Pendahuluan
Sejak
dahulu kala manusia selalu tertarik untuk mencari kebenaran. Upaya pencarian
kebenaran ini telah berlangsung sejak dulu kala dan muncul dalam berbagai
wujud. Sekarang kita mengenal ilmu pengetahuan sebagai sumber kebenaran yang
utama, tapi sebelumnya agama menjadi salah sumber yang dominan pula. Namun di
samping semua itu ada satu upaya yang paling berpengaruh dan membekas pada
kedua upaya tersebut, yaitu filsafat.
Pada
masanya filsafat pernah mengalami kejayaan yang besar, di mana filsafat
dianggap sebagai kenikmatan para dewa-dewi. Sampai abad ke-15 pada masa
Renaisans dan juga beberapa abad berikutnya filsafat masih memegang peranan
penting di masyarakat. Namun pada suatu ketika filsafat jatuh dan menyingkir
menjadi suatu ilmu kabur yang tak jelas dampaknya dan tak jelas pula objeknya. Ini
adalah bencana bagi kebenaran.
Demi
kebenaran dan demi kita umat manusia, filsafat harus dibangkitkan kembali.
Sebab segala upaya pencarian kebenaran yang kita miliki sekarang berasal dari
filsafat. Menolak filsafat sama saja dengan seorang anak yang menolak
orangtuanya, suatu kedurhakaan. Tanpa filsafat, ilmu pengetahuan dan agama sama
sekali tidak lengkap dan bahkan dapat menyesatkan. Karena itu aku hadir untuk
memberikan sumbangsihku untuk membangkitkan filsafat.
Selain
itu, secara personal ini sudah merupakan rencana dalam sistem esaiku, bagi
pembaca yang mengikuti dan mengingat pastinya telah menduga akan kehadiran esai
ini. Sesuai yang tertulis pada esai pertama, “Dalam sistem esaiku, esai filsafat akan menjadi kategori esai
yang paling utama....” (Prasetyo, 2019) . Maka inilah
pemenuhan rencanaku tersebut, dan esai ini akan menjadi yang pertama dari
segala esai filsafat lainnya.
Berdasarkan
kenyataan bahwa filsafat sudah menjadi hal yang mulai pudar dari pikiran
masyarakat dan para pimpinannya, aku menilai sekarang adalah waktu yang tepat
untuk mulai membangun kembali ilmu filsafat ke kejayaannya. Apalagi melihat
bahwa sekarang ada berbagai macam masalah yang menimpa dunia kita dan
sepertinya ilmu pengetahuan dan agama atau sistem-sistem lainnya belum berhasil
atau justru menjadi penyebab dari kekacauan ini. Maka dengan esai ini aku
bermaksud memperkenalkan kembali filsafat pada masyarakat, yang mencakup makna,
masalah, dan relasiku dengan filsafat.
Definisi
Kata
dalam bahasa Inggris untuk filsafat, yaitu philosophy
memiliki etimologi dari bahasa Yunani yaitu philosophia.
Kata itu secara harafiah artinya “cinta akan kebijaksanaan”, philo artinya cinta dan sophia artinya kebijaksanaan (Britannica,
2018) .
Pantas saja etimologinya karena filsafat barat memang berasal dari Yunani kuno.
Maka seorang filsuf atau yang berfilsafat adalah seseorang yang mencintai
kebijaksanaan.
Menurut
KBBI, filsafat memiliki beberapa definisi tapi satu definisi pertama adalah, “pengetahuan
dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab,
asal, dan hukumnya.” (KBBI, 2016) . Menurut Oxford Dictionary of Philosophy,
filsafat adalah, “ilmu tentang sifat-sifat paling umum dan abstrak dari dunia
yang kita gunakan untuk berpikir seperti: pikiran, materi, penalaran, bukti,
kebenaran, dan lain-lain.” (Mastin, What is
Philosophy, 2009) .
Berdasarkan
kedua definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa filsafat adalah suatu ilmu
yang mempelajari hal-hal paling mendasar tentang kenyataan. Dapat dikatakan
pula bahwa objek dari filsafat adalah yang mengikat segala hal dalam kenyataan,
dan melampaui perbedaan antara jasmani dan rohani, riil dan imajiner. Dengan
itu filsafat mencari kebenaran, yaitu penggambaran yang paling sesuai dengan
kenyataan. Upaya seperti ini sebenarnya sudah sangat tua, bahkan sampai ribuan
tahun yang lalu.
Sejarah
Aliran
filsafat di dunia ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu filsafat barat, filsafat
timur, dan filsafat Afrika. Namun kalau diurutkan dalam segi dampak, filsafat
barat paling berdampak, diikuti filsafat timur, dan diakhiri filsafat Afrika
yang lebih kepada kebudayaan lokal mereka (Mastin, What is
Philosophy, 2009) . Sejarah kedua aliran filsafat utama yaitu
filsafat barat dan filsafat timur memang mencapai ribuan tahun yang lalu.
Sejarah
awal filsafat barat didominasi oleh filsafat Yunani kuno dan sedikit oleh
Romawi kuno. Aliran ini diyakini dimulai dengan filsuf bernama Thales dari
Miletus yang hidup dari tahun 624 sampai 546 SM (Mastin, Thales of
Miletus, 2009) .
Sementara itu filsafat timur lebih beragam dengan cabang filsafat Jepang,
Korea, Persia, Arab, Babilonia, Cina, dan India (Mastin, Eastern
Philosophy, 2009) .
Di antara semua aliran tersebut filsafat Cina dan filsafat India mengambil
posisi utama.
Tercatat
bahwa filsafat Cina sudah muncul sejak masa dinasti Shang yang berkuasa dari
tahun 1600 sampai 1046 SM. Saat itu pemikiran mereka berputar pada konsep
siklus (Mastin, Chinese
Philosophy, 2009) .
Filsafat India dikenal lebih tua lagi bahkan mencapai 2000 tahun sebelum masehi
(Mohanty, 2019) . Namun filsafat
India tertulis pertama banyak diperoleh dari kitab Veda yang kisarannya sekitar
1500 sampai 1200 tahun sebelum masehi (Doniger) .
Apa
yang dapat kita simpulkan dari data di atas? Kesimpulannya adalah filsafat
adalah upaya yang sangat tua dan kalau mengikuti filsafat India, berarti sudah
berumur 4000 tahun. Agama terbesar yaitu Gereja Katolik baru berumur sekitar
2000 tahun, artinya filsafat sudah 2 kali lebih tua dari Gereja. Karena itu
selama 4000 tahun pastilah banyak perkembangan dalam filsafat, sehingga
filsafat bukan hanya sekadar ilmu, melainkan lebih dari itu.
Makna Filsafat
Secara
definitif memang filsafat adalah suatu ilmu, tapi dalam pandanganku filsafat
dapat kita kategorikan sebagai 4 hal berbeda. Filsafat adalah ilmu, tapi juga
perspektif, gaya hidup, dan bahkan suatu spiritualitas. Setiap makna tersebut memiliki
peranan yang berbeda tapi dapat kita satukan menjadi suatu satu kesatuan.
