Saturday, February 23, 2019

Etika-Arsip

Pendahuluan

Kenyataan yang paling murni ialah kenyataan yang sadar dan bebas, dalam arti ia dapat menyadari dan menyatakan dirinya sendiri serta menyebabkan dirinya sendiri. Akan tetapi pnegetahuan itu pun tidak cukup dalam perjalanan filsafat kita, dan sekarang muncul suatu pertanyaan, untuk apa segala ini? Baiklah kalau kenyataan adalah suatu roh yang dapat menyadari, berkata, dan berubah dan seterusnya. Namun tanpa mengetahui kegunaan atau tujuan dari pengetahuan dan juga kenyataan diri kita sendiri, hal ini tidak ada gunanya. Maka sebelum mempelajari lebih lanjut dalam filsafat, baiklah kita telusuri dulu yang dinamakan dengan etika.

Kehidupan

Etika yang sendirinya berasal dari kata ethics dalam bahasa Inggris yang juga berasal dari kata ethos dalam bahasa Yunani aslinya berarti serangkai ideal atau pedoman yang menjadi arahan suatu bangsa. Dalam konteks filsafat, etika merujuk pada tujuan hidup manusia dan apa yang harus dilakukan untuk hidup secara “baik” atau menjadi manusia yang sejati. Tentu saja dalam suatu perspektif logika yang mutlak, kita sebenarnya mendeskripsikan mekanika dan bukan tujuan. Hanya saja untuk kepentingan bahasa dan pemahaman, istilah tujuan akan tetap digunakan.

Pertanyaan etika kembali pada arti dari “baik” atau yang baik, dan ini merujuk pada tujuan kenyataan atau tujuan hidup manusia. Tentu saja yang baik adalah yang memenuhi tujuan kehidupan, dan yang buruk ialah yang menjauhkan dari tujuan itu. Masalahnya kalau tujuan itu tidak diketahui maka “baik” itu tidak ada maknanya pula, hanya semacam intuisi atau “perasaan” saja. Kabar baiknya, tujuan kenyataan bukan sesuatu yang tidak dapat diketahui melainkan sangat mudah ditemukan hanya dengan pengetahuan akan kenyataan yang sadar dan bebas.

Tujuan suatu objek berdasar pada apa yang menjadi esensi atau hakikat dari suatu objek, atau dapat dikatakan “desain” dari objek itu. Tujuan di sini sedikit berbeda dari tujuan manusiawi, melainkan sebagai mekanika kenyataan yang pasti (walaupun pada manusia juga pasti). Yaitu arah perubahan wujud yang terjadi. Suatu contoh adalah bintang, bintang pada hakikatnya adalah gumpalan gas yang menggumpal dan di intinya terjadi proses fusi nuklir yang menghasilkan energi dalam bentuk cahaya dan panas. Maka tujuan bintang adalah menjadi suatu bintang seperti yang dikatakan. Dalam hal ini tujuan bukan masalah pilihan melainkan masalah mekanika akhir.

Berdasarkan identitas kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan, tujuan kenyataan tidak jauh berbeda. Yaitu untuk menjadi sadar dan bebas atas dirinya sendiri, itulah tujuan kenyataan. Merupakan suatu kepastian bahwa kenyataan akan menjadi sadar dan bebas, tapi apa makna sadar dan bebas itu? Dalam hal ini kita harus berbicara sedikit dalam konteks manusiawi. Menyadari artinya untuk mengalami, memahami, dan mengetahui apa yang terjadi dan apa yang ada di dunia ini. Maka tujuan kenyataan secara konkrit adalah belajar, mengalami hidup, dan memahami dunia ini sebagai diri kita sendiri.

Tentu saja pengetahuan praktis atau keterampilan juga menjadi hal yang wajib dalam pemenuhan etika. Misalnya memasak, kita tidak hanya tahu cara memasak, tapi kita juga mampu memasak. Begitu juga dengan filsafat, kita tahu akan filsafat tapi kita juga tahu cara mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Namun kita melupakan satu unsur lain dari kenyataan yaitu kebebasan. Kebebasan memang sedikit berbeda dari kesadaran dan membutuhkan penjelasan lebih.

Kalau kesadaran merujuk pada kemampuan pernyataan dan pengamatan diri, maka kebebasan merujuk pada kemampuan mengubah diri. Kebebasan dalam konteks mekanis adalah kemampuan untuk menentukan arahan sendiri dalam mekanika hidup. Namun lebih akurat untuk mengatakan bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk mengubah diri sendiri, yang berarti bebas dan mandiri dari pihak eksternal. Baiklah kebebasan artinya kita dapat mengubah diri tanpa dipengaruhi hal eksternal, dan kita dapat menentukan arahan perubahan, tapi bagaimana yang seharusnya terjadi?

Kebebasan yang sesungguhnya artinya mengubah sesuatu menurut jati diri kita sebagai entitas kenyataan. Dan karena entitas kenyataan ialah kebebasan dan kesadaran itu sendiri, maka apa yang harusnya menjadi arahan perubahan adalah kebebasan dan kesadaran itu sendiri. Kita harus mengubah sesuatu demi kebebasan itu, atau meningkatkan kebebasan dan kesadaran. Misalnya mempelajari suatu keterampilan atau ilmu adalah suatu tindakan yang ditujukan mencapai kesadaran dan kebebasan yang lebih tinggi.

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kesadaran dan kebebasan adalah dua hal yang hampir sama. Perbedaannya adalah kalau kesadaran merupakan suatu kondisi, maka kebebasan adalah tindakan mencapai kondisi itu (proses), atau pula kemampuan melakukan tindakan tersebut. Secara kias, kondisi yang bebas ialah kondisi yang hidup, atau kehidupan. Sebab kehidupan merupakan salah satu perwujudan kebebasan tertinggi dalam kenyataan, misal kemampuan bergerak dan bagi manusia, kesadaran langsung.

Maka tujuan kenyataan secara lengkap ialah untuk mempelajari dan memahami kenyataan itu sendiri. Lalu mengubah kenyataan yang ada demi memajukan kesadaran itu sendiri dan meningkatkan kebebasan kenyataan. Secara konkrit, manusia hidup, mengalami hidup, memaknai hidup, dan memajukan hidupnya dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bebas menjadi bebas, demi kebebasan dan kesadaran itu sendiri sebagai pemenuhan jati diri manusia. Bagaimana dengan kondisi tidak bebas?

Maut

Kita selama ini membicarakan etika sebagai sekadar mekanika dunia, dan mengesampingkan kebebasan kehendak yang ada pada kenyataan. Bahwa kenyataan pun tidak mengandung yang benar atau yang baik saja tapi juga yang tidak baik, yang salah yang buruk. Hal-hal ini, yang merupakan lawan dari hidup dan etika, adalah maut dan ketidakbebasan. Maut, sebab benda yang tidak hidup ialah benda yang tidak bebas. Pergerakannya pun disebabkan oleh benda lain yang notabene hidup, dan kebebasannya disebabkan oleh mahkluk yang hidup. Singkat kata, maut dan dosa ialah segala yang bertentangan dengan kebebasan dan kesadaran.

Kondisi tidak sadar atau tidak tahu adalah bentuk maut yang paling ringan, karena merupakan kondisi awal. Namun ini juga bentuk maut yang paling dasar, karena tanpa pengetahuan tidak ada yang bisa dilakukan. Sama halnya saat kita tidak mengetahui tentang kenyataan apapun kita tidak bisa melakukan apa-apa, misal berkata, terhadap atau mengenai kenyataan. Tanpa kesadaran, kebebasan pun tidak ada dan ini adalah bentuk maut yang paling mencekam. Karena kita sendiri tidak bisa menyadari maut yang membelenggu kita.

Kondisi tidak bebas adalah bentuk maut yang sebenarnya skalanya sama dengan kondisi tidak sadar tapi pada kategori yang berbeda. Dalam hal ini, ketidakbebasan artinya kita bertindak tidak menurut jati diri kita sebagai entitas kenyataan. Maka kita bertindak bukan menurut kesadaran dan kebebasan, melainkan menurut hal yang lain. Dalam kenyataan ada banyak sekali unsur dan objek, tapi hanya satu yang hakikat. Suatu kondisi yang tidak bebas adalah saat kita hidup dan bertindak tidak sesuai hakikat, tapi sesuai unsur spesifik. Misal kaum yang hidup menurut nikmat jasmani, ataupun nikmat saja dan bukan atas dasar kebebasan.

