Pengantar
Tulisan
ini dibuat sebagai tanggapan pribadi saya terhadap seminar kebangsaan tentang
GNFI, atau Good News From Indonesia yang dibawakan oleh foundernya sendiri
yaitu Bapak Akhyari Hananto. Seminar ini diadakan pada hari Jumat, tanggal 13
Juli 2018, di SMA Santa Laurensia. Saya sendiri berlaku sebagai saksi dari
seminar ini, dan sebagai seorang yang kritis terhadap ideologi nasionalis, saya
putuskan untuk mencatat segala hal yang penting untuk saya catat dan supaya
saya analisis. Sebelum melanjutkan, saya sama sekali tidak bertujuan untuk
mencemarkan nama baik siapapun atau organisasi apapun, apa yang saya tulis
berupa kritikan, bukan pencemaran, harap bisa dibedakan.
Nasionalisme Baik?
Terus
terang saja, saya bukan seorang “nasionalis” sesuai paham orang pada umumnya.
Saya bukan nasionalis yang siap melayani negara lewat Paskibra atau
mempromosikan bangsa ini, definisi nasionalis bagi saya sedikit berbeda. Bagi
saya, menjadi seorang nasionalis adalah menjadi seorang yang peduli akan
rakyatnya, dan menghargai prestasi serta kerja keras rakyat. Lagipula, berkat
rakyat sesama kitalah kita bisa tetap hidup, bahkan setelah kita bisa bekerja
pun, rakyat tetap sangat penting bagi kita. Maka, nasionalis paham saya bukan
nasionalisme yang terpusat pada ideologi, yaitu konsep Bangsa Indonesia,
melainkan nasionalisme yang terpusat pada rakyat.
Sekalipun
begitu, saya tetap mempunyai paham bahwa nasionalisme itu hanya semacam alat
transisi, menuju apa? Menuju internasionalisme dan globalisme, walau paham saya
masih sedikit berbeda dari paham Soekarno tentang internasionalisme. Memang
baik adanya menghargai identitas bangsa dan menghargai budaya nasional, apalagi
melestarikannya dan mendalaminya. Walau begitu, identitas bangsa bukanlah sesuatu
yang harus kita pertahankan sampai mati, kalau kemerdekaan memang harus kita
pertahankan sampai titik penghabisan, tapi menurut saya, identitas bangsa hanya
salah satu keunikan lagi dari kita sebagai manusia. Kita tetap pada akhirnya
harus mengutamakan kebahagiaan umat manusia secara keseluruhan di atas
kepentingan bangsa, seperti kita mengutamakan kepentingan bangsa di atas
kepentingan golongan.
Maka,
nasionalisme yang merakyat itu sebenarnya sangat penting sebagai persiapan
untuk suatu persatuan dunia yang bersifat globalis. Karena kalau kita belum
bisa bersatu sebagai satu bangsa, bagaimana kita bisa bersatu sebagai satu umat
manusia, atau bahkan seluruh umat semesta alam? Selain itu, bagaimanapun juga
kita pasti menjadi warga negara tertentu, dan oleh sebab itu, selama kita masih
terjebak sistem materialis, lingkaran pengaruh kita terbatas pada negara
tersebut. Terlebih tujuan kita sebagai manusia adalah hidup demi kesempurnaan
diri dan juga kesempurnaan orang lain, maka baiklah adanya kalau kita memberikan
yang terbaik untuk rakyat kita dahulu, dan setelah sukses di negara tanah air,
kita maju ke panggung global.
Analisis Argumen GNFI
Bapak
Akhyari menyampaikan beberapa poin penting tentang nasionalisme yang saya catat
sebisa saya menangkap pembicaraannya. Pertama adalah masalah rakyat Indonesia
tidak cinta atau peduli akan bangsanya sendiri, dan malah lebih menyenangi
negara asing. Ini dibuktikan dari pemuda Surabaya yang ditemukan banyak memakai
baju dengan tulisan, “I love [Negara Asing Generik],” dengan negara atau unsur
asing itu bisa Hongkong, Taiwan, New York, Singapura, dan lain lain. Memang itu
sendiri bukan masalah, tapi menjadi tanda akan suatu masalah kritis yang jauh
lebih besar daripada urusan baju yang sebenarnya sepele.
