baru.

Kalau bagiku, salah satu konsekuensi lain dari mengatribusikan ide kepada sumbernya adalah untuk mendisosiasikannya dengan diri kita sendiri. Misalnya kita ingin mengkritik suatu ide atau argumen, maka argumen yang kita kritik itu harus jelas bukan dari kita, dan demi akuntabilitas juga jelas siapa yang menyampaikannya. Ini mungkin lebih berguna dalam dampak sosialnya, supaya kalau kita menyajikan argumen yang mengundang amarah publik, publik memahami bahwa itu bukan argumen kita tapi argumen orang lain yang kita kritik. Dengan itu publik juga memahami bahwa kita sepihak dengan mereka dan bukan melawan mereka.

Dari situ jelas bahwa sitasi dan referensi memang penting untuk masalah akuntabilitas, kredibilitas, dan kejujuran intelektual. Hal ini tentu berlaku untuk segala esai dan tulisan lainnya, termasuk tulisan-tulisanku. Dengan logika itu, harusnya semua tulisan memiliki sumber referensi yang cukup, tapi aku menentang itu. Aku menetapkan bahwa tidak semua esaiku harus memakai sitasi dan referensi yang banyak, dan aku juga tidak akan melakukannya. Bukan berarti aku tidak akan memakai sitasi dan referensi sama sekali, melainkan tidak sebanyak penggunaan secara umum, dan aku akan membela sikapku.

Pembelaan Esai Filsafat

Dari tiga kategori esaiku, esai filsafat adalah yang paling tidak akan memakai sitasi atau referensi untuk mayoritas esai-esai filsafatku. Ada dua sifat utama dari esai filsafat yang membuatku tidak akan menggunakan sitasi dan referensi, yaitu sifat orisinil dan sifat rasionalis. Dengan adanya dua sifat itu, masalah sitasi dan referensi menjadi tidak relevan bagi penulisan esai filsafat. Jadi bukan karena kemalasan semata, melainkan karena tidak dibutuhkan lagi.

Dalam esai pertamaku, aku menulis, “esai filsafat menjadi pembangun ilmu filsafat yang baru dari awal,” sehingga, “hal-hal yang terkandung dalam esai filsafat adalah sepenuhnya baru dan asli dari pemikiranku,” (Prasetyo, 2019). Kalau baru dan asli, maka anggapannya adalah mengesampingkan semua ilmu yang lama dan memulai dari awal. Kalau dari pemikiranku, maka anggapannya adalah semuanya berasal langsung dariku dan tidak ada kepentingan untuk mengatribusikan pada orang lain, karena atribusinya pada diriku sendiri.

Bagaimana jika ideku itu ternyata mirip dengan orang lain? Bukankah kesannya aku hanya meminjam ide orang lain tapi menjadikan ideku sendiri? Tidak, karena sekali lagi ini adalah penelitian filsafat hasil pemikiranku sendiri. Maka adalah suatu metodologi tersendiri, yang akan kujelaskan pula, yang menjadi sumber dari ide-ide filsafatku. Ini hanya menjadi plagiarisme atau ketidakjujuran intelektual saat ide-ide itu tidak kutemukan dengan metodologiku sendiri dan aku tidak dapat mempertanggungjawabkan bagaimana aku menemukan ide-ide serta argumen-argumen tersebut. Selama itu dapat dipenuhi, aku tidak dapat dituduh dengan plagiarisme atau pencurian ide.

Selain itu justru kemiripan ide filsafat pasti dan akan terjadi, bahkan akan menjadi aneh kalau sangat berseberangan. Kemiripan ini juga sudah sering terjadi di dunia ilmu empiris, di mana ada konsep Multiple Discovery atau “Penemuan Jamak”. Inti dari konsep ini adalah seringkali penemuan-penemuan ilmiah terjadi secara bersamaan pada waktu yang mirip. Penemuan-penemuan besar dalam sejarah biasanya mengikuti pola ini, seperti penemuan Calculus secara independen oleh Isaac Newton dan Gottfried Leibniez, penelitian tentang evolusi oleh Charles Darwin dan Arthur Russel Wallace, dan masih banyak lagi. (Giddings, 2018)

Alasan ini terjadi adalah kalau suatu fenomena alam merupakan hukum alam yang universal, semua pengamat harusnya mampu menangkap hukum yang sama dari itu. Dengan metodologi yang tepat, justru hasil dan kesimpulannya, sekalipun secara independen, harus sama karena memang demikian kebenaran alamnya. Maka dengan cukup banyak ilmuwan dalam masyarakat, pastilah akan banyak penemuan jamak secara independen.

