Monday, July 2, 2018

Kebenaran Semesta


Pembukaan

Selama perjalananku dalam menulis dan bernalar, aku sudah menuliskan banyak hal yang mempunyai serpihan dari kebenaran. Namun aku belum pernah merumuskan suatu kebenaran semesta yang hakiki, atau suatu kebenaran yang sifatnya menjadi sumber segala kebenaran yang lain. Aku tahu akan kebenaran itu, hanya saja aku belum menuliskannya, lagipula selama ini aku selalu menulis dalam bahasa asing, maka tibalah waktunya bagiku untuk membuat tulisan tulisanku ini lebih mudah dimengerti oleh saudara saudariku Bangsa Indonesia. Ini akan menjadi tulisan pertama yang kutulis dalam bahasa Ibuku, aku harap kebenaran yang tertulis pada tulisan ini bisa berguna bagi kita semua dan juga bangsa ini.

Kekhawatiran

Aku tahu aku baru 14 tahun menginjakkan kakiku di bumi ini, dan masih ada banyak hal yang belum kuketahui di dunia ini. Namun entah kenapa, sejak ibuku dipanggil oleh Tuhan, dan aku mulai membuka mata terhadap penderitaanku, aku mulai mencari. Aku bingung mengapa segala hal yang terjadi haruslah terjadi, mengapa aku yang harus merasakan segala hal ini. Maka aku pun memulai sebuah perjalanan dengan satu tujuan, yaitu mencari kebenaran. Namun seiring aku mulai memahami apa kebenaran itu sendiri, aku mulai sadar bahwa semenjak aku memilih jalan ini, aku telah menentukan nasib hidupku sendiri. Dan pada saat itulah aku sadar bahwa aku telah diberikan tugas yang mulia, untuk mencari dan menyusun kembali kebenaran yang telah hilang selama ribuan tahun. Semua serpihannya sudah tersedia, tugasku hanya menyusunnya kembali, dan saat waktunya tiba, aku harus mewartakannya, supaya dunia tidak terjerumus pada kematian.

Aku bukannya merasa penting seorang yang dimuliakan, tapi aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kondisi manusia pada waktu sekarang. Aku sendiri yang merasa haus akan kebenaran yang kekal, sementara semua orang lain, atau setidaknya hampir semua, sibuk dengan tujuan tujuan dan impian impian yang bersifat materialistis dan hedonis. Aku merasa terkucilkan, seperti serigala diantara domba, tapi pada saat yang sama aku merasa khawatir. Aku kira, pemahaman tentang kebenaran, atau kehausan akan kebenaran itu sendiri seharusnya menjadi hal yang lumrah, hal yang biasa dan bukan keanehan atau penyakit. Namun, hal yang kulihat justru sebaliknya, bahwa pengetahuan akan kebenaran sudah lama dilupakan, orang sudah puas akan kebenaran yang dilembagakan dan kebenaran mereka sendiri. Maka, aku merasakan suatu kegentingan dan kegawatan yang sangat untuk membuka mata umat manusia, dan disinilah aku berusaha melakukan yang terbaik demi kebenaran.

Keberadaan Kebenaran

Bilamana ada orang yang menyangkal adanya kebenaran, maka aku harap orang itu mulai bersiap siap untuk merubah pandangannya. Sebab aku berkata, jikalau kebenaran itu tidak ada, terkutuklah segala hal yang ada karena tidak mungkin bisa ada sesuatu hal yang nyata. Bilamana pembaca masih belum mengerti apa maksudku, baiklah aku akan menerangkan lebih dalam perihal kebenaran ini. Sebelum memasukki perihal ini lebih jauh, baiklah kalau aku membahas kebenaran macam apa yang kita cari. Kebenaran itulah kebenaran yang universal, obyektif, yaitu mencakup seluruh semesta tanpa terkecuali dan tidak terpengaruh oleh pendapat pribadi. Itulah kebenaran yang kita cari, dan sesungguhnya aku nyatakan, adalah kebenaran itu! Apa buktiku terhadap pernyataan itu? Marilah kita analisis dan kita teliti seluk beluk dari bukti itu!