Sebagai ilmu, filsafat dapat dibagi lagi menjadi ilmu secara profesional dan
ilmu secara teoritis.
Sebagai
ilmu profesional, filsafat bersifat akademis yaitu terkait dengan institusi
akademis seperti universitas. Akademis di sini lebih mengarah pada teori
daripada pendidikan, jadi institusi yang berkutat pada hal-hal teoritis atau
penelitian. Filsafat menjadi suatu subjek pembelajaran dan penelitian di
universitas dan juga sebagai profesi. Seorang yang berprofesi dalam bidang
filsafat disebut filsuf.
Sebagai
ilmu teoritis, filsafat adalah ilmu yang mempelajari hakikat-hakikat kenyataan.
Ini mencakup ruang, waktu, kesadaran, keberadaan, kebenaran, kebaikan, dan
sebagainya. Filsafat bersifat rasionalis, artinya mengandalkan penalaran saja
tanpa penginderaan. Karena filsafat mempelajari hakikat kenyataan, maka
filsafat menjadi dasar dari segala ilmu lain.
Kedua
pandangan itu dapat kita satukan menjadi satu, yaitu filsafat adalah ilmu
tentang hakikat kenyataan yang diinstitusionalkan dalam institusi akademis,
biasanya universitas. Filsuf-filsuf yang terkait dengan universitas adalah
orang-orang yang mempelajari hakikat kenyataan secara profesional. Dalam
universitas, hakikat kenyataan menjadi subjek penelitian dan juga subjek
pembelajaran secara serius, formal, dan profesional.
Berikutnya
perspektif filsafat adalah perspektif yang digunakan dalam berfilsafat, atau
perspektif hidup yang memiliki unsur filsafat. Filsafat memiliki esensi dasar
dari segala dasar, maka perspektif filsafat fokus pada hal-hal mendasar dan
sederhana. Perspektif ini dibagi menjadi perspektif analitik dan perspektif
fundamental. Analitik artinya menyederhanakan segala sesuatu menjadi yang lebih
mendasar. Fundamental artinya memandang segala sesuatu sebagai dalam bentuk
hal-hal yang mendasar.
Contohnya
adalah dalam menganalisis suatu kejadian kriminal, dengan perspektif analitik
kita menganalisis bahwa kriminalitas terjadi karena pelaku memiliki standar
kebaikan yang berbeda dari masyarakat dan hukum. Dengan perspektif fundamental
kita menerapkan hasil analisis tersebut selalu, bahwa kita menyadari setiap
kali ada kejahatan, itu adalah hasil perbedaan standar nilai.
Tujuan
dari perspektif ini adalah untuk menyesuaikan tindakan kita dengan hal-hal
mendasar tersebut, dengan itu kita dapat menyelesaikan masalah dengan lebih
baik. Logikanya seperti ini, masalah yang kompleks saat kita sederhanakan akan
mengungkap akarnya. Jika akar ini yang diselesaikan, sisanya akan menjadi baik
pula. Memakai contoh sebelumnya, maka solusinya adalah mencari cara supaya
mengubah standar kebaikan yang berbeda itu supaya sama kembali dengan
masyarakat dan hukum.
Perspektif
filsafat menjadi bagian dari gaya hidup filsafat, walau lebih tepatnya bukan
sekadar gaya hidup melainkan hidup
filsafat. Gaya hidup filsafat artinya kita hidup berorientasi pada
kebenaran dan hidup demi kebenaran. Kebenaran menjadi tujuan hidup dan kita
senantiasa berjuang deminya. Karena itu ada suatu rasa ingin tahu yang besar
dalam gaya hidup filsafat, karena kita ingin mengetahui kebenaran seutuhnya dan
ini tidak berhenti.
Kita
juga memiliki sikap skeptis, yaitu tidak mudah percaya akan apapun. Hal ini
mungkin aneh karena kalau kita mengejar kebenaran kita harusnya mampu percaya,
tapi justru skeptisisme diarahkan pada kebenaran. Kita bersikap skeptis supaya
kebenaran yang kita yakini sungguh merupakan kebenaran dan bukan suatu
kepalsuan yang kita kira adalah kebenaran. Dengan itu suatu kutipan dari
Bertrand Russell dapat mengarahkan kita, “Untuk hidup tanpa keyakinan tapi
tanpa dilumpuhkan oleh keraguan adalah hal utama yang dapat diajarkan filsafat
bagi mereka yang mempelajarinya pada masa ini.” (Russell, 1946) .
Tentu
saja dengan memegang gaya hidup filsafat kita juga berperspektif filsafat, dan
ini menjadi perspektif abadi hidup kita. Segala yang kompleks kita pecah
menjadi kebenaran-kebenaran yang mendasar, dan kebenaran-kebenaran yang
mendasar inilah yang kita ubah dan sesuaikan demi tujuan kita. Segala hal
disederhanakan dan segala hal dipandang sebagai yang sederhana saja. Tambahannya
adalah perspektif filsafat diarahkan demi filsafat atau kebenaran itu sendiri.
Terakhir,
makna yang mungkin sedikit aneh adalah filsafat sebagai suatu spiritualitas. Bagi
orang beriman termasuk aku, Allah adalah kebenaran yang sejati. Di lain pihak
filsafat adalah pencarian kebenaran, maka pada saat yang sama dengan
berfilsafat aku mencari Allah. Dengan berfilsafat kita lebih memahami kebenaran
dan dengan itu kita lebih memahami Allah. Ini dapat kita bawa lebih jauh lagi
bahwa filsafat bukan hanya spiritualitas tapi juga devosi kepada Allah.
Ini
dapat dibandingkan dengan ilmu pengetahuan sebagai devosi kepada Allah. Menurut
pengakuan Guy Consolmagno selaku bruder Yesuit dan juga direktur observatorium
Vatikan, ilmu pengetahuan mirip permainan antara orangtua dengan anaknya. Allah
memberikan teka-teki pada kita manusia, dan kita memecahkan teka-teki itu. Maka
menurut Consolmagno, harus ada iman dan kegembiraan pula dalam ilmu
pengetahuan, kalau tidak maka tidak akan berhasil (Lambert, 2017) .
Jika
seperti itu, maka filsafat lebih intim lagi karena adalah teka-teki untuk
mengenal Allah sendiri. Bahkan filsafat lebih mendekatkan kepada Allah daripada
Kitab Suci karena pada dasarnya Kitab Suci adalah perantara, tapi dengan
filsafat kita mengintip langsung jati diri Allah. Hal ini memang sulit dan
membutuhkan waktu tapi bukan mustahil. Sebab
kita memiliki kesadaran kita, sehingga pastilah selalu ada suatu kebenaran
tentang Allah yang dapat kita ketahui jika tidak semua.
Dengan
itu kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat bukan sekadar ilmu. Bahkan filsafat
menjadi suatu hal yang suci dan ilahi jika dipandang dari sudut pandang
tertentu. Sebagai kesatuan, filsafat dimulai dengan orientasi pada kebenaran.
