Sunday, August 5, 2018

Keterkaitan Teori


Pendahuluan

Pada abad ke 21 ini, sudah banyak sekali bidang-bidang ilmu pengetahuan yang semuanya berguna bagi umat manusia. Masalahnya, bidang-bidang tersebut cenderung jarang ditunjukkan hubungan antar satu ilmu dengan ilmu lainnya dengan kuat. Maka, terkadang ilmu-ilmu pengetahuan yang ada terlihat terpisah dan berantakan karena kesannya tidak ada hubungan antara satu ilmu dengan ilmu yang lain. Kecenderungan ini juga berpengaruh pada setiap ilmu pengetahuan ini, karena setiap ilmu harus memiliki asumsi asumsi dasar, asumsi inilah yang kerap menjadi salah. Padahal, paham bahwa setiap ilmu pengetahuan atau aspek dunia itu terpisah sangatlah salah, karena segala hal itu terkait dan terhubung, maka itulah yang akan dibahas pada tulisan ini, keterkaitan teori.

Keterkaitan Ilmu Alam

Ilmu-ilmu alam yaitu ilmu yang hampir secara eksklusif mempelajari mekanisme dari dunia materi, terlepas dari ide manusia, biasanya sangat disadari keterkaitannya. Walau begitu permasalahan ilmu alam akan tetap dibahas, terutama pada trias ilmu alam yaitu fisika, kimia, dan biologi. Fisika pada dasarnya adalah suatu ilmu yang mempelajari mekanisme dasar dari alam semesta, baik dalam skala relativis seperti galaksi dan bintang-bintang, maupun skala kuantum seperti atom-atom atau partikel subatomik. Selanjutnya adalah ilmu kimia, kimia sebenarnya hanya mempelajari bagaimana susunan-susunan partikel yang berbeda berpengaruh pada sifatnya secara fisik. Misalkan perbedaan antara asam dan basa, reaksi kimia, dan seterusnya. Ilmu paling rumit adalah ilmu biologi, yang mempelajari bagaimana reaksi reaksi kimia bisa memicu suatu sistem kimiawi yang konstan serta sifat sifat dari sistem tersebut alias kehidupan.

Dari pembahasan tersebut kita sudah bisa mengetahui bagaimana ilmu alam itu sangat terkait antara satu ilmu dengan ilmu lainnya. Selain itu, ilmu-ilmu terapannya biasanya membutuhkan gabungan antara dua ilmu atau mungkin lebih. Misalnya, ilmu biomedika, kedokteran, atau obat-obatan mengharuskan seseorang untuk memahami permasalahan kimiawi dan juga memahami pengaruh, interaksi, dan hubungannya dengan sistem biologis, supaya bisa membuat pengobatan yang tepat untuk menyembuhkan penyakit. Mempelajari ilmu tentang bahan energi alternatif memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, karena harus memahami tentang bahan bakar dengan susunan kimia sedemikian rupa dan efisiensinya dalam ilmu fisika. Kalau bahan bakar tersebut melibatkan mahluk hidup, maka lengkap sudah trias ilmu alam. Ini menunjukkan bahwa ilmu alam sangat terkait.

Keterkaitan Ilmu Sosial

Ilmu sosial di dunia masih sangat jauh di belakang dibandingkan dengan ilmu alam. Maka terkadang keterkaitan antar satu ilmu dengan ilmu yang lain kurang terdefinisikan. Walau begitu, setiap ilmu sosial masih sangat terkait antar satu ilmu dengan yang lain. Ilmu sosial pada hakikatnya adalah suatu ilmu yang secara eksklusif mempelajari manusia, tapi berbeda dengan ilmu alam. Kalau ilmu alam mempelajari manusia sebagai sistem biologis, ilmu sosial mempelajari manusia sebagai suatu entitas kesadaran. Sulit untuk mengatakan ilmu sosial mana yang menjadi ilmu dasar, namun ada beberapa ilmu penting yang akan dibahas pada bagian ini, yaitu ilmu psikologi, ilmu sosiologi, ilmu antropologi, ilmu geografi, dan ilmu ekonomi.

Ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari sikap, perilaku, dan aspek mental dari seorang individu. Sementara itu, ilmu sosiologi mengkaji hubungan antar individu, kelompok individu, dan pengaruhnya terhadap individu tersebut. Di lain pihak, ilmu geografi mempelajari hubungan dan interaksi manusia dengan bumi, maka geografi bisa dianggap sebagai jembatan antara ilmu alam dan ilmu sosial, dan ilmu antropologi mempelajari tentang kebudayaan manusia. Terakhir, ilmu ekonomi mempelajari bagaimana sumber daya yang terbatas bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Dari pembahasan di atas belum terlihat bagaimana semua ilmu itu terkait, tapi setelah penjelasan berikut ini harusnya menjadi jelas. Pada dasarnya, manusia tinggal di berbagai macam tempat yang terpisah, dan secara geografis setiap wilayah memiliki sifat dan keunikannya masing masing. Maka, setiap kelompok manusia pasti akan dipengaruhi oleh sifat-sifat geografis dari wilayah tempat tinggal mereka. Hal ini menyebabkan timbulnya perbedaan antara paham dan sikap perilaku setiap kelompok manusia, maka muncullah yang namanya kebudayaan, sehingga ilmu geografi dan ilmu antropologi menjadi terhubung.

Sementara itu, setiap kelompok sosial pastinya menjadi berbeda dan ini berarti ilmu sosiologi harus memperhatikan kebudaayan yang berbeda dan juga lokasi yang berbeda, sehingga tercipta keterkaitan dengan ilmu antropologi, belum lagi segala hal ini pastinya akan mempengaruhi setiap individu, sehingga menjadi terkait pula dengan ilmu psikologi. Terakhir, ilmu ekonomi akan sangat terpengaruh oleh ilmu sosiologi, ilmu psikologi, dan ilmu antropologi, karena akan mempengaruhi pola konsumsi dan manajemen sumber daya setiap kelompok sosial. Selain itu, ilmu geografi juga berperan, sebab setiap wilayah memiliki potensi sumber daya yang berbeda-beda, sehingga akan secara langsung mempengaruhi pola ekonomi setiap kelompok. Dengan pembahasan di atas pastilah jelas keterkaitan ilmu sosial, namun bagaimana dengan keterkaitan ilmu alam dan ilmu sosial?

Keterkaitan Ilmu Alam-Sosial

Ilmu alam dan ilmu sosial seringkali dikira sebagai dua cabang ilmu yang terpisah dan berbeda. Namun pemahaman ini tidak bisa lebih jauh dari kebenaran, sebab ilmu alam dan ilmu sosial sangatlah terkait, tapi apakah kita memiliki dasar untuk hal ini? Dasarnya sangat jelas, sebab objek kajian dari ilmu alam, yaitu dunia materi, beserta objek kajian dari ilmu sosial, yaitu manusia, terletak pada kenyataan yang sama, yaitu di bumi dan juga alam semesta. Oleh sebab itu, hanya dengan menjadi nyata, kedua obyek tersebut yaitu dunia dan manusia pastilah saling berinteraksi, bagaimanapun caranya, sekecil apapun pengaruhnya, dan inilah dasar terhadap keterkaitan antara ilmu alam dan sosial.

Salah satu contoh paling konkrit dari ilmu pengetahuan yang secara khusus mempelajari interaksi antara manusia dan buminya adalah geografi. Geografi cenderung disamakan dengan geologi atau dengan kartografi, padahal geografi lebih luas dari geologi dan kartografi. Orang berpikir bahwa geografi hanya mempelajari tentang bumi dan pergerakan fisiknya, tapi itu adalah geologi, perpanjangan dari geografi. Ada juga orang yang berpikir bahwa geografi adalah ilmu pemetaan, padahal itu adalah kartografi, perpanjangan dari geografi. Geografi menjadi jembatan jelas antara ilmu alam dan ilmu sosial, karena memiliki unsur alamnya yaitu kebumian dan juga unsur sosial yaitu manusia. Namun, bagaimana dengan ilmu-ilmu terapan lainnya?