Memang benar ini biasanya berlaku pada penemuan yang “bersamaan”, jadi sulit kalau mengaplikasikannya pada dua “penemuan” filsafat yang sama tapi terpisah oleh jangka waktu yang panjang. Namun seharusnya ini tetap berlaku, karena sekali lagi aku menggunakan metodologiku sendiri dari awal. Selain itu kemiripannya bukan kesamaan sepenuhnya, karena masakah sistem filsafatku yang baru sepenuhnya sama dengan keseluruhan pemikiran orang lain? Jawabannya tidak, bahkan aku dan filsuf lain kemungkinan besar mengambil jalur yang sama sekali berbeda dari awal, tapi karena suatu fakta filosofis yang kita temukan memang benar adanya, kami akan secara tidak sengaja sampai pada kesimpulan yang sama.

Namun kesamaan itu juga biasanya tidak bertahan lama, karena bagaimana aku mengiterpretasi kesimpulan itu dan bagaimana filsuf lain menginterpretasi kesimpulan tersebut pastilah berbeda sesuai dengan metodologi kami masing-masing. Jadi menurut konsep Penemuan Jamak, kemiripan ide antara ideku dengan ide pendahulu justru normal dan dapat diduga. Namun kemiripan itu karena ide-ide yang kami gunakan adalah ide yang universal, bukan karena aku mencomot ide pendahuluku.

Selain itu, tujuanku bukan untuk membahas filsafat filsuf lain dan mengadaptasikan mereka, seperti apa yang dilakukan beberapa filsuf, melainkan membangun suatu sistem filsafat yang sama sekali baru. Jadi aku malah tidak boleh memakai sumber eksternal, karena itu berarti sistemku malah mengandalkan suatu hal yang lama. Sumber eksternal mungkin sebagai pembanding, tapi bukan sebagai premis dalam penyusunan argumen. Dengan itu sitasi dan referensi pada sumber eksternal menjadi tidak relevan dalam esaiku.

Aku juga menulis, “Pengamatan filosofis bersifat rasionalis, yaitu berdasarkan akal budi dan penalaran semata,” (Prasetyo, 2019). Ini berarti aku mengamati isi pikiranku sendiri dan mengambil kesimpulan berdasarkan mekanika internal akal budi tersebut, atau pendekatan fenomenologis. Jadi sumber pengamatanku adalah diriku sendiri dan sama sekali tidak mengandalkan pengamatan orang lain atau pengamatan empiris yang sudah dilakukan orang lain. Oleh sebab itu aku sama sekali tidak membutuhkan sumber eksternal, karena sumbernya semua berasal dari diriku sendiri.

Sekalipun pengamatanku bersifat sedikit spesifik, pengamatanku adalah suatu pengalaman yang sangat mendasar dan umum, yang dapat diakses semua orang. Masakah aku harus mengandalkan pengamatan orang lain untuk menetapkan suatu pengamatan umum yang universal dan mungkin ada secara sehari-hari? Tentu saja itu malah menghambat kinerja, maka aku tidak memakai sumber referensi karena ini adalah pengamatan yang dapat dengan mudah diverifikasi oleh semua orang.

Jadi aku telah menyediakan alasan-alasanku mengapa dalam esai filsafat aku tidak akan memakai banyak sitasi dan referensi. Pertama karena aku membangun sistem yang baru dan bukan melanjutkan atau mengadaptasi ide filsuf lain, dan kedua karena gaya filsafatku membuat sitasi dan referensi tidak relevan dalam esai filsafatku. Lalu bagaimana dengan esai umum dan esai pribadi?

Pembelaan Esai Umum dan Esai Pribadi

Pertama untuk esai pribadi, tentu saja ini tidak membutuhkan sitasi dan referensi apapun. Lagipula esai pribadi sepenuhnya membicarakan diriku sendiri, bahkan esai pribadi menjadi sumber primer yang tidak memerlukan sitasi atau referensi. Maka tidak ada gunanya membahas esai pribadi dalam esai ini, di lain pihak esai umum masih memerlukan sedikit penjelasan karena ini yang ekspektasinya akan menggunakan lebih banyak sitasi dan referensi.