Orientasi yang kuat ini menjadi suatu ilmu yang formal, yaitu untuk mempelajari
kebenaran yang paling tinggi yang mengikat segala hal. Adapula kebenaran
tertinggi ini ialah Allah sendiri maka filsafat menjadi suci. Berikutnya kita
hidup senantiasa dengan perspektif kebenaran.
Miskonsepsi
Sekalipun
filsafat memiliki makna indah seperti itu, masih banyak orang yang salah paham
atau kurang memahami apa itu filsafat. Sehingga timbul miskonsepsi atau
kesalahpahaman tentang filsafat yang seringkali merusak citra filsafat. Ada 4
miskonsepsi utama yang akan kubahas, yaitu filsafat jauh dari masyarakat,
filsafat sulit dipahami, filsafat tidak penting, dan filsafat berbahaya.
Pertama,
ada anggapan bahwa filsafat jauh dari masyarakat. Lebih tepatnya filsafat
dianggap tidak relevan dalam masyarakat kini dan tidak memiliki prospek
kesuksesan. Kesuksesan di sini maksudnya kesuksesan dalam hidup yang seringkali
dipandang sebagai kesuksesan finansial. Relevansi di sini maksudnya relevan
dalam perkembangan masyarakat dan masalah-masalah sosial.
Bantahanku
adalah justru filsafat sangat relevan dan dapat sangat membantu dalam mencapai
kesuksesan finansial. Pertama, banyak analisis sosial berakar dari filsafat dan
tentu saja karena segala ilmu berasal dari filsafat, maka filsafat tetap
penting bagi masyarakat dan pembelajarannya. Lalu banyak sekali masalah sosial
yang sebenarnya adalah masalah filsafat dan tidak dapat diselesaikan dengan
sekadar ilmu empiris.
Masalah
yang kumaksud adalah masalah-masalah etika dan keadilan, kedua topik ini
jelaslah adalah masalah filsafat. Ya memang sekarang sudah ada
konsepsi-konsepsi etika dan keadilan, tapi dari manakah asal mereka? Tentu saja
filsafat, hanya filsafat yang dapat membuat pernyataan tentang etika. Ilmu
pengetahuan sifatnya hanya deskriptif, tapi bebas nilai dan tidak evaluatif
dalam arti menilai moralitas.
Untuk
prospek kesuksesan, kita kembali pada perspektif filsafat. Dengan memandang
segala hal dalam rupa paling sederhananya kita dapat mengidentifikasi mana yang
paling berguna untuk tujuan kita. Ini termasuk dalam bisnis, kita dapat
menganalisis apa yang paling dibutuhkan untuk mencapai untung, apakah aset
harus dijual, menambah pemasaran, atau hal lain yang harus diubah. Dengan itu
kemungkinan kesuksesan justru bertambah jauh.
Miskonsepsi
kedua adalah filsafat sulit dipahami. Pahamnya adalah filsafat memiliki bahasa
yang rumit dan konsep yang rumit. Bahasanya menggunakan kosa kata yang aneh dan
barangkali alien, serta konsepnya juga berbelit-belit dan tidak ada dasar dalam
kenyataan. Bantahanku adalah menurut kondisi sekarang, aku mengakui kebenaran
dari pemikiran seperti itu karena aku juga menilai bahwa filsafat sekarang dan
dulu terlalu berbelit-belit.
Akan
tetapi tidak seharusnya filsafat seperti itu. Bahasa dalam filsafat dapat
disamakan antara berbagai filsuf, disederhanakan menjadi bahasa yang lebih
dapat dipahami. Dengan penyederhanaan bahasa, maka konsep juga dapat
disederhanakan karena jelas atau tidaknya suatu konsep sebenarnya bergantung
pada bahasa yang digunakan. Kembali pula pada makna filsafat, bukankah itu hal
yang dapat dipahami dengan mudah?
Justru
hal-hal sederhana seperti menganalisis, mencari tahu kebenaran, dan menyadari
saja sudah merupakan bagian dari filsafat. Hanya saja banyak filsuf
menjelaskannya dalam cara-cara yang tidak sederhana demi suatu formalitas
akademis. Akan tetapi tidak harus seperti itu, kita dapat menjelaskan filsafat
sesederhana hal-hal yang memang menjadi bagian dari filsafat, hal-hal yang kita
lakukan sehari-hari.
Miskonsepsi
ketiga adalah filsafat tidak penting. Pahamnya adalah filsafat sama sekali
tidak memiliki kegunaan dan tidak relevan dengan masalah-masalah kini atau
dengan kehidupan secara umum. Ini adalah miskonsepsi yang mirip dengan kejauhan
dari masyarakat, bedanya adalah ini lebih umum, maka lebih mudah lagi untuk
dibantah dan dipatahkan.
Bantahanku
kembali menggunakan perspektif filsafat. Perspektif filsafat sangat ampuh dalam
menyelesaikan berbagai masalah, atau tepatnya untuk segala masalah kompleks.
Setidaknya perspektif filsafat akan memberitahu apa yang harus diselesaikan,
dan penyelesaiannya akan menggunakan bantuan ilmu lain. Sementara itu banyak
sekali masalah kini yang memiliki akar-akar filosofis.
Kegunaan
lain filsafat juga masih ada dan akan kujelaskan di bagian berikutnya. Melihat
kondisi dunia sekarang juga ada kebutuhan akan rekonstruksi ulang ilmu
pengetahuan. Filsafat pastinya sangat dibutuhkan untuk merekonstruksi ulang
seperti itu. Alasan mengapa ilmu pengetahuan harus direkonstruksi ulang akan
dipaparkan dalam esai
tersendirinya.
Hal
yang pasti, kesimpulan bahwa filsafat itu tidak penting mengambil jalur yang
kontradiktif. Sebab pastinya terjadi suatu proses penalaran dan perbandingan
antara kebaikan filsafat dengan kebaikan lainnya. Itu sendiri sudah merupakan
bagian dari proses berfilsafat. Jadi kita harus menggunakan filsafat untuk
menyatakan bahwa filsafat tidak penting. Ini menunjukkan betapa pentingnya dan
mengikatnya filsafat pada hidup kita.
Miskonsepsi
terakhir adalah filsafat berbahaya. Pahamnya adalah filsafat dapat mengarah
pada ateisme, relativisme, dan kegilaan. Sebab filsafat membuat kita terlalu
bergantung pada akal budi kita sehingga tertutup dari iman. Filsafat juga
merelatifkan segala hal dan karena mempertanyakan segala sesuatu dapat membuat
kita menjadi gila. Relativisme terjadi karena pemahaman bahwa setiap orang
memiliki kebenarannya sendiri.