Ilmu psikologi adalah ilmu yang juga berada di wilayah perbatasan, karena walaupun secara umum mempelajari tentang sikap perilaku seorang individu, ilmu ini juga terhubung dengan neurologi atau ilmu saraf. Sebab saat seorang berperilaku atau mengalami kondisi mental tertentu, maka ada bagian otak tertentu yang teraktivasi atau dalam penyakit mental ada bagian otak yang cedera. Hal tersebut adalah objek kajian dari ilmu saraf dan neurologi, yang merupakan ilmu alam, maka sangat jelas bahwa ilmu psikologi dan ilmu saraf sangat terkait. Sejauh ini, keterkaitan ilmu yang dibahas baru berupa hal hal teoritis, bagaimana dengan praktisnya?

Permasalahan manusia yang biasanya bersifat fisiologis atau hanya fisik bisa menjadi masalah sosial yang berdampak luas pada individu dan masyarakat. Misalnya, jika seseorang atau sekelompok orang kebutuhan biologisnya kurang dipenuhi, yang secara umum kita definisikan sebagai kemiskinan, mereka bisa terdorong untuk melakukan tindakan kriminal yang mempunyai dampak sosial yang serius. Trias candu yaitu narkoba, seks bebas, dan alkohol pada hakikatnya adalah hal hal yang secara langsung mempengaruhi otak manusia, tapi menjadi suatu masalah sosial dan bahkan moral yang serius.

Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi yang merupakan terapan dari ilmu alam yang teoritis juga sangat mempengaruhi sistem sosial dan ekonomi yang ada. Misalnya, perkembangan ilmu alam yang pesat cenderung mulai membuat manusia menjadi skeptis terhadap hal hal rohani dan meninggalkan Tuhan, sebab mereka merasa ilmu alam bisa menjawab segalanya. Perkembangan teknologi serba otomatis akan merubah wajah ekonomi dunia, karena bisa menghilangkan lapangan pekerjaan dengan massal dan terjadi pengangguran yang luas. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang pesat juga menimbulkan kekhawatiran sosial dan moral terhadap hakikat dan peran manusia dalam kenyataan.

Bagaimana dengan pengaruh sosial terhadap alam? Sistem-sistem ekonomi yang agresif dan tidak ramah lingkungan sangat berdampak pada bumi, dan bisa mengakibatkan perubahan lingkungan yang begitu drastis. Perubahan ini tentunya akan menciptakan lingkungan yang kurang atau bahkan tidak kondusif bagi kehidupan manusia. Manusia dengan ilmu pengetahuannya yang luas dan cerdas justru menciptakan ketidakseimbangan bagi obyek kajian ilmu tersebut dan menyebabkan kerusakan yang luas. Semua ini menunjukkan hubungan erat antara ilmu alam dan ilmu sosial. Akan tetapi, ada satu cabang ilmu lagi yang dilupakan dan mungkin dianggap pseudosain alias palsu atau mirip ilmu alam, tapi mengada ada. Ilmu tersebut adalah ilmu spiritual.

Ilmu Spiritual

Ilmu spiritualitas, atau ilmu kerohanian, atau ilmu ketuhanan, merupakan suatu ilmu yang sebenarnya ditentang oleh mayoritas kaum akademis. Mereka beranggapan bahwa paham spiritualitas itu sebenarnya hanyalah khayalan, walaupun secara resmi mayoritas akan berkata bahwa spiritualitas itu masalah pribadi dan subyektif, maka tidak bisa kita teliti secara ilmiah. Masalahnya, sekarang terdapat kesalahpahaman tentang ilmu spiritualitas atau kerohanian secara umum. Bagaimana kesalahpahamannya?

Kesalahpahamannya adalah bahwa spiritualitas itu secara langsung bertentangan dengan ilmu alam yang sudah terbukti, dan membuat prediksi-prediksi atau hipotesis-hipotesis yang tidak mungkin bisa diuji coba atau memang tidak masuk akal sejak awal. Contohnya pandangan bahwa roh itu nyata, atau keberadaan alam setelah kematian, semua hal ini dianggap tidak berdasar. Kedua hipotesis tersebut memang tidak bisa diuji coba, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dipahami manusia saat ini. Tapi bukan berarti tidak akan pernah bisa diuji coba.

Kenyataan bahwa ada hipotesis-hipotesis spiritual yang sungguh tidak masuk akal adalah benar, contohnya ada orang yang mulai berbicara tentang cakra-cakra atau paham bahwa Atlantis sungguh ada dan memegang peranan spiritual yang penting, itu memang sungguh-sungguh tidak masuk akal, setidaknya untuk saat ini. Tapi pemikiran bahwa adanya roh dalam manusia, bahwa kematian hanya berarti pemutusan hubungan antara roh dan dunia materi, dan adanya Tuhan yang menjadi sumber segala kenyataan bukanlah pemikiran yang tidak masuk akal. Bahkan, pemikiran ini lebih masuk akal dan bisa dibuktikan secara logika, matematis, dan filsafat.

Maka, paham bahwa ilmu spiritualitas adalah ilmu yang bertentangan dengan ilmu alam yang pasti dan sudah dibuktikan adalah paham yang menyesatkan. Sebab sesungguhnya kebenaran mengenai roh, kematian, dan Tuhan sudah bisa dibuktikan dengan menganalisis implikasi-implikasi filsafat dari pernyataan-pernyataan tersebut. Masalah utama dalam penelitian ilmu tentang roh adalah kita tidak memiliki ilmu fisika dan teknologi yang cukup canggih untuk meneliti secara pasti tentang masalah kerohanian. Masalah ini juga kerap kali digunakan sebagai argumen melawan spiritualitas secara umum, namun argumen seperti itu bermasalah, dan bisa ditanggapi dengan argumen kontra.

Paham bahwa spiritualitas tidak mungkin benar sebab sampai saat ini belum ada bukti yang memuaskan adalah paham yang sangat menyesatkan. Hal ini disebabkan pernyataan tersebut bukan pernyataan rasional yang murni, atau sungguh-sungguh dideduksikan dari fakta-fakta kenyataan yang ada, melainkan sudah dipengaruhi oleh bias dan asumsi-asumsi menyesatkan manusia. Keyakinan bahwa kita telah mencapai akhir dari segala penemuan fisika dan ilmu alam adalah keyakinan yang sangat irasional. Sebab sejarah membuktikan bahwa dulu kala, ada orang-orang hebat dan cerdas yang berpikir bahwa suatu bidang tertentu telah mencapai batasnya. Siapakah mereka?

Ada banyak sekali tokoh-tokoh sejarah yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan berkembang lagi atau akan berubah sangat lambat. Contohnya, Orville Wright mengatakan, “Manusia tidak akan terbang sampai 50 tahun,” pada tahun 1901, 2 tahun berikutnya Wright bersaudara menerbangkan pesawat terkontrol pertama. Lalu suatu komentar dari William Siemens tentang bohlam lampu jangka panjang karya Thomas Edison, “Kabar menggetarkan seperti itu harus dinyatakan sebagai tidak layak untuk ilmu pengetahuan dan merusak pada perkembangan sesungguhnya,” dan jelas komentar itu salah. Maka, sangat irasional untuk berpikir pada abad ini, bahwa ilmu pengetahuan sudah berhenti berkembang dan spiritualitas itu salah secara efektif. Kita hanya belum bisa meneliti spiritualitas secara langsung, tapi bukan berarti spiritualitas ialah salah dan tidak benar.

Keterkaitan Ilmu Material-Imaterial

Maka sekarang timbullah pertanyaan yang terakhir, apakah hubungan atau keterkaitan sejati antara ilmu material dan ilmu imaterial, atau yang seringkali disebut ilmu spiritualitas. Pada titik inilah kita tidak bisa membeda-bedakan antara ilmu material dan ilmu material, sebab kedua ilmu itu sesungguhnya adalah kesatuan ilmu yang tak terpisahkan. Apa maksudnya? Selama ini orang menganggap bahwa ilmu materi dan ilmu imaterial itu terpisah dan berbeda. Padahal itu adalah anggapan yang salah, sebab sesungguhnya lebih pantas disebut ilmu materi dan ilmu transmateri atau ilmu energi. Mengapa begitu?

Pada akhirnya, energi dan materi adalah dua hal yang sebenarnya sama, namun adalah wujud yang berbeda dari wujud yang lain. Hal ini dibuktikan oleh Einstein dengan rumus terkenalnya yaitu e=mc^2. Maka, ilmu material sebenarnya merujuk pada ilmu tentang dunia yang bersifat materi, atau mempunyai massa dan memenuhi sejumlah kriteria fisika lainnya. Sementara itu, ilmu imaterial, atau spiritualitas, atau energi adalah ilmu tentang dunia energi, karena roh pada hakikatnya adalah energi. Maka, kita bisa melihat bahwa sesungguhnya ilmu material dan ilmu imaterial hanyalah bagian dari suatu kesatuan ilmu dan teori yang tak bisa dipisahkan atau dikotak kotakkan.

Jadi, apakah ada bukti konkrit dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi contoh keterkaitan antara materi dan energi? Sederhana saja, lihatlah orang-orang hebat di dunia, apakah mereka hebat hanya karena sekadar kondisi materi yang mendukung? Bukankah ada banyak orang yang mengalami hal yang sama, tapi mengapa ada yang menanggapi secara positif dan ada yang menanggapi secara negatif? Mengapa ada orang yang menjadi kejam dan berdarah dingin di hadapan penderitaan seperti Hitler atau Stalin, tapi ada yang menjadi penuh belas kasih dan membebaskan sesama manusianya, seperti Soekarno atau George Washington? Kontradiksi-kontradiksi inilah yang membuktikan bahwa hidup manusia tidak sekali, dan kebijaksanaan atau kehebatan pribadi pastilah dipengaruhi oleh segala pengalamannya, termasuk di hidup sebelumnya.

Bagaimana dengan bukti yang lebih sederhana lagi? Lihatlah dunia sekitar, apakah dunia itu bersifat statis atau dinamis? Berubah atau tidak berubah? Kalau misalnya seluruh dunia ini memang hanya materi dan menuruti hukum hukum yang statis, pertanyaannya bagaimana dunia ini bisa berubah? Bukannya akhirnya ditemukan bahwa segalanya terjadi secara acak dan tidak ada penggerak awal? Kalau begitu, bagaimana dengan kita sebagai manusia? Apakah kita tidak bisa membuat perubahan dengan pilihan-pilihan kita? Seharusnya tidak seperti itu, karena manusia dan perubahan yang dilakukannya, atau betapa acaknya perilaku manusia itu menjadi bukti bahwa aspek imaterial sungguh bekerja. Pada akhirnya, kedua bukti yang telah dijelaskan masih abstrak dan ini sulit dipahami tanpa memahami kebenaran hakikat tentang spiritualitas itu sendiri, yang nantinya akan dibahas pula, tapi itulah adanya.

Teori Dari Segala Teori

Kenyataan bahwa adanya keterkaitan antara segala cabang ilmu yang ada berarti antara setiap ilmu pastilah ada satu hal yang sama untuk setiap ilmu. Maka, kebenaran hakikat atau kebenaran dasar haruslah sama untuk segala ilmu, dan dengan itu maka muncullah kebutuhan akan suatu teori, bukan teori sembarangan, melainkan teori berbasis kebenaran. Atau, suatu teori dan ilmu yang bisa menjelaskan segala fenomena dunia secara rasional dan terkait. Suatu hukum umum yang menjadi penyebab segala kejadian di dunia. Orang berpikir bahwa teori ini kelihatannya tidak ada, tapi itu karena mereka belum memahami dunia secara betul. Jadi, apakah teori ini bisa dirancang pada masa ini? Tentu bisa, tapi yang menjadi masalah adalah apakah kita siap untuk merancangnya?

Penutup

Tulisan ini telah membuktikan dan juga menjelaskan bahwa segala hal di dunia ini terkait dan harusnya mengikuti aturan-aturan yang sama. Sebab kenyataan dunia ialah satu dan tak mungkin ada lebih dari satu kenyataan. Maka, dengan itu pastilah ada suatu metode, hukum, atau teori yang bisa digunakan untuk secara rasional dan akurat menjelaskan segala hal di dunia ini. Dari pergerakan atom-atom sampai ke tindakan kriminal, dari perkelahian kecil antar anak TK sampai perang dunia II sekalipun. Sesungguhnya, dasar dari teori tersebut sudah ada, dan hal yang kurang hanyalah merancang suatu tulisan yang bisa menjelaskan dasar tersebut. Sekian dari saya, sampai jumpa dan Tuhan memberkati.

Sumber Referensi

Bellis, Mary.  Bad Predictions”.  Web 3 Agustus 2018.