Pendahuluan
Di sekolah, guru-guru selalu mengulang beberapa hal
terkait menulis suatu karya tulis, baik itu laporan atau esai, yaitu selalu
mencantumkan sumbernya dan juga menggunakan sumber yang terpercaya. Mengintip
ke dunia akademis yang lebih luas, prinsip atau doktrin referensi ini tetap
terpakai dan menjadi semacam kepastian dalam karya tulis. Dalam semua tulisan
non-fiksi, hampir semuanya akan menggunakan sumber eksternal, dan hanya sedikit
sekali yang minim atau tiada referensi.
Sekalipun konsep sitasi diterima sebagai suatu
doktrin yang tak terbantahkan dalam menulis non-fiksi, ini tetap menjadi
masalah bagiku dulu. Sekalipun sejak awal aku dikenal sebagai anak yang “di
atas rata-rata”, dan nantinya anak yang pintar, aku selalu malas untuk mencari
sumber referensi. Oleh karena itu aku sejak dulu membenci pelajaran proyek
penelitian ilmiah yang diadakan sekolahku. Hanya karena tuntutan untuk mencari
sumber referensi.
Sebenarnya aku sudah memahami alasan di balik
kewajiban memakai sumber referensi itu, dan plagiarisme hanya alasan kecil.
Alasan yang lebih penting adalah masalah kredibilitas. Dalam menulis suatu
karya tulis, pastilah akan ada argumen-argumen pendukung yang kita gunakan
untuk menyampaikan argumen utama kita. Argumen pendukung ini biasanya semacam
klaim, kalau klaim ini tidak dapat kita pertanggungjawabkan kebenarannya,
pastilah argumen utama kita juga kurang dapat dipercaya.
Akan tetapi, aku tetap malas sekali untuk mencari
sumber referensi walaupun aku sedikit menyadari pentingnya ada sumber
referensi. Sekalipun aku tahu dan paham bahwa tanpa sumber referensi klaimku
akan sulit dipercaya atau tidak ada dasarnya, rasa malas itu tetap ada. Syukurnya
aku mampu mengalahkan rasa malas itu, dan dengan berat hati, tetap bekerja dan
mencari sumber referensi semampu kemampuanku, yang sepertinya sudah cukup untuk
standar akademis sekolahku.
Hal itu terjadi sekitar beberapa tahun sampai
beberapa bulan yang lalu, dengan kesadaranku yang baru aku sekarang menyadari
betapa pentingnya sitasi dan referensi itu. Di sisi lain aku juga menyadari
mengapa aku merasa enggan dan malas untuk mencari sumber referensi, karena
sulitnya itu luar biasa. Kesulitan ini yang setelah aku telaah, disebabkan oleh
kekacauan ilmu pengetahuan itu sendiri serta kekacauan dunia yang ada saat ini.
Lalu, aku juga sudah berencana untuk menuliskan
banyak esai, bagaimana dengan kesadaranku yang baru itu tentang sitasi dan
referensi? Aku memang akan merencanakan akan tetap menggunakan sitasi dan
referensi, tapi ada ketentuan-ketentuan tertentu yang akan mempengaruhinya.
Bahwa tidak semua esaiku akan memakai sitasi dan referesi dari sumber
eksternal. Oleh sebab itu esai ini bertujuan untuk membenarkan penggunaan
sitasi dan referensi dalam esai-esaiku serta untuk menjelaskan bagaimana aku
akan menggunakan sitasi dan referensi dalam esai-esaiku.
Kekacauan Sistem
Sumber Referensi
Terdapat suatu kekacauan dalam sistem sumber
referensi yang sekarang ada dalam dunia. Mungkin begitu kacaunya justru yang
ada adalah ketiadaan sistem dan semua tulisan ditata secara berantakan dan
saling bertentangan. Bayangkan kalau kita harus terjun dalam keberantakan itu
dan berupaya mencari satu saja sumber yang kita inginkan. Hal yang kita punya
hanyalah browser dan juga kata kunci, sisanya adalah beban kita untuk mencari
dan menemukan sumber yang pas.
Sebagai pelajar yang harus menghadapi siksaan
tersebut, aku jelas saja sangat merasakan kemalasannya untuk mencari sumber
yang tepat. Masalahnya seperti ini, kita memiliki semacam ide dan kita dapat
mendefinisikan ide tersebut. Sayangnya hanya dengan memasukkan kata kunci
terkait ide itu akan mustahil untuk mendapatkan sumber yang tepat. Maka kita
harus berupaya mencari konsep yang terkait, dan tergantung kemudahan ide kita,
bisa cukup mudah karena beruntung atau sangat sulit karena demikianlah
kenyataannya.