Bantahanku
adalah sebenarnya ini tergantung kesiapan mental setiap orang juga. Memang
benar bahwa filsafat yang mendalam tidak untuk semua orang sekalipun penting. Mereka
yang masih terlalu melekat jika kelekatannya diputuskan secara paksa, dapat
mengarah pada guncangan mental yang cukup hebat. Lalu justru filsafat sifatnya
absolut karena mencari kebenaran absolut tentang kenyataan.
Pada
tahap awal, saat filsafat baru digunakan untuk mengkritik segala standar
kebenaran yang ada memang terkesan segala hal relatif. Namun saat dibangun
kembali sistemnya, tampaklah bahwa segala relativisme itu akan pelan-pelan
pudar digantikan absolutisme. Mengenai ateisme, argumen ini dipakai oleh mereka
yang menggantungkan iman mereka pada sumber-sumber fana seperti Tradisi Suci
dan Kitab Suci.
Padahal
pujangga Gereja hebat seperti Thomas Aquinas pun membuktikan keberadaan Tuhan
dengan filsafat dan bukan dengan pewahyuan. Secara spesifik dengan 5 argumen
yang dia paparkan dalam Summa Theologiae
(Aquinas, 1485) . Filsuf sekuler
seperti Aristoteles juga mengungkapkan melalui filsafat keberadaan Ilahi dengan
argumen “penggerak yang tak digerakkan” atau unmoved mover (Amadio & Kenny,
2020) .
Kembali
lagi dengan spiritualitas, kalau Allah didefinisikan sebagai kebenaran sejati,
justru filsafat adalah tindakan devosi dan penyembahan paling intim karena kita
berupaya untuk mengenal Allah secara langsung tanpa perantara institusional. Ateisme
dalam konteks ini artinya pengingkaran kebenaran sejati dan filsafat justru
menjadi benteng terkuat melawan ateisme. Tentu saja ateisme memiliki definisi
yang lebih spesifik, tapi untuk tujuan argumen ini demikianlah.
Kegunaan
Salah
satu miskonsepsi tentang filsafat adalah filsafat tidak berguna, ini tentu
salah dan filsafat memiliki kegunaan yang penting. Kegunaannya sangat banyak,
tapi aku akan mengulas 4 kegunaan yang paling abstrak dari filsafat, yaitu
pemikiran, kebahagiaan, kenikmatan, dan ketuhanan. Pemikiran artinya untuk
memperjelas pemikiran, kebahagiaan dan kenikmatan untuk mencapai keduanya,
ketuhanan juga untuk mencapainya.
Sebagai
suatu perspektif, filsafat akan melatih pemikiran kita supaya menjadi lebih
jelas. Kejelasannya terletak pada alur pemikiran kita sehingga hubungan antara
satu ide dengan ide lainnya jelas. Dengan itu logika kita juga lebih terlatih,
dan ini akan mengarahkan kita untuk lebih mampu melihat jalan yang tepat menuju
tujuan kita. Sampai akhirnya kita dapat lebih mampu mencapai kesuksesan dari
sisi kita.
Filsafat
juga berguna untuk mencapai kebahagiaan. Tentu banyak orang berkata bahwa “cara
bahagia dengan melakukan A”, tapi tahukah Anda bahwa sumber pernyataan tersebut
tetaplah filsafat? Sebab kebahagiaan adalah suatu objek dalam kenyataan seperti
mobil atau matahari. Sebagai objek yang ada, kebahagiaan dapat dikaji dengan
filsafat supaya kita dapat mengetahui kebenaran dan kenyataan tentang
kebahagiaan.
Saat
kita mengetahui kebenaran dan kenyataan tentang kebahagiaan, kita dapat
menyesuaikan jalan kita dengan kebenaran dan kenyataan tersebut sehingga kita
dapat mencapai kebahagiaan. Selain itu, filsafat sendiri dapat menjadi sumber
kenikmatan itu sendiri. Mengapa seperti itu? Tidak ada alasan selain kita dapat
memilihnya seperti itu. Karena terkadang bukan kebahagiaan yang datang pada
kita, melainkan kita juga dapat memilih kebahagiaan.
Kegunaan
terakhir adalah untuk mencapai Tuhan, ini sudah diulang beberapa kali dan
kembali lagi dengan spiritualitas. Allah adalah kebenaran dan filsafat mencari
kebenaran, maka filsafat mencari Allah. Setidaknya jika filsafat dilakukan
dengan benar maka kita dapat mencapai Allah. Filsafat kontemporer sayangnya
malah seakan-akan menjauhkan dari Tuhan, bahkan secara eksplisit mengingkari
Tuhan, suatu ironi.
Masalah di Hadapan Filsafat
Seperti
yang telah dituliskan, salah satu kegunaan filsafat adalah dalam memperjelas
pemikiran, ini berkaitan dengan perspektif filsafat untuk menganalisis dan
menyelesaikan masalah. Karena itu bagaimana kalau kita melihat penerapan
perspektif filsafat untuk beberapa masalah yang sedang melanda dunia? Untuk
bagian ini aku akan menganalisis ketidakadilan, krisis iklim, pertanyaan iman,
terorisme, dan kapitalisme.
Apakah
itu ketidakadilan? Ketidakadilan hanya dapat dipahami dengan mengenal makna
keadilan. Keadilan dapat dipandang sebagai kesetaraan di mana semua orang
menerima hal-hal secara setara. Kesetaraan ini tidak harus secara kuantitas,
bisa pula kesetaraan derajat, yang artinya semua orang layak diperlakukan
secara setara. Adapula kesetaraan hak, artinya semua orang layak menerima hak
mereka secara setara, atau mungkin kebutuhan mereka. Dalam konteks moral,
artinya semua orang menerima kebaikan secara kurang lebih setara atau sesuai
kebutuhan masing-masing.
Maka
ketidakadilan adalah kondisi manapun di mana keadilan dilanggar, termasuk
contoh paling konkretnya adalah diskriminasi dan supremasi. Diskriminasi adalah
kondisi di mana suatu kelompok orang diperlakukan lebih rendah dari yang
lainnya karena identitas mereka. Supremasi adalah pandangan satu kelompok orang
bahwa mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang lain. Diskriminasi dan
supremasi selalu bersamaan, karena menganggap orang lain lebih rendah sama
dengan menganggap diri kita lebih tinggi dari mereka.
Pertanyaan
berikutnya adalah mengapa ketidakadilan menjadi masalah? Ini sama dengan
bertanya, “Mengapa kita membutuhkan keadilan?” Sebenarnya kalau kita
merenungkannya tidak ada obligasi secara metafisik yang eksplisit untuk
menegakkan keadilan. Akan tetapi untuk saat ini ada 2 alasan yang dapat kita
pertimbangkan. Dengan adanya keadilan maka akan ada kedamaian atau ketiadaan
konflik. Saat semua orang saling berdamai, kemungkinan bertahan hidup atau
kebahagiaan untuk semua orang bertambah. Lalu saat keadilan ditegakkan, semua
orang memiliki kesempatan yang sama dan artinya potensi seluruh umat manusia
dapat disalurkan bukan hanya potensi satu dua kelompok saja.