Mengapa
rakyat Indonesia tidak peduli dengan negaranya sendiri? Alasannya sederhana,
karena rakyat Indonesia tidak dididik dengan cukup baik, dan dibekali dengan
sikap menghargai dan kepedulian akan negaranya sendiri. Alasan alternatif
mungkin karena Indonesia kurang baik, atau karena media massa jarang mengekspos
hal hal baik tentang Indonesia. Tapi, karena GNFI berhasil menyampaikan begitu
banyak berita baik tentang Indonesia, saya rasa alasan yang lebih masuk akal
adalah media massa jarang mengekspos, dan pendidikan Indonesia memang kurang
bagus. Sementara itu, GNFI memilih untuk mengulas hal hal baik dan menarik di
Indonesia untuk menutupi kekurangan media massa, dan selama seminar, Pak
Akhyari memberikan sejumlah berita berita itu.
Hal
baik pertama yang dikupas adalah kekayaan alam Indonesia, dan saya akui bahwa
Indonesia memang mempunyai kekayaan alam yang sangat luar biasa dan menyaingi
banyak negara lain. Bukan hanya keindahan alam saja, tapi juga sumber daya alam
yang ada, yang seharusnya bisa membuat Indonesia menjadi negara yang bahkan
menyaingi Amerika Serikat atau China dalam ekonomi dan kekuatan politik. Hal
ini memang anugrah dari Tuhan kepada kita rakyat Indonesia dan juga leluhur
kita manusia Nusantara. Saya rasa mengupas tentang kekayaan alam kita tidak ada
salahnya, dan baik adanya untuk meningkatkan kesadaran rakyat akan keistimewaan
tanah air kita. Hal yang menjadi perhatian saya adalah, apa penyebab kekayaan
alam ini menjadi terbuang dan tidak lagi disadari oleh rakyat?
Hal
baik kedua tentang Indonesia adalah sejarah “Indonesia” yang sangat
mengagumkan, dan bagaimana para leluhur bisa menciptakan berbagai macam inovasi
yang bahkan pada abad modern ini sulit untuk diimitasi. Contohnya adalah Candi
Borobodur yang begitu simetris dan diukir dengan sedemikian rupa, atau keris
yang sudah mengandung unsur Titanium sejak abad 9 atau abad 14, dan inovasi
inovasi lainnya. Saya kurang setuju kalau penemuan penemuan tersebut disebut
sebagai karya “Indonesia”, karena itu adalah karya Nusantara, dan juga kerajaan
kerajaan dahulu. Indonesia baru ada tahun 1945, dan merupakan suatu konsepsi
politik, konsepsi budayanya lebih pantas disebut sebagai Nusantara.
Sebenarnya,
bagaimana para leluhur bisa menciptakan hal hal yang begitu mengagumkannya
bahkan pada zaman sekarang? Padahal pada masa itu tidak ada yang namanya
nasionalisme atau rasa cinta akan bangsa yang begitu berlebihannya. Malah,
inovasi inovasi Nusantara terjadi pada masa Hindu Buddha, dimana ajarannya
sangat mengutamakan keselarasan dengan alam semesta, kerendahan hati dan
kedamaian. Maka, kita tahu bahwa kebijaksanaan tidak akan muncul hanya dengan
nasionalisme semata, melainkan dengan berselaras dengan alam semesta dan pada
Tuhan, sehingga pikiran kita bisa dijernihkan dan terbebas dari segala kekangan
apapun. Itulah alasan sesungguhnya dari kebijaksanaan para leluhur yang sudah
hilang tergantikan oleh budaya kapitalis materialis dan juga nasionalis
materialis.
Hal
berikutnya yang dibicarakan Pak Akhyari intinya adalah bagaimana banyak
perusahaan Indonesia menjadi terkenal di luar negeri, dan juga sosok sosok
Indonesia yang mendunia atau berpengaruh besar bagi dunia. Saat ini saya mulai
bingung, apa yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh Pak Akhyari? Dari segi
ekonomi, perusahaaan perusahaan Indonesia memang bisa diakui kehebatan dan
kesuksesannya, malah bisa dibilang terlalu sukses dan hebat, contohnya
perusahaan Sinarmas atau Lippo. Lalu bagaimana dengan anak anak Bangsa yang
mendunia? Seperti Sri Mulyani, Habibie, Ricky Elson, Ronny Gani, dan lain lain?