Sebenarnya tidak, justru esai umum semakin tidak memerlukan sitasi dan referensi karena alasan berikut. Aku menulis bahwa ada dua jenis esai umum yaitu yang filosofis dan non-filosofis. Esai umum filosofis, “...mengomentari masalah-masalah dalam kehidupanku dari perspektif filsafat,” dan esai umum non filosofis, “...berdasarkan pandangan-pandangan atau asumsi-asumsi pribadi yang belum dipastikan benar,” (Prasetyo, 2019)

Untuk esai umum filosofis, argumen pendukungnya tidak akan berasal dari sumber eksternal melainkan dari esai filsafatku sendiri. Sementara untuk esai umum non filosofis menggunakan asumsi-asumsiku saja, jadi semakin tidak memerlukan sitasi dan referensi, entah dari esaiku atau dari tulisan orang lain. Namun ada benarnya bahwa esai umumku memang membahas masalah yang empiris, sebab, “...objek esai umum adalah masalah dalam hidup, yang seringkali berasal dari luar,” (Prasetyo, 2019). Jadi bagaimana merekonsiliasi hal tersebut dengan sitasi dan referensi?
  
Tergantung keinginan dan hasratku dalam menulis esai tersebut. Jadi ada kalanya kalau aku ingin membahas suatu masalah empiris dengan lebih serius dan mendalam, aku dapat mencari sumber sumber informasi eksternal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Namun bagaimana kalau itu adalah masalah yang memang spesifik pada hidupku? Memang benar bahwa semuanya pasti ada informasi eksternal yang terkait, tapi pada akhirnya tergantung keinginanku juga. Lagipula esai umum tujuannya adalah untuk memberikan pendapatku secara subjektif dan mungkin secara bias juga, objektivitas dalam esai umum hanya pada topik yang dibahas, interpretasinya murni subjektif.

Jadi maksudku bukan menyatakan bahwa esai umumku sama sekali tidak menggunakan sitasi dan referensi dari sumber luar, melainkan bahwa dalam tujuanku tidak ada tuntutan yang keras bagi esai umumku untuk menggunakan sumber eksternal. Jika tujuanku berbeda, misalnya memang untuk meyakinkan orang tentang pandanganku sendiri, maka ya, aku akan memakai banyak sumber eksternal. Namun tujuanku hanya mengekspresikan, jadi memakai sitasi dan referensi secara reguler kurang relevan, kecuali memang sesuai dengan topiknya.

Maka jelas saja kalau esai umumku banyak yang membahas topik empiris tapi tidak memakai banyak sitasi dan referensi. Sebab tujuan esaiku bukanlah yang menuntut suatu akuntabilitas, kredibilitas, dan atribusi yang tinggi mengenai ide-ide. Namun kalau aku merasa sitasi dan referensi dapat membantu dalam tujuan ekspresif esai umum, pastilah akan terpakai. Karena itu aku akan merangkum pembelaanku dalam pembelaan akhir.

Pembelaan Akhir

Ada dua alasan utama aku tidak akan menggunakan sitasi dan referensi sebanyak orang lain. Pertama, adanya kekacauan dalam sistem sumber referensi yang berlaku saat ini. Masalah-masalah organisasi seperti klasifikasi, otoritas, dan kooperasi membuat pencarian sumber referensi sangat melelahkan dan menjadi hambatan dalam penulisan. Karena alasan pertama itu aku memutuskan lebih baik tidak memakai sumber referensi.

Alasan kedua, karena banyak dari esaiku yang tidak membutuhkan sitasi dan referensi, serta topik-topiknya membuat penggunaan atau keberadaan sitasi dan referensi dalam esaiku tidak relevan. Entah karena metodologi pengetahuannya sudah jauh berbeda, atau karena pengetahuan yang ditulis tidak didasarkan pada pengetahuan yang lama sama sekali, atau karena aku sama sekali tidak berniat untuk meyakinkan orang akan kebenaran pandanganku, melainkan hanya mengekspresikan.

Andaikan sumber referensi eksternal semuanya lebih tertata rapi, apakah aku akan lebih banyak menggunakan sitasi dan referensi? Mungkin saja, tapi ingat akan alasan kedua bahwa masalah keberadaan sitasi dan referensi tidak relevan dengan tujuan dan sifat esai-esaiku. Masalah ini dipertajam dalam kondisi aktual kini, bukan hanya mencantumkan sitasi dan referensi irelevan, tapi sangatlah tidak efisien dan membuang waktu. Demikian pembelaanku.