Saat seorang hidup atas pengaruh maut, ia akan berhenti pada tujuan spesifik itu dan tidak bergerak lagi. Mungkin saja hidupnya akan ditujukan demi satu unsur itu dan mengesampingkan segala unsur lainnya. Kalau tidak ada perubahan, misal oleh makhluk hidup lainnya, ia dapat kehilangan akan kesadaran akan yang lain. Sebab dia hanya fokus pada satu objek tertentu dari kenyataan, dan terbentuklah yang dinamakan dengan kelekatan. Dari kelekatan muncullah stagnasi dan akhirnya maut murni.

Apakah kelekatan pada hidup mungkin? Kelekatan pada hidup juga mungkin, tapi saat kita melekat dan menghamba pada kebebasan serta kesadaran secara otomatis kita tidak akan melekat. Sebab kesadaran dan kebebasan adalah tujuan yang melarang kelekatan, dan kita akan terus terpacu untuk berkembang menuju kesadaran dan kebebasan yang lebih tinggi. Kelekatan pada hidup akan menghidupkan dan kelekatan di luar hidup akan mematikan. Stagnasi sebagai konsekuensi dari kelekatan yang tidak sesuai asas kebebasan merupakan ciri khas maut.

Seseorang mungkin dapat bertanya tentang keberadaan maut, mengapa ada maut kalau dunia pada hakikatnya hidup? Kenyataan atau kehidupan diartikan tidak hanya suatu kondisi penyadaran tapi juga kemampuan mengubah penyadaran itu menjadi yang lebih tinggi. Sebab kenyataan dapat menentukan keberadaan dirinya sendiri, dan artinya dapat berubah. Kebebasan sebagai proses perubahan menandakan adanya kondisi yang lebih baik dan kondisi yang kurang baik. Perubahan yang bebas adalah perubahan kondisi dari yang kurang baik atau tidak bebas menjadi yang lebih baik atau yang bebas. Memang tidak ada maut murni, karena keberadaan kenyataan adalah sifat hidup paling dasar. Namun ada yang lebih hidup dari sekadar berada, dan maut lebih menandakan hal-hal yang lebih jauh dari kebebasan, sementara hidup hal-hal yang lebih dekat dengan kebebasan.

Keutuhan Hidup

Pertanyaan berikutnya adalah pernyataan yang sekilas dilematis. Kalau kebebasan menuntut kita untuk menyadari dan menguasai segala sesuatu, bukankah itu berarti kita harus menyadari hal-hal yang jahat pula? Seakan-akan kebebasan juga meminta kita mendekati hal-hal yang menjauhkan diri kita dari kebebasan itu. Kalau begitu, tidakkah segala hal di bumi ini baik apa adanya dan harus dimuliakan pula? Memang benar, bahkan dosa yang paling hina pun harus kita sadari sebagai pemenuhan kebebasan, ataupun penderitaan yang sangat. Untuk mencapai kehidupan, kematian harus kita pahami dan kita alami pula.

Akan tetapi harus diingat bahwa mengalami maut tidak sama dengan tunduk pada maut. Menyadari maut dan menguasainya sama sekali berbeda dengan berhenti pada maut. Karena maut yang sesungguhnya adalah saat kita melekat pada maut itu, dan tidak berubah dari pada maut. Sementara itu kebebasan tidak hanya menuntut penyadaran, tapi juga kuasa atas yang mati. Maka kita menyadari maut tidak berhenti di situ, tapi juga mengubah maut menjadi yang hidup. Sehingga memang yang lebih berharga ialah perubahan dan bukan hanya hasil perubahan.

Tentu saja dalam “dilema” hidup dan maut ini bukan berarti kita boleh mengejar maut dan memakai kebebasan sebagai pembelaan. Memang akan ada waktunya saat kita mengejar maut, tapi kalau maut sekarang belum diselesaikan bagaimana mungkin kita bisa mengejar maut lainnya? Maksud dari kebebasan bukan mengejar maut, tapi menerima dan menyadari maut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kenyataan dan artinya diri kita sendiri. Sebab banyak orang yang mencoba menghindari maut dan memperlakukannya sebagai suatu hal yang teramat buruk. Kelekatan pada hidup ini sebenarnya bukan bebas pula, karena kita lari dari kenyataan.

Sebaliknya, hal yang harus kita lakukan bukan menolak maut atau tunduk pada maut. Maut sebagai objek dari kenyataan menerima perlakuan yang sama sesuai asas kebebasan, yaitu disadari dan dikuasai. Kita menyadari maut sebagai hal yang tidak benar, yang tidak seharusnya, dan menguasai maut itu supaya berubah menjadi hal yang benar dan sesuai dengan kebebasan itu sendiri. Maka jelas saja tunduk pada maut tidak sama dengan menyadari maut, di mana yang satu ialah maut dan yang satu ialah hidup.

Sebenarnya mengejar maut secara sengaja untuk diubah tidak sepenuhnya salah, karena kebebasan artinya kita menyadari dan menguasai secara sengaja (oleh kehendak kita sendiri). Hanya saja mengejar maut tidak berarti mengejarnya secara membabi buta, mengejar atas kehendak maut (kelekatan), atau mengejar secara sembarangan. Sebab dalam etika ada suatu strata atau hierarki kebebasan yang harus kita penuhi demi mencapai kebebasan yang sejati.

Strata etika di sini maksudnya urutan pengetahuan atau pengalaman menurut ontologinya, atau menurut esensinya. Ontologi maksudnya mengenai keberadaan, hal yang lebih tinggi secara hierarkis berarti lebih dulu ada dari yang lain. Esensi juga sama saja, tapi merujuk pada tingkat “kehakikatan” suatu pengetahuan sebagai bagian dari kebenaran kenyataan. Walaupun bersifat hierarkis, segala hal di dalam strata ini tetap setara dalam derajat, dalam arti setiap hal ini harus diperlakukan secara sama, yaitu disadari dan dikuasai.

Pada tingkat tertinggi tentu saja pengetahuan akan kenyataan yang paling murni. Atau penyadaran dan penguasaan atas hukum kesadaran dan kebebasan. Penempatan hukum ini adalah hal yang sangat logis dan harusnya tidak usah dipertanyakan. Untuk bisa mencapai kebebasan, tentu kita harus menyadari dulu apa itu kebebasan dan mengapa kita harus mencapai kebebasan. Tanpa penyadaran akan kebebasan, segala penyadaran lainnya tidak mungkin karena segalanya bergantung pada keberadaan kenyataan, kesadaraan, dan kebebasan. Dan baru setelah kebebasan disadari segala hal lain dapat disadari dan dikuasai pula.

Tingkat kedua ialah segala hal yang baik atau mendukung kebebasan. Sebenarnya tahap ini masih terkait pada tahap pertama yaitu kebebasan murni. Perbedaannya adalah pada tingkat kedua kita mengejar kebebasan secara praktis dan secara penuh. Kalau pertamanya hanya kebebasan yang teoritis dan esensial, maka sekarang kita mencari kebebasan yang praktis dan spesifik. Kebebasan praktis lebih merujuk pada masalah-masalah sosial dan hal-hal empiris lainnya. Maka dapat dikatakan pula bahwa ini adalah kebebasan empiris, di mana kita mengejar pengetahuan empiris demi kesadaran dan kebebasan dunia.

Memang dalam pengejaran kebebasan praktis kita akan menemui hal-hal yang maut, dan kita tetap akan menyadari dan memahami maut tersebut. Hanya saja maut itu tetap menjadi batu pijakan saja demi mencapai kebebasan itu dan bukan tujuan utama kita. Mungkin kita akan berbicara tentang maut, tapi hanya sebagai bagian dari perjalanan menggapai kebebasan praktis dan mutlak. Dan setelah kebebasan praktis dicapai, yaitu keselarasan kenyataan dengan kebebasan secara penuh, kita dapat memulai tahap ketiga sebagai pemenuhan kenyataan.

Tahap terakhir atau sebenarnya yang paling terakhir dari strata etika tapi juga setara dengan yang lainnya adalah pengejaran maut. Sebenarnya tetap tujuan utamanya tetap kebebasan, tapi kali ini kita menyadari maut dan memahami maut secara lebih utuh. Sebelumnya kita mengalami maut tapi kita belum sungguh menyadari maut, karena adanya pengetahuan yang kurang. Namun dengan pengetahuan yang lebih lengkap, kita dapat memahami kondisi maut dengan lebih lengkap pula. Memang benar bahwa kali ini kita menyadari maut demi penyadaran akan maut itu sendiri, tapi pada akhirnya tetap saja kita akan menguasai maut dan merubah maut kepada hidup secara utuh.