Terkadang, aku harus membaca satu per satu sumber
dari pilihan sekian puluhan artikel yang berbeda, hanya untuk mencari informasi
yang tepat. Itu pun kalau kita hanya mencari berdasarkan relevansi, aku
biasanya sadar bahwa bisa saja artikel-artikel tersebut kurang kredibel, dan
saat memasukkan faktor kredibilitas, pekerjaan ini menjadi puluhan kali lipat
lebih sulit. Hal ini menimbulkan rasa frustrasi dan kesal yang akhirnya menjadi
rasa malas. Jadi itulah asal usul dari “kemalasanku”.
Bagaimana persisnya kekacauan sistem sumber
referensi ini dalam pandanganku? Bagiku semua artikel dan karya tulis yang
disediakan di internet sebagai suatu sumber referensi kurang terorganisir.
Dalam arti tidak diatur supaya memudahkan pencarian dan penggunaan
sumber-sumber ini ataupun memperjelas sumber-sumber mana yang kredibel dan
paling layak untuk dipakai, ataupun suatu sarana untuk membantu menentukan
tulisan mana yang paling sesuai untuk dipakai.
Masalah pertama adalah klasifikasi, aku merasa bahwa
cenderung tidak ada klasifikasi yang baik terhadap jurnal-jurnal ataupun
sumber-sumber lainnya. Memang benar bahwa ada suatu sistem klasifikasi yang
kasar berdasarkan topik besarnya. Misalnya artikel tentang sosiologi akan
muncul di jurnal sosiologi dan bukan di jurnal biologi. Klasifikasi yang
kumaksud adalah yang lebih khusus dalam setiap bidang itu, misalnya jurnal ini
membicarakan tentang teori apa dalam sosiologi, atau memakai perspektif siapa
dalam sosiologi. Adapula tidak adanya klasifikasi antara penelitian pertama
yang menetapkan hukum-hukum utama dalam suatu ilmu, serta penelitian lanjutan
yang lebih praktis daripada teoritis.
Seharusnya dalam setiap situs atau penyelenggara tulisan-tulisan
ini ada semacam sistem klasifikasi internal supaya pencarian jurnal-jurnal dan
artikel-artikel dapat dimudahkan. Misalnya aku sedang meneliti tentang sejarah
G30S/PKI, dengan sistem klasifikasi tersebut ada kelompok jurnal-jurnal yang
secara khusus membahas historiografinya, ada yang membahas teori-teori
penyebabnya, ada yang membahas akibatnya dari beberapa bidang. Dengan itu aku
dapat memilih dengan lebih mudah mana tulisan yang paling cocok.
Tanpa klasifikasi itu, maka aku harus memasukkan
kata kunci, menggantinya berkali-kali, dan membaca dari sekian banyak artikel
dan jurnal barulah ditemukan satu tulisan yang cukup cocok. Barangkali tulisan
itu sebenarnya masih banyak perbedaan, tapi yang paling mendekati dari segala
tulisan yang jauh dari pemikiran kita. Itu adalah masalah pertama mengenai
klasifikasi, tapi klasifikasi ini tidak terjadi karena masalah kedua, yaitu
otoritas.
Kesannya tidak ada badan otoritas yang berpengaruh
dan berwenang mengatur segala artikel dan jurnal ini. Semua pihak bekerja
secara “independen” dari satu sama lain, dan hasilnya apa yang dapat kita
“ketahui” mengenai suatu ilmu menjadi potong demi sepotong. Tidak ada satu
pihak yang menyatukan semua itu dan membuat suatu ringkasan paling baru
mengenai ilmu tersebut sesuai dengan perkembangan tulisan. Tidak ada pula yang
membuat penilaian terorganisir dan sistematis terhadap semua tulisan supaya
dapat diklasifikasi sesuai dengan masalah pertama.
Otoritas yang kumaksud bukan menekankan pada suatu
pemerintahan atau suatu politik dalam akademia, melainkan suatu kesatuan arah
dan kesatuan pimpinan secara demokratis supaya semuanya ini bisa ditata dengan
rapi. Maksudnya rapi adalah semua tulisan diklasifikasi menurut pengetahuan
dalam ilmu yang bersangkutan, serta ada penilaian yang transparan terkait
kualitas dan kredibilitas suatu tulisan. Serta ada sarana atau situs di mana
kita dapat melihat seluruh tulisan tersebut secara cuma-cuma, tentunya yang
sudah diklasifikasi dan sudah dinilai, supaya kita tidak perlu terlalu repot
mencarinya.
