Monday, March 16, 2020

Perkenalan Pada Filsafat


Pendahuluan

Sejak dahulu kala manusia selalu tertarik untuk mencari kebenaran. Upaya pencarian kebenaran ini telah berlangsung sejak dulu kala dan muncul dalam berbagai wujud. Sekarang kita mengenal ilmu pengetahuan sebagai sumber kebenaran yang utama, tapi sebelumnya agama menjadi salah sumber yang dominan pula. Namun di samping semua itu ada satu upaya yang paling berpengaruh dan membekas pada kedua upaya tersebut, yaitu filsafat.

Pada masanya filsafat pernah mengalami kejayaan yang besar, di mana filsafat dianggap sebagai kenikmatan para dewa-dewi. Sampai abad ke-15 pada masa Renaisans dan juga beberapa abad berikutnya filsafat masih memegang peranan penting di masyarakat. Namun pada suatu ketika filsafat jatuh dan menyingkir menjadi suatu ilmu kabur yang tak jelas dampaknya dan tak jelas pula objeknya. Ini adalah bencana bagi kebenaran.

Demi kebenaran dan demi kita umat manusia, filsafat harus dibangkitkan kembali. Sebab segala upaya pencarian kebenaran yang kita miliki sekarang berasal dari filsafat. Menolak filsafat sama saja dengan seorang anak yang menolak orangtuanya, suatu kedurhakaan. Tanpa filsafat, ilmu pengetahuan dan agama sama sekali tidak lengkap dan bahkan dapat menyesatkan. Karena itu aku hadir untuk memberikan sumbangsihku untuk membangkitkan filsafat.

Selain itu, secara personal ini sudah merupakan rencana dalam sistem esaiku, bagi pembaca yang mengikuti dan mengingat pastinya telah menduga akan kehadiran esai ini. Sesuai yang tertulis pada esai pertama, “Dalam sistem esaiku, esai filsafat akan menjadi kategori esai yang paling utama....” (Prasetyo, 2019). Maka inilah pemenuhan rencanaku tersebut, dan esai ini akan menjadi yang pertama dari segala esai filsafat lainnya.

Berdasarkan kenyataan bahwa filsafat sudah menjadi hal yang mulai pudar dari pikiran masyarakat dan para pimpinannya, aku menilai sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai membangun kembali ilmu filsafat ke kejayaannya. Apalagi melihat bahwa sekarang ada berbagai macam masalah yang menimpa dunia kita dan sepertinya ilmu pengetahuan dan agama atau sistem-sistem lainnya belum berhasil atau justru menjadi penyebab dari kekacauan ini. Maka dengan esai ini aku bermaksud memperkenalkan kembali filsafat pada masyarakat, yang mencakup makna, masalah, dan relasiku dengan filsafat.

Definisi

Kata dalam bahasa Inggris untuk filsafat, yaitu philosophy memiliki etimologi dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Kata itu secara harafiah artinya “cinta akan kebijaksanaan”, philo artinya cinta dan sophia artinya kebijaksanaan (Britannica, 2018). Pantas saja etimologinya karena filsafat barat memang berasal dari Yunani kuno. Maka seorang filsuf atau yang berfilsafat adalah seseorang yang mencintai kebijaksanaan.

Menurut KBBI, filsafat memiliki beberapa definisi tapi satu definisi pertama adalah, “pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.” (KBBI, 2016). Menurut Oxford Dictionary of Philosophy, filsafat adalah, “ilmu tentang sifat-sifat paling umum dan abstrak dari dunia yang kita gunakan untuk berpikir seperti: pikiran, materi, penalaran, bukti, kebenaran, dan lain-lain.” (Mastin, What is Philosophy, 2009).

Berdasarkan kedua definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa filsafat adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-hal paling mendasar tentang kenyataan. Dapat dikatakan pula bahwa objek dari filsafat adalah yang mengikat segala hal dalam kenyataan, dan melampaui perbedaan antara jasmani dan rohani, riil dan imajiner. Dengan itu filsafat mencari kebenaran, yaitu penggambaran yang paling sesuai dengan kenyataan. Upaya seperti ini sebenarnya sudah sangat tua, bahkan sampai ribuan tahun yang lalu.

Sejarah

Aliran filsafat di dunia ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu filsafat barat, filsafat timur, dan filsafat Afrika. Namun kalau diurutkan dalam segi dampak, filsafat barat paling berdampak, diikuti filsafat timur, dan diakhiri filsafat Afrika yang lebih kepada kebudayaan lokal mereka (Mastin, What is Philosophy, 2009).  Sejarah kedua aliran filsafat utama yaitu filsafat barat dan filsafat timur memang mencapai ribuan tahun yang lalu.

Sejarah awal filsafat barat didominasi oleh filsafat Yunani kuno dan sedikit oleh Romawi kuno. Aliran ini diyakini dimulai dengan filsuf bernama Thales dari Miletus yang hidup dari tahun 624 sampai 546 SM (Mastin, Thales of Miletus, 2009). Sementara itu filsafat timur lebih beragam dengan cabang filsafat Jepang, Korea, Persia, Arab, Babilonia, Cina, dan India (Mastin, Eastern Philosophy, 2009). Di antara semua aliran tersebut filsafat Cina dan filsafat India mengambil posisi utama.

Tercatat bahwa filsafat Cina sudah muncul sejak masa dinasti Shang yang berkuasa dari tahun 1600 sampai 1046 SM. Saat itu pemikiran mereka berputar pada konsep siklus (Mastin, Chinese Philosophy, 2009). Filsafat India dikenal lebih tua lagi bahkan mencapai 2000 tahun sebelum masehi (Mohanty, 2019). Namun filsafat India tertulis pertama banyak diperoleh dari kitab Veda yang kisarannya sekitar 1500 sampai 1200 tahun sebelum masehi (Doniger).

Apa yang dapat kita simpulkan dari data di atas? Kesimpulannya adalah filsafat adalah upaya yang sangat tua dan kalau mengikuti filsafat India, berarti sudah berumur 4000 tahun. Agama terbesar yaitu Gereja Katolik baru berumur sekitar 2000 tahun, artinya filsafat sudah 2 kali lebih tua dari Gereja. Karena itu selama 4000 tahun pastilah banyak perkembangan dalam filsafat, sehingga filsafat bukan hanya sekadar ilmu, melainkan lebih dari itu.

Makna Filsafat

Secara definitif memang filsafat adalah suatu ilmu, tapi dalam pandanganku filsafat dapat kita kategorikan sebagai 4 hal berbeda. Filsafat adalah ilmu, tapi juga perspektif, gaya hidup, dan bahkan suatu spiritualitas. Setiap makna tersebut memiliki peranan yang berbeda tapi dapat kita satukan menjadi suatu satu kesatuan. Sebagai ilmu, filsafat dapat dibagi lagi menjadi ilmu secara profesional dan ilmu secara teoritis.

