Wednesday, January 15, 2020

Tahapan Menulis

Pendahuluan

Esai ini adalah esai terakhir dalam saga “esai tentang esai” atau “esai tentang menulis” atau “metaesai”. Adapula esai ini lebih menjadi eksekusi ide terakhir yang sempat dinyatakan pada esai pertama dan juga telah ditetapkan pada esai kedua. Sesungguhnya jika pada awal-awal itu aku tidak mendapat ide itu, bisa saja esai ini tidak akan lahir. Namun sebagai persiapan dan istirahat setelah dua esai yang cukup padat, aku ingin sedikit bersantai dengan penulisan esai ini.

Adapula sesungguhnya esai ini sejak awal telah direncanakan hanya sebagai suatu sharing tentang pengalamanku menulis selama 2 esai terakhir dan juga rencanaku dalam menulis esai-esai nanti. Jadi, sekalipun esai ini santai, Anda tetap dapat memiliki ekspektasi tinggi terkait formalitas dan kesantunan bahasa pada esai ini, yang memang telah menjadi tradisi dan budaya pribadiku. Mungkin dengan pengalamanku ini, pembaca dapat terinspirasi atau belajar, setidaknya itu adalah harapanku.

Sekalipun esai ini awalnya tidak memiliki tujuan yang sangat tinggi atau serius, kita tetap dapat memberikannya. Bahwa suatu tujuan tak langsung dari esai ini sebagai bentuk transparansi dari proses penulisanku. Dengan pengetahuan ini, pembaca dapat lebih memahami bagaimana esai-esaiku dibentuk dan mengapa esai-esaiku tertulis sedemikian rupa. Jadi jelas bahwa esaiku bukan plagiat melainkan sungguh asli buah pemikiran dan buah tangan, atau ketikan, dariku sendiri.

Dengan latar belakang demikian, bahwa pertama aku ingin membagikan pengalamanku tentang menulis esai, dan juga secara tak langsung untuk menunjukkan suatu transparansi semu dalam penulisanku supaya nyatalah bahwa apa yang kutulis sungguh buah pemikiran dan buah tangan atau ketikanku sendiri, aku menetapkan tujuan esai ini untuk membagikan dan menetapkan tahapan menulis esai bagiku.

Brainstorm

Sesungguhnya aku ingin menuliskan istilah terjemahan harafiah dalam bahasa Indonesia, yaitu “badai otak”, tapi aku rasa kurang cocok. Pada proses brainstorm, aku hanya menulis segala ide yang aku miliki dalam pikiranku pada buku tulisku. Biasanya hanya sepatah dua kata, tapi bisa juga kalimat-kalimat terpisah. Metode ini menurutku cukup efektif karena setelah melihat satu ide, lalu muncullah koneksi ke ide lain dan tinggal dilanjutkan terus sedemikian rupa.

Seringkali antara berbagai macam ide aku membuat koneksi-koneksi dalam bentuk garis antara satu kata atau ide dengan ide lainnya, yang menunjukkan suatu keterkaitan. Hal ini akan kulakukan sampai aku telah menulis ide selengkap-lengkapnya. Namun tentu saja sudah ada batasan supaya ide-idenya tidak terlalu banyak sehingga kita malah menghasilkan suatu manuskrip yang panjang, dan lengkap adalah lengkap yang terbatas. Konsep ini dapat ditemukan pada tulisanku, “... esai sifatnya sangat spesialis dan spesifik, satu ide tapi ide itu dikupas sangat mendalam dan diperas sampai kepada intisarinya” (Prasetyo, Esai, 2019).

Supaya sejak awal kita sudah membatasi ide-ide kita, aku akan menetapkan tujuan esai atau tesis esai di awal setelah pendahuluan. Jadi aku akan menulis mengapa aku ingin menulis esai ini, apa yang menjadi latar belakangnya, dan karena latar belakang itu apa yang ingin kusampaikan, kucapai, atau kubuktikan dengan esai itu. Dengan itu, segala tindakan brainstorm berikutnya akan terfokus untuk menjawab atau memenuhi tujuan esai sampai selengkap-lengkapnya. Maka cakupan esai menjadi sangat luas, tapi pada saat yang sama sangat terfokus.

Pada tahap ini pula sepatutnya kita juga mulai mencari sumber referensi yang terkait, karena kita harus membaca dulu konsepnya, memahami intisarinya, lalu mencatat di halaman brainstorm ide apa yang didapat dari sumber tersebut. Tentu saja tidak melupakan untuk mulai mencatat sumbernya itu sendiri supaya pada saat menulis atau merancang kerangka sumber referensi tinggal diurutkan dan dicantumkan.