Setelah
mengakui bahwa ketidakadilan adalah masalah kita harus mengidentifikasi
sebab-sebabnya dan juga cara menanganinya. Jawaban paling sederhana adalah
sistem sosial yang bermasalah. Sistem sosial di sini akan berarti segenap pola
interaksi dalam masyarakat sebagaimana diarahkan oleh nilai-norma yang berlaku
dalam masyarakat baik secara resmi oleh negara atau secara tidak resmi oleh
kebudayaan lokal masyarakat.
Saat
ada ketidakadilan, artinya ada ketimpangan nilai dalam sistem sosial tersebut,
di mana mungkin keadilan dikatakan sebagai suatu nilai utama tapi dalam
kebudayaan lokal belum terwujud sepenuhnya. Maka solusinya adalah untuk
menciptakan sistem sosial yang dapat menyatukan seluruh masyarakatnya supaya
benar-benar berkomitmen pada keadilan. Keadilan yang melampaui keadilan hukum
semata melainkan juga keadilan sosial dan segala bentuk keadilan lainnya.
Masalah
kedua adalah krisis iklim yang sedang terjadi. Krisis ini adalah ancaman bagi
kelangsungan hidup manusia dan juga segenap makhluk hidup. Namun pastinya fokus
penyelamatannya lebih kepada manusia daripada makhluk hidup yang lain. Perubahan
iklim yang drastis belakangan ini berpotensi merusak keseimbangan ekologis di
seluruh dunia, dan bisa saja makhluk hidup sama sekali tidak siap untuk
perubahan secepat itu.
Kita
mengetahui dengan jelas bahwa sebab dari masalah ini adalah kita, manusia, tapi
secara spesifik disebabkan oleh kapitalisme. Mengapa seperti itu? Sebab tujuan
utama pelaku ekonomi dalam kerangka ekonomi kapitalisme adalah memperoleh
kekuasaan yang semakin besar dalam rupa untung dan pertambahan modal atau
kapital. Seharusnya menjaga keseimbangan lingkungan menjadi bagian dari tujuan
itu karena kita harus tetap hidup kalau ingin menikmati kekuasaan itu.
Sayangnya, konsep hidup sudah lama dilupakan dalam kapitalisme.
Konsekuensinya
adalah perusahaan-perusahaan akan beroperasi terus demi untung dan mengabaikan
segala hal lain, termasuk ancaman terbesar bagi kehidupan mereka yaitu krisis
iklim yang membayangi mereka. Suatu solusi ekonomis adalah mengubah sistem
ekonominya supaya lebih terintegrasikan dengan sistem sosial yang lebih peduli
terhadap kelangsungan hidup manusia dalam rupa keseimbangan lingkungan.
Dalam
analisis sistem sosial, harus ada perubahan nilai baik dari nilai-nilai liberal
dan individualis menjadi nilai yang mendukung keseimbangan lingkungan dan
kelangsungan hidup manusia secara umum. Sekali lagi seluruh elemen masyarakat
harus tersatukan dalam menangani masalah ini. Misalnya pemerintah dan institusi
akademis bersama merancang rencana ilmiah untuk memulihkan lingkungan dan
perusahaan menjadi eksekutor dari rencana tersebut.
Sebab
seperti yang telah kita lihat sebelumnya masalah utama dari sistem sosial yang
berlaku adalah adanya konflik kepentingan dan ketimpangan nilai. Masyarakat
terpecah dalam menanggapi krisis iklim ini, ada yang berupaya menyelesaikannya
tapi ada juga yang tetap buta dan lebih memilih melanjutkan tindakan yang
merugikan lingkungan. Perpecahan ini harus dibereskan dahulu atau masalah tidak
akan pernah selesai.
Masalah
ketiga adalah pertanyaan iman. Dewasa ini ateisme dogmatis dan ateisme praktis
mulai meningkat dan iman mulai meluruh. Ini adalah masalah yang besar bagi kaum
beriman, apakah iman akan hilang sepenuhnya pada suatu saat? Namun juga menjadi
masalah bagi kaum ateis, yaitu bagaimana caranya supaya eksistensi mereka tetap
terjaga dan bagaimana caranya supaya iman dapat dihilangkan sepenuhnya.
Keberadaan
Tuhan jelas ada dalam ranah filsafat, pertanyaan tentang entitas yang mendasari
segala sesuatu adalah ranah dari ilmu yang mempelajari hal-hal yang mendasari
segala sesuatu, yaitu filsafat. Namun aku tidak akan terlalu banyak membahas
ada atau tidak adanya Tuhan, melainkan dampak ketuhanan pada kita manusia dan
apa yang dapat kita lakukan terkait Tuhan.
Dalam
esai ini aku berkali-kali menyatakan bahwa antara filsafat dan agama, lebih
dekat filsafat kepada Allah daripada agama. Sebab dalam agama ada perantara
antara manusia dan Tuhan, tapi dalam filsafat manusia berhubungan langsung
dengan khaliknya. Ini menjadi pertanyaan untuk validitas agama dalam relasi
manusia dengan Tuhan. Lalu jika Allah terbukti ada secara konklusif dan menjadi
fakta, bagaimana agama akan berlanjut keberadaannya?
Hal
yang harus kita perhatikan juga adalah dampak sosial dari keberadaan Tuhan.
Jika Tuhan tidak ada dan tepatnya, jika Tuhan terbukti tidak ada dan menjadi
fakta dalam pandangan masyarakat, apa yang akan terjadi? Tentu saja agama akan
menjadi tidak sah dan bisa terjadi reaksi negatif melawan agama. Harus ada
nilai yang menggantikan Tuhan jika sampai terjadi hal seperti itu, dan kalau
dalam pandanganku idealnya nilai ini adalah nilai kebenaran.
Namun
jika Allah ada, ini yang harus kita cermati pula. Jika keberadaan Tuhan menjadi
suatu fakta yang diterima oleh masyarakat, apa yang akan terjadi? Apakah agama
semakin kuat dan berlomba-lomba atau justru dileburkan menjadi satu? Memang
jika Tuhan didefinisikan sebagai entitas yang Mahabaik, Kebenaran Sejati, dan
Raja Semesta Alam, ada pantasnya kita mengarahkan segala masyarakat dan sistem
sosial demi Tuhan.
Dengan
itu pertanyaan teokrasi muncul kembali. Dalam pandanganku ada masalah dengan
definisi teokrasi, ada teokrasi praktis dan teokrasi teoritis. Teokrasi praktis
adalah teokrasi menurut praktik yang terjadi, yaitu negara yang diperintah
menurut ajaran agama tertentu. Namun teokrasi yang teoritis justru tidak
terikat agama, karena adalah negara yang diperintah menurut kebenaran sejati
atau Allah sendiri. Dengan itu negara yang teknokrat justru lebih dekat dengan
teokrasi ideal daripada negara teokratik yang berdasarkan agama. Sebab mereka
menggunakan ilmu pengetahuan yang kebenarannya sudah terbukti dan diterima, dan
ini jelas bagian dari Allah.