Sebagai ilmu profesional, filsafat bersifat akademis yaitu terkait dengan institusi akademis seperti universitas. Akademis di sini lebih mengarah pada teori daripada pendidikan, jadi institusi yang berkutat pada hal-hal teoritis atau penelitian. Filsafat menjadi suatu subjek pembelajaran dan penelitian di universitas dan juga sebagai profesi. Seorang yang berprofesi dalam bidang filsafat disebut filsuf.

Sebagai ilmu teoritis, filsafat adalah ilmu yang mempelajari hakikat-hakikat kenyataan. Ini mencakup ruang, waktu, kesadaran, keberadaan, kebenaran, kebaikan, dan sebagainya. Filsafat bersifat rasionalis, artinya mengandalkan penalaran saja tanpa penginderaan. Karena filsafat mempelajari hakikat kenyataan, maka filsafat menjadi dasar dari segala ilmu lain.

Kedua pandangan itu dapat kita satukan menjadi satu, yaitu filsafat adalah ilmu tentang hakikat kenyataan yang diinstitusionalkan dalam institusi akademis, biasanya universitas. Filsuf-filsuf yang terkait dengan universitas adalah orang-orang yang mempelajari hakikat kenyataan secara profesional. Dalam universitas, hakikat kenyataan menjadi subjek penelitian dan juga subjek pembelajaran secara serius, formal, dan profesional.

Berikutnya perspektif filsafat adalah perspektif yang digunakan dalam berfilsafat, atau perspektif hidup yang memiliki unsur filsafat. Filsafat memiliki esensi dasar dari segala dasar, maka perspektif filsafat fokus pada hal-hal mendasar dan sederhana. Perspektif ini dibagi menjadi perspektif analitik dan perspektif fundamental. Analitik artinya menyederhanakan segala sesuatu menjadi yang lebih mendasar. Fundamental artinya memandang segala sesuatu sebagai dalam bentuk hal-hal yang mendasar.

Contohnya adalah dalam menganalisis suatu kejadian kriminal, dengan perspektif analitik kita menganalisis bahwa kriminalitas terjadi karena pelaku memiliki standar kebaikan yang berbeda dari masyarakat dan hukum. Dengan perspektif fundamental kita menerapkan hasil analisis tersebut selalu, bahwa kita menyadari setiap kali ada kejahatan, itu adalah hasil perbedaan standar nilai.

Tujuan dari perspektif ini adalah untuk menyesuaikan tindakan kita dengan hal-hal mendasar tersebut, dengan itu kita dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Logikanya seperti ini, masalah yang kompleks saat kita sederhanakan akan mengungkap akarnya. Jika akar ini yang diselesaikan, sisanya akan menjadi baik pula. Memakai contoh sebelumnya, maka solusinya adalah mencari cara supaya mengubah standar kebaikan yang berbeda itu supaya sama kembali dengan masyarakat dan hukum.

Perspektif filsafat menjadi bagian dari gaya hidup filsafat, walau lebih tepatnya bukan sekadar gaya hidup melainkan hidup filsafat. Gaya hidup filsafat artinya kita hidup berorientasi pada kebenaran dan hidup demi kebenaran. Kebenaran menjadi tujuan hidup dan kita senantiasa berjuang deminya. Karena itu ada suatu rasa ingin tahu yang besar dalam gaya hidup filsafat, karena kita ingin mengetahui kebenaran seutuhnya dan ini tidak berhenti.

Kita juga memiliki sikap skeptis, yaitu tidak mudah percaya akan apapun. Hal ini mungkin aneh karena kalau kita mengejar kebenaran kita harusnya mampu percaya, tapi justru skeptisisme diarahkan pada kebenaran. Kita bersikap skeptis supaya kebenaran yang kita yakini sungguh merupakan kebenaran dan bukan suatu kepalsuan yang kita kira adalah kebenaran. Dengan itu suatu kutipan dari Bertrand Russell dapat mengarahkan kita, “Untuk hidup tanpa keyakinan tapi tanpa dilumpuhkan oleh keraguan adalah hal utama yang dapat diajarkan filsafat bagi mereka yang mempelajarinya pada masa ini.” (Russell, 1946).
  
Tentu saja dengan memegang gaya hidup filsafat kita juga berperspektif filsafat, dan ini menjadi perspektif abadi hidup kita. Segala yang kompleks kita pecah menjadi kebenaran-kebenaran yang mendasar, dan kebenaran-kebenaran yang mendasar inilah yang kita ubah dan sesuaikan demi tujuan kita. Segala hal disederhanakan dan segala hal dipandang sebagai yang sederhana saja. Tambahannya adalah perspektif filsafat diarahkan demi filsafat atau kebenaran itu sendiri.

Terakhir, makna yang mungkin sedikit aneh adalah filsafat sebagai suatu spiritualitas. Bagi orang beriman termasuk aku, Allah adalah kebenaran yang sejati. Di lain pihak filsafat adalah pencarian kebenaran, maka pada saat yang sama dengan berfilsafat aku mencari Allah. Dengan berfilsafat kita lebih memahami kebenaran dan dengan itu kita lebih memahami Allah. Ini dapat kita bawa lebih jauh lagi bahwa filsafat bukan hanya spiritualitas tapi juga devosi kepada Allah.

Ini dapat dibandingkan dengan ilmu pengetahuan sebagai devosi kepada Allah. Menurut pengakuan Guy Consolmagno selaku bruder Yesuit dan juga direktur observatorium Vatikan, ilmu pengetahuan mirip permainan antara orangtua dengan anaknya. Allah memberikan teka-teki pada kita manusia, dan kita memecahkan teka-teki itu. Maka menurut Consolmagno, harus ada iman dan kegembiraan pula dalam ilmu pengetahuan, kalau tidak maka tidak akan berhasil (Lambert, 2017).

Jika seperti itu, maka filsafat lebih intim lagi karena adalah teka-teki untuk mengenal Allah sendiri. Bahkan filsafat lebih mendekatkan kepada Allah daripada Kitab Suci karena pada dasarnya Kitab Suci adalah perantara, tapi dengan filsafat kita mengintip langsung jati diri Allah. Hal ini memang sulit dan membutuhkan waktu tapi bukan mustahil.  Sebab kita memiliki kesadaran kita, sehingga pastilah selalu ada suatu kebenaran tentang Allah yang dapat kita ketahui jika tidak semua.