Saya rasa kehebatan mereka juga patut dihargai dan diakui oleh rakyat
Indonesia, tapi mengapa mereka tidak terlalu dikenal? Apakah ada yang salah?
Kritikan Pada GNFI
Saya
sedikit bingung, apa yang diharapkan GNFI dengan mengabarkan hal hal baik
tentang Indonesia kepada rakyat? Apa supaya rakyat bisa mengerti kehebatan
Bangsanya sendiri dan menjadi nasionalis? Sekarang, mari kita lihat masalah
nasionalisme dari segi kenyataan, yaitu mencari akar dari masalah ini. Hal yang
dilakukan GNFI semata menyembuhkan gejalanya, dan bukan penyakitnya. Jadi
sekarang kita ingin bertanya, mengapa rakyat Indonesia tidak nasionalis lagi?
Apa yang membuat rakyat kecewa dengan Indonesia? Apakah itu alam, atau
ketidakbecusan rakyat, atau ketidaktahuan rakyat semata? Saya rasa bukan itu
jawabannya, kalau saya lihat masih banyak media massa yang mengabarkan hal baik
tentang Indonesia, bukan hanya GNFI. Jadi apa yang mengecewakan rakyat?
Jika
kita lihat kabar kabar buruk dan genting tentang Indonesia, apa topik utama
dari segala berita tersebut? Apa itu kerusakan alam atau orang orang Indonesia
yang mengakibakan kerugian pada dunia? Bukan, topik utamanya adalah politik, itulah yang menjadi
permasalahan utama di Indonesia. Lihat saja orang orang DPR yang sebenarnya
kurang berguna, dan sedikit sekali yang betul betul berkontribusi kepada
rakyat. Bagaimana dengan korupsi pemerintahan yang begitu merasuk di negeri
ini, atau ancaman perpecahan yang ada di Bangsa ini karena kaum kaum radikal
fanatik? Bukankah semua hal itu patut kita ketahui dan waspadai sebagai warga
negara Indonesia? Jadi, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah itu?
Menurut
GNFI, jika seorang terjangkit penyakit dan kita belum tahu apa penyakitnya,
hanya terlihat gejala, kita hanya perlu mengobati gejalanya. Sama saja dengan
Indonesia saat ini, ada suatu permasalahan politik dan sosial yang sangat merajalela
di Indonesia, yang menyebabkan suatu rasa pesimisme terhadap Indonesia, lalu
apa yang dilakukan GNFI? Mereka hanya berusaha menyembuhkan rasa pesimisme itu
menjadi rasa optimisme, tanpa menyelesaikan permasalahan yang jauh lebih besar
saat ini. Saya rasa membuat rakyat Indonesia menjadi terindoktrinasi dengan
konsep nasionalis dan cinta akan tanah air hanya akan membutakan mereka dari
permasalahan yang sungguh ada.
Kabar
baik itu tidak selalu baik dan kabar buruk itu tidak selalu buruk. Kabar baik
yang berlebihan bisa jadi pembuta rakyat sehingga mereka menjadi nasionalis
tanpa bersikap kritis. Sikap fanatisme tanpa adanya sikap kritis akan menjadi
pembawa kejatuhan bangsa ini. Di lain pihak, kabar buruk malah menjadi
pengingat kepada kita bahwa Indonesia mempunyai banyak sekali masalah. Kabar
buruklah yang menarik kita kembali pada kenyataan pahit bahwa sistem di
Indonesia memang bermasalah dan harus diperbaiki. Maka, saya harap GNFI
mengerti masalah ini, dan sungguh mengerti apa yang mereka lakukan.
Pendapat Pribadi
Saya
ingin menyampaikan pendapat pribadi saya pula tentang permasalahan di
Indonesia. Saat ini, mengapa banyak orang Indonesia yang hanya kecewa pada
pemerintahan, tapi tidak beraksi, atau malah sama sekali tidak tahu menahu
tentang permasalahan kritis Indonesia? Akarnya adalah psikologi dan karakter
rakyat Indonesia, yang berarti kita harus melihat apa yang terjadi pada masa
kecil rakyat. Pertanyaannya, apa yang menjadi faktor terutama dalam
pengembangan karakter dan psikologi anak selama masa pertumbuhan? Ada dua
faktor, orangtua, dan juga sistem pendidikan, namun orangtua juga terbatas oleh
sistem pendidikan yang lalu, dan yang sungguh bisa membawa sikap yang berbeda
pada anak adalah pendidikan.
Kalau
rakyat tidak bersikap kritis, artinya apa? Cukup sederhana, artinya sistem
pendidikan tidak membekali rakyat dengan sikap kritis terhadap segala hal dan
juga sikap proaktif terhadap permasalahan Indonesia. Artinya sistem pendidikan
Indonesia membutakan dan menekan kekritisan rakyat Indonesia, alasannya apa?
Alasannya juga sangat sederhana, yaitu sistem materialisme yang telah merasuk
dan meracuni negara ini. Sederhananya begini, karena Indonesia telah
diinfiltrasi oleh daya materialis, daya ini akan meracuni segala aspek Bangsa
supaya Indonesia tetap dikuasai oleh pengaruh materialis, dan kebenaran tidak
pernah terbuka bagi rakyat. Bagaimana caranya?
Daya
materialis membelenggu rakyat dari segala arah, pertama dari arah ekonomi dalam
wujud sikap kapitalis hedonis, yang tidak peduli dan apatis terhadap nasib
bangsa. Kedua dari arah nasionalis fanatis, yang membuat rakyat tertutup
pikirannya dan menjadi berpandangan sempit. Mengapa berpandangan sempit? Karena
pandangan nasionalis fanatis menyempitkan sudut pandang rakyat menjadi
pandangan bahwa Indonesia adalah negara yang paling benar dan kita harus
mengutamakan negara atas segala hal. Ini membangun suatu sikap kelekatan pada
identitas bangsa, sehingga rakyat hanya peduli akan Indonesia, dan bukan pada
kebenaran semesta. Dan sedihnya, GNFI menjadi salah satu manifestasi dari sikap
nasionalis fanatis ini, yang sungguhnya hanya membelenggu pikiran rakyat kepada
identitas “Indonesia”, dan menjauhkan mereka dari kebenaran semesta yang pernah
dipegang oleh para leluhur, tanpa iming iming ideologi Pancasila maupun
nasionalisme.
Jadi,
apa yang kita bisa lakukan sekarang ini? Saat ini sistem materialis tidak bisa
diguncang hanya dari batangnya saja, kita harus membongkar sistem dari akarnya.
Dari pernyataan itu, saya rasa sudah cukup jelas apa yang harus kita lakukan
demi keselamatan rakyat Indonesia dan juga umat manusia. Kita harus membangun
suatu revolusi, revolusi kebenaran yang akan membuka kembali kebenaran semesta
yang selama ini ditekan dan dibelenggu oleh sistem materialis. Hanya dengan
revolusi yang nasional dan juga internasional inilah manusia bisa dikembalikan
kepada hakikatnya, dan pada saat itulah Indonesia akan mengalami masa kejayaan
yang seharusnya. Kejayaan Indonesia tidak akan dicapai dengan nasionalisme
semata, tapi dengan kesadaran akan kebenaran semesta.
Akhir Kata
Kepada
pihak GNFI yang mungkin kebetulan membaca, saya mohon maaf jika tulisan saya
ini menyinggung pihak GNFI. Saya hanya mengemukakan pendapat saya dan apa yang
menurut saya adalah kebenaran. Maka, saya bisa salah karena saya adalah
manusia, dan sekali lagi saya mohon maaf. Bagaimana pun, pendirian saya tetap
bahwa GNFI memang mempunyai intensi yang baik, tapi mereka menyerang masalah
ini dari sisi yang kurang tepat. Perubahan yang sifatnya hanya lokal dan
terbatas tidak akan berpengaruh besar. Jika kita ingin perubahan yang sungguh
nyata, kita harus memangkas dari akar akarnya. Saya rasa itu saja perkataan
saya, salam damai sejahtera bagi kita semua dan sampai jumpa.