Pembukaan
Selama
perjalananku dalam menulis dan bernalar, aku sudah menuliskan banyak hal yang
mempunyai serpihan dari kebenaran. Namun aku belum pernah merumuskan suatu
kebenaran semesta yang hakiki, atau suatu kebenaran yang sifatnya menjadi
sumber segala kebenaran yang lain. Aku tahu akan kebenaran itu, hanya saja aku
belum menuliskannya, lagipula selama ini aku selalu menulis dalam bahasa asing,
maka tibalah waktunya bagiku untuk membuat tulisan tulisanku ini lebih mudah
dimengerti oleh saudara saudariku Bangsa Indonesia. Ini akan menjadi tulisan
pertama yang kutulis dalam bahasa Ibuku, aku harap kebenaran yang tertulis pada
tulisan ini bisa berguna bagi kita semua dan juga bangsa ini.
Kekhawatiran
Aku
tahu aku baru 14 tahun menginjakkan kakiku di bumi ini, dan masih ada banyak
hal yang belum kuketahui di dunia ini. Namun entah kenapa, sejak ibuku
dipanggil oleh Tuhan, dan aku mulai membuka mata terhadap penderitaanku, aku
mulai mencari. Aku bingung mengapa segala hal yang terjadi haruslah terjadi,
mengapa aku yang harus merasakan segala hal ini. Maka aku pun memulai sebuah
perjalanan dengan satu tujuan, yaitu mencari kebenaran. Namun seiring aku mulai
memahami apa kebenaran itu sendiri, aku mulai sadar bahwa semenjak aku memilih
jalan ini, aku telah menentukan nasib hidupku sendiri. Dan pada saat itulah aku
sadar bahwa aku telah diberikan tugas yang mulia, untuk mencari dan menyusun
kembali kebenaran yang telah hilang selama ribuan tahun. Semua serpihannya
sudah tersedia, tugasku hanya menyusunnya kembali, dan saat waktunya tiba, aku
harus mewartakannya, supaya dunia tidak terjerumus pada kematian.
Aku
bukannya merasa penting seorang yang dimuliakan, tapi aku telah melihat dengan
mata kepalaku sendiri bagaimana kondisi manusia pada waktu sekarang. Aku
sendiri yang merasa haus akan kebenaran yang kekal, sementara semua orang lain,
atau setidaknya hampir semua, sibuk dengan tujuan tujuan dan impian impian yang
bersifat materialistis dan hedonis. Aku merasa terkucilkan, seperti serigala
diantara domba, tapi pada saat yang sama aku merasa khawatir. Aku kira,
pemahaman tentang kebenaran, atau kehausan akan kebenaran itu sendiri
seharusnya menjadi hal yang lumrah, hal yang biasa dan bukan keanehan atau
penyakit. Namun, hal yang kulihat justru sebaliknya, bahwa pengetahuan akan
kebenaran sudah lama dilupakan, orang sudah puas akan kebenaran yang
dilembagakan dan kebenaran mereka sendiri. Maka, aku merasakan suatu
kegentingan dan kegawatan yang sangat untuk membuka mata umat manusia, dan
disinilah aku berusaha melakukan yang terbaik demi kebenaran.
Keberadaan Kebenaran
Bilamana
ada orang yang menyangkal adanya kebenaran, maka aku harap orang itu mulai
bersiap siap untuk merubah pandangannya. Sebab aku berkata, jikalau kebenaran
itu tidak ada, terkutuklah segala hal yang ada karena tidak mungkin bisa ada
sesuatu hal yang nyata. Bilamana pembaca masih belum mengerti apa maksudku,
baiklah aku akan menerangkan lebih dalam perihal kebenaran ini. Sebelum
memasukki perihal ini lebih jauh, baiklah kalau aku membahas kebenaran macam
apa yang kita cari. Kebenaran itulah kebenaran yang universal, obyektif, yaitu
mencakup seluruh semesta tanpa terkecuali dan tidak terpengaruh oleh pendapat
pribadi. Itulah kebenaran yang kita cari, dan sesungguhnya aku nyatakan, adalah
kebenaran itu! Apa buktiku terhadap pernyataan itu? Marilah kita analisis dan
kita teliti seluk beluk dari bukti itu!
Bukti Keberadaan Kebenaran
Kebenaran
pada hakikatnya adalah suatu pernyataan yang sesuai dengan kenyataan yang
sejati. Maka kenyataan haruslah yang benar benar ada, dan bukan yang kita
harapkan menjadi kenyataan, alias khayalan dan angan angan saja. Oleh sebab
itu, aku akan membuktikan kebenaran menggunakan metode rasional atau logika.
Logika ialah ilmu untuk menciptakan informasi baru dari informasi yang ada,
akan tetapi ialah juga ilmu untuk membuktikan kebenaran suatu pernyataan. Maka,
ada baiknya jika kita mempelajari sedikit saja ilmu logika supaya kita bisa
menemukan kebenaran yang sungguh benar dan tidak bisa dibantahkan atau
dipertanyakan.
Dalam
ilmu logika, pernyataan pernyataan yang ingin kita teliti disebut argumen.
Argumen terdiri dari dua unsur, yaitu unsur premis dan unsur konklusi. Premis
ialah bukti atau dasar dari pernyataan yang kita ingin buktikan, sementara
konklusi ialah kesimpulan dari premis premis yang ada. Contoh yang paling
mudah, kita mempunyai dua premis, semua manusia adalah mamalia dan semua
mamalia melahirkan. Oleh sebab itu kita bisa membuat kesimpulan bahwa manusia
melahirkan, dan ini berdasarkan hukum matematis yang sederhana yang pembaca
mungkin kenal sebagai teori himpunan atau dalam bahasa Inggris ialah “Set
Theory”. Maka, dengan ilmu ini kita sudah mendapatkan alat alat yang diperlukan
untuk mencari kebenaran.
Mencari Kebenaran
Bilamana
kebenaran adalah pernyataan apapun yang sesuai dengan kenyataan sejati,
bukankah berarti kebenaran itu sangat mudah ditemukan? Misalkan, bumi itu
bulat, bukankah itu kebenaran? Memang benar bahwa rupa bumi itu bulat, namun
kita harus mempertanyakan kebenaran itu, dengan kata lain, apa bukti dari
pernyataan bumi itu bulat? Kebanyakan orang sudah merasa puas dengan
ditunjukkan premis dari pernyataan bumi itu bulat, akan tetapi premis premis
tersebut juga merupakan suatu konklusi dari premis premis sebelumnya. Oleh
sebab itu, kita harus menganalisis premis premis tersebut pula, dan jikalau
pada suatu saat kita tidak bisa membuktikan premis yang pertama, maka runtuhlah
segala deduksi berikutnya.
Maka,
marilah kita membuat suatu percobaan logika dengan suatu pernyataan biologis
yang sederhana, yaitu bahwa darah berwarna
merah. Kalau kita menanyakan warna darah kepada orang, baik dokter maupun
orang desa, mereka pasti menjawab bahwa darah warnanya merah. Tapi apa yang
menjadi bukti bahwa darah sungguh merah warnanya? Mungkin akan menjadi lebih
baik jikalau kita mengilustrasikannya dalam format premis dan konklusi.
(P1) Jika kita melihat barang X dengan kondisi Y,
maka itulah kenyataannya.
(P2) Kita melihat darah dengan kondisi warna merah.
(K) Darah berwarna merah.
(P2) Kita melihat darah dengan kondisi warna merah.
(K) Darah berwarna merah.
Marilah
kita membedah argumen tersebut, yaitu dengan membuktikan kebenaran kedua premis
yang menjadi dasar untuk konklusi kita. Premis dua memang benar adanya, jikalau
kita bertanya kepada orang alasan mereka, mayoritas pasti menjawab bahwa itulah
yang kita lihat. Walaupun premis dua benar, apa yang membuktikan kebenaran
premis satu yang menjadi dasar utama dari kepercayaan kita bahwa darah itu
merah? Mungkinkah kita bisa membuktikan premis ini dengan menjadikannya
konklusi dari premis premis lain? Kelihatannya sulit, tapi tidak ada salahnya
dalam mencoba.
(P1) Manusia mempunyai mata.
(P2) Mata menangkap informasi visual tentang kenyataan.
(K) Informasi visual yang ditangkap melalui mata manusia mendeskripsikan kenyataan.
(P2) Mata menangkap informasi visual tentang kenyataan.
(K) Informasi visual yang ditangkap melalui mata manusia mendeskripsikan kenyataan.
Kelihatannya
itu argumen yang kuat dan padu, tapi apakah benar begitu. Pertama, kedua premis
itu bisa dipertanyakan. Premis dua menyatakan bahwa mata menangkap informasi
visual tentang kenyataan, tapi itu mengasumsikan bahwa ada suatu kenyataan di
luar pikiran manusia. Premis satu sama saja, mengasumsikan bahwa mata itu ada
di tempat pertama. Tapi apakah kita bisa membenarkan kedua pernyataan itu?
Bahwa ada suatu kenyataan yang objektif dan mata manusia sungguh ada? Pada saat
inilah kita seharusnya sadar, bahwa membuktikan hal itu mustahil. Karena pada
akhirnya kita hanya akan terus menerus mencari premis premis untuk mendukung
premis premis dari konklusi awal kita, dan menjadi regresi tak terbatas.
Maka,
kita harus mencari kebenaran yang betul betul bisa berdiri sendiri, karena itulah
kebenaran yang sungguh tidak bisa dipertanyakan ataupun dibantah oleh argumen
apapun. Kebenaran Asal, yaitu pernyataan kebenaran yang bisa menjadi premis
bagi dirinya sendiri dan tidak memerlukan premis premis lainnya. Walau begitu,
kebenaran itulah yang menjadi premis awal untuk segala kebenaran kebenaran
lainnya. Sebelum kita melanjutkan, aku ingin mengingatkan bahwa aku tidak
mengatakan bahwa premis premis dan konklusi konklusi yang dibahas sebelumnya
tidak benar. Karena untuk mengatakan bahwa suatu pernyataan itu tidak benar,
berarti kita mempunyai bukti akan yang sebaliknya, yaitu pernyataan yang benar.
Namun pada kondisi ini kita tidak mempunyai bukti akan kenyataan apapun, maka
kesimpulan yang tepat adalah mengatakan bahwa kebenaran tidak bisa dibuktikan.
Tapi, apakah kebenaran asal memang tidak bisa dibuktikan?
Tiada Kebenaran Asal?
Pada
titik ini, mungkin pembaca mulai menyerah dan berpikir bahwa kebenaran itu
tidak ada, akan tetapi jikalau kebenaran itu tidak ada, maka aku tidak mungkin
bisa membuat tulisan ini dan segala tulisan sebelumnya. Lagipula, jika
kebenaran itu tidak ada, maka konsekuensi logisnya, dengan kata lain
konklusinya akan berkontradiksi dengan dirinya sendiri, alias salah. Bagaimana
perumusannya? Baiklah kita membuatnya dalam rancangan premis dan konklusi
kembali.
(P) Kebenaran itu tidak ada.
(K) Kenyataan itu tidak ada.
(K) Kenyataan itu tidak ada.
Argumen
itu terlihat aneh bukan? Bagaimana bisa hanya ada satu premis dalam suatu
argumen? Jawabannya sederhana, karena argumen itu bukanlah penjabaran
lengkapnya. Aku sengaja menuliskannya begitu, supaya pembaca terus menggunakan
pikirannya dan daya rasionalnya, lagipula itulah yang membuat manusia sungguh “manusia”,
tentu dengan mengasumsikan kebenaran bahwa manusia itu nyata. Lalu, apakah
makna argumen tersebut? Sebenarnya, kedua pernyataan di atas bisa dirubah
posisinya berhubungan satu dengan yang lain. Bagaimana itu bisa terjadi? Mari
kita ingat kembali apa definisi kebenaran, “kebenaran ialah pernyataan yang
sesuai dengan kenyataan.” Dengan itu, kita bisa menjabarkan argumen tadi
menjadi dua wujud.
(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Kebenaran tidak ada.
(K) Kenyataan tidak ada karena tidak ada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kebenaran tidak ada.
(K) Kenyataan tidak ada karena tidak ada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.
Demikianlah
wujud sesungguhnya dari argumen ketiadaan kebenaran dan ketiadaan kenyataan
tersebut. Perbedaannya hanya satu, pada wujud yang pertama, kita mendeduksikan
penyebab dari ketiadaan kebenaran, sementara pada wujud yang kedua, kita
mendeduksikan akibat dari ketiadaan kenyataan. Singkat kata, wujud pertama
menunjukkan sebuah inferensi, sementara wujud kedua menunjukkan sebuah prediksi.
Walaupun begitu, makna kedua wujud argumen tetaplah sama, bahwa dengan tidak
adanya kenyataan, tidak bisa ada kebenaran. Maka, apakah itu akhir dari
perjalanan kita? Bahwa kebenaran sungguh tiada? Para ateis dan materialis tentu
berbicara seperti itu, tapi tanpa banyak berpikir, argumen itu telah
menghancurkan dirinya dengan sendirinya, bagaimana mungkin?
Selain
menganalis premis dari suatu pernyataan, ada metode lain, yang lebih sering
digunakan oleh para filsuf yang malas mencari, yaitu mencari kontradiksi.
Apakah kontradiksi itu? Kontradiksi ialah pertentangan antara suatu pernyataan
dengan pernyataan lain, dan maksudku, dalam argumen itu adalah suatu
kontradiksi yang menjadi pengungkapan kebenaran bagi umat manusia. Marilah kita
bersama-sama mencarinya!
Pertama,
tidak ada hukum yang melarang kita dari membuat pernyataan tentang suatu
pernyataan, sama halnya dengan argumen ini. Kita bisa membuat suatu pernyataan
yang mendeskripsikan argumen tersebut, seperti biasa pernyataan tersebut akan
disusun dalam rancangan premis dan konklusi. Namun ada satu perbedaan, akan ada
dua unsur baru pada argumen tersebut, yaitu pernyataan, atau pernyataan yang
ingin kita buktikan, dan terakhir metakonklusi, yaitu pernyataan yang mendeskripsikan
kebenaran dari pernyataan tersebut. Selain itu, aku akan menuliskan kedua
wujud, supaya kebenarannya menjadi lebih jelas. Perhatikan dengan baik!
(P) Kenyataan itu tidak ada.
(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Kebenaran tidak ada.
(2) Kebenaran tidak ada.
(K) Kenyataan tidak ada karena tidak ada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(MK) Pernyataan bahwa tidak ada kenyataan itu benar.
(P) Kebenaran itu tidak ada.
(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.
(MK) Pernyataan bahwa tidak ada kebenaran itu benar.
Apakah
kontradiksi mulia itu sudah menangkap mata pembaca? Maka, dengan mengasumsikan
bahwa tidak ada kebenaran, kita telah menemukan bahwa ada pernyataan yang
benar, yang sesuai dengan kenyataan. Pernyataan itu tidak lain dan tidak bukan
dari dua pernyataan bahwa tidak ada kebenaran dan tidak ada kenyataan. Bahkan
kita tidak hanya menemukan satu kebenaran, tapi dua kebenaran! Akan tetapi,
jikalau ada kebenaran, maka hancurlah argumen bahwa tidak ada kebenaran, maka
kita akan mendapatkan rumusan argumen yang sesungguhnya.
(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.
(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar karena sesuai dengan kenyataan bahwa tidak ada kenyataan sehingga tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar karena sesuai dengan kenyataan bahwa tidak ada kenyataan sehingga tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.
(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar.
(K) Kebenaran ada.
(2) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar.
(K) Kebenaran ada.
(1) Kebenaran adalah pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan.
(2) Kebenaran ada.
(K) Kenyataan ada karena harus ada kenyataan yang bisa dinyatakan supaya ada kebenaran.
(2) Kebenaran ada.
(K) Kenyataan ada karena harus ada kenyataan yang bisa dinyatakan supaya ada kebenaran.
Demikianlah
kebenaran yang ada, dan aku akui bahwa ada metode metode lain untuk menemukan
kebenaran asal ini. Kita bisa mendeskripsikan keberadaan pernyataan itu
sendiri, tapi metode kontradiksi adalah metode yang paling bisa dipercaya,
karena kita hanya mengandalkan argumen yang ada tanpa membuat asumsi apapun.
Mengapa penting sekali untuk tidak berasumsi dalam ilmu logika? Karena asumsi
adalah premis atau konklusi yang khayal, alias kita masukkan tanpa mengetahui
kebenaran premis atau konklusi itu terdahulu. Bagaimanapun juga, kita telah
membuktikan bahwa kebenaran itu ada dan kenyataan itu ada.
Kebenaran
Asal ialah pernyataan bahwa kenyataan itu ada, maupun kebenaran itu ada.
Kesimpulannya, ada sesuatu di dunia ini yang sungguh ada dan nyata, tapi apakah
itu? Kebenaran dan kenyataan itu, adalah
kesadaran. Hal ini jelas, bagaimana mungkin argumen ini bisa dibuat jikalau
tidak ada kesadaran yang sadar akan kenyataan itu. Itulah metode lain yang aku singgungkan
sebelumnya, bahwa sekalipun kita meragukan, kita tidak bisa meragukan fakta
bahwa kita sedang meragukan. Mungkin kita ingin menyatakan bahwa tidak ada
kenyataan, tapi dengan begitu, kita menyatakan bahwa ada suatu kenyataan, yaitu
tidak ada kenyataan, yang berkontradiksi dengan dirinya sendirinya dan membunuh
argumen ketiadaaan kebenaran. Selain itu, keberadaan pernyataan dan argumen
ketiadaan kebenaran itu sendiri telah mematahkan argumen ketiadaan kebenaran
dengan sendirinya. Karena itu berarti bahwa ada yang nyata, yaitu argumen itu
sendiri. Lalu, apa makna dari segala hal ini?
Kebenaran Allah
Jikalau
ada kebenaran yang menjadi sumber dari segala kebenaran, maka kita harus
mengakui bahwa ada suatu kenyataan yang menjadi sumber dari segala kenyataan
lainnya. Mengapa harus seperti itu? Alasannya sederhana, kebenaran asal adalah
kebenaran yang tidak memerlukan bukti untuk benar, dalam kata lain kebenaran
itu benar apa adanya. Sama halnya, ada suatu kenyataan yang nyata apa adanya,
artinya kenyataan itu tidak memerlukan bukti untuk dibuktikan nyata. Kenyataan
itu berdiri dengan sendirinya, dan jawaban bahwa kenyataan itu adalah kesadaran
memang benar, tapi bukan itu saja yang penting. Masalahnya, kenyataan seperti
itu membawakan konsekuensi logis yang sungguh tak terduga, dan semua ini
terhubung dengan entitas yang telah lama di salah pahami, ditolak, dan dilukai.
Aku yakin pembaca tahu, dan tanpa menunda lagi, entitas itulah ALLAH.
Sesungguhnya,
kebenaranlah hal yang paling ditakuti para ateis dan materialis! Karena dari
segala sisi kita bisa melihat, bahwa Allah itu sungguh nyata, dan Allah adalah
kesadaran yang menjadi sumber dari segala kenyataan lain. Oleh sebab itu,
memang benar bahwa bumi itu bulat dan darah itu merah, tapi semua itu bersumber
dari Allah. Walaupun begitu, bukankah benar bahwa satu satunya kenyataan yang
ada adalah kenyataan kesadaran yaitu Allah sendiri? Hal itu memang benar, dan
sebab itu kita bisa membuat kesimpulan yang suci dan mulia tentang segala
kenyataan lain, yang sepertinya “terpisah” dari Allah.
Ada
suatu kesimpulan lain dari segala pembahasan ini. Bahwa tidak ada yang bisa
diciptakan atau dimusnahkan, hanya bisa diubah wujudnya. Kita melihat bahwa
segala kebenaran yang ada, mempunyai suatu wujud sejati yaitu Sang Kebenaran
Asal. Segala pernyataan, jikalau kita tarik sampai ujungnya hanya satu, bahwa
kenyataan itu ada, dan kenyataan tersebut ialah Allah, Sang Kenyataan Sadar.
Karena Allah adalah satu satunya kenyataan yang ada, kita bisa membuat
kesimpulan bahwa segala kenyataan lain hanyalah manifestasi atau
pengejawantahan Allah. Maka, itulah kebenaran semesta, yang ditakuti oleh
mereka yang lupa akan Allah, yang mengaku berteman dengan kebenaran, tapi
dikhianati oleh kebenaran itu sendiri.
Kesimpulan
Kesimpulannya
hanya satu, bahwa Allah adalah kesadaran dan kenyataan yang ada pada semesta
ini. Segala hal lain adalah manifestasi, cerminan, citra, perwujudan, atau
pengejawantahan dari kenyataan tersebut. Dari kebenaran semesta yang ilahi
itulah segala kebenaran, ideologi, dan ide harusnya berasal. Jika ada ideologi
yang sudah bertentangan dengan hakikat ini, terkutuklah ideologi itu dan dengan
sendirinya ideologi itu akan jatuh ke dalam ketiadaan dan kebinasaan! Walaupun
begitu, serpihan kebenaran ada pada semua ideologi, masalahnya apakah para
perumus ideologi sungguh mengetahui kebenaran semesta? Dengan tulisan ini,
seharusnya mereka bisa mengetahui, tapi kalau semisalnya ada yang menolak
kebenaran tulisan ini, itu adalah urusan dan pilihan pribadi. Bagi pembaca yang
seperti itu, tunjukkanlah bukti untuk membuktikan tulisan ini salah kalau
kalian berani! Dan bagi mereka yang sudah paham akan kebenaran semesta ini,
Tuhan memberkati dan sampai jumpa.
Kalau ada yang tidak setuju, aku tantang kalian untuk membuktikan diri kalian sendiri.
ReplyDelete