Resolusi Penggunaan Sitasi dan Referensi

Aku telah menjelaskan bagaimana aku tidak akan menggunakan sitasi dan referensi, lalu bagaimana aku akan menggunaan sitasi dan referensi pada sumber eksternal? Sesuai dengan yang telah dibahas, mayoritas akan tergantung keinginanku tapi ada beberapa penggunaan yang pasti. Pertama, untuk mengkritik, saat aku mengkritik suatu ide eksternal tentunya aku harus menyajikan ide itu seutuhnya. Tentu aku tidak mau jatuh pada kesalahan manusia jerami atau strawman fallacy. Sitasi dan referensi membantuku menghindari hal itu.

Kedua, kalau memang dibutuhkan untuk memperjelas masalahnya. Ini kurang lebih mirip dengan kritik, tapi kritik biasanya berlaku kalau aku menulis esai filsafat. Terkadang ada masalah yang memang latar belakang lengkapnya itu ada pada suatu sumber eksternal, atau pula ada informasi dari sumber eksternal yang mempengaruhi penilaianku dan pandanganku, itu dapat kumasukkan pula. Intinya dalam kasus ini sumber eksternal dipakai sebagai informasi tambahan.

Ketiga, kalau informasi eksternal itu terkait pada ideku sendiri dan aku ingin sedikit menanggapinya atau memberikan perbandingan. Dalam pikiranku ini akan lebih banyak muncul dalam esai filsafat, karena seperti yang telah kukatakan, banyak ideku akan mirip dengan ide pendahulu. Namun ini pun juga jarang dan mungkin hanya pada esai pertama dalam sistem filsafat. Setelah itu aku akan berusaha untuk tidak menyebutkan nama filsuf lain sama sekali.

Selain tiga penggunaan utama itu, kemungkinan besar aku tidak akan banyak menggunakan sitasi dan referensi. Sesuai dengan pembahasan sebelumnya, karena tidak akan diperlukan. Dengan itu aku rasa aku sudah menyampaikan semua yang harus disampaikan terkait masalah sitasi dan referensi ini. Sekiranya ini dapat memberikan pengertian bagi pembaca, karena aku tahu bahwa sitasi dan referensi adalah masalah yang serius, dan supaya aku tidak dikenai tuduhan yang tidak benar. Dengan itu aku akan menutup esai ini.

Penutup

Terkait dengan penggunaan sitasi dan referensi, esaiku tidak akan sepenuhnya menggunakan sitasi dan referensi karena dua alasan berikut. Sistem sumber referensi yang berlaku kini sangat kacau sehingga menjadi hambatan penulisan dan menjadi tidak efisien serta membuang waktu. Lalu esai-esaiku tidak membutuhkan sitasi dan referensi sehingga menjadi tidak relevan. Esai filsafatku sepenuhnya dariku dan esai umumku hanya ekspresif, jadi tuntutan akuntabilitas dan kredibilitas tidak terlalu tinggi.

Sementara itu aku tetap akan menggunakan sitasi dan referensi tapi hanya selama itu memenuhi tujuanku, dengan tiga penggunaan utama yaitu kritik, penjelasan, dan keterkaitan. Dengan itu esai ini telah memenuhi tujuannya, dan aku rasa aku telah cukup membenarkan diriku dan juga menjelaskan bagaimana aku akan menggunakan sitasi dan referensi dalam esai-esaiku.

Terkait rencana-rencana berikutnya, sesuai pada esai pertama aku berencana untuk menulis tentang tahap-tahap menulis. Tulisan itu akan lebih sebagai sharing dan bukan untuk membuktikan apapun pada pembaca, tapi harapannya pembaca tetap dapat mengambil hikmah dari hal tersebut. Secara lebih jelas esai itu akan menjelaskan bagaimana aku menulis dan dapat menyelesaikan suatu esai. Dengan itu esai ini kututup dan dinyatakan selesai. Semoga esai ini bermanfaat bagi diriku dan para pembaca, Tuhan memberkati.

Daftar Pustaka


Giddings, M. (2018, Agustus 30). Multiple Discovery. Retrieved Desember 31, 2019, from Indiana public media: https://indianapublicmedia.org/amomentofscience/multiple-discovery.php

Prasetyo, I. C. (2019, Desember 15). Esai. Retrieved Desember 31, 2019, from Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2019/12/esai.html