Masalah
keempat yang terkait dengan iman adalah terorisme, sebab banyak teroris yang
mengatasnamakan ajaran Allah, atau tepatnya agama. Terorisme adalah masalah
ideologis, saat sekelompok orang berupaya menegakkan ideologi mereka dengan
cara-cara kekerasan. Tentu saja pastinya kekerasan disahkan oleh ideologi
tersebut, jika tidak mereka adalah munafik dan bertentangan dengan ideologi
mereka sendiri.
Pertanyaannya
adalah apakah ideologi-ideologi tersebut terisolisir atau menjadi bagian dari suatu
jaringan ideologi atau budaya yang lebih luas? Terkadang kita takut untuk
mengakuinya karena jaringan budaya tersebut masih memegang suatu prestise atau
status sosial yang tinggi, atau dipegang pula oleh mereka yang masih
dipersekusi. Ini kembali juga pada masalah toleransi, bahwa kita harus
intoleran pada yang intoleran untuk menjaga toleransi. Pertanyaannya, siapa dan
apa yang layak disebut intoleran?
Di
saat itulah kita harus memberanikan diri untuk mengakui ideologi yang dipegang
oleh kaum teroris dan menghadapi atau mengkritik ideologi-ideologi tersebut
sebagai salah. Kesalahan dari ideologi-ideologi dan jaringannya harus kita akui
dalam masyarakat supaya tidak menyebar lebih dalam. Kesalahan ini harus dikupas
seutuhnya supaya masyarakat tidak hanya tahu bahwa mereka salah tapi juga paham
mengapa salah. Jaringan ini juga
harus ditumpaskan ke akarnya, sekalipun dianut banyak orang, justru ini akan
menjadi penyelamatan mereka yang terjerat.
Masalah
terorisme terjadi saat sistem sosial kurang peduli pada kebenaran dan kurang
menyatukan anggotanya untuk terarah pada kebenaran. Sehingga muncullah
kelompok-kelompok dengan “kebenaran alternatif” yang merasa tidak terlayani dan
memberontak dengan kekerasan. Solusinya adalah sistem sosial yang menyatukan
masyarakat dengan komitmen pada kebenaran dan senantiasa menunjukkan
kesalahan-kesalahan ideologis yang ada, supaya tidak tumbuh benih-benih fakta
alternatif dan terorisme.
Bagaimana
dengan penanganan teroris sendiri? Ini adalah pertanyaan etika dan keadilan
tersendirinya. Menurut beberapa orang, teroris tidak memiliki etika dan tidak
berkeadilan jadi menggunakan etika dan keadilan untuk menangani mereka adalah
kesia-siaan. Tentu saja ini lebih didasarkan emosi daripada prinsip keadilan
dan etika yang sepatutnya. Sesungguhnya dalam sistem sosial yang ideal, para
teroris seharusnya diubah pikirannya supaya sesuai lagi dengan kebenaran, bukan
dibunuh tanpa ampun. Hal yang harusnya kita bunuh hanya ideologinya, bukan
manusianya.
Masalah
terakhir yang menjadi salah satu masalah terbesar adalah kapitalisme. Kapitalisme
secara ringkas adalah sistem ekonomi di mana faktor produksi dimiliki secara
privat dan tujuan bisnis adalah untuk mendapatkan untung. Tidak ada persatuan
dalam kapitalisme kecuali dalam kerangka hukum liberal dan semua pelaku ekonomi
saling berkompetisi untuk mendapatkan untung.
Untung
ini maksudnya dalam bentuk uang, dan sebagai alat tukar umum, uang dalam jumlah
yang besar adalah kekuasaan potensial terhadap banyak hal. Kekuasaannya tentu
saja hanya bersifat duniawi, materil, dan umumnya untuk kenikmatan. Maka
kapitalisme menjadi ekspresi budaya materil dan hedonis yang tidak
memperhatikan nilai-nilai lain sama sekali jika tidak menguntungkan.
Karena
budaya kapitalis yang ultra kompetitif, dapat dikatakan bahwa budaya ini sangat
memecah belah masyarakat. Sebab semua orang dianggap sebagai individu
tersendiri mengejar kepentingan individu mereka pribadi. Karena semua orang
dianggap sebagai individu saja dan bukan kesatuan individu-individu, maka tidak
ada kesatuan ekonomis yang diwajibkan atau ditanamkan sebagai bagian dari
nilai-norma masyarakat. Kemajuan ekonomis tidak tersebar secara rata melainkan
menurut “kemampuan” masing-masing individu.
Menurutku
kapitalisme adalah fokus nilai yang sangat salah. Kapitalisme menaruh nilai
baiknya pada hal-hal duniawi semata dan artinya kaum kapitalis dikuasai oleh
hal-hal duniawi. Seharusnya fokus nilainya pada kebenaran dan kebahagiaan itu
sendiri, tanpa perantara hal-hal duniawi dulu. Jikalau hal duniawi dilibatkan
tetaplah di bawah kebenaran dan kebahagiaan yang sejati. Sebab fokus nilai yang
salah telah mengakibatkan berbagai macam masalah.
Banyak
sekali masalah yang telah diulas sebelumnya dapat diatribusikan sebagian jika
tidak seluruhnya kepada kapitalisme. Misalkan ketidakadilan dan krisis iklim.
Jika tidak menguntungkan, perusahaan tidak akan menegakkan keadilan atau
menangani krisis iklim. Karena faktor produksi dimiliki oleh individu-individu
tertentu untuk untung, maka yang tidak memiliki otomatis mengalami
ketidakadilan. Krisis iklim juga begitu, selama praktik menjaga lingkungan dan
pengelolaan limbah tidak menguntungkan maka perusakan demi eksploitasi sumber
daya alam dan penghematan biaya akan terus berlangsung.
Apakah
ada alternatif dari sistem yang sepertinya penuh dengan kejahatan ini? Ada,
salah satunya komunisme yang dipandang sebagai masyarakat “tanpa kelas, tanpa
negara, dan tanpa uang”. Suatu ambisi yang sangat utopis dan idealis, dan
gerakannya hampir mampu bersaing dengan kapitalisme tapi melampaui waktunya. Sejujurnya
aku juga kurang menyetujui beberapa prinsip komunisme, secara keseluruhan ide
yang bagus tapi detilnya yang kurang baik.
Sistem
yang layak menggantikan kapitalisme adalah sistem yang mampu memadukan sistem
sosial dan sistem ekonomi menjadi satu kesatuan yang memiliki satu arah dan
tujuan. Ekonomi harusnya bukan menjadi milik individu melainkan milik bersama
demi kepentingan semua individu secara tersatukan dalam masyarakat. Seharusnya
tidak ada kompetisi melainkan kolaborasi dan kerja sama antara semua pihak
berkepentingan demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Terakhir, segalanya
disatukan dalam nama filsafat dan kebenaran yang sejati.