Pada akhirnya, ada kesan yang kudapat bahwa
pihak-pihak yang berwenang pada masalah ini seakan-akan kurang terjalin dalam
kerjasama dan lebih pada suatu kompetisi. Tentunya bukan kompetisi secara
terbuka atau kompetisi dalam mencari untung, tapi kurangnya hasrat untuk
bekerjasama dengan pihak lain dan lebih banyak mau bekerja sendiri. Makanya ada
banyak sekali jurnal-jurnal yang berbeda, seakan-akan ini suatu bisnis.
Mengapa ada banyak sekali jurnal atau situs yang
berbeda? Kalau untuk setiap universitas ini aku pahami, tapi kalau yang di luar
itu apakah harus begitu banyak? Banyak artikel yang begitu berbeda dan topiknya
juga jauh-jauh. Kalau ada artikel dari dua sumber berbeda yang membicarakan
topik yang sama tapi mereka saling berlawanan, mana yang harus dipercaya? Jelas
ada suatu konflik kepentingan di sini, ada konflik keyakinan pula, yang satu
percaya A yang lain percaya B.
Andaikan mereka bekerjasama dalam kesatuan otoritas
tersebut, akan lebih jelas mana yang benar dan dapat diintegrasikan
pandangan-pandangan yang berlawanan sehingga dapat diperoleh suatu sumber
referensi yang lebih kredibel. Tidak usah mencari dari berbagai jenis jurnal,
karena sarana prasarananya sudah disediakan melalui kesatuan otoritas akademis.
Segalanya juga sudah diklasifikasi dan dinilai, yang kita lakukan tinggal
memilih saja mana yang paling cocok dengan kebutuhan kita sesuai dengan
kriteria yang ada.
Masih banyak lagi masalah yang mungkin dapat
diungkit, tapi aku rasa kombinasi 3 faktor ini yang paling mengacaukan, yaitu
minimnya klasifikasi, otoritas, dan kerjasama dalam dunia akademik. Dengan itu
mencari sitasi dan referensi menjadi sangat melelahkan dan menyulitkan. Karena
cenderung untuk mencari yang mirip saja dengan penelitian kita sudah susah, karena
organisasinya sangat kurang memadai atau bahkan tidak ada.
Aku tahu bahwa kemungkinan besar aku salah satu dari
kelompok yang sangat kecil atau satu-satunya orang yang mempermasalahkan hal
ini. Orang lain kesannya sudah terbiasa dengan hal ini, dan juga tidak
terdengar suara-suara yang mengkritik hal ini, selain aku. Bahkan mencari
sumber referensi dengan tepat, dianggap sebagai suatu “keterampilan” dalam
menulis. Pada akhirnya mayoritas orang menerima saja status quo ini dan menjadi
terampil, sampai mampu memperoleh puluhan sumber referensi hanya untuk satu
buku.
Apakah itu berarti aku ini seorang yang mudah
menyerah dan mengeluh? Tidak, karena aku paham bahwa penggunaan sumber
referensi itu penting, yang aku kritik adalah sistem sumber referensi, atau
tepatnya pengelolaan tulisan-tulisan ilmiah yang kacau. Baiklah orang-orang
mengatakan bahwa terjun dalam kekacauan ini dan memperoleh sumber yang tepat
adalah suatu keterampilan, itu memang tepat. Akan tetapi aku rasa itu bukan hal
yang harus dipertahankan, karena kita harus menilai kembali apa yang menjadi
tujuan kita.
Tujuan kita yaitu untuk mencari kebenaran, bukan
untuk “keterampilan” memilah sumber semata. Kekacauan sistem ini justru menjadi
hambatan bagi kita semua untuk mencari kebenaran. Bayangkan kalau semua
tulisan-tulisan ilmiah sudah dikelola dengan baik menurut prinsip klasifikasi,
otoritas, dan kerjasama, pastilah pemilihan sumber referensi akan jauh lebih
efisien dan kita dapat meluangkan lebih banyak waktu pada penyusunan argumen. Dengan
itu segala proses akan dipercepat dan pastinya akan lebih efektif dalam
mencapai tujuan kita untuk memperoleh kebenaran.
Maka dari itu kekacauan ini tetap tidak dapat
dibenarkan dan sangat menghambat tujuan kita untuk mencapai kebenaran yang
sepenuhnya. Sekalipun orang-orang sudah banyak yang mampu menemukan jarum dalam
jerami, aku tetap terganggu oleh masalah ini aku pandang ini adalah masalah
yang nyata. Sekali lagi menjadi sangat malas untuk mencari sumber referensi
karena disorganisasi ini. Namun jangan menyamakan perkataanku dengan mengatakan
sumber referensi itu tidak penting. Sebab sampai akhir zaman, memakai sumber
eksternal tetaplah penting.
Pentingnya
Sitasi dan Referensi
Orang-orang biasanya mengatakan bahwa sitasi dan
referensi itu berguna untuk menghindari plagiarisme, dan supaya kita jujur
bahwa kita menggunakan ide orang lain. Aku setuju tapi ada yang lebih penting
dari itu, yaitu kredibilitas tulisan kita. Ini sangat berlaku untuk esai-esai
yang menggunakan klaim-klaim eksternal yang harus dipertanggungjawabkan. Klaim
eksternal ini biasanya klaim yang empiris, yang kita tidak bisa replikasikan
ulang karena faktor sumber daya dan tidak praktis sehingga kita harus meminjam
klaim orang lain.
Dengan mencantumkan referensi klaim orang lain
tersebut, sebenarnya kita menyediakan suatu koneksi kembali ke referensi awal
tersebut. Dalam perspektif lain, referensi itu menjadi pemadatan seluruh
tulisan pendahulu menjadi argumen ringkas yang kita pakai. Argumen ringkas ini,
biasanya argumen pendukung, anggapannya sudah “jadi”, dan tidak kita buktikan
kembali atau perdebatkan kembali. Sebab kebenarannya sudah diuji terdahulu
dalam tulisan pendahulu, dan para pembaca dapat dengan mudah mengaksesnya
kembali untuk menilai kekuatan argumen pendukung tersebut.
Dalam kasus ini, kegunaan sitasi dan referensi
adalah sebagai pertanggungjawaban dan akuntabilitas dari tulisan kita. Argumen
utama kita memang sudah pasti “akuntabel” karena berasal dari kita. Namun
komponennya, yaitu argumen pendukung, premis, atau deskripsi peristiwa yang
bukan berasal dari penyelidikan kita sendiri, semua itu harus
dipertanggungjawabkan. Kalau kita menggunakan argumen yang tidak akurat tentu
tulisan kita akan berkurang kualitas kebenarannya. Maka sitasi dan referensi
ada supaya kita dapat mempertanggungjawabkan tulisan kita, dengan menghubungkan
kembali informasi yang kita pakai kepada sumber-sumbernya, yang harapannya
memang akuntabel juga.
Sampai pada batas tertentu kita juga dapat memakai
sitasi dan referensi untuk mempertanggungjawabkan klaim-klaim non-empiris. Bukan
hanya pada teori abstrak berbasis empiris melainkan juga teori abstrak yang
benar-benar non-empiris. Misalnya pada teori-teori matematika yang sangat
abstrak, umumnya mereka hampir tidak ada koneksinya dengan dunia empiris dan
murni rasionalis. Contoh lain adalah teori filsafat, ini lebih sulit karena
banyak klaim yang berlawanan tapi “sama kuatnya”, tapi tetap dapat kita gunakan
kalau kita membutuhkan informasi tersebut.
Kembali pada masalah plagiarisme, sitasi dan
referensi memang berguna untuk menunjukkan bahwa ide itu berasal dari orang
lain dan bukan dari kita. Ini lebih berguna untuk menunjukkan bahwa ide orang
lain tersebut bukan argumen kita sendiri, melainkan alat bantu untuk menyusun
argumen kita. Sebab argumen utama kita akan selalu berasal dari diri kita
sendiri, justru konyol kalau argumen inti kita bukan punya kita sendiri, itu
malah meringkas karya orang lain dan bukan membuat karya baru.
Kalau bagiku, salah satu konsekuensi lain dari
mengatribusikan ide kepada sumbernya adalah untuk mendisosiasikannya dengan
diri kita sendiri. Misalnya kita ingin mengkritik suatu ide atau argumen, maka
argumen yang kita kritik itu harus jelas bukan dari kita, dan demi
akuntabilitas juga jelas siapa yang menyampaikannya. Ini mungkin lebih berguna
dalam dampak sosialnya, supaya kalau kita menyajikan argumen yang mengundang
amarah publik, publik memahami bahwa itu bukan argumen kita tapi argumen orang
lain yang kita kritik. Dengan itu publik juga memahami bahwa kita sepihak
dengan mereka dan bukan melawan mereka.
Dari situ jelas bahwa sitasi dan referensi memang
penting untuk masalah akuntabilitas, kredibilitas, dan kejujuran intelektual.
Hal ini tentu berlaku untuk segala esai dan tulisan lainnya, termasuk
tulisan-tulisanku. Dengan logika itu, harusnya semua tulisan memiliki sumber
referensi yang cukup, tapi aku menentang itu. Aku menetapkan bahwa tidak semua
esaiku harus memakai sitasi dan referensi yang banyak, dan aku juga tidak akan
melakukannya. Bukan berarti aku tidak akan memakai sitasi dan referensi sama
sekali, melainkan tidak sebanyak penggunaan secara umum, dan aku akan membela
sikapku.
Pembelaan Esai
Filsafat
Dari tiga kategori esaiku, esai filsafat adalah yang
paling tidak akan memakai sitasi atau referensi untuk mayoritas esai-esai
filsafatku. Ada dua sifat utama dari esai filsafat yang membuatku tidak akan
menggunakan sitasi dan referensi, yaitu sifat orisinil dan sifat rasionalis. Dengan
adanya dua sifat itu, masalah sitasi dan referensi menjadi tidak relevan bagi
penulisan esai filsafat. Jadi bukan karena kemalasan semata, melainkan karena
tidak dibutuhkan lagi.
Dalam esai pertamaku,
aku menulis, “esai filsafat menjadi
pembangun ilmu filsafat yang baru dari awal,” sehingga, “hal-hal yang
terkandung dalam esai filsafat adalah sepenuhnya baru dan asli dari
pemikiranku,” (Prasetyo, 2019). Kalau baru dan
asli, maka anggapannya adalah mengesampingkan semua ilmu yang lama dan memulai
dari awal. Kalau dari pemikiranku, maka anggapannya adalah semuanya berasal
langsung dariku dan tidak ada kepentingan untuk mengatribusikan pada orang
lain, karena atribusinya pada diriku sendiri.
Bagaimana jika ideku itu ternyata mirip dengan orang
lain? Bukankah kesannya aku hanya meminjam ide orang lain tapi menjadikan ideku
sendiri? Tidak, karena sekali lagi ini adalah penelitian filsafat hasil
pemikiranku sendiri. Maka adalah suatu metodologi tersendiri, yang akan
kujelaskan pula, yang menjadi sumber dari ide-ide filsafatku. Ini hanya menjadi
plagiarisme atau ketidakjujuran intelektual saat ide-ide itu tidak kutemukan
dengan metodologiku sendiri dan aku tidak dapat mempertanggungjawabkan
bagaimana aku menemukan ide-ide serta argumen-argumen tersebut. Selama itu
dapat dipenuhi, aku tidak dapat dituduh dengan plagiarisme atau pencurian ide.
Selain itu justru kemiripan ide filsafat pasti dan
akan terjadi, bahkan akan menjadi aneh kalau sangat berseberangan. Kemiripan
ini juga sudah sering terjadi di dunia ilmu empiris, di mana ada konsep Multiple Discovery atau “Penemuan
Jamak”. Inti dari konsep ini adalah seringkali penemuan-penemuan ilmiah terjadi
secara bersamaan pada waktu yang mirip. Penemuan-penemuan besar dalam sejarah
biasanya mengikuti pola ini, seperti penemuan Calculus secara independen oleh
Isaac Newton dan Gottfried Leibniez, penelitian tentang evolusi oleh Charles
Darwin dan Arthur Russel Wallace, dan masih banyak lagi. (Giddings, 2018)
Alasan ini terjadi adalah kalau suatu fenomena alam
merupakan hukum alam yang universal, semua pengamat harusnya mampu menangkap
hukum yang sama dari itu. Dengan metodologi yang tepat, justru hasil dan
kesimpulannya, sekalipun secara independen, harus sama karena memang demikian
kebenaran alamnya. Maka dengan cukup banyak ilmuwan dalam masyarakat, pastilah
akan banyak penemuan jamak secara independen.
Memang benar ini biasanya berlaku pada penemuan yang
“bersamaan”, jadi sulit kalau mengaplikasikannya pada dua “penemuan” filsafat
yang sama tapi terpisah oleh jangka waktu yang panjang. Namun seharusnya ini
tetap berlaku, karena sekali lagi aku menggunakan metodologiku sendiri dari
awal. Selain itu kemiripannya bukan kesamaan sepenuhnya, karena masakah sistem
filsafatku yang baru sepenuhnya sama dengan keseluruhan pemikiran orang lain?
Jawabannya tidak, bahkan aku dan filsuf lain kemungkinan besar mengambil jalur
yang sama sekali berbeda dari awal, tapi karena suatu fakta filosofis yang kita
temukan memang benar adanya, kami akan secara tidak sengaja sampai pada
kesimpulan yang sama.
Namun kesamaan itu juga biasanya tidak bertahan
lama, karena bagaimana aku mengiterpretasi kesimpulan itu dan bagaimana filsuf
lain menginterpretasi kesimpulan tersebut pastilah berbeda sesuai dengan
metodologi kami masing-masing. Jadi menurut konsep Penemuan Jamak, kemiripan
ide antara ideku dengan ide pendahulu justru normal dan dapat diduga. Namun
kemiripan itu karena ide-ide yang kami gunakan adalah ide yang universal, bukan
karena aku mencomot ide pendahuluku.
Selain itu, tujuanku bukan untuk membahas filsafat
filsuf lain dan mengadaptasikan mereka, seperti apa yang dilakukan beberapa
filsuf, melainkan membangun suatu sistem filsafat yang sama sekali baru. Jadi
aku malah tidak boleh memakai sumber eksternal, karena itu berarti sistemku
malah mengandalkan suatu hal yang lama. Sumber eksternal mungkin sebagai
pembanding, tapi bukan sebagai premis dalam penyusunan argumen. Dengan itu
sitasi dan referensi pada sumber eksternal menjadi tidak relevan dalam esaiku.
Aku juga menulis, “Pengamatan
filosofis bersifat rasionalis, yaitu berdasarkan akal budi dan penalaran
semata,” (Prasetyo, 2019). Ini berarti aku
mengamati isi pikiranku sendiri dan mengambil kesimpulan berdasarkan mekanika
internal akal budi tersebut, atau pendekatan fenomenologis. Jadi sumber
pengamatanku adalah diriku sendiri dan sama sekali tidak mengandalkan
pengamatan orang lain atau pengamatan empiris yang sudah dilakukan orang lain. Oleh
sebab itu aku sama sekali tidak membutuhkan sumber eksternal, karena sumbernya
semua berasal dari diriku sendiri.
Sekalipun pengamatanku bersifat sedikit spesifik,
pengamatanku adalah suatu pengalaman yang sangat mendasar dan umum, yang dapat
diakses semua orang. Masakah aku harus mengandalkan pengamatan orang lain untuk
menetapkan suatu pengamatan umum yang universal dan mungkin ada secara
sehari-hari? Tentu saja itu malah menghambat kinerja, maka aku tidak memakai
sumber referensi karena ini adalah pengamatan yang dapat dengan mudah
diverifikasi oleh semua orang.
Jadi aku telah menyediakan alasan-alasanku mengapa
dalam esai filsafat aku tidak akan memakai banyak sitasi dan referensi. Pertama
karena aku membangun sistem yang baru dan bukan melanjutkan atau mengadaptasi
ide filsuf lain, dan kedua karena gaya filsafatku membuat sitasi dan referensi
tidak relevan dalam esai filsafatku. Lalu bagaimana dengan esai umum dan esai
pribadi?
Pembelaan Esai
Umum dan Esai Pribadi
Pertama untuk esai pribadi, tentu saja ini tidak
membutuhkan sitasi dan referensi apapun. Lagipula esai pribadi sepenuhnya
membicarakan diriku sendiri, bahkan esai pribadi menjadi sumber primer yang
tidak memerlukan sitasi atau referensi. Maka tidak ada gunanya membahas esai
pribadi dalam esai ini, di lain pihak esai umum masih memerlukan sedikit
penjelasan karena ini yang ekspektasinya akan menggunakan lebih banyak sitasi
dan referensi.
Sebenarnya tidak, justru esai umum semakin tidak
memerlukan sitasi dan referensi karena alasan berikut. Aku menulis bahwa ada
dua jenis esai umum yaitu yang filosofis dan non-filosofis. Esai umum
filosofis, “...mengomentari masalah-masalah dalam kehidupanku dari perspektif
filsafat,” dan esai umum non filosofis, “...berdasarkan pandangan-pandangan
atau asumsi-asumsi pribadi yang belum dipastikan benar,” (Prasetyo, 2019)
Untuk esai umum filosofis, argumen pendukungnya
tidak akan berasal dari sumber eksternal melainkan dari esai filsafatku
sendiri. Sementara untuk esai umum non filosofis menggunakan asumsi-asumsiku
saja, jadi semakin tidak memerlukan sitasi dan referensi, entah dari esaiku
atau dari tulisan orang lain. Namun ada benarnya bahwa esai umumku memang
membahas masalah yang empiris, sebab, “...objek esai umum adalah masalah dalam
hidup, yang seringkali berasal dari luar,” (Prasetyo,
2019).
Jadi bagaimana merekonsiliasi hal tersebut dengan sitasi dan referensi?
Tergantung keinginan dan hasratku dalam menulis esai
tersebut. Jadi ada kalanya kalau aku ingin membahas suatu masalah empiris
dengan lebih serius dan mendalam, aku dapat mencari sumber sumber informasi
eksternal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Namun bagaimana kalau itu
adalah masalah yang memang spesifik pada hidupku? Memang benar bahwa semuanya
pasti ada informasi eksternal yang terkait, tapi pada akhirnya tergantung
keinginanku juga. Lagipula esai umum tujuannya adalah untuk memberikan pendapatku
secara subjektif dan mungkin secara bias juga, objektivitas dalam esai umum
hanya pada topik yang dibahas, interpretasinya murni subjektif.
Jadi maksudku bukan menyatakan bahwa esai umumku
sama sekali tidak menggunakan sitasi dan referensi dari sumber luar, melainkan
bahwa dalam tujuanku tidak ada tuntutan yang keras bagi esai umumku untuk
menggunakan sumber eksternal. Jika tujuanku berbeda, misalnya memang untuk
meyakinkan orang tentang pandanganku sendiri, maka ya, aku akan memakai banyak
sumber eksternal. Namun tujuanku hanya mengekspresikan, jadi memakai sitasi dan
referensi secara reguler kurang relevan, kecuali memang sesuai dengan topiknya.
Maka jelas saja kalau esai umumku banyak yang
membahas topik empiris tapi tidak memakai banyak sitasi dan referensi. Sebab
tujuan esaiku bukanlah yang menuntut suatu akuntabilitas, kredibilitas, dan
atribusi yang tinggi mengenai ide-ide. Namun kalau aku merasa sitasi dan
referensi dapat membantu dalam tujuan ekspresif esai umum, pastilah akan
terpakai. Karena itu aku akan merangkum pembelaanku dalam pembelaan akhir.
Pembelaan Akhir
Ada dua alasan utama aku tidak akan menggunakan
sitasi dan referensi sebanyak orang lain. Pertama, adanya kekacauan dalam
sistem sumber referensi yang berlaku saat ini. Masalah-masalah organisasi
seperti klasifikasi, otoritas, dan kooperasi membuat pencarian sumber referensi
sangat melelahkan dan menjadi hambatan dalam penulisan. Karena alasan pertama
itu aku memutuskan lebih baik tidak memakai sumber referensi.
Alasan kedua, karena banyak dari esaiku yang tidak
membutuhkan sitasi dan referensi, serta topik-topiknya membuat penggunaan atau
keberadaan sitasi dan referensi dalam esaiku tidak relevan. Entah karena
metodologi pengetahuannya sudah jauh berbeda, atau karena pengetahuan yang
ditulis tidak didasarkan pada pengetahuan yang lama sama sekali, atau karena
aku sama sekali tidak berniat untuk meyakinkan orang akan kebenaran
pandanganku, melainkan hanya mengekspresikan.
Andaikan sumber referensi eksternal semuanya lebih
tertata rapi, apakah aku akan lebih banyak menggunakan sitasi dan referensi?
Mungkin saja, tapi ingat akan alasan kedua bahwa masalah keberadaan sitasi dan
referensi tidak relevan dengan tujuan dan sifat esai-esaiku. Masalah ini
dipertajam dalam kondisi aktual kini, bukan hanya mencantumkan sitasi dan
referensi irelevan, tapi sangatlah tidak efisien dan membuang waktu. Demikian
pembelaanku.
Resolusi Penggunaan
Sitasi dan Referensi
Aku telah menjelaskan bagaimana aku tidak akan
menggunakan sitasi dan referensi, lalu bagaimana aku akan menggunaan sitasi dan
referensi pada sumber eksternal? Sesuai dengan yang telah dibahas, mayoritas
akan tergantung keinginanku tapi ada beberapa penggunaan yang pasti. Pertama,
untuk mengkritik, saat aku mengkritik suatu ide eksternal tentunya aku harus
menyajikan ide itu seutuhnya. Tentu aku tidak mau jatuh pada kesalahan manusia
jerami atau strawman fallacy. Sitasi
dan referensi membantuku menghindari hal itu.
Kedua, kalau memang dibutuhkan untuk memperjelas
masalahnya. Ini kurang lebih mirip dengan kritik, tapi kritik biasanya berlaku
kalau aku menulis esai filsafat. Terkadang ada masalah yang memang latar
belakang lengkapnya itu ada pada suatu sumber eksternal, atau pula ada
informasi dari sumber eksternal yang mempengaruhi penilaianku dan pandanganku,
itu dapat kumasukkan pula. Intinya dalam kasus ini sumber eksternal dipakai
sebagai informasi tambahan.
Ketiga, kalau informasi eksternal itu terkait pada
ideku sendiri dan aku ingin sedikit menanggapinya atau memberikan perbandingan.
Dalam pikiranku ini akan lebih banyak muncul dalam esai filsafat, karena
seperti yang telah kukatakan, banyak ideku akan mirip dengan ide pendahulu. Namun
ini pun juga jarang dan mungkin hanya pada esai pertama dalam sistem filsafat. Setelah
itu aku akan berusaha untuk tidak menyebutkan nama filsuf lain sama sekali.
Selain tiga penggunaan utama itu, kemungkinan besar
aku tidak akan banyak menggunakan sitasi dan referensi. Sesuai dengan
pembahasan sebelumnya, karena tidak akan diperlukan. Dengan itu aku rasa aku
sudah menyampaikan semua yang harus disampaikan terkait masalah sitasi dan
referensi ini. Sekiranya ini dapat memberikan pengertian bagi pembaca, karena
aku tahu bahwa sitasi dan referensi adalah masalah yang serius, dan supaya aku
tidak dikenai tuduhan yang tidak benar. Dengan itu aku akan menutup esai ini.
Penutup
Terkait dengan penggunaan sitasi dan referensi,
esaiku tidak akan sepenuhnya menggunakan sitasi dan referensi karena dua alasan
berikut. Sistem sumber referensi yang berlaku kini sangat kacau sehingga
menjadi hambatan penulisan dan menjadi tidak efisien serta membuang waktu. Lalu
esai-esaiku tidak membutuhkan sitasi dan referensi sehingga menjadi tidak
relevan. Esai filsafatku sepenuhnya dariku dan esai umumku hanya ekspresif,
jadi tuntutan akuntabilitas dan kredibilitas tidak terlalu tinggi.
Sementara itu aku tetap akan menggunakan sitasi dan
referensi tapi hanya selama itu memenuhi tujuanku, dengan tiga penggunaan utama
yaitu kritik, penjelasan, dan keterkaitan. Dengan itu esai ini telah memenuhi
tujuannya, dan aku rasa aku telah cukup membenarkan diriku dan juga menjelaskan
bagaimana aku akan menggunakan sitasi dan referensi dalam esai-esaiku.
Terkait rencana-rencana berikutnya, sesuai pada esai
pertama aku berencana untuk menulis tentang tahap-tahap menulis. Tulisan itu
akan lebih sebagai sharing dan bukan
untuk membuktikan apapun pada pembaca, tapi harapannya pembaca tetap dapat
mengambil hikmah dari hal tersebut. Secara lebih jelas esai itu akan
menjelaskan bagaimana aku menulis dan dapat menyelesaikan suatu esai. Dengan
itu esai ini kututup dan dinyatakan selesai. Semoga esai ini bermanfaat bagi diriku
dan para pembaca, Tuhan memberkati.
Daftar Pustaka
Giddings, M. (2018, Agustus 30). Multiple
Discovery. Retrieved Desember 31, 2019, from Indiana public media:
https://indianapublicmedia.org/amomentofscience/multiple-discovery.php
Prasetyo,
I. C. (2019, Desember 15). Esai. Retrieved Desember 31, 2019, from
Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2019/12/esai.html