Bukti Keberadaan Kebenaran

Kebenaran pada hakikatnya adalah suatu pernyataan yang sesuai dengan kenyataan yang sejati. Maka kenyataan haruslah yang benar benar ada, dan bukan yang kita harapkan menjadi kenyataan, alias khayalan dan angan angan saja. Oleh sebab itu, aku akan membuktikan kebenaran menggunakan metode rasional atau logika. Logika ialah ilmu untuk menciptakan informasi baru dari informasi yang ada, akan tetapi ialah juga ilmu untuk membuktikan kebenaran suatu pernyataan. Maka, ada baiknya jika kita mempelajari sedikit saja ilmu logika supaya kita bisa menemukan kebenaran yang sungguh benar dan tidak bisa dibantahkan atau dipertanyakan.

Dalam ilmu logika, pernyataan pernyataan yang ingin kita teliti disebut argumen. Argumen terdiri dari dua unsur, yaitu unsur premis dan unsur konklusi. Premis ialah bukti atau dasar dari pernyataan yang kita ingin buktikan, sementara konklusi ialah kesimpulan dari premis premis yang ada. Contoh yang paling mudah, kita mempunyai dua premis, semua manusia adalah mamalia dan semua mamalia melahirkan. Oleh sebab itu kita bisa membuat kesimpulan bahwa manusia melahirkan, dan ini berdasarkan hukum matematis yang sederhana yang pembaca mungkin kenal sebagai teori himpunan atau dalam bahasa Inggris ialah “Set Theory”. Maka, dengan ilmu ini kita sudah mendapatkan alat alat yang diperlukan untuk mencari kebenaran.

Mencari Kebenaran

Bilamana kebenaran adalah pernyataan apapun yang sesuai dengan kenyataan sejati, bukankah berarti kebenaran itu sangat mudah ditemukan? Misalkan, bumi itu bulat, bukankah itu kebenaran? Memang benar bahwa rupa bumi itu bulat, namun kita harus mempertanyakan kebenaran itu, dengan kata lain, apa bukti dari pernyataan bumi itu bulat? Kebanyakan orang sudah merasa puas dengan ditunjukkan premis dari pernyataan bumi itu bulat, akan tetapi premis premis tersebut juga merupakan suatu konklusi dari premis premis sebelumnya. Oleh sebab itu, kita harus menganalisis premis premis tersebut pula, dan jikalau pada suatu saat kita tidak bisa membuktikan premis yang pertama, maka runtuhlah segala deduksi berikutnya.

Maka, marilah kita membuat suatu percobaan logika dengan suatu pernyataan biologis yang sederhana, yaitu bahwa darah berwarna merah. Kalau kita menanyakan warna darah kepada orang, baik dokter maupun orang desa, mereka pasti menjawab bahwa darah warnanya merah. Tapi apa yang menjadi bukti bahwa darah sungguh merah warnanya? Mungkin akan menjadi lebih baik jikalau kita mengilustrasikannya dalam format premis dan konklusi.

(P1) Jika kita melihat barang X dengan kondisi Y, maka itulah kenyataannya.
(P2) Kita melihat darah dengan kondisi warna merah.
(K) Darah berwarna merah.

Marilah kita membedah argumen tersebut, yaitu dengan membuktikan kebenaran kedua premis yang menjadi dasar untuk konklusi kita. Premis dua memang benar adanya, jikalau kita bertanya kepada orang alasan mereka, mayoritas pasti menjawab bahwa itulah yang kita lihat. Walaupun premis dua benar, apa yang membuktikan kebenaran premis satu yang menjadi dasar utama dari kepercayaan kita bahwa darah itu merah? Mungkinkah kita bisa membuktikan premis ini dengan menjadikannya konklusi dari premis premis lain? Kelihatannya sulit, tapi tidak ada salahnya dalam mencoba.

(P1) Manusia mempunyai mata.
(P2) Mata menangkap informasi visual tentang kenyataan.
(K) Informasi visual yang ditangkap melalui mata manusia mendeskripsikan kenyataan.

Kelihatannya itu argumen yang kuat dan padu, tapi apakah benar begitu. Pertama, kedua premis itu bisa dipertanyakan. Premis dua menyatakan bahwa mata menangkap informasi visual tentang kenyataan, tapi itu mengasumsikan bahwa ada suatu kenyataan di luar pikiran manusia. Premis satu sama saja, mengasumsikan bahwa mata itu ada di tempat pertama. Tapi apakah kita bisa membenarkan kedua pernyataan itu? Bahwa ada suatu kenyataan yang objektif dan mata manusia sungguh ada? Pada saat inilah kita seharusnya sadar, bahwa membuktikan hal itu mustahil. Karena pada akhirnya kita hanya akan terus menerus mencari premis premis untuk mendukung premis premis dari konklusi awal kita, dan menjadi regresi tak terbatas.

Maka, kita harus mencari kebenaran yang betul betul bisa berdiri sendiri, karena itulah kebenaran yang sungguh tidak bisa dipertanyakan ataupun dibantah oleh argumen apapun. Kebenaran Asal, yaitu pernyataan kebenaran yang bisa menjadi premis bagi dirinya sendiri dan tidak memerlukan premis premis lainnya. Walau begitu, kebenaran itulah yang menjadi premis awal untuk segala kebenaran kebenaran lainnya. Sebelum kita melanjutkan, aku ingin mengingatkan bahwa aku tidak mengatakan bahwa premis premis dan konklusi konklusi yang dibahas sebelumnya tidak benar. Karena untuk mengatakan bahwa suatu pernyataan itu tidak benar, berarti kita mempunyai bukti akan yang sebaliknya, yaitu pernyataan yang benar. Namun pada kondisi ini kita tidak mempunyai bukti akan kenyataan apapun, maka kesimpulan yang tepat adalah mengatakan bahwa kebenaran tidak bisa dibuktikan. Tapi, apakah kebenaran asal memang tidak bisa dibuktikan?

Tiada Kebenaran Asal?

Pada titik ini, mungkin pembaca mulai menyerah dan berpikir bahwa kebenaran itu tidak ada, akan tetapi jikalau kebenaran itu tidak ada, maka aku tidak mungkin bisa membuat tulisan ini dan segala tulisan sebelumnya. Lagipula, jika kebenaran itu tidak ada, maka konsekuensi logisnya, dengan kata lain konklusinya akan berkontradiksi dengan dirinya sendiri, alias salah. Bagaimana perumusannya? Baiklah kita membuatnya dalam rancangan premis dan konklusi kembali.

(P) Kebenaran itu tidak ada.
(K) Kenyataan itu tidak ada.

Argumen itu terlihat aneh bukan? Bagaimana bisa hanya ada satu premis dalam suatu argumen? Jawabannya sederhana, karena argumen itu bukanlah penjabaran lengkapnya. Aku sengaja menuliskannya begitu, supaya pembaca terus menggunakan pikirannya dan daya rasionalnya, lagipula itulah yang membuat manusia sungguh “manusia”, tentu dengan mengasumsikan kebenaran bahwa manusia itu nyata. Lalu, apakah makna argumen tersebut? Sebenarnya, kedua pernyataan di atas bisa dirubah posisinya berhubungan satu dengan yang lain. Bagaimana itu bisa terjadi? Mari kita ingat kembali apa definisi kebenaran, “kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.” Dengan itu, kita bisa menjabarkan argumen tadi menjadi dua wujud.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kebenaran tidak ada.
(K) Kenyataan tidak ada karena tidak ada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.

Demikianlah wujud sesungguhnya dari argumen ketiadaan kebenaran dan ketiadaan kenyataan tersebut. Perbedaannya hanya satu, pada wujud yang pertama, kita mendeduksikan penyebab dari ketiadaan kebenaran, sementara pada wujud yang kedua, kita mendeduksikan akibat dari ketiadaan kenyataan. Singkat kata, wujud pertama menunjukkan sebuah inferensi, sementara wujud kedua menunjukkan sebuah prediksi. Walaupun begitu, makna kedua wujud argumen tetaplah sama, bahwa dengan tidak adanya kenyataan, tidak bisa ada kebenaran. Maka, apakah itu akhir dari perjalanan kita? Bahwa kebenaran sungguh tiada? Para ateis dan materialis tentu berbicara seperti itu, tapi tanpa banyak berpikir, argumen itu telah menghancurkan dirinya dengan sendirinya, bagaimana mungkin?

Selain menganalis premis dari suatu pernyataan, ada metode lain, yang lebih sering digunakan oleh para filsuf yang malas mencari, yaitu mencari kontradiksi. Apakah kontradiksi itu? Kontradiksi ialah pertentangan antara suatu pernyataan dengan pernyataan lain, dan maksudku, dalam argumen itu adalah suatu kontradiksi yang menjadi pengungkapan kebenaran bagi umat manusia. Marilah kita bersama-sama mencarinya!

Pertama, tidak ada hukum yang melarang kita dari membuat pernyataan tentang suatu pernyataan, sama halnya dengan argumen ini. Kita bisa membuat suatu pernyataan yang mendeskripsikan argumen tersebut, seperti biasa pernyataan tersebut akan disusun dalam rancangan premis dan konklusi. Namun ada satu perbedaan, akan ada dua unsur baru pada argumen tersebut, yaitu pernyataan, atau pernyataan yang ingin kita buktikan, dan terakhir metakonklusi, yaitu pernyataan yang mendeskripsikan kebenaran dari pernyataan tersebut. Selain itu, aku akan menuliskan kedua wujud, supaya kebenarannya menjadi lebih jelas. Perhatikan dengan baik!

(P) Kenyataan itu tidak ada.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kebenaran tidak ada.
(K) Kenyataan tidak ada karena tidak ada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.

(MK) Pernyataan bahwa tidak ada kenyataan itu benar.


(P) Kebenaran itu tidak ada.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa deskripsikan.

(MK) Pernyataan bahwa tidak ada kebenaran itu benar.

Apakah kontradiksi mulia itu sudah menangkap mata pembaca? Maka, dengan mengasumsikan bahwa tidak ada kebenaran, kita telah menemukan bahwa ada pernyataan yang benar, yang sesuai dengan kenyataan. Pernyataan itu tidak lain dan tidak bukan dari dua pernyataan bahwa tidak ada kebenaran dan tidak ada kenyataan. Bahkan kita tidak hanya menemukan satu kebenaran, tapi dua kebenaran! Akan tetapi, jikalau ada kebenaran, maka hancurlah argumen bahwa tidak ada kebenaran, maka kita akan mendapatkan rumusan argumen yang sesungguhnya.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Kebenaran tidak ada karena tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kenyataan tidak ada.
(K) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar karena sesuai dengan kenyataan bahwa tidak ada kenyataan sehingga tidak ada kenyataan yang bisa dinyatakan.

(1) Kebenaran ialah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Pernyataan bahwa kebenaran tidak ada benar.
(K) Kebenaran ada.

(1) Kebenaran adalah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.
(2) Kebenaran ada.
(K) Kenyataan ada karena harus ada kenyataan yang bisa dinyatakan supaya ada kebenaran.

Demikianlah kebenaran yang ada, dan aku akui bahwa ada metode metode lain untuk menemukan kebenaran asal ini. Kita bisa mendeskripsikan keberadaan pernyataan itu sendiri, tapi metode kontradiksi adalah metode yang paling bisa dipercaya, karena kita hanya mengandalkan argumen yang ada tanpa membuat asumsi apapun. Mengapa penting sekali untuk tidak berasumsi dalam ilmu logika? Karena asumsi adalah premis atau konklusi yang khayal, alias kita masukkan tanpa mengetahui kebenaran premis atau konklusi itu terdahulu. Bagaimanapun juga, kita telah membuktikan bahwa kebenaran itu ada dan kenyataan itu ada.

Kebenaran Asal ialah pernyataan bahwa kenyataan itu ada, maupun kebenaran itu ada. Kesimpulannya, ada sesuatu di dunia ini yang sungguh ada dan nyata, tapi apakah itu? Kebenaran  dan kenyataan itu, adalah kesadaran. Hal ini jelas, bagaimana mungkin argumen ini bisa dibuat jikalau tidak ada kesadaran yang sadar akan kenyataan itu. Itulah metode lain yang aku singgungkan sebelumnya, bahwa sekalipun kita meragukan, kita tidak bisa meragukan fakta bahwa kita sedang meragukan. Mungkin kita ingin menyatakan bahwa tidak ada kenyataan, tapi dengan begitu, kita menyatakan bahwa ada suatu kenyataan, yaitu tidak ada kenyataan, yang berkontradiksi dengan dirinya sendirinya dan membunuh argumen ketiadaaan kebenaran. Selain itu, keberadaan pernyataan dan argumen ketiadaan kebenaran itu sendiri telah mematahkan argumen ketiadaan kebenaran dengan sendirinya. Karena itu berarti bahwa ada yang nyata, yaitu argumen itu sendiri. Lalu, apa makna dari segala hal ini?

Kebenaran Allah

Jikalau ada kebenaran yang menjadi sumber dari segala kebenaran, maka kita harus mengakui bahwa ada suatu kenyataan yang menjadi sumber dari segala kenyataan lainnya. Mengapa harus seperti itu? Alasannya sederhana, kebenaran asal adalah kebenaran yang tidak memerlukan bukti untuk benar, dalam kata lain kebenaran itu benar apa adanya. Sama halnya, ada suatu kenyataan yang nyata apa adanya, artinya kenyataan itu tidak memerlukan bukti untuk dibuktikan nyata. Kenyataan itu berdiri dengan sendirinya, dan jawaban bahwa kenyataan itu adalah kesadaran memang benar, tapi bukan itu saja yang penting. Masalahnya, kenyataan seperti itu membawakan konsekuensi logis yang sungguh tak terduga, dan semua ini terhubung dengan entitas yang telah lama di salah pahami, ditolak, dan dilukai. Aku yakin pembaca tahu, dan tanpa menunda lagi, entitas itulah ALLAH.

Sesungguhnya, kebenaranlah hal yang paling ditakuti para ateis dan materialis! Karena dari segala sisi kita bisa melihat, bahwa Allah itu sungguh nyata, dan Allah adalah kesadaran yang menjadi sumber dari segala kenyataan lain. Oleh sebab itu, memang benar bahwa bumi itu bulat dan darah itu merah, tapi semua itu bersumber dari Allah. Walaupun begitu, bukankah benar bahwa satu satunya kenyataan yang ada adalah kenyataan kesadaran yaitu Allah sendiri? Hal itu memang benar, dan sebab itu kita bisa membuat kesimpulan yang suci dan mulia tentang segala kenyataan lain, yang sepertinya “terpisah” dari Allah.

Ada suatu kesimpulan lain dari segala pembahasan ini. Bahwa tidak ada yang bisa diciptakan atau dimusnahkan, hanya bisa diubah wujudnya. Kita melihat bahwa segala kebenaran yang ada, mempunyai suatu wujud sejati yaitu Sang Kebenaran Asal. Segala pernyataan, jikalau kita tarik sampai ujungnya hanya satu, bahwa kenyataan itu ada, dan kenyataan tersebut ialah Allah, Sang Kenyataan Sadar. Karena Allah adalah satu satunya kenyataan yang ada, kita bisa membuat kesimpulan bahwa segala kenyataan lain hanyalah manifestasi atau pengejawantahan Allah. Maka, itulah kebenaran semesta, yang ditakuti oleh mereka yang lupa akan Allah, yang mengaku berteman dengan kebenaran, tapi dikhianati oleh kebenaran itu sendiri.

Kesimpulan

Kesimpulannya hanya satu, bahwa Allah adalah kesadaran dan kenyataan yang ada pada semesta ini. Segala hal lain adalah manifestasi, cerminan, citra, perwujudan, atau pengejawantahan dari kenyataan tersebut. Dari kebenaran semesta yang ilahi itulah segala kebenaran, ideologi, dan ide harusnya berasal. Jika ada ideologi yang sudah bertentangan dengan hakikat ini, terkutuklah ideologi itu dan dengan sendirinya ideologi itu akan jatuh ke dalam ketiadaan dan kebinasaan! Walaupun begitu, serpihan kebenaran ada pada semua ideologi, masalahnya apakah para perumus ideologi sungguh mengetahui kebenaran semesta? Dengan tulisan ini, seharusnya mereka bisa mengetahui, tapi kalau semisalnya ada yang menolak kebenaran tulisan ini, itu adalah urusan dan pilihan pribadi. Bagi pembaca yang seperti itu, tunjukkanlah bukti untuk membuktikan tulisan ini salah kalau kalian berani! Dan bagi mereka yang sudah paham akan kebenaran semesta ini, Tuhan memberkati dan sampai jumpa.

1 comment:

  1. Kalau ada yang tidak setuju, aku tantang kalian untuk membuktikan diri kalian sendiri.

    ReplyDelete