Pendahuluan
Esai ini adalah esai terakhir dalam saga “esai
tentang esai” atau “esai tentang menulis” atau “metaesai”. Adapula esai ini
lebih menjadi eksekusi ide terakhir yang sempat dinyatakan pada esai pertama dan juga telah ditetapkan pada esai kedua. Sesungguhnya jika
pada awal-awal itu aku tidak mendapat ide itu, bisa saja esai ini tidak akan
lahir. Namun sebagai persiapan dan istirahat setelah dua esai yang cukup padat,
aku ingin sedikit bersantai dengan penulisan esai ini.
Adapula sesungguhnya esai ini sejak awal telah
direncanakan hanya sebagai suatu sharing
tentang pengalamanku menulis selama 2 esai terakhir dan juga rencanaku dalam
menulis esai-esai nanti. Jadi, sekalipun esai ini santai, Anda tetap dapat memiliki
ekspektasi tinggi terkait formalitas dan kesantunan bahasa pada esai ini, yang
memang telah menjadi tradisi dan budaya pribadiku. Mungkin dengan pengalamanku
ini, pembaca dapat terinspirasi atau belajar, setidaknya itu adalah harapanku.
Sekalipun esai ini awalnya tidak memiliki tujuan
yang sangat tinggi atau serius, kita tetap dapat memberikannya. Bahwa suatu
tujuan tak langsung dari esai ini sebagai bentuk transparansi dari proses
penulisanku. Dengan pengetahuan ini, pembaca dapat lebih memahami bagaimana
esai-esaiku dibentuk dan mengapa esai-esaiku tertulis sedemikian rupa. Jadi
jelas bahwa esaiku bukan plagiat melainkan sungguh asli buah pemikiran dan buah
tangan, atau ketikan, dariku sendiri.
Dengan latar belakang demikian, bahwa pertama aku
ingin membagikan pengalamanku tentang menulis esai, dan juga secara tak
langsung untuk menunjukkan suatu transparansi semu dalam penulisanku supaya
nyatalah bahwa apa yang kutulis sungguh buah pemikiran dan buah tangan atau
ketikanku sendiri, aku menetapkan tujuan esai ini untuk membagikan dan
menetapkan tahapan menulis esai bagiku.
Brainstorm
Sesungguhnya aku ingin menuliskan istilah terjemahan
harafiah dalam bahasa Indonesia, yaitu “badai otak”, tapi aku rasa kurang
cocok. Pada proses brainstorm, aku
hanya menulis segala ide yang aku miliki dalam pikiranku pada buku tulisku. Biasanya
hanya sepatah dua kata, tapi bisa juga kalimat-kalimat terpisah. Metode ini
menurutku cukup efektif karena setelah melihat satu ide, lalu muncullah koneksi
ke ide lain dan tinggal dilanjutkan terus sedemikian rupa.
Seringkali antara berbagai macam ide aku membuat
koneksi-koneksi dalam bentuk garis antara satu kata atau ide dengan ide
lainnya, yang menunjukkan suatu keterkaitan. Hal ini akan kulakukan sampai aku
telah menulis ide selengkap-lengkapnya. Namun tentu saja sudah ada batasan
supaya ide-idenya tidak terlalu banyak sehingga kita malah menghasilkan suatu
manuskrip yang panjang, dan lengkap adalah lengkap yang terbatas. Konsep ini
dapat ditemukan pada tulisanku, “... esai sifatnya sangat spesialis dan
spesifik, satu ide tapi ide itu dikupas sangat mendalam dan diperas sampai
kepada intisarinya” (Prasetyo, Esai, 2019) .
Supaya sejak awal kita sudah membatasi ide-ide kita,
aku akan menetapkan tujuan esai atau tesis esai di awal setelah pendahuluan. Jadi
aku akan menulis mengapa aku ingin menulis esai ini, apa yang menjadi latar
belakangnya, dan karena latar belakang itu apa yang ingin kusampaikan, kucapai,
atau kubuktikan dengan esai itu. Dengan itu, segala tindakan brainstorm berikutnya akan terfokus
untuk menjawab atau memenuhi tujuan esai sampai selengkap-lengkapnya. Maka
cakupan esai menjadi sangat luas, tapi pada saat yang sama sangat terfokus.
Pada tahap ini pula sepatutnya kita juga mulai
mencari sumber referensi yang terkait, karena kita harus membaca dulu
konsepnya, memahami intisarinya, lalu mencatat di halaman brainstorm ide apa yang didapat dari sumber tersebut. Tentu saja
tidak melupakan untuk mulai mencatat sumbernya itu sendiri supaya pada saat
menulis atau merancang kerangka sumber referensi tinggal diurutkan dan
dicantumkan.
Pada esai keduaku aku memang melakukan
proses itu pada bagian kerangka tapi aku memiliki alasan. Alasan itu adalah
saat itu aku sudah memiliki gambaran jelas dan spesifik pendapat macam apa yang
ingin kucari dari sumber eksternal. Maka aku merasa tidak perlu untuk mencari
terlebih dahulu, karena aku tahu potongan informasi itu sudah dapat ditemukan
dan sudah pernah kutemukan. Jadi memang ini adalah hal yang fleksibel tapi
umumnya seperti itu.
Sebagai ilustrasi, di bawah ada dua foto hasil brainstorming-ku untuk esai ini dan juga
esai pertamaku.
![]() |
Gambar 1 Brainstorm Esai Pertama
|
Kerangka Tulisan
Setelah kita merasa bahwa semua ide yang diperlukan
untuk mencapai tujuan esai telah ditulis dan segala koneksinya telah dibuat
pula, maka kita siap untuk mulai menyusun suatu kerangka tulisan. Esensi dari
kerangka tulisan adalah mengurutkan ide-ide sesuai dengan struktur esai. Struktur
esai ini sebagaimana yang telah ditulis dahulu,
adalah dari titik awal, argumen pendukung, argumen inti, sampai diakhiri dengan
kesimpulan (Prasetyo, Esai, 2019) .
Kerangka tulisan dibuat dengan singkat, setiap ide
diwakili sebagai bulletpoint saja,
maka hanya kata-kata, atau frasa, dan jarang mencapai satu kalimat lengkap. Ide
yang tertulis di kerangka seharusnya sepenuhnya diambil dari brainstorm, sebab brainstorm sudah ditulis dengan lengkap. Namun jika memang ada ide
yang tiba-tiba muncul lagi, boleh saja diselipkan di satu tempat, tapi
harapannya ini tidak terlalu banyak. Salah satu contohnya sebenarnya pada
kerangka tulisan esai ini, yang akan ditampilkan nanti.
Kerangka juga akan menjadi pedoman akhir dalam
menulis, yaitu apa yang harus dituliskan pertama, apa yang harus ditulis
berikutnya, sampai akhir. Maka harapnya dalam penyusunan kerangka tulisan
semuanya dapat dilakukan dengan yakin dan pasti, sehingga sungguh menjadi
kerangka esai kita. Hal yang juga penting adalah menuliskan pada bagian mana
suatu sumber referensi akan digunakan. Ini juga supaya kita tahu pada bagian
esai kita yang mana kita harus mencantumkan sitasi sumber tersebut dan juga
menuliskan informasi dari sumber referensi tersebut.
Sebagai penjelas di bawah ada
satu foto kerangka tulisanku untuk esai ini.
![]() |
Gambar 3 Kerangka Tulisan Esai ini, dapat terlihat
bagian yang diselipkan
|
Proses Menulis
Setelah kerangka tulisan siap dan lengkap, maka
langkah berikutnya tentu saja untuk menulis esai itu sendiri. Suatu hal yang
harus diperhatikan adalah penulisan esai harus sesuai dengan kerangka tulisan
dan tidak membelok. Tujuannya jelas, untukku supaya esaiku tetap
terdefinisikan, teratur, dan memiliki batasan yang jelas. Ini akan mempermudah
proses dan juga membuat esai lebih enak untuk dibaca. Maka segala ide sudah
harus disiapkan terdahulu di tahap brainstorm
dan juga tahap kerangka tulisan, penulisan esai hanya proses paling akhirnya.
Pada tahap ini poin-poin dikembangkan menjadi
paragraf-paragraf, dan juga diperdalam dan diperjelas. Memang benar bahwa dalam
menulis paragraf kita “menambah ide”, tapi idenya tetap yang relevan dengan
poin utama yang sedang kita tulis. Misalnya paragraf ini berdasarkan poin
“kembangkan poin menjadi paragraf,” maka sesuailah paragraf ini dengan poin
tersebut. Maksudnya kita memperjelas apa yang dimaksud dengan poin tersebut,
apa korelasinya dengan keseluruhan esai, dan seterusnya.
Suatu hal yang harus diingat pula adalah mengenai
sitasi dan referensi. Karena sejauh ini aku masih banyak menulis sitasi dan
referensi internal, aku hanya mengutip secara langsung dan setelah itu
dicantumkan sitasinya. Namun saat akan mengutip secara eksternal, ada dua cara,
yaitu dengan pengutipan langsung atau dengan parafrase. Saat kita memparafrase,
harus dipastikan informasinya masih semakna dengan informasi asli, sehingga
tidak akan ada masalah akuntabilitas. Setelah itu baru kita cantumkan
sitasinya. Maka langkah umumnya adalah menulis informasi dari sumber, lalu
cantumkan sitasinya.
Berikutnya, secara khusus aku menulis esai-esaiku
dalam dua bahasa secara berurutan, yaitu dalam bahasa Indonesia dulu, baru
bahasa Inggris. Sebab ada teman-temanku yang berasal dari luar negeri maka aku
harus mengakomodasinya. Dalam menulis esai versi Inggris, tidak ada tahapan
yang berbeda, dan kerangka tulisan juga tidak diubah sehingga tetap menggunakan
kerangka bahasa Indonesia untuk menulis. Tujuannya memang supaya praktis dan
juga supaya tetap makna dan isinya tidak jauh berbeda. Selain itu ini juga
melatih kemampuan bilingualku jadi aku rasa itu metode yang cukup efektif.
Publikasi
Setelah kedua esai dalam bahasa Indonesia dan bahasa
Inggris selesai, maka tahap terakhir adalah mempublikasikannya. Bagiku aku
biasa mempublikasikan pada blog sekarang untuk esai bahasa Indonesia dan pada blog
ini untuk esai bahasa
Inggris. Lalu berikutnya aku membagikan secara langsung kepada beberapa rekan
dan temanku yang sudah biasa kubagikan tulisanku. Saat kedua esai bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris sudah selesai, maka selesailah esai tersebut dan
aku dapat berpindah pada esai berikutnya, dan siklus dimulai kembali.
Suntingan?
Aku menyadari bahwa umumnya dan idealnya suatu
tulisan itu disunting dulu sebelum benar-benar dipublikasikan. Namun pada tahap
ini aku memang belum memiliki rekan siapapun untuk membantu menyunting
pekerjaanku. Adapula aku juga belum memiliki pendapatan untuk membayar
penyunting profesional, maka esaiku sekarang apa adanya. Selain itu bagiku
kalau esaiku harus melalui proses penyuntingan dahulu, akan menghabiskan waktu
dan menjadi tidak efisien.
Lalu solusinya apa? Solusinya adalah untuk berusaha
keras untuk menghasilkan esai yang berkualitas dan jelas sejak awal, sehingga
tidak mengandalkan penyuntingan yang intensif untuk mempertahankan atau membela
kualitasnya. Lagipula aku juga tidak menuntut tingkat kualitas bahasa yang
sangat tinggi, melainkan secukupnya untuk mengekspresikan ide, sebab bukankah
itu fungsi bahasa yang sebenarnya?
Meski begitu memang tidak dapat dipungkiri bahwa di
masa yang akan datang kemungkinan selalu ada dan kesempatan dapat datang. Jadi
memang bisa saja aku akan meminta bantuan seorang penyunting untuk menyunting
karya-karyaku jika diperlukan. Namun aku rasa tetap saja tidak begitu
diperlukan kalau masih esai seperti ini, jika tidak ada keluhan akan masalah
bahasa yang kurang jelas, maka anggapannya bahasa esaiku cukuplah jelas dan
baik.
Penutup
Maka dengan itu aku akan mulai menutup esai singkat
ini. Tahapan dalam menulis bagiku dibagi menjadi 3 tahap yaitu brainstorm, kerangka tulisan, dan
terakhir adalah penulisan esai itu sendiri. Esai ditulis dalam bahasa Indonesia
dahulu, lalu dalam bahasa Inggris dengan kerangka tulisan yang sama. Setelah
itu kedua esai dipublikasikan ke blog masing-masing dan juga kepada
rekan-rekanku.
Adapula masalah penyuntingan belum menjadi masalah
yang sangat penting atau kritis. Maka dengan itu esai singkat ini dapat
kukatakan sudah selesai, dan berakhirlah saga esai-esai persiapan untuk sistem
filsafat dan juga esai-esai lain. Dengan selesainya esai ini dan nantinya versi
bahasa Inggris, maka hanya ada satu hal yang dapat dilakukan, yaitu melalui
imperium filsafatku. Imperium ini akan dimulai dengan perkenalan umum pada
filsafat, tapi itu untuk nanti. Untuk sekarang, esai ini sudah selesai, Tuhan
memberkati.
Daftar Pustaka
Prasetyo,
I. C. (2019, December 15). Esai. Dipetik December 31, 2019, dari
Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2019/12/esai.html
Prasetyo, I. C. (2020, Januari 3). Sitasi,
Sumber, dan Referensi. Dipetik Januari 13, 2020, dari Pemikiran Membara:
https://pemikiranmembara.blogspot.com/2020/01/sitasi-sumber-dan-referensi.html



No comments:
Post a Comment