Selain strata etika, adapula siklus etika yang menjadi semacam pola umum dalam kenyataan. Hal ini dinamakan dengan siklus karena tidak pernah berhenti dan tidak terbatas sifatnya. Namun kalau kita melihat secara keseluruhan ada siklus etika yang sifatnya berhenti dan tidak terulang lagi, tapi itu bukan topik pembicaraan kita. Tahapan pertama dalam siklus ini tentu saja maut, tapi bukan sekadar maut melainkan maut paling murni. Artinya kondisi di mana kita dikuasai maut dan kita tidak menyadari sama sekali bahwa kita dikuasai oleh maut. Ini adalah maut yang paling mencekam dan berbahaya, tapi tidak selamanya dan setelah maut awal mulailah proses awal menuju kebebasan.

Berikutnya adalah penyadaran terhadap maut itu sendiri, yaitu kita masih dikuasai maut tapi kita mulai menyadari akan maut itu, bahwa yang terjadi bukanlah yang seharusnya. Penyadaran dapat terjadi tanpa penguasaan, karena beberapa hal penting yang akan dibahas pada waktu lain. Namun bersamaan atau tidak, penyadaran akan maut adalah hal yang penting, karena inilah yang membuat kita mungkin untuk menguasai dan mengubah maut itu sendiri. Setelah penyadaran maut barulah perubahan maut atau penguasaan maut dapat dilakukan.

Perubahan maut dapat dikatakan sebagai perwujudan utama dari kebebasan, yaitu mengubah dari yang mati menjadi yang hidup. Bagaimana teknisnya bukan masalah kita saat ini, hal yang pasti adalah sesuai definisi maut dan hidup, kita menanggalkan belenggu yang mencekik kita dan menjadi bebas. Dari awalnya kita dikuasai oleh suatu hal, sekarang kita yang menguasai hal tersebut dan ia pun kita bebaskan dari belenggunya. Begitu seterusnya sampai kita benar-benar mengalami kehidupan.

Kehidupan, bukanlah kondisi paling akhir dari siklus ini, sebab kehidupan artinya hanya suatu kondisi yang lebih bebas. Mungkin ada kehidupan mutlak, seperti adanya maut yang hampir mutlak, tapi maksudnya adalah sebagai kondisi yang lebih bebas. Kehidupan yang dasarnya adalah penyadaran dan penguasaan diri artinya dari awal kita sudah menyadari kehidupan, dan tahap berikut yaitu penyadaran kehidupan dapat dikatakan terjadi bersamaan. Tentu saja setelah itu adalah perubahan hidup atau pengembangan hidup menjadi kondisi yang lebih bebas. Setelah itu siklus ini terulang kembali terus menerus tanpa henti dan tanpa batas.

Maka memang benar bahwa untuk mencapai kebebasan yang sejati, maut pun harus kita selami. Namun maut bukanlah tujuan akhir kita, melainkan suatu cara untuk mencapai hidup itu sendiri. Dan hidup juga bukan perhentian, melainkan suatu awal baru dalam perkembangan etis kenyataan. Sesuai yang telah dikatakan, tetap saja yang harus dicari adalah hukum kebebasan itu dan segala hal dilakukan demi hukum kebebasan. Baru segala hal berikutnya kita cari, sebab hukum kebebasan ialah jati diri kita.

Penutup


Dengan pembahasan ini dapat disimpulkan beberapa hal penting, bahwa etika sebagai tujuan kenyataan merupakan perumusan jati diri dan juga tujuan kenyataan dari segala makhluk yang ada. Tujuan ini tentu saja sesuai dengan hakikat kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan yang berdaulat, maka tujuan kenyataan ialah menjadi sadar dan bebas atas segala hal di dunia ini. Untuk mencapai kenyataan itu adalah menjadi bebas, berkuasa dan berdaulat atas diri kita sendiri. Namun lari dari kenyataan itu dan kita akan mati, dikuasai dan diperbudak oleh kenyataan. Walau begitu pengalaman perbudakan tetap penting, sebagai pijakan untuk bebas dari perbudakan itu. Dan dengan kebebasan awal, segala hal dapat kita capai. Tuhan memberkati. 

Diarsipkan dalam persiapan untuk karya yang lebih lengkap.

Friday, February 15, 2019

Kenyataan-Lama


Pendahuluan

Tugas pertama kita dalam pelaksanaan filsafat revolusioner adalah menjawab pertanyaan mendasar dalam filsafat, yaitu “apa itu kenyataan”. Tentu saja salah satu tujuan terungkap dalam menjawab pertanyaan ini adalah untuk memajukan filsafat revolusioner dan membangkitkan filsafat itu sendiri. Tanpa menjawab pertanyaan ini, filsafat tidak akan pernah maju apalagi filsafat revolusioner. Lagipula kebenaran akan kenyataan adalah standar kebenaran yang pertama dalam pembelajaran filsafat murni. Dari kebenaran tertinggi itulah muncul kebenaran-kebenaran lainnya yang dapat membantu pula dalam perumusan filsafat lainnya. Adanya kebenaran pertama akan pula sangat membantu dalam perbaikan dan pemberesan filsafat klasik dan kontemporer yang tercerai berai.

Adapula tujuan pengetahuan yaitu untuk menyatukan segala pengetahuan dunia yang sekarang ini juga tercerai berai. Kebenaran pertama adalah langkah pertama dalam menyatukan pengetahuan dunia. Bahkan sebenarnya dengan adanya kebenaran pertama, segala pengetahuan sudah terikat dan harus dibuat patuh pada kebenaran ini. Dan semakin banyak kebenaran yang ditemukan, maka ikatan pengetahuan akan menjadi semakin kuat, dan melalui bantuan filsafat integrasi ilmu-ilmu pengetahuan dapat disatukan kembali. Dengan itu, dapat tercipta satu konsepsi dunia yang integratif dan universal, yang menyentuh segala bidang baik empiris ataupun idealis, baik fisik maupun sosial.

Dalam perwujudan praktisnya, menjawab pertanyaan kenyataan akan menjadi langkah pertama pula dalam penyelesaian krisis dunia. Sekarang ini kita tahu, akan adanya aliran-aliran garis keras yang ingin menguasai dunia dalam nama mereka sendiri, adanya aliran-aliran yang mengesampingkan filsafat dan mendewakan empirisme, adanya aliran-aliran “toleransi” yang secara etis sangatlah relativis dan subjektif. Belum lagi masalah konkrit seperti ancaman perang, ketegangan ekonomi dan ketidakpastian yang merajalela di dunia. Dengan pengetahuan yang benar, maka kita pun akan tahu penyelesaian yang benar.

Akan tetapi, terlepas dari segala hal itu, tujuan paling utama dari menjawab pertanyaan ini adalah hidup manusia. Dengan menjawab pertanyaan ini, kita dapat menjawab pertanyaan yang tak kalah penting dan tak kalah sering ditanyakan yaitu “Apa tujuan hidup manusia?” Begitu kita mengetahui tujuan yang benar, kita akan dibebaskan dari sengsara dan kita dapat menggapai hidup yang sungguh lebih baik. Suatu hidup yang lebih bermakna, dan lebih berharga. Dan ini adalah langkah pertama dari mencapai suatu hidup yang lebih sempurna bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi segala mahluk semesta. Oleh karena itu, marilah kita mulai.

Keberadaan Kenyataan

Setiap benda memiliki suatu esensi, atau karakteristik yang mendefinisikan benda itu sendiri. Atau apa yang membuat benda tersebut berbeda dari benda yang lain, dan apa yang menjadi dasar dari suatu benda. Kenyataan sebagai “objek” pun tidak jauh berbeda dan tugas filsafat adalah mengetahui esensi paling dalam dari kenyataan. Apa yang membedakan suatu hal yang nyata, dari yang tidak nyata. Dan tentu saja ciri pertama yang dapat kita analisis, dan harus kita tentukan terlebih dahulu adalah keberadaan dari kenyataan. Tanpa mendapatkan suatu bukti akan keberadaan kenyataan, jawaban akan segala pertanyaan lain, yaitu permintaan akan pengetahuan tentang kenyataan, tidak mungkin didapat.

Sebab suatu keberadaan adalah hakikat paling mendasar dari segala objek. Kalau suatu objek tidak ada, kita pun tidak mungkin dapat mengetahui atau mengatakan apa-apa tentang objek tersebut. Katakanlah sebuah apel merah, kalau apel itu tidak ada maka suatu perumusan tentang apel merah spesifik itu pun tidak akan mungkin. Bahkan kita tidak bisa menyatakan tentang ketiadaan dari apel merah karena apel merah itu harus ada dulu lalu hilang sehingga kita bisa menyatakan ketiadaannya. Dan kalau apel merah itu ada sebagai ide, ia tetap dianggap berada karena dapat dinyatakan ketiadaan materilnya.

Namun apa yang menjadi bukti dari keberadaan suatu benda atau kenyataan apapun? Dalam logika, dianggap bahwa segala hal yang benar pastilah memiliki suatu bukti. Namun kebenaran filsafat yang umumnya juga diakui oleh setiap filsuf, yaitu keberadaan kenyataan tidak pernah dapat dibuktikan secara konkrit atau langsung. Dalam arti pembuktian pernah dilakukan tapi tidak ada yang menyerang permasalahan secara langsung. Dulu Descartes pernah membuat suatu perumusan yang sekarang dikenal sebagai Cogito Ergo Sum, atau “aku berpikir maka aku ada”. Sebagai titik awal, baiknya kita melihat sejenak pernyataan filsafat mendasar ini.

Argumen Descartes adalah dia bisa meragukan segala hal yang ada tapi tidak bisa meragukan fakta bahwa dia sedang meragukan. Suatu argumen yang tidak salah, dan dalam tulisan ini pun kesimpulannya tidak akan jauh berbeda dari kesimpulan Descartes. Hanya saja kita akan mengambil suatu pendekatan yang secara esensial cukup berbeda daripada pendekatan Cartesian. Kalau Descartes mengambil pendekatan ego, yaitu menurut diri kita sendiri, kita akan mengambil perspektif yang lebih transenden, tanpa merujuk pada diri atau ego. Dan untuk membuktikan keberadaan kenyataan, kita harus mengambil suatu titik awal.

Kriteria keberadaan kenyataan yang benar belum kita rumuskan saat ini, tapi tidak salah untuk mengambil suatu asumsi empiris bahwa apa yang berada ialah apa yang dapat diindera. Kesimpulan yang cukup masuk akal, tapi tetap harus kita perdebatkan dan kita pertanyakan. Misalkan adalah suatu apel merah, kalau kita dapat mengindera apel merah itu, maka secara empiris apel itu lulus tes keberadaan. Ide-ide tentang apel merah juga diterima karena dapat diterjemahkan dalam bentuk empiris, walau hakikatnya bersifat idealis. Satu kriteria umum lainnya adalah kalau benda tersebut dapat diindera secara kolektif atau hanya secara pribadi.

Kriteria empiris sekilas terlihat logis dan masuk akal, akan tetapi kalau kita uji akan terlihat beberapa masalah. Pertama, kriteria empiris bergantung pada keyakinan manusia akan panca indera, bahwa panca indera adalah sumber pengetahuan yang paling utama. Padahal secara empiris, terbukti bahwa panca indera sekalipun baik, tidak sesempurna atau seakurat yang kita bayangkan sebagai manusia. Bahwa terkadang ada hal-hal yang diindera tapi ternyata tidak ada dan seterusnya. Hal yang bermasalah tentu adalah keberadaan dari manusia itu sendiri, dan pembuktian dari keberadaan sang pengamat.

Kita dapat memperdebatkan bahwa keberadaan manusia sebagai pengamat dibuktikan oleh penginderaan bersama manusia, di mana setiap manusia menjamin keberadaan sesamanya. Hanya saja, tidak ada yang dapat menjamin keberadaan kolektif kelompok manusia tersebut, dan sekalipun ada pastilah akan muncul pertanyaan akan jaminan terhadap jaminan tersebut, begitu seterusnya sampai tiada akhir. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa pembuktian keberadaan menurut faktor eksternal bukan kriteria yang baik, karena akan pada akhirnya menciptakan pembuktian melingkar atau pembuktian tiada akhir.

Tanpa suatu kriteria keberadaan yang jelas ataupun konkrit, tidak ada keberadaan yang dapat dipastikan secara logika dan kita tidak dapat menyatakan keberadaan kenyataan. Justru karena adanya gugatan terhadap keberadaan kenyataan, dan tidak ada kepastian akan keberadaannya, maka dapat dinyatakan bahwa kenyataan sesungguhnya tidak ada. Jawaban ini mungkin terlihat cukup untuk pertanyaan kita, dan menyelesaikan tugas filsafat. Hanya saja kita harus tetap menguji pernyataan tersebut sampai jelas kebenaran, atau kesalahan dari pernyataan tersebut.

Kalau kenyataan memang tiada, maka kita dapat membentuk suatu pernyataan akan ketiadaan kenyataan. Pernyataan ini akan berbunyi, “Kenyataan tidak ada”. Namun dengan adanya pernyataan ini timbul beberapa masalah fatal bagi ide ketiadaan kita. Kalau misalnya kenyataan memang tiada, bagaimana mungkin kenyataan dapat dirumuskan? Sebab tidak ada yang dapat mengamati ketiadaan tersebut. Lalu kita beranggapan bahwa pernyataan tersebut terpisah dari kenyataan yang dinyatakannya, padahal begitu diciptakan suatu pernyataan ini maka timbullah suatu kenyataan. Pernyataan ini telah menjadi “nyata”, dan sebenarnya kita dapat menyatakan suatu hal pula tentang kondisi ini.

Pernyataan akan ketiadaan kenyataan, sekalipun terlihat benar sebenarnya salah karena satu hal, yaitu pernyataan tersebut tidak memperhitungkan dirinya sendiri. Pernyataan ini mungkin benar kalau berkata tentang segala hal di luar dirinya yang memang kosong. Akan tetapi saat ia mengatakan suatu hal tentang kenyataan, haruslah dirinya diperhitungkan pula dan berarti keberadaan dirinya telah terbukti, bagaimanapun juga. Maka kita dapat mengubah pernyataan tersebut menjadi suatu pernyataan yang berbunyi, “Kenyataan ada”, atau karena berhubungan dengan dirinya sendiri, “ ‘Aku’ ada,” dan di sinilah perjalanan filsafat kita sungguh berawal.

Dengan ini keberadaan dari kenyataan telah dipastikan dan dijamin. Hal yang menarik adalah keberadaan ini tidak ditentukan oleh suatu hal di luar kenyataan itu sendiri. Dan bahwa keberadaan ini juga dapat menyatakan dan membuktikan keberadaannya sendiri, layaknya konsepsi Cartesian mengenai Cogito Ergo Sum. Memang tidak ada perbedaan antara konsepsi kita dan konsepsi Descartes, hanya saja yang berbeda adalah penyampaiannya. Di mana Descartes menyampaikan secara personal, kita menyampaikan secara impersonal dan terlepas dari pemikiran ini. Dengan terbuktinya keberadaan kenyataan, hal berikut yang harus dilakukan ialah menetapkan kenyataan yang murni.

Kenyataan Murni

Esensi paling utama dari kenyataan tentu keberadaannya, apa yang ada ialah yang nyata dan sebaliknya. Hal yang membedakan adalah kalau kenyataan merupakan himpunan, maka keberadaan adalah kondisi di dalam himpunan kenyataan. Hal-hal yang di luar himpunan bukan termasuk himpunan dan juga bukan himpunan tersebut. Esensi murni ini tidak perlu kita perdebatkan kembali, dan bagi seluruh filsuf dan juga awam sekalipun ini juga tidak lagi diperdebatkan. Hal yang diperdebatkan adalah apa yang datang berikutnya.

Secara umum orang melakukan kesalahan dengan mengasumsikan realitas sekarang sebagai realitas yang murni padahal belum ditemukan jaminan pasti tentang realitas sekarang. Kita hanya mengetahui fakta bahwa kenyataan adalah keberadaan dan sebaliknya, tidak lebih tidak kurang. Karena itu kita juga akan memulai dari situ, tanpa mengurangi atau menambahkan. Hal pertama yang dapat kita ketahui adalah bahwa kenyataan hanya terdiri dari satu pernyataan tunggal yang menyatakan dirinya. 
Karena tidak ada hal lain selain ide tersebut, baiklah kita sebut saja sebagai suatu entitas.

Entitas kenyataan, sebagai keseluruhan kenyataan dan juga anggota tunggal kenyataan memiliki beberapa ciri utama yang dapat kita ringkas dengan satu kata, yaitu kesadaran. Ini ditunjukkan dalam proses pembuktian keberadaan kenyataan. Pertama, kenyataan dapat membuktikan keberadaan dirinya sendiri dan dapat menyatakan dirinya sendiri. Hal ini berarti bahwa kenyataan sebagai entitas dapat mengamati dirinya sendiri. Dalam istilah awam, kemampuan pengamatan dan pernyataan diri adalah kesadaran.

Kesadaran ini sendiri dapat kita kembangkan lebih lagi, yaitu menjadi konsep kebebasan. Bahwa kesadaran berdiri sendiri dan tidak ditentukan oleh entitas lain, itu adalah suatu kondisi yang disebut sebagai kebebasan dalam istilah awam. Kebebasan ini juga mengarah pada penyebaban diri dan jelas saja, kenyataan tidak disebabkan oleh entitas di luar dirinya sendiri, karena hanya ada satu kenyataan yaitu kenyataan kesadaran dan kebebasan. Dan dengan itu dapat dirumuskan satu kesimpulan umum mengenai kenyataan murni, bahwa kenyataan pada wujud yang paling mendasar adalah entitas yang dapat menyadari dan menyebabkan dirinya sendiri.

Kenyataan dan Indera

Sifat kenyataan yang murni sebagai suatu entitas yang bebas dan sadar telah dibuktikan dan ditetapkan, masalahnya tetap ada satu pertanyaan, bagaimana dengan kenyataan inderawi yang kita pegang pada saat ini? Sesungguhnya, segala hal yang kita lihat tetaplah yang terlihat dan yang diindera tetap yang diindera. Maka apapun yang kita ketahui memang nyata dan ada, hanya saja mereka kerap kali bukan dalam perwujudan murni kenyataan. Wujud murni kenyataan adalah sesuai yang dirumuskan, yaitu entitas kesadaran dan kebebasan. Lalu bagaimana relasi konkrit antara kenyataan murni dan kenyataan yang empiris?

Dalam intinya segala hal dalam kenyataan ialah satu, maka apapun yang kita lihat hanyalah perwujudan atau ekspresi dari kenyataan murni tersebut. Segala hal di dunia ini ada dan nyata dalam himpunan kenyataan. Bahkan yang tak terpikirkan pun juga nyata dan benar adanya, ataupun yang sudah mati, yang sudah hilang, dan yang belum terjadi. Hanya saja mereka berada dalam wujud yang berbeda atau tidak dapat diindera manusia. Namun mereka tetap ada dan menjadi bagian dari kenyataan yang utuh, seperti kita manusia dan segala makhluk lainnya.

Tentu saja rumusan kenyataan sebagai kesadaran dan kebebasan saja tidak cukup untuk menciptakan hubungan yang konkrit antara pengetahuan empiris dan filsafat murni. Baru setelah kenyataan murni diketahui secara penuh dan utuh kita dapat membentuk integrasi yang konkrit antara filsafat dan empirisme. Hal yang pasti, kita tahu bahwa objek empiris tidak ada karena kita mengamatinya, melainkan mereka ada tanpa pengamatan kita. Justru kita dapat mengamatinya karena hal tersebut ada, bukan sebaliknya. Manusia ada karena sendirinya ada, bukan karena diamati. Dan tentu saja, Tuhan pun nyata tanpa harus dapat diindera manusia.

Penutup

Dengan ini, tugas pertama kita dalam merumuskan kenyataan yang murni sudah selesai. Tentu saja maksud dari kenyataan murni ialah hal-hal paling esensial dari kenyataan, yaitu kebebasan dan kesadaran. Dengan mempertanyakan segala hal kita menemukan bahwa kenyataan harus ada dan keberadaannya tidak ditentukan oleh apapun kecuali dirinya sendiri. Dan fakta bahwa kenyataan dapat menyatakan dirinya sendiri adalah bukti bahwa ia adalah suatu entitas yang sadar. Namun tugas kita belum selesai, karena kita harus tetap mencari makna kesadaran dan kebebasan yang sejati, dalam hubungan dengan kenyataan yang kita tinggali sekarang. Untuk itu, perjalanan filsafat kita baru dimulai, Tuhan memberkati.

Ctt: Tulisan baru tentang kenyataan sudah ada yang lebih mencerminkan kenyataan secara sesungguhnya. Kenapa? Karena pada tulisan yang ini kebebasan tidak dijelaskan secara mendetil, padahal kebebasan yang paling penting. Selain itu masalah-masalah lain telah muncul sejak tulisan ini pertama kali dihasilkan, dan dibutuhkan suatu perumusan kenyataan yang lebih dalam. 

Sunday, February 10, 2019

Metodologi Filsafat Revolusioner


Pendahuluan

Filsafat revolusioner sebagai suatu cara dalam pencarian kebenaran yang baru membutuhkan suatu metodologi yang jelas. Metodologi di sini artinya aturan-aturan yang jelas dalam melakukan suatu hal, dan metodologi filsafat artinya hal-hal yang harus diperhatikan atau dilakukan dalam filsafat atau pencarian kebenaran. Kita mengetahui bahwa filsafat adalah upaya pencarian kebenaran yang paling mendasar dan paling murni. Artinya objek filsafat tidak terikat oleh panca indera sekalipun, karena kita pun tahu bahwa wujud manusiawi bukan wujud paling murni di dunia ini.

Setidaknya kita mengetahui satu aturan pasti dalam filsafat revolusioner, yaitu lingkup pemahaman yang dikuasai oleh filsafat. Dalam hal ini, filsafat hanya menggeluti ide-ide, dan sifatnya idealis. Sebab kebenaran yang paling murni pastilah tak terikat oleh apapun, karena dialah yang mengikat segalanya. Filsafat juga hanya mempelajari hal-hal mendasar, dan haruslah ada suatu satu teori filsafat yang mengikat segala teori lainnya menjadi satu teori filsafat yang lengkap. Namun tentu kita membutuhkan metodologi yang lebih lengkap, demi suatu filsafat revolusioner yang sungguh berhasil.

Filsafat Murni

Filsafat murni merujuk pada bentuk filsafat yang paling dasar, yaitu perumusan kenyataan murni secara lengkap dan utuh. Sebab filsafat dapat digunakan untuk hal-hal lain dalam urusan teoritis, misal untuk integrasi, intrepretasi, dan juga kritikan. Namun untuk bagian ini hanya akan dibahas filsafat murni. Kita tahu bahwa filsafat murni secara umum atau pastinya akan mempelajari masalah-masalah yang idealis dan bukan empiris. Penjelasan lebih lengkapnya adalah hukum-hukum paling utama di dunia ini adalah hukum-hukum yang pada wujud murni mereka, bersifat idealis. Materialisme justru merupakan ekspresi atau perpanjangan saja dari wujud idealis tersebut.

Filsafat murni juga tidak variatif dalam teorinya, dalam arti hanya ada satu alur logika yang tepat dan benar dalam filsafat. Alasan utamanya adalah dalam filsafat harus ada suatu standar kebenaran. Pada filsafat klasik dan juga kontemporer, alasan tidak ada persetujuan umum dalam filsafat adalah kurangnya suatu standar kebenaran ataupun metodologis yang dapat menyatukan setiap filsafat menjadi satu ide yang koheren. Maka kita dapat merumuskan pula bahwa dalam filsafat murni harus ada standar kebenaran. Standar kebenaran adalah suatu hal yang dapat menentukan kebenaran dari suatu ide atau hal. Misal dalam empirisme, standar kebenarannya adalah pengamatan inderawi manusia. Lalu bagaimana dengan standar kebenaran filsafat?

Dalam filsafat, standar kebenaran sebenarnya cukup sederhana, yaitu kenyataan itu sendiri. Namun kalau kita belum mengetahui apa itu kenyataan, ini cukup sulit dan kita harus beralih pada standar yang lebih rendah yaitu hukum kontradiksi. Bahwa hal yang benar tidak mungkin berkontradiksi dengan kenyataan atau menimbulkan kontradiksi dengan kenyataan lainnya kalau misalnya hal itu benar. Dan karena dalam filsafat kita membahas masalah idealis, maka yang dimaksud dengan kenyataan adalah kebenaran tentang kenyataan itu sendiri atau ide dari kenyataan. Ide yang benar ini akan menjadi rujukan kita dalam menentukan apa yang benar dalam filsafat.

Dan bagaimana kita mengembangkan ide pertama ini menjadi satu konsepsi filsafat yang jelas dan benar? Metode yang kita gunakan adalah metode logika deduktif, yang sebenarnya hanyalah ekspresi manusia terhadap hukum kenyataan yang sangat mengakar. Deduksi tidak menghasilkan apapun yang baru, hanya melihat berdasarkan kenyataan yang ada dan menjelaskan secara lebih lengkap, melampaui dari yang bisa dilihat. Deduksi memastikan segala kesimpulan filsafat yang kita hasilkan ialah benar kalau ide awalnya juga benar. Induksi dan abduksi tidak digunakan karena kita tidak berurusan dengan dunia empiris.

Dalam filsafat murni, kita juga menggunakan metode skeptisisme yang absolut. Artinya kita mempertanyakan dan meragukan segala sesuatu sampai jelas bahwa hal tersebut memang tidak dapat dipertanyakan. Suatu hal yang benar secara pasti tidak bisa kita ragukan, dan kalau masih dapat diragukan maka tentu ada kemungkinan bahwa hal itu salah sehingga tidak lagi menjadi pasti. Suatu hipotesis atau asumsi boleh dibuat, dengan syarat diuji menurut kebenaran murni dan diintegrasikan dengan kebenaran murni. Sebab pastinya dari kebenaran murni harus diambil beberapa asumsi dan juga integrasi dengan dunia nyata kita untuk mengembangkan filsafat murni, atau filsafat itu akan mati.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam filsafat murni kita tetap menjadikan kenyataan sebagai pedoman metodologis kita. Bahwa segala ide filsafat dihasilkan menurut kenyataan yang paling murni. Hal ini diekspresikan melalui skeptisisme yang absolut, sehingga kita hanya melihat kenyataan dan tidak menciptakan suatu prasangka terhadap kenyataan. Juga melalui idealisme, supaya kita tidak terikat pada panca indera dan realitas manusiawi kita, melalui deduksi supaya kita sungguh sampai pada suatu kesimpulan yang benar. Dan pada saat tugas kita dalam filsafat murni selesai, tahap berikutnya adalah penyatuan segala pengetahuan dalam nama filsafat atau filsafat integrasi.

Filsafat Integrasi

Tujuan filsafat adalah menciptakan suatu pemahaman tentang kenyataan yang paling lengkap, utuh, dan murni. Maka dari itu dibutuhkan suatu persatuan antara filsafat yang idealis dan juga ilmu empiris yang materialis. Metode yang digunakan sebenarnya tidak jauh berbeda dari filsafat murni, hanya saja ada tambahan metode yaitu interpretasi. Pengetahuan empiris yang kita miliki sekarang sebenarnya akan terlihat sangat tidak berhubungan atau terpisah dari filsafat murni. Padahal keduanya hanyalah ekspresi dari satu hal yang sama, yaitu kenyataan.

Maka dalam hal ini harus dilakukan suatu penghubungan antara ilmu empiris dan filsafat, antara ide-ide mendasar dengan pengetahuan empiris yang lebih kompleks. Dan pada akhirnya kita dapat menjabarkan segala hal dalam maksud kenyataan yang murni. Integrasi ini juga pada waktu-waktu tertentu sangat berguna dalam mengembangkan filsafat murni itu sendiri, walau lebih pada metode empirisnya dan bukan pengetahuan empiris itu sendiri. Tujuan utama dari integrasi memang untuk memperbaiki ilmu pengetahuan yang cenderung terpisah dan kacau, sehingga hubungan dari segala hal dapat dilihat.

Dengan tercapainya suatu integrasi dan penyatuan dalam nama filsafat kita dapat membentuk satu pemahaman kenyataan yang sungguh lengkap dan berkaitan. Sehingga kita pun paham apa yang harus dilakukan secara pasti untuk mencapai suatu wujud tertentu. Walaupun harus dipahami bahwa filsafat integrasi adalah pemahaman akan kecenderungan dan hukum-hukum di dunia ini, dan sifatnya idealis. Integrasi membantu kita memahami hukum dan tata kerja dunia secara utuh, tapi hasil bentukan dari hukum-hukum tersebut bukan lingkup filsafat integrasi. Setelah adanya suatu integrasi pengetahuan, maka langkah berikutnya adalah interpretasi.

Filsafat Interpretatif

Filsafat interpretatif di sini mungkin sekilas terlihat mirip dengan filsafat integrasi. Namun filsafat integrasi hanya membahas hukum-hukum kenyataan yang lengkap. Maksudnya filsafat integrasi membahas kepastian-kepastian dan hal-hal yang bersifat konstan dan pasti untuk setiap kondisi. Sementara filsafat interpretatif menafsirkan kenyataan dalam perspektif filsafat murni, dan juga melihatnya dari perspektif kontinuu, yaitu sesuai apa yang terjadi. Misal suatu peristiwa yang terjadi, maka filsafat interpretatif akan menganalisis kejadian tersebut secara mendetil dan menjelaskannya dalam istilah filsafat murni.

Memang sulit untuk membedakan antara filsafat integrasi dan filsafat interpretatif, karena hal yang dibahas sama, yaitu dunia materi. Perbedaannya adalah fokus pembahasan dan analisis dari kedua bidang. Integrasi fokus pada menyatukan ilmu pengetahuan, dan interpretasi fokus pada penyadaran atau analisis terhadap wujud murni dari suatu kejadian atau kondisi. Atau dalam kata lain, tafsiran yang benar untuk suatu kejadian, untuk mengetahui makna dari kejadian tersebut. Sehingga filsafat interpretatif dapat digunakan untuk menganalisis tulisan-tulisan bersejarah atau bahkan karya-karya sastra.

Suatu ilustrasi yang mungkin dapat memperjelas perbedaan antara integrasi dan interpretasi adalah sebagai berikut. Misalkan perang dunia II, filsafat integrasi mungkin akan membahas perang dunia sesuai apa yang dapat dilihat dan kaitannya dengan filsafat murni. Misal mengenai praktik pembunuhan, etika perang, dan seterusnya. Akan tetapi filsafat interpretatif akan melihatnya dari sisi yang lebih dalam, yaitu konflik dalam wujud paling murni dan apa yang sedang terjadi. Dari segi teori, sulit dibedakan tapi pada saat dipraktikkan akan cukup jelas.

Filsafat Evaluatif

Filsafat evaluatif atau filsafat kritis adalah fungsi filsafat dan cabang filsafat yang mengkritik dan juga memberikan pembenaran bagi ide-ide ataupun kondisi nyata yang salah atau tidak sesuai kenyataan yang seharusnya. Filsafat kritis paling berguna pada masa saat ini, yaitu sebagai suatu filsafat revolusioner. Melalui filsafat murni, kita dapat menilai unsur-unsur kenyataan mana yang benar atau salah pada saat ini, juga menilai ide-ide atau paham-paham yang benar atau salah sesuai filsafat murni.

Dalam filsafat evaluatif ada metodologi tersendiri yang unik untuk menilai dan juga membantah paham-paham yang menyesatkan. Metode ini sebenarnya bervariatif, tapi yang paling efektif adalah dengan menganalisis dasar-dasar filsafat mereka. Misalnya suatu agama dapat dinilai benar atau salahnya secara keseluruhan dengan menganalisis apa yang menjadi dasar iman agama tersebut. Akan tetapi, kita sebagai filsuf yang revolusioner harus mengingat bahwa tetap ada nilai-nilai dalam suatu paham yang mungkin menyesatkan. Sehingga suatu persoalan harus dipahami secara menyeluruh dan dinilai secara menyeluruh pula. Oleh sebab itu filsafat interpretatif akan sangat berguna pula dalam filsafat evaluatif.

Kesatuan Filsafat

Sesungguhnya ini hanyalah satu sudut pandang saja terhadap metodologi filsafat yang cukup luas. Dan pada akhirnya seluruh fungsi, cabang, atau metodologi filsafat yang berbeda-beda ini tetap satu sifatnya dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Dan melalui pemanfaatan filsafat secara utuh dan maksimal kita dapat menemukan kebenaran yang utuh dan lengkap. Pengetahuan akan metodologi ini pun masih belum sempurna karena filsafat itu sendiri masih belum dikembangkan lagi ataupun didalami sama sekali, yaitu dengan menjawab pertanyaan besar kenyataan. Oleh sebab itu, hal berikutnya yang harus kita lakukan jelas, yaitu memulai perjalanan filsafat kita, demi suatu dunia yang lebih baik. Tuhan memberkati.

Saturday, February 9, 2019

Filsafat Revolusioner


Pendahuluan

Sejak dahulu kala manusia selalu bertanya, “Apakah itu makna kehidupan?” Dan pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah “Apa itu kenyataan?” Mempertanyakan tujuan hidup, dan mempertanyakan kenyataan adalah dua hal yang paling mencolok dari seorang manusia, dan mungkin yang dapat membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya. Mungkin ada yang berkata bahwa manusia dapat mengasihi tapi bukankah kasih itu supaya orang lain cukup kuat untuk mengasihi kita? Hewan pun dapat “mengasihi”, tapi tidak ada hewan yang dapat bertanya kenapa mereka ada atau siapa jati diri mereka yang sesungguhnya. Sebab mempertanyakan kenyataan sama dengan mempertanyakan jati diri kita sebagai manusia, karena manusia pada akhirnya ialah bagian dari kenyataan.

Dalam sejarah, manusia telah menemukan berbagai cara untuk menjawab dua pertanyaan besar tersebut. Diawali dengan pendewaan dan berbagai kepercayaan tradisional. Lalu berkembang menjadi suatu kearifan tradisional, yang dilapisi oleh kegelapan lainnya. Dan dari pedalaman Yunani, muncullah filsafat sebagai upaya pencarian kebenaran yang paling mendasar, dan dari filsafat muncullah ilmu pengetahuan empiris dan ilmiah. Namun dari ketiga itu, tetaplah filsafat yang seharusnya menjadi ilmu yang paling penting. Sebab filsafat mencari yang paling dasar, yang tak terikat oleh apapun dan yang paling murni.

Akan tetapi filsafat telah mengalami kemunduran yang luar biasa dan bahkan terpecah. Aliran analitik membuat filsafat menjadi budak dari ilmu empiris, dan aliran kontinental meneruskan tradisi filsafat dalam perpecahan mutlak. Desakan empiris yang cenderung terkesan lebih nyaman dan jelas membuat orang tidak tertarik pada filsafat yang cenderung abstrak. Bahkan, pandangan bahwa filsafat adalah ilmu mati atau tidak berguna bukan pandangan yang aneh sekarang. Terlepas dari segala argumen itu, filsafat tetaplah penting karena filsafatlah yang membedakan manusia dari binatang. Karena itu, kita harus memahami pentingnya filsafat.

Hakikat Filsafat

Suatu pemahaman tentang pentingnya filsafat harus dimulai dari pemahaman tentang apa itu filsafat. Karena ilmu ini sudah lama diabaikan oleh dunia dan tertinggal dengan bidang ilmu lainnya, definisi filsafat pun mulai kabur dan tidak jelas. Dibandingkan dengan biologi yaitu ilmu tentang kehidupan, atau kimia yaitu ilmu tentang materi dan variasinya, ataupula fisika yaitu ilmu tentang mekanika semesta yang paling dasar. Ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah pencarian akan kebenaran, dan ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah upaya pengklarifikasi pikiran dan ide. Namun tetap saja tidak ada jawaban yang pasti.

Filsafat pada dasarnya berbeda dari ilmu empiris dan juga berbeda dari ilmu agamais seperti teologi atau kitab agama. Namun filsafat tetap memiliki beberapa kesamaan dengan keduanya. Hal yang pasti, filsafat adalah ilmu yang rasional dan skeptis layaknya ilmu empiris, tapi juga membahas hal-hal di luar panca indera seperti yang dibicarakan oleh ilmu agama. Namun seperti ilmu empiris dan ilmu agama, ketiganya memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menggambarkan kebenaran tertinggi tentang dunia ini. Bukan hanya manusia, tapi juga segala hal lain di dunia ini, dan filsafat sama saja.

Maka dapat dikatakan bahwa filsafat adalah suatu ilmu yang tugasnya adalah menemukan kebenaran paling tinggi dan paling mendasar dari segala hal di dunia ini. Namun tidakkah kedua ilmu sebelumnya yaitu ilmu empiris dan ilmu agama telah menyatakan jawaban mereka masing-masing? Lalu apa yang membedakan filsafat dari kedua ilmu itu? Sebenarnya ada satu perbedaan, yaitu filsafat tidak memiliki satu jawaban yang pasti, tidak pernah ada satu jawaban yang disetujui seluruh filsuf dunia tentang apa yang benar. Mungkin dapat diperdebatkan bahwa filsafat menganalisis akar-akar dunia ini, tapi bukankah ilmu empiris dan agama juga menganalisis hal yang sama? Maka, dari itu mulailah kemunduran filsafat.

Kemunduran Filsafat

Pada masa-masa kini filsafat telah mengkerdil menjadi semacam ilmu yang hanya digeluti kaum profesional dan tidak lagi menjadi perhatian publik. Salah satu alasan utama adalah filsafat terlalu abstrak dan tidak pasti. Banyak tulisan filsafat dibuat dalam bahasa yang sangat akademis, profesional, dan di satu sisi abstrak yang tidak bisa dipahami oleh kalangan umum. Ide-ide yang dibahas oleh filsuf-filsuf begitu jauh dari dunia nyata, dan tidak dapat direlasikan dengan kehidupan sehari-hari. Bahasa rumit filsafat yang berbelit-belit hanya mempersulit pemahaman terhadap filsafat.

Selain abstraknya filsafat tradisional, tiadanya kepastian dalam filsafat membuat ilmu ini tidak disenangi untuk mencari kebenaran. Banyak filsuf yang hanya saling membantah sesamanya, dan dengan rumitnya bahasa yang mereka gunakan, persoalan dan konflik filsafat yang terjadi malah semakin tidak bisa diselesaikan. Tidak seperti ilmu empiris dan ilmu agamais yang memiliki suatu standar kebenaran, filsafat cenderung tidak memiliki standar kebenaran. Satu-satunya acuan kebenaran dalam filsafat adalah jika suatu konsep tidak mengarah pada kontradiksi. Dan mencari kontradiksi dalam filsafat, tidak semudah yang kita bayangkan.

Terlepas dari kesulitan-kesulitan filsafat di atas, faktor paling besar dalam kemunduran filsafat adalah bangkitnya ilmu empiris. Agama dan tradisi budaya memang sudah mengakar sejak dahulu, tapi yang paling mematikan bagi filsafat adalah empirisme. Ilmu empiris yang cenderung lebih jelas dalam teorinya, sebab apa yang diamati memang suatu hal yang dapat diamati atau merupakan perpanjangan dari hal yang dapat diamati oleh kalangan umum, jelas unggul dibanding filsafat yang berputar-putar dan tidak jelas. Karena itu ilmu empiris menjadi pilihan yang lebih baik dibanding filsafat. Namun ilmu empiris tetap mengakui bahwa ia tidak memberikan jawaban terhadap masalah etika, dan disinilah muncul agama.

Agama sebenarnya tidak merujuk hanya pada agama terorganisir tapi lebih pada paham-paham etis yang tradisional, norma-norma sosial, sistem hukum dan seterusnya. Hanya saja, agama menjadi salah satu muka terdepan dari pemahaman spiritual dan etis kontemporer. Tidak seperti ilmu empiris, etika tradisional atau etika subjektif tidak memiliki suatu persetujuan global atau jawaban yang pasti. Namun diserahkan pada setiap budaya untuk mengatur masyarakatnya sendiri. Ini lebih nyaman daripada filsafat etis, karena suatu etika yang universal akan mengartikan kehancuran sistem sosial yang lama, dan bagi banyak orang itu juga hilangnya identitas diri mereka. Karena itulah budaya lokal dan identitas pribadi lebih nyaman sebagai panduan etis daripada filsafat.

Dengan itu, bukankah filsafat tidak lagi menjadi penting? Sebab empirisme dan tradisi telah cukup untuk memberikan suatu pandangan baik tentang dunia ini. Untuk masalah etika, baiklah kita mengikuti saja apa yang telah dilakukan oleh para leluhur secara turun temurun. Dan tidak memaksakan atau ikut campur dalam permasalahan orang lain. Maka dalam pandangan sekilas jelas saja bahwa filsafat sudah tidak lagi dibutuhkan dalam pencarian akan kebenaran. Namun sekali lagi, dalam pandangan sekilas karena sesungguhnya empirisme dan etika tradisi tidak dapat kita pertahankan sebagai metodologi pencarian kebenaran karena permasalahan berikut.

Melampaui Empirisme

Empirisme yaitu paham bahwa segala kebenaran dapat diketahui hanya melalui pengalaman panca indera adalah paham yang cukup berbahaya. Karena jelas saja empirisme sudah menolak segala hal yang bersifat imaterial alias tidak dapat diindera.  Maka dengan itu empirisme bertentangan dengan tradisi nenek moyang yang mengakar, dan empirisme juga ingin menghancurkan sistem sosial yang ada digantikan dengan suatu sistem yang lebih “ilmiah”. Tentu saja, itu bukan permasalahan utamanya, melainkan kedangkalan dari paham empirisme itu.

Kaum empiris bertindak seakan-akan mereka adalah kaum yang skeptis dan rasional, padahal jelas saja mereka mempercayai segala panca indera mereka tanpa ragu. Seorang yang sungguh skeptis harusnya ikut mempertanyakan panca indera, dan berdasarkan penelitian empiris saja dibuktikan bahwa panca indera manusia cenderung tidak konsisten, dan pengalaman yang dihasilkan tidak dapat dipercaya. Tentu saja mengandalkan panca indera untuk mengetahui dunia tidak salah, tapi mempercayai panca indera tanpa mempertanyakan hal itulah yang menjadi salah dan menyesatkan.

Seperti yang telah dikatakan, empirisme sendiri juga tidak mungkin bisa menghasilkan suatu sistem etika yang konsisten dan sungguh baik bagi setiap manusia atau setiap mahluk hidup. Karena dalam mata empiris, etika tidak ada dan tidak dapat dibuktikan sama sekali. Mengenai kebenaran ilmiah yang diklaim oleh kaum empiris, kebenaran ini sesungguhnya bergantung pada asumsi bahwa panca indera juga keberadaannya benar dan bahwa pengalaman panca indera dapat dipercaya. Dan untuk asumsi itu tidak ada dasar logikanya. Sehingga kita tidak bisa mengatakan panca indera sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.

Selain itu, fakta empiris sederhana juga membuktikan kenapa empirisme murni cukup salah. Bahwa keberadaan ide-ide, dan juga ide-ide itu sendiri jauh lebih penting daripada sekadar sensasi fisik. Misalkan seperti ini, suatu ide tentang apel jelas ada dan terpisah dari media informasi tentang apel tersebut. Seorang empiris mungkin akan berargumen bahwa ide tentang apel juga ada secara empiris melalui reaksi elektrokimia di otak, tapi jelas saja bahwa itu pun juga media yang arbitrer untuk ide apel. Suara dan tulisan ataupun gambar apel sekalipun hanyalah media arbitrer untuk menyatakan ide tentang apel. Maka media tentu sifatnya empiris, tapi ide yang murni tidak bisa kita pahami secara empiris dan bersifat transenden.

Pada intinya, empirisme tidak bisa berdiri sendiri sebagai suatu sumber pengetahuan apalagi metodologi pencarian kebenaran. Metodologi ilmiah dan empiris memang penting dan baik untuk digunakan demi pemahaman mekanis terhadap dunia ini. Namun empirisme tidak dapat dikatakan sebagai sumber pengetahuan tunggal di dunia ini, dan harus dilengkapi oleh unsur lain sebelum bisa bekerja secara maksimal. Unsur lain inilah yang kita ketahui sebagai filsafat. Kalau ilmu ilmiah menganalisis apa yang dapat diindera, dan menyimpulkan kecenderungan-kecenderungan sensasi, maka filsafat menganalisis hal-hal yang di luar indera, dan menyimpulkan hukum-hukum luar inderawi.

Menentang Tradisi

Kalau empirisme tidak bisa memberikan jawaban yang utuh dan lengkap mengenai kenyataan, maka tradisi yang berdasarkan oleh perasaan dan hati manusia akan semakin parah. Masalah paling jelas dari menyerahkan tugas etika pada setiap budaya adalah kontradiksi yang akan muncul. Sebab pada dasarnya, setiap budaya pasti memiliki kecenderungan yang mengutamakan budayanya sendiri dan bersikap antagonistis dengan budaya lain. Kecuali pada ajaran budaya tersebut secara eksplisit menyebarkan ajaran damai dan cinta kasih, misalnya ajaran Yesus atau ajaran Buddha, maka pasti akan terjadi suatu kontradiksi. Maka suatu sikap relativis dalam etika tidak dapat diambil.

Tradisi juga cenderung tidak dianalisis atau ditelanjangi terlebih dahulu untuk mengetahui kebenarannya. Pelestarian budaya dan tradisi yang mengakar cenderung didasari oleh alasan emosional dan sebagai pelestarian sejarah, bukan karena melestarikan norma sosial yang tradisional itu baik bagi umat manusia. Pelestarian budaya sebagai suatu bahan intelektual itu baik adanya, tapi pelestarian budaya sebagai upaya pencarian kebenaran tidaklah baik. Sebab tidak mungkin ada dua hal yang benar dan bertentangan, misal suatu objek X haruslah X dan bukan –X. Kebenaran hanya ada satu, tapi cara ekspresinya mungkin berbeda.

Bagaimanapun juga, tradisi tentu tidak akan membantu dalam mencapai kebenaran umat manusia. Malah beberapa tradisi dan budaya tertentu malah menjadi sumber pengetahuan akan kegelapan dan kejahatan dalam pribadi manusia. Tentu saja, ini tidak menjadikan tradisi atau budaya sebagai suatu hal yang tidak berguna, hanya saja perannya yang harus disesuaikan. Pencarian kebenaran boleh terbuka terhadap ekspresi yang berbeda, atau pada hal-hal imaterial tapi harus selalu dibuat rasional. Dan sebelum mengarah pada ekspresi, bentuk murni kebenaran itulah yang harus kita cari dahulu, supaya ada suatu standar kebenaran.

Kegagalan Filsafat Kontemporer

Lalu bagaimana dengan aliran filsafat seperti filsafat analitik dan kontinental pada masa kontemporer ini? Terus terang, filsafat kontemporer pada masa kini juga telah gagal dalam memenuhi tujuannya. Terutama filsafat analitik yang malah berpihak pada empirisme dan merendahkan filsafat itu sendiri. Suatu paham bahwa segala pengetahuan hanya berasal dari panca indera adalah kejatuhan dan kehancuran dari ilmu filsafat, yang seharusnya menjadi metode terutama kita dalam pencarian kebenaran luar inderawi. Bagaimana dengan filsafat kontinental? Mereka jauh lebih baik, tapi tetap saja cenderung ambigu dan sulit dipahami.

Ada beberapa aliran filsafat kontinental seperti femonologi yang mencoba mencari suatu integrasi berdasarkan pengalaman manusia yang kolektif, tapi ini juga melibatkan suatu metode empiris, hanya saja sifatnya lebih interpretatif dan mengacu pada hal-hal transenden. Dan setelah pembahasan sekian ini, kita dapat mengetahui bahwa filsafat kontemporer sekalipun tidak bisa kita andalkan untuk mencari kebenaran. Suatu anarkisme pengetahuan telah merajalela di antara dunia pengetahuan, dan dibutuhkan penyelesaian yang baru. Suatu filsafat atau metodologi yang baru.

Filsafat Revolusioner

Dalam hal mencari kebenaran kita membutuhkan suatu metodologi filsafat yang baru, suatu filsafat revolusioner bisa dibilang. Revolusioner sebab filsafat ini haruslah menentang segala tatanan ilmu tradisional, dan mengubahnya menjadi yang benar. Dengan ini kita dapat mendefinisikan ulang filsafat sebagai suatu ilmu yang independen dan jelas, serta merumuskan suatu tujuan filsafat yang lebih jelas. Dan melalui filsafat revolusioner inilah, segala ilmu pengetahuan harus disatukan kembali, dan patuh pada aturan-aturan dasar kenyataan, yaitu kebenaran sendiri.

Tujuan dari filsafat revolusioner tetaplah sama yaitu mencari kebenaran akan kenyataan, atau pengetahuan paling murni akan apa itu kenyataan. Hal yang membedakan filsafat dengan empirisme adalah filsafat mencari pengetahuan yang paling murni, dan itu berarti tidak terikat dari panca indera. Suatu pengetahuan yang dapat kita ketahui hanya melalui akal budi kita, atau suatu pengetahuan rasionalis atau a priori. Filsafat revolusioner juga harus pasti dalam memberikan jawaban akan kenyataan. Sekalipun ada variasi jawaban, hanya ada satu jawaban yang benar dan sisanya hanyalah ekspresi yang berbeda. Dan hal yang penting, filsafat revolusioner harus bisa mengikat segala konsep dan pengetahuan dalam satu wujud yang konkrit, yang dapat dipahami manusia, dan tidak abstrak.

Penutup

Suatu kebutuhan akan filsafat yang revolusioner sudah terlihat dengan jelas. Maka tugas kita adalah menyelami filsafat itu dan menyusun filsafat ini, sedikit demi sedikit sampai jelas kenyataan dunia ini. Dan dengan adanya suatu metodologi filsafat yang baru, kita berharap akan suatu kebangkitan filsafat di antara segala ilmu. Sebab itulah yang membedakan kita dari binatang, dan dengan ini kita pun akan tahu tujuan dari keberadaan kita. Tuhan memberkati.