Masalah Filsafat
Jika
filsafat berjaya, masalah-masalah di atas akan terselesaikan dengan baik tanpa
banyak kendala. Sayangnya filsafat sendiri sedang menderita berbagai macam
masalah yang membuat dirinya lumpuh dan seakan-akan tidak berdaya dalam segala
kekacauan dunia. Aku akan membahas 4 masalah utama dalam filsafat, yaitu
filsafat yang mati, filsafat yang kompleks, filsafat yang terpecah, dan
filsafat yang tergantikan. Jika semua ini diselesaikan, niscaya tidak hanya
filsafat, dunia akan memasuki tahap perkembangan yang baru.
Kematian
filsafat ditandai dengan diabaikannya filsafat dalam masyarakat yang lebih
luas. Dalam pendidikan pun filsafat atau setidaknya logika memiliki peran yang
minim. Filsafat hanya tersedia sebagai jurusan di universitas yang juga tidak
begitu terkenal dan di sekolah tidak ada. Jarang juga negara mengurus masalah
filsafat dengan serius dan jarang pula media mengulas filsafat. Kalau masih
belum cukup untuk menunjukkan pudarnya filsafat di dunia kini, aku tidak tahu
apa yang diperlukan.
Filsafat
sekarang terlalu kompleks, yang lebih kepada masalah bahasa. Bahasa filsafat
sekarang terlalu rumit, dan menggunakan berbagai kosa kata yang terlalu luas
atau definisinya kurang jelas. Seringkali pula digunakan bahasa yang simbolis
atau formal, tidak masalah di konteks akademis tapi harusnya filsafat juga
disediakan dalam bahasa alami. Bahasa filsafat juga jauh dari kehidupan
sehari-hari, karena itu disebut rumit dan kompleks.
Antar
filsuf juga tidak ada konsistensi bahasa, terkadang kata A memiliki makna A lalu
oleh filsuf lain memiliki makna B. Hal ini bermasalah karena artinya kita akan
sulit untuk menerjemahkan konsep berbagai filsuf ke dalam suatu bahasa yang
sama. Andaikan setiap filsuf sudah menyetujui bahasa yang akan digunakan,
pastilah segala hal akan lebih mudah. Memang ironis bahwa filsafat menjadi
kompleks, sebab filsafat berbicara tentang hal-hal yang mendasar dan sederhana,
bukan hal-hal yang kompleks!
Ketiadaan
konsistensi bahasa mengarah pada dan disebabkan oleh ketiadaan konsensus dalam
filsafat. Konsensus artinya persetujuan dalam akademik filsafat, entah itu
masalah teori atau masalah teknis seperti terminologi yang digunakan, metode
penelitian, dan seterusnya. Ini ditandai dengan tiadanya suatu asosiasi
internasional filsafat ataupun suatu persatuan filsuf atau hal sejenisnya untuk
memutuskan perkara-perkara filsafat.
Kemajuan
menjadi sulit karena hanya ada pertambahan ide tapi tidak pernah ada penyatuan
ide-ide tersebut. Dapat dikatakan medan filsafat hanya menjadi perdebatan abadi
antara satu kubu dengan kubu lainnya. Bagaimana mungkin terjadi kemajuan dalam
filsafat, dalam arti adanya suatu fakta filosofis yang baru? Bagaimana mungkin
filsafat dapat mengalami kemajuan dalam dampaknya pada dunia? Tugas filsafat
masih belum selesai, karena tidak ada akhir dalam tugas filsafat, filsafat
ialah abadi.
Ketiadaan
konsensus juga membuat filsafat tidak layak untuk memenuhi tujuan dan
esensinya, yaitu menyelidiki atau mempelajari hakikat kenyataan, atau yang
menjadi dasar dari segala sesuatu. Sebab artinya filsafat tidak atau belum
pernah memenuhi tujuannya sedikitpun. Tidak ada fakta atau kebenaran atau hukum
filsafat yang disetujui oleh para filsuf atau masyarakat. Filsafat menjadi
tidak layak untuk penggambaran dunia, dan kalah dibandingkan dengan ilmu-ilmu
lainnya.
Filsafat
telah tergantikan oleh aliran-aliran kebenaran lainnya yang kalau tidak
lengkap, dasarnya sama sekali tidak jelas. Empirisme hanya mengandalkan panca
indera, dan mengabaikan pengalaman batin atau pikiran yang sebenarnya sama
pentingnya. Agama dasarnya tidak jelas karena mengandalkan pengalaman panca
indera yang keabsahannya lebih diragukan daripada empirisme. Karena itu
filsafat sebagai kebenaran yang rasionalis harus dibangkitkan kembali untuk
melengkapi yang tidak lengkap, dan memperjelas apa yang tidak jelas.
Aku dan Filsafat
Lalu
bagaimana pandanganku secara pribadi dengan filsafat? Tepatnya, mengapa aku
menulis esai ini dan ingin mengikuti suatu perjalanan dalam filsafat? Untuk
bagian ini aku akan bercerita sedikit tentang bagaimana aku sampai pada
filsafat. Pada awalnya aku mengalami suatu kekosongan hidup dan penderitaan
yang sangat. Segala hal terasa membebani dan tidak bermakna, di saat itulah aku
tergerak untuk mencari kebahagiaan dan memulai dengan analisis, yaitu analisis
kebahagiaan secara rasional.
Pada
saat itu aku sudah masuk dalam filsafat, tapi memang belum mengenalnya sebagai
filsafat. Aku hanya mengenalnya sebagai “analisis”. Hal ini berlanjut terus
menerus sampai aku mengenal filsafat secara resmi dan benar-benar menyelamkan
diriku dalam filsafat. Di saat itu pula aku mulai melihat keindahan dari
kenyataan yang murni sebagaimana diperoleh melalui filsafat. Setelah itu aku
memutuskan aku ingin hidup sepenuhnya dalam filsafat dan filsafat menjadi
tujuan hidupku yang baru.
Aku
lalu melihat betapa kacaunya dunia dan bagaimana ada banyak sekali masalah yang
melanda. Aku melihat juga bagaimana filsafat seakan-akan sekarat dan hampir
mati digantikan oleh berbagai macam ilmu lainnya, padahal di balik matanya yang
hampir tertutup adalah solusi untuk segala masalah dunia dan juga untuk
kebangkitan kembali filsafat. Karena itulah aku memutuskan pula untuk membawa
pembaharuan filsafat.
Setelah
itu aku melihat potensi filsafat yang lebih luas, yaitu untuk menata ulang
sistem sosial dunia yang sudah mulai usang. Dengan itu aku bermaksud membawakan
kebahagiaan bagi semua umat manusia melalui jangkauan filsafat. Sebagian dari
visiku mengenai sistem sosial yang ideal, yang dipandu oleh filsafat sudah
kupaparkan dalam analisisku mengenai beberapa masalah sosial di atas. Sementara
itu aku juga memiliki visi mengenai ilmu filsafat yang ideal.
Menurutku,
filsafat harusnya setara dengan segala ilmu lain, yaitu memiliki batasan yang
jelas, memiliki konsensus, dan memiliki dampak yang jelas pada dunia. Batasan
di sini artinya ada batasan yang jelas yang membedakan antara filsafat dengan
ilmu lain. Sebenarnya sudah ada batasannya, hanya saja masih kurang jelas,
yaitu filsafat mempelajari hal-hal yang paling mendasar dari kenyataan. Sayangnya
dengan hegemoni empirisme, fisika dapat merebut gelar itu jika filsafat tidak
segera dibangkitkan.
Konsensus
artinya seperti ilmu lain, ada persetujuan mengenai beberapa prinsip dasar
filsafat. Lebih baik lagi adalah adanya pengakuan akan suatu fakta filsafat,
sehingga dapat dikategorikan mana yang termasuk fakta filsafat dan mana yang
merupakan pseudo filsafat, layaknya pembedaan antara ilmiah dan pseudo ilmiah. Ini
juga membutuhkan suatu metodologi filsafat yang disetujui oleh para filsuf yang
menjadi bagian dari konsensus tersebut.
Dengan
itu, filsafat dapat memiliki dampak bagi dunia, dampak ini terutama dampak
sosial dan juga pada tatanan ilmu pengetahuan itu sendiri. Filsafat berguna
untuk memperbaiki dasar-dasar suatu hal, maka harapannya dampak yang riil dari
filsafat adalah dalam menyatukan semua ilmu pengetahuan dalam terang kebenaran.
Filsafat juga harus menjadi penyatu masyarakat dalam terang yang sama, supaya
semua orang disatukan dalam satu harapan yaitu harapan akan kebahagiaan yang
sejati.
Rencana Umum
Untuk
mencapai tujuanku itu maka harus ada rencana yang jelas. Untuk sekarang
rencanaku adalah untuk menulis esai-esai filsafat dan setelah lengkap barulah
eksekusinya kumulai. Esai perkenalan ini menjadi esai pertama untuk rangkaian
esai filsafat yang akan kutulis. Berikutnya aku akan menetapkan tujuan akhir
dari segala perjalanan filsafat ini, bukan untukku saja melainkan untuk
keseluruhan filsafat itu sendiri dan keseluruhan umat manusia.
Setelah
itu aku akan menjelaskan maksudku untuk membangun sistem filsafat yang baru dan
mengapa harus ada sistem filsafat yang baru. Penjelasan itu berlanjut dengan
kritikan pada segala aliran kebenaran atau sistem yang berlaku saat ini yang
aku nilai telah gagal dalam mengantarkan manusia pada tujuan akhirnya. Dalam
rencana awalku aku akan mengkritik kapitalisme, liberalisme, toleransi,
empirisme, nasionalisme, dan Gereja Katolik. Namun bisa saja daftar ini
bertambah sesuai dengan kebutuhan.
Jika
semua kritikan telah selesai, barulah aku akan memulai dengan sistem filsafat
yang baru. Sistem ini yang akan paling banyak isinya karena memang menjadi
tubuh dari keseluruhan sistem filsafat ini. Merujuk pada esai pertamaku, jika
semua esai telah diselesaikan mungkin dapat digabungkan semuanya menjadi suatu
buku yang besar (Prasetyo,
2019) .
Harapan berikutnya adalah suatu sistem sosial berbasis filsafat dapat dirancang
dan akhirnya diwujudkan demi kebahagiaan semua umat manusia.
Penutup
Ada
3 poin utama dari esai ini yang dapat kita sama-sama ambil. Pertama, filsafat
sangatlah tua, filsafat Timur sudah berumur 4000 tahun yang lalu dan filsafat
Barat sudah 2600 tahun yang lalu, melampaui banyak agama dan pemikiran lainnya.
Kedua, filsafat sangat mendasar, karena mempelajari hal-hal yang paling
mendasar dari kenyataan. Konsekuensinya filsafat juga mendasari segala ilmu
yang ada, dan mengikat terhadap segala objek ilmu yang ada.
Ketiga,
filsafat penting bagi kita dan kebahagiaan kita. Sebab filsafat mempelajari
dasar-dasar, maka filsafat mempelajari pula dasar dari segala masalah dan
keinginan kita akan kebahagiaan. Dengan filsafat kita akan mengetahui akar
masalah kita dan dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan lebih baik. Keempat,
berdasarkan segala hal yang telah kutuliskan, filsafat harus kembali dan
dibangkitkan demi kebahagiaan umat manusia.
Rencana
berikutku adalah menuliskan esai tentang tujuan filsafat. Tujuan filsafat ini
bukan tujuan filsafat sebagai ilmu, melainkan tujuannya secara absolut dalam
relasi dengan kehendak umat manusia. Secara singkat, memang tujuannya adalah
kebahagiaan, tapi dalam esai tersebut aku akan memperjelas apa hubungan antara
filsafat dengan kebahagiaan. Namun itu untuk nanti, untuk sekarang selesailah
sudah. Aku harap esai ini berguna bagi kita semua, Tuhan memberkati.
Daftar Pustaka
Amadio,
A. H., & Kenny, A. J. (2020, Februari 6). Aristotle. Dipetik Maret
15, 2020, dari ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA:
https://www.britannica.com/biography/Aristotle
Aquinas,
T. (1485). Summa Theologiae.
Britannica.
(2018, Desember 14). Philosophy. Retrieved Maret 16, 2020, from
ENCYLOPAEDIA BRITANNICA: https://www.britannica.com/topic/philosophy
Doniger, W. (t.thn.). Veda.
Dipetik Maret 14, 2020, dari ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA:
https://www.britannica.com/topic/Veda
KBBI.
(2016). filsafat. Retrieved Maret 14, 2020, from KBBI Daring:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/filsafat
Lambert, A. (2017, Mei 5). Science
is an act of worship. Dipetik Maret 15, 2020, dari Denver Catholic:
https://denvercatholic.org/science-act-worship/
Mastin, L. (2009, Januari). Chinese
Philosophy. Dipetik Maret 14, 2020, dari Philosophy Basics:
https://www.philosophybasics.com/general_eastern_chinese.html
Mastin,
L. (2009, Januari). Eastern Philosophy. Retrieved Maret 14, 2020, from
Philosophy Basics: https://www.philosophybasics.com/general_eastern.html
Mastin, L. (2009, Januari). Thales
of Miletus. Dipetik Maret 14, 2020, dari Philosophy Basics:
https://www.philosophybasics.com/philosophers_thales.html
Mastin, L. (2009, Januari). What is
Philosophy. Dipetik Maret 14, 2020, dari Philosophy Basics:
https://www.philosophybasics.com/general_whatis.html
Mohanty,
J. N. (2019, Juni 11). Indian Philosphy. Retrieved Maret 14, 2020,
from ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA:
https://www.britannica.com/topic/Indian-philosophy
Prasetyo,
I. C. (2019, December 15). Esai. Retrieved December 31, 2019, from
Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2019/12/esai.html
Russell,
B. (1946). History of Western Philosophy. London: George Allen &
Unwin Ltd.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete