Friday, July 13, 2018

Analisis GNFI


Pengantar

Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan pribadi saya terhadap seminar kebangsaan tentang GNFI, atau Good News From Indonesia yang dibawakan oleh foundernya sendiri yaitu Bapak Akhyari Hananto. Seminar ini diadakan pada hari Jumat, tanggal 13 Juli 2018, di SMA Santa Laurensia. Saya sendiri berlaku sebagai saksi dari seminar ini, dan sebagai seorang yang kritis terhadap ideologi nasionalis, saya putuskan untuk mencatat segala hal yang penting untuk saya catat dan supaya saya analisis. Sebelum melanjutkan, saya sama sekali tidak bertujuan untuk mencemarkan nama baik siapapun atau organisasi apapun, apa yang saya tulis berupa kritikan, bukan pencemaran, harap bisa dibedakan.

Nasionalisme Baik?

Terus terang saja, saya bukan seorang “nasionalis” sesuai paham orang pada umumnya. Saya bukan nasionalis yang siap melayani negara lewat Paskibra atau mempromosikan bangsa ini, definisi nasionalis bagi saya sedikit berbeda. Bagi saya, menjadi seorang nasionalis adalah menjadi seorang yang peduli akan rakyatnya, dan menghargai prestasi serta kerja keras rakyat. Lagipula, berkat rakyat sesama kitalah kita bisa tetap hidup, bahkan setelah kita bisa bekerja pun, rakyat tetap sangat penting bagi kita. Maka, nasionalis paham saya bukan nasionalisme yang terpusat pada ideologi, yaitu konsep Bangsa Indonesia, melainkan nasionalisme yang terpusat pada rakyat.

Sekalipun begitu, saya tetap mempunyai paham bahwa nasionalisme itu hanya semacam alat transisi, menuju apa? Menuju internasionalisme dan globalisme, walau paham saya masih sedikit berbeda dari paham Soekarno tentang internasionalisme. Memang baik adanya menghargai identitas bangsa dan menghargai budaya nasional, apalagi melestarikannya dan mendalaminya. Walau begitu, identitas bangsa bukanlah sesuatu yang harus kita pertahankan sampai mati, kalau kemerdekaan memang harus kita pertahankan sampai titik penghabisan, tapi menurut saya, identitas bangsa hanya salah satu keunikan lagi dari kita sebagai manusia. Kita tetap pada akhirnya harus mengutamakan kebahagiaan umat manusia secara keseluruhan di atas kepentingan bangsa, seperti kita mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.

Maka, nasionalisme yang merakyat itu sebenarnya sangat penting sebagai persiapan untuk suatu persatuan dunia yang bersifat globalis. Karena kalau kita belum bisa bersatu sebagai satu bangsa, bagaimana kita bisa bersatu sebagai satu umat manusia, atau bahkan seluruh umat semesta alam? Selain itu, bagaimanapun juga kita pasti menjadi warga negara tertentu, dan oleh sebab itu, selama kita masih terjebak sistem materialis, lingkaran pengaruh kita terbatas pada negara tersebut. Terlebih tujuan kita sebagai manusia adalah hidup demi kesempurnaan diri dan juga kesempurnaan orang lain, maka baiklah adanya kalau kita memberikan yang terbaik untuk rakyat kita dahulu, dan setelah sukses di negara tanah air, kita maju ke panggung global.

Analisis Argumen GNFI

Bapak Akhyari menyampaikan beberapa poin penting tentang nasionalisme yang saya catat sebisa saya menangkap pembicaraannya. Pertama adalah masalah rakyat Indonesia tidak cinta atau peduli akan bangsanya sendiri, dan malah lebih menyenangi negara asing. Ini dibuktikan dari pemuda Surabaya yang ditemukan banyak memakai baju dengan tulisan, “I love [Negara Asing Generik],” dengan negara atau unsur asing itu bisa Hongkong, Taiwan, New York, Singapura, dan lain lain. Memang itu sendiri bukan masalah, tapi menjadi tanda akan suatu masalah kritis yang jauh lebih besar daripada urusan baju yang sebenarnya sepele.

Mengapa rakyat Indonesia tidak peduli dengan negaranya sendiri? Alasannya sederhana, karena rakyat Indonesia tidak dididik dengan cukup baik, dan dibekali dengan sikap menghargai dan kepedulian akan negaranya sendiri. Alasan alternatif mungkin karena Indonesia kurang baik, atau karena media massa jarang mengekspos hal hal baik tentang Indonesia. Tapi, karena GNFI berhasil menyampaikan begitu banyak berita baik tentang Indonesia, saya rasa alasan yang lebih masuk akal adalah media massa jarang mengekspos, dan pendidikan Indonesia memang kurang bagus. Sementara itu, GNFI memilih untuk mengulas hal hal baik dan menarik di Indonesia untuk menutupi kekurangan media massa, dan selama seminar, Pak Akhyari memberikan sejumlah berita berita itu.

Hal baik pertama yang dikupas adalah kekayaan alam Indonesia, dan saya akui bahwa Indonesia memang mempunyai kekayaan alam yang sangat luar biasa dan menyaingi banyak negara lain. Bukan hanya keindahan alam saja, tapi juga sumber daya alam yang ada, yang seharusnya bisa membuat Indonesia menjadi negara yang bahkan menyaingi Amerika Serikat atau China dalam ekonomi dan kekuatan politik. Hal ini memang anugrah dari Tuhan kepada kita rakyat Indonesia dan juga leluhur kita manusia Nusantara. Saya rasa mengupas tentang kekayaan alam kita tidak ada salahnya, dan baik adanya untuk meningkatkan kesadaran rakyat akan keistimewaan tanah air kita. Hal yang menjadi perhatian saya adalah, apa penyebab kekayaan alam ini menjadi terbuang dan tidak lagi disadari oleh rakyat?

Hal baik kedua tentang Indonesia adalah sejarah “Indonesia” yang sangat mengagumkan, dan bagaimana para leluhur bisa menciptakan berbagai macam inovasi yang bahkan pada abad modern ini sulit untuk diimitasi. Contohnya adalah Candi Borobodur yang begitu simetris dan diukir dengan sedemikian rupa, atau keris yang sudah mengandung unsur Titanium sejak abad 9 atau abad 14, dan inovasi inovasi lainnya. Saya kurang setuju kalau penemuan penemuan tersebut disebut sebagai karya “Indonesia”, karena itu adalah karya Nusantara, dan juga kerajaan kerajaan dahulu. Indonesia baru ada tahun 1945, dan merupakan suatu konsepsi politik, konsepsi budayanya lebih pantas disebut sebagai Nusantara.

Sebenarnya, bagaimana para leluhur bisa menciptakan hal hal yang begitu mengagumkannya bahkan pada zaman sekarang? Padahal pada masa itu tidak ada yang namanya nasionalisme atau rasa cinta akan bangsa yang begitu berlebihannya. Malah, inovasi inovasi Nusantara terjadi pada masa Hindu Buddha, dimana ajarannya sangat mengutamakan keselarasan dengan alam semesta, kerendahan hati dan kedamaian. Maka, kita tahu bahwa kebijaksanaan tidak akan muncul hanya dengan nasionalisme semata, melainkan dengan berselaras dengan alam semesta dan pada Tuhan, sehingga pikiran kita bisa dijernihkan dan terbebas dari segala kekangan apapun. Itulah alasan sesungguhnya dari kebijaksanaan para leluhur yang sudah hilang tergantikan oleh budaya kapitalis materialis dan juga nasionalis materialis.

Hal berikutnya yang dibicarakan Pak Akhyari intinya adalah bagaimana banyak perusahaan Indonesia menjadi terkenal di luar negeri, dan juga sosok sosok Indonesia yang mendunia atau berpengaruh besar bagi dunia. Saat ini saya mulai bingung, apa yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh Pak Akhyari? Dari segi ekonomi, perusahaaan perusahaan Indonesia memang bisa diakui kehebatan dan kesuksesannya, malah bisa dibilang terlalu sukses dan hebat, contohnya perusahaan Sinarmas atau Lippo. Lalu bagaimana dengan anak anak Bangsa yang mendunia? Seperti Sri Mulyani, Habibie, Ricky Elson, Ronny Gani, dan lain lain? Saya rasa kehebatan mereka juga patut dihargai dan diakui oleh rakyat Indonesia, tapi mengapa mereka tidak terlalu dikenal? Apakah ada yang salah?

Kritikan Pada GNFI

Saya sedikit bingung, apa yang diharapkan GNFI dengan mengabarkan hal hal baik tentang Indonesia kepada rakyat? Apa supaya rakyat bisa mengerti kehebatan Bangsanya sendiri dan menjadi nasionalis? Sekarang, mari kita lihat masalah nasionalisme dari segi kenyataan, yaitu mencari akar dari masalah ini. Hal yang dilakukan GNFI semata menyembuhkan gejalanya, dan bukan penyakitnya. Jadi sekarang kita ingin bertanya, mengapa rakyat Indonesia tidak nasionalis lagi? Apa yang membuat rakyat kecewa dengan Indonesia? Apakah itu alam, atau ketidakbecusan rakyat, atau ketidaktahuan rakyat semata? Saya rasa bukan itu jawabannya, kalau saya lihat masih banyak media massa yang mengabarkan hal baik tentang Indonesia, bukan hanya GNFI. Jadi apa yang mengecewakan rakyat?

Jika kita lihat kabar kabar buruk dan genting tentang Indonesia, apa topik utama dari segala berita tersebut? Apa itu kerusakan alam atau orang orang Indonesia yang mengakibakan kerugian pada dunia? Bukan, topik utamanya adalah politik, itulah yang menjadi permasalahan utama di Indonesia. Lihat saja orang orang DPR yang sebenarnya kurang berguna, dan sedikit sekali yang betul betul berkontribusi kepada rakyat. Bagaimana dengan korupsi pemerintahan yang begitu merasuk di negeri ini, atau ancaman perpecahan yang ada di Bangsa ini karena kaum kaum radikal fanatik? Bukankah semua hal itu patut kita ketahui dan waspadai sebagai warga negara Indonesia? Jadi, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah itu?

Menurut GNFI, jika seorang terjangkit penyakit dan kita belum tahu apa penyakitnya, hanya terlihat gejala, kita hanya perlu mengobati gejalanya. Sama saja dengan Indonesia saat ini, ada suatu permasalahan politik dan sosial yang sangat merajalela di Indonesia, yang menyebabkan suatu rasa pesimisme terhadap Indonesia, lalu apa yang dilakukan GNFI? Mereka hanya berusaha menyembuhkan rasa pesimisme itu menjadi rasa optimisme, tanpa menyelesaikan permasalahan yang jauh lebih besar saat ini. Saya rasa membuat rakyat Indonesia menjadi terindoktrinasi dengan konsep nasionalis dan cinta akan tanah air hanya akan membutakan mereka dari permasalahan yang sungguh ada.

Kabar baik itu tidak selalu baik dan kabar buruk itu tidak selalu buruk. Kabar baik yang berlebihan bisa jadi pembuta rakyat sehingga mereka menjadi nasionalis tanpa bersikap kritis. Sikap fanatisme tanpa adanya sikap kritis akan menjadi pembawa kejatuhan bangsa ini. Di lain pihak, kabar buruk malah menjadi pengingat kepada kita bahwa Indonesia mempunyai banyak sekali masalah. Kabar buruklah yang menarik kita kembali pada kenyataan pahit bahwa sistem di Indonesia memang bermasalah dan harus diperbaiki. Maka, saya harap GNFI mengerti masalah ini, dan sungguh mengerti apa yang mereka lakukan.

Pendapat Pribadi

Saya ingin menyampaikan pendapat pribadi saya pula tentang permasalahan di Indonesia. Saat ini, mengapa banyak orang Indonesia yang hanya kecewa pada pemerintahan, tapi tidak beraksi, atau malah sama sekali tidak tahu menahu tentang permasalahan kritis Indonesia? Akarnya adalah psikologi dan karakter rakyat Indonesia, yang berarti kita harus melihat apa yang terjadi pada masa kecil rakyat. Pertanyaannya, apa yang menjadi faktor terutama dalam pengembangan karakter dan psikologi anak selama masa pertumbuhan? Ada dua faktor, orangtua, dan juga sistem pendidikan, namun orangtua juga terbatas oleh sistem pendidikan yang lalu, dan yang sungguh bisa membawa sikap yang berbeda pada anak adalah pendidikan.

Kalau rakyat tidak bersikap kritis, artinya apa? Cukup sederhana, artinya sistem pendidikan tidak membekali rakyat dengan sikap kritis terhadap segala hal dan juga sikap proaktif terhadap permasalahan Indonesia. Artinya sistem pendidikan Indonesia membutakan dan menekan kekritisan rakyat Indonesia, alasannya apa? Alasannya juga sangat sederhana, yaitu sistem materialisme yang telah merasuk dan meracuni negara ini. Sederhananya begini, karena Indonesia telah diinfiltrasi oleh daya materialis, daya ini akan meracuni segala aspek Bangsa supaya Indonesia tetap dikuasai oleh pengaruh materialis, dan kebenaran tidak pernah terbuka bagi rakyat. Bagaimana caranya?

Daya materialis membelenggu rakyat dari segala arah, pertama dari arah ekonomi dalam wujud sikap kapitalis hedonis, yang tidak peduli dan apatis terhadap nasib bangsa. Kedua dari arah nasionalis fanatis, yang membuat rakyat tertutup pikirannya dan menjadi berpandangan sempit. Mengapa berpandangan sempit? Karena pandangan nasionalis fanatis menyempitkan sudut pandang rakyat menjadi pandangan bahwa Indonesia adalah negara yang paling benar dan kita harus mengutamakan negara atas segala hal. Ini membangun suatu sikap kelekatan pada identitas bangsa, sehingga rakyat hanya peduli akan Indonesia, dan bukan pada kebenaran semesta. Dan sedihnya, GNFI menjadi salah satu manifestasi dari sikap nasionalis fanatis ini, yang sungguhnya hanya membelenggu pikiran rakyat kepada identitas “Indonesia”, dan menjauhkan mereka dari kebenaran semesta yang pernah dipegang oleh para leluhur, tanpa iming iming ideologi Pancasila maupun nasionalisme.

Jadi, apa yang kita bisa lakukan sekarang ini? Saat ini sistem materialis tidak bisa diguncang hanya dari batangnya saja, kita harus membongkar sistem dari akarnya. Dari pernyataan itu, saya rasa sudah cukup jelas apa yang harus kita lakukan demi keselamatan rakyat Indonesia dan juga umat manusia. Kita harus membangun suatu revolusi, revolusi kebenaran yang akan membuka kembali kebenaran semesta yang selama ini ditekan dan dibelenggu oleh sistem materialis. Hanya dengan revolusi yang nasional dan juga internasional inilah manusia bisa dikembalikan kepada hakikatnya, dan pada saat itulah Indonesia akan mengalami masa kejayaan yang seharusnya. Kejayaan Indonesia tidak akan dicapai dengan nasionalisme semata, tapi dengan kesadaran akan kebenaran semesta.

Akhir Kata

Kepada pihak GNFI yang mungkin kebetulan membaca, saya mohon maaf jika tulisan saya ini menyinggung pihak GNFI. Saya hanya mengemukakan pendapat saya dan apa yang menurut saya adalah kebenaran. Maka, saya bisa salah karena saya adalah manusia, dan sekali lagi saya mohon maaf. Bagaimana pun, pendirian saya tetap bahwa GNFI memang mempunyai intensi yang baik, tapi mereka menyerang masalah ini dari sisi yang kurang tepat. Perubahan yang sifatnya hanya lokal dan terbatas tidak akan berpengaruh besar. Jika kita ingin perubahan yang sungguh nyata, kita harus memangkas dari akar akarnya. Saya rasa itu saja perkataan saya, salam damai sejahtera bagi kita semua dan sampai jumpa.

No comments:

Post a Comment