Pada esai keduaku aku memang melakukan proses itu pada bagian kerangka tapi aku memiliki alasan. Alasan itu adalah saat itu aku sudah memiliki gambaran jelas dan spesifik pendapat macam apa yang ingin kucari dari sumber eksternal. Maka aku merasa tidak perlu untuk mencari terlebih dahulu, karena aku tahu potongan informasi itu sudah dapat ditemukan dan sudah pernah kutemukan. Jadi memang ini adalah hal yang fleksibel tapi umumnya seperti itu.

Sebagai ilustrasi, di bawah ada dua foto hasil brainstorming-ku untuk esai ini dan juga esai pertamaku.

Gambar 1 Brainstorm Esai Pertama

Gambar 2 Brainstorm Esai Sekarang

Kerangka Tulisan

Setelah kita merasa bahwa semua ide yang diperlukan untuk mencapai tujuan esai telah ditulis dan segala koneksinya telah dibuat pula, maka kita siap untuk mulai menyusun suatu kerangka tulisan. Esensi dari kerangka tulisan adalah mengurutkan ide-ide sesuai dengan struktur esai. Struktur esai ini sebagaimana yang telah ditulis dahulu, adalah dari titik awal, argumen pendukung, argumen inti, sampai diakhiri dengan kesimpulan (Prasetyo, Esai, 2019).


Kerangka tulisan dibuat dengan singkat, setiap ide diwakili sebagai bulletpoint saja, maka hanya kata-kata, atau frasa, dan jarang mencapai satu kalimat lengkap. Ide yang tertulis di kerangka seharusnya sepenuhnya diambil dari brainstorm, sebab brainstorm sudah ditulis dengan lengkap. Namun jika memang ada ide yang tiba-tiba muncul lagi, boleh saja diselipkan di satu tempat, tapi harapannya ini tidak terlalu banyak. Salah satu contohnya sebenarnya pada kerangka tulisan esai ini, yang akan ditampilkan nanti.

Kerangka juga akan menjadi pedoman akhir dalam menulis, yaitu apa yang harus dituliskan pertama, apa yang harus ditulis berikutnya, sampai akhir. Maka harapnya dalam penyusunan kerangka tulisan semuanya dapat dilakukan dengan yakin dan pasti, sehingga sungguh menjadi kerangka esai kita. Hal yang juga penting adalah menuliskan pada bagian mana suatu sumber referensi akan digunakan. Ini juga supaya kita tahu pada bagian esai kita yang mana kita harus mencantumkan sitasi sumber tersebut dan juga menuliskan informasi dari sumber referensi tersebut. 

Sebagai penjelas di bawah ada satu foto kerangka tulisanku untuk esai ini.

Gambar 3 Kerangka Tulisan Esai ini, dapat terlihat bagian yang diselipkan

Proses Menulis

Setelah kerangka tulisan siap dan lengkap, maka langkah berikutnya tentu saja untuk menulis esai itu sendiri. Suatu hal yang harus diperhatikan adalah penulisan esai harus sesuai dengan kerangka tulisan dan tidak membelok. Tujuannya jelas, untukku supaya esaiku tetap terdefinisikan, teratur, dan memiliki batasan yang jelas. Ini akan mempermudah proses dan juga membuat esai lebih enak untuk dibaca. Maka segala ide sudah harus disiapkan terdahulu di tahap brainstorm dan juga tahap kerangka tulisan, penulisan esai hanya proses paling akhirnya.

Pada tahap ini poin-poin dikembangkan menjadi paragraf-paragraf, dan juga diperdalam dan diperjelas. Memang benar bahwa dalam menulis paragraf kita “menambah ide”, tapi idenya tetap yang relevan dengan poin utama yang sedang kita tulis. Misalnya paragraf ini berdasarkan poin “kembangkan poin menjadi paragraf,” maka sesuailah paragraf ini dengan poin tersebut. Maksudnya kita memperjelas apa yang dimaksud dengan poin tersebut, apa korelasinya dengan keseluruhan esai, dan seterusnya.

Suatu hal yang harus diingat pula adalah mengenai sitasi dan referensi. Karena sejauh ini aku masih banyak menulis sitasi dan referensi internal, aku hanya mengutip secara langsung dan setelah itu dicantumkan sitasinya. Namun saat akan mengutip secara eksternal, ada dua cara, yaitu dengan pengutipan langsung atau dengan parafrase. Saat kita memparafrase, harus dipastikan informasinya masih semakna dengan informasi asli, sehingga tidak akan ada masalah akuntabilitas. Setelah itu baru kita cantumkan sitasinya. Maka langkah umumnya adalah menulis informasi dari sumber, lalu cantumkan sitasinya.

Berikutnya, secara khusus aku menulis esai-esaiku dalam dua bahasa secara berurutan, yaitu dalam bahasa Indonesia dulu, baru bahasa Inggris. Sebab ada teman-temanku yang berasal dari luar negeri maka aku harus mengakomodasinya. Dalam menulis esai versi Inggris, tidak ada tahapan yang berbeda, dan kerangka tulisan juga tidak diubah sehingga tetap menggunakan kerangka bahasa Indonesia untuk menulis. Tujuannya memang supaya praktis dan juga supaya tetap makna dan isinya tidak jauh berbeda. Selain itu ini juga melatih kemampuan bilingualku jadi aku rasa itu metode yang cukup efektif.

Publikasi

Setelah kedua esai dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris selesai, maka tahap terakhir adalah mempublikasikannya. Bagiku aku biasa mempublikasikan pada blog sekarang untuk esai bahasa Indonesia dan pada blog ini untuk esai bahasa Inggris. Lalu berikutnya aku membagikan secara langsung kepada beberapa rekan dan temanku yang sudah biasa kubagikan tulisanku. Saat kedua esai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sudah selesai, maka selesailah esai tersebut dan aku dapat berpindah pada esai berikutnya, dan siklus dimulai kembali.

Suntingan?

Aku menyadari bahwa umumnya dan idealnya suatu tulisan itu disunting dulu sebelum benar-benar dipublikasikan. Namun pada tahap ini aku memang belum memiliki rekan siapapun untuk membantu menyunting pekerjaanku. Adapula aku juga belum memiliki pendapatan untuk membayar penyunting profesional, maka esaiku sekarang apa adanya. Selain itu bagiku kalau esaiku harus melalui proses penyuntingan dahulu, akan menghabiskan waktu dan menjadi tidak efisien.

Lalu solusinya apa? Solusinya adalah untuk berusaha keras untuk menghasilkan esai yang berkualitas dan jelas sejak awal, sehingga tidak mengandalkan penyuntingan yang intensif untuk mempertahankan atau membela kualitasnya. Lagipula aku juga tidak menuntut tingkat kualitas bahasa yang sangat tinggi, melainkan secukupnya untuk mengekspresikan ide, sebab bukankah itu fungsi bahasa yang sebenarnya?

Meski begitu memang tidak dapat dipungkiri bahwa di masa yang akan datang kemungkinan selalu ada dan kesempatan dapat datang. Jadi memang bisa saja aku akan meminta bantuan seorang penyunting untuk menyunting karya-karyaku jika diperlukan. Namun aku rasa tetap saja tidak begitu diperlukan kalau masih esai seperti ini, jika tidak ada keluhan akan masalah bahasa yang kurang jelas, maka anggapannya bahasa esaiku cukuplah jelas dan baik.

Penutup

Maka dengan itu aku akan mulai menutup esai singkat ini. Tahapan dalam menulis bagiku dibagi menjadi 3 tahap yaitu brainstorm, kerangka tulisan, dan terakhir adalah penulisan esai itu sendiri. Esai ditulis dalam bahasa Indonesia dahulu, lalu dalam bahasa Inggris dengan kerangka tulisan yang sama. Setelah itu kedua esai dipublikasikan ke blog masing-masing dan juga kepada rekan-rekanku.

Adapula masalah penyuntingan belum menjadi masalah yang sangat penting atau kritis. Maka dengan itu esai singkat ini dapat kukatakan sudah selesai, dan berakhirlah saga esai-esai persiapan untuk sistem filsafat dan juga esai-esai lain. Dengan selesainya esai ini dan nantinya versi bahasa Inggris, maka hanya ada satu hal yang dapat dilakukan, yaitu melalui imperium filsafatku. Imperium ini akan dimulai dengan perkenalan umum pada filsafat, tapi itu untuk nanti. Untuk sekarang, esai ini sudah selesai, Tuhan memberkati.

Daftar Pustaka

Prasetyo, I. C. (2019, December 15). Esai. Dipetik December 31, 2019, dari Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2019/12/esai.html

Prasetyo, I. C. (2020, Januari 3). Sitasi, Sumber, dan Referensi. Dipetik Januari 13, 2020, dari Pemikiran Membara: https://pemikiranmembara.blogspot.com/2020/01/sitasi-sumber-dan-referensi.html


No comments:

Post a Comment