Dengan itu kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat bukan sekadar ilmu. Bahkan filsafat menjadi suatu hal yang suci dan ilahi jika dipandang dari sudut pandang tertentu. Sebagai kesatuan, filsafat dimulai dengan orientasi pada kebenaran. Orientasi yang kuat ini menjadi suatu ilmu yang formal, yaitu untuk mempelajari kebenaran yang paling tinggi yang mengikat segala hal. Adapula kebenaran tertinggi ini ialah Allah sendiri maka filsafat menjadi suci. Berikutnya kita hidup senantiasa dengan perspektif kebenaran.

Miskonsepsi

Sekalipun filsafat memiliki makna indah seperti itu, masih banyak orang yang salah paham atau kurang memahami apa itu filsafat. Sehingga timbul miskonsepsi atau kesalahpahaman tentang filsafat yang seringkali merusak citra filsafat. Ada 4 miskonsepsi utama yang akan kubahas, yaitu filsafat jauh dari masyarakat, filsafat sulit dipahami, filsafat tidak penting, dan filsafat berbahaya.

Pertama, ada anggapan bahwa filsafat jauh dari masyarakat. Lebih tepatnya filsafat dianggap tidak relevan dalam masyarakat kini dan tidak memiliki prospek kesuksesan. Kesuksesan di sini maksudnya kesuksesan dalam hidup yang seringkali dipandang sebagai kesuksesan finansial. Relevansi di sini maksudnya relevan dalam perkembangan masyarakat dan masalah-masalah sosial.

Bantahanku adalah justru filsafat sangat relevan dan dapat sangat membantu dalam mencapai kesuksesan finansial. Pertama, banyak analisis sosial berakar dari filsafat dan tentu saja karena segala ilmu berasal dari filsafat, maka filsafat tetap penting bagi masyarakat dan pembelajarannya. Lalu banyak sekali masalah sosial yang sebenarnya adalah masalah filsafat dan tidak dapat diselesaikan dengan sekadar ilmu empiris.

Masalah yang kumaksud adalah masalah-masalah etika dan keadilan, kedua topik ini jelaslah adalah masalah filsafat. Ya memang sekarang sudah ada konsepsi-konsepsi etika dan keadilan, tapi dari manakah asal mereka? Tentu saja filsafat, hanya filsafat yang dapat membuat pernyataan tentang etika. Ilmu pengetahuan sifatnya hanya deskriptif, tapi bebas nilai dan tidak evaluatif dalam arti menilai moralitas.

Untuk prospek kesuksesan, kita kembali pada perspektif filsafat. Dengan memandang segala hal dalam rupa paling sederhananya kita dapat mengidentifikasi mana yang paling berguna untuk tujuan kita. Ini termasuk dalam bisnis, kita dapat menganalisis apa yang paling dibutuhkan untuk mencapai untung, apakah aset harus dijual, menambah pemasaran, atau hal lain yang harus diubah. Dengan itu kemungkinan kesuksesan justru bertambah jauh.

Miskonsepsi kedua adalah filsafat sulit dipahami. Pahamnya adalah filsafat memiliki bahasa yang rumit dan konsep yang rumit. Bahasanya menggunakan kosa kata yang aneh dan barangkali alien, serta konsepnya juga berbelit-belit dan tidak ada dasar dalam kenyataan. Bantahanku adalah menurut kondisi sekarang, aku mengakui kebenaran dari pemikiran seperti itu karena aku juga menilai bahwa filsafat sekarang dan dulu terlalu berbelit-belit.

Akan tetapi tidak seharusnya filsafat seperti itu. Bahasa dalam filsafat dapat disamakan antara berbagai filsuf, disederhanakan menjadi bahasa yang lebih dapat dipahami. Dengan penyederhanaan bahasa, maka konsep juga dapat disederhanakan karena jelas atau tidaknya suatu konsep sebenarnya bergantung pada bahasa yang digunakan. Kembali pula pada makna filsafat, bukankah itu hal yang dapat dipahami dengan mudah?

Justru hal-hal sederhana seperti menganalisis, mencari tahu kebenaran, dan menyadari saja sudah merupakan bagian dari filsafat. Hanya saja banyak filsuf menjelaskannya dalam cara-cara yang tidak sederhana demi suatu formalitas akademis. Akan tetapi tidak harus seperti itu, kita dapat menjelaskan filsafat sesederhana hal-hal yang memang menjadi bagian dari filsafat, hal-hal yang kita lakukan sehari-hari.

Miskonsepsi ketiga adalah filsafat tidak penting. Pahamnya adalah filsafat sama sekali tidak memiliki kegunaan dan tidak relevan dengan masalah-masalah kini atau dengan kehidupan secara umum. Ini adalah miskonsepsi yang mirip dengan kejauhan dari masyarakat, bedanya adalah ini lebih umum, maka lebih mudah lagi untuk dibantah dan dipatahkan.

Bantahanku kembali menggunakan perspektif filsafat. Perspektif filsafat sangat ampuh dalam menyelesaikan berbagai masalah, atau tepatnya untuk segala masalah kompleks. Setidaknya perspektif filsafat akan memberitahu apa yang harus diselesaikan, dan penyelesaiannya akan menggunakan bantuan ilmu lain. Sementara itu banyak sekali masalah kini yang memiliki akar-akar filosofis.

Kegunaan lain filsafat juga masih ada dan akan kujelaskan di bagian berikutnya. Melihat kondisi dunia sekarang juga ada kebutuhan akan rekonstruksi ulang ilmu pengetahuan. Filsafat pastinya sangat dibutuhkan untuk merekonstruksi ulang seperti itu. Alasan mengapa ilmu pengetahuan harus direkonstruksi ulang akan dipaparkan dalam esai tersendirinya. 

Hal yang pasti, kesimpulan bahwa filsafat itu tidak penting mengambil jalur yang kontradiktif. Sebab pastinya terjadi suatu proses penalaran dan perbandingan antara kebaikan filsafat dengan kebaikan lainnya. Itu sendiri sudah merupakan bagian dari proses berfilsafat. Jadi kita harus menggunakan filsafat untuk menyatakan bahwa filsafat tidak penting. Ini menunjukkan betapa pentingnya dan mengikatnya filsafat pada hidup kita.

Miskonsepsi terakhir adalah filsafat berbahaya. Pahamnya adalah filsafat dapat mengarah pada ateisme, relativisme, dan kegilaan. Sebab filsafat membuat kita terlalu bergantung pada akal budi kita sehingga tertutup dari iman. Filsafat juga merelatifkan segala hal dan karena mempertanyakan segala sesuatu dapat membuat kita menjadi gila. Relativisme terjadi karena pemahaman bahwa setiap orang memiliki kebenarannya sendiri.

Bantahanku adalah sebenarnya ini tergantung kesiapan mental setiap orang juga. Memang benar bahwa filsafat yang mendalam tidak untuk semua orang sekalipun penting. Mereka yang masih terlalu melekat jika kelekatannya diputuskan secara paksa, dapat mengarah pada guncangan mental yang cukup hebat. Lalu justru filsafat sifatnya absolut karena mencari kebenaran absolut tentang kenyataan.

Pada tahap awal, saat filsafat baru digunakan untuk mengkritik segala standar kebenaran yang ada memang terkesan segala hal relatif. Namun saat dibangun kembali sistemnya, tampaklah bahwa segala relativisme itu akan pelan-pelan pudar digantikan absolutisme. Mengenai ateisme, argumen ini dipakai oleh mereka yang menggantungkan iman mereka pada sumber-sumber fana seperti Tradisi Suci dan Kitab Suci.

Padahal pujangga Gereja hebat seperti Thomas Aquinas pun membuktikan keberadaan Tuhan dengan filsafat dan bukan dengan pewahyuan. Secara spesifik dengan 5 argumen yang dia paparkan dalam Summa Theologiae (Aquinas, 1485). Filsuf sekuler seperti Aristoteles juga mengungkapkan melalui filsafat keberadaan Ilahi dengan argumen “penggerak yang tak digerakkan” atau unmoved mover (Amadio & Kenny, 2020).

Kembali lagi dengan spiritualitas, kalau Allah didefinisikan sebagai kebenaran sejati, justru filsafat adalah tindakan devosi dan penyembahan paling intim karena kita berupaya untuk mengenal Allah secara langsung tanpa perantara institusional. Ateisme dalam konteks ini artinya pengingkaran kebenaran sejati dan filsafat justru menjadi benteng terkuat melawan ateisme. Tentu saja ateisme memiliki definisi yang lebih spesifik, tapi untuk tujuan argumen ini demikianlah.

Kegunaan

Salah satu miskonsepsi tentang filsafat adalah filsafat tidak berguna, ini tentu salah dan filsafat memiliki kegunaan yang penting. Kegunaannya sangat banyak, tapi aku akan mengulas 4 kegunaan yang paling abstrak dari filsafat, yaitu pemikiran, kebahagiaan, kenikmatan, dan ketuhanan. Pemikiran artinya untuk memperjelas pemikiran, kebahagiaan dan kenikmatan untuk mencapai keduanya, ketuhanan juga untuk mencapainya.

Sebagai suatu perspektif, filsafat akan melatih pemikiran kita supaya menjadi lebih jelas. Kejelasannya terletak pada alur pemikiran kita sehingga hubungan antara satu ide dengan ide lainnya jelas. Dengan itu logika kita juga lebih terlatih, dan ini akan mengarahkan kita untuk lebih mampu melihat jalan yang tepat menuju tujuan kita. Sampai akhirnya kita dapat lebih mampu mencapai kesuksesan dari sisi kita.

Filsafat juga berguna untuk mencapai kebahagiaan. Tentu banyak orang berkata bahwa “cara bahagia dengan melakukan A”, tapi tahukah Anda bahwa sumber pernyataan tersebut tetaplah filsafat? Sebab kebahagiaan adalah suatu objek dalam kenyataan seperti mobil atau matahari. Sebagai objek yang ada, kebahagiaan dapat dikaji dengan filsafat supaya kita dapat mengetahui kebenaran dan kenyataan tentang kebahagiaan.

Saat kita mengetahui kebenaran dan kenyataan tentang kebahagiaan, kita dapat menyesuaikan jalan kita dengan kebenaran dan kenyataan tersebut sehingga kita dapat mencapai kebahagiaan. Selain itu, filsafat sendiri dapat menjadi sumber kenikmatan itu sendiri. Mengapa seperti itu? Tidak ada alasan selain kita dapat memilihnya seperti itu. Karena terkadang bukan kebahagiaan yang datang pada kita, melainkan kita juga dapat memilih kebahagiaan.

Kegunaan terakhir adalah untuk mencapai Tuhan, ini sudah diulang beberapa kali dan kembali lagi dengan spiritualitas. Allah adalah kebenaran dan filsafat mencari kebenaran, maka filsafat mencari Allah. Setidaknya jika filsafat dilakukan dengan benar maka kita dapat mencapai Allah. Filsafat kontemporer sayangnya malah seakan-akan menjauhkan dari Tuhan, bahkan secara eksplisit mengingkari Tuhan, suatu ironi.

Masalah di Hadapan Filsafat

Seperti yang telah dituliskan, salah satu kegunaan filsafat adalah dalam memperjelas pemikiran, ini berkaitan dengan perspektif filsafat untuk menganalisis dan menyelesaikan masalah. Karena itu bagaimana kalau kita melihat penerapan perspektif filsafat untuk beberapa masalah yang sedang melanda dunia? Untuk bagian ini aku akan menganalisis ketidakadilan, krisis iklim, pertanyaan iman, terorisme, dan kapitalisme.

Apakah itu ketidakadilan? Ketidakadilan hanya dapat dipahami dengan mengenal makna keadilan. Keadilan dapat dipandang sebagai kesetaraan di mana semua orang menerima hal-hal secara setara. Kesetaraan ini tidak harus secara kuantitas, bisa pula kesetaraan derajat, yang artinya semua orang layak diperlakukan secara setara. Adapula kesetaraan hak, artinya semua orang layak menerima hak mereka secara setara, atau mungkin kebutuhan mereka. Dalam konteks moral, artinya semua orang menerima kebaikan secara kurang lebih setara atau sesuai kebutuhan masing-masing.

Maka ketidakadilan adalah kondisi manapun di mana keadilan dilanggar, termasuk contoh paling konkretnya adalah diskriminasi dan supremasi. Diskriminasi adalah kondisi di mana suatu kelompok orang diperlakukan lebih rendah dari yang lainnya karena identitas mereka. Supremasi adalah pandangan satu kelompok orang bahwa mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang lain. Diskriminasi dan supremasi selalu bersamaan, karena menganggap orang lain lebih rendah sama dengan menganggap diri kita lebih tinggi dari mereka.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa ketidakadilan menjadi masalah? Ini sama dengan bertanya, “Mengapa kita membutuhkan keadilan?” Sebenarnya kalau kita merenungkannya tidak ada obligasi secara metafisik yang eksplisit untuk menegakkan keadilan. Akan tetapi untuk saat ini ada 2 alasan yang dapat kita pertimbangkan. Dengan adanya keadilan maka akan ada kedamaian atau ketiadaan konflik. Saat semua orang saling berdamai, kemungkinan bertahan hidup atau kebahagiaan untuk semua orang bertambah. Lalu saat keadilan ditegakkan, semua orang memiliki kesempatan yang sama dan artinya potensi seluruh umat manusia dapat disalurkan bukan hanya potensi satu dua kelompok saja.

Setelah mengakui bahwa ketidakadilan adalah masalah kita harus mengidentifikasi sebab-sebabnya dan juga cara menanganinya. Jawaban paling sederhana adalah sistem sosial yang bermasalah. Sistem sosial di sini akan berarti segenap pola interaksi dalam masyarakat sebagaimana diarahkan oleh nilai-norma yang berlaku dalam masyarakat baik secara resmi oleh negara atau secara tidak resmi oleh kebudayaan lokal masyarakat.

Saat ada ketidakadilan, artinya ada ketimpangan nilai dalam sistem sosial tersebut, di mana mungkin keadilan dikatakan sebagai suatu nilai utama tapi dalam kebudayaan lokal belum terwujud sepenuhnya. Maka solusinya adalah untuk menciptakan sistem sosial yang dapat menyatukan seluruh masyarakatnya supaya benar-benar berkomitmen pada keadilan. Keadilan yang melampaui keadilan hukum semata melainkan juga keadilan sosial dan segala bentuk keadilan lainnya.

Masalah kedua adalah krisis iklim yang sedang terjadi. Krisis ini adalah ancaman bagi kelangsungan hidup manusia dan juga segenap makhluk hidup. Namun pastinya fokus penyelamatannya lebih kepada manusia daripada makhluk hidup yang lain. Perubahan iklim yang drastis belakangan ini berpotensi merusak keseimbangan ekologis di seluruh dunia, dan bisa saja makhluk hidup sama sekali tidak siap untuk perubahan secepat itu.

Kita mengetahui dengan jelas bahwa sebab dari masalah ini adalah kita, manusia, tapi secara spesifik disebabkan oleh kapitalisme. Mengapa seperti itu? Sebab tujuan utama pelaku ekonomi dalam kerangka ekonomi kapitalisme adalah memperoleh kekuasaan yang semakin besar dalam rupa untung dan pertambahan modal atau kapital. Seharusnya menjaga keseimbangan lingkungan menjadi bagian dari tujuan itu karena kita harus tetap hidup kalau ingin menikmati kekuasaan itu. Sayangnya, konsep hidup sudah lama dilupakan dalam kapitalisme.

Konsekuensinya adalah perusahaan-perusahaan akan beroperasi terus demi untung dan mengabaikan segala hal lain, termasuk ancaman terbesar bagi kehidupan mereka yaitu krisis iklim yang membayangi mereka. Suatu solusi ekonomis adalah mengubah sistem ekonominya supaya lebih terintegrasikan dengan sistem sosial yang lebih peduli terhadap kelangsungan hidup manusia dalam rupa keseimbangan lingkungan.

Dalam analisis sistem sosial, harus ada perubahan nilai baik dari nilai-nilai liberal dan individualis menjadi nilai yang mendukung keseimbangan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia secara umum. Sekali lagi seluruh elemen masyarakat harus tersatukan dalam menangani masalah ini. Misalnya pemerintah dan institusi akademis bersama merancang rencana ilmiah untuk memulihkan lingkungan dan perusahaan menjadi eksekutor dari rencana tersebut.

Sebab seperti yang telah kita lihat sebelumnya masalah utama dari sistem sosial yang berlaku adalah adanya konflik kepentingan dan ketimpangan nilai. Masyarakat terpecah dalam menanggapi krisis iklim ini, ada yang berupaya menyelesaikannya tapi ada juga yang tetap buta dan lebih memilih melanjutkan tindakan yang merugikan lingkungan. Perpecahan ini harus dibereskan dahulu atau masalah tidak akan pernah selesai.

Masalah ketiga adalah pertanyaan iman. Dewasa ini ateisme dogmatis dan ateisme praktis mulai meningkat dan iman mulai meluruh. Ini adalah masalah yang besar bagi kaum beriman, apakah iman akan hilang sepenuhnya pada suatu saat? Namun juga menjadi masalah bagi kaum ateis, yaitu bagaimana caranya supaya eksistensi mereka tetap terjaga dan bagaimana caranya supaya iman dapat dihilangkan sepenuhnya.

Keberadaan Tuhan jelas ada dalam ranah filsafat, pertanyaan tentang entitas yang mendasari segala sesuatu adalah ranah dari ilmu yang mempelajari hal-hal yang mendasari segala sesuatu, yaitu filsafat. Namun aku tidak akan terlalu banyak membahas ada atau tidak adanya Tuhan, melainkan dampak ketuhanan pada kita manusia dan apa yang dapat kita lakukan terkait Tuhan.

Dalam esai ini aku berkali-kali menyatakan bahwa antara filsafat dan agama, lebih dekat filsafat kepada Allah daripada agama. Sebab dalam agama ada perantara antara manusia dan Tuhan, tapi dalam filsafat manusia berhubungan langsung dengan khaliknya. Ini menjadi pertanyaan untuk validitas agama dalam relasi manusia dengan Tuhan. Lalu jika Allah terbukti ada secara konklusif dan menjadi fakta, bagaimana agama akan berlanjut keberadaannya?

Hal yang harus kita perhatikan juga adalah dampak sosial dari keberadaan Tuhan. Jika Tuhan tidak ada dan tepatnya, jika Tuhan terbukti tidak ada dan menjadi fakta dalam pandangan masyarakat, apa yang akan terjadi? Tentu saja agama akan menjadi tidak sah dan bisa terjadi reaksi negatif melawan agama. Harus ada nilai yang menggantikan Tuhan jika sampai terjadi hal seperti itu, dan kalau dalam pandanganku idealnya nilai ini adalah nilai kebenaran.

Namun jika Allah ada, ini yang harus kita cermati pula. Jika keberadaan Tuhan menjadi suatu fakta yang diterima oleh masyarakat, apa yang akan terjadi? Apakah agama semakin kuat dan berlomba-lomba atau justru dileburkan menjadi satu? Memang jika Tuhan didefinisikan sebagai entitas yang Mahabaik, Kebenaran Sejati, dan Raja Semesta Alam, ada pantasnya kita mengarahkan segala masyarakat dan sistem sosial demi Tuhan.

Dengan itu pertanyaan teokrasi muncul kembali. Dalam pandanganku ada masalah dengan definisi teokrasi, ada teokrasi praktis dan teokrasi teoritis. Teokrasi praktis adalah teokrasi menurut praktik yang terjadi, yaitu negara yang diperintah menurut ajaran agama tertentu. Namun teokrasi yang teoritis justru tidak terikat agama, karena adalah negara yang diperintah menurut kebenaran sejati atau Allah sendiri. Dengan itu negara yang teknokrat justru lebih dekat dengan teokrasi ideal daripada negara teokratik yang berdasarkan agama. Sebab mereka menggunakan ilmu pengetahuan yang kebenarannya sudah terbukti dan diterima, dan ini jelas bagian dari Allah.

Masalah keempat yang terkait dengan iman adalah terorisme, sebab banyak teroris yang mengatasnamakan ajaran Allah, atau tepatnya agama. Terorisme adalah masalah ideologis, saat sekelompok orang berupaya menegakkan ideologi mereka dengan cara-cara kekerasan. Tentu saja pastinya kekerasan disahkan oleh ideologi tersebut, jika tidak mereka adalah munafik dan bertentangan dengan ideologi mereka sendiri.

Pertanyaannya adalah apakah ideologi-ideologi tersebut terisolisir atau menjadi bagian dari suatu jaringan ideologi atau budaya yang lebih luas? Terkadang kita takut untuk mengakuinya karena jaringan budaya tersebut masih memegang suatu prestise atau status sosial yang tinggi, atau dipegang pula oleh mereka yang masih dipersekusi. Ini kembali juga pada masalah toleransi, bahwa kita harus intoleran pada yang intoleran untuk menjaga toleransi. Pertanyaannya, siapa dan apa yang layak disebut intoleran?

Di saat itulah kita harus memberanikan diri untuk mengakui ideologi yang dipegang oleh kaum teroris dan menghadapi atau mengkritik ideologi-ideologi tersebut sebagai salah. Kesalahan dari ideologi-ideologi dan jaringannya harus kita akui dalam masyarakat supaya tidak menyebar lebih dalam. Kesalahan ini harus dikupas seutuhnya supaya masyarakat tidak hanya tahu bahwa mereka salah tapi juga paham mengapa salah. Jaringan ini juga harus ditumpaskan ke akarnya, sekalipun dianut banyak orang, justru ini akan menjadi penyelamatan mereka yang terjerat.

Masalah terorisme terjadi saat sistem sosial kurang peduli pada kebenaran dan kurang menyatukan anggotanya untuk terarah pada kebenaran. Sehingga muncullah kelompok-kelompok dengan “kebenaran alternatif” yang merasa tidak terlayani dan memberontak dengan kekerasan. Solusinya adalah sistem sosial yang menyatukan masyarakat dengan komitmen pada kebenaran dan senantiasa menunjukkan kesalahan-kesalahan ideologis yang ada, supaya tidak tumbuh benih-benih fakta alternatif dan terorisme.

Bagaimana dengan penanganan teroris sendiri? Ini adalah pertanyaan etika dan keadilan tersendirinya. Menurut beberapa orang, teroris tidak memiliki etika dan tidak berkeadilan jadi menggunakan etika dan keadilan untuk menangani mereka adalah kesia-siaan. Tentu saja ini lebih didasarkan emosi daripada prinsip keadilan dan etika yang sepatutnya. Sesungguhnya dalam sistem sosial yang ideal, para teroris seharusnya diubah pikirannya supaya sesuai lagi dengan kebenaran, bukan dibunuh tanpa ampun. Hal yang harusnya kita bunuh hanya ideologinya, bukan manusianya.

Masalah terakhir yang menjadi salah satu masalah terbesar adalah kapitalisme. Kapitalisme secara ringkas adalah sistem ekonomi di mana faktor produksi dimiliki secara privat dan tujuan bisnis adalah untuk mendapatkan untung. Tidak ada persatuan dalam kapitalisme kecuali dalam kerangka hukum liberal dan semua pelaku ekonomi saling berkompetisi untuk mendapatkan untung.

Untung ini maksudnya dalam bentuk uang, dan sebagai alat tukar umum, uang dalam jumlah yang besar adalah kekuasaan potensial terhadap banyak hal. Kekuasaannya tentu saja hanya bersifat duniawi, materil, dan umumnya untuk kenikmatan. Maka kapitalisme menjadi ekspresi budaya materil dan hedonis yang tidak memperhatikan nilai-nilai lain sama sekali jika tidak menguntungkan.

Karena budaya kapitalis yang ultra kompetitif, dapat dikatakan bahwa budaya ini sangat memecah belah masyarakat. Sebab semua orang dianggap sebagai individu tersendiri mengejar kepentingan individu mereka pribadi. Karena semua orang dianggap sebagai individu saja dan bukan kesatuan individu-individu, maka tidak ada kesatuan ekonomis yang diwajibkan atau ditanamkan sebagai bagian dari nilai-norma masyarakat. Kemajuan ekonomis tidak tersebar secara rata melainkan menurut “kemampuan” masing-masing individu.

Menurutku kapitalisme adalah fokus nilai yang sangat salah. Kapitalisme menaruh nilai baiknya pada hal-hal duniawi semata dan artinya kaum kapitalis dikuasai oleh hal-hal duniawi. Seharusnya fokus nilainya pada kebenaran dan kebahagiaan itu sendiri, tanpa perantara hal-hal duniawi dulu. Jikalau hal duniawi dilibatkan tetaplah di bawah kebenaran dan kebahagiaan yang sejati. Sebab fokus nilai yang salah telah mengakibatkan berbagai macam masalah.

Banyak sekali masalah yang telah diulas sebelumnya dapat diatribusikan sebagian jika tidak seluruhnya kepada kapitalisme. Misalkan ketidakadilan dan krisis iklim. Jika tidak menguntungkan, perusahaan tidak akan menegakkan keadilan atau menangani krisis iklim. Karena faktor produksi dimiliki oleh individu-individu tertentu untuk untung, maka yang tidak memiliki otomatis mengalami ketidakadilan. Krisis iklim juga begitu, selama praktik menjaga lingkungan dan pengelolaan limbah tidak menguntungkan maka perusakan demi eksploitasi sumber daya alam dan penghematan biaya akan terus berlangsung.

Apakah ada alternatif dari sistem yang sepertinya penuh dengan kejahatan ini? Ada, salah satunya komunisme yang dipandang sebagai masyarakat “tanpa kelas, tanpa negara, dan tanpa uang”. Suatu ambisi yang sangat utopis dan idealis, dan gerakannya hampir mampu bersaing dengan kapitalisme tapi melampaui waktunya. Sejujurnya aku juga kurang menyetujui beberapa prinsip komunisme, secara keseluruhan ide yang bagus tapi detilnya yang kurang baik.

Sistem yang layak menggantikan kapitalisme adalah sistem yang mampu memadukan sistem sosial dan sistem ekonomi menjadi satu kesatuan yang memiliki satu arah dan tujuan. Ekonomi harusnya bukan menjadi milik individu melainkan milik bersama demi kepentingan semua individu secara tersatukan dalam masyarakat. Seharusnya tidak ada kompetisi melainkan kolaborasi dan kerja sama antara semua pihak berkepentingan demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Terakhir, segalanya disatukan dalam nama filsafat dan kebenaran yang sejati.

Masalah Filsafat

Jika filsafat berjaya, masalah-masalah di atas akan terselesaikan dengan baik tanpa banyak kendala. Sayangnya filsafat sendiri sedang menderita berbagai macam masalah yang membuat dirinya lumpuh dan seakan-akan tidak berdaya dalam segala kekacauan dunia. Aku akan membahas 4 masalah utama dalam filsafat, yaitu filsafat yang mati, filsafat yang kompleks, filsafat yang terpecah, dan filsafat yang tergantikan. Jika semua ini diselesaikan, niscaya tidak hanya filsafat, dunia akan memasuki tahap perkembangan yang baru.

Kematian filsafat ditandai dengan diabaikannya filsafat dalam masyarakat yang lebih luas. Dalam pendidikan pun filsafat atau setidaknya logika memiliki peran yang minim. Filsafat hanya tersedia sebagai jurusan di universitas yang juga tidak begitu terkenal dan di sekolah tidak ada. Jarang juga negara mengurus masalah filsafat dengan serius dan jarang pula media mengulas filsafat. Kalau masih belum cukup untuk menunjukkan pudarnya filsafat di dunia kini, aku tidak tahu apa yang diperlukan.

Filsafat sekarang terlalu kompleks, yang lebih kepada masalah bahasa. Bahasa filsafat sekarang terlalu rumit, dan menggunakan berbagai kosa kata yang terlalu luas atau definisinya kurang jelas. Seringkali pula digunakan bahasa yang simbolis atau formal, tidak masalah di konteks akademis tapi harusnya filsafat juga disediakan dalam bahasa alami. Bahasa filsafat juga jauh dari kehidupan sehari-hari, karena itu disebut rumit dan kompleks.

Antar filsuf juga tidak ada konsistensi bahasa, terkadang kata A memiliki makna A lalu oleh filsuf lain memiliki makna B. Hal ini bermasalah karena artinya kita akan sulit untuk menerjemahkan konsep berbagai filsuf ke dalam suatu bahasa yang sama. Andaikan setiap filsuf sudah menyetujui bahasa yang akan digunakan, pastilah segala hal akan lebih mudah. Memang ironis bahwa filsafat menjadi kompleks, sebab filsafat berbicara tentang hal-hal yang mendasar dan sederhana, bukan hal-hal yang kompleks!

Ketiadaan konsistensi bahasa mengarah pada dan disebabkan oleh ketiadaan konsensus dalam filsafat. Konsensus artinya persetujuan dalam akademik filsafat, entah itu masalah teori atau masalah teknis seperti terminologi yang digunakan, metode penelitian, dan seterusnya. Ini ditandai dengan tiadanya suatu asosiasi internasional filsafat ataupun suatu persatuan filsuf atau hal sejenisnya untuk memutuskan perkara-perkara filsafat.

Kemajuan menjadi sulit karena hanya ada pertambahan ide tapi tidak pernah ada penyatuan ide-ide tersebut. Dapat dikatakan medan filsafat hanya menjadi perdebatan abadi antara satu kubu dengan kubu lainnya. Bagaimana mungkin terjadi kemajuan dalam filsafat, dalam arti adanya suatu fakta filosofis yang baru? Bagaimana mungkin filsafat dapat mengalami kemajuan dalam dampaknya pada dunia? Tugas filsafat masih belum selesai, karena tidak ada akhir dalam tugas filsafat, filsafat ialah abadi.

Ketiadaan konsensus juga membuat filsafat tidak layak untuk memenuhi tujuan dan esensinya, yaitu menyelidiki atau mempelajari hakikat kenyataan, atau yang menjadi dasar dari segala sesuatu. Sebab artinya filsafat tidak atau belum pernah memenuhi tujuannya sedikitpun. Tidak ada fakta atau kebenaran atau hukum filsafat yang disetujui oleh para filsuf atau masyarakat. Filsafat menjadi tidak layak untuk penggambaran dunia, dan kalah dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya.

Filsafat telah tergantikan oleh aliran-aliran kebenaran lainnya yang kalau tidak lengkap, dasarnya sama sekali tidak jelas. Empirisme hanya mengandalkan panca indera, dan mengabaikan pengalaman batin atau pikiran yang sebenarnya sama pentingnya. Agama dasarnya tidak jelas karena mengandalkan pengalaman panca indera yang keabsahannya lebih diragukan daripada empirisme. Karena itu filsafat sebagai kebenaran yang rasionalis harus dibangkitkan kembali untuk melengkapi yang tidak lengkap, dan memperjelas apa yang tidak jelas.

Aku dan Filsafat

Lalu bagaimana pandanganku secara pribadi dengan filsafat? Tepatnya, mengapa aku menulis esai ini dan ingin mengikuti suatu perjalanan dalam filsafat? Untuk bagian ini aku akan bercerita sedikit tentang bagaimana aku sampai pada filsafat. Pada awalnya aku mengalami suatu kekosongan hidup dan penderitaan yang sangat. Segala hal terasa membebani dan tidak bermakna, di saat itulah aku tergerak untuk mencari kebahagiaan dan memulai dengan analisis, yaitu analisis kebahagiaan secara rasional.

Pada saat itu aku sudah masuk dalam filsafat, tapi memang belum mengenalnya sebagai filsafat. Aku hanya mengenalnya sebagai “analisis”. Hal ini berlanjut terus menerus sampai aku mengenal filsafat secara resmi dan benar-benar menyelamkan diriku dalam filsafat. Di saat itu pula aku mulai melihat keindahan dari kenyataan yang murni sebagaimana diperoleh melalui filsafat. Setelah itu aku memutuskan aku ingin hidup sepenuhnya dalam filsafat dan filsafat menjadi tujuan hidupku yang baru.

Aku lalu melihat betapa kacaunya dunia dan bagaimana ada banyak sekali masalah yang melanda. Aku melihat juga bagaimana filsafat seakan-akan sekarat dan hampir mati digantikan oleh berbagai macam ilmu lainnya, padahal di balik matanya yang hampir tertutup adalah solusi untuk segala masalah dunia dan juga untuk kebangkitan kembali filsafat. Karena itulah aku memutuskan pula untuk membawa pembaharuan filsafat.

Setelah itu aku melihat potensi filsafat yang lebih luas, yaitu untuk menata ulang sistem sosial dunia yang sudah mulai usang. Dengan itu aku bermaksud membawakan kebahagiaan bagi semua umat manusia melalui jangkauan filsafat. Sebagian dari visiku mengenai sistem sosial yang ideal, yang dipandu oleh filsafat sudah kupaparkan dalam analisisku mengenai beberapa masalah sosial di atas. Sementara itu aku juga memiliki visi mengenai ilmu filsafat yang ideal.

Menurutku, filsafat harusnya setara dengan segala ilmu lain, yaitu memiliki batasan yang jelas, memiliki konsensus, dan memiliki dampak yang jelas pada dunia. Batasan di sini artinya ada batasan yang jelas yang membedakan antara filsafat dengan ilmu lain. Sebenarnya sudah ada batasannya, hanya saja masih kurang jelas, yaitu filsafat mempelajari hal-hal yang paling mendasar dari kenyataan. Sayangnya dengan hegemoni empirisme, fisika dapat merebut gelar itu jika filsafat tidak segera dibangkitkan.

Konsensus artinya seperti ilmu lain, ada persetujuan mengenai beberapa prinsip dasar filsafat. Lebih baik lagi adalah adanya pengakuan akan suatu fakta filsafat, sehingga dapat dikategorikan mana yang termasuk fakta filsafat dan mana yang merupakan pseudo filsafat, layaknya pembedaan antara ilmiah dan pseudo ilmiah. Ini juga membutuhkan suatu metodologi filsafat yang disetujui oleh para filsuf yang menjadi bagian dari konsensus tersebut.

Dengan itu, filsafat dapat memiliki dampak bagi dunia, dampak ini terutama dampak sosial dan juga pada tatanan ilmu pengetahuan itu sendiri. Filsafat berguna untuk memperbaiki dasar-dasar suatu hal, maka harapannya dampak yang riil dari filsafat adalah dalam menyatukan semua ilmu pengetahuan dalam terang kebenaran. Filsafat juga harus menjadi penyatu masyarakat dalam terang yang sama, supaya semua orang disatukan dalam satu harapan yaitu harapan akan kebahagiaan yang sejati.

Rencana Umum

Untuk mencapai tujuanku itu maka harus ada rencana yang jelas. Untuk sekarang rencanaku adalah untuk menulis esai-esai filsafat dan setelah lengkap barulah eksekusinya kumulai. Esai perkenalan ini menjadi esai pertama untuk rangkaian esai filsafat yang akan kutulis. Berikutnya aku akan menetapkan tujuan akhir dari segala perjalanan filsafat ini, bukan untukku saja melainkan untuk keseluruhan filsafat itu sendiri dan keseluruhan umat manusia.

Setelah itu aku akan menjelaskan maksudku untuk membangun sistem filsafat yang baru dan mengapa harus ada sistem filsafat yang baru. Penjelasan itu berlanjut dengan kritikan pada segala aliran kebenaran atau sistem yang berlaku saat ini yang aku nilai telah gagal dalam mengantarkan manusia pada tujuan akhirnya. Dalam rencana awalku aku akan mengkritik kapitalisme, liberalisme, toleransi, empirisme, nasionalisme, dan Gereja Katolik. Namun bisa saja daftar ini bertambah sesuai dengan kebutuhan.

Jika semua kritikan telah selesai, barulah aku akan memulai dengan sistem filsafat yang baru. Sistem ini yang akan paling banyak isinya karena memang menjadi tubuh dari keseluruhan sistem filsafat ini. Merujuk pada esai pertamaku, jika semua esai telah diselesaikan mungkin dapat digabungkan semuanya menjadi suatu buku yang besar (Prasetyo, 2019). Harapan berikutnya adalah suatu sistem sosial berbasis filsafat dapat dirancang dan akhirnya diwujudkan demi kebahagiaan semua umat manusia.

Penutup

Ada 3 poin utama dari esai ini yang dapat kita sama-sama ambil. Pertama, filsafat sangatlah tua, filsafat Timur sudah berumur 4000 tahun yang lalu dan filsafat Barat sudah 2600 tahun yang lalu, melampaui banyak agama dan pemikiran lainnya. Kedua, filsafat sangat mendasar, karena mempelajari hal-hal yang paling mendasar dari kenyataan. Konsekuensinya filsafat juga mendasari segala ilmu yang ada, dan mengikat terhadap segala objek ilmu yang ada.

Ketiga, filsafat penting bagi kita dan kebahagiaan kita. Sebab filsafat mempelajari dasar-dasar, maka filsafat mempelajari pula dasar dari segala masalah dan keinginan kita akan kebahagiaan. Dengan filsafat kita akan mengetahui akar masalah kita dan dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan lebih baik. Keempat, berdasarkan segala hal yang telah kutuliskan, filsafat harus kembali dan dibangkitkan demi kebahagiaan umat manusia.

Rencana berikutku adalah menuliskan esai tentang tujuan filsafat. Tujuan filsafat ini bukan tujuan filsafat sebagai ilmu, melainkan tujuannya secara absolut dalam relasi dengan kehendak umat manusia. Secara singkat, memang tujuannya adalah kebahagiaan, tapi dalam esai tersebut aku akan memperjelas apa hubungan antara filsafat dengan kebahagiaan. Namun itu untuk nanti, untuk sekarang selesailah sudah. Aku harap esai ini berguna bagi kita semua, Tuhan memberkati.

Daftar Pustaka

Amadio, A. H., & Kenny, A. J. (2020, Februari 6). Aristotle. Dipetik Maret 15, 2020, dari ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA: https://www.britannica.com/biography/Aristotle

Aquinas, T. (1485). Summa Theologiae.
Britannica. (2018, Desember 14). Philosophy. Retrieved Maret 16, 2020, from ENCYLOPAEDIA BRITANNICA: https://www.britannica.com/topic/philosophy

Doniger, W. (t.thn.). Veda. Dipetik Maret 14, 2020, dari ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA: https://www.britannica.com/topic/Veda

KBBI. (2016). filsafat. Retrieved Maret 14, 2020, from KBBI Daring: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/filsafat

Lambert, A. (2017, Mei 5). Science is an act of worship. Dipetik Maret 15, 2020, dari Denver Catholic: https://denvercatholic.org/science-act-worship/

Mastin, L. (2009, Januari). Chinese Philosophy. Dipetik Maret 14, 2020, dari Philosophy Basics: https://www.philosophybasics.com/general_eastern_chinese.html

Mastin, L. (2009, Januari). Eastern Philosophy. Retrieved Maret 14, 2020, from Philosophy Basics: https://www.philosophybasics.com/general_eastern.html

Mastin, L. (2009, Januari). Thales of Miletus. Dipetik Maret 14, 2020, dari Philosophy Basics: https://www.philosophybasics.com/philosophers_thales.html

Mastin, L. (2009, Januari). What is Philosophy. Dipetik Maret 14, 2020, dari Philosophy Basics: https://www.philosophybasics.com/general_whatis.html

Mohanty, J. N. (2019, Juni 11). Indian Philosphy. Retrieved Maret 14, 2020, from ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA: https://www.britannica.com/topic/Indian-philosophy

Prasetyo, I. C. (2019, December 15). Esai. Retrieved December 31, 2019, from Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2019/12/esai.html

Russell, B. (1946). History of Western Philosophy. London: George Allen & Unwin Ltd